Masyarakat Berdaya dan Inovasi , 2025, 43-48 Available online: https://mayadani. org/index. php/MAYADANI Aku Bersih Aku Sehat: PKM Pemberdayaan Usaha Kesehatan Sekolah dalam program Kesehatan Siswa Disabilitas di SLB Negeri 1 Bantul Sri Ratnaningsih1,*. Armenia Diahsari2. Mustaqim Setyo Ariyanto 3. Suryani2. Lutfi Nurdian A2 Program Studi Kebidanan. Fakultas lmu Kesehatan. Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Jalan Lingkar Selatan Siliwangi No. Mlangi. Nogotirto. Gamping. Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55292 Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas lmu Kesehatan. Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Jalan Lingkar Selatan Siliwangi No. Mlangi. Nogotirto. Gamping. Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55292 Program Studi Psikologi. Fakultas Ekonomi Ilmu Sosial dan Humaniora. Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Jalan Lingkar Selatan Siliwangi No. Mlangi. Nogotirto. Gamping. Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55292 E-mail*: ratna_ningsih@unisayogya. Abstrak Penelitian tahun 2020 didapatkan status gizi siswa SLB N 1 Bantul : obesitas 15,3%, overweight 16,9%, thinness 5,1% dan severe thinness 10,2% . Untuk program peningkatan gizi, sekolah sudah mendapatkan bantuan bahan makanan mentah dari pemerintah daerah DIY setiap 1 bulan sekali. Personal hygiene siswa menjadi permasalahan di SLB. Ketrampilan yang terbatas dalam merawat diri pada beberapa kelompok siswa menyebabkan kebersihan diri kurang, yang berpotensi menyebabkan permasalahan kesehatan lainnya. Permasalahan gizi dan personal hygiene perlu menjadi program utama dalam pengembangan UKS di SLB N 1 Bantul saat ini dengan melibatkan siswa, orang tua dan guru. Tujuan program PKM ini Untuk meningkatkan peran siswa, orang tua dan guru dalam mengembangkan program UKS khususnya tentang gizi dan personal hygiene, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tentang gizi dan personal hygiene, menyediakan fasilitas penunjang program UKS dan sistem yang mencatat data kesehatan siswa termasuk status gizi dan kebersihan diri siswa sehingga dapat digunakan untuk pengembangan program secara personal. Metode pengabdian dengan Participatory Learning and Action dilakukan dengan tahap sosialisasi program pada mitra, pelatihan berupa Pengelolaan UKS. Pelatihan Gizi Anak Berkebutuhan Khusus. Pelatihan personal hygiene pada anak berkebutuhan khusus. Pelatihan strategi pendekatan anak berkebutuhan khusus, penerapan teknologi Modul dan media edukasi, aplikasi pengelolaan data digital, paket alat kesehatan UKS, pendampingan dan evaluasi kemampuan guru dan orang tua dalam pengelolaan kesehatan siswa, keberlanjutan program oleh mitra dengan pengembangan program UKS secara rutin. Peserta Pelatihan terdiri dari 14 orang dari Guru. Pengurus UKS. Orang Tua Wali dan 117 siswa mengikuti program skrening kesehatan. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan kemampuan mitra dalam pengelolaan UKS, pengelolaan gizi anak berkebutuhan khusus, pengelolaan personal higiene, dan strategi pendekatan anak berkebutuhan Rerata pre sebanyak 2. 76 meningkat saat post menjadi 3. 21 dengan prosentase peningkatan sebesar 16. Kegiatan PKM memberikan dampak positif dengan memperkuat peran UKS dalam mendukung tumbuh kembang optimal siswa berkebutuhan khusus secara menyeluruh. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam mewujudkan UKS yang inklusif, adaptif, dan mandiri, sekaligus mempererat sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan anak dissabilitas. Kesimpulan kegiatan PKM ini memberikan dampak positif dengan memperkuat peran UKS dan meningkatkan kemampuan guru dan orangtua dalam mendukung tumbuh kembang dan kesehatan optimal siswa berkebutuhan khusus. Kata Kunci : Anak. Dissabilitas. Gizi. Personal_higiene. UKS Abstract A 2020 study found the nutritional status of students at SLB N 1 Bantul to be: 15. 3% obese, 16. 9% overweight, 5. thin, and 10. 2% severely thin. For nutrition improvement programmes, the school receives raw food supplies from the DIY regional government once a month. Personal hygiene among students is a problem at SLB. Limited self-care skills among some groups of students result in poor personal hygiene, which has the potential to cause other health problems. Nutrition and personal hygiene issues need to be the main focus of the UKS development programme at SLB N 1 Bantul, involving students, parents and teachers. The objectives of this PKM programme are to increase the role of students, parents and teachers in developing the UKS programme, particularly regarding nutrition and personal hygiene. to increase knowledge and skills about nutrition and personal hygiene. to provide facilities to support the UKS programme and a system for recording student health data, including the nutritional status and personal hygiene of students, so that it can be used for personalised programme development. The community service method using Participatory Learning and Action was implemented through programme socialisation with partners, training on UKS management. Nutrition https://doi. org/10. 33292/mayadani. info@mayadani. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Training for Children with Special Needs. Personal Hygiene Training for Children with Special Needs. Training on Approaches for Children with Special Needs. Application of Educational Modules and Media Technology. Digital Data Management Applications. UKS Health Tool Kits. Guidance and Evaluation of Teachers' and Parents' Abilities in Managing Student Health, and Program Sustainability by Partners through Regular UKS Program Development. The training participants consisted of 14 people from teachers. UKS administrators, parents and guardians, and 117 students participated in the health screening programme. The results showed an increase in the partners' abilities in UKS management, nutrition management for children with special needs, personal hygiene management, and strategies for approaching children with special needs. The pre-test average of 2. 76 increased to 3. 21 in the post-test, with an increase The PKM activity had a positive impact by strengthening the role of UKS in supporting the optimal growth and development of students with special needs as a whole. This activity is expected to be a sustainable step in realising an inclusive, adaptive, and independent UKS, while strengthening the synergy between universities, schools, and the community in improving the health of children with disabilities. The conclusion of this PKM activity is that it has a positive impact by strengthening the role of UKS and improving the ability of teachers and parents in supporting the optimal growth, development, and health of students with special needs. Keyword: Children. Disabilities. Nutrition. Personal hygiene. UKS This is an open access article under the CCAeBY-SA license. PENDAHULUAN Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul merupakan SLB milik pemerintah daerah DIY yang berlokasi di Jalan Wates km 3 No 147 Kasihan Bantul. Program pendidikan yang dilaksanakan adalah SDLB. SMPLB. SMLB, memiliki 84 guru serta 17 tenaga kependidikan dengan jumlah peserta didik per Maret 2025 288 siswa. Fasilitas yang dimiliki SLB: 53 ruang kelas, 2 perpustakaan, 3 laboratorium, 2 ruang ibadah, 5 ruang guru, 45 ruang sirkulasi, 1 ruang TU, 1 tempat bermain/olah raga, 3 ruang konseling dan 1 ruang UKS. Usaha kesehatan sekolah (UKS) merupakan program yang ingin ditingkatkan pelaksanaannya di SLB N 1 Bantul dan tercantum dalam MOU dengan Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah. Krisdi Sujatwanto. UKS pernah melaksanakan beberapa kegiatan yaitu: pembinaan kesehatan gigi, penyuluhan kesehatan reproduksi, pelatihan kantin sehat dan P3K, serta pernah memiliki dokter kecil. Beberapa masalah yang menjadi perhatian sekolah tetapi belum dapat diintervensi dengan baik adalah gizi dan personal hygiene. Kompleksnya masalah pada siswa SLB seringkali menyebabkan permasalahan gizi. Kepala sekolah menyebutkan, meskipun skrining gizi belum pernah dilakukan, guru mengamati terdapat siswa dengan berat badan terlihat lebih ataupun kurang. Penelitian tahun 2020 didapatkan status gizi siswa SLB N 1 Bantul : obesitas 15,3%, overweight 16,9%, thinness 5,1% dan severe thinness 10,2% . Untuk program peningkatan gizi, sekolah sudah mendapatkan bantuan bahan makanan mentah dari pemerintah daerah DIY setiap 1 bulan sekali. Gambar 1. Gambaran siswa dengan berat badan lebih dan kurang Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Personal hygiene siswa menjadi permasalahan di SLB. Ketrampilan yang terbatas dalam merawat diri pada beberapa kelompok siswa menyebabkan kebersihan diri kurang, yang berpotensi menyebabkan permasalahan kesehatan lainnya. Meskipun memiliki keterbatasan, anak berkebutuhan khusus sebenarnya memiliki potensi untuk belajar memelihara diri seperti, makan, berpakaian, memelihara kebersihan melalui pelatihan dengan keterampilan sederhana sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan siswa . Hasil wawancara serta observasi. UKS belum dimanfaatkan maksimal, belum semua siswa mandiri dalam personal hygiene dan belum pernah dilakukan skreening kebersihan diri, belum dilakukan pelatihan tentang pentingnya personal hygiene. Permasalahan tersebut jika tidak diatasi akan berdampak terhadap kualitas hidup siswa. Kemunduran kualitas hidup akan berpengaruh pada aktivitas sosial sehari-hari. Agar tidak menjadi permasalahan sosial yang lebih besar, maka perlu dilakukan berbagai upaya antisipasif . Peran keluarga juga menjadi faktor utama untuk memahami pentingnya pemantauan gizi dan personal hygiene bagi anak berkebutuhan khusus. Kepala sekolah menyatakan bahwa keluarga belum pernah dilakukan pelatihan terkait hal tersebut. Karena itu, permasalahan gizi dan personal hygiene perlu menjadi program utama dalam pengembangan UKS di SLB N 1 Bantul saat ini dengan melibatkan siswa, orang tua dan guru. Berdasarkan wawancara dengan guru penanggung jawab UKS didapatkan bahwa alat kesehatan yang tersedia di UKS serta kondisinya sebagian Melihat jumlah siswa dan ketersediaan alat, perlu dilakukan penambahan atau pembaruan alat kesehatan di UKS. Hasil survei di UKS terlihat bahwa pemanfaatan ruang UKS belum optimal, ruangan berdebu yang mengindikasikan jarang difungsikan. Penataan perabot kurang optimal: terdapat payung terbuka diletakkan di atas tempat tidur. Belum ada perencanaan program yang baik dan adanya ketergantungan pada pihak eksternal dalam menjalankan kegiatan serta belum ada sistem pencatatan terkait kesehatan siswa. Karena itu, pemberdayaan internal perlu ditingkatkan agar program UKS dapat berjalan baik khususnya masalah gizi dan personal hygiene. Permasalahan prioritas mitra yang akan ditangani dalam kegiatan PKM ini meliputi: Belum ada perencanaan program yang jelas di UKS, khususnya yang berhubungan dengan gizi dan personal hygiene. Sudah pernah dilakukan pelatihan dokter kecil oleh Puskesmas akan tetapi, kegiatan tersebut masih disatukan dengan siswa non-disabilitas, sehingga pendekatannya kurang maksimal untuk anak berkebutuhan khusus. Berkaitan dengan kesehatan siswa, terdapat anak dengan status gizi lebih dan di bawah normal, terdapat anak dengan personal hygiene yang kurang baik. Layanan kesehatan untuk siswa khususnya yang berhubungan dengan pemantauan status gizi dan personal hygiene masih kurang optimal, contoh : screening gizi, screening kebersihan diri. Hal tersebut terjadi karena karena kemampuan dalam melakukan pemeriksaan dan pelayanan terkait permasalahan tersebut belum optimal. Kemampuan dan kepercayaan diri siswa, guru dan orang tua. Hal ini berkaitan dengan siswa, orang tua dan guru belum mendapatkan pelatihan tentang manajemen gizi dan personal hygiene bagi siswa berkebutuhan Orangtua dan guru sebagai pendamping perlu mendapatkan pelatihan khusus terkait manajemen gizi dan manajemen personal hygiene agar dapat mendampingi siswa sesuai dengan kekhususan masingmasing. Fasilitas perlu diperbarui karena mengalami kerusakan dan fasilitas yang ada belum dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang program UKS, khususnya tentang manajemen gizi dan personal hygiene dan belum ada sistem pencatatan kesehatan siswa. Berdasarkan prioritas permasalahan, tim PKM bersama mitra menyepakati solusi dalam bentuk program kemitraan masyarakat untuk menerapkan Iptek guna menyelesaikan masalah utama tersebut. Iptek yang dikembangkan adalah pengembangan manajemen gizi dan manajemen personal hygiene di UKS SLB Negeri 1 Bantul melalui program AuAku Bersih dan Aku Sehat (KURSI SEHAT). Pengembangan kegiatan UKS melalui program KURSI SEHAT dapat menjadi model intervensi untuk meningkatkan kualitas gizi dan personal hygiene siswa berkebutuhan khusus. Kegiatan yang dilaksanakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku dalam manajemen gizi dan personal hygiene baik itu siswa itu sendiri, orang tua/wali dan guru. Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 METODE Metode pelaksanaan yang digunakan dalam program pengabdian ini adalah metode Participatory Learning and Action (PLA). Metode ini sebagai bentuk upaya pemberdayaan masyarakat . dan partisipasi masyarakat . ommunity participatio. yaitu kelompok guru dan orang tua murid SLB Negeri 1 Bantul. Tahapan pertama pelaksanaan PKM adalah sosialisasi, kegiatan sosialisasi meliputi persiapan dan kordinasi tim pengabdian dengan guru SLB Negeri 1 Bantul, menyusun jadwal pelaksanaan, penyusunan kuisioner pre-posttest untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan dan kemampuan mitra tentang gizi dan personal hygiene untuk anak berkebutuhan khusus, menyusun materi pelatihan, persiapan kelengkapan administrasi kegiatan PKM oleh tim PKM: daftar hadir. ATK, akomodasi dan sosialiasi pada seluruh anggota mitra untuk rencana kegiatan, jadwal pelaksanaan, pembagian peran dan tugas mitra. Tahapan kedua adalah pelatihan antara lain pelatihan pelatihan pengasuhan anak, pelatihan pengembangan UKS dan skreening kesehatan anak berkebutuhan khusus. Tahapan ketiga berupa penerapan teknologi dalam bentuk modul dan media edukasi, alat kesehatan untuk UKS dan pengembangan aplikasi sistem informasi yang pencatatan dan monitoring kesehatan siswa. Tahapan keempat berupa kegiatan pendampingan dan evaluasi antara lain pelaksanaan program UKS yaitu skreening kesehatan siswa, pengukuran kemampuan mitra dalam mengelola gizi dan personal hygiene pada anak berkebutuhan khusus dan evaluasi bersama mitra terkait hasil Tahapan kelima dilaksanakan dengan menyusun rencana tindak lanjut bersama mitra untuk pemberdayaan mitra secara mandiri dan pendampingan oleh tim Pengabdian Masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Pelatihan dilakukan pada 10 November 2025 bertempat di ruang pertemuan SLB N I Bantul dan di ikuti 14 peserta terdiri dari perwakilan guru, pengurus UKS dan orang tua siswa. Materi pelatihan meliputi engelolaan UKS, pelatihan gizi anak berkebutuhan khusus, pelatihan personal hygiene pada anak berkebutuhan khusus, pelatihan strategi pendekatan anak berkebutuhan khusus, dan pelatihan pengukuran dan cek kesehatan (Gambar . Kegiatan pelatihan dilanjutkan dengan skrining kesehatan siswa sebagai program UKS pada tanggal 13 November 2025 (Gambar . Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan Pelatihan Kesehatan Siswa Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Gambar 3. Dokumentasi Pemeriksaan Skrening Kesehatan Siswa Teknologi yang diterapkan berupa pengembangan paket edukasi: modul manajemen gizi, modul pengelolaan UKS, modul personal hygiene, dan modul pendekatan ABK . Pengadaan alat kesehatan dan penataan ruang UKS . dan pengembangan aplikasi digital berbasis digital web based untuk pengelolaan data kesehatan anak yang mudah, cepat dan terstruktur (Gambar . Keseluruhan teknologi selanjutnya digunakan untuk pengembangan UKS di SLB N I Bantul . Gambar 4. Modul Edukasi Gambar 5. Grafik Peningkatan Kemampuan Mitra dalam Pengelolaan UKS Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan kemampuan mitra dalam pengelolaan UKS, pengelolaan gizi anak berkebutuhan khusus, pengelolaan personal higiene, dan strategi pendekatan anak berkebutuhan khusus. Rerata pre sebanyak 2. 76 meningkat saat post menjadi 3. 21 dengan prosentase peningkatan sebesar 16. Kegiatan PKM memberikan dampak positif dengan memperkuat peran UKS dalam mendukung tumbuh kembang optimal siswa berkebutuhan khusus secara menyeluruh. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam mewujudkan UKS yang inklusif, adaptif, dan mandiri, sekaligus mempererat sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan anak dissabilitas. Usaha kesehatan sekolah (UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah. UKS bertujuan untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan membina kesehatan peserta didik sebagai generasi penerus yang potensial dan kompeten. Program UKS dikembangkan meliputi upaya peningkatan . , pencegahan . , pengobatan . dan pemulihan . yang dilalukan terhadap peserta didik dan lingkungannya . Pelatihan menjadi strategi efektif yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan guru dan kepercayaan diri untuk melakukan penanganan masalah kesehatan anak disekolah. Pemanfaatan UKS melalui pendidikan kesehatan dilakukan dengan memberikan informasi kesehatan oleh guru dan petugas kesehatan . SIMPULAN Kegiatan PKM memberikan dampak positif dengan memperkuat peran UKS dalam mendukung tumbuh kembang optimal siswa berkebutuhan khusus secara menyeluruh. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam mewujudkan UKS yang inklusif, adaptif, dan mandiri, sekaligus mempererat sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan anak dissabilitas. Saran diberikan kepada Mitra dalam hal ini pihak sekolah SLB N I Bantul untuk menjaga keberlanjutan program UKS dengan memanfaatkan alat kesehatan, media edukasi dan aplikasi pelaporan digital untuk pengelolaan kesehatan siswa. UCAPAN TERIMA KASIH