Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. Pengaruh Audit Firm Size. Company Size. Company Risk, dan Profitability Terhadap Audit Fee Richelly Gwendella Universitas Bunda Mulia. Jakarta. Indonesia Catheryn Iona Nelson Universitas Bunda Mulia. Jakarta. Indonesia Original Research Received 30 Nov 2025 Revised 9 Feb 2026 Accepted 17 Mar 2026 Additional information at the end of the article Abstract: Companies in the Basic Materials sector face increasing demand for audit transparency, making it essential to understand the determinants of audit fees. Strategic factors such as the characteristics of the audit firm and the company itself have been widely acknowledged as crucial elements influencing audit pricing. This study examined the effect of Audit Firm Size. Company Size. Company Risk, and Profitability on Audit Fee among Basic Materials companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2022Ae2024 period, adopting a quantitative approach. Secondary data were obtained from audited annual reports available on the IDX and official company websites. Using purposive sampling, a total of 42 companies over three years generated 126 observations. Multiple linear regression analysis was conducted using SPSS version 31, supported by descriptive statistics, classical assumption tests, the coefficient of determination test, the F-test, and the t-test. The results indicate that Audit Firm Size and Company Size significantly affect Audit Fee, while Company Risk and Profitability do not show a significant influence. Hence, the study recommends that company management consider the structure and scale of both audit firms and companies when estimating audit Future researchers are encouraged to incorporate additional variables such as firm complexity and audit tenure, which may further explain variations in audit fees. Keywords: audit firm size, company size, company risk, profitability, audit fee Abstrak: Perusahaan pada sektor Basic Materials menghadapi tuntutan yang semakin tinggi terhadap transparansi audit, sehingga penting untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi penetapan biaya Karakteristik perusahaan dan ukuran Kantor Akuntan Publik merupakan faktor strategis yang diakui dapat memengaruhi Audit Fee. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Audit Firm Size. Company Size. Company Risk, dan Profitability terhadap Audit Fee pada perusahaan sektor Basic Materials yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2022Ae2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan yang telah diaudit, yang tersedia melalui BEI maupun situs resmi perusahaan. Melalui teknik purposive sampling, diperoleh 42 perusahaan selama tiga tahun dengan total 126 data observasi. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 31, dilengkapi dengan statistik deskriptif, uji asumsi klasik, uji koefisien determinasi, uji F, dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Audit Firm Size dan Company Size berpengaruh signifikan terhadap Audit Fee, sedangkan Company Risk dan Profitability tidak berpengaruh signifikan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan agar manajemen perusahaan mempertimbangkan faktor ukuran Kantor Akuntan Publik dan ukuran perusahaan dalam perhitungan biaya audit. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel lain, seperti kompleksitas perusahaan dan Audit Tenure, yang berpotensi memengaruhi Audit Fee secara lebih komprehensif. Kata Kunci: ukuran perusahaan audit, ukuran perusahaan, risiko perusahaan, profitabilitas, biaya Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. PENDAHULUAN Dalam era globalisasi saat ini, perusahaan dihadapkan pada kebutuhan untuk beradaptasi secara cepat terhadap perkembangan di berbagai bidang industri, sekaligus menjaga konsistensi dan transparansi dalam pelaporan keuangannya. Laporan keuangan harus disusun secara jujur, adil, dan terbuka agar tidak menimbulkan kesenjangan informasi antara pihak manajemen dan pemilik Untuk memastikan laporan tersebut memenuhi standar keadilan, perusahaan perlu melibatkan auditor independen dari luar yang melakukan pemeriksaan secara objektif. Proses audit ini bertujuan memastikan kualitas dan ketepatan laporan keuangan, sehingga laporan yang telah diaudit dianggap memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi (Herlambang & Nurbaiti, 2. Dalam pelaksanaan audit, perusahaan diwajibkan membayar biaya yang dikenal sebagai Audit Fee kepada auditor atau Kantor Akuntan Publik (KAP) sebagai imbalan atas keahlian, waktu, dan tanggung jawab yang diberikan dalam proses pemeriksaan. Perhitungan Audit Fee biasanya dipengaruhi oleh karakteristik perusahaan dan auditor. Dari sisi perusahaan, biaya audit dipengaruhi oleh ukuran, tingkat kerumitan, serta risiko aktivitas yang dijalankan (Sibuea & Arfianti, 2. Sedangkan dari pihak auditor. Audit Fee mencerminkan sumber daya yang digunakan, keahlian, risiko audit, dan ruang lingkup pekerjaan yang harus dilakukan (Widmann et al. , 2. Jika biaya audit terlalu rendah, ada kemungkinan hal tersebut mencerminkan kualitas audit yang kurang, karena keterbatasan waktu dan prosedur yang dilakukan oleh auditor. Fenomena terkait Audit Fee semakin menonjol dengan munculnya kasus besar di Indonesia selama tahun 2023, terutama yang melibatkan PT Timah. Tbk. Kasus tersebut melibatkan kerugian negara mencapai 300 triliun rupiah yang diakibatkan oleh praktik ilegal seperti korupsi, mark-up kontrak, pengelolaan hasil tambang yang tidak sesuai, dan kerusakan lingkungan dari aktivitas penambangan ilegal (Christina et al. , 2. Kasus ini menunjukkan bahwa perusahaan berskala besar dengan transaksi yang kompleks dan risiko tinggi memerlukan pengawasan yang lebih mendalam, sehingga berpotensi meningkatkan Audit Fee, terutama jika pemeriksaan dilakukan oleh KAP berukuran besar. Kasus lain yang menonjol adalah PT Aneka Tambang. Tbk. , terkait penyalahgunaan fasilitas pemurnian emas sebanyak 109 ton. Kejadian ini menunjukkan bahwa perusahaan besar tidak kebal terhadap risiko penipuan, dan risiko tersebut menuntut prosedur audit yang lebih lengkap, yang berpengaruh pada tingginya biaya audit (CNN Indonesia, 2. Salah satu faktor utama yang memengaruhi Audit Fee adalah ukuran kantor akuntan publik, yang dikenal sebagai Audit Firm Size. Secara umum. KAP dibedakan menjadi dua kategori utama: Big Four dan non-Big Four. KAP Big Four memiliki sumber daya yang lebih besar, teknologi canggih, dan auditor dengan kompetensi tinggi, sehingga biaya audit yang dikenakan cenderung lebih besar (Saputra et al. , 2. Meski demikian, hasil penelitian mengenai pengaruh ukuran kantor akuntan publik terhadap Audit Fee beragam. Akosu et al. menyatakan bahwa tidak ada pengaruh signifikan, sementara Triani et al. menemukan adanya pengaruh yang signifikan. Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa keputusan perusahaan dalam memilih KAP besar atau kecil bisa menjadi pertimbangan strategis yang memengaruhi biaya audit. Aspek lain yang ikut serta memengaruhi Audit Fee adalah ukuran skala perusahaan yang didasarkan pada total aset, total penjualan, dan rata-rata penjualan yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan (Selly et al. , 2. Perusahaan besar cenderung memiliki aktivitas yang lebih luas dan beragam sehingga memerlukan prosedur audit yang lebih mendalam, yang kemudian berdampak pada biaya audit yang lebih tinggi. Namun, perusahaan besar sering kali memiliki sistem akuntansi yang matang dan tim keuangan profesional, sehingga proses audit bisa berjalan lebih efisien dan biaya dapat Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang berbeda-beda: Hidayat et al. menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap Audit Fee, sementara Syafii dan Dewi . menunjukkan adanya pengaruh signifikan. Selanjutnya, tingkat risiko perusahaan juga menjadi faktor penting yang memengaruhi biaya audit. Risiko perusahaan yang tinggi berarti auditor harus melakukan prosedur pemeriksaan tambahan, seperti pengujian risiko bawaan, risiko pengendalian, dan analisis industri serta transaksi secara mendalam. Langkah-langkah ini akan meningkatkan biaya audit. Perusahaan diwajibkan mengungkapkan Richelly Gwendella. Catheryn Iona Nelson Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. informasi lebih rinci untuk memenuhi kebutuhan kreditor, yang bertujuan mengurangi risiko dengan memberikan data lebih lengkap (Meilandari & Martini, 2. Meski demikian, hasil penelitian terdahulu tidak selalu konsisten. Herlambang dan Nurbaiti . menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara risiko perusahaan dan Audit Fee, sedangkan Musa et al. menemukan bahwa risiko tersebut berpengaruh signifikan. Aspek terakhir yang cukup berpengaruh adalah Profitability, atau kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Profitabilitas sering dianggap sebagai indikator penting dalam menilai efektivitas manajemen dalam mengelola sumber daya dan risiko perusahaan (Akosu et al. , 2. Hubungan antara profitabilitas dan Audit Fee cukup kompleks. Perusahaan yang mampu menghasilkan laba tinggi mungkin memiliki aktivitas yang lebih rumit sehingga membutuhkan audit yang lebih mendalam dan meningkatkan biaya. Sebaliknya, laba tinggi juga bisa menunjukkan risiko operasional yang rendah, sehingga prosedur audit yang diperlukan tidak sebanyak perusahaan yang profitabilitasnya rendah. Penelitian Saputra dan Miftah . menemukan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap Audit Fee, sementara Widmann et al. menegaskan adanya pengaruh. Secara umum, hasil dari berbagai studi menunjukkan bahwa Audit Fee dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal seperti ukuran, kompleksitas, risiko, dan faktor eksternal seperti jenis dan skala KAP. Tidak adanya konsistensi hasil studi ini menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut sangat diperlukan, terutama di sektor Basic Materials yang dikenal memiliki karakteristik industri yang kompleks, risiko tinggi, dan volume transaksi yang besar. Kasus-kasus besar seperti PT Timah. Tbk. dan PT Aneka Tambang. Tbk. semakin memperlihatkan pentingnya memahami faktor-faktor yang memengaruhi Audit Fee. Penelitian ini tidak hanya penting bagi perusahaan dan KAP, tetapi juga bagi regulator dalam menjaga kualitas pelaporan keuangan dan praktik audit di Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Teori Agensi Teori Agensi yang dikemukakan oleh Jensen dan Meckling . menjelaskan hubungan antara principal . emilik saha. dan agent . , di mana principal memberi tanggung jawab kepada agent untuk mengelola perusahaan. Namun, perbedaan kepentingan dan keterbatasan akses informasi sering menimbulkan masalah seperti asimetri informasi, di mana manajemen memiliki informasi lebih lengkap dan memahami kondisi perusahaan secara lebih mendalam dibandingkan shareholder. Hal ini berpotensi menimbulkan risiko fraud yang dilakukan oleh pihak manajemen. Pemilik perusahaan berkeinginan untuk mengetahui seluruh kegiatan manajemen dalam pengelolaan perusahaan, sehingga mereka meminta laporan pertanggungjawaban dari manajemen. Namun, sering kali terjadi manipulasi laporan agar mencerminkan kinerja yang lebih baik dari kondisi sebenarnya. Menurut Endiana dan Suryandari . , perbedaan kepentingan ini perlu diatasi melalui kehadiran pihak ketiga yang independen, yang berfungsi sebagai mekanisme untuk memastikan kepercayaan terhadap laporan dari pihak principal maupun stakeholder. Audit menjadi aktivitas utama yang dilakukan oleh pihak ketiga tersebut dan berperan dalam mendeteksi perbedaan kepentingan tersebut. Fungsi utama audit adalah memberikan kepastian terhadap keandalan laporan keuangan yang disusun manajemen, serta membantu menciptakan transparansi, meningkatkan akuntabilitas, dan menyelaraskan kepentingan berbagai pihak. Auditor eksternal melaksanakan berbagai prosedur untuk memastikan tidak adanya tindakan yang menyimpang dari prosedur akuntansi, termasuk melakukan perencanaan dan perhitungan biaya audit yang memperhitungkan risiko asimetri informasi dalam perusahaan klien sebelum pemeriksaan Audit Fee Audit Fee adalah bayaran yang diberikan oleh klien kepada auditor sebagai imbalan atas jasa pemeriksaan yang dilakukan. Menurut Putri dan Alam . , biaya audit mencerminkan imbalan yang diterima auditor atas layanan audit, dengan indikator penentunya meliputi risiko penugasan, kompleksitas jasa, struktur biaya Kantor Akuntan Publik (KAP), pertimbangan profesional, dan ukuran KAP tersebut. Gandya dan Huguet . menyatakan bahwa audit fee yang lebih tinggi biasanya Richelly Gwendella. Catheryn Iona Nelson Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. menunjukkan pemeriksaan yang lebih efektif, karena terkait dengan jumlah jam kerja dan pengalaman Semakin besar biaya audit, umumnya mencerminkan kualitas audit yang lebih baik karena auditor dapat mengalokasikan lebih banyak waktu dan sumber daya untuk prosedur pemeriksaan Selain itu, tarif yang lebih tinggi juga dapat menjadi insentif bagi auditor untuk melaksanakan tugas secara profesional dan optimal. sebaliknya, biaya yang rendah dapat mengurangi motivasi dan efektivitas auditor. Menurut Meilandari dan Martini . , pengukuran audit fee dilakukan dengan menggunakan transformasi logaritma natural . dari nilai audit fee perusahaan, agar data lebih sesuai untuk analisis statistik. Audit Firm Size Di Indonesia. Audit Firm Size dibedakan menjadi KAP Big Four dan KAP non-Big Four. KAP Big Four diasumsikan mampu melaksanakan pekerjaan audit secara efisien dan menghadapi tekanan waktu yang lebih tinggi untuk menyelesaikan audit tepat waktu (Lubis et al. , 2. Keberadaan KAP penting dalam memastikan apakah laporan keuangan perusahaan telah disusun secara andal dan sesuai dengan standar yang berlaku, dan keberadaan KAP dapat menjadi upaya meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan terhadap informasi yang disajikan. Menurut Bagaskara et al. Audit Firm yang mempunyai ukuran dengan skala besar, umumnya memiliki sumber daya yang lebih besar dan baik kualitasnya serta didukung dengan sistem yang lebih canggih atau akurat. Dengan dukungan sumber daya tersebut. KAP besar dinilai mampu memberikan layanan pemeriksaan yang lebih menyeluruh, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan klien. Tjahyadi dan Pangestu . menyatakan bahwa perusahaan yang menggunakan KAP Big Four dengan reputasi dan integritas baik menunjukkan bahwa manajemen perusahaan percaya diri dan telah mempersiapkan sistem pengendalian internal secara matang. Hal ini memungkinkan auditor jarang menemukan temuan selama pemeriksaan, karena perusahaan yang menggunakan KAP Big Four umumnya memiliki reputasi dan kredibilitas yang tinggi serta sistem pengendalian internal yang sudah baik. Audit Firm Size diukur menggunakan variabel dummy dengan angka 1 sebagai KAP Big Four dan angka 0 sebagai KAP non-Big Four (Musa et al. Maka, hipotesis satu dari studi ini: H1: Audit Firm Size berpengaruh terhadap Audit Fee Company Size Company Size adalah ukuran atau skala sebuah perusahaan yang didasarkan pada berbagai indikator yang mencerminkan kapasitas dan kekuatan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya. Indikatorindikator tersebut meliputi total aset, total kapitalisasi pasar, total pendapatan, dan ukuran finansial Dengan menggunakan indikator-indikator ini, para peneliti dan analis dapat menilai posisi perusahaan dalam industri serta memahami bagaimana tingkat sumber daya yang dimiliki memengaruhi aspek-aspek seperti kegiatan operasional, keputusan manajemen, dan hubungan dengan auditor. Menurut Setiyowati dan Januarti . , total aset perusahaan sering dijadikan indikator utama karena menunjukkan tingkat kestabilan dan kemampuan finansial perusahaan. Perusahaan dengan aset yang besar umumnya dianggap memiliki akses pendanaan yang lebih stabil dan kapasitas operasional yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil. Oleh karena itu, total aset dianggap sebagai gambaran yang andal dalam menentukan posisi dan skala perusahaan. Selain itu. Syafii dan Dewi . menyatakan bahwa ukuran perusahaan cenderung meningkat seiring dengan penggunaan teknologi terbaru di era modern, yang memerlukan biaya dan waktu tertentu. Penelitian Hidayat et al. , . menegaskan bahwa total aset digunakan sebagai indikator pengukuran karena dianggap lebih stabil dan mampu menggambarkan ukuran perusahaan secara lebih baik dibandingkan indikator lain seperti kapitalisasi pasar dan penjualan, yang lebih dipengaruhi oleh faktor demand dan supply. Maka, hipotesis dua dari studi ini: H2: Company Size berpengaruh terhadap Audit Fee Company Risk Company Risk adalah tingkat ketidakpastian yang melekat dalam suatu perusahaan yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan operasional, keuangan, maupun strategis perusahaan. Tingkat risiko Richelly Gwendella. Catheryn Iona Nelson Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. ini mencerminkan seberapa besar kemungkinan perusahaan menghadapi hambatan, kegagalan, atau kondisi tidak diinginkan yang dapat mengganggu kelangsungan aktivitas bisnisnya. Risiko yang tinggi menuntut perusahaan dan auditor untuk lebih berhati-hati, karena ketidakstabilan dalam operasi atau struktur keuangan dapat berdampak langsung terhadap kualitas informasi yang disajikan dalam laporan Menurut Saputra dan Miftah . , perusahaan dengan risiko tinggi berpotensi mengalami kegagalan dalam proses audit, sehingga diperlukan tindakan pencegahan seperti pengujian yang lebih Proporsi utang yang tinggi dalam struktur keuangan perusahaan juga meningkatkan tingkat risiko, karena hal ini berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya, risiko manajemen bunga yang tidak baik, dan potensi ketidakstabilan keuangan lainnya. Kondisi ini menyebabkan auditor perlu melakukan prosedur audit yang lebih rumit dan memerlukan waktu serta usaha yang lebih besar selama proses audit. Selain itu, menurut penelitian Meilandari dan Martini . Company Risk diukur menggunakan rumus leverage, yaitu rasio total utang terhadap total ekuitas . ebt-to-equity rati. Pengukuran ini membantu menilai tingkat risiko keuangan perusahaan yang berasal dari penggunaan utang dalam struktur modalnya. Maka, hipotesis tiga dari studi ini: H3: Company Risk berpengaruh terhadap Audit Fee Profitability Company Risk merupakan suatu skala ketidakpastian di dalam perusahaan yang dapat mempengaruhi tujuan perusahaan itu sendiri, mulai dari tujuan operasional, tujuan keuangan maupun tujuan strategis. Tingkat risiko ini mencerminkan seberapa besar kemungkinan perusahaan menghadapi hambatan, kegagalan, atau kondisi yang tidak diinginkan yang dapat mengganggu kelangsungan kegiatan bisnis. Perusahaan yang memiliki risiko tinggi juga berpotensi menghadapi risiko kegagalan dalam proses audit, sehingga diperlukan tindakan pencegahan seperti pengujian yang lebih intensif (Saputra & Miftah, 2. Proporsi utang perusahaan yang tinggi akan meningkatkan tingkat risiko Risiko ini terdiri dari risiko kemampuan perusahaan dalam membayar, risiko manajemen bunga yang tidak baik jika utang sangat tinggi dan lain-lain sehingga mendorong dibutuhkannya tindakan audit yang lebih rumit, menyebabkan kebutuhan waktu dan usaha auditor menjadi lebih banyak selama prosedur audit. Menurut Cahyadi dan Nelson . , tingkat profitabilitas yang tinggi mencerminkan prospek perusahaan yang positif di mata investor, sehingga mendorong mereka untuk menanamkan modal. Kondisi tersebut dapat menjadi indikator meningkatnya nilai perusahaan. Sebaliknya, profitabilitas yang rendah menempatkan perusahaan dalam situasi yang kurang menguntungkan karena investor cenderung ragu untuk berinvestasi pada perusahaan dengan tingkat keuntungan yang kecil. Rumus yang digunakan di penelitian ini adalah dengan Return on Assets dengan membagi Net Income dengan Total Assets, sesuai dengan penelitian di Mansur et al. Maka, hipotesis empat dari studi ini: H4: Profitability berpengaruh terhadap Audit Fee METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan karakteristik variabel yang diteliti tanpa melakukan manipulasi ataupun menghasilkan generalisasi yang lebih luas. Pendekatan ini bertujuan untuk mengukur hubungan antara variabel atau untuk memahami fenomena melalui analisis statistik (Wajdi et al. , 2. Data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dengan metode pengumpulan data melalui dokumentasi. Data dikumpulkan dari data yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia mencakup laporan keuangan tahunan, daftar perusahaan yang terdapat sektor Basic Materials, nama KAP yang memeriksa perusahaan-perusahaan tersebut, ukuran perusahaan yang dinilai berdasarkan nilai total aset, risiko perusahaan yang diambil dari rumus leverage, dan tingkat profitabilitas yang diambil dari rumus profitability. Richelly Gwendella. Catheryn Iona Nelson Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. HASIL DAN PEMBAHASAN Descriptive Statistics Dari Tabel 1, hasil analisis deskriptif terdiri dari. Variabel Audit Fee yang diukur menggunakan Logaritma Natural, memiliki nilai minimum sebesar 18,13 yang ditemukan pada perusahaan Intanwijaya Internasional. Tbk. di tahun 2022 dengan nominal IDR 75. 000 dan memiliki nilai maksimum sebesar 23,11 yang ditemukan pada perusahaan Aneka Tambang. Tbk. di tahun 2023 dengan nominal IDR 10. Kemudian, nilai rata-rata variabel ini adalah sebesar 19,9141 yang menjelaskan bahwa perusahaan sampel dalam penelitian ini cenderung mempunyai Audit Fee yang relatif tinggi karena mendekati nilai maksimum dibandingkan nilai minimum. Untuk nilai standar deviasi adalah sebesar 1,16131 di mana dapat dinilai bahwa tingkat persebaran datanya masih rendah karena lebih kecil dari nilai rata-rata. Variabel Audit Firm Size yang diukur menggunakan dummy, memiliki nilai minimum sebesar 0 dari perusahaan Wijaya Karya Beton. Tbk. yang menggunakan KAP RSM dan nilai maksimum 1 dari perusahaan Lautan Luas. Tbk. yang menggunakan KAP EY. Kemudian, nilai rata-rata dari variabel ini adalah sebesar 0,21 yang menjelaskan bahwa perusahaan di dalam sampel cenderung diperiksa oleh KAP non-big four. Untuk nilai standar deviasi adalah sebesar 0,406 yang menggambarkan adanya variasi dalam penggunaan KAP pada perusahaan sampel karena nilainya lebih tinggi dari nilai rata-rata. Variabel Company Size yang diukur menggunakan Logaritma Natural memiliki nilai minimum 25,31 yang ditemukan pada perusahaan Sinergi Inti Plastindo. Tbk. tahun 2022 dengan nominal IDR 98. 572 dan memiliki nilai maksimum 31,43 yang ditemukan pada Aneka Tambang. Tbk. di tahun 2024 dengan nominal IDR 44. Kemudian, nilai rata-rata dari variabel ini adalah sebesar 28,1096 yang menjelaskan bahwa perusahaan sampel di dalam penelitian cenderung berukuran menengah ke besar. Untuk nilai standar deviasi adalah sebesar 1,44984 yang menggambarkan rendahnya variasi dalam ukuran perusahaan sampel, sehingga dapat disimpulkan data tidak tersebar secara merata. Variabel Company Risk yang diukur dengan rumus solvabilitas, yaitu Debt to Equity. Variabel ini memiliki nilai minimum sebesar -1,4188 dari perusahaan Tirta Mahakam Resources. Tbk. pada tahun 2022 dan memiliki nilai maksimum sebesar 4,1042 dari perusahaan Pelangi Indah Canindo. Tbk pada tahun 2022. Kemudian, nilai rata-rata dari variabel ini adalah sebesar 0,650918 yang menjelaskan bahwa perusahaan dalam sampel memiliki risiko menengah menuju cukup tinggi, namun tidak ekstrem. Untuk nilai standar deviasi adalah sebesar 0,7343267 yang menggambarkan data tersebar dengan baik atau homogen, karena standar deviasi yang relatif besar daripada nilai rata-rata. Variabel Profitability yang diukur dengan rumus profitabilitas, yaitu Return on Assets. Variabel ini memiliki nilai minimum sebesar -0,3425 dari perusahaan Tirta Mahakam Resources. Tbk. pada tahun 2022 dan memiliki nilai maksimum sebesar 0,3134 dari perusahaan Cita Mineral Investindo. Tbk. pada tahun 2024. Kemudian, nilai rata-rata dari variabel ini adalah sebesar 0,047643 yang menjelaskan bahwa perusahaan dalam sampel hampir tidak menghasilkan laba. Untuk nilai standar deviasi adalah sebesar 0,0821569 yang menggambarkan data tersebar dengan baik atau homogen karena standar deviasi dinilai lebih besar daripada nilai rata-rata. Tabel 1 Analisis Deskriptif AFE AFS CSZ CMR PRF Valid N . Minimum 18,13 25,31 -1,4188 -0,3425 Maximum 23,11 31,43 4,1042 0,3134 Mean 19,9141 0,21 28,1096 0,650918 0,047643 Std. Deviation 1,16131 0,406 1,44984 0,7343267 0,0821569 Uji Regresi Linear Berganda Berikut ini adalah hasil dari persamaan linear berganda yang dihasilkan: Y= 7,505 1,208 AFS 0,434 CSZ Ae 0,113 CMR 0,930 PRF e. Nilai konstanta sebesar 7,505 mempunyai makna yaitu bila Richelly Gwendella. Catheryn Iona Nelson Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. variabel Audit Firm Size. Company Size. Company Risk dan Profitability bernilai 0, maka besaran Audit Fee yakni 7,505. Nilai koefisien variabel Audit Firm Size ialah 1,208, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien tersebut memengaruhi Audit Fee secara positif. Hal tersebut artinya setiap peningkatan satu satuan dalam variabel Audit Firm Size akan mengakibatkan peningkatan Audit Fee dengan besaran 1,208. Nilai koefisien variabel Company Size ialah 0,434, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien tersebut memengaruhi Audit Fee secara positif. Hal tersebut artinya setiap peningkatan satu satuan dalam variabel Company Size akan mengakibatkan peningkatan Audit Fee dengan besaran 0,434. Nilai koefisien variabel Company Risk ialah -0,113, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien tersebut memengaruhi Audit Fee secara negatif. Hal tersebut artinya setiap peningkatan satu satuan dalam variabel Company Risk akan mengakibatkan penurunan Audit Fee dengan besaran -0,113. Nilai koefisien variabel Profitability ialah 0,930, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien tersebut memengaruhi Audit Fee secara positif. Hal tersebut artinya setiap peningkatan satu satuan dalam variabel Profitability akan mengakibatkan peningkatan Audit Fee dengan besaran 0,930. Tabel 2 Hasil Regresi Linear Berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model (Constan. 7,505 AFS 1,208 CSZ 0,434 CMR -0,113 PRF 0,930 Dependent Variable: AFE Uji Koefisien Determinasi Pada Tabel 3, dapat dilihat bahwa hasil Adjusted R Square dengan besaran 0,709 atau 70,9%. Maka dapat dipahami bahwa variabel dependen, yaitu Audit Fee dapat dijelaskan atau diuraikan oleh beberapa variabel independen, yaitu Audit Firm Size. Company Size. Company Risk dan Profitability sebesar 70,9%. Tabel 3 Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summaryb Model R Square 0,847a 0,718 Predictors: (Constan. AFS. CSZ. CMR. PRF Dependent Variable: AFE Adjusted R Square 0,709 Std. Error of the Estimate 0,626666 Uji F Sesuai dengan Tabel 4, penelitian ini memperoleh hasil F dengan tingkat signifikansi dengan besaran 0,001. Dapat disimpulkan bahwa Audit Firm Size. Company Size. Company Risk dan Profitability berdampak secara signifikan terhadap Audit Fee. Maka dari itu, model regresi pada penelitian ini dapat diterima kelayakannya. Richelly Gwendella. Catheryn Iona Nelson Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. Uji t Sesuai dengan hasil uji t pada Tabel 5, dapat disimpulkan: . Variabel Audit Firm Size memiliki nilai signifikan sebesar 0,001<0,05 dan koefisien regresi sebesar 1,208. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Audit Firm Size memiliki pengaruh signifikan terhadap Audit Fee. Variabel Company Size memiliki nilai signifikan sebesar 0,001<0,05 dan koefisien regresi sebesar 0,434. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Company Size memiliki pengaruh signifikan terhadap Audit Fee. Variabel Company Risk memiliki nilai signifikan sebesar 0,159>0,05 dan koefisien regresi sebesar -0,113. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Company Risk tidak memiliki pengaruh terhadap Audit Fee. Variabel Profitability memiliki nilai signifikan sebesar 0,191>0,05 dan koefisien regresi sebesar 0,930. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Profitability tidak memiliki pengaruh terhadap Audit Fee. Tabel 4 Hasil Uji F ANOVAa Model Regression Residual Total Sig. <0,001b Dependent Variable: AFE Predictors: (Constan. AFS. CSZ. CMR. PRF Pembahasan Hasil uji statistik t pada Tabel 5 menghasilkan kesimpulan bahwa Audit Firm Size berpengaruh signifikan terhadap Audit Fee. Nilai signifikan variabel ini di bawah 0,05 sehingga mengindikasikan adanya pengaruh di antara variabel ini. Sehingga hipotesis pertama, yaitu Audit Firm Size berpengaruh terhadap Audit Fee diterima. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian Triani et al. , yang menjelaskan bahwa ukuran KAP berpengaruh terhadap besarnya biaya audit karena ketersediaan sumber daya dan teknologi yang lebih baik bagi KAP big four. Berdasarkan teori agensi, pengaruh Audit Firm Size terhadap Audit Fee terjadi karena KAP big four dinilai memiliki kemampuan lebih tinggi dalam menurunkan risiko agensi melalui kualitas audit yang tinggi termasuk tingkat kompetensi auditor yang, tingkat prosedur pemeriksaan, penggunaan teknologi audit yang lebih maju, serta kapasitas sumber daya yang lebih besar sehingga perusahaan bersedia membayar biaya yang lebih tinggi sebagai imbalan atas hal-hal di atas. Tabel 5 Hasil Uji t Model (Constan. AFS CSZ CMR PRF Coefficientsa Unstandardized Coefficients 7,505 1,208 0,434 -0,113 0,930 5,688 7,407 8,975 -1,416 1,315 Sig. <0,001 <0,001 <0,001 0,159 0,191 Company Size berpengaruh secara signifikan terhadap Audit Fee. Nilai signifikan variabel ini di bawah 0,05 sehingga mengindikasikan adanya pengaruh di antara variabel ini. Sehingga hipotesis kedua, yaitu Company Size berpengaruh terhadap Audit Fee diterima. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian Rifaldi . , yang menjelaskan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap besarnya biaya audit karena semakin besar perusahaan yang diperiksa, maka semakin rumit transaksi di dalam perusahaan tersebut. sehingga meningkatkan biaya pemeriksaan karena membutuhkan prosedur yang rumit. Selain itu, perusahaan berukuran besar biasanya memiliki lebih banyak anak usaha, lini bisnis, serta sistem informasi yang lebih rumit, sehingga auditor memerlukan waktu lebih lama untuk memahami proses bisnis dan risiko internal perusahaan. Besarnya aset dan luasnya cakupan Richelly Gwendella. Catheryn Iona Nelson Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. audit juga menuntut penggunaan tim audit yang lebih besar. Berdasarkan teori agensi, pengaruh Company Size terhadap Audit Fee terjadi karena peningkatan risiko agensi, kompleksitas transaksi, serta luasnya lingkup pengawasan yang harus dilakukan auditor pada perusahaan berukuran besar, sehingga auditor perlu mengalokasikan sumber daya, waktu, prosedur pemeriksaan, dan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi untuk mengurangi potensi perilaku kecurangan dari manajemen dan risiko salah saji, sehingga audit fee yang diestimasikan menjadi lebih tinggi. Variabel Company Risk tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit Fee karena nilai signifikansinya berada di atas 0,05, sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa Company Risk berpengaruh terhadap Audit Fee ditolak. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat risiko perusahaan tidak menjadi faktor dalam penetapan biaya audit pada sampel penelitian ini. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Herlambang dan Nurbaiti . yang menyatakan bahwa tidak diketahui apakah tingkat risiko audit yang cenderung meningkat memerlukan metode kinerja audit tambahan, yang akan meningkatkan durasi audit dan kompensasi auditor. Selain itu, hal ini dapat terjadi karena perusahaan telah memiliki sistem pengendalian internal yang memadai sehingga auditor tidak perlu menambah prosedur meskipun risikonya tinggi, atau auditor menggunakan pendekatan penetapan biaya yang lebih berfokus pada faktor lain. Berdasarkan teori agensi, hal ini dapat terjadi karena risiko perusahaan yang bersifat eksternal atau risiko operasional tidak serta-merta meningkatkan risiko agensi antara manajemen dan pemilik, sehingga tidak mendorong auditor untuk meningkatkan intensitas pengujian ataupun menambah prosedur audit tambahan. Dengan demikian, auditor tidak melihat kebutuhan untuk mengalokasikan sumber daya, waktu, atau tingkat kehati-hatian ekstra berdasarkan variabel risiko perusahaan, yang pada akhirnya menyebabkan Company Risk tidak mempengaruhi Audit Fee. Variabel Profitability tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit Fee karena nilai signifikansinya berada di atas 0,05, sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa Profitability berpengaruh terhadap Audit Fee ditolak. Hasil ini sejalan dengan penelitian Saputra et al. yang menyatakan bahwa beban kerja auditor lebih dipengaruhi oleh volume transaksi, jenis transaksi, dan kebijakan akuntansi yang diterapkan. Auditor bertanggung jawab untuk tetap independen dan objektif sehingga biaya tidak dapat ditentukan semata-mata berdasarkan ukuran atau hasil laba perusahaan. Perhitungan biaya audit tidak dapat didasarkan pada besar kecilnya laba perusahaan, melainkan pada sejauh mana auditor harus melakukan pengujian substantif dan pengujian kepatuhan. Selain itu, perusahaan dengan profitabilitas tinggi belum tentu memiliki risiko audit yang lebih besar, sehingga kondisi ini tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap variasi Audit Fee dalam penelitian ini. Berdasarkan teori agensi. Profitability tidak memiliki pengaruh terhadap Audit Fee dapat dijelaskan oleh fakta bahwa tingkat keuntungan perusahaan tidak secara langsung meningkatkan risiko agensi maupun asimetri informasi antara manajemen dan pemilik, sehingga auditor tidak perlu menambah prosedur pemeriksaan, cakupan evaluasi, ataupun intensitas pengujian hanya karena perusahaan mencatat profitabilitas tertentu. Maka dari itu, hal ini tidak akan menambah atau mengurangi akumulasi biaya pemeriksaan yang akan dibayarkan perusahaan kepada auditor. KESIMPULAN Sesuai hasil penelitian terkait pengaruh Audit Firm Size. Company Size. Company Risk Dan Profitabiliy terhadap Audit Fee pada perusahaan sektor Basic Materials yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2022Ae2024, kesimpulan yang bisa dikumpulkan yaitu: Audit Firm Size berpengaruh signifikan terhadap Audit Fee. Hal ini artinya, semakin besar Audit Firm Size, maka semakin tinggi Audit Fee yang dikenakan kepada perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa Kantor Akuntan Publik berskala besar cenderung menetapkan biaya audit yang lebih tinggi seiring dengan reputasi, kualitas layanan, kompetensi auditor, serta ketersediaan sumber daya dan teknologi yang lebih unggul dalam proses pemeriksaan. Company Size berpengaruh signifikan terhadap Audit Fee. Hal ini artinya, semakin besar Company Size, maka semakin tinggi Audit Fee yang dikenakan kepada Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka semakin kompleks transaksi dan aktivitas operasional yang harus diuji auditor, sehingga memerlukan prosedur audit yang lebih luas dan menyebabkan peningkatan biaya audit. Company Risk tidak berpengaruh signifikan Richelly Gwendella. Catheryn Iona Nelson Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan (Journal of Business and Entrepreneurshi. Vol. No. 2, 2025, e-ISSN: 2685-6255. p-ISSN: 2302-4119, pp. 80Ae90 DOI: https://doi. org/10. 46273/jobe. terhadap Audit Fee. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun perusahaan memiliki tingkat risiko keuangan atau operasional yang tinggi, auditor tidak langsung menilai risiko tersebut sebagai salah satu faktor perhitungan biaya audit. Hal ini dapat terjadi karena auditor memiliki standar prosedur yang sudah ditetapkan, sehingga biaya audit ditentukan berdasarkan faktor lain yang lebih dominan seperti ukuran KAP dan ukuran perusahaan. Profitability tidak berpengaruh signifikan terhadap Audit Fee. Hal ini menjelaskan bahwa tinggi rendahnya profit yang dihasilkan perusahaan tidak mencerminkan adanya tambahan prosedur pemeriksaan maupun peningkatan waktu serta sumber daya audit, sehingga tidak memberikan pengaruh pada kenaikan maupun penurunan akumulasi biaya pemeriksaan yang dibayarkan perusahaan. DAFTAR PUSTAKA