JURNAL RUPA VOL 8 NO 1 2023 DOI address https://doi. org/10. 25124/rupa. Perancangan Produk Fashion Kontemporer Berdasarkan Budaya Peranakan Dengan Menerapkan Motif Batik Pesisir Enrico Department of Product Design. School of Creative Industries. Universitas Ciputra. Surabaya. Indonesia Abstract Fashion industry in Indonesia has been growing tremendously by adapting the archipelagoAos culture as its unique identity. Peranakan as a result of acculturation of local culture with that of China and Dutch which is infused with myriads of aesthetic values. This design is a representation of cultural transformation that still holds the Peranakan identity while looking to fit into the target market as well as the current trend. This is done by way of qualitative approach by accumulating primary data through observation, experiment and also secondary data via literature study. FRANGIPANI design method has 6 stages from searching for inspiration to realizing the product and trialing it to the public. The purpose of this research is to introduce, promote and preserve the Peranakan culture as a fashion product that can be accepted by the current market. We hope this research will be one of the solutions for the Indonesian fashion industry and players to further develop products with Indonesian culture. Keywords Culture. Peranakan. Fashion. Batik Pesisir. Contemporary Enrico Email enrico@ciputra. Address Citraland CBD Boulevard Surabaya 60219 Phone Perancangan Produk Fashion Kontemporer Berdasarkan Budaya Peranakan Dengan Menerapkan Motif Batik Pesisir Enrico PENDAHULUAN Pesisir di Utara pulau Jawa dahulu merupakan lokasi singgah pedagang dari berbagai penjuru negri, khususnya Eropa. India. Cina, dan Arab. Dalam masa tersebut banyak pendatang yang akhirnya beradaptasi dan menikah dengan penduduk setempat, sehingga terjadi akulturasi budaya yang disebut sebagai budaya peranakan. Prof Gondomo . mengungkapkan bahwa kebudayaan merupakan warisan yang bukan secara genetik kepada orang lain sebagai anggota masyarakat, sebagai contoh atau teladan, atau peniruan. Pada masyarakat Cina peranakan yang sebagian besar merupakan keturunan campuran penduduk migran Hokkian dan penduduk pesisir utara pulau Jawa Indonesia melahirkan suatu budaya yang unik dan memiliki karakteristik tersendiri. Kebudayaan yang lahir ini merupakan campuran dari tiga unsur budaya yang dibawa masing-masing yaitu Jawa. Cina, dan Belanda, walaupun sebagian kaum peranakan juga dipengaruhi budaya dari luar pulau Jawa. Hingga di era modern ini budaya peranakan masih bertahan, mencakup banyak aspek seperti kuliner, tradisi, arsitektur, hingga busana dan gaya Mengutip dari siaran pers IPSH Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bahwa akulturasi budaya dapat dilihat dari sisi manuskrip yang menghasilkan asimilasi yang bersifat top-down . Kaum peranakan di pesisir Jawa dalam sejarah perkembangannya juga berprofesi sebagai pengusaha dan pengrajin batik, mereka membuat batik dengan motif dan warna sesuai dengan budaya yang mereka bawa dari Cina daratan disebut sebagai batik pesisir. Upaya dilakukan untuk menjaga kebersamaan dalam bentuk komunitas melalui media batik, seperti salah satu pengusaha batik di Pekalongan yang namanya sangat dikenal hingga saat ini yaitu Oey Soe Tjoen. Batik pesisir yang dihasilkan Oey Soe Tjoen merupakan rancangan motif batik yang memiliki ciri khas dan konsisten dalam menjaga kualitas teknik pembuatannya, serta hingga saat ini tetap mempertahankan cara dan pakem warisan dari generasi pendahulunya. Ciri khas motif yang dihasilkan juga dikatakan tetap mengikuti tren perkembangan desain. Motif batik yang berlatar belakang kebudayaan masyarakat Cina seperti motif flora buketan, motif hewan mitologi Cina, dan beberapa terpengaruh dari Jawa seperti motif latohan dan watu pecah. Karena pesatnya perkembangan industri fashion khususnya di Indonesia dan adanya aturan dari pemerintah untuk menggunakan batik di hari-hari besar tertentu juga pada saat acara-acara pemerintahan, maka perwujudan kain batik menjadi produk fashion selalu berkembang dalam hal desain dan cara pengerjaannya. Desainer fashion di Indonesia juga banyak mengangkat batik sebagai ciri khas karya mereka seperti Mel Ahyar. Didiet Maulana, dan desainer fashion lainnya. Oleh karena itu dengan latar belakang tersebut maka penelitian perancangan ini mengolah produk fashion secara kontemporer dengan menerapkan hal-hal yang diangkat dari budaya peranakan sebagai sumber inspirasi desain busana, dan juga mengolah motif batik pesisir menyesuaikan tren fashion dan target Dengan semakin pesatnya persaingan di industri fashion global, diperlukan alternatif solusi dan stimulan bagi para pelaku fashion Indonesia untuk meningkatkan Kembali perekonomian lewat industri fashion . ESTETIKA BUDAYA PERANAKAN Budaya peranakan merupakan hasil akulturasi dari tiga unsur yaitu budaya Cina. Jawa, dan Belanda. Proses pembauran kultural karena adanya pernikahan pendatang dari Cina dan penduduk Jawa setempat menghasilkan keturunan yang hidup seperti orang Jawa. Adat dan kehidupan sehari-hari sudah tidak sepenuhnya mengikuti pendatang dari Cina, tetapi telah banyak terasimilasi adat penduduk Keragaman ini disebut jamak dan memiliki identitas yang ambigu juga ambivalen yang dalam perwujudannya terlihat dalam beragam bentuk dan ekspresi. Salah satu kesenian yang paling terlihat wujudnya adalah seni tari dan wayang, yang sebagian besar pemainnya dilakukan dengan menggunakan bahasa Jawa pewayangan. Selain seni tari dan wayang, juga terlihat wujud ekspresi dalam bentuk film dan sandiwara dengan beberapa nama pemain film terkenal di eranya seperti Mak Uwok dan Fifi Young yang merupakan keturunan Peranakan. Selain kesenian, estetika yang paling terlihat wujud ekspresi budaya peranakan adalah gaya busana, material Enrico tekstil, dan ragam hias pada busana. Estetika memperoleh tantangan di saat modernism memilah nilai guna dan nilai estetik. Dikutip dari Chritopher Williams, semua karya dari kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh dan dipandu oleh unsur-unsur sistem kebudayaan yang dibawakan oleh kelompok masyarakat di daerah/kawasan yang bersangkutan. Suatu proses desain tidak terlepas dari material, teknik, energi, dan sumber lainnya untuk kepuasan dari dua pihak pencipta dan penikmatnya . Sumber-sumber dari unsur-unsur pemandu dan pembentuk artefak atau karya budaya peranakan terbentuk dari lokasi geografis kawasan Nusantara yaitu pesisir utara pulau Jawa, didukung oleh bentuk dan prilaku yang dibawakan oleh kelompok masyarakat di kawasan tersebut. Uraian peristiwa interaksi sumber eksternal-estetik dan internal-estetik dapat disimpulkan pada bagan berikut. Gambar 1. Uraian Peristiwa Interaksi Faktor Ekstra-Estetik dan Intra-Estetik, 2008. Ahadiat Joedawinata Busana pada budaya Peranakan tidak lepas dari unsur-unsur pembentuk desain, ada beberapa jenis busana yang digunakan wanita kaum Peranakan di jamannya yaitu kebaya encim atau disebut kebaya nyonya dan jarik, baju kurung, dan baju panjang. Kebaya encim pernah populer di era modern ini dengan gaya busana yang menyesuaikan tren fashion, dengan memadupadankan warna, bentuk, dan motif. Fungsi praktis kebaya encim dan jenis busana lainnya sebagai pakaian yang dipakai oleh wanita Indonesia. Perubahan fungsi dan makna baju kebaya yang semula menjadi simbol keteraturan berbudaya wanita di Indonesia perlahan berubah menjadi bentuk ekspresi dan lebih memperhatikan nilai estetik. Sebagai simbol keteraturan wanita Indonesia busana-busana tersebut dikenakan dalam aktifitas sehari-hari dan berubah hanya dipakai pada saat acara tertentu atau saat menghadiri acara kenegaraan . Kebaya menggunakan material tekstil kain sutra dan katun yang ringan dan tipis, menyesuaikan aspek iklim tropis di Indonesia. Umumnya dikombinasikan dengan bahan lace pada bagian bawah dan tengah sebagai penanda status sosial, semakin mahal bahan yang diaplikasikan akan semakin terlihat mewah dan tinggi status sosialnya. Gambar 2. Kebaya Encim, 2008. Kustara Baju kurung dan baju panjang adalah busana sebelum mengenal kebaya yang dikenakan wanita kaum peranakan. Baju kurung yang cara menggunakannya diselongsongkan dari arah kepala, dengan potongan belahan pada bagian leher dilengkapi dengan aksesoris semacam bros yang dinamakan peniti Sedangkan baju panjang memiliki opening di bagian depan, dengan menggunakan aksesoris peniti emas atau aksesoris semacam kerongsang dari perak yang disambungkan menggunakan rantai . Tren busana tersebut di tahun 1900 menumbuhkan kesadaran akan identitas masyarakat Tionghoa di peranakan, bahkan menjadi tren di murid-murid sekolah di organisasi perhimpunan Tionghoa dengan dipadukan rok lipit . yang dikenakan di luar celana panjang . Material yang digunakan pada baju kurung adalah bahan yang tidak transparan dan lebih tebal gramasinya daripada baju jenis Perancangan Produk Fashion Kontemporer Berdasarkan Budaya Peranakan Dengan Menerapkan Motif Batik Pesisir Baju panjang diadopsi dari bentuk coat pendatang orang Eropa yang migrasi ke Asia Tenggara, dengan panjang baju hingga bagian betis yang dipadukan dengan bawahan berupa kain batik. Adanya pengaruh dari budaya Cina dan Eropa ini yang menghasilkan unsur estetik-eksternal, sumber material dan teknik yang dibawa oleh para pendatang ke pulau Jawa. Adanya modifikasi terlihat pada modernisasi model busana karena mulai dilarang menggunakan pakaian Eropa pada tahun 1911, yang merujuk pada bentuk kebaya Jawa dengan menggunakan kain tipis berwarna putih dengan jarik kain batik. Berbeda dengan kebaya yang digunakan oleh bangsawan keluarga keraton yang terbuat dari material velvet, sutra, dan sejenis jacquard. Gambar 3. Baju Panjang, 2004. Seri FASHION KONTEMPORER Sebagai visualisasi busana yang memiliki esensi yang dinamis di era modern memenuhi kebutuhan masyarakat urban, dunia fashion terus berkembang. Fashion yang menampilkan perpaduan tradisi dan inovasi, kreativitas dan kebutuhan akan sistem keberlanjutan . ustainability fashio. , serta peran individualitas dan inklusivitasnya membentuk identitas dan karakteristik setiap individu dalam mengekspresikan diri melalui busana. Fashion kontemporer banyak melihat budaya sebagai sumber inspirasi, perpaduan budaya timur dan barat menghasilkan gaya yang ekletik dan memiliki nilai estetika tradisi, dengan mengolah pola dan juga teknik tradisional yang ditata ulang ke dalam desain yang Fashion merupakan bentuk seni yang diolah untuk memenuhi kebutuhan primer, tetapi fashion kontemporer mendorong batas kebutuhan tersebut yang diolah para desainer sehingga tampil lebih dengan konsep avant garde. Dengan memadukan berbagai disiplin yang lain, bukan hanya sebuah produk kebutuhan utama lagi, tetapi mengenai kisah yang diceritakan dari produk busana dan emosi yang ditimbulkannya. Salah satu yang tidak dapat lepas dari perubahan tren yang sangat cepat adalah teknologi dan inovasi, industri modern ini telah banyak desainer fashion yang mengaplikasikan teknologi seperti 3D printed, augmented reality, dan inovasi lainnya pada produk-produk fashion yang mengaburkan batas antara fashion dan fungsionalitas. Peran digitalisasi dalam fashion juga memudahkan setiap orang untuk mencari inspirasi, menemukan gaya unik yang baru menjadi pengaruh bagi masyarakat global. Atheleisure, streetwear, gender-fluid fashion telah menjadi populer, sehingga memungkinkan untuk terbebas dari norma-norma tradisional dan bergaya sesuai kepribadian setiap individu . BATIK PESISIR Dikutip dari . kebutuhan akan rasa keindahan menurut Ralph Piddington merupakan kebutuhan tersier setelah kebutuhan pokoknya yaitu makanan, pakaian, tempat tinggal, dan juga kebutuhan sekundernya telah terpenuhi. Ungkapan rasa keindahan tersebut sebagai bentuk keseimbangan yang tidak dapat dipisahkan dan saling terhubung dengan kebutuhan primer dan sekunder. Indikator tingkat kebudayaan dapat terlihat pada produk budaya yang mencerminkan ekspresi estetik pada kelompok masyarakat tertentu. Sebagai suatu teknik mencipta ungkapan rasa dan cerita, batik adalah produk budaya yang terpengaruh dari unsur-unsur pembentuk keindahan seperti perbedaan lingkungan dan Enrico peristiwa yang dialami. Daerah pesisir pulau Jawa yang merupakan wilayah dengan akulturasi budaya yang paling kental terlihat khususnya utara pulau Jawa seperti Cirebon. Indramayu. Lasem, dan lainnya. Batik pesisir mendapat pengaruh dari budaya Cina dan Belanda, juga beberapa motif terdapat pengaruh dari budaya India serta agama Hindu dan Buddha yang dikerjakan penduduk lokal setempat. Batik pesisir memiliki karakteristik yang berbeda dengan batik keraton dan lainnya, sebagai berikut: Ragam hias yang digunakan pada motif umumnya menggambarkan flora dan fauna. Pengaruh budaya dari Cina banyak membuat motif batik berupa flora dan satwa yang digambarkan dalam gaya Chinese Painting. Salah satu keunikan juga mendapat pengaruh dari Belanda yang menampilkan rangkaian berbagai macam bunga menjadi buket dengan ragam hias kupu-kupu, burung kecil, ataupun bangau. Terdapat motif mitologi Cina baik yang berupa hewan maupun dewa-dewi. Burung Hong sering ditemukan pada motif batik pesisir, sebagai hewan mitologi Cina disebut juga FengHuang. FengHuang memiliki filosofi enam benda langit pada setiap bagiannya dan melambangkan sifat baik. Selain FengHuang, naga adalah salah satu gambaran motif yang populer karena filosofinya yang merepresentasikan kekuatan, harapan yang mulia, dan juga perjalanan spiritual. Gambaran motif dewa-dewi Cina dibuat seperti lukisan pada keramik Cina Warna batik dinamis. Tidak seperti ciri batik keraton dengan paduan warna sogan dan hitam, warna pada batik pesisir cenderung bervariasi. Batik buketan tradisional cenderung menerapkan tone warna yang pucat . , batik pesisir daerah Lasem juga memiliki ciri khas warna merah yang tidak didapat dari batik pesisir daerah lainnya yaitu warna merah getih pitik . erah darah aya. yang didapat dari pewarna alam akar pohon mengkudu. Warna pada batik juga banyak mengandung filosofi sesuai dengan paham yang dianut orang Cina yaitu apa yang dikenakan sesuai usianya . , seperti halnya wanita muda menggunakan biru muda dan merah muda, wanita setengah baya dengan warna biru dan merah, sedangkan paduan biru, coklat, hijau, dan lembayung diatas dasar putih dikenakan para wanita lanjut usia. Gambar 4. Batik Pesisir Motif Buketan & Naga METODE Penelitian perancangan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan pengumpulan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan observasi langsung berupa pengamatan visual dan proses wawancara ke lokasi pengrajin batik di Lasem dan beberapa tempat historikal peranakan. Dari hasil observasi langsung didapatkan hasil analisa bentuk dan detail dari busana wanita peranakan, unsur pembentuk motif dan warna pada batik pesisir. Eksperimental motif dan paduan warna juga dilakukan sebagai pendukung data Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi pustaka. Data pustaka didapat melalui sumber buku, jurnal yang membahas seni, desain, dan budaya, artikel terbaru mengenai tren fashion. Sedangkan untuk menghasilkan perancangan produk fashion dalam penelitian ini menerapkan metode perancangan FRANGIPANI . Dari 10 tahapan perancangan, diterapkan 6 tahapan hingga koleksi produk Perancangan Produk Fashion Kontemporer Berdasarkan Budaya Peranakan Dengan Menerapkan Motif Batik Pesisir Gambar 5. Metode Perancangan FRANGIPANI ISI Perancangan produk fashion kontemporer dengan menerapkan budaya peranakan ini menggunakan metode perancangan FRANGIPANI hingga tahapan ke enam dari sepuluh tahapan. Tahapan yang digunakan dalam perancangan ini Finding the brief idea based on Indonesia culture, researching and sourcing of art fashion, analyzing art fashion element taken from richness of Indonesia culture, narrating of art fashion idea by 2D or 3D visualization, giving a soul-taksu to art fashion idea by making sample, dummy, and construction, interpreting of singularity art fashion will be showed in the final collection. Langkah awal yang dilakukan sesuai metode perancangan adalah finding the brief idea based on Indonesia culture . enemukan ide awal berdasarkan budaya Indonesi. , dengan melakukan mindmapping sehingga dapat menemukan tema yang spesifik dalam menerapkan budaya peranakan. Inspirasi diambil dari cerita historikal masyarakat peranakan di pesisir pulau Jawa yang berwarna, cerita tersebut terus terkenang dan diwariskan ke generasi penerus yang memang hampir tidak ada yang ingin menetap di wilayah tersebut dikarenakan modernisasi kota-kota besar Indonesia. Sehingga banyak anak cucu yang ingin memiliki kehidupan perekonomian yang lebih baik dan mengikuti tren dan Tema Vivid Reminiscene diambil untuk menggambarkan kenangan cerita tersebut dengan tone warna vivid diterapkan ke dalam pewarnaan pada kain batik. Riset primer dilakukan pada tahap ke dua researching and sourcing of art fashion, dengan melakukan observasi langsung, wawancara untuk mengumpulkan data berupa cerita budaya historikal peranakan, bentuk dan detail busana, kesenian, dan lainnya. Riset sekunder dilakukan melalui studi pustaka dan observasi tren fashion di beberapa sumber yaitu WGSN dan Fashion Trend Forecasting 2023/2024 Co-Exist. Hasil riset sekunder observasi tren fashion diambil kunci pendukung tema The Saviours-Transcultural. Gambar 6. Tren Fashion 2023/2024 Co-Exist, 2022 Tahap ke tiga setelah melakukan pengumpulan dan pengolahan data primer dan sekunder yaitu analyzing art fashion element taken from richness of Indonesia culture. Analisa dilakukan dengan memilah-milah hasil referensi visual dengan membuat moodboard. Moodboard merupakan media visual yang berisi gambar atau kata kunci ide untuk perancangan. Analisa juga dilakukan untuk merancang produk fashion yang kontemporer sehingga dapat menyesuaikan market di era global ini. Target market dipetakan sebagai panduan dalam melakukan perancangan dan pengembangan desain, 4 aspek pemetaan market dilihat dari aspek demografis, geografis, psikografis, dan behaviour. Target market perancangan produk fashion ini adalah wanita muda dengan usia 20 Ae 35 tahun yang tinggal di Indonesia, termasuk golongan middle up berpenghasilan diatas 8 juta rupiah dalam sebulan. Mereka termasuk kategori pengguna yang ingin mengenal, mengangkat, dan tetap melestarikan budaya Nusantara dengan perilaku mengikuti tren, mudah bersosialisasi, dinamis, dan aktif. Selain analisa terhadap target market, untuk merancang bentuk busana yang kontemporer tetapi tetap menerapkan Enrico bentuk busana budaya peranakan dilakukan analisa perbandingan bentuk dan detail busana kebaya encim, baju kurung, dan baju panjang. Kebaya encim menerapkan potongan V-neckline atau potongan krah selendang dengan menggunakan aksesoris kerongsang atau peniti emas sebagai pengait, potongan lengan dengan lebar A-line, memakai renda / bordir cut work pada bagian hemline, potongan tetap pas mengikuti bentuk tubuh hanya sedikit lebih longgar. Kebaya encim lebih memperlihatkan style busana exotic feminim karena tetap memperlihatkan siluet bentuk tubuh wanita. Sedangkan untuk baju kurung dan baju panjang menerapkan krah sanghai dengan menggunakan kancing atau peniti tak sebagai pengait, potongan lengan lurus lebar di bagian atas dan mengecil di pergelangan tangan, manggunakan material renda yang bermotif, potongan di tubuh lurus panjang sehingga tidak memperlihatkan siluet tubuh wanita. Kesan style yang ditampilkan pada jenis busana ini adalah exotic Gambar 7. Perbandingan Bentuk Busana Kebaya Encim dan Baju Panjang, 2020. Data Pribadi Dari hasil analisa bentuk busana dan target market, maka dalam perancangan ini dilakukan eksplorasi pengembangan bentuk busana. Perubahan pemikiran dan pandangan masyarakat terhadap nilai estetika dari suatu rancangan mengalami perubahan mengikuti tren yang ada, hal ini sesuai dengan ungkapan (Joedawinata, 2. bahwa pada komunitas selalu mengalami perkembangan bentuk dan perilaku unsur-unsur dari sistem kebudayaan . Hasil pengolahan data dan analisa ditranslasikan pada tahapan perancangan berikutnya narrating of art fashion idea by 2D or 3D visualization, eksplorasi desain dengan menerapkan transformasi bentuk untuk mendapatkan desain yang menyesuaikan tren fashion saat ini. Dalam perancangan ini terdapat tujuh rancangan akhir setelah dilakukan eksplorasi dari sketsa ilustrasi awal. Adapun beberapa transformasi bentuk dan panjang busana: Bentuk lengan didesain dengan teknik folding draping sehingga terdapat volume, panjang lengan juga didesain lebih pendek daripada baju kurung untuk mendapatkan kesan muda dan menyesuaikan iklim tropis di Indonesia Panjang . blouse disesuaikan dengan padu padan rok atau celana yang dikenakan. Menyesuaikan fungsinya sebagai busana ready to wear, secara umum hemline atasan ada di batas panggul. Karakteristik busana ready to wear dirancang untuk dapat dipakai dengan cepat, nyaman, dan dapat menyesuaikan aktivitas keseharian. Detail opening busana ditransformasikan menjadi resleting daripada menggunakan pengait berupa peniti tak atau kerongsang untuk memudahkan pengguna. Siluet busana atasan dibuat lebih mengikuti bentuk tubuh dengan menerapkan kupnat . tetapi tetap diberikan sedikit kelonggaran, dan ada beberapa desain juga yang menerapkan siluet lebar A-Line Krah atasan tetap mengikuti bentuk asal yaitu krah sanghai dan juga bentuk krah kebaya pada rancangan outerwear. Motif batik yang digunakan pada perancangan produk fashion ini adalah motif yang dikembangkan berdasarkan sumber inspirasi motif batik pesisir, menerapkan beberapa motif flora dan Salah satu motif flora yang diangkat dalam perancangan ini adalah bunga lili dan adenium, bunga adenium menjadi lambang perasaan cinta bagi masyarakat Tionghoa. Sedangkan bunga lili dalam bahasan mandarin diucapkan sebagai bai hy, dalam pepatah Cina bai niyn hao hy yang dapat diartikan persatuan Bahagia selama serratus tahun. Eksperimen warna batik dilakukan dengan menggunakan pewarna sintetis untuk menyesuaikan tema rancangan yaitu warna-warna vivid, sehingga didapatkan harmoni warna yang baru. Material yang digunakan dalam perancangan produk fashion ini meliputi Perancangan Produk Fashion Kontemporer Berdasarkan Budaya Peranakan Dengan Menerapkan Motif Batik Pesisir katun sebagai bahan untuk batik, semi wool dan bahan polyester seperti drill dan lace look juga dipadupadankan untuk mendapatkan gaya dan karakter yang sesuai dengan hasil analisa market. Tentunya perancangan ini tidak lepas dari penerapan prinsip-prinsip desain. Prinsip keseimbangan / balance diterapkan pada perancangan semua desain, semua garis desain pada koleksi ini dirancang dengan simetrical balance. Tidak ada busana dengan detail potongan yang one-shoulder atau tertumpuk di salah satu sisi. Secara visualisasi, setiap busana memiliki hemline dengan batas panjang yang berbeda yaitu knee length, midi, dan maxi length. Prinsip harmoni diterapkan pada satu kesatuan koleksi perancangan baik dari siluet dan harmoni warna antara satu desain dengan Adanya repetisi warna dan motif pada batik walaupun tidak sama antara satu dan lainnya sebagai penerapan prinsip desain irama. Kontras dan emphasis merupakan prinsip yang diterapkan pada koleksi perancangan ini, sangat terlihat dari pemilihan warna hitam sebagai warna dasar dan warna merah muda dan hijau vivid pada motif batik. Gambar 8. Eksperimen Motif dan Warna Vivid Batik, 2022. Data Pribadi Tahapan berikutnya dalam perancangan produk fashion ini adalah giving a soul-taksu to art fashion idea by making sample, dummy, and construction . emberikan jiwa pada ide seni fashion dengan membuat contoh konstruks. Tahap konstruksi dilakukan dengan mengolah motif batik pada kain katun primis, dilanjutkan dengan proses pewarnaan dan pelorotan. Untuk konstruksi busana, pada beberapa desain dilakukan dengan teknik drape untuk mendapatkan volume sesuai rancangan Detail busana pada perancangan ini sebagian besar menggunakan bisban . ali pit. dengan warna yang kontras untuk mempertegas garis busana. Interpreting of singularity art fashion will be showed in the final collection . resentasi koleksi final sebagai interpretasi seni fashion yang uni. sebagai tahapan akhir dalam penelitian perancangan ini dilakukan pada pagelaran fashion yaitu Soerabaia Fashion Trend 2023 untuk mendapatkan tanggapan publik. Produk fashion pada koleksi ini diujicobakan kepada 20 extreme user perempuan dengan usia 20 Ae 35 tahun. Hasil kesimpulan uji coba mendapatkan respon bahwa 82% menyukai tampilan baru dari pengembangan motif batik dan 18% menyatakan lebih menyukai motif pesisir yang lama. Untuk perancangan bentuk busana 91% user menyatakan tertarik menggunakan busana ini karena memiliki keunikan tersendiri dalam bentuk ready to wear, dan 9% menyatakan lebih mengharapkan desain untuk special occasion wear. Hasil uji coba produk fashion ini dapat menjadi evaluasi dan saran pengembangan untuk perancangan berikutnya agar menghasilkan produk yang lebih baik dan sesuai dengan minat pasar. Gambar 9. Koleksi Perancangan, 2022. Data Pribadi Enrico Koleksi hasil perancangan ini mengadaptasi nilai estetik budaya peranakan yang dikemas secara modern, menyesuaikan tren fashion dan target market saat ini, sehingga mewujudkan nilai estetik tradisi yang ekletik. Gaya desain yang menghubungkan segala aspek, sumber ide, dan teori dari unsur historikal dari masa lalu yang diharapkan menciptakan hasil rancangan yang memiliki nilai keunikan merupakan wujud dari ekletik. Perancangan ini memiliki nilai kontekstual dan merupakan salah satu wujud transformasi budaya, sebagai usaha memperkenalkan dan mengangkat nilai estetik budaya Indonesia. Hasil eksplorasi berupa produk fashion diterjemahkan sebagai produk kultural dalam membangun komunikasi identitas budaya peranakan di Indonesia menunjukkan makna representasi sikap keterbukaan budaya Indonesia untuk beradaptasi dengan modernitas dan tetap berpegang teguh pada budaya aslinya sehingga tetap memperlihatkan identitasnya sebagai budaya Indonesia. KESIMPULAN Penelitian perancangan ini menunjukkan budaya peranakan di era modern ini masih bertahan, dapat dilihat dari berbagai aspek seperti busana dan gaya berpakaian. Budaya peranakan yang merupakan akulturasi dari tiga unsur budaya luar dan budaya Jawa tidak terlepas dari pengaruh dan dipandu oleh unsur-unsur sistem kebudayaan yang dibawakan oleh kelompok masyarakat di daerah yang bersangkutan. Busana pada budaya peranakan yang digunakan kaum wanita peranakan seperti kebaya encim, baju kurung, dan baju panjang merupakan produk kultural terwujud dari unsur-unsur pembentuk desain. Selain produk busana, motif batik pesisir merupakan salah satu hasil perwujudan kultural yang mencerminkan ekspresi estetik. Hasil perancangan ini merupakan pengaplikasian dari 6 tahapan dari metode perancangan FRANGIPANI. Analisa merupakan tahapan yang terpenting untuk menghasilkan suatu kebaruan dalam perancangan ini karena banyak elemen yang dilakukan transformasi tetapi tetap mempertahankan ciri khas dari budaya peranakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wujud transformasi budaya untuk mengangkat budaya Indonesia dapat diterima oleh pengguna setelah diujicobakan pada saat presentasi produk. Hal ini ditunjukkan dari animo positif para penonton pada saat presentasi produk dan membeli busana tersebut, dan juga beberapa terjual ke konsumen di luar negri. Adanya keunikan dan nilai novelty hasil eksperimen pada motif dan warna batik menunjukkan bahwa transformasi diterapkan untuk menyesuaikan target market dan tren fashion sekarang. Dari hasil uji coba produk, hasil perancangan ini dapat diterapkan sebagai salah satu solusi permasalahan pada industri fashion untuk mengangkat budaya Nusantara. Dengan adanya saran dari extreme user, perancangan ini juga dapat dikembangkan lagi untuk menghasilkan produk fashion yang lebih baik lagi. Diharapkan dari penelitian perancangan ini dapat menjadi ide kreatif untuk para pelaku fashion di Indonesia dan pada bidang akademik fashion dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan pembelajaran desain fashion dan budaya. DAFTAR PUSTAKA