Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 ANALISIS SALURAN PEMASARAN SALAK (Studi Kasus : Desa Batu Layan Kecamatan Angkola Julu Kabupaten Tapanuli Selata. Syafiruddin 1. Nova Tapsila Siregar1 Prodi Agribisnis. Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara Jl. Sutan Soripada Mulia No. 17 Padang Sidempuan. Sumatera Utara 22711 *email : syafir. hs@gmail. ABSTRAK Analisis saluran pemasaran salak, biaya pemasaraan dan margin pemasaran dalam lembaga pemasaran di Desa Batu Layan Kecamatan Angkola Julu sangat penting untuk ketahui, sebagai dasar memahami sebaran margin dari kegiatan pemasaran. Populasi petani salak di desa Batu Layan sebanyak 65 orang maka diambil sampel sebanyak 24 petani salak dari jumlah populasi. Penentuan sampel menggunakan metode simple random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kusioner dengan metode analisis data yang digunakan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan biaya pemasaran yang dikeluarkan setiap lembaga, margin pemasaran dan farmer share dalam setiap saluran serta untuk mengetahui saluran yang paling efesien digunakan oleh petani salak di desa Batu Layan Kecamatan Angkola Julu. Ada 3 saluran pemasaran yanbg digunakan petani salak, karena perbedaan kualitas salak, jarak dari pusat desa dan jumlah produksi. Kata kunci: saluran pemasaran, margin pemasaran, farmer share. ABSTRACT Analysis of salak marketing channels, marketing costs and marketing margins in marketing institutions in Batu Layan Village. Angkola Julu District is very important to know, as a basis for understanding the distribution of margins from marketing activities. The population of salak farmers in Batu Layan village is 65 people, so a sample of 24 salak farmers was taken from the total Determination of the sample using simple random sampling method. The data collection method uses a questionnaire with qualitative and quantitative data analysis methods. The results of this study show the marketing costs incurred by each institution, marketing margins and farmer share in each channel and to find out the most efficient channel used by salak farmers in Batu Layan Village. Angkola Julu District. There are 3 marketing channels used by salak farmers, due to differences in the quality of the salak, the distance from the village center and the amount of production. Keywords: marketing channel, marketing margin, farmer share. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 PENDAHULUAN METODE PENELITIAN Latar Belakang Metode Penentuan Sampel Populasi Menurut Sulistiyowati dan Astuti . , populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek dan subjek yang mempunyai karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 65 orang petani salak di Desa Batu Layan. Sampel Petani Salak Sampel adalah objek yang diambil dengan cara mereduksi objek penelitian yang dianggap resprentatif terhadap populasi. Sampel juga merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi, bila penelitian terlalu besar maka peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi sehingga sampel harus diambil dari populasi yang harus bersifat mewakili. Untuk menentukan jumlah sampel dapat di hitung dengan rumus slovin,yaitu : ycA ycu= 1 ycAyce Keterangan : = Jumlah Sampel = Total Populasi = Error Tolerance (Presentasi kelonggaran akibat kesalahan pengambilan sampel yang ditolerir, dalam penelitian ini digunakan kesalahan pengambilan sampel sebesar 16 %). ycu= 1 65 . ycu = 24 sampel Indonesia merupakan negara agraris, dimana mata pencarian masyarakatnya sebagian besar berasal darisektor pertanian. Sektor pertanian terdiri dari 5 sub sektor peternakan,perikanan, ketahanan pangan dan holtikultura itu sendiri. Tanaman hortikultura yang ada di Indonesia merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang dibudidayakan dalam hortikultua meliputi buah-buahan,sayursayuran,obat-obatan dan tanaman hias (Surya. Salah satu alternatif pilihan komoditas buah-buahan yang dapat dikembangkan oleh pemerintah adalah buah salak. Salak merupakan tanaman tropis asli Indonesia yang yang baik dikembangkan (Agung et al, 2020. , dan Christine et al, 2. Salak berasal dari keluarga palem-paleman yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia mulai dari Sumatera. Jawa, hingga Bali. Desa Batu layan merupakan salah satu sentra produksi salak di Kecamatan Angkola julu Kabupaten Tapanuli Selatan, analisis saluran pemasaran salak penting dilakukan untuk mengetahui pihak produsen, lembaga pemasaran mendapatkan kepuasan dari aktifitas pemasaran yang dapat dilihat dari margin pemasaran, besarnya biaya pemasaran, harga jual ditingkat produsen, dan harga jual ditingkat konsumen. Gejala rendahnya harga yang diterima oleh petani salak di desa Batu Layan dalam memasarkan salaknya dapat mengurangi motivasi petani dalam melaksanakan usahatani erat pula kaitannya dengan kondisi saluran pemasaran yang kurang efisien dan besarnya marjin Penelitian menganalisis saluran pemasaran dan marjin pemasaran salak, yang diterima oleh masingmasing saluran dan lembaga pemasaran salak. Jumlah sampel yang akan diambil sebanyak 24 produsen . etani sala. yang dilakukan dengan metode Simple Random Sampling, yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana dengan undian. Penentuan besarnya sampel ini dianggap sudah mencukupi karena sampel petani homogen. Berikut jumlah sampel petani salak di setiap saluran pemasaran yang ada di Desa Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Batu Layan Kecamatan Angkola Julu berdasarkan luas lahan, kualitas buah. Pedagang Perantara Penentuan sampel pedagang perantara antara lain pedagang pengumpul, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul besar, pedagang luar daerah, pedagang pengecer dilakukan dengan menggunakan metode Snowball sampling atau penelusuran alur pemasaran yaitu dengan memperoleh informasi dari petani salak kemudian menelusuri pedagang-pedagang yang terkait dengan pemasaran tersebut sampai pada konsumen, dimana pada pedagang pengumpul desa ada 1 orang sampel, pedagang pengumpul besar 1 orang, pedagang luar daerah 1 orang, dan pedagang pengecer 3 orang. berikut jumlah sampel dalam penelitian ini : Metode Analisis Data Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian analisis deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang digunakan dengan melukiskan keadaan obyek atau persoalannya dan tidak dimaksudkan untuk keadaan menarik/ mengambil kesimpulan yang berlaku umum. Tabel 2. Saluran Pemasaran komoditi salak Desa Batu Layan Kecamatan Angkola Julu Saluran Pemasaran i Jumlah Tabel 1. Pembagian Sampel dan Metode Penelitian yang Digunakan Sampel Petani Jlh Jumlah Petani Luas Lahan Kualitas Buah / ha Pilihan (A) Pilihan (B) Sembarang Data yang diperoleh dari daerah penelitian terlebih dahulu akan ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis, adapun analisis datanya ialah sebagai berikut : Analisa saluran pemasaran Saluran pemasaran salak dapat pemasaran tersebut. Saluran pemasaran salak dapat ditelusuri dari petani di sentra produksi sampai ke pedagang pengecer. Analisa margin pemasaran Analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dengan menggunakan metode marjin pemasaran yaitu dengan menghitung besarnya biaya, marjin pemasaran, farmerAos share , dan share margin tiap lembaga perantara pada berbagai saluran pemasaran yang terpilih, dengan menggunakan beberapa Rasio Keuntungan dan Biaya (Nisbah Margi. Rasio keuntungan dan biaya pemasaran menunjukkan perbandingan antara biaya yang Penyebaran rasio keuntungan dan biaya pada Metode Slovin. Simple Random Sampling Snowball Pedagang Pengumpul 3 Pedagang Snowball Pengumpul Besar 4 Pedagang Luar Snowball Daerah 5 Pedagang Pengecer Snowball Total jumlah sampel Metode Pengambilan Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data Data primer adalah data yang didapat dari hasil wawancara langsung dengan responden atau petani salak di Desa Batu Layan yang menjadi sampel dengan mengajukan daftar kuesioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder merupakan data lengkap yang diperoleh dari lembaga atau instansi yang terkait, literatur seperti Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Tapanuli Selatan. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 menggunakan rumus sebagai berikut: Keterangan: ycyeO ycyeCyeiyeOyea = ycyeO = Keuntungan lembaga pemasaran = Biaya pemasaran Oleh karena itu efisiensi pemasaran akan terjadi jika : Biaya pemasaran dapat ditekan sehingga keuntungan pemasaran dapat lebih tinggi. Persentase dibayarkan konsumen dan produsen tidak terlalu tinggi. Menurut Gunawan et al . Efisien atau tidaknya pemasaran dapat dilihat dari seberapa besarnya nilai EP (Efisiensi pemasara. dalam saluran pemasaran: EP = 0-33 % Efisien EP = 34-67 % Kurang Efisien EP = 68-100 % Tidak Efisien Menghitung Marjin Pemasaran Margin pemasaran merupakan perbedaan harga antara harga yang diterima oleh petani (P. dengan harga yang diterima oleh konsumen akhir ( Sugiono, 2. Mp = Pr-Pf Keterangan: = Margin Pemasaran = Harga di tingkat konsumen = Harga di tingkat produsen FarmerAos share Farmer Share harga yang diterima petani dapat dihitung dengan rumus Pambudi et al . Dimana : HASIL DAN PEMBAHASAN. Saluran Pemasaran Salak Komoditi salak dari desa Batu Layan. Kecamatan Angkola Julu. Kabupaten Tapanuli Selatan ini sebagian besar dipasarkan ke luar daerah yaitu Pekanbaru. Sebahagian kecil dipasarkan di daerah pasar kota Padang Sidempuan dan Gunungtua. Sehingga melibatkan lembaga pemasaran untuk menyampaikan salak dari petani kepada Saluran pemasaran asal Desa Batu Layan melibatkan beberapa lembaga pemasaran mulai dari petani, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul besar, pedagang pengumpul luar daerah dan pedagang pengecer hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen. Desa Batu Layan Kecamatan Angkola Julu Kabupaten Tapanuli Selatan terdiri dari tiga saluran pemasaran : Saluran I : Petani Pedagang Pengecer Konsumen Saluran II : Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer Konsumen. Saluran i : Petani Pedagang Pengumpul Desa Pedagang Pengumpul Besar Pedagang Pengumpul Luar Daerah Pedagang Pengecer Konsumen Dari informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan petani salak dan pedagang Fs= Pf /Psx100% = Bagian Harga yang diterima Petani ( FarmerAos share ) Pf = Harga ditingkat Petani Ps = Harga ditingkat Pengecer Kaidah keputusan menurut Downey dan Erickson . FS Ou 40% = efisien FS < 40% = tidak efisien. Efisiensi Pemasaran Efisiensi salran pemasaran dijelaskan dengan melakukan analisis efisiensi pola saluran pemasaran. Menurut Pambudi et al . Efisiensi pemasaran dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : ycyeOyeCyeoyeC ycyeIyeayeCyeiyeCyeeyeCyea . cyec/yeUyeO) ycyeCyeeyeOyeC ycyeayeayeiyenyeayeIyea =y yayaya% Dimana jika nilai efisiensi pemasaran semakin kecil, maka semakin tinggi pula tingkat efisiensi saluran pemasaran. Maka pasar yang tidak efisien akan terjadi jika biaya pemasaran semakin besar dan jumlah produk yang dipasarkan nilainya tidak terlalu besar. ycyc = Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 perantara di Desa Batu Layan terdapat beberapa jumlah petani, luas lahan, kualitas buah dan lokasi pemasaran yang ada dalam setiap saluran pemasaran pada Tabel 3. Berdasarkan wawancara dari petani salak di Desa Batu Layan pola saluran I melibatkan petani dengan pengecer dimana pedagang pengecer mengambil salak langsung ke desa Batu Layan dalam saluran ini jumlah petani salak sebanyak 5 orang atau 20,83% dengan luas lahan 1 hektar, kualitas buah yang dipasarkan dengan ukuran jumbo dan rasa yang manis, lokasi buah salak ini dipasarkan yaitu di daerah Kota Padang sidimpuan dan sekitarnya. Tabel 3. Saluran pemasaran, jumlah petani, luas lahan, kualitas buah, lokasi pemasaran Saluran Jumlah Petani Luas Lahan Kualitas Buah Saluran I Pilihan (A) Saluran II Pilihan (B) Saluran i Campuran Jumlah Sumber : Data Primer. Survey Lapangan Harga Jual Lokasi Pemasaran Rp/kg Padang sidimpuan Gunungtua Pekanbaru Tabel 4. Margin Pemasaran dan Biaya Pemasaran Pada Saluran Pemasaran I Saluran I Unsur Marjin Pemasaran Petani Salak Harga Jual Biaya - Pengemasan - Tali Plastik Pedagang Pengecer Harga Pembelian Harga Penjualan Biaya - Transportasi - Muat - Bongkar - Pengemasan - Retribusi - Margin Keuntungan - Nisbah Margin Keuntungan Konsumen Harga Pembelian Total Biaya Pemasaran Total Keuntungan Total Marjin Pemasaran Rp. /Kg Share % Pada pola saluran pemasaran I seperti terlihat pada Tabel 4 terdiri dari petani dan pedagang pengecer. Total marjin sebesar Rp. 000/Kg. Komponen biaya yang ditanggung oleh petani adalah biaya pengemasan menggunakan karung dan tali plastik dengan total biaya sebesar Rp 96. 66/Kg. Biaya tersebut termasuk biaya produksi. Sedangkan biaya Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 pemasaran yang ditanggung oleh pedagang pengecer adalah sebesar Rp. 358/Kg. Komponen biaya tersebut meliputi trasportasi sebesar Rp. 200/Kg, biaya muat sebesar Rp. 40/Kg, biaya bongkar sebesar Rp. 40/Kg, biaya pengemasan menggunakan kantong plastik sebesar Rp. 48/Kg dan biaya retribusi pasar sebesar Rp. 30/KgPola saluran II dalam pemasaran salak ini melibatkan petani salak, pedagang pengumpul dan pedagang Pada saluran ini pedagang mengumpulkan hasil usahatani salak langsung dari petani menggunakan transportasi mobil L300. Kemudian pedagang pengumpul menjual salak tersebut ke pedagang pengecer luar daerah untuk dipasarkan. Pada saluran ini pedagang pengecer berasal dari Gunungtua dan Saluran ini melibatkan 4 orang petani salak dan sekitar 16. 66% memiliki luas lahan 1 hektar dan kualitas buah dengan ukuran buah jumbo dan rasa yang manis. Tabel 5. Biaya Pemasaran Salak Dan Marjin Pemasaran Pada Pola Saluran Pemasaran II Saluran II Unsur Marjin Pemasaran Rp. /Kg Petani Salak Harga Jual Biaya - Pengemasan - Tali Plastik Pedagang Pengumpul Harga Pembelian Harga Penjualan Biaya - Muat - Bongkar - Tranportasi - Marjin Keuntungan - Nisbah Keuntungan Pedagang Pengecer Harga Pembelian Harga Penjualan Biaya - Tranportasi - Muat - Bongkar - Retribusi - Pengemasan - Marjin Keuntungan - Nisbah Marjin Keuntungan Konsumen Harga Pembelian Total Biaya Pemasaran Total Keuntungan Total Marjin Pemasaran Pada pola saluran pemasaran II seperti terlihat pada Tabel 5 terdiri dari petani. Share % pedagang pengumpul, dan pedagang pengecer, total marjin sebesar Rp. 000/Kg dengan total Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 biaya yang ditanggung sebesar Rp. 230/Kg. Komponen biaya yang ditanggung oleh pedagang pengumpul adalah biaya muat sebesar Rp. 100/Kg, biaya bongkar sebesar Rp. 100/Kg dan biaya transportasi sebesar Rp. 200/Kg. Komponen biaya yang ditanggung oleh pedagang pengecer antara lain biaya transportasi sebesar Rp. 830/Kg, biaya muat sebesar Rp. 300/Kg, biaya bongkar Rp. 200/Kg, biaya retribusi pasar sebesar Rp. 7 Kg dan biaya pengemasan menggunakan kantong plastik sebesar Rp. 60/KgPada saluran i dalam pemasaran salak di Desa Batu Layan. Kecamatan Angkola Julu ini petani menjual hasil panennya ke pedagang pengumpul desa, kemudian pedagang pengumpul desa menjual salak tersebut ke pedagang pengumpul besar, lalu pedagang pengumpul besar akan menjual seluruh salak ke pedagang pengumpul luar daerah, dimana pedagang luar daerah berada jauh dari sentra produksi salak. Pedagang luar daerah tersebut berasal dari daerah Pekanbaru. Pedagang luar daerah akan menjual salak ke pedagang pengecer di sekitar Pekanbaru. Pada saluran ini melibatkan sebahagian besar petani dalam memenuhi permintaan salak, yakni 15 orang petani dan sekitar 62,5% dari jumlah sampel petani,dengan luas lahan lebih banyak yaitu 2-3 hektar dan kualitas buah dengan ukuran jumbo dan kecil (Sam-sa. Volume penjualan pedagang paling besar ada di pola saluran i, jumlah penjualan pedagang pengumpul sekitar 2. 000 Kg dan dilakukan dalam setiap harinya. Kedua, pola saluran II yaitu 500 Kg per dua 3 kali dalam seminggu. Pola saluran ke I memiliki volume penjualan sebesar 225 Kg per dua kali dalam seminggu. Pada pola saluran i seperti terlihat pada Tabel 6 terdiri dari petani, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul besar dan pedagang pengumpul luar daerah dan pedagang pengecer. Total marjin sebesar Rp. 000/Kg dengan total biaya yang ditanggung sebesar Rp. 406/Kg. Komponen biaya yang ditanggung oleh pedagang pengumpul desa adalah biaya muat sebesar Rp. 60/Kg, biaya bongkar sebesar Rp. 60/Kg dan biaya transportasi sebesar Rp. 60/Kg. Komponen biaya yang ditanggung oleh pedagang pengumpul besar adalah biaya muat sebesar Rp. 48/Kg, biaya bongkar sebesar Rp. 48/Kg dan biaya transportasi sebesar Rp. 240/Kg. Komponen biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul luar daerah adalah biaya muat sebesar Rp. 80/Kg, sebesar Rp. 80/Kg dan biaya transportasi Rp. 82/Kg. Komponen biaya yang ditanggung oleh pedagang pengecer antara lain biaya transportasi sebesar Rp. 200/Kg, biaya muat sebesar Rp. 68/Kg, biaya bongkar sebesar Rp. 68/Kg, biaya sortasi sebear Rp. 68/Kg, biaya grading sebesar Rp. 68/Kg, biaya retribusi sebesar Rp. 68/Kg, biaya pengemasan menggunakan kantong plastik sebesar Rp. 40/Kg salak dan biaya penyusutan. Berdasarkan tabel-tabel sebaran marjin pemasaran di atas dapat dilihat bahwa sebaran marjin pada setiap pola saluran pemasaran komoditi salak Batu Layan Kecamatan Angkola Julu. Perbedaan sebaran marjin pada setiap pola saluran dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: . banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat pada setiap pola . besarnya biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada suatu pola saluran. besarnya keuntungan yang diperoleh setiap lembaga pemasaran pada suatu pola saluran, dan . besarnya harga pembelian dan penjualan yang ditetapkan oleh suatu lembaga pemasaran. Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam suatu pola saluran pemasaran maka semakin besar total margin pemasaran, semakin besar biaya yang dikeluarkan dan semakin besar keuntungan yang diperoleh suatu lembaga pemasaran maka besar margin pemasaran yang terbentuk, dan semakin kecil harga pembelian serta penetapan harga penjualan yang semakin besar maka semakin besar margin pemasaran yang terbentuk. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Tabel 6. Biaya Pemasaran Salak Dan Marjin Pemasaran Pada Pola Saluran Pemasaran i Saluran i Unsur Marjin Pemasaran Rp. /Kg Harga jual Petani Salak Biaya - Pengemasan - Tali Plastik Pedagang Pengumpul Harga Pembelian Harga Penjualan Biaya - Muat - Bongkar - Tranportasi - Marjin Keuntungan - Nisbah Keuntungan Pedagang Pengumpul Besar Harga Pembelian Harga Penjualan Biaya - Muat - Bongkar - Tranportasi - Marjin Keuntungan - Nisbah Marjin Keuntungan Pedagang Luar Daerah Harga Pembelian Harga Penjualan Biaya - Muat - Bongkar - Transportasi - Marjin Keuntungan - Nisbah Keuntungan Pedagang Pengecer Harga Pembelian Harga Penjualan Biaya - Tranportasi - Muat - Bongkar - Sortasi - Grading - Retribusi - Pengemasan - Penyusutan - Marjin Keuntungan - Nisbah Marjin Keuntungan Konsumen Harga Pembelian Total Biaya Pemasaran Total Keuntungan Total Marjin Pemasaran Share % Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Sebaran marjin pada setiap tingkat lembaga pemasaran juga menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Marjin pemasaran terbesar umumnya terjadi pada tingkat pedagang pengecer Besarnya marjin yang terbentuk pada tingkat pedagang pengecer dikarenakan besarnya biaya yang dikeluarkan oleh pedagang tersebut dalam menyampaikan salak dari pedagang sebelumnya maupun dari Biaya yang dikeluarkan oleh suatu lembaga pemasaran berkaitan dengan fungsifungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh suatu lembaga pemasaran tersebut, dimana semakin banyak fungsi-fungsi pemasaran yang dilaksanakan maka semakin besar biaya yang ditanggung oleh lembaga pemasaran tersebut. Bagian Harga Yang Diterima Petani (Farmer Shar. Bagian harga yang diterima oleh petani atau farmerAos share merupakan perbandingan antara harga yang diterima oleh petani dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen atau harga penjualan pada suatu tingkat lembaga pemasaran tertinggi dan umumnya dinyatakan dalam persentase. Bagian harga yang diterima oleh petani merupakan sebagai konsep balas jasa atas kegiatan yang dilakukan petani dalam usahatani salak. Besarnya farmerAos share dapat dilihat pada setiap pola saluran pemasaran. Pada pemasaran komoditi salak, besarnya bagian harga yang diterima petani berbeda pada setiap pola salurannya. Pada pola saluran I, bagian harga yang diterima oleh petani adalah sebesar 70 %. Pada pola saluran II, bagian harga yang diterima oleh petani sebesar 41. %, pada pola saluran i, bagian harga yang diterima petani sebesar 26. 66 %. Berdasarkan uraian sebaran bagian harga yang diterima petani . armerAos shar. pada setiap pola saluran di atas, dapat diketahui bahwa bagian harga yang diterima petani terbesar terdapat pada pola saluran I, hal ini pemasaran, rendahnya harga jual di tingkat konsumen, dan rendahnya marjin pemasaran yang terbentuk. Bagian harga yang diterima petani terkecil terdapat pada saluran i, hal ini dikarenakan tingginya harga jual pada tingkat lembaga pemasaran tertinggi dan besarnya marjin pemasaran yang terbentuk. Perbedaan bagian harga yang diterima petani . armerAos shar. pada setiap pola saluran pemasaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: . Besar kecilnya marjin pemasaran yang terbentuk pada setiap pola saluran pemasaran, dan . Rendah dan tingginya harga di tingkat konsumen atau harga jual pada tingkat lembaga pemasaran tertinggi. Rasio Keuntungan dan Biaya Rasio keuntungan biaya digunakan untuk mengetahui penyebaran keuntungan dan biaya pada setiap lembaga pemasaran yang terlibat pada masing- masing saluran Rasio ini menunjukkan besarnya keuntungan yang diperoleh suatu lembaga pemasaran terhadap biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran pada suatu pola saluran pemasaran. Semakin tinggi nilai rasio yang diperoleh dapat menunjukkan semakin besar keuntungan yang diperoleh. Berdasarkan Tabel 7. dapat diketahui bahwa nilai rasio keuntungan biaya pada setiap lembaga pemasaran dalam saluran pemasaran menunjukkan nilai rasio keuntungan biaya yang berbeda. Nilai rasio keuntungan biaya terbesar terdapat pada tingkat pedagang pengumpul luar daerah pada saluran i yaitu Nilai rasio keuntungan sebesar 39 berarti bahwa dari setiap Rp. 1/Kg biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang luar daerah tersebut akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 39/Kg. Nilai rasio keuntungan biaya terkecil terdapat pada tingkat pedagang pengumpul desa di pola saluran i sebesar 4. Nilai rasio keuntungan sebesar 4. 5 berarti dari setiap Rp. 1/Kg biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul desa tersebut akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 5/Kg. Efisiensi Pemasaran Efisiensi maksimisasi penggunaan rasio input- output, yaitu mengurangi biaya input tanpa mengurangi kepuasan konsumen terhadap barang atau jasa. Kemampuan menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen ke konsumen Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 dengan biaya yang semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen terakhir kepada semua pihak yang terlibat merupakan syarat dalam ukuran efisiensi Ada beberapa indikator untuk menetukan apakah suatu saluran dapat dikatakan efisien atau tidak. Mulai dari panjang pendeknya pola saluran pemasaran yang terbentuk, biaya tata niaga yang dikeluarkan, nilai farmerAos share yang diperoleh petani maupun margin di masing-masing lembaga pemasaran. Tabel 7. Rasio Keuntungan Lembaga Pemasaran Lembaga pemasaran Pola Saluran I Pedagang Pengecer Pola Saluran II Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer Pola Saluran i Pedagang Pengumpul Desa Pedagang Pengumpul Besar Pedagang Pengumpul Daerah Pedagang Pengecer Keuntungan (Rp/K. Biaya (Rp/K. Nisbah Keuntungan Suatu sistem pemasaran dapat dikatakan efisien apabila sistem pemasaran tersebut dapat memberikan kepuasan bagi semua pihak yang terlibat, yaitu produsen atau petani, konsumen akhir, dan lembaga-lembaga pemasaran. Indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran dapat dilihat dari kemerataan fungsi-fungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh setiap lembaga pemasaran yang terlibat. panjang dan pendek pola saluran yang terbentuk, biaya pemasaran yang dikeluarkan, bagian harga yang diterima petani . armerAos shar. , marjin pemasaran di masingmasing saluran dan rasio keuntungan yang merata serta terjadinya keterpaduan harga antara satu tingkat lembaga pemasaran dengan tingkat lembaga pemasaran yang lain atau antara satu pasar dengan pasar lain. Berdasarkan fungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh setiap lembaga pemasaran dapat dilihat bahwa fungsi pemasaran yang dilaksanakan tidak merata pada setiap tingkat pemasaran yang terpusat pada pedagang Hal ini dapat dilihat dari pembentukan biaya pemasaran, dimana biaya pemasaran terbesar umumnya ditanggung oleh Biaya pemasaran yang besar dapat mencerminkan beragamnya fungsi pemasaran, karena semakin banyak fungsi-fungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga pemasaran maka biaya yang dikeluarkan juga akan semakin besar. Berdasarkan penelusuran ini terbukti bahwa fungsi pemasaran yang paling banyak dilakukan oleh pedagang pengecer, baik itu pedagang pengecer lokal maupun pedagang pengecer luar daerah. Berdasarkan pola saluran pemasaran, pola saluran terpendek yang terbentuk adalah pola saluran I, biaya pemasaran yang merupakan biaya yang paling sedikit, nilai farmerAos share merupakan nilai yang tertinggi serta marjin yang tidak terlalu tinggi. Berdasarkan perbandingan antara biaya yang dikeluakan dengan harga konsumen maka diperoleh nilai efisiensi saluran pemasaran I memperoleh nilai yang paling rendah, hal ini menunjukkan bahwa saluran I merupakan saluran yang paling efisien dibandingkan dengan saluran II dan i. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Tabel 8. Analisis Margin Pemasaran. Efesiensi Pemasaran dan FarmerAos Share Salak. Keterangan Saluran I Rp. /Kg Share % Petani Harga Jual Pedagang Pengumpul Harga Pembelian Harga Pemasaran Keuntungan Harga Jual Marjin Pedagang Pengumpul Besar Harga Pembelian Harga Pemasaran Keuntungan Harga Jual Marjin Pedagang Luar Daerah Harga Pembelian Harga Pemasaran Keuntungan Harga Jual Marjin Pedagang Pengecer Harga Pembelian Harga Pemasaran Keuntungan Harga Jual Marjin Konsumen Harga Pembelian Biaya Pemasaran Marjin Pemasaran Efisiensi % Saluran II Rp. /Kg Share % Saluran i Rp. /Kg Share % Tabel 9. Indikator Efisiensi Pemasaran Salak di Desa Batu Layan. Kecamatan Angkola Julu. Kabupaten Tapanuli Selatan Pola Saluran Saluran I Saluran II Saluran i Biaya Pemasaran ( Rp. /K. Harga Konsumen (Rp. /K. Efisiensi (%) Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Marjin pemasaran di tingkat lembaga pemasaran terbesar berada di pedagang pengecer, sedangkan marjin pemasaran di tingkat lembaga pemasaran terkecil ada pada pedagang pengumpul pada pola saluran i. Bagian harga yang diterima petani . armerAos shar. terbesar terbentuk di pola saluran I dimana petani langsung melakukan penjualan langsung kepada pedagang pengecer. Berdasarkan perhitungan nilai efisiesnsi pemasaran menurut Soekartawi . yakni perbandingan antara total biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran salak dengan harga di tingkat konsumen, maka dari itu diperoleh nilai efisiensi yang beragam dimana nilai efisiensi yang paling efisien dalam penelitian kali ini diperoleh pada saluran ke I dengan nilai 3,58%, kemudian disusul oleh saluran i dengan nilai 9,37% dan terendah dimiliki saluran ke II dengan nilai 10,25%. Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat dari ketiga saluran pemasaran salak yang terbentuk, saluran ke I merupakan saluran yang paling efisien. Hal ini dilihat berdasarkan ke empat indikator pengukuran efisiensi pemasaran dimana dari segi saluran pemasaran salak , saluran I merupakan yang paling pendek dimana hanya ada dua lembaga pemasaran yang terlibat, biaya yang dikeluarkan merupakan yang paling kecil, marjin pemasaran merupakan yang paling kecil dan farmer share diperoleh yang paling besar, kemudian disusul oleh saluran ke i dan saluran ke II. Margin pemasaran di masing-masing lembaga juga berbeda-beda. Margin pemasaran tertinggi terjadi pada saluran i sebesar Rp. 000/Kg, kemudian saluran II sebesar Rp 000/Kg dan terendah adalah saluran I sebesar Rp. 000/Kg. Dilihat dari besarnya nilai margin pemasaran saluran yang paling efisien adalah saluran I. Dari segi biaya pemasaran pola saluran I menjadi saluran dengan biaya pemasaran terendah yaitu Rp. 358/Kg. Kemudain saluran II dengan biaya Rp. 230/Kg dan yang paling tinggi adalah saluran i dengan biaya pemasaran sebesar Rp. 406/Kg. Hal ini sejalan dengan pendapat menurut Muslim dan Darwis . suatu sistem pemasaran komoditas pertanian yang efisien itu harus memenuhi dua syarat yaitu: . Mampu menyampaikan hasil pertanian dari produsen kepada konsumen dengan biaya yang semurahmurahnya dan . Mampu mengadakan pembagian balas jasa yang adil dari keseluruhan harga konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta didalam kegitan produksi dan pemasaran komoditas pertanian Berdasarkan presentase farmerAos share nilai farmerAos share tertinggi diperoleh petani di saluran I dengan presentase 70%. Kemudian pada urutan kedua adalah saluran II dengan presentase sebesar 41. 66% dan urutan terendah adalah saluran ke i dengan presentase Berdasarkan kaidah keputusan menurut Downey dan Erickson . suatu saluran dikatakan efisien jika nilai farmerAos share lebih dari atau sama dengan 40%. Berdasarkan teori di atas hanya saluran I dan II merupkan pemasaran yang efisien. Gunawan et al . mengemukakan untuk mengukur efisiensi pemasaran digunakan harga jual petani sebagai dasar (P. dan dibandingkan dengan harga beli pedagang di tingkat konsumen akhir (P. dikalikan dengan 100 %. Hal ini berguna untuk mengetahui porsi harga yang berlaku ditingkat konsumen yang dinikmati oleh petani. Bagian keuntungan yang diperoleh petani dapat dikatakan sebagai sumbangan pendapatan bagi kesejahteraan keluarga petani. Semakin tinggi porsi harga yang dinikmati petani, maka semakin sejahtera petani tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan penelusuran pola saluran pemasaran komoditi salak, terbentuk tiga pola saluran pemasaran salak di Desa Batu Layan. Kecamatan Angkola Julu . Kabupaten Tapanuli Selatan, yaitu: - Petani - Pedagang Pengecer Ae Konsumen Pada saluran I terdapat 5 orang petani saja dan hanya 20,83% dari jumlah sampel dengan luas lahan 1 hektar dengan kualitas buah jumbo harga jual sebesar Rp. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 11 No. 1 Tahun 2023 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 000/kg yang dipasarkan di daerah kota Padang Sidempuan. - Petani - Pedagang Pengumpul - Pedagang Pengecer Ae KonsumenSaluran ini melibatkan 4 orang petani dan sekitar 16,66% dari jumlah sampel, dengan luas lahan 1 hektar dengan kualitas buah jumbo harga jual sebesar Rp. 000/kg yang dipasarkan di daereah gunungtua. - Petani - Pedagang Pengumpul Desa Pedagang Pengumpul Besar - Pedagang Pengumpul Luar Daerah - Pedagang Pengecer Ae Konsumen Pada saluran ini melibatkan sebahagian besar petani dalam memenuhi permintaan salak, yakni 15 orang petani dan sekitar 62,5% dari jumlah sampel petani, dengan luas lahan lebih banyak yaitu 2-3 hektar dengan kualitas buah jumbo-kecil (Sam-sa. harga jual sebesar Rp. 000/kg yang diparsakn di daerah kota Pekanbaru. Margin terbesar terjadi di saluran i dengan nilai Rp. 000/Kg, kemudian saluran II dengan nilai Rp. 000/Kg dan saluran ke I dengan nilai Rp. 000/Kg. Biaya Pemasaran tertinggi terdapat pada saluran i sebesar Rp. 406/Kg, kemudian saluran II sebesar Rp. 230/Kg dan yang terkecil adalah pada pola saluran I sebesar Rp358/Kg. FarmerAos share terbesar diperoleh petani pada saluran ke I sebesar 70%, kemudian saluran II sebesar 41,66% dan terendah pada saluran ke i sebesar 26,66%. Gunawan. Suroto dan A. Nugroho. Sosial Ekonomi Pertanian: Suatu Pengantar. Unitri. Malang Pambudi. Anggarawati. Mulyana. Ismiasih. Widiastuti. Rostwentivaivi. Ayesha. Wibaningwati dan S. Jumiyati. Ekonomi Pertanian. Blobal Eksekutif Teknologi. Padang Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta Sulistiyowati. , & Astuti. Buku Ajar Statistika Dasar. Umsida Press. Sidoardjo. Surya. Strategi Pengembangan Usaha Tani Tanaman Salak Sidempuan untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat di Desa Parsalakan Tapanuli Selatan. Skripsi Program Sarjana Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Medan Area. Medan. DAFTAR PUSTAKA