Vol. 3, 2 (April, 2. , pp. EISSN: 3031-0881 DOI: 10. 62083/w9wxxv67 Perkembangan Islam Moderat Di Indonesia Dalam Perspektif Pendidikan Moderasi Beragama Zahrotul Hayati1. Irfan Fadholi Putra2. Milana Abdillah Subarkah3 1Universitas Muhammadiyah Tangerang. zahrotulhayati567@gmail. 2Universitas Muhammadiyah Tangerang. irfanfadholiputra@gmail. AUniversitas Muhammadiyah Tangerang. abdillahmilana@gmail. ARTICLE INFO Keywords: Islam Moderat. Pendidikan. Moderasi Beragama. Article history: Received 2025-01-08 Revised 2025-03-02 Accepted 2025-03-11 Corresponding Author: Zahrotul Hayati. Universitas Muhammadiyah Tangerang. Zahrotulhayati567@gmail. CopyRight: This is an open access article under the CC BY-NC-SA license. ABSTRACT The purpose of this study is to determine the development of Moderate Islam in Indonesia from the perspective of religious moderation education. In the context of the pluralistic Indonesian nation, strengthening religious moderation in education is very important and strategic, both in the family environment and outside the family, namely in the home, school, and community environments, to produce a generation of moderate Muslims. The data analyzed in this study using the literature review method, from data sources in the form of books, related journals, and articles published in national journals, show that the application of the pillars of religious moderation, namely . the existence of an attitude of national commitment, . the existence of an attitude of tolerance, . the existence of an anti-violence attitude, and . the existence of an accommodating attitude towards local cultural values, is very appropriate and in line with the principles and spirit practiced in Moderate Islam, namely the principle of tawassuth . aking the middle pat. , i'tidal . eing objective and fai. , tasamuh . , deliberation, ishlah . aintaining goodness and peac. , qudwah . ioneering role in leadershi. , muwathohah . ove of the homelan. , and tawazun . In this perspective, the development of the application of the values of Moderate Islam in Indonesia is greatly influenced by the success of strengthening the implementation of religious moderation education in Indonesia. ABSTRAK Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan Islam Moderat Di Indonesia dalam perspektif pendidikan moderasi beragama. Dalam konteks Bangsa Indonesia yang plural, penguatan moderasi beragama dalam pendidikan menjadi hal yang sangat penting dan strategis, baik pada lingkungan keluarga maupun di luar keluarga, yaitu dalam lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat, untuk melahirkan generasi muslim yang moderat. Data yang dianalisis dalam penelitian ini dengan metode kajian pustaka, dari sumber data berupa buku-buku, jurnal-jurnal yang berkaitan, maupun artikel-artikel yang terbit di jurnal nasional, menunjukkan bahwa penerapan pilarAepilar moderasi beragama, yaitu . adanya sikap komitmen kebangsaan, . adanya sikap toleransi, . adanya sikap anti kekerasan, serta . adanya sikap akomodatif terhadap nilaiAe Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 259 of 270 nilai budaya lokal, sangat sesuai dan sejalan dengan prinsipAe prinsip dan ruh yang dipraktikan dalam Islam Moderat, yaitu prinsip tawassuth . engambil jalan tenga. , iAotidal . ersikap objektif dan adi. , tasamuh . , musyawarah, ishlah . enjaga kebaikan dan kedamaia. , qudwah . epeloporan peran dalam memimpi. , muwathohah . inta tanah ai. , dan tawazun . Dalam perspektif ini maka perkembangan penerapan nilaiAenilai Islam Moderat Di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberhasilan penguatan pelaksanaan pendidikan moderasi beragama Di Indonesia. PENDAHULUAN Islam Moderat adalah Islam humanis, yang dapat mengayomi semua, dari berbagai lapisan sosial baik etnis maupun agama. Berislam secara moderat memiliki arti berpikir, bersikap, dan menjalankan ajaran Islam dengan sikap moderat yang berdasarkan pada prinsip Ae prinsip tawassuth . engambil jalan tenga. , iAotidal . ersikap objektif dan adi. , tasamuh . , musyawarah, ishlah . enjaga kebaikan dan kedamai. , qudwah . epeloporan peran dalam memimpi. , muwathohah . inta tanah ai. , dan tawazun . Perkembangan Islam Moderat Di Indonesia telah memberikan sumbangsih yang berharga dalam kehidupan bertoleransi baik pada skala nasional maupun internasional. Khusus untuk Negara Indonesia, ulama dunia telah mengakui, bahwa sebagai sebuah negara. Indonesia telah mampu mempraktikkan Islam yang moderat, toleran, dan Perkembangan Islam Moderat Di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan penguatan pendidikan moderasi beragama Di Indonesia. Dalam perspektif ini, karena melalui pengautan pendidikan moderasi beragama . akan melahirkan generasi yang menghormati keragaman dan mendukung perdamaian, . akan membangun sikap moderat di kalangan umat muslim, . akan membantu mencegah radikalisme, serta . akan membangun masyarakat yang saling menghormati, saling memahami, dan hidup dalam kerukunan, yang harmoni, berkeseimbangan, dan berkeadilan. Melalui pengautan pendidikan moderasi beragama, akan dihasilkan generasi yang mempraktikan nilaiAenilai moderasi beragama, sebagai jiwa dan nilai dari Islam Moderat, yaitu sikap tengah dalam menjalankan nilaiAenilai keagamaan, dimana individu atau masyarakat tidak secara ekstrim untuk memaksakan keyakinan dan pandangan agama mereka kepada orang lain. Dalam konteks Masyarakat Indonesia yang plural, multikultural, melalui penguatan pendidikan moderasi beragama menjadi sangat relevan dalam meningkatkan penerapkan nilaiAenilai toleransi serta penghargaan terhadap perbedaan (Wahid, 2. Karena moderasi Islam itu sendiri merupakan ajaran keagamaan yang sesuai dan cocok dengan kondisi keragaman agama, ras, suku, adat istiadat, serta budaya dalam konteks Bangsa Indonesia yang plural. Sehingga, dengan penguatan pendidikan moderasi beragama akan terjalin kesatuan umat serta terhindar dari kekerasan (Novianto, 2. PilarAepilar moderasi beragama, yaitu . adanya sikap komitmen kebangsaan, . adanya sikap toleransi, . adanya sikap anti kekerasan, serta . adanya sikap akomodatif terhadap nilaiAenilai budaya lokal. Ke-empat pilar tersebut, sangat sesuai dan sejalan dengan prinsipAeprinsip dan ruh yang dipraktikkan dalam Islam Moderat yaitu prinsip tawassuth . engambil jalan tenga. , iAotidal . ersikap objektif dan adi. , tasamuh . , musyawarah, ishlah . enjaga kebaikan dan kedamaia. , qudwah . epeloporan peran dalam memimpi. , muwathohah . inta tanah ai. , dan tawazun . Dalam perspektif ini maka Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 260 of 270 perkembangan penerapan nilaiAenilai Islam Moderat Di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberhasilan penguatan pelaksanaan pendidikan moderasi beragama Di Indonesia. Dalam konteks Bangsa Indonesia yang plural, penguatan moderasi beragama dalam pendidikan menjadi hal yang sangat penting dan strategis, baik pada lingkungan keluarga maupun di luar keluarga, yaitu dalam lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat, untuk melahirkan generasi masyarakat muslim yang moderat. Yaitu masyarakat muslim moderat yang memiliki ciri 9Aekonsep kunci moderasi beragama, yaitu . berkeadilan, . , . menjunjung nilai luhur kemanusiaan, . menjaga kesejahteraan umum, . menaati kesepakatan bersama dan taat konstitusi, . komitmen kebangsaan, . toleransi, . anti kekerasan, serta . penerimaan terhadap tradisi/nilaiAe nilai budaya lokal. Dalam perspektif ini, pelaksanaan moderasi beragama sudah menjadi pilihan Bangsa Indonesia, dalam melaksanakan ibadahnya sesuai keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Seluruh agama dan pemeluk kepercayaan sudah difasilitasi oleh negara, sesuai dengan porsi masing-masing. Keadilan bukan berarti sama rata, tetapi proporsional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing (Serevinna Dewita. Penguatan moderasi beragama dalam pendidikan dapat dilakukan dengan perluasan substansi moderasi beragama dalam kurikulum, penguatan wawasan multikultural dan multireligius yang aplikatif, serta perluasan dialog antar umat beragama. Dalam implementasinya penguatan moderasi beragama dalam pendidikan tersebut perlu melibatkan satuan pendidikan dalam kegiatan lintas agama/budaya, peningkatan pemahaman dan pengamalan para tokoh, pendidik, serta pengurus sebagai agen perubahan praktik beragama secara moderat. Untuk menjamin keberhasilannya, penguatan moderasi beragama dalam pendidikan tersebut perlu diterapkan di semua tingkat jenjang pendidikan umum maupun pesantren. Pentingnya pendidikan moderasi beragama Di Lembaga Pendidikan Islam, seperti pesantren, bertujuan agar terbinanya sikap moderat santri dan alumni pesantren agar Autidak merasa paling benarAy dalam beragama. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan moderasi beragama perlu di desain sedemikian rupa, sebagai program yang bersifat hidden, seperti program pembiasaan, yang dikembangkan secara terintegrasi dalam mata pelajaran dan perilaku sehariAehari santri, sehingga nilaiAenilai ajaran moderasi beragama seperti tawasut, tawazum, tasamuh, musyawarah, syura, anti radikalisme, dan mengakomodir terhadap nilainilai budaya lokal, tidak hanya menjadikan pertimbangan dalam cara berpikir, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam bertindak dan bersikap (UIN Sunan Gunung Djati, 2. Dengan demikian, perkembangan Islam Moderat Di Indonesia, dalam perspektif pendidikan moderasi beragama merupakan hal yang sangat penting dan strategis, karena dengan adanya penguatan moderasi beragama dalam pendidikan Di Indonesia, bukan hanya dapat menjawab dan menjadi solusi dalam membangun harmoni yang berkeseimbangan dan berkeadilan atas kondisi Bangsa Indonesia yang plural, multikultur, multi ras, multi bahasa, dan multi agama, tetapi lebih dari itu, bahwa ajaran moderasi beragama yang menjadi nilaiAe nilai dalam penerapan Islam Moderat Di Indonesia, telah dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para Pendahulu Bangsa seperti K. Ahmad Dahlan. Hasyim AsyAoari. Walisongo, dan lainAelain, bahkan telah dicontohkan oleh para Pendahulu sejak Islam dilahirkan, dan ini merupakan ajaran Agama Islam yang berdasarkan Al-qurAoan dan hadis. METODE Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dan sumber data dalam kajian ini adalah bukuAebuku, jurnalAejurnal yang berkaitan, maupun artikelAeartikel yang terbit di jurnal Kajian literatur ini memiliki beberapa tahapanAetahapan yang digunakan, mulai dari pengumpulan data, redukasi data, display data, pembahasan hingga kesimpulan. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 261 of 270 TEMUAN DAN DISKUSI Perkembangan Islam Moderat Di Indonesia Islam Moderat merupakan sebuah konsep, istilah Islam Moderat muncul berdasarkan pada konsep teologis . ilai-nilai yang berkaitan dengan ketuhana. dan ontologis . al-hal yang berkaitan dengan hakikat keberadaan atau eksistens. Sehingga dapat dikatakan bahwa istilah Islam Moderat merupakan bagian dari ajaran Islam yang universal. Konsep Islam Moderat memiliki kesamaan dengan konsep umatan wasathan. Secara implisit, dalam Al-Quran maupun hadis, umatan wasathan diartikan Aygolongan atau agama tengahAy (QS. Baqarah: . , yang mengandung makna akan pentingnya sikap moderat, dan menempatkan posisi Umat Islam sebagai umat yang moderat dan terbaik. Moderasi adalah nilai inti dari ajaran Islam, bahkan dalam Al-QurAoan terdapat beberapa ayat yang menunjukkan misi ajaran Islam Moderat tersebut, yaitu sebagai karakteristik dari ajaran Islam serta sebagai karakterisktik dari Umat Islam, yang menegaskan bahwa Islam dan Umat Islam merupakan rahmat bagi sekalian alam. AuDan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk . rahmat bagi semesta alamAy (QS. Al-Anbiya:. (Faqihuddin. Ajaran Islam Di Indonesia, mulai sejak dalam penyebarannya, sudah diterapkan dengan menggunakan metode yang sangat unik dan damai seperti tidak dengan kekerasan, tidak dengan pemaksaan, serta selalu menghargai berbagai nilai-nilai budaya yang berkearifan lokal, sesuai dengan kondisi Bangsa Indonesia yang plural. Sehingga Masyarakat Indonesia dengan sangat mudah dapat menerima ajaran Islam dalam kultur yang bebeda-berbeda. Islam Di Indonesia terbentuk atas dasar akulturasi antara budaya lokal dan ajaran Islam yang disebarkan oleh Pedagang Gujurat, dengan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, yang kemudian penyebarannya dilanjutkan oleh Walisongo dengan cara memasukkan nilainilai Islam ke dalam budaya lokal. Keunikan Islam Di Nusantara mempunyai lima ciri khas yang membedakan dengan Islam lain di dunia yaitu . esuai dengan keadaan, situasi, dan kejadian pada Bangsa Indonesia yang plura. , . toleran, . menghargai tradisi, . elalu ke-arah yang lebih bai. , serta . memberikan kebebasan kepada masyarakat . idak ada paksaa. Dengan ciri dan karakter sebagai umatan wasathan dari Agama Islam tersebut maka akan membentuk Islam Moderat Di Indonesia (Novianto, 2. Dalam perjalanannya, perkembangan Islam Moderat Di Indonesia tersebut, tidak terlepas dari pengaruh organisasi keagamaan Di Indonesia, terutama Nahdlatul Ulama (NU) dengan faham Ahlussunnah Wal Jamaah-nya dan Muhammadiyah, serta sikap Walisongo seperti ajaram Sunan Kudus, dengan penjelasan seperti berikut. Peran Organisasi Keagamaan Perkembangan Islam Moderat Di Indonesia sangat di pengaruhi serta tidak lepas dari sumbangsih dua Organisasi Besar Islam yang ada di negeri ini, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua organisasi tersebut telah berpengalaman dalam melakukan perjuangan penanaman dan penyebaran moderasi beragama Di Indonesia, melalui Lembaga Pendidikan serta melalui perjalanan sosial politik yang mereka lakukan. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga merupakan sebuah organisasi yang sangat aktif berpartisipatif dalam merawat serta menguatkan pondasi moderasi Islam Di Indonesia. Bahkan kedua organisasi tersebut juga dengan sangat gencar mempromosikan Indonesia sebagai pusat percontohan dalam hidup bertoleransi antar sesama umat beragama yang dijadikan contoh bagi dunia luar, dengan menyajikan Islam yang damai, toleran, dan menghargai antar Pada dasarnya, sikap Nahdlatul Ulama tersebut, tidak bisa terlepas dari faham aqidah Ahlussunah Wal JamaAoah sebagai pondasi dalam menyajikan moderasi Islam. Selain itu. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 262 of 270 bahwa Nadhlatul Ulama merupakan bagian dari JamAoiyah Diniyah Islamiyah yang berpaham Ahlussunah Waljamaah yang mengakui dan mengikuti faham empat mahzab yaitu Mahzab Hanafi. Maliki. SyafiAoi, dan Hambali. Pada bidang aqidah Nadhlatul Ulama mengikuti paham Ahlussunah Waljamaah yang dipelopori oleh Imam Abu Hasan alAeAsyAoari, serta Imam Abu Mansyur alAeMaturidi. Kemudian pada bidang fiqih. Nadhlatul Ulama mengikuti jalur pendekatan dari Mahzab Abu Hanifah al-NuAoman. Imam Malik Ibn Anas. Imam Muhammad ibn Idris alAeSyafiAoi, serta Ahmad ibn Hambali, dan pada bidang tasawuf. Nahdlatul Ulama mengikuti Imam alAeJunaid alAeBagdadi, serta Imam alAeGhazali. Gagasan moderasi Islam sendiri merupakan hal yang indentik serta merupakan bagian dari paham Ahlussunah Waljamaah yang menonjolkan sikap tawassuth . , iAotidal . ersikap adi. , tawazun . ersikap seimban. , serta tassamuh . ersikap tolera. Sehingga dengan sikap-sikap tersebut. Nahdlatul Ulama selalu menolak serta selalu mengantisipasi berbagai macam tindakan individu maupun kelompok yang indentik dengan pemikiran yang ekstrim yang dikhawatirkan menimbulkan berbagai penyimpangan serta dampak negatif dalam ajaran Islam khususnya yang berada Di Indonesia (Faqihuddin, 2. Sedangkan pada Organisasi Muhammadiyah, gagasan-gagasan, pemikiran, pemahaman, dan cara berfikir, serta dalam bersikap dan bertindak berdasarkan paham moderasi beragama telah menjadi ciri dan karakter dari Organisasi Muhammadiyah, dan ini sangat mempengaruhi mengenai perkembangan Islam Moderat Di Indonesia. Moderasi beragama adalah salah satu karakter utama yang membuat Muhammadiyah tidak hanya mampu bertahan, tetapi terus melangkah maju di tengah berbagai perubahan zaman, yaitu dengan mayoritas Muhammadiyah tetap berada Audi tengahAy . dalam memegang dan mengamalkan moderasi beragama (AuSeminar Munas Majelis Tarjih. PP Muhamadiyah,Ay Sikap Walisongo Ajaran Islam Di Indonesia, dilakukan dengan secara damai, tidak dengan memaksa, dan meghargai nilaiAenilai kearifan yang sesuai dengan budaya lokal. Penyebaran Islam Di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Walisongo yang mendakwahkan Islam Ke Wilayah Indonesia, terutama yang terpusat Di Pulau Jawa. Mereka mengajarkan Islam dengan caraAe cara unik yang dikemas dalam bentuk kesenian seperti wayang kulit, gamelan dan lain-lain. CaraAecara seperti inilah yang membuat Islam bisa diterima oleh Masyarakat Indonesia dan membentuk sebuah corak Islam, yaitu Islam Nusantara. Islam Nusantara lahir sebagai alternatif model pemikiran, pemahaman, dan pengamalan Islam yang moderat, serta terhindar dari paham fundamentaslime dan liberalisme. Islam Nusantara menawarkan sebuah konsep dan gagasan antimainstream . Konsep dan gagasan ini diharapkan mampu membangun sebuah keharmonian sosial yang berkeseimbangan dan berkeadilan, budaya dan agama, serta membangun peradaban dan kemanusiaan Islam Di Indonesia yang menjadi rahmat bagi sekalian alam (Mubarok & Rustam, 2. Ajaran Sunan Kudus Dalam lintas islamisasi Di Wilayah Kudus sangat dipengaruhi dari peran sosok Raden Undung atau JaAofar Shadiq atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus. Heterogenitas Masyarakat Kudus dengan keragaman etnis, agama, dan budaya menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyebaran dan pengembangan Islam Di Wilayah Kudus. Disinilah kecerdasan seorang Wali diuji untuk menghadapi problem heterogenitas Masyarakat Kudus. Sunan Kudus dikenal sebagai tokoh kharismatik karena ketinggian dan kedalaman ilmunya terutama di bidang ilmu agama seperti ilmu tauhid, hadis, serta tafsir dan mantiq, termasuk fiqih dan sastra, sehingga Sunan Kudus dikenal dengan Waliyul Ilmi. Sebagai seorang yang memiliki jiwa seni tinggi, ia memiliki kecendrungan rasa pangrasa . yang kuat dalam memahami realitas, sehingga memiliki karakter dengan cara pandang yang lebih luas. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 263 of 270 Sunan Kudus menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi, yang sangat dikenal melalui ajaran dakwahnya tentang Aularangan menyembelih sapiAy. Sebagaimana yang diistilahkan dalam hukum fiqih AuharamAy (Sanusi, 2. Pendidikan Moderasi Beragama Di Indonesia, telah terjadi berbagai konflik sosial yang muncul yang disebabkan oleh karena adanya perbedaan agama dan keyakinan. Dalam hal ini, sehingga penting bagi instansi pemerintahan untuk membuat suatu terobosan program guna menangani situasi dan kondisi tersebut. Salah satu program yang sudah dijalankan adalah program moderasi beragama yang digaungkan oleh Kementerian Agama RI sejak Tahun 2016, dengan harapan akan melahirkan Masyarakat Muslim Indonesia yang moderat (Mukhibat. Nurhidayati Istiqomah, & Hidayah, 2. Penguatan implementasi pendidikan Islam yang moderat dan inklusif mulai digaungkan oleh berbagai Lembaga Pemerintahan Di Indonesia untuk mewujudkan jaminan pemenuhan hak beragama dan hak sipil dalam program dan layanan publik yang inklusif, salah satunya melalui Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam hal ini moderasi beragama adalah program yang sudah di mulai sejak Tahun 2016 oleh Menteri Agama Republik Indonesia pada saat itu, yaitu Lukman Hakim Syaifudin. Pendidikan moderasi beragama dipercaya dapat menjadi salah satu solusi guna menata kehidupan keagamaan Masyarakat Indonesia yang majemuk. Selain itu, untuk memaksimalkan program moderasi beragama, juga dibentuk Kelompok Kerja (Pokj. Moderasi Beragama Kementerian Agama Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 720 Tahun 2020 dan ditandatangani oleh Menteri Agama RI Fachrul Razi dengan masa jabatan 2019-2020. Pokja tersebut dibentuk sebagai tindak lanjut berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN Tahun 2020-2024, yang mana Kementerian Agama RI dipercaya sebagai leading sector dalam penerapan program penguatan moderasi beragama (Mukhibat et al. , 2. Dalam hal ini, guna mencapai kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama dengan penuh kedamaian, pemerintah telah mengambil beberapa langkah strategis, yakni: Perhatian dari pemerintah terhadap moderasi beragama menjadi penting untuk diperhatikan, utamanya yang berkaitan dengan pembuatan narasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), hal tersebut sebagai pembuktian pemerintah dalam menggemakan moderasi beragama di kalangan umat beragama di Indonesia. Adanya pelibatan lembaga pendidikan, seperti pesantren, madrasah dan sekolah, sampai perguruan tinggi. Baik itu lembaga non formal lainnya guna untuk memperkuat nilai kemanusiaan, nilai kerukunan beragama, dan moderasi beragama. Adanya pengembangan literasi keagamaan . eligious literac. dan pendidikan lintas iman . nterfaith educatio. Lembaga pendidikan harus memperbanyak praktik pengalaman keagamaan yang berbeda sehingga akan terjalin kerjasama antar pemeluk agama. Dalam dunia pendidikan, untuk jenjang perguruan tinggi, pemerintah membuat kebijakan untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai sarana penanaman pendidikan multikultural pada peserta didik, oleh karenanya pendidikan multikultural dijadikan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi. Dalam implementasinya maka didirikan rumah moderasi beragama sebagai acuan perguruan tinggi dalam melakukan pelembagaan moderasi beragama di kampus. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 264 of 270 Lebih khusus keberadaan Lembaga Pendidikan Islam di tengah masyarakat yang beragam, moderasi beragama menjadi kata kunci untuk menampilkan Wajah Islam yang santun dan toleran. Hal ini selaras dengan pandangan bahwa moderasi beragama sebagai jalan tengah bagi masyarakat yang multikultural (Liando & Hadirman, 2. Dalam (Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7272 Tahun 2019, 2. , ada beberapa cara atau strategi yang dilakukan dalam melaksanakan Pendidikan Moderasi Beragama dalam pembelajaran (Najmi, 2. , diantaranya: Menyisipkan . muatan moderasi dalam setiap materi pelajaran yang relevan Substansi moderasi beragama sudah terdapat dalam kurikulum pembelajaran pada semua jenjang pendidikan. Untuk ini yang penting dalam implementasinya lebih ditekankan pada aspek bagaimana substansi tersebut dikaitkan dengan spirit moderasi beragama yang dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Mengoptimalkan pendekaatan pembelajaran, strategi, dan metode Yaitu pembelajaran yang dapat melahirkan cara berfikir kritis, bersikap menghargai perbedaan, menghargai pendapat orang lain, toleran, demokratis, berani menyampaikan gagasan, sportif dan bertanggung jawab. Untuk ini, pendekatan implementasi moderasi beragama jenis ini dilakukan pada saat mentransformasikan pengetahuan kepada peserta didik di dalam kelas maupun di luar kelas. Dalam hal ini, pada proses pembelajaran dilakukan melalui metode diskusi atau perdebatan . ctive debat. untuk menumbuhkan cara berpikir kritis, sportif, menghargai pendapat orang lain serta berani menyampaikan pendapat secara rasional. menggunakan metode every one is a teacher here untuk menumbuhkan sikap keberanian dan tanggung jawab atas pendapat yang menggunakan metode jigsaw learning untuk melatih sikap amanah, tanggung jawab, dan sportif. dan lain sebagainya. Menyelenggarakan program, pendidikan, pelatihan, dan pembekalan tertentu dengan tema khusus tentang moderasi beragama Untuk guru dan tenaga pendidikan dibekali program, pendidikan atau pelatihan tentang pemahaman moderasi beragama dan pengimplementasiannya di dalam proses Di awal semester baru biasanya peserta didik selalu diberikan asupan dan pembekalan tentang moderasi, dengan materi mengenai konsep moderasi dan bagaimana bersikap semestinya, sehingga tercapainya karakter insan yang agamis sesuai dengan pemahaman moderasi beragama. Menjangkau aspek evaluasi Dalam hal ini, pengamatan terhadap para peserta didik dilakukan secara simultan untuk mengevaluasi pencapaian proses pembelajaran yang telah dilakukannya dengan metode-metode yang dapat menumbuhkan sikap moderat, misalkan berdialog secara aktif dan merespon perkataan serta tindakan mereka. Dengan langkah tersebut para pendidik dapat mengukur sejauh mana pemahaman dan pengamalan peserta didik terhadap moderasi beragama. Berikut ini adalah beberapa indikator pembelajaran dengan mainstreaming moderasi beragama (Suryadi et al. , 2. , diantaranya : Transformasi dan internalisasi sikap dan perilaku peserta didik diarahkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 serta norma Islam yang toleran, inklusif, moderat, menghargai harkat dan martabat orang lain, beribadah sesuai ketentuan agama dan berakhlak mulia yang diaktualisasikan dalam kehidupan sosial. Integrasi materi pembelajaran dengan nilai-nilai keislaman yang moderat. Integrasi seperti ini dimaksudkan sebagai wujud keislaman yang rahmatan lil Aoalamin. Nilainilai keislaman tertuang dalam bahan ajar atau topik pembahasan. Perencanaan pembelajaran dilakukan secara dialogis, partisipatif, dan memberi ruang untuk perbaikan. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 265 of 270 Proses pembelajaran berlangsung dalam bentuk interaksi edukatif yang humanis. dan responsive gender. Proses pembelajaran baik kurikuler atau ekstrakurikuler meliputi pemahaman dan implementasi nilai serta norma Agama Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, ingkluvisme, moderatisme, dan ke-Indonesiaan. Penilaian proses dan hasil belajar mengintegrasikan prinsip kejujuran . uru dan sisw. , prinsip edukatif . , prinsip partisipatif . eran aktif dan komitmen bersam. , prinsip otentik . esuai kemampua. , prinsip objektif, akuntabel, transparan dan mudah diakses. Dalam implementasi penguatan pendidikan moderasi beragama, sesuai amanat RPJMN 2020-2024. Kementerian Agama merupakan sektor utama . eading secto. yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan penguatan moderasi beragama. Akan tetapi, setiap kementerian atau lembaga lain juga harus mengimplementasikan penguatan moderasi beragama dalam kehidupan beragama dilembaganya masing-masing dengan melibatkan seluruh stakeholdernya. Hal tersebut guna menjamin terwujudnya hak beragama dan sipil dalam program pelayanan publik yang inklusif. Salah satu variabel penting dan strategis suksesnya kebijakan moderasi beragama yaitu lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan harus menjadi wadah tumbuhnya pemikiran kebangsaan dan penanaman nilai-nilai multikulturalisme, serta memberikan pemaknaan agama dengan perdamaian. Lembaga pendidikan harus menjadi sarana dalam penyebarkan sensitivitas peserta didik pada ragam perbedaan yang tepat dan pengenalan ruang dialog antara pendidik dan peserta didik dalam penguatan moderasi beragama. Pendidik memberikan penjelasan terkait agama yang akan membawa makna perdamaian bukan kebencian, dan sistem di sekolah harus terbuka pada perbedaan tersebut. Pendidikan moderasi beragama sendiri merupakan suatu pendekatan dalam pendidikan agama yang bertujuan untuk menghasilkan individu yang toleran, mampu berdialog, menghargai keberagaman, dan mampu menjaga kedamaian dan keamanan di dalam masyarakat yang beragam keyakinan (Mukhibat, n. ) Pendidikan moderasi beragama diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai konflik yang berkaitan dengan perbedaan agama dan keyakinan, sehingga akan mewujudkan masyarakat yang harmonis, sejahtera, dan damai. Pendidikan moderasi beragama seharusnya dapat dilakukan di berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, mulai dari jenjang tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Kurikulum pendidikan moderasi beragama biasanya meliputi pemahaman tentang konsep moderasi beragama, keberagaman agama dan keyakinan, etika beragama, dan praktik dialog antar umat beragama. Selain itu, pendidikan moderasi beragama juga dapat diterapkan dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kegiatan keagamaan, pertemuan antar umat beragama, dan kegiatan sosial untuk meningkatkan pemahaman dan pengalaman dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda agama dan keyakinan (Mukhibat et al. , 2. Pendidikan moderasi beragama juga harus didukung oleh pemerintah dan berbagai lembaga terkait untuk memastikan implementasinya yang efektif dan terintegrasi. Selain itu, pendidikan moderasi beragama juga harus terus diperbarui sesuai dengan perkembangan masyarakat dan dinamika global yang semakin kompleks. Dengan demikian, pendidikan moderasi beragama diharapkan dapat menjadi bagian yang penting dalam membangun masyarakat yang toleran dan damai. Hal ini dikarenakan pendidikan diyakini akan membantu mengajarkan nilai-nilai yang mendorong kerja sama dan saling pengertian antarindividu dan antarkelompok, serta mempromosikan kesadaran akan keberagaman dan perlunya menghargai perbedaan. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 266 of 270 Lingkungan pendidikan, akan mengajarkan peserta didik untuk memahami perbedaan agama dan kepercayaan secara objektif, serta diajarkan cara menghormati dan menghargai perbedaan tersebut. Hal ini akan membantu peserta didik dalam memahami bahwa semua agama dan kepercayaan memiliki nilai-nilai yang sama-sama penting dan patut dihormati, serta akan mendorong peserta didik untuk melihat perbedaan sebagai suatu kekayaan yang harus dijaga dan dihargai. Selain itu, lingkungan pendidikan juga akan memastikan bahwa peserta didik memperoleh pemahaman yang baik tentang nilai-nilai agama dan kepercayaan, serta menghargai perbedaan. Lingkungan pendidikan yang positif dan inklusif dapat membantu membangun masyarakat yang lebih toleran dan damai, dan mendorong kehidupan yang sejahtera bagi semua warga negara (Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Panduan Penguatan Pendidikan Karakter, 2. Pendidikan moderasi dapat diimplementasikan melalui berbagai cara yang disesuaikan dengan konteks dan lingkungan di mana pendidikan dilakukan. Beberapa cara yang umum dilakukan adalah dengan menciptakan lingkungan inklusif dan ramah terhadap perbedaan, memperkenalkan nilai-nilai agama dan kepercayaan secara obyektif, membantu peserta didik memahami perbedaan agama, mendorong dialog dan diskusi terbuka, dan memperkenalkan praktik keagamaan secara inklusif. Kurikulum dan metode pengajaran yang sesuai dengan prinsip moderasi beragama juga harus diperhatikan. Pemerintah dan lembaga terkait harus mendukung implementasi pendidikan moderasi untuk memastikan efektivitas dan integrasi dalam berbagai aspek pendidikan. Dengan melaksanakan pendidikan moderasi secara tepat, akan dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, toleran, dan menghargai perbedaan agama dan kepercayaan. Hal ini dapat membantu peserta didik menjadi individu yang lebih terbuka, toleran, dan menghargai perbedaan dalam masyarakat yang semakin majemuk (Najmi, 2. Langkah-langkah pendidikan moderasi dalam lembaga pendidikan dapat dilaksanakan dengan berbagai cara. Diantaranya dengan memasukkan pendidikan moderasi dalam Sekolah dapat menekankan nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kerukunan antarumat beragama dalam pengajaran mata pelajaran agama. Selain itu, lembaga pendidikan juga dapat membentuk klub moderasi yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang moderasi, mempraktikkan nilai-nilai moderasi, dan mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat memupuk semangat toleransi dan kerukunan antarumat Selain itu, sekolah dapat mengadakan kegiatan-kegiatan seperti seminar, dialog, dan pertemuan antarumat beragama untuk memupuk semangat toleransi dan mengajarkan siswa-siswi tentang pentingnya kerukunan antarumat beragama (Najmi, 2. Untuk memastikan keberhasilan implementasi pendidikan moderasi, lembaga pendidikan membentuk tim kerukunan antarumat beragama yang bertugas untuk memonitor kegiatan-kegiatan di lembaga pendidikan, menyelesaikan konflik antarumat beragama, dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang memupuk semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Dengan mengimplementasikan langkah-langkah pendidikan moderasi, peserta didik dapat memahami dan menginternalisasi nilai-nilai yang terdapat dalam moderasi beragama, sehingga dapat menjadikan individu yang toleran, menghargai perbedaan, dan mampu hidup harmonis dengan sesama (Najmi, 2. Untuk mengetahui keberhasilan dari pendidikan moderasi beragama, dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pengamatan langsung, tes dan penilaian, kuesioner atau survei, dan diskusi kelompok. Pengamatan langsung dilakukan oleh guru atau pengajar terhadap siswa selama proses pembelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler untuk memperhatikan apakah siswa menunjukkan sikap toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan kerukunan antarumat beragama. Tes dan penilaian dapat dilakukan terkait dengan pembelajaran moderasi beragama, baik berupa tes tertulis maupun penugasan Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 267 of 270 terkait, yang meliputi pemahaman siswa tentang nilai-nilai moderasi, sikap toleransi, dan tindakan konkret yang diambil siswa untuk menerapkan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Kuesioner atau survei dapat digunakan untuk mengevaluasi persepsi siswa terhadap pembelajaran moderasi beragama dengan menanyakan pemahaman siswa tentang nilai-nilai moderasi, sikap toleransi, dan pengalaman siswa dalam menghadapi situasi yang memerlukan sikap moderasi. Diskusi kelompok dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan siswa dalam menerapkan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagi pengalaman dan memberikan masukan satu sama lain. Penting untuk mempertimbangkan berbagai aspek dalam melakukan evaluasi, seperti efektivitas metode pembelajaran yang digunakan, tingkat pemahaman siswa, dan kemampuan siswa dalam menerapkan nilai-nilai moderasi. Dengan evaluasi yang baik, lembaga pendidikan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran moderasi beragama dan menciptakan generasi yang toleran dan menghargai perbedaan (Najmi, 2. Berikut adalah implikasi dari nilai-nilai pendidikan moderasi beragama terhadap sikap sosial yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (Hasan, 2. , yaitu : Tawasuth . engah-tenga. yaitu mengutamakan sifat penengah, serta mengutamakan I'tidal . egak-luru. yaitu membela kebenaran dan bersikap adil. Tasamuh . yaitu kedamaian, menghargai perbedaan, memiliki kesadaran, terbuka, dan reseptif. Syura . yaitu jujur, saling menghargai pendapat, tutur kata yang baik, kesabaran, kesadaran berbicara, bersedia berpendapat, serta mendengar pendapat orang lain. Ishlah . yaitu keterbaruan, uptodate, dan perbaikan. Qudwah . yaitu memiliki potensi dan keterampilan. Muwathanah . yaitu perilaku membantu orang lain, ketelitian, sportif, menjaga hubungan baik, dan kebijaksanaan. Al-LaAyUnfu . nti kekerasa. yaitu saling percaya, kerjasama, tenggang rasa, penerimaan terhadap perbedaan, dan penghargaan. IAotibar al-AoUrf . amah buday. yaitu menghargai nilai-nilai budaya dan menjaga nilainilai budaya. Ke-sembilan implikasi nilai-nilai pendidikan moderasi beragama terhadap sikap sosial yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari tersebut, merupakan sebuah indikator yang dapat dijakan dasar dalam menilai keberhasilan pendidikan moderasi beragama terhadap cara berfikir serta dalam bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari dari peserta didik. Keberhasilan penguatan pendidikan moderasi beragama, diantaranya akan tercermin dari meningkatnya perkembangan generasi Muslim baik individu maupun kelompok yang berpaham moderat, yang dalam pengamalan agamanya berdasarkan pada prinsip-prinsip seperti tawassuth . engambil jalan tenga. , iAotidal . ersikap objektif dan adi. , tasamuh . , musyawarah, ishlah . enjaga kebaikan dan kedamai. , qudwah . epeloporan peran dalam memimpi. , muwathohah . inta tanah ai. , dan tawazun . Analisis Mengenai Perkembangan Islam Moderat Di Indonesia Dalam Perspektif Pendidikan Moderasi Beragama Kebderadaan perkembangan Islam Moderat, dalam konteks Masyarakat Indonesia yang plural, yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama, penguatan pendidikan moderasi beragama menjadi sangat relevan serta menjadi solusi untuk membangun pilar-pilar Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 268 of 270 moderasi beragama dalam kehidupan Masyarakat Indonesia, yang meliputi . komiten kebangsaan, . toleransi, . anti kekerasan, dan . akomodatif terhadap nilai-nilai budaya Penguatan pendidikan moderasi beragama tersebut dapat menjadi kunci untuk mencapai keselarasan antara ajaran agama dan realitas sosial yang beragam, sehingga dapat menjadikan kehadiran Islam Moderat Di Indonesia menjadi semakin berkembang. Berikut adalah penjelasan perkembangan Islam Moderat Di Indonesia dalam perspektif pendididikan moderasi beragama, berdasarkan ke-empat pilar moderasi beragama tersebut. Pilar Adanya Sikap Komitmen Kebangsaan Peningkatan perkembangan Islam Moderat Di Indonesia, melalui penguatan pendidikan moderasi beragama untuk pilar adanya sikap komitmen kebangsaan, akan melahirkan generasi individu maupun kelompok yang mampu menciptakan hubungan harmoni yang berkeseimbangan dan berkeadilan antar umat beragama yang beragam dalam mencapai kesejahteraan bersama lahir dan batin, sebagai cita-cita dari pembangunan, yang telah menjadi komitmen kebangsaan, sesuai dengan agama dan keyakinan masingmasing. Dalam perspektif ini, dengan adanya penguatan sikap komitmen kebangsaan tersebut, akan lebih mempermudah dan mempercepat Bangsa Indonesia, dalam menggapai cita-cita hidupnya, yaitu sejahtera lahir dan batin sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Pilar Adanya Sikap Toleransi Peningkatan perkembangan Islam Moderat Di Indonesia yang berlandaskan cara berfikir, bersikap dan bertindak secara moderat, sangat dipengaruhi oleh penguatan pendidikan moderasi beragama untuk pilar adanya sikap toleransi. Dalam perspektif ini, karena pendidikan moderasi beragama sebagai sebuah pendekatan pendidikan yang bersifat jangka panjang, diantaranya memiliki tujuan untuk menghasilkan generasi individu dan kelompok yang toleran, bersifat inklusif, tidak eksklusif, mampu berdialog, menghargai keberagaman, serta mampu menjaga kedamaian dan keamanan di dalam masyarakat yang beragam keyakinan secara dinamis dari waktu ke waktu, dengan tetap menjalankan Agama Islam yang sebenar-benarnya sesuai dengan Al-QurAoan dan Hadis. Pilar Adanya Sikap Anti Kekerasan Kehadiran Islam Moderat yang unik. Auberada di tengahAy dalam konteks Bangsa Indonesia yang plural, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Pendahulu Bangsa seperti K. Ahmad Dahlan. Hasyim AsyAoari. Walisongo, dan lain Ae lain, dalam implementasinya akan semakin membumi Di Indonesia, melalui penguatan pendidikan moderasi beragama untuk pilar adanya sikap anti kekerasan. Dalam perspektif ini, melalui penguatan pendidikan moderasi beragama diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai konflik yang berkaitan dengan perbedaan agama dan keyakinan, sehingga akan mewujudkan masyarakat yang harmonis, sejahtera dan damai serta berkeseimbangan dan Pilar Adanya Sikap Akomodatif terhadap Nilai-Nilai Budaya Lokal Kehadiran perkembangan Islam Moderat Di Indonesia, melalui penguatan pendidikan moderasi beragama untuk pilar sikap akomodatif terhadap nilai-nilai budaya lokal, akan melahirkan generasi yang mampu membangun hubungan harmoni serta berkeseimbangan dan berkeadilan antar umat beragama, antar ras, antar suku, antar etnis, dan antar budaya dalam mencapai kesejahteraan bersama. Perbedaan budaya akan disikapi sebagai sebuah keniscayaan, sebagai sebuah potensi dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Dalam perspektif ini, sikap akomodatif terhadap nilai-nilai budaya lokal, akan melahirkan generasi individu dan kelompok yang memahami perbedaan agama dan kepercayaan serta budaya secara objektif, dengan cara menghormati dan menghargai perbedaan tersebut. Sehingga Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 269 of 270 akan difahami bahwa semua agama, kepercayaan, dan budaya, memiliki nilaiAenilai yang samaAesama penting dan patut dihormati, dengan melihat perbedaan sebagai suatu kekayaan yang harus dijaga dan dihargai, sebagai potensi untuk meningkatkan ksejahteraan hidup secara bersama. Generasi yang memiliki sikap positif dan inklusif terhadap nilai-nilai budaya lokal dapat mendorong kecepatan terbentuknya kehidupan yang sejahtera bagi semua warga negara (Mukhibat et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah disampaikan, dapat disimpulkan, sebagai berikut: Perkembangan Islam Moderat Di Indonesia, dalam perspektif pendidikan moderasi beragama merupakan hal yang sangat penting dan strategis, karena dengan adanya penguatan moderasi beragama dalam pendidikan Di Indonesia, bukan hanya dapat menjawab dan menjadi solusi dalam membangun harmoni yang berkeseimbangan dan berkeadilan atas kondisi Bangsa Indonesia yang plural, multikultur, multi ras, multi bahasa, dan multi agama, tetapi lebih dari itu, bahwa ajaran moderasi beragama yang menjadi nilaiAenilai dalam penerapan Islam Moderat Di Indonesia telah dicontohkan dalam praktik kehidupan sehari-hari oleh para Tokoh Islam sebagai Pendahulu Bangsa seperti K. Ahmad Dahlan. Hasyim AsyAoari. Walisongo, dan lain Ae lain, bahkan telah dicontohkan oleh para Pendahulu sejak Islam dilahirkan, dan ini merupakan ajaran Agama Islam yang berdasarkan pada AlqurAoan dan Hadis. PilarAepilar dalam pendidikan moderasi beragama, yaitu . adanya sikap komitmen kebangsaan, . adanya sikap toleransi, . adanya sikap anti kekerasan, serta . adanya sikap akomodatif terhadap nilaiAenilai budaya lokal. Keempat pilar tersebut, sangat sesuai dan sejalan dengan prinsipAeprinsip dan ruh yang dipraktikankan dalam Islam Moderat yaitu prinsip tawassuth . engambil jalan tenga. , iAotidal . ersikap objektif dan adi. , tasamuh . , musyawarah, ishlah . enjaga kebaikan dan kedamai. , qudwah . epeloporan peran dalam memimpi. , muwathohah . inta tanah ai. , dan tawazun . Dalam perspektif ini maka perkembangan penerapan nilaiAenilai Islam Moderat Di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberhasilan penguatan pelaksanaan pendidikan moderasi beragama Di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA