Analisis Spasial Prevalensi StuntingA. (Muammar Iksan. Muh. Apriansyah. Alkhai. Analisis Spasial Prevalensi Stunting di Kecamatan Ambalawi-Bima Spatial Analysis of Stunting Prevalence in Ambalawi District. Bima Muammar Iksan1. Muh. Apriansyah1. Alkhair1 Universitas Muhamammadiyah Bima. Nusa Tenggara Barat. Indonesia Korespondensi Penulis : muammariksan31@gmail. ABSTRACT Stunting is a chronic nutritional problem that affects children's growth and development, particularly in areas with limited access to healthcare services and nutritious food. This study aims to analyze the trend of stunting prevalence in Ambalawi District. Bima Regency, from 2020 to 2022 and examine its spatial distribution based on severity levels in each village. The research uses secondary data analysis from Ambalawi Community Health Center (Puskesma. reports and spatial mapping to identify the distribution patterns of stunting and trends. The findings indicate that the number of stunted children in Ambalawi District increased from 219 in 2020 to 317 in 2022. Nipa and Rite consistently fall into the high stunting category, while some villages experienced status changes, such as Tolowata, which improved from moderate to low, and Talapiti, which worsened from low to moderate. Key contributing factors to stunting in this region include limited access to healthcare services, poor dietary habits, socio-economic conditions, and inadequate This study highlights the need for more effective and region-based interventions to sustainably reduce stunting rates, particularly in high-prevalence villages. Keywords: Stunting. Spatial Analysis. Prevalence. Nutrition. Geographic Mapping. ABSTRAK Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan dan pangan bergizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren prevalensi stunting di Kecamatan Ambalawi. Kabupaten Bima, dari tahun 2020 hingga 2022 serta distribusi spasialnya berdasarkan tingkat keparahan di masing-masing desa. Metode yang digunakan adalah analisis data sekunder dari laporan kesehatan Puskemas Ambalawi serta pemetaan spasial untuk mengidentifikasi pola penyebaran stunting dan tren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka stunting di Kecamatan Ambalawi mengalami peningkatan dari 219 balita pada tahun 2020 menjadi 317 balita pada tahun 2022. Wilayah Nipa dan Rite secara konsisten berada dalam kategori stunting tinggi, sementara beberapa desa mengalami perubahan status, seperti Tolowata yang membaik dari kategori sedang ke rendah, dan Talapiti yang mengalami peningkatan dari kategori rendah ke sedang. Faktor utama yang berkontribusi terhadap stunting di wilayah ini meliputi keterbatasan akses layanan kesehatan, pola konsumsi makanan yang kurang bergizi, kondisi sosial-ekonomi, serta sanitasi yang belum memadai. Penelitian ini menekankan perlunya intervensi yang lebih efektif dan berbasis wilayah untuk menekan angka stunting secara berkelanjutan, terutama di desa-desa dengan prevalensi tinggi. Kata kunci: Stunting. Analisis Spasial. Prevalensi. Gizi. Pemetaan Geografis. PENDAHULUAN Masalah gizi anak stunting telah menjadi isu prioritas bagi pemerintah akhir-akhir Stunting merupakan suatu kondisi kegagalan pertumbuhan tinggi badan anak menurut umur yang disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi sejak masa kehamilan hingga usia 5 tahun atau disebut juga malnutrisi gizi kronik (WHO, 2. Efek jangka panjang dari stunting dapat meningkatkan risiko terkena penyakit produktivitas ekonomi yang rendah, dan terbatasnya fungsi sosial (Hossain, et. al, 2. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 145-152 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Spasial Prevalensi StuntingA. (Muammar Iksan. Muh. Apriansyah. Alkhai. Secara global kejadian stunting mencapai angka 22,9% atau sebanyak 154,8 juta anak stunting pada tahun 2016 lalu, 87 jutanya merupakan anakanak yang berasal dari asia. Mengacu pada angka tersebut. WHO kemudian sebesar 40% di tahun 2025 mendatang (WHO. Indonesia termasuk yang mempunyai beban stunting serius dibandingkan dengan negara lain di asia. Menurut data laporan dari organisasi Unicef, prevalensi anak stunting di Indonesia menempati posisi kelima tertinggi dunia. Sedangkan level asia tenggara. Indonesia di urutan kedua tertinggi (Unicef, 2. Riset kesehatan dasar Indonesia menunjukkan tren penurunan prevalensi anak stunting pada tahun 2013 dari 37,6% menjadi 30,8% di laporan tahun Setelahnya, pemerintah Indonesia juga melaksanakan survei khusus terkait status gizi, yang menunjukkan angka stunting terus berkurang menjadi 27,7% di tahun 2019, 24,4% di tahun 2021, dan data terbaru 2022 angkanya sudah mencapai 21,6%. Dengan konsistensi keberhasilan seperti ini, maka diprediksi pada tahun 2024 mendatang angka stunting bisa menyentuh angka 14% yang merupakan target dari rencana nasional di bidang Kesehatan (SSGI. Tren ini sejalan dengan poin kedua sasaran Sustainable Development Goals (SDG. yaitu zero hunger atau memberantas kelaparan dan semua bentuk malnutrisi termasuk stunting, dengan rentangnya sejak 2015 sampai tahun 2030 (United Nations, 2. Walaupun satu dekade terakhir penurunan, namun presentasenya masih di atas 20% yang berarti melebihi batas toleransi WHO untuk masalah kesehatan. Data anak stunting provinsi Nusa Tenggara Barat masih di angka 32,7% dan kabupaten Bima sendiri sebesar 29,5% (SSGI, 2. Mengerucut ke wilayah kecamatan, angka stunting di kecamatan Ambalawi menyentuh 317 kasus pada tahun 2022 (Dinkes Kabupaten Bima. Menurut framework dari WHO, salah satu faktor utama yang menentukan stunting adalah faktor ibu, dalam hal ini pengetahuan gizi ibu dan sikapnya, sebab ibu yang mempunyai peran aktif dalam menjaga kondisi kesehatannya sendiri dan juga pemenuhan kebutuhan gizi anaknya, sejak masa pregnancy hingga pada pola pengasuhan pasca melahirkan dan masa Selain itu ada juga faktor infeksi, dan kualitas makanan dan air (WHO. Analisis spasial digunakan untuk mendapatkan informasi detail mengenai stunting serta sebaran potensi risikonya di area kecamatan Ambalawi. Data yang dianalisis membandingkan antara data tahun 2020, 2021 dan 2022. Berangkat dari uraian permasalahan stunting tersebut, peneliti sangat tertarik untuk gambaran yang jelas sebaran prevalensi stunting di kecamatan Ambalawi serta tren yang terjadi, sehingga bisa dijadikan rujukan dalam pembuatan kebijakan serta mendukung program pemerintah untuk menurunkan angka stunting baik pada skala lokal dan regional maupun METODE Jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain studi ekologi melalui pendekatan Lokasi penelitian di kecamatan Ambalawi. Bima. NTB. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2023 dan etika penelitian disetujui SK: 035/KEP/i. 6/A/VII/2023. Populasi dalam penelitian adalah seluruh balita di Kecamatan Ambalawi periode 2020Ae 2022, sebanyak 4152 dengan data diperoleh dari data sekunder seperti laporan Dinas Kesehatan. BPS dan Puskesmas. Sampel yang digunakan adalah data agregat stunting per desa selama tiga tahun, dengan total sampling terhadap seluruh desa di wilayah studi Analisis dilakukan dengan membandingkan prevalensi stunting dari tahun 2020 hingga 2022 menggunakan software QGIS. Pengolahan data tingkat stunting di Kecamatan Ambalawi dimulai dengan pengumpulan data stunting, serta data administratif berupa peta batas desa dalam format shapefile. Setelah data Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 145-152 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Spasial Prevalensi StuntingA. (Muammar Iksan. Muh. Apriansyah. Alkhai. prevalensi stunting per desa, yang kemudian diklasifikasikan ke dalam tiga kategori . endah <20% ditandai warna kuning, sedang 20Ae30% ditandai warna orange, tinggi >30% ditandai warna mera. berdasarkan standar WHO yang disesuaikan oleh penulis. Visualisasi data dilakukan menggunakan software QGIS HASIL Hasil analisis peta tingkat stunting Kecamatan Ambalawi selama tiga tahun . perubahan yang beragam di setiap desa. Beberapa wilayah mengalami perbaikan, dengan memasukkan shapefile desa, menggabungkan data stunting, serta mengatur pewarnaan dan elemen peta. Tahap akhir adalah validasi data untuk memastikan kesesuaian koordinat, batas wilayah, dan angka prevalensi, lalu hasil disimpan dalam format gambar. menunjukkan stagnansi atau bahkan peningkatan angka stunting. Analisis ini faktor-faktor berkontribusi terhadap kondisi ini. Gambar 1. Tingkat Stunting di Kecamatan Ambalawi Tahun 2020 Pada tahun 2020 jumlah balita yang stunting sebanyak 219 anak, peta Kecamatan Ambalawi memiliki tiga kategori tingkat Tingkat Stunting Tinggi (Mera. : Nipa. Rite (>50 Kasu. Tingkat Stunting Sedang (Orany. : Tolowata. Mawu. Tingkat Stunting Rendah (Kunin. : Talapiti. Kole. Gambar 2. Tingkat Stunting di Kecamatan Ambalawi Tahun 2021 Pada tahun 2021 kasus stunting menunjukkan pola yang hampir sama meningkat menjadi 233 anak, sedangkan dengan tahun 2020: Tingkat Stunting untuk distribusi tingkat stunting masih Tinggi (Mera. : Nipa. Rite (>50 kasu. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 145-152 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Spasial Prevalensi StuntingA. (Muammar Iksan. Muh. Apriansyah. Alkhai. Tingkat Stunting Sedang (Orany. Tolowata. Mawu. Tingkat Stunting Rendah (Kunin. : Talapiti. Kole. Gambar 3. Tingkat Stunting di Kecamatan Ambalawi Tahun 2022 Pada tahun 2022, kasus stunting semakin tinggi mencapai angka 317, untuk distribusi terdapat beberapa perubahan dalam tingkat stunting di Kecamatan Ambalawi: Tingkat Stunting Tinggi (Mera. : Nipa. Rite (>50 Kasu. Tingkat Stunting Sedang (Orany. Mawu. Talapiti. Tingkat Stunting Rendah (Kunin. : Kole. Tolowata. Gambar 4. Grafik Trend Prevalensi Stunting Gambar grafik menunjukkan tren peningkatan jumlah kasus stunting dari tahun 2020 hingga 2022. Pada tahun 2020, jumlah kasus stunting tercatat sekitar 219 kasus, kemudian mengalami kenaikan menjadi sekitar 233 kasus pada Lonjakan signifikan terjadi pada tahun 2022, di mana kasus stunting meningkat tajam hingga mencapai lebih dari 317 kasus. Kenaikan yang konsisten selama tiga tahun ini mencerminkan perlunya intervensi yang lebih terarah dalam aspek gizi, sanitasi, dan layanan kesehatan dasar di wilayah terkait. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 145-152 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Spasial Prevalensi StuntingA. (Muammar Iksan. Muh. Apriansyah. Alkhai. PEMBAHASAN Stunting kecenderungan berhubungan dengan kognitif, maupun sisi sosioemotional hingga meningkatkan risiko kematian pada balita. Sedangkan anak yang mempunya tinggi badan sesuai umur atau normal selalu dikorelasikan dengan usia yang panjang, rendahnya risiko terkena penyakit, gangguan kehamilan, kemampuan belajar dan kesejahteraan di usia produktif (Vonaesch. , et al. Pada gambar 1 dan 2, distribusi kasus stunting di desa-desa seperti Nipa dan Rite tetap tinggi di Kecamatan Ambalawi. Berdasarkan data Kecamatan Ambalawi dalam Angka, kedua desa ini memiliki jumlah anak balita yang cukup tinggi dan akses terhadap layanan kesehatan yang terbatas. Misalnya, di Desa Nipa hanya terdapat 1 posyandu aktif dan keterlibatan kader kesehatan kemiskinan di desa ini termasuk dalam kategori atas di kecamatan. Rendahnya edukasi gizi juga tampak dari konsumsi pangan rumah tangga yang masih bertumpu pada karbohidrat dan minim Ambalawi tersebut (Badan Pusat Statistik, 2021. Sebaliknya, desa seperti Tolowata dan Mawu dikategorikan sedang, artinya meski angka stunting masih tinggi, situasinya tidak seburuk Nipa dan Rite. Tolowata memiliki fasilitas posyandu lebih aktif dan angka partisipasi dalam mencapai 82% . Hal ini menunjukkan adanya intervensi kesehatan yang mulai berdampak meski belum optimal. Desa Talapiti dan Kole menempati kategori rendah dalam angka stunting. Ini sejalan dengan data bahwa desa-desa ini memiliki sanitasi rumah tangga yang lebih baik, akses air bersih yang mencakup lebih dari 85% rumah tangga, dan tingkat partisipasi ibu dalam program kesehatan seperti posyandu dan kelas ibu hamil juga lebih tinggi (Badan Pusat Statistik, 2021. Namun, pada gambar 3, terdapat Desa Tolowata menunjukkan perbaikan status dari kategori sedang menjadi rendah. Ini bisa dikaitkan dengan peningkatan cakupan imunisasi dan gizi balita serta lebih aktifnya program penyuluhan gizi di Sebaliknya, desa Talapiti mengalami peningkatan angka stunting, dari rendah menjadi sedang. Penurunan ini bisa disebabkan oleh faktor seperti penurunan akses ke layanan kesehatan akibat dampak ekonomi pasca pandemi COVID-19, atau karena belum adanya pemantauan tumbuh kembang anak di Data kunjungan ke posyandu di beberapa dusun di Talapiti dibandingkan tahun sebelumnya (Badan Pusat Statistik. Desa Nipa dan Rite tetap dalam kategori tinggi, menunjukkan bahwa tantangan utama dalam penanganan stunting di daerah ini masih belum Perlu intervensi yang lebih menekan angka stunting di kedua wilayah ini. Mawu tetap dalam kategori sedang, menunjukkan bahwa masih ada tantangan dalam memperbaiki status gizi anak-anak di daerah tersebut. Perubahan yang terjadi pada tahun 2022 menunjukkan bahwa meskipun ada perbaikan di beberapa wilayah, seperti Tolowata, beberapa daerah mengalami permasalahan serius, seperti Talapiti yang mengalami peningkatan angka stunting. Tren stunting di Kecamatan Ambalawi dari tahun 2020 hingga 2022 menunjukkan pola yang cenderung meningkat dengan distribusi kasus yang relatif stabil di beberapa wilayah, namun mengalami perubahan di beberapa desa. Jumlah balita stunting meningkat dari 219 anak pada tahun 2020, menjadi 233 anak pada tahun 2021, dan mencapai 317 anak pada tahun 2022. Meskipun beberapa desa menunjukkan perbaikan, secara keseluruhan angka stunting masih tinggi, terutama di wilayah tertentu yang terus berada dalam kategori risiko tinggi. Analisis ini menyoroti pentingnya memahami faktorfaktor yang mempengaruhi prevalensi Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 145-152 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Spasial Prevalensi StuntingA. (Muammar Iksan. Muh. Apriansyah. Alkhai. stunting di masing-masing desa untuk merancang intervensi yang efektif (Kemenkes RI, 2. Menurut data BPS, fluktuasi angka stunting di tiap desa di Kecamatan Ambalawi dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari sanitasi, tingkat kemiskinan, hingga partisipasi ibu dalam program kesehatan. Akses terhadap layanan kesehatan primer seperti posyandu dan puskesmas pembantu terbukti menjadi salah satu penentu utama. Desa-desa seperti Talapiti dan Kole yang memiliki fasilitas kesehatan aktif serta petugas yang responsif menunjukkan angka stunting yang lebih rendah. Sementara itu, desa Nipa dan Rite yang letaknya lebih terpencil dan minim fasilitas kesehatan memberikan layanan rutin kepada balita, seperti imunisasi, penimbangan berat badan, dan penyuluhan gizi (Badan Pusat Statistik, 2021, 2022, 2. Studi oleh Permatasari et al. di Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan primer, seperti posyandu dan puskesmas, tingginya prevalensi stunting di daerah Kurangnya fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang memadai menghambat upaya pencegahan dan penanganan stunting secara efektif. Selain layanan kesehatan, kondisi sanitasi dan akses terhadap air bersih juga memainkan peran penting. Desa Talapiti dan Kole, misalnya, memiliki cakupan akses air bersih dan jamban sehat yang lebih baik dibandingkan desadesa lain. Lingkungan yang bersih turut menurunkan risiko penyakit infeksi saluran cerna yang sering kali menjadi penyebab langsung dari gangguan penyerapan nutrisi (Kemenkes RI, 2. Sebaliknya, sanitasi yang buruk di desa seperti Rite dan Nipa memperbesar risiko paparan bakteri dan diare kronis pada anak-anak, mereka (Badan Pusat Statistik, 2. Penelitian oleh Choudhary et al. menyoroti bahwa sanitasi yang buruk dan akses terbatas terhadap air bersih meningkatkan risiko stunting pada anakanak. Lingkungan yang tidak higienis mempermudah penyebaran penyakit penyerapan nutrisi dan pertumbuhan Faktor ekonomi juga tidak dapat Desa-desa dengan tingkat kemiskinan tinggi seperti Nipa dan Rite menunjukkan pola konsumsi makanan Mayoritas penduduk hanya mengandalkan sumber karbohidrat lokal dan sangat sedikit mengonsumsi protein hewani yang esensial untuk pertumbuhan (Badan Pusat Statistik, 2. Sebaliknya, desa Tolowata yang mulai berkembang secara ekonomi melalui koperasi dan program bantuan pangan menunjukkan perbaikan dalam keragaman konsumsi rumah tangga, yang berdampak positif terhadap status gizi anak. Menurut studi oleh Lestari . , keluarga dengan tingkat kemiskinan yang tinggi cenderung memiliki pola konsumsi makanan yang Keterbatasan menyediakan makanan yang cukup dan bergizi bagi anak-anak mereka, yang dapat menyebabkan stunting. Penelitian oleh Gusnedi et al. menunjukkan bahwa status ekonomi rendah dan pendidikan ibu yang rendah merupakan faktor risiko utama stunting pada anak di Indonesia. Prabowo et al. menekankan bahwa faktor sosial seperti pentingnya gizi dan kebiasaan konsumsi pangan juga ikut berperan dalam prevalensi stunting di berbagai wilayah Indonesia. Tak kalah penting, partisipasi ibu pendidikan gizi turut menentukan kondisi gizi anak. Di desa-desa seperti Mawu dan Talapiti, ibu-ibu lebih aktif mengikuti kegiatan posyandu dan kelas ibu balita, mereka tentang pentingnya ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), serta pola makan sehat bagi Di sisi lain, rendahnya partisipasi ibu di desa-desa lain sering kali berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya kegiatan penyuluhan yang berkelanjutan. Akibatnya, praktik pemberian makanan kepada anak-anak cenderung tidak sesuai dengan standar gizi yang dianjurkan (Badan Pusat Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 145-152 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Spasial Prevalensi StuntingA. (Muammar Iksan. Muh. Apriansyah. Alkhai. Statistik, 2023. Kemenkes RI, 2. Partisipasi aktif ibu dalam program kesehatan dan pendidikan gizi, seperti kelas ibu hamil dan posyandu, berperan penting dalam menurunkan angka Edukasi yang diberikan dalam program-program meningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya gizi seimbang dan praktik pengasuhan yang sehat (Pratama et al, . Studi oleh Sari et al. menyoroti pentingnya pendidikan gizi bagi ibu dalam mencegah stunting. Selain itu Edukasi gizi disebut juga suatu cara dan upaya yang bertujuan untuk memberikan peningkatan pengetahuan gizi sekaligus menumbuhkan sikap atau perilaku pola makan sehat demi mencapai status gizi optimal dan menumbuhkan kesadaran gizi. Mardewi et al. menemukan bahwa rendahnya kesadaran ibu mengenai pemenuhan gizi anak merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya angka stunting, terutama di daerah kering seperti Nusa Tenggara Timur. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa angka stunting di Kecamatan Ambalawi meningkat dari 219 balita pada tahun 2020, 233 anak pada tahun 2021, menjadi 317 balita pada tahun 2022. Desa Nipa dan Rite memiliki prevalensi stunting yang tinggi selama periode tersebut, sementara desa Tolowata menunjukkan perbaikan, dan Talapiti mengalami peningkatan angka stunting. Faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap stunting meliputi kondisi sosialekonomi yang rendah, praktik pemberian makan yang kurang tepat, kesehatan ibu terbatasnya akses layanan kesehatan, serta sanitasi dan akses air bersih yang SARAN Perlu ada intervensi yang lebih efektif untuk mengatasi stunting di Ambalawi, pendidikan gizi bagi ibu hamil dan menyusui, perbaikan akses layanan kesehatan, serta program peningkatan sanitasi dan akses air bersih. Pendekatan multidimensi yang melibatkan semua sektor ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting secara signifikan di Kecamatan Ambalawi dan mendukung berkelanjutan (SDG. DAFTAR PUSTAKA