Volume 9 No 1 . Pages 20-30 Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya ISSN: 2621-1017 (Onlin. 2549-7928 (Prin. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/Purwadita Analisis Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Pementasan Tari Gambuh Pada Upacara Pujawali Desa Anturan Made Udayana Artama Putra 1A. Ketut Bali Sastrawan 2. Ni Wayan Murniti 3 1 Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Indonesia 2 Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Indonesia 3 Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggali nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam pementasan tari Gambuh. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis pada pelaksanaan upacara pujawali atau piodalan di desa Anturan. Kecamatan Buleleng. Kabupaten Buleleng. Menggunakan teknik purposive sampling, penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi dalam memenuhi data penelitian. Serta dianalisis menggunakan teknik Miles & Huberman yaitu data collection, reduction, data display dan conclusion drawing. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pementasan tari Gambuh memiliki berbagai bentuk atribut yang mencerminkan berbagai nilai dalam kehidupan masyarakat baik itu tempat, sarana, lakon . , pakaian dan Sebagai pementasan yang sarat makna, tari Gambuh memiliki berbagai makna yaitu sebagai tari sakral, penolak bala dan jembatan interaksi sosial masyarakat. Nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terdapat dalam sebuah pementasan tari Gambuh juga beragam meliputi nilai sikap spiritual, sopan santun, keberanian, hukum karmaphala, sikap sosial dan kompetensi. Penghayatan nilai-nilai yang terkandung dalam pementasan tari Gambuh diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang santun, sejahtera, religius dan Kata Kunci : Analisis. Tari Gambuh. Nilai Pendidikan. Agama Hindu Abstract This study aims to determine and explore the values of Hindu religious education contained in the Gambuh performance. This study is a type of qualitative research with a phenomenological approach to the implementation of the pujawali or piodalan ceremony in Anturan Village. Using purposive sampling techniques, this study uses interview, observation and documentation methods in meeting research data. And analyzed using the Miles & Huberman technique, namely data collection, reduction, data display and conclusion drawing. Based on the results of the analysis that has been carried out, it can be concluded that the implementation of Gambuh has various forms of attributes that reflect various values in people's lives, be it places, facilities, characters, clothing and accompaniment. As a performance that is full of meaning. Gambuh has various meanings, namely as a sacred dance, a ward off disaster and a bridge for social interaction in society. The values of Hindu religious education contained in a Gambuh performance also vary, including the values of spiritual attitudes, politeness, courage, karmaphala law, social attitudes and competence. The appreciation of the values contained in the Gambuh performance is expected to create a polite, prosperous, religious and cultured society. Keywords: Analysis. Gambuh. Hindu Religious. Education Values Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 20 Copyright . 2025 Made Udayana Artama Putra This is an open access article under the CCAeBY-SA license A Corresponding author: Made Udayana Artama Putra Email Address : udayana. art@gmail. Received 21 August 2025. Accepted 7 September 2025. Published 23 September 2025 DOI: https://doi. org/10. 55115/purwadita. Publisher: Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek paling dasar serta fondasi fundamental dalam kehidupan manusia dalam pengembangan kualitas dan potensi individu. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berpengetahuan, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga yang demokratis dan Menurut Marsini, pendidikan tidak terbatas pada aspek pendidikan formal di sekolah atau perguruan tinggi, melainkan mencakup pendidikan informal yang didapatkan sebagai pengalaman dalam lingkungan sosial. Salah satu bentuk pendidikan informal yang memiliki peran signifikan adalah pendidikan berbasis seni dan budaya tradisional (Marsini, 2021:. Pendidikan berbasis seni dan budaya tradisional biasanya diwujudkan melalui pelaksanaan ritual keagamaan. Pelaksanaan upacara keagamaan dalam agama Hindu didasarkan pada tiga konsep utama meliputi Tattwa (Filsafa. Susila (Etik. dan Upacara (Ritua. Melalui hal tersebut umat Hindu melaksanakan berbagai upacara keagamaan sebagai bagian dari keyakinan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. I Putu Sutirtadana menyebutkan bahwa manusia tidak hanya memiliki aspek fisik, tetapi juga spiritual yang membutuhkan penguatan melalui praktik keagamaan (Sutirtadana, 2020:. Bali sebagai daerah yang memiliki mayoritas penduduk beragama Hindu dikenal dengan kebiasan masyarakatnya yang senantiasa melaksanakan berbagai upacara. Serangkaian upacara tersebut biasanya diiringi dengan berbagai jenis tari atau pertunjukan lainnya. Seni tari Bali hingga saat ini masih dilestarikan dan dilaksanakan sesuai fungsinya baik sebagai Tari Wali. Bebali atau Balih-balihan. Salah satu pertunjukan yang erat dengan ritual keagamaan dan masih eksis pada masa kini adalah seni Gambuh. Seni pertunjukan Gambuh merupakan drama tari klasik yang memadukan unsur gerak, tembang, dialog dan sastra dalam suatu tatanan pertunjukan yang harmonis. Istilah AoGambuhAo pertama kali ditemukan dalam lontar Candra Sengkala yang menggambarkan kekaguman Sri Udayana terhadap seni tari. Gambuh sendiri lahir atas kekaguman Sri Udayana tersebut dengan memadukan seni tari dari Jawa dengan unsur seni Bali. Drama Tari ini menggunakan bahasa pengantar dalam bahasa Kawi atau bahasa Jawa Kuno. Pementasan tari Gambuh di desa Anturan dilaksanakan di Pura Desa Anturan (Kahyangan Tiga ) desa adat Anturan dalam suatu rangkaian acara piodalan sebagai bagian dari ritual keagamaan. Eksistensi seni Gambuh dalam ritual keagamaan desa adat Anturan menunjukkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ekspresi seni dan hiburan semata, namun memiliki nilai-nilai spiritual yang mendalam serta sebagai sarana edukatif bagi masyarakat khususnya generasi muda. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan bagi masyarakat dalam memperkuat spiritualitas dan pelestarian budaya tradisional serta nilai-nilai yang terkandung dapat dihayati serta diterapkan dalam usaha pengembangan karakter berbasis agama Hindu. METODE Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif karena semua data dijelaskan melalui data deskriptif dalam bentuk teks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologis yang didasarkan atas fenomena serta kebiasaan masyarakat desa Anturan. Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 21 Pendekatan ini menurut Bagus merupakan pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis kesadaran manusia terhadap suatu nilai pendidikan agama (Bagus, 2002:. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yang melibatkan pemangku, kelian adat dan masyarakat yang berkontribusi langsung dalam pelaksanaan pementasan tari Gambuh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan berbagai metode seperti observasi, wawancara dan dokumentasi serta dianalisis menggunakan teknik analisis Miles & Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Pementasan Gambuh Sejarah pementasan Gambuh tidak diabadikan dalam suatu prasasti atau buah-buah lontar tertulis, melainkan disampaikan dari mulut ke mulut tanpa diketahui awal pelaksanaan pementasan Gambuh tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan Jro Mangku Radita . menyampaikan seluk beluk Gambuh yang berasal dari kata AoGamAo dan AoEmbuhAo. AoGamAo diartikan sebagai jalan atau waktu, dan AoEmbuhAo berarti luang atau kosong. Pementasan tari Gambuh semulanya dimaknai sebagai tarian yang dipentaskan untuk mengisi waktu luang setelah pelaksanaan persembahyangan. Secara filosofis kata Gambuh juga dianggap berasal dari gabungan kata gamelan dan embuh, yang dalam konteks ini embuh diartikan sebagai AuhilangAy. Sehingga dapat diartikan gamelan embuh artinya gamelan yang hilang . angat minimalis Hal ini memang benar adanya, dibuktikan dengan penggunaan instrumen yang cukup minim seperti suling, kecek, kendang kerumpung. Perbedaan yang paling mencolok terletak pada tidak dipergunakannya gangsa yang merupakan instrumen utama dalam ansambel Bali. Menurut Jro Radita kesederhanaan inilah yang membantu pementasan tari Gambuh menonjolkan dialog dan komunikasi antar tokoh dalam tarian tanpa didominasi bunyi-bunyian dari gamelan. Pelaksanaan pementasan tari Gambuh di desa Anturan disebut diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Pan Lemek adalah seniman topeng terkenal dan merupakan leluhur desa Anturan, banyak karyanya berupa lontar dan topeng diambil Belanda pada masa penjajahan sehingga hanya menyisakan topeng Detya. Topeng Detya merupakan sesuhunan desa yang difungsikan sebagai kelika dalam tari Baris Pendet. Sejalan dengan hal tersebut, atas pawisik yang didapatkan oleh para sutri yang berisikan perintah agar pementasan tari Gambuh dijadikan sebagai tari Wali. Nilai sakral pementasan tari Gambuh semakin diperkuat dengan kehadiran topeng Detya dan akibat keyakinan warga yang menyebutkan bahwa para dewa yang berstana di Pura Kahyangan Tiga menari melalui para penari Gambuh saat pementasan berlangsung. Hal yang menambah nilai sakral dalam pementasan tari Gambuh ini terletak pada prosesi sebelum pementasan yang harus dilakukan seperti pemujaan terhadap taksu sesolahan sebagai wujud penghormatan spiritual. Dalam lontar Dharma Pegambuhan juga menyebutkan bahwa tari Gambuh memiliki tempat pemujaan khusus di pelinggih pura Desa. Pawisik sebagai dasar dipentaskannya tari Gambuh dapat dipahami sebagai manifestasi dari pengalaman emosional keagamaan. Menurut Koentjaraningrat . emosi keagamaan merupakan lonjakan perasaan yang tidak biasa dan bersifat mendalam, pengalaman emosional ini mampu menghadirkan daya tarik spiritual yang kuat hingga melahirkan tindakan atau pemikiran yang dianggap sakral oleh masyarakat. Selain bersifat sakral, tari Gambuh juga tergolong seni klasik karena dahulunya hanya dipentaskan dalam lingkungan kerajaan sebagai hiburan bagi raja. Meski sejarahnya tidak tertulis dengan pasti, tari Gambuh tetap eksis dan memberikan makna lewat cerita turun-temurun dalam praktik keagamaan yang kuat. Keyakinan bahwa tari Gambuh merupakan sarana bagi para Dewa menari melalui para penarinya menunjukkan bahwa tari Gambuh bukan sekedar pertunjukan, melainkan perwujudan pengalaman keagamaan yang suci dan mendalam. Taksu yang diterima oleh para penari menjadi penghubung dunia spiritual dan dunia nyata yang menjadikan Gambuh sebagai salah satu tari 22 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 Wali yang tidak lekang oleh waktu serta menjadi jembatan hubungan masyarakat dengan tradisi dan kepercayaan leluhur. Bentuk Pementasan Tari Gambuh Pementasan Tari Gambuh dipentaskan sebagai bagian dari rangkaian acara pujawali yang diselenggarakan di Pura Kahyangan Tiga Desa adat Anturan yang dilaksanakan pada malam hari tepatnya pada sasih Tilem Kapat. Pertunjukan ini dilakukan bertepatan dengan momen munggah canang setelah umat melaksanakan persembahyangan bersama. Adapun proses pementasan tari Gambuh yaitu persiapan tempat pementasan, persembahan sarana . , ritual upacara pra-pementasan dan pelaksanaan pementasan. Persiapan Tempat Pementasan Dalam pertunjukan tradisional Bali, tempat pementasan dikenal dengan istilah kalangan yang berarti gelanggang atau arena. Menurut I Gede Sura, kalangan merujuk pada lapangan atau area terbuka untuk menggelar pertunjukan yang dapat disaksikan oleh penonton (Untara, 2021:. Pementasan tari Gambuh dilaksanakan di jaba tengah pura dengan menyediakan tetaringan yang terbuat dari bahan alami seperti bambu dan atap dari anyaman daun kelapa. Menurut Jacobus . pelestarian budaya hanya dapat terwujud apabila budaya tersebut terus menerus dijalankan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya yang tidak dimanfaatkan dan dilestarikan lambat laun akan terlupakan dan Hal ini juga berlaku bagi alat-alat atau kekayaan benda dalam konteks budaya, apabila tidak lagi dipergunakan maka keberadaannya akan tergerus oleh waktu. Pengaturan tempat pementasan tari Gambuh yang mempertahankan nilai tradisional dengan penggunaan tetaringan dapat digolongkan sebagai upaya pelestarian budaya. Persembahan Sarana (Bante. Segala bentuk ritual dan upacara keagamaan di Bali menggunakan sarana upacara yang disebut banten. Berdasarkan lontar Tegesing Sarwa Banten menjelaskan bahwa banten merupakan persembahan yang merupakan buah dari pikiran atau pemikiran yang bersih. Berdasarkan pernyataan Jro Ketut Werda . banten yang digunakan dalam pelaksanaan pementasan tari Gambuh terdiri atas banten pejati, banten caru atau segehan pitik semulung. Banten pejati merupakan sarana dasar dalam setiap pelaksanaan upacara, banten pejati terdiri atas daksina, peras, ajuman dan tipat kelanan. Daksina dianggap sebagai esensi dari persembahan suci, peras merupakan simbol peresmian atau pengangkatan secara spiritual, ajuman bersifat penghormatan dan tipat kelanan yang terdiri atas enam buah ketupat nasi merupakan bagian pelengkap dari banten. Secara harfiah banten pejati merupakan simbol ketulusikhlasan dalam berbhakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Menurut Widiarti, banten pejati memiliki nilai filosofis dan teologis mendalam yang bertujuan untuk memperkuat keyakinan dan bentuk pengabdian demi tercapainya kebahagiaan lahir batin sesuai ajaran Dharma (Widiarti, 2022:. Dalam persiapan pelaksanaan pementasan tari Gambuh terdapat saran ritual yang khas yaitu banten caru segehan penyembelihan pitik semulung yang diletakkan di depan pangung dan dipergunakan sebagai senjata oleh para penari. Menurut Nyoman . mecaru merupakan salah satu bentuk upacara bhuta yadnya yang ditujukan untuk menetralisir kekuatan bhuta atau energi negatif yang berpotensi mengganggu kehidupan manusia. Caru Manca Warna dengan Segehan Pitik Semulung dalam pelaksanaan pementasan tari Gambuh selain sebagai sarana pembersihan dari energi negatif juga diartikan sebagai penghormatan terhadap Ida Sang Hyang Widhi dalam bentuk manifestasi-Nya sebagai Dewa Wisnu yang berperan menjaga keseimbangan alam. Caru merupakan upacara yadnya yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit. Ritual Upacara Pra-pementasan Ritual diartikan sebagai ekspresi penghormatan kepada Tuhan, para Dewa maupun leluhur dan merupakan representasi dari sistem kepercayaan mengenai keberadaan Tuhan. Ritual sebelum pementasan tari Gambuh menurut Jro Mangku Radita bertujuan untuk Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 23 menyucikan dan memohon taksu . esaktian / kesakrala. Ketut Wreda . menjabarkan bahwa ritual sebelum pementasan tari Gambuh dipimpin oleh pemangku pura Desa dan dibantu oleh pemangku lainnya dari Pura Dalem. Pura Segara dan Pura Gede Patih. Berdasarkan sloka dalam Rg Veda. IX. 21 yang berbunyi : Abhi vena anusateyaksanti pracetasah. Majjanty-avicetasah Terjemahan : Orang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa yang terpelajar mempersembahkan doa-doa dan para ahli keagamaan yang dicerahkan berniat menghaturkan yadnya. Orang yang tidak beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan orang yang bodoh akan Sloka tersebut berarti yadnya harus dipersembahkan oleh orang yang beriman dan terpelajar, sebagaimana dijelaskan oleh Sudharta . yang menyatakan bahwa pelaksanaan yadnya tidak dapat dipisahkan dari peran pemimpin upcara atau rohaniawan yang secara umum dibagi menjadi dua golongan yaitu dwijati dan ekajati (Sudharta, 2. Pelaksanaan Pementasan Setelah berbagai proses termasuk persembahan banten telah rampung, selanjutnya adalah pementasan tari Gambuh. Secara umum pementasan tari Gambuh biasanya mengangkat berbagai cerita seperti Pakang Raras. Ahmad Muhammad. Kendang Tume dan Cupak Gerantang. Berdasarkan keterangan oleh Nyoman Sugita Rupiana. Sn dalam wawancara menyampaikan bahwa lakon yang biasa dipentaskan dalam tari Gambuh di desa Anturan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng adalah Cupak Gerantang. Hal ini dikarenakan Cupak Gerantang juga memiliki fungsi ritual yang selalu dikaitkan dengan sesuhunan topeng pada tokoh Detya Menaru. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam pementasan tari Gambuh bertajuk Cupak Gerantang diantaranya yaitu Prabu. Panji. Galuh. Sesuhunan Topeng Detya Menaru. Condong (Punakawan Galu. Demang. Demung. Dagang Nasi (Penjual Nas. serta Cupak dan Gerantang. Pementasan tari Gambuh Cupak Gerantang menceritakan tentang dua bersaudara yang memiliki sifat yang berlawanan. Cupak, adalah kakak tertua dengan perawakan besar serta memiliki sifat rakus, licik dan kasar. Sedangkan adiknya Gerantang merupakan sosok yang sopan, jujur, pemaaf serta tampan dan beriwibawa. Pementasan ini menceritakan tentang sayembara oleh Prabu yang kehilangan putrinya (Galu. akibat diculik oleh Detya Menaru. Gerantang turut mengikuti sayembara tersebut dan kemudian menang melawan Detya Menaru, sebagai imbalan dari sayembara tersebut Gerantang diperkenankan untuk mempersunting Galuh dan menjadi bagian dari kerajaan. Tokoh Cupak dan Gerantang sebagai sosok yang bertolak belakang disebutkan sebagai representasi adharma dan dharma. Cerita yang diakhiri dengan kemenangan Gerantang dalam melawan Detya Menaru menunjukkan bahwa kemenangan akan hanya dicapai oleh seseorang yang berlaku baik dan mulia. Pakaian disebutkan memiliki fungsi komunikatif, artinya pakaian dapat mencerminkan diri seseorang. Thomas Carlyle (Lestari, 2014:. menyebutkan bahwa pakaian merupakan simbol dari jiwa dan termasuk bentuk komunikasi artifaktual. Komunikasi artifaktual dapat diartikan sebagai bentuk komunikasi yang disampaikan melalui elemen visual seperti busana dan aksesoris hingga penataan furniture. Karena kemampuannya menyampaikan suatu makna tanpa sebuah kata, busana dikatakan juga sebagai bentuk komunikasi non-verbal. Pakaian yang digunakan dalam pementasan tari Gambuh dibedakan atas tokoh-tokoh dan penokohan dalam drama tersebut. Prabu atau raja menggunakan pakaian yang mewah dan mencerminkan kemegahan serta wibawa, sedangkan pakaian punakawan lebih sederhana dengan menggunakan penutup kepala berupa destar. Tokoh Detya Menaru dibekali pakaian berupa saput poleng, kain kancut, awiran, celana panjang , badong dan kudung yang digunakan sebagaimana cara pakaian pertopengan namun tanpa kuku panjang yang menciptakan 24 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 suasana magis dan sakral. Bentuk perbedaan pakaian yang demikian pada setiap tokoh juga menunjukkan bentuk status sosial masing-masing tokoh. Tabuh sebagai ekspresi estetika dalam sebuah seni pertunjukan memiliki ciri khas pada setiap pementasan. Dalam pementasan tari Gambuh dimainkan disesuaikan dengan karakter tokoh yang tampil. Misalnya, saat tokoh perempuan seperti Galuh dan Condong muncul, digunakan tabuh Galuh yang berirama lembut, mencerminkan sifat halus dan anggun Demikian pula dengan kemunculan tokoh Prabu, tabuh Prabu yang digunakan juga lembut, menandakan sifat bijaksana dan penuh kasih dari seorang raja yang disayangi rakyat. Sebaliknya, saat tokoh antagonis seperti Detya Menaru tampil, iringan tabuh menjadi lebih keras dan garang, menonjolkan karakter Menaru yang keras dan jahat. Menurut Dibia (Suharta, 2019:. menyatakan bahwa tabuh bukan sekedar iringan melainkan elemen utama dalam menggambarkan dan menggerakkan tokoh, sebab irama, ritme dan dinamika iringan menjadi pedoman ritmis bagi penari. Tetabuhan yang digunakan untuk mengiringi pementasan tari Gambuh terdiri dari kendang, suling Gambuh, gender rambat, gong, petuk dan kecek. Iringan musik dalam tari Gambuh berperan sebagai unsur pengikat antara dimensi estetika dan spiritual, di mana pertunjukan seni bukan hanya bertujuan hiburan, tetapi merupakan bagian integral dari pelaksanaan upacara keagamaan. Secara keseluruhan, pementasan tari Gambuh di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Anturan merupakan sebuah ritual yang kompleks dan sarat makna. Pelaksanaan pementasan dengan lakon Cupak Gerantang tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang dharma dan adharma. Dengan demikian. Gambuh tidak sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian integral dari upacara keagamaan yang menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidup, serta menjadi wujud nyata pelestarian budaya Bali yang tak lekang oleh Makna Pementasan Tari Gambuh Makna menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai arti atau maksud perkataan (Sugono dkk. , 2. Makna dapat diartikan sebagai arti atau nilai dari suatu hal yang dapat memberikan kontribusi terhadap kehidupan masyarakat. Keberlangsungan kesenian klasik di Bali mempunyai makna dan peranan yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat Bali, terlebih bagi masyarakat yang beragama dan berbudaya. Makna pementasan tari Gambuh berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti memiliki beberapa makna diantaranya . Makna Sakral sebagai tarian wali, . Makna Penolak Bala dan . Makna Sosial. Pementasan tari Gambuh yang memiliki makna sakral oleh Nyoman Sugita Rupiana. Sn dijelaskan bahwa tari Gambuh harus dimaknai sebagai sesuhunan, bukan pertunjukan biasa. Tari Gambuh merupakan perwujudan Dewa Dewi yang berstana di pura Kahyangan Tiga. Aspek taksu dalam setiap tokoh menunjukkan hubungan spiritual antara penari dengan Hyang Taksu. Seperti adanya pelinggih Demang Demung yang dipercaya akan merasuki penari saat pementasan, tokoh Mantri sebagai bentuk perwujudan dari Ida Batara Dewa Bagus Ngurah dan Detya Menaru adalah perwujudan Dewa Gede Patih. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap penari atau tokoh dalam pementasan tari Gambuh membawa taksu dan memiliki keterikatan spiritual yang mendalam. Hubungan antara penari dan tokoh yang dimainkan bersifat suci dan wajib dijalani dengan keyakinan dan tanggung jawab adat sehingga menjadikan pementasan tari Gambuh salah satu tarian wali yang memiliki nilai sakral dalam pelaksanaan upacara keagamaan. Pementasan tari Gambuh disamping fungsinya sebagai tari Wali yang tergolong sakral dan hanya ditarikan saat pujawali di desa Anturan dengan berbagai peraturan serta tanggungjawab adat terdapat suatu pengecualian dalam pelaksanaan pementasan tari Gambuh. Berdasarkan keterangan oleh Nyoman Sugita Rupiana. Sn menyatakan bahwa pementasan tari Gambuh dapat dilakukan pada saat terjadi wabah atau gerubug. Berdasarkan penuturannya Rupiana menjelaskan bahwa hal ini telah dilakukan 30 tahun silam pada tahun 1995, disebutkan pada masa itu terdapat Aogerubug bah bedegAo artinya terjadi kematian datang Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 25 berturut-turut tanpa sebab yang jelas, baik tua, muda atau bahkan anak-anak meninggal silih Dalam kondisi tersebut masyarakat melakukan upacara Meayu-ayu di Pura Kahyangan Tiga yang diawali dengan prosesi Ngelawang Nyatur Desa berupa penyucian wilayah desa secara menyeluruh dan dilanjutkan dengan pementasan tari Gambuh. Sesaat setelah pelaksanaan upacara meayu-ayu dan berbagi prosesi lainnya wabah tersebut berhenti dan ketenangan didapatkan kembali oleh masyarakat desa Anturan. Meskipun tidak dapat dijelaskan secara ilmiah keyakinan masyarakat Desa Anturan tidak dapat diragukan lagi bahkan cenderung tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Masyarakat desa Anturan meyakini apabila pementasan tari Gambuh tidak dilaksanakan akan ada malapetaka yang terjadi sebagai dampak dari tidak dipentaskannya tari Gambuh dalam upacara pujawali di Pura Kahyangan Tiga. Makna sosial dipahami sebagai nilai yang digunakan dalam tatanan hubungan atau pergaulan manusia demi kelangsungan hidupnya. Nilai tersebut dipergunakan untuk mengatur, membina dan mengarahkan kepada terciptanya hubungan yang selaras dan Dalam konteks ini pementasan tari Gambuh disebutkan memiliki makna sosial yang menurut I Nyoman Sugita Rupiana yaitu menimbulkan interaksi antar masyarakat dalam runtutan proses pelaksanaan mulai dari persiapan hingga pementasan. Makna sosial tersebut terlihat ketika masyarakat saling membantu serta bergotong royong untuk menyelesaikan kegiatan keagamaan termasuk pementasan tari Gambuh. Masyarakat Desa Anturan memiliki tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dasar tertentu sama menerimanya sebagai suatu hal yang mutlak benar, sehingga keberagaman masyarakat tidak memecah masyarakat dalam kehidupan sosial. Masyarakat terdiri dari beberapa soroh, ada yang berasal dari soroh Pasek Gelgel. Arya dan sebagainya, untuk mementaskan tari Gambuh ini diperlukan sekitar 9-10 penari dan berasal dari keluarga yang berbeda. Pementasan tari Gambuh di desa adat Anturan memiliki makna yang mendalam dan multidimensional bagi masyarakat. Tari Gambuh memiliki makna sakral sebagai tarian wali dan perwujudan Dewa Dewi, di mana setiap penari membawa taksu dan memiliki keterikatan spiritual yang mendalam dengan tokoh yang diperankan, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari upacara keagamaan. Tari Gambuh juga berfungsi sebagai penolak bala, dipentaskan saat terjadi wabah atau "gerubug" sebagaimana yang pernah terjadi pada 30 tahun Selain itu tari Gambuh memiliki makna sosial, memupuk interaksi dan gotong royong antar masyarakat dari berbagai soroh dalam proses persiapan hingga pementasan, memperkuat keharmonisan sosial demi kelangsungan hidup bersama. Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Pelaksanaan Gambuh Teori Nilai dalam filsafat dibagi menjadi dua bagian yaitu: . Nilai etika atau moral berhubungan dengan masalah moral yang dipandang dari berbagai perspektif, dan . Nilai estetika berkaitan dengan penilaian subjektif terhadap suatu objek berdasarkan aspek keindahannya (Zakiyah & Rusdiana, 2. Penanaman nilai-nilai kehidupan tidak hanya berlangsung di sekolah tetapi juga di lingkuangan keluarga dan masyarakat, sehingga nilainilai kehidupan menuju bangsa yang bermartabat dan berbudaya akan terwujud(Kosasih. Endang Sumantri . juga berpendapat bahwa nilai-nilai berakar pada bentuk kehidupan yang tradisional dan keyakinan agama serta berkembang bersamaan dengan aspek politik yang dapat mempengaruhi perubahan sikap penduduk. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan adapun bentuk nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang tercermin dalam pementasan tari Gambuh berdasarkan Tri Kerangka Dasar diantaranya : Nilai Tattwa dalam Pementasan Tari Gambuh . Nilai Sikap Spiritual Dikenal sebagai sikap keagamaan, nilai sikap spiritual disebut berkaitan erat dalam membentuk jiwa yang religius. Menurut Daryanto dan Sujendro . aspek spiritualitas berguna untuk membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha 26 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 Esa. Berdasarkan penuturan oleh Jro Mangku Radita pementasan tari Gambuh dimulai dengan pengucapan AoOm SwastyastuAo sebagai pembuka kalimat. AoOm SwastyastuAo merupakan ucapan pembuka yang digunakan oleh umat Hindu sebagai bentuk penghormatan. Salam tersebut diawali kata Om yang merupakan diftongisasi dari kata Aum yang merupakan perwakilan aksara dari ketiga aspek Tri Murti yaitu Ang. Ung dan Mang. Yahya menyatakan bahwa kata Om dimaknai sebagai panggilan atau simbol spiritual dalam pemujaan Tuhan. Berikutnya adalah kata Swasti yang berarti keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, sementara kata Astu yang mengikutinya berarti semoga. Sehingga Om Swastyastu dapat dipahami sebagai salam yang mengandung harapan agar Tuhan senantiasa melimpahkan kebahagiaan, keselamatan dan kesejahteraan (Nurhadi dkk. , 2. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengucapan Om Swastyastu merupakan bentuk sikap spiritual masyarakat Hindu, dan pementasan tari Gambuh baik dalam proses persiapan dan pelaksanaan senantiasa menjunjung tinggi nilai spiritualitas yang ditandai dengan melakukan pemujaan atau persembahyangan sebelum pelaksanaan hingga pengucapan Om Swastyastu sebagai bentuk doa memohon keselamatan untuk diri sendiri dan orang lain. Nilai Hukum Karmaphala Hukum karmaphala tergambar dalam pementasan tari Gambuh melalui peran tokoh Cupak dan Gerantang. Gerantang digambarkan sebagai sosok yang selalu bertindak baik, sehingga memperoleh hasil yang positif dari perbuatannya. Sebaliknya. Cupak diperlihatkan sebagai tokoh pemalas, tamak, dan penuh tipu daya. Akibat dari sifat buruk dan perilaku curangnya, ia mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan. Selain itu, kemalasan dan kebiasaan buruknya membuat penampilannya kotor dan tidak menarik, sehingga Galuh atau sang Putri merasa enggan. Subrata . menyatakan bahwa perbuatan baik akan membawa dampak yang baik pula, begitu pula sebaliknya perbuatan yang buruk akan memberikan dampak yang buruk. Hal ini sejalan dengan konsep hukum karmaphala yang mengajarkan bahwa setiap individu akan menerima suatu hasil atas dasar perbuatannya sendiri. Hukum karmaphala sebagai hukum tabur tuai memberikan pedoman bagi setiap individu untuk tetap berbuat baik atas dasar Dharma. Nilai Susila dalam Pementasan Tari Gambuh . Nilai Sopan Santun Pertiwi . menyatakan bahwa perilaku sopan santun merupakan peraturan yang timbul akibat pergaulan sekelompok manusia dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari masyarakat tersebut. Setianti, dkk. , . menyatakan bahwa sikap sopan santun merujuk pada sikap saling menghormati, tertib sesuai adat yang baik, beradab, serta memiliki perilaku yang baik, dan santun yang berarti memiliki empati, penuh kasih sayang, serta suka Sikap sopan santun dalam pementasan tari Gambuh ditunjukkan ketika Condong dan Galuh berkomunikasi. Condong selaku bawahan menunjukkan sikap hormat, sedangkan Galuh tidak merendahkan Condong dan memanggilanya kakak untuk menghormati Condong yang lebih tua. Condong : Oh. Dewa Ratu, betaran titiang palungguh cokorda Ratu. Inggih duwaning semeng ketangkil antuk titiang Sapunapi pikayun palungguh cokor I dewa? Durus nikain titian Ratu titiang. (Oh Tuan Putri junjungan hamba. Kenapa pagi-pagi saya disuruh menghadap Apa keinginan Tuan Putri? Silahkan beritahu, supaya saya tah. Galuh : Ya kakak ni condong (Oh kakak Condon. Condong : Titiang Dewa Ratu Titiang (Ya Say. Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 27 Galuh Condong : Lah tinagih kawingking, ingsun bipraya lumarisa (Kebelakanglah saya akan berjala. : Inggih Ratu (Baikla. Percakapan antara tokoh Condong dan Galuh mencerminkan hubungan antara atasan dan bawahan yang tetap dilandasi rasa hormat. Tindakan ini mencerminkan nilai sopan santun, karena kedua tokoh sama-sama menunjukkan sikap saling menghormati. Sopan santun ini mencerminkan perilaku menghargai sesama, tanpa memandang status sosial, kekayaan, ataupun kekuasaan. Sikap tersebut diwujudkan dalam tindakan yang menghormati dan memuliakan orang lain, serta mencerminkan hubungan etis dengan diri sendiri (Titib & Sapariani, 2. Nilai Keberanian Pementasan tari Gambuh di dessa Anturan memuat berbagai nilai, salah satunya adalah nilai keberanian yang tercermin ketika Gerantang menghadapi Detya Menaru, sosok yang telah menculik putri Galuh. Dalam konteks ini. Gerantang menjadi representasi dari kekuatan kebenaran yang tak gentar menghadapi kejahatan. Meskipun Menaru digambarkan sangat kuat dalam pementasan tari Gambuh. Gerantang tetap teguh. Keberaniannya muncul karena niat membela kebenaran dan melindungi pihak yang tertindas oleh kezaliman Menaru, apalagi tokoh jahat tersebut telah menculik Galuh, putri dari sang raja. Tindakan Gerantang menjadi teladan bagi masyarakat untuk tetap berani memperjuangkan kebenaran, meskipun harus menghadapi risiko besar. Nilai Sikap Sosial Sikap sosial merujuk kepada kemampuan seorang individu sebagai makhluk sosial, artinya manusia saling berinteraksi dan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam pementasan tari Gambuh sikap sosial tidak hanya ditunjukkan melalui bentuk kerjasama masyarakat dalam perihal persiapan pementasan saja. Pementasan tari Gambuh sendiri pun mencerminkan nilai-nilai sosial yang serupa, hal ini ditunjukkan pada bagian ketika Prabu yang meminta saran serta masukan dari Patih Kartala sebelum memutuskan suatu kebijakan atau keputusan. Hal ini menunjukkan pentingnya musyawarah untuk mufakat sebagai bagian dari sikap mementingkan kepentingan bersama. Dicerminkannya sikap sosial melalui dijunjungnya kepentingan bersama menekankan kembali eksistensi tari Gambuh selain sebagai tari Wali yang merupakan kekayaan sakral di desa Anturan juga berfungsi sebagai pedoman moral bagi masyarakat dalam setiap bagian cerita yang diangkat. Nilai Kompetensi Kompetensi merupakan kapasitas seseorang dalam menjalankan tugas atau pekerjaan tertentu yang didasari pengetahuan, keterampilan dan ditunjang oleh sikap kerja yang selaras dengan profesi yang dijalani (Cindy dkk. , 2. Kompetensi sangat diperlukan dalam menentukan penari yang akan menarikan Gambuh. Penari yang memiliki keahlian akan lebih mudah dibimbing dan dilatih untuk mempertunjukkan pementasan ini dengan baik. Selain itu kompetensi menjadi hal yang sangat penting sebab mengingat pementasan tari Gambuh dipandang sebagai tarian yang memiliki nilai kesucian dan spiritualitas tinggi. Nilai Upacara dalam Pementasan Tari Gambuh Tari Gambuh di Desa Anturan pada dasaranya memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ritual keagamaan khususnya pada upacara piodalan atau pujawali di pura Kahyangan Tiga Desa Anturan, statusnya sebagai tari sakral menegaskan fungsinya sebagai bagian dari Upacara yaitu sebagai bentuk pementasan dalam Upacara Yadnya yang dapat menyucikan tempat dan memperlancar jalannya upacara. Selain sebagai bentuk pementasan utama dalam pelaksanaan upacara pujawali di desa Anturan, melalui gerak dan tembangnya tari Gambuh menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan para dewa dan leluhur. Pementasan tari 28 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 Gambuh juga memiliki kekuatan untuk menyucikan energi negatif dan menciptakan keseimbangan spiritual di lingkungan sekitar desa Anturan sejalan dengan fungsinya sebagai penolak bala. Aspek upacara lainnya dalam pementasan tari Gambuh secara rinci telah disampaikan dalam pembahasan ritual dan upacara pementasan tari Gambuh yang terdiri atas persiapan tempat, mapiuning dengan menggunakan caru segehan dengan melakukan penyembelihan pitik semulung . nak ayam berwarna hita. yang melambangkan penghormatan terhadap Ida Sang Hyang Widhi dalam bentuk Dewa Wisnu yang berperan menjaga alam. Selain itu penggunaan banten pejati sebagai sarana wajib dalam upacara yadnya yang melambangkan persembahan suci yang tulus ikhlas dan suci guna memperkuat keyakinan dan pengabdian demi tercapainya kebahagiaan lahir dan batin sesuai ajaran dharma. Tari Gambuh merupakan sebuah pertunjukan dan ritual sakral yang sarat makna dan memiliki kekuatan spiritual yang tinggi. Pelestarian tari Gambuh sebagai kekayaan non-benda yang bersifat sakral serta penghayatan mendalam mengenai nilai-nilai yang ada di dalamnya akan membantu masyarakat untuk lebih memaknai tari Gambuh sebagai pedoman dalam segala hal meliputi kehidupan spritual dan sosial masyarakat. Penerapan nilai-nilai pendidikan agama Hindu dalam pementasan tari Gambuh akan membawa masyarakat yang santun, religius dan berbudaya sejalan dengan tujuan pendidikan. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian melalui analisis nilai pendidikan agama Hindu dalam pementasan tari Gambuh di desa Anturan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, dapat ditarik sebuh kesimpulan bahwa tari Gambuh menjadi unik bukan hanya karena eksistensinya sebagai pertunjukan sakral. Namun yang menjadikannya istimewa adalah setiap bentuk, tokoh dan prosesnya memiliki berbagai makna yang jika dihayati secara sungguh-sungguh akan membawa masyarakat pada kesejahteraan dan keharmonisan seperti makna pementasan tari Gambuh sebagai tari sakral, penolak bala dan jembatan interaksi sosial masyarakat Hindu di Anturan. Adapun prosesi pementasan tari Gambuh dimulai dari persiapan tempat, penyediaan banten, ritual pra-pementasan dan pelaksanaan pementasan tari Gambuh. Sarana yang digunakan juga menyirat artikan persembahan suci dan memohon keseimbangan antara dunia atas dan bawah serta keseimbangan kosmik antara bhuana agung dan bhuana alit. Setiap bentuk dalam pementasan tari Gambuh menunjukkan berbagai suasana hingga nilai-nilai. Nilai-nilai yang tercermin dalam pementasan tari Gambuh berdasarkan Tiga Kerangka Dasar agama Hindu yaitu Tattwa. Susila dan Upacara diantaranya meliputi nilai sikap spiritual, nilai sikap sosial, nilai keberanian, nilai sopan santun, nilai hukum karmaphala dan nilai Pementasan tari Gambuh tidak hanya menekankan keberadaannya sebagai tari sakral yang wajib dilakukan, melainkan secara tersirat tari Gambuh merupakan pedoman moril bagi setiap pelaksananya. DAFTAR PUSTAKA