Available online at: http://unikastpaulus. id/jurnal/index. php/jrt/ Randang Tana: Jurnal Pengabdian Masyarakat E-ISSN: 2622-0636 Volume 9. No 2. Mei 2026 . DOI: https://doi. org/10. 36928/jrt. Efektivitas Pendampingan Penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Sekolah Luar Biasa di Manggarai Fransiskus Sawan1. Kristianus Viktor Pantaleon2. Marselinus Robe3 1Universitas Katolik Indonesia. Jalan Ahmad Yani No. Ruteng. Flores. NTT. Indonesia e-mail: fsawan513@gmail. christianvictor1979@gmail. manchestydero2017@gmail. Abstrak Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) merupakan komponen strategis dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Dalam praktiknya banyak guru, khususnya di Sekolah Luar Biasa (SLB), masih mengalami kesulitan untuk memahami dan menyusunnya secara sistematis. Permasalahan ini juga dialami oleh guru-guru dari empat SLB di Kabupaten Manggarai, yaitu SLB A Karya Murni. SLB B Karya Murni. SLB Santa Damian, dan SLB Negeri Tenda. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis efektivitas pendampingan penyusunan KOSP dalam meningkatkan kompetensi guru pada aspek pemahaman dan keterampilan. Metode yang digunakan adalah pendampingan berbasis praktik dengan desain pretestAeposttest terhadap 40 peserta. Pengumpulan data dilakukan melalui angket pretest dan posttest, serta kuesioner evaluasi proses. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor rata-rata pemahaman dan keterampilan guru dari 1,9163 pada pretest menjadi 4,4378 pada posttest. Hasil uji t menunjukkan nilai signifikansi p < 0,05. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah Lebih dari itu, hasil evaluasi proses pendampingan mendapat skor dengan kategori sangat baik, yaitu 4,344. Temuan ini menunjukkan bahwa pendampingan berbasis praktik efektif dalam meningkatkan kompetensi guru dalam penyusunan KOSP. Oleh karena itu, model pendampingan ini direkomendasikan untuk diterapkan secara berkelanjutan dan diperluas pada satuan pendidikan lain. Kata kunci: KOSP. kompetensi guru. sekolah luar biasa. The Effectiveness of Assistance in Developing School Operational Curricula in Enhancing the Competencies of Special Education School Teachers in Manggarai Abstract The School Operational Curriculum (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan/KOSP) is a strategic component in the implementation of the Merdeka Curriculum. However, in practice, many teachers particularly those in special education schools still encounter difficulties in understanding and systematically developing it. This issue was also identified among teachers from four special education schools in Manggarai Regency, namely SLB A Karya Murni. SLB B Karya Murni. SLB Santa Damian, and SLB Negeri Tenda. This community service activity aimed to analyze the effectiveness of mentoring in developing the school operational curriculum to enhance teachersAo competencies in terms of both conceptual understanding and practical skills. The method employed was practicebased mentoring using a pretestAeposttest design involving 40 participants. Data were collected through pretest and posttest questionnaires, as well as a process evaluation 69 | Randang Tana: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. E-ISSN: 2622-0636 Fransiskus Sawan1. Kristianus Viktor Pantaleon2. Marselinus Robe3 The data were analyzed using descriptive and inferential statistics, including a paired sample t-test. The results indicated a significant increase in the average scores of teachersAo understanding and skills, from 1. 9163 in the pretest to 4. 4378 in the The t-test results showed a significance value of p < 0. 05, indicating a statistically significant difference before and after the mentoring intervention. Furthermore, the evaluation of the mentoring process yielded a very good category score These findings demonstrate that practice-based mentoring is effective in improving teachersAo competencies in developing the school operational curriculum. Therefore, this mentoring model is recommended for continuous implementation and broader application across other educational institutions. Keywords: KOSP. teacher competence. special education schools. Merdeka Curriculum PENDAHULUAN Kemandirian sekolah dalam merancang Kurikulum Operasional Sekolah (KOSP) yang kontekstual menjadi tuntutan yang harus dipenuhi sebagai satu langkah strategis Kurikulum Merdeka. KOSP merupakan dokumen strategis yang memuat visi, karakteristik satuan pendidikan, perencanaan pembelajaran, serta pengorganisasian pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik (Kemenbudristek, 2. Dalam konteks Sekolah Luar Biasa (SLB), penyusunan KOSP menjadi hal yang lebih kompleks. Keragaman karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus merupakan hal yang harus diakomodir dalam KOSP. Konsekuensinya, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, tidak saja untuk memahami konsep kurikulum, tetapi juga terampil menyusun dan mengadaptasikannya secara kontekstual (Kurniawati et al. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak guru masih memiliki keterbatasan dalam memahami struktur dan komponen KOSP. Guru juga belum sepenuhnya mampu menyusun dokumen kurikulum secara sistematis (Khoirunnisa et al. Kondisi ini terlihat dari keterbatasan guru dalam merumuskan berbagai komponen kurikulum secara terstruktur (Amri et al. , 2. Realitas ini juga dialami oleh guruguru SLB di Kabupaten Manggarai, yaitu SLB A Karya Murni. SLB B Karya Murni. SLB Santa Damian, dan SLB Negeri Tenda. Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam merumuskan capaian pembelajaran (CP), tujuan pembelajaran (TP), alur tujuan pembelajaran (ATP), serta dalam mengintegrasikan karakteristik peserta didik ke dalam perencanaan pembelajaran. Pengalaman guru dalam penyusunan KOSP juga masih terbatas. Hal ini berdampak pada kurangnya tingkat pemahaman dan keterampilan dalam implementasi kurikulum. Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, diperlukan suatu strategi pendampingan yang tepat. Pola pendampingan yang bersifat teoritis tidaklah memadai. Peserta perlu mendapat pengalaman praktik Pendampingan berbasis praktik dinilai efektif dalam (Kurniawan et al. , 2. , karena melibatkan proses belajar aktif (Panuluh, 2. melalui diskusi, kerja kelompok, dan praktik langsung dalam menyusun dokumen KOSP. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran andragogi yang relevansi, dan keterlibatan aktif peserta dalam proses pembelajaran (Dewi et al. , 2. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini didesain dalam bentuk pendampingan secara sistematis penyusunan KOSP. Guru-guru SLB dilibatkan secara langsung dalam 70 | Randang Tana: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. E-ISSN: 2622-0636 Efektivitas Pendampingan Penyusunan KurikulumA proses perencanaan dan penyusunannya. Tujuannya agar kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, melainkan juga aspek keterampilan Menyusun KOSP sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan. Model pendampingan ini diharapkan berdampak nyata terhadap peningkatan kualitas perencanaan pembelajaran di SLB. Sejalan dengan tujuan tersebut, efektivitas pendampingan penyusunan KOSP dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru di Sekolah Luar Biasa akan dianalisis dengan pendekatan kuantitatif. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat model praktik baik dalam penguatan kompetensi guru, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan khusus. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk pendampingan penyusunan KOSP bagi guru Sekolah Luar Biasa (SLB). Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 2Ae3 Juni 2024 di Kabupaten Manggarai dengan melibatkan empat satuan pendidikan, yaitu SLB A Karya Murni. SLB B Karya Murni. SLB Santa Damian, dan SLB Negeri Tenda. Jumlah guru yang terlibat sebagai subjek kegiatan sebanyak 40 Mereka adalah guru-guru pada keempat sekolah tersebut. Kegiatan pendampingan dijalankan dengan pendekatan berbasis praktik langsung. Peserta dituntut aktif terlibat dan mengikuti . penyampaian konsep dasar KOSP. diskusi dan tanya jawab. kerja kelompok dalam menyusun dokumen KOSP, termasuk perumusan capaian pembelajaran (CP), tujuan pembelajaran (TP), dan alur tujuan pembelajaran (ATP). presentasi hasil dan refleksi bersama. Pendekatan ini dirancang dengan tujuan mengintegrasikan pemahaman konseptual tentang KOSP dan keterampilan praktis peserta untuk Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen pretest dan Instrumen disusun dalam bentuk angket skala Likert . Ae. , serta kuesioner evaluasi proses Instrumen pretest dan posttest dibuat untuk mengukur pemahaman tentang KOSP dan keterampilan untuk menyusunnya. Aspek melalui delapan indikator, yaitu: . pemahaman konsep dasar KOSP dan . pemahaman tujuan penyusunan KOSP. pemahaman KOSP dengan karakteristik siswa SLB. pemahaman perbedaan antara KOSP dan kurikulum nasional. pemahaman langkah-langkah penyusunan KOSP. pemahaman Rencana Pembelajaran Individual (RPI). pemahaman komponen utama dalam RPI. pemahaman dalam menentukan tujuan pembelajaran individual. Sementara itu, aspek keterampilan diukur dengan indikator: . kemampuan menyusun profil sekolah dalam KOSP. kemampuan mengidentifikasi karakteristik siswa. kemampuan menentukan tujuan pendidikan sesuai kebutuhan siswa. kemampuan menyusun struktur program pembelajaran. kemampuan mengidentifikasi kebutuhan individual siswa dalam RPI. pembelajaran individual. kemampuan memilih metode pembelajaran yang sesuai. kemampuan menyusun kriteria penilaian. kemampuan RPI serta . kemampuan menyesuaikan rencana pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi. Data dianalisis dengan teknik deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui nilai rata-rata tingkat pemahaman dan keterampilan guru baik sebelum, maupun sesudah pendampingan. Sementara itu, analisis inferensial dilakukan menggunakan uji t 71 | Randang Tana: Jurnal Pengabdian Masyarakat. E-ISSN: 2622-0636 Fransiskus Sawan1. Kristianus Viktor Pantaleon2. Marselinus Robe3 aired sample t-tes. untuk menguji signifikansi perbedaan antara hasil pretest dan Hasil analisis ini digunakan untuk menentukan efektivitas pendampingan dalam meningkatkan kompetensi guru dalam penyusunan KOSP HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penyelenggaraan Kegiatan Hasil pengukuran awal melalui pretest menunjukkan bahwa tingkat pemahaman dan keterampilan guru dalam penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) masih berada pada kategori rendah. Rata-rata skor total pemahaman dan keterampilan guru hanya sebesar 1,9163 pada skala 1Ae5. Hasil ini menunjukkan rendahnya kompetensi sebagian besar guru dalam baik secara konseptual . maupun faktual . ingkat ketrampilan untuk mempraktikkanny. Hasil telaahan yang lebih mendalam menunjukkan aspek pemahaman mendapat skor yang menunjukkan keterbatasan dalam penguasaan konsep dasar KOSP, tujuan penyusunan, serta keterkaitannya dengan karakteristik peserta didik di SLB. Sementara itu, pada aspek keterampilan, guru umumnya mengalami kesulitan dalam menyusun komponen teknis seperti capaian pembelajaran (CP), tujuan pembelajaran (TP), dan alur tujuan pembelajaran (ATP), serta dalam mengintegrasikan Rencana Pembelajaran Individual (RPI) ke dalam dokumen kurikulum. Hal ini menegaskan ketidaksiapan guru dalam Menyusun KOSP secara mandiri dan sistematis. Setelah pelaksanaan kegiatan pendampingan, terjadi peningkatan yang sangat signifikan pada tingkat pemahaman dan keterampilan guru. Hasil posttest menunjukkan bahwa rata-rata skor meningkat menjadi 4,4378 untuk skala 1-5. Hasil ini berada pada kategori sangat baik. Data perubahan substansial pada kompetensi pemahaman maupun ketrampilan. Peningkatan kompetensi guru dalam aspek pemahaman terjadi pada indikator struktur dan komponen KOSP, serta langkah-langkah penyusunannya secara sistematis. Sementara itu, peningkatan pada aspek keterampilan, ditunjukkan dalam kemampuan guru untuk menyusun profil sekolah, mengidentifikasi karakteristik peserta didik, merumuskan tujuan pembelajaran, serta mengembangkan RPI yang relevan dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Jadi pendampingan terbukti efektif meningkatkan pemahaman dan ketrampilan guru Menyusun KOSP. Tingkat signifikansi peningkatan yang terjadi, telah diuji melalui uji t berpasangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata pretest sebesar 38,34 meningkat menjadi 75,7 pada posttest. Nilai t hitung sebesar -23,137 dengan nilai signifikansi p < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kondisi sebelum dan sesudah pendampingan. Secara statistik, peningkatan intervensi berupa pendampingan sistematis yang diberikan. Jadi kegiatan pendampingan penyusunan KOSP efektif meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru. Selain mengukur efektivitas pendampingan, evaluasi juga dilakukan terhadap proses pelaksanaan kegiatan pendampingan. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor sebesar 4,344 atau setara dengan 86,89% dari skor maksimal, yang berada pada kategori sangat baik. Dengan demikian, peserta menilai proses pendampingan berlangsung 72 | Randang Tana: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. E-ISSN: 2622-0636 Efektivitas Pendampingan Penyusunan KurikulumA secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Peserta mendapatkan tingkatan pemahaman yang memadai dan mampu mempraktikkan dalam konteks penyusunan KOSP. Pendekatan berbasis praktik, diskusi kelompok, dan presentasi berdampak pada peningkatan kompetensi guru dalam Menyusun KOSP. Dengan demikian, hasil evaluasi memperlihatkan bahwa keberhasilan kegiatan tidak hanya terlihat dari peningkatan hasil pendampingan, tetapi juga dari kualitas proses pendampingan yang mendapat respons positif dari peserta. Pembahasan Hasil Efektivitas Pendampingan Efektivitas pendampingan penyusunan KOSP dalam kegiatan ini disimpulkan dari adanya peningkatan skor pemahaman dan keterampilan guru. Rata-rata skor secara signifikan dari 1,9163 pada pretest menjadi 4,4378 pada posttest Lonjakan ini tidak hanya mencerminkan peningkatan pengetahuan konseptual, tetapi juga menunjukkan adanya perkembangan keterampilan praktis dalam menyusun KOSP, termasuk dalam merumuskan capaian pembelajaran (CP), tujuan pembelajaran (TP), alur tujuan pembelajaran (ATP), serta integrasi Rencana Pembelajaran Individual (RPI). Hal ini sejalan dengan temuan penelitian terdahulu yang memperlihatkan bahwa pelatihan yang mengintegrasikan teori dan praktik efektif untuk meningkatkan keterampilan (Darling-hammond et al. Hal ini sejalan juga dengan penelitian lain yang menegaskan bahwa pendekatan pendampingan berbasis praktik mampu menjawab kebutuhan nyata guru, dalam mengatasi kesenjangan antara pemahaman teoritis dan keterampilan aplikatif (El et al. , 2. Efektivitas pendampingan juga diperkuat oleh hasil uji statistik yang sangat signifikan antara skor sebelum dan sesudah kegiatan. Nilai t hitung sebesar -23,137 dengan pvalue sebesar 4,99992E-28 . < 0,. menegaskan bahwa peningkatan kebetulan, melainkan merupakan dampak langsung dari intervensi yang diberikan. Secara ilmiah, hasil ini menunjukkan bahwa model pendampingan yang digunakan memiliki kekuatan intervensi yang tinggi dalam meningkatkan kompetensi guru baik dalam hal pemahaman maupun keterampilan. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa program pengembangan profesional guru menghasilkan peningkatan yang signifikan dan dapat diatribusikan pada intervensi yang dilakukan (Visscher et al. Kegiatan pendampingan juga terbukti berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kinerja guru (Kyomugisha. Assimwe, 2025. Oribhabor, 2. Faktor Keberhasilan Salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan kegiatan pendampingan ini terletak pada pendekatan yang tepat dan sesuai kebutuhan peserta. Penerapan pendekatan praktik langsung dalam proses pembelajaran terbukti efektif. Dengan pendekatan ini, guru tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga terlibat secara aktif dalam menyusun dokumen KOSP sesuai konteks nyata sekolah. Melalui kegiatan kerja kelompok dan praktik penyusunan, peserta mendapatkan pengalaman langsung dalam menyusun capaian pembelajaran (CP), tujuan pembelajaran (TP), alur tujuan pembelajaran (ATP), serta Rencana Pembelajaran Individual (RPI). Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan Model pendampingan ini memungkinkan peserta menghasilkan produk pembelajaran yang kontekstual serta 73 | Randang Tana: Jurnal Pengabdian Masyarakat. E-ISSN: 2622-0636 Fransiskus Sawan1. Kristianus Viktor Pantaleon2. Marselinus Robe3 meningkatkan kolaborasi antar guru (Suniati et al. , 2. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip andragogi yang menekankan pengalaman langsung dan keterlibatan aktif peserta dalam proses belajar bagi (Kurniawan et al. , 2. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang menggarisbawahi bahwa pembelajaran berbasis praktik terbukti efektif untuk meningkatkan keterampilan peserta (Panuluh, 2. Keberhasilan juga didukung oleh adanya kolaborasi antar guru selama kegiatan Melalui interaksi dalam kelompok, peserta saling bertukar pengalaman dan strategi pembelajaran, pembelajaran yang lebih aktif dan partisipatif (Raya, 2. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya pemahaman peserta, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang partisipatif dan reflektif. Selain itu, kolaborasi juga terbukti meningkatkan efektivitas pembelajaran serta mendorong refleksi terhadap praktik yang dilakukan (Sambella & Hanafi. Secara teoretis, pembelajaran kolaboratif mampu meningkatkan interaksi, kemampuan reflektif, serta pemecahan masalah secara bersama, sehingga memperkaya pemahaman peserta (Oktavia & Kana, 2. Dalam konteks SLB, kolaborasi antar guru menjadi sangat penting untuk saling berbagi strategi pembelajaran yang kontekstual dan adaptif dengan keberagaman karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Keberhasilan kegiatan ini juga dipengaruhi oleh faktor pendampingan yang dilakukan secara intensif dan terstruktur. Hal ini sejalan dengan penelitian yang pendampingan memastikan peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan. tetapi mampu menga- plikasinya dalam praktik penyusunan KOSP (Wahyuni et al. , 2. Kehadiran tim pendamping yang secara aktif memberikan arahan, umpan balik, dan klarifikasi selama proses kegiatan membantu peserta dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi (Marpaung et al. , 2. Secara lebih luas, mentoring yang meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui pendekatan reflektif dan Dengan demikian, kombinasi antara praktik langsung, dan kunci utama dalam meningkatkan efektivitas kegiatan pengabdian ini. Dampak Nyata Dampak nyata dari kegiatan pendampingan ini adalah guru mampu menyusun KOSP yang sesuai dengan konteks sekolah masingmasing. Hasil pendampingan ini sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan pendampingan yang terstruktur mampu meningkatkan kemampuan guru dalam mengimplementasikan kurikulum secara sistematis dan aplikatif (Mujianto et al. , 2. Pendampingan berbasis praktik langsung juga membantu guru dalam memahami dan menyusun perencanaan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku (Mujianto et Secara pendampingan terbukti meningkatkan kompetensi guru pada aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, yang pada gilirannya berdampak nyata terhadap praktik pembelajaran di sekolah (Dangku et al. , 2. Guru juga menunjukkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap alur dan struktur kurikulum, khususnya dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka di SLB. Guru semakin memahami 74 | Randang Tana: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. E-ISSN: 2622-0636 Efektivitas Pendampingan Penyusunan KurikulumA bahwa kurikulum merupakan kerangka kerja yang dinamis dan adaptif terhadap kebutuhan peserta Pemahaman ini tercermin dalam kemampuan guru mengaitkan tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar, serta mengintegrasikannya dengan Rencana Pembelajaran Individual (RPI) sebagai bagian penting dalam pembelajaran di SLB. Tampak adanya pergeseran paradigma dari kurikulum sebagai dokumen administratif menjadi kerangka pembelajaran yang dinamis dan adaptif. Hal ini sejalan dengan penekanan Kurikulum Merdeka pada pembelajaran fleksibel dan berpusat pada peserta didik (Dewi & Yoenanto. Hal ini juga sesuai dengan tuntutan agar guru memahami keterkaitan antara capaian pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran (Sari et al. , 2. Dalam konteks pendidikan khusus, pembelajaran dituntut harus sesuai dengan karakteristik individual siswa berkebutuhan strategi, metode, dan evaluasi, yang mengedepankan integrasi perencanaan pembelajaran individual dalam praktik pembelajaran (Putri, 2. Guru juga terlihat semakin kompeten dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih relevan, fleksibel, dan berpusat pada peserta Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran sesuai kebutuhan individual siswa, memilih metode yang sesuai, serta menyesuaikan perencanaan pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi. Dengan demikian, pendampingan tidak hanya berdampak pada peningkatan kompetensi teknis penyusunan KOSP, tetapi juga pada peningkatan kualitas praktik Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan berpusat pada peserta didik terbukti efektif meningkatkan keterlibatan dan pemahaman peserta secara lebih mendalam (Zhang & Tan, 2. Hasil penelitian lain menegaskan berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan guru dalam mengintegrasikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran secara sistematis (Gradini & Dhari, 2. Penerapan model pembelajaran yang fleksibel dan berbasis pengalaman terbukti mampu meningkatkan kualitas praktik pembelajaran dan inovasi (Hartini et al. , 2. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil kegiatan dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendampingan penyusunan KOSP terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru di Sekolah Luar Biasa. Hal ini ditunjukkan oleh adanya peningkatan signifikan pada skor rata-rata pretest dan posttest, serta diperkuat oleh hasil uji statistik yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kondisi sebelum dan sesudah pendampingan. Peningkatan tersebut mencerminkan keberhasilan intervensi dalam memperkuat kompetensi guru baik dalam aspek pemahaman maupun keterampilan. Oleh karena itu, model pendampingan berbasis praktik ini dapat direkomendasikan sebagai strategi yang efektif untuk dalam mendukung implementasi kurikulum di satuan pendidikan, khususnya di lingkungan SLB. Pendampingan sistematis berbasis praktik langsung ini direkomendasikan agar dijadikan model pendampingan berkelanjutan guna memastikan konsistensi peningkatan kompetensi guru. Pendampingan lanjutan dapat difokuskan pada pendalaman implementasi KOSP dalam evaluasi dan refleksi terhadap pelaksanaan di kelas. Selain itu, kegiatan serupa juga direkomendasikan untuk direplikasi di sekolah lain, agar semakin banyak sekolah mampu Menyusun KOSP secara mandiri dan sesuai dengan konteks sekolah. 75 | Randang Tana: Jurnal Pengabdian Masyarakat. E-ISSN: 2622-0636 Fransiskus Sawan1. Kristianus Viktor Pantaleon2. Marselinus Robe3 Keberhasilan dan keberlanjutan pendampingan memerlukan dukungan kebijakan sekolah. Sekolah perlu menyediakan ruang dan waktu secukupnya bagi guru untuk mengembangkan kapasitasnya, serta memperkuat budaya kolaboratif dalam pengembangan kurikulum. Dukungan kebijakan yang berkelanjutan hasil pendampingan. Hal ini juga penting untuk memastikan KOSP sebagai produk pelatihan dapat diterapkan secara optimal dalam meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya dan peningkatan kualitas sekolah pada umumnya. DAFTAR PUSTAKA