Jayapangus Press Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin Volume 4 Nomor 4 . ISSN : 2798-7329 (Media Onlin. Pendidikan Toleransi Antar Siswa Beragama Hindu Dan Islam di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Kadek Purniati*. Ni Wayan Sariani Binawati Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia *dekpurniati2@gmail. Abstract Tolerance education is an important aspect in building a harmonious social life in Indonesia, especially in areas with religious diversity such as Gianyar. Tolerance education is becoming increasingly important in the midst of increasing intolerance and religious polarization in Indonesia. This phenomenon can be seen from the rise of cases of discrimination, hate speech, and violence on the basis of religion. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through participant observation, interviews, and document analysis. The data were analyzed using qualitative analysis techniques. The results of this study outline that: First, the form of tolerance between Hinduism and Islam at SD Negeri 3 Keramas is in the form of: social activities, religious activities, in school relationships, cultural arts activities, sports activities at school, and group learning activities. Second, the obstacles faced in the application of tolerance in SD Negeri 3 Keramas. Blahbatuh District. Gianyar Regency are fanaticism, limited coaching, and exclusivism. Third, the efforts made to strengthen tolerance between Hinduism and Islam at SD Negeri 3 Keramas. Blahbatuh District. Gianyar Regency are to impose sanctions on religious harassment, get guidance from all teachers, understand other religions more comprehensively, prioritize dialogue as a discourse to be tolerant to teachers and students at SD Negeri 3 Keramas. The dialogue aims so that teachers and students can build understanding and mutual understanding, not to win, the dialogue given is always about mutual respect, understanding other religions, being polite, not demonizing other religions and certainly increasing the attitude of tolerance that has existed since long ago at school. Keywords: Education. Intolerance. Interfaith Tolerance Abstrak Pendidikan toleransi merupakan aspek penting dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis di Indonesia, khususnya di daerah dengan keragaman agama seperti Gianyar. Pendidikan toleransi menjadi semakin penting di tengah meningkatnya intoleransi dan polarisasi agama di Indonesia. Fenomena ini dapat dilihat dari maraknya kasus-kasus diskriminasi, ujaran kebencian, dan kekerasan atas dasar Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara, dan analisis dokumen. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian ini menguraikan bahwa Pertama, bentuk toleransi antar Agama Hindu dan Agama Islam di SD Negeri 3 Keramas berupa kegiatan sosial, kegiatan keagamaan, dalam pergaulan di sekolah, kegiatan seni budaya, kegiatan olahraga di sekolah, dan kegiatan pembelajaran Kedua, kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan toleransi di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar adalah rasa fanatisme, keterbatasan pembinaan, dan sikap eksklusivisme. Ketiga, upaya-upaya yang dilakukan untuk menguatkan toleransi antar agama Hindu dan agama Islam di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar adalah memberikan sanksi terhadap pelecehan agama, mendapatkan pembinaan dari semua guru, pemahaman agama lain lebih https://jayapanguspress. org/index. php/metta komprehensif, mengedepankan dialog sebagai wacana untuk bersikap toleransi kepada guru maupun siswa yang ada di SD Negeri 3 Keramas. Dialog tersebut bertujuan agar dari guru maupun siswa bisa membangun pemahaman dan saling pengertian, bukan untuk meraih kemenangan, dialog yang diberikan selalu tentang saling menghormati, mengerti agama lain, sopan, tidak menjelek-jelekan agama lain dan pastinya meningkatkan sikap toleransi yang sudah ada sejak dulu di sekolah. Kata Kunci: Pendidikan. Intoleransi. Toleransi Antar Agama. Pendahuluan Indonesia dikenal sebagai negara dengan keragaman agama yang tinggi. Hal ini merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa. Menurut data Kementerian Agama tahun 2020, terdapat enam agama resmi yang diakui di Indonesia, yaitu Islam. Kristen Protestan. Katolik. Hindu. Buddha, dan Konghucu (Watra, 2. Keragaman agama ini dilandasi oleh ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, yang mengakui dan menyakralkan keberadaan agama. Sila pertama Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan beragama bagi seluruh rakyatnya. Hal ini sejalan dengan Pasal 28E ayat . UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, serta berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya (Shaleh & Wisnaeni, 2. Keragaman agama ini merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia. Toleransi beragama merupakan sikap saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. Toleransi hanya dapat terwujud jika antar umat beragama mempunyai persamaan persepsi, wawasan, dan kesadaran bersama untuk membangun integrasi dengan segenap implikasinya (Nurhayati, 2. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, toleransi antarumat beragama di Indonesia mengalami penurunan. Hal ini terlihat dari meningkatnya kasus diskriminasi, ujaran kebencian, dan kekerasan atas dasar agama (Rabitha et al. , 2. Fenomena ini tentu mengkhawatirkan, karena dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan toleransi antarumat beragama adalah minimnya pendidikan toleransi di sekolah. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan pendidikan toleransi di sekolah, khususnya di sekolah dasar. Pendidikan toleransi di sekolah dasar menjadi krusial di tengah meningkatnya intoleransi dan polarisasi agama di Indonesia (Hadisaputra & Syah. Fenomena ini tampak dari meningkatnya jumlah insiden diskriminasi dan tindakan kekerasan yang didasarkan pada agama. Inilah tempat di mana pendidikan tentang toleransi memiliki peran krusial dalam mengajarkan nilai-nilai toleransi dan menghormati perbedaan kepada generasi muda sejak usia dini. Pendidikan toleransi di sekolah dasar diharapkan dapat membekali siswa dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk hidup berdampingan secara damai dengan orang lain yang berbeda agama, suku, budaya, dan latar belakang lainnya. Terciptanya toleransi antar umat beragama terjadi karena generasi muda telah diberikan pendidikan sejak dini. Pendidikan memegang peranan utama dalam kehidupan Dengan anugerah akal pikiran dari Tuhan, proses pendidikan menjadi upaya penting dalam suatu masyarakat yang telah berkembang. Melalui akal, manusia dapat memahami esensi dari berbagai situasi dan juga memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang moral dan yang tidak (Syibromsili, 2. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan dalam memajukan evolusi gagasan mengenai pendidikan yang menjadi pijakan bagi terwujudnya sistem pendidikan yang unggul. Ini penting agar pendidikan mampu menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara optimal dalam https://jayapanguspress. org/index. php/metta membentuk individu berkualitas serta memenuhi aspirasi keluarga, masyarakat, dan Pendidikan toleransi merupakan kunci untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis di Indonesia, khususnya di daerah dengan keragaman agama seperti Gianyar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan pemahaman dan praktik pendidikan toleransi di sekolah dasar. Tingkat toleransi antar siswa dari berbagai agama di lingkungan pendidikan dasar, seperti yang diamati di SD Negeri 3 Keramas, merupakan cerminan dari kompleksitas masyarakat Indonesia yang Latar belakang etnis, budaya, dan agama sering kali menjadi titik sensitif yang memerlukan pemahaman mendalam dan upaya konkret untuk membangun harmoni. Pendidikan di tingkat dasar menjadi fase krusial dalam membentuk sikap dan nilai-nilai dasar individu. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang yang muncul dalam konteks toleransi agama di lingkungan sekolah. Meskipun ada upaya yang telah dilakukan, seperti kurikulum yang memperkenalkan nilai-nilai toleransi, namun masih perlu diperhatikan bagaimana implementasi dan praktek sehari-hari di sekolah membentuk pola interaksi antar siswa. Pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan berbagai pihak terkait di SD Negeri 3 Keramas akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang dinamika interaksi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendidikan tolerasi, kendala apa yang di hadapi, dan upaya yang dilakukan untuk menguatkan toleransi antar siswa beragama Hindu dan Islam di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Studi kasus dipilih karena metode ini memungkinkan peneliti untuk melakukan penelitian yang mendalam dan terperinci tentang suatu fenomena dalam konteks yang spesifik. Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar merupakan tempat yang peneliti pilih untuk melakukan penelitian dengan pertimbangan bahwa toleransi dalam kehidupan beragama dilokasi tersebut dari awal berdirinya sekolah sampai sekarang tetap terjaga, meskipun mereka mempunyai agama, suku, adat istiadat dan budaya yang Dalam studi ini, digunakan teknik sampling non probabilitas, yaitu purposive Sugiyono . menjelaskan bahwa purposive sampling merupakan cara pengambilan sampel dari sumber data dengan mempertimbangkan faktor-faktor tertentu. Faktor-faktor tersebut bisa berupa keahlian atau pengetahuan spesifik yang dimiliki oleh individu yang dianggap paling mengetahui hal-hal yang ingin dikaji oleh peneliti. Penelitian ini melibatkan Guru dan staf administrasi dari SD Negeri 3 Keramas. Blahbatuh. Gianyar sebagai informan. Pengumpulan data dilakukan melalui empat metode, yakni observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil dan Pembahasan Bentuk Toleransi antar Agama Hindu dan Agama Islam di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Indonesia terdiri dari berbagai agama, serta agama merupakan hal yang sangat sensitif dan paling rentan untuk menimbulkan suatu konflik. Pancasila sebagai ideologi Negara yang memiliki lima sila, dimana setiap kelima sila tersebut memiliki maknanya masing-masing. Sesuai dengan amanat butir-butir Pacasila pada sila ke tiga yang berbunyi persatuan Indonesia. Dimana sila tersebut diartikan bahwa sebagai masyarakat Indonesia kita harus menjadi satu dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Tujuan toleransi adalah untuk menjadikan warga Negara Indonesia bersatu didalam bendera https://jayapanguspress. org/index. php/metta merah putih dan di bawah lambang Negara yaitu burung garuda. Toleransi merupakan sebuah pernyataan seseorang kelompok, untuk menghormati, menghargai keyakinan dari setiap badan negara. Menghargai dan mengizinkan pandangan atau keyakinan yang berbeda atau bertentangan dengan yang kita miliki adalah inti dari toleransi. Selain itu, toleransi juga mencakup penghargaan terhadap perbedaan individu tanpa adanya diskriminasi terhadap kelompok tertentu, asalkan tindakan tersebut sesuai dengan aturan dan norma yang Menurut Ahmad . Toleransi yang kuat merupakan dasar bagi terciptanya keselarasan dalam keragaman masyarakat, yang memfasilitasi inklusi, solidaritas sosial, dan persatuan nasional. Oleh karena itu, bersama-sama kita perlu menggalakkan agar toleransi menjadi nilai bersama dalam menghadapi perbedaan identitas, kepercayaan, dan pandangan, minimal dengan cara mengekspresikan ketidaksetujuan secara halus atau bahkan dengan menahan diri dari mencampuri dan mengubah perbedaan tersebut (Ahmad, 2. Demikian juga dalam praktek toleransi antar pemeluk agama, interaksi sosial memiliki kemampuan untuk saling memengaruhi, mengubah, atau meningkatkan perilaku individu lainnya. Meskipun dampak dari penerapan toleransi antar pemeluk agama tidak langsung terlihat, seiring waktu akan terbukti bahwa hal tersebut merupakan hasil dari praktik toleransi tersebut. Kita sebagai manusia tidak bisa hidup secara mandiri tanpa bantuan dari orang lain dalam menjalankan peran kita sebagai makhluk sosial yang hidup dalam keberagaman. Salah satu prinsip utama dalam Islam adalah toleransi. Toleransi ini sejalan dengan nilai-nilai dasar lainnya, seperti rahmat, hikmah, kepentingan umum, dan keadilan. Al-Qur'an secara jelas menegaskan konsep toleransi, menunjukkan bahwa perbedaan agama seharusnya tidak menghalangi persaudaraan antara individu yang memiliki keyakinan yang berbeda (Syarbini, 2. Pada Surah Ali-imran ayat 64 Katakanlah olehmu (Muhamma. Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan . antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak akan menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah (QS. Ali-Imran: . Kalimat ini minimal mengandung dua prinsip pokok dalam usaha memperkuat harmoni di antara penganut agama yang berbeda. Pertama, semua keyakinan agama pada dasarnya memegang prinsip yang serupa . , yakni mengakui adanya prinsip kebenaran universal yang tunggal berupa paham Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, prinsip yang sama . itu dapat dijadikan sebagai modal utama untuk membangun toleransi dalam kehidupan beragama. Dalam keyakinan Hindu, dianggap bahwa setiap cara yang diambil manusia dalam upayanya untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa adalah benar, selama itu tidak melanggar prinsip-prinsip Seperti yang disebutkan dalam Bhagawadgita IV. Ye yatha mam prapadyante Tams tathaiAova bhajamy aham Mama vartmaAonuvartante Manushyah partha sarvasah (Bhagawadgita IV. Terjemahannya: Jalan manapun yang ditempuh manusia kearah-Ku, semuanya Ku-terima, dari mana-mana semua, sesungguhnya mereka menuju jalan-Ku, oh Parta (Pudja. Lebih lanjut. Bhagawadgita VII. 21, mempertegas makna dari sloka di atas yang https://jayapanguspress. org/index. php/metta Yo-yo yam-yam tanum bhaktah SraddhayaAorchitum achchhati Tasya-tasyaAochalam sraddham Tam eva vidadhamy aham (Bhagawadgita VII. Terjemahannya: Adapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, aku perlakukan kepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera (Pudja. Sloka tersebut juga memiliki signifikansi yang sangat luas, yakni bahwa Kresna mengkomunikasikan kepada manusia bahwa pluralitas agama akan ada di dunia ini, dan Tuhan memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih agama yang menjadi landasan keyakinan mereka. Sloka tersebut juga mengajarkan pentingnya menghormati sesama penganut agama dengan cara tidak menghina atau menyombongkan agama Adanya keberagaman agama di dunia merupakan bagian dari kehendak Tuhan, bukan hasil dari keputusan manusia. Ketika seseorang merendahkan atau mengejek agama lain, sesungguhnya mereka tidak memahami esensi agama dengan benar. Mari kita hargai keberagaman dan hidup dalam damai meskipun memiliki perbedaan. Seperti halnya yang dijuampai di lingkungan SD Negeri 3 Keramas. Kecamatan Blahbatuh. Kabupaten Gianyar, para siswanya tidak saja berasal dari satu agama saja melainkan ada dua agama yaitu beragama Hindu dan Islam. Sebab seperti yang kita lihat dan sadari, bahwa pulau ini yang katanya pulau seribu pura, sekarang telah ditempati oleh orang-orang yang tidak beragam Hindu saja melainkan sudah semua agama yang ada di Indonesia yaitu Agama Islam. Kristen Protestan. Budha. Kristen Katolik. Kong Hu Cu. Sebagai usaha untuk mengantisipasi hal-hak yang tidak diinginkan agar terhindar dari perpecahan, tentu khususnya di lingkungan sekolah seperti SD Negeri 3 Keramas dengan siswanya yang masih anak-anak patut sejak dini ditanamkan pendidikan toleransi antar umat beragama. Namun hal seperti ini sudah sejak dulu ditanamkan toleransi antar umat beragama khususnya Agama Hindu dan Agama Islam di lingkungan SD Negeri 3 Keramas. Sampai sekarang untuk di lingkungan SD Negeri 3 Keramas hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan toleransi antar Agama Hindu dan Agama Islam dari yang sederhana hingga besar masih dapat ditemui. Berdasarkan uraian tersebut di atas bahwa bentuk toleransi yang di terapkan pada SD Negeri 3 Keramas sudah baik. Berdasarkan pengamatan peneliti bahwa toleransi sampai saat ini masih dipertahankan, masih dijunjung tinggi oleh para siswa yang beragama Hindu dengan siswa yang bergama Islam. Adapun bentuk toleransi di SD Negeri 3 Keramas Kabupaten Gianyar adalah sebagai Kegiatan Sosial Pada hakikatnya, manusia merupakan entitas yang eksis dalam bentuk individu maupun dalam relasi sosial, sehingga berinteraksi dengan sesama manusia menjadi suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. Aktivitas sosial merupakan upaya seseorang untuk mengekspresikan rasa empati dan perhatiannya terhadap sesama. Di lingkungan sekolah setiap harinya akan ada kegiatan sosial yang dilaksanakan oleh guru dan siswa, berupa kontak sosial melalui pertemuan dengan tatap muka yang dilakukan oleh siswa satu dengan siswa yang lainnya, interaksi sosial, serta adanya komunikasi antara guru dan Setiap aktivitas manusia menampilkan sebuah bentuk yang menandakan bahwa mereka telah terlibat dalam interaksi yang berhubungan dengan pekerjaan. Ketika interaksi tersebut bersifat sosial, manifestasinya adalah tingkah laku yang saling memengaruhi dan mengubah satu sama lain. Kegiatan sosial di SD Negeri 3 Keramas terjadi setiap hari dengan sangat baik, dengan latar belakang memeluk agama yang berbeda siswa mampu untuk selalu mengembangkan sikap toleransi antar umat beragama. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Sikap toleransi siswa diperlihatkan pada saat hari raya besar agama Hindu maupun Islam sebagai contoh menjelang hari raya idul fitri siswa beragama Hindu berbondong-bondong untuk memberikan selamat hari raya idul fitri kepada siswa yang beragama Islam dan pada saat menjelang hari raya galungan siswa beragama Islma juga memberikan selamat kepada siswa yang beragama Hindu. Kegiatan sosial tersebut menjadi tradisi bagi siswa di SD Negeri 3 Keramas dalam bentuk mewujudkan toleransi antar umat beragama. Tidak hanya memberikan selamat kegiatan sosial yang juga di laksanakan di SD N 3 keramas yaitu dengan cara gotong-royong dengan seluruh warga Dimana seluruh siswa melaksanakan gotong-royong dilingkungan sekolah dengan didampingi dan di awasi oleh guru-guru, mereka saling kerjasama membersihkan sekolah dan sekitarnya dengan cara bersama-sama agar kegiatan gotong royong tersebut cepat selesai. Seperti yang tergambar di bawah ini, tampak murid sedang melakukan kegiatan sosial dengan membersihkan lingkungan, baik di dalam maupun di luar lingkungan Anak didik aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti gotong-royong dan bantuan sesama, menunjukkan kolaborasi dan kesatuan dalam menyelesaikan tugas bersama tanpa memandang perbedaan. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat komunikasi dan hubungan antara peserta didik tetapi juga rutin dilakukan oleh guru, staf, dan siswa di SD Negeri 3 Keramas. Untuk memastikan kelangsungan dan perkembangan, penting bagi seluruh komunitas di SD Negeri 3 Keramas untuk secara konsisten menerapkan kegiatan sosial lintas agama, yang akan menjadi pendorong utama dalam memupuk toleransi di antara siswa Hindu dan Islam di sekolah tersebut. Kegiatan Keagamaan Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia dalam keberagaman yang kaya. Keberagaman dalam masyarakat mencakup variasi dalam hal jenis kelamin, keyakinan, etnis, bangsa, profesi, dan warisan budaya (Suryana, 1. Hal ini merupakan fenomena alami yang harus kita hargai. Dengan menghormati keberagaman ini, kita dapat menjalani kehidupan yang damai dan seimbang. Menurut definisi dalam kamus besar bahasa Indonesia, agama adalah sistem yang mengatur kepercayaan dan ritual ibadah kepada Tuhan, serta norma-norma sosial yang sesuai dengan keyakinan individu (KBBI, 2. Di Indonesia, terdapat enam agama utama yaitu Islam. Hindu. Kristen Protestan. Kristen Katolik. Buddha, dan Konghucu, masing-masing dengan tempat ibadah dan hari suci yang unik. Seperti halnya di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar, siswanya tidak hanya beragama Hindu saja tapi juga terdapat agama Islam. Dalam keseharian siswa di SD Negeri 3 Keramas berkomunikasi dengan guru maupun dengan siswa lainnya dengan sangat baik. Hubungan antara siswa beragama Hindu dan beragama Islam juga sangat baik. Siswa saling menghargai dan menghormati keyakianan dari masing-masing siswa oleh karena itu, hampir tidak ada konflik antar siswa yang beragama Hindu dan beragama Islam. Di SD Negeri 3 Keramas guru dan siswanya memeluk agama Hindu dan agama Islam maka terdapat dua fasilitas untuk beribadah yaitu padmasana untuk melaksanakan persembayangan oleh guru dan siswa yang beragama Hindu dan ruangan khusus untuk ibadah oleh guru dan siswa yang beragama Islam. Hubungan antara guru dan siswa yang beragama Hindu dan Islam di SD Negeri 3 Keramas sangat harmonis. Jika ada peringatan hari-hari suci agama Hindu maupun agama Islam guru dan siswa pun saling menghormati, pada saat kegiatan keagamaan kepala sekolah dan guru-guru di SD Negeri 3 Keramas selalu memberikan dukungan dan pengarahan agar pelaksanaan keagamaan berupa sembahyang dan ibadah yang dilaksanakan oleh siswa beragama Hindu maupun Islam dapat berjalan dengan lancar, https://jayapanguspress. org/index. php/metta aman dan tidak ada gangguan. Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di SD Negeri 3 Keramas sampai saat ini sangat bagus, hal ini di buktikan setiap purnama, tilem. Seperti pada saat rainan Purnama dan Tilem, guru dan siswa yang beragama Hindu di SD Negeri 3 Keramas melaksanakan persembahyangan bersama di Padmasana sekolah. Di sisi lain guru dan siswa yang beragama Islam akan berada di dalam kelas khusus untuk melaksanakan ibadah dan juga ikut menghormati dengan tidak menganggu satu sama lain. Seperti misalnya siswa yang beragama Hindu terlebih dahulu selesai melaksanakan persembahyangan, siswa beragama Hindu tidak akan rebut dan menganggu siswa beragama Islam yang sedang melaksanakan ibadah di ruangan khusus yang disediakan, begitu pula sebaliknya ketika siswa beragama Islam lebih dulu selesai melaksanakan ibadah mereka tidak akan rebut dan mengganggu persembayhangan siswa Hindu. Wawancara dengan I Gusti Agung Nyoman Putra selaku kepala sekolah yang Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan berjalan dengan lancar dan tertib setiap purnama dan tilem di sekolah biasanya pada pagi hari setalah bel jam pelajaran pertama, semua siswa berkumpul dihalaman untuk sembahyang, yang siswa Hindu semua di depan padmasana mencari tempat duduk untuk sembayang dan yang Islam masuk ke ruangan yang sudah di sediakan untuk mereka ibadah solat. Sembahyang siswa yang beragama Hindu dipimpin oleh guru Agama Hindu dan ibadah siswa yang beragama Islam dipimpin oleh guru agama Islam. Kegiatan keagamaan yang juga dilaksanakan oleh siswa SD Negeri 3 Keramas tidak hanya pada saat purnama tilem saja, tetapi juga pada saat hari raya suci agama Hindu terutama pada saat hari raya Saraswati siswa yang beragama Hindu di SD Negeri 3 Keramas melakasanakan bersih-bersih di padmasana dan dilingkungan sekolah, mereka juga mempersiapkan sarana dan prasarana berupa banten atau sesaji yang di persiapkan oleh semua siswa beragama Hindu secara bersama-sama untuk di persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi-Nya Sang Hyang Aji Saraswati. Wawancara dengan guru agama Islam Muhamad Ramadlan yang menyatakan: Pelaksanaan keagamaan di sekolah berjalan masing-masing, pada saat melakasakan keagamaan khususnya pada siswa yang beragama Islam saya sendiri yang menjadi pemimpinnya atau dalam agama saya di sebut imam, biasanya di sekolah melaksanakan solat menurut waktu yang di tentukan oleh agama saya dan juga pada saat hari raya agama Hindu tertentu seperti hari raya Saraswati, saya meliburkan siswa saya, mereka tidak ikut membantu siswa yang beragama Hindu untuk mempersiapkan banten dan lain-lain. Dari wawancara diatas menyatakan aktivitas keagamaan di SD Negeri 3 Keramas dilaksanakan menurut kepercayaan masing-masing dan pastinya berjalan dengan lancar. Dimana guru agama Hindu mengarahkan siswanya untuk melaksanakan persembahyangan di depan padmasana dan guru agama Islam juga mengarahkan siswanya untuk memasuki ruangan khusus untuk ibadah solat, tidak hanya guru agama saja semua guru di SD Negeri 3 Keramas akan selalu memberikan arahan dan bimbingan pada saat akan melaksanakan aktivitas keagamaan tersebut dan pastinya dalam pengawasan dari kepala sekolah. Begitu juga pada saat guru dan siswa beragama Islam pada saat menunaikan ibadah puasa, dimana ibadah puasa yang dijalankan oleh guru dan siswa tersebut diharuskan menahan lapar dan dahaga selama 1 bulan penuh dan 13 jam setiap harinya. Pada saat guru dan siswa beragama Islam melaksanakan ibadah puasa, guru maupun siswa yang beragama Hindu akan menghormati dengan cara tidak makan atau minum di depan guru dan siswa yang beragama Islam yang sedang melaksanakan ibadah Bentuk toleransi Antar agama Hindu dan agama Islam di SD Negeri 3 Keramas https://jayapanguspress. org/index. php/metta yaitu dalam kegiatan keagamaan dimana, kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di SD Negeri 3 Keramas adalah kegiatan keagamaan yang terdiri dari dua agama yang berbeda yaitu agama Hindu dan agama Islam. Guru dan siswa yang ada di SD Negeri 3 Keramas sangat mampu menunjukkan sikap saling hormat-menghormati dan saling menghargai antara agama satu dengan agama yang lain. Dalam Pergaulan di Lingkungan Sekolah Bagi tiap anak, memulai perjalanan di dunia pendidikan atau sekolah adalah momen yang menggembirakan, penuh dengan teman, dan mungkin juga menimbulkan Pengalaman di sekolah jelas berbeda dengan suasana di rumah atau lingkungan keluarga, di mana anak-anak harus mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh Sebagai institusi pendidikan, sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan anak-anak. Menurut Desmita . fase sekolah sering dianggap sebagai awal dari eksplorasi sosial utama bagi anak-anak. Saat mereka memasuki tingkat dasar, hubungan mereka dengan orang tua mulai mengalami perubahan, sebagian besar disebabkan oleh peningkatan interaksi dengan teman sebaya. Dalam kehidupan sehari-hari, penting untuk memahami etika sosial agar dapat berinteraksi dengan lebih lancar dan menyenangkan di berbagai situasi. Interaksi sosial adalah kontak langsung antara individu-individu atau antara rekan-rekan sejawat. Ini merupakan sarana penting dalam mencapai kesuksesan pendidikan. Melalui interaksi tersebut, guru dapat mengidentifikasi potensi siswa, sementara siswa dapat memahami karakteristik teman-teman sekelasnya secara langsung. Di dalam kitab Candayoga Upanisad, di sebutkan Tat Twam Asi. Tat Twam Asi dijelaskan bahwa ajaran kesusilaan yang tanpa batas, yang identik dengan perikemanusiaan dalam pancasila. Karena arti dari kata Tat Twam Asi itu sendiri adalah Kamu adalah Aku. Aku adalah Kamu sehingga bila kita menolong orang lain berarti juga menolong diri sendiri. Ajaran Tat Twan Asi inilah menaungibriuk sepanggul, salunglung sabayantaka, paras paros dan asah asih asuh yang merupakan nilai luhur bahwa orang lain adalah diri kita juga (Mantik, 2. Demikian juga. SD Negeri 3 keramas memiliki sejumlah kegiatan yang dijalankan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Salah satu contohnya adalah dalam proses pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler, seperti olahraga, upacara bendera, dan pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Pergaulan yang dilakukan oleh guru dan siswa di SD Negeri 3 Keramas sehari-harinya sudah sangat Salah satu pergaulan yang dilaksanakan oleh siswa tersebut adalah bermain pada saat jam istirahat. Pada saat jam istirahat seluruh siswa di SD Negeri 3 Keramas pasti pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman, pada saat itulah mereka akan saling bertemu dengan satu sama lain, saling sapa, bercanda, mengobrol dengan siswa lainnya, walaupun jam istirahat sebentar siswa-siswa akan menyempatkan diri untuk bermain bersama siswa lain. Wawancara dengan I Gusti Agung Nyoman Putra selaku kepala sekolah yang menyatakan: Pergaulan di sekolah yang dilaksanakan oleh siswa setiap harinya sangat bagus dan pergaulan mereka sama seperti anak-anak di sekolah lainnya, mereka bercanda, saling sapa, ke kantin bareng-bareng, makan bareng-bareng, dari pergaulan siswa Hindu dan Islam tidak ada perbedaan diatara mereka, meraka bersama-sama makan, bercanda, belanja, bermain dan segala kegiatan yang mereka bisa laksanakan pada saat jam istirahat. Dimana pergaulan yang dilaksanakan oleh siswa setiap harinya tidak memandang perbedaan dan siswa disini selalu bersikap toleransi di sekolah. Dari wawancara dengan kepala sekolah SD Negeri 3 Keramas diatas menyatakan dimana pergaulan pada saat jam istirahat tersebut siswa akan bermain, bercanda, saling sapa degan siswa lainnya dan membuat siswa tidak hanya bergaul dengan teman https://jayapanguspress. org/index. php/metta sekelasnya tapi siswa juga bergaul dengan siswa kelas lain yaitu dari kelas 1 sampai kelas 6 tanpa memandang umur, agama, ras dan lainya. Siswa di SD Negeri 3 Keramas sudah melaksanakan pergaulan di lingkungan sekolah dengan baik setiap harinya, dimana dari pergaulan di sekolah tersebut merupakan salah satu bentuk toleransi yang di perlihatkan oleh siswa di SD Negeri 3 Keramas dan dengan cara pergaulan di sekolah setiap harinya, siswa merasa dirinya dibawa kepada kedewasaan bersikap untuk saling menghormati dan keadaan seperti itu merupkan salah satu dari mengembangkan sikap toleransi antar siswa yang berbeda agama. Kegiatan Seni Budaya Di Sekolah Dasar Negeri 3 Keramas, meskipun mayoritas siswanya memeluk agama Hindu dan Budaya Bali, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi siswa yang beragama Islam untuk berpartisipasi dalam pelajaran SBK (Seni Budaya dan Keterampila. Mata pelajaran ini diwajibkan, dan salah satunya adalah seni tari, yang mengajarkan gerakan tubuh berirama pada waktu yang ditentukan. Dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan siswa mendapat pelajaran seni tari, seni tari ini adalah tari bali, disini baik siswa beragama Hindu atau Islam ikut serta dalam menari bali, siswa Islam tidak segan untuk ikut menari malah mereka senang bisa belajar tarian bali baik yang dasar maupun yang agak sulit, mereka suka belajar hal yang baru seperti menari bali, dan mereka juga bisa mengenal tarian bali, karena tarian bali juga salah satu seni dan budaya yang di miliki Indonesia. Walaupuin mereka beragama Islam tetapi mereka tetap mau mengikutinya, malahan mereka lebih cepat tanggap dengan pelajaran tersebut. Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan juga membantu siswa tersebut belajar untuk memahami perbedaan yang ada di sekitar mereka dan pastinya belajar toleransi antar agama lain, saling menghormati dan tidak membanding-bandingkan dengan agamanya sendiri. Setiap pelajaran ini siswa beragama Hindu maupun Islam sangat bersemangat mereka selalu senang dalam belajar menari, tidak ada perbedaan di antara mereka. Rasa panatik siswa pun tidak terlihat pada pelajaran tersebut inilah bentuk toleransi yang sangat bagus di SD Negeri 3 Keramas mereka masih kecil sudah bisa menghargai, memahami perbedaan yang berada di sekitar mereka serta mau ikut serta dan mempelajari budaya dari agama Hindu tersebut. Pada saat pelajaran seni budaya dan keterampilan dimana tidak hanya siswa yang beragama Hindu saja yang menari tetapi juga terdapat siswa beragama Islam yang ikut serta dalam pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan berupa seni tari tersebut. Wawancara dengan Ni Putu Eka Avianti sebagai guru Seni Budaya dan Keterampialan yang menyatakan: Mereka sangat antusias mengikuti mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan tari ini. Mereka yang beragama Islam tidak ada mengeluh dan menyukai tari bali, terkadang saya juga mengajarkan tarian daerah lain misalnya ada anak yang berada dari Lombok kami belajar tari Lombok dan lain sebagainya. Seni dan budaya bali tetap ajeg dan lestari khususnya siswa beragama hindu tidak melupaka seni dan budaya bali dan untuk seluruh siswa walaupun tidak berasal dari bali seni dan budaya bali tetap milik Indonesia dan kita semua berasal dari Negara Indonesia dan kita semua berhak menjaga dan melestarikan semua aset budaya Indosesia. Dari wawancara di atas pernyataan dari guru Seni Budaya dan Keterampilan yaitu bagaimana siswa yang memiliki keyakinan yang berbeda atau agama yang berbeda bisa mengikuti dan mempelajari budaya yang berbeda tanpa membanding-bandingakan dengan budaya yang mereka miliki. Bentuk pendidikan toleransi antar Agama Hindu dan Agama Islam pada siswa SD Negeri 3 keramas dapat dilaksanakan dengan kegiatan seni https://jayapanguspress. org/index. php/metta budaya yakni pada saat jam pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Dimana siswa yang beragama Islam ikut serta dalam pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan tersebut dan mereka ikut menari tarian bali tanpa menimbulkan rasa fanatik dan meraka sangat antusias dalam mengikuti pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan tersebut. Dari penjelasan diatas bahwa bentuk toleransi antar agama Hindu dan agama Islam di SD Negeri 3 Keramas ditunjukkan pada saat pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan berupa seni tari yang dimana seni tari tersebut adalah tari bali yang dimiliki oleh siswa beragama Hindu tapi siswa beragama Islam ikut serta dalam pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan tersebut tanpa ada rasa canggung atau rasa fanatik pada siswa yang beragama Islam. Kegiatan Olahraga di Sekolah Olahraga merupakan mata pelajaran yang pasti ada di setiap sekolah, pelajaran olahraga wajib dilaksanakan oleh semua siswa karena manfaat olahraga baik untuk seluruh siswa seperti memenuhi kebutuhan ruang gerak pada siswa, agar memiliki otot dan tulang yang kuat, meningkatkan mood dan kreativitas siswa dan menghindari merasa jenuh pada siswa karena terus belajar (Sudarsinah, 2. Pada saat jam pelajaran olahraga siswa akan menggunakan baju olahraga yang sudah di siapkan oleh sekolah dan dilaksanakan di lapangan yang terbuka agar memiliki ruang gerak bebas dalam saat Setiap pagi, setiap kelas menyelenggarakan sesi olahraga. Tujuan dari aktivitas ini tidak hanya untuk meningkatkan kecerdasan siswa, tetapi juga untuk mempromosikan toleransi antar umat beragama di lingkungan sekolah. Pada hari Rabu pagi pukul 7. 30, salah satu kelas di SD Negeri 3 keramas tengah melakukan kegiatan olahraga dengan memainkan bola kasti. Dalam permainan tersebut, murid laki-laki dan perempuan kelas IV dibagi menjadi dua tim dengan tujuan untuk meratakan kekuatan, sehingga keseimbangan dalam kemampuan antar tim tercapai. Aktivitas tersebut menunjukkan semangat kerjasama di antara murid-murid tanpa memandang perbedaan agama atau suku, sehingga cocok untuk anak-anak SD. Kesatuan dan kekompakan tampak jelas saat mereka bermain bersama untuk mencapai Kebersamaan ini menjadi gambaran toleransi antar umat beragama yang diterapkan dalam latihan bola kasti di lapangan, seperti yang disampaikan oleh guru olahraga. Made Wisnawan yang menyatakan: Bentuk toleransi antar umat beragama pada siswa di SD Negeri 3 keramas dilaksanakan dengan memberi latihan berupa bola kasti pada jam olah raga. Permainan bola kasti tidak dapat dilaksanakan oleh seseorang atau dua orang siswa, tetapi lebih dari dua dibagi menjadi dua regu dengan jumlah anggota atau siswa genap. Anggota pemainnya saya acak agar mereka bisa kompak dan tidak memandang dari segi agama. Setiap regu perbedaan agama atau Suku tetapi kemampuan bermainnya dalam menyeimbangkan kekuatan setiap regunya. Dengan demikia, siswa dapat saling bahu-membahu dalam kerjasama antar regu sehingga terjadinya bentuk toleransi antar umat beragama. Menurut wawancara tersebut, pihak sekolah berupaya mengimplementasikan dan meningkatkan pendidikan tentang toleransi antar agama dan umat beragama di SD Negeri 3 Keramas dengan memanfaatkan kegiatan olahraga seperti latihan bersama dalam permainan bola kasti. Melalui latihan ini, siswa diharapkan dapat memenuhi tugas mereka dengan baik saat bermain dan saat mengikuti upacara bendera. Ini secara tidak langsung mengajarkan siswa untuk bekerja sama dalam tim dan kelompok, memupuk semangat kebersamaan dan ketergantungan satu sama lain. Dengan demikian, diharapkan siswa SD Negeri 3 Keramas akan terbiasa berprilaku toleran terhadap umat beragama dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bentuk pendidikan toleransi antar Agama Hindu dan Agama Islam pada siswa SD Negeri 3 https://jayapanguspress. org/index. php/metta keramas dapat dilaksanakan dengan kegiatan olahraga di sekolah yakni bermain bola kasti pada jam olah raga. Sehingga hubungan antar siswa dalam satu regu maupun kelompok pada permainan bola kasti merupakan tingkah laku yang saling mempengaruhi sebagai bentuk toleransi antar umat beragama pada siswa di SD Negeri 3 keramas. Kegiatan Pembelajaran Kelompok Sekolah menggunakan beragam cara, strategi, dan teknik, yang dilakukan melalui peran guru sebagai pengajar, untuk mencapai tujuan utama pendidikan, yaitu mengembangkan potensi siswa (Khasanah. Inayah. Hajar & Bahrodin, 2. Beberapa pendekatan yang digunakan meliputi ceramah, diskusi, kerja kelompok, dan berbagai metode lainnya dalam proses pembelajaran. Selain itu, pemilihan metode pembelajaran juga dipengaruhi oleh persyaratan kurikulum yang menetapkan bahwa setiap materi harus diajarkan dengan metode tertentu guna menilai pemahaman siswa terkait dengan aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Sama seperti halnya dengan SD Negeri 3 Keramas, dewan guru di sekolah tersebut memberikan kebebasan kepada guru-guru untuk menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran guna menghasilkan peserta didik yang cerdas sesuai dengan tujuan pendidikan. Meskipun beragamnya metode pembelajaran yang digunakan, tidak semuanya memerlukan tingkat teori, tenaga, dan waktu yang serupa, serta cara penyampaian materi pun bervariasi sesuai dengan kebutuhan individu. Akan tetapi, tujuan utama dari semua metode tersebut tetaplah sama mencerdaskan peserta didik dan mengembangkan potensi Penelitian di SD Negeri 3 Keramas mencatat bahwa siswa kelas V dalam mata pelajaran matematika mengikuti pembelajaran berkelompok pada jam kedua. Metode pembelajaran ini dipandu oleh guru kelas atau guru mata pelajaran, dengan setiap kelompok terdiri dari lima siswa. Selain itu, setiap kelompok diberikan tugas atau soal yang berbeda dengan batas waktu pengerjaan 30 menit. Setelah selesai mengerjakan tugas, mereka melanjutkan dengan presentasi kelompok sebagai bentuk toleransi antar siswa beragama Hindu dan Islam di SD Negeri 3 Keramas. Kadek Marisa Rosalia, wali kelas V, dalam wawancara menyatakan bahwa: Menggunakan metode pembelajaran kelompok selain untuk meningkatkan pemahama siswa juga berperan untuk meningkatkan solidaritas sesamanya dalam satu kelompok. Pembelajaran tersebut secara tidak langsung menuntut siswa untuk saling bahu-membahu, menghargai pendapat orang lain, maupun yang lainnya dalam satu kelompok tersebut. Sehingga tampa disadari dapat meningkatkan toleransi antar siswa beragama Hindu dan Islam di SD Negeri 3 Keramas khususnya pada siswa kelas V. begitu pula diharapkan solidaritas dengan toleransi antar umat beragama pada siswa di SD Negeri 3 Keramas dapat dilaksanakan seterusnya dengan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah dan di masyarakat. Uraian tersebut menyatakan bahwa bentuk toleransi antar agama Hindu dan agama Islam di SD Negeri 3 Keramas diwujudkan atau dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran kelompok. Implementasi metode pembelajaran kelompok bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan memperkuat hubungan sosial, termasuk toleransi di antara siswa di SD Negeri 3 Keramas. Tujuannya adalah agar setiap siswa merasakan pentingnya kerjasama dalam menyelesaikan tugas sesuai dengan tenggat waktu yang ditetapkan. Selain itu, diharapkan bahwa semangat kerjasama ini akan terus ditanamkan, khususnya dalam mendorong toleransi antar umat beragama di segala aspek kehidupan, baik di sekolah, masyarakat, maupun di rumah. Di SD Negeri 3 Keramas, praktek toleransi antara murid beragama Hindu dan Islam diwujudkan melalui pembelajaran dalam kelompok. Murid-murid dalam satu kelas dibagi menjadi beberapa regu untuk menyelesaikan tugas bersama. Melalui kolaborasi ini, diharapkan siswa dapat bekerja sama dengan yang https://jayapanguspress. org/index. php/metta lain, tidak hanya dalam kelompok mereka sendiri, tetapi juga dengan kelompok lainnya. Hal ini diharapkan dapat memengaruhi sikap dan perilaku antar murid, baik mereka yang beragama Hindu maupun Islam, di sekolah tersebut. Tidak hanya belajar kelompok di sekolah guru juga memberikan tugas kelompok yang di kerjakan di rumah. Dari hal tersebut para siswa tidak hanya melakukan kegiatan bersama tanpa memandang agama di sekolah saja tapi juga belajar kelompok di luar sekolah. Hal tersebut juga membantu menanamkan toleransi antar agama tidak hanya di lingkungan sekolah melainkan juga di lingkungan masyarakat. Kendala-Kendala Yang Dihadapi Dalam Penerapan Toleransi di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Di lingkungan sekolah, pentingnya memiliki sikap toleransi dan semangat kebersamaan menjadi landasan yang krusial untuk dipelihara. Sekolah merupakan cermin dari keberagaman sosial, mencakup siswa dengan latar belakang ekonomi yang beragam, konteks keluarga yang berbeda, kebiasaan, agama, serta aspirasi dan minat yang bervariasi (Saridin, 2. Dengan keberagaman ini, konflik di dalam masyarakat sekolah bisa timbul sebagai sebuah kemungkinan yang tidak terhindarkan. Melaksanakan suatu pekerjaan maupun kegiatan tentu adanya kendala-kendala yang menjadi penghalangnya sekaligus sebagai rintangan yang akan menghadang tercapainya suatu tujuan. Tentunya hal tersebut membutuhkan tenaga maupun pikiran agar munculnya gagasan yang dapat menginspirasi segala bentuk rintangan atau kendala tersebut. Menyatukan dua komponen yang berbeda merupakan hal yang sulit dalam sebuah kegiatan, dimana harus ada salah satu yang mengalah atau tidak bersikap berlebihan. Dari hal tersebut menyatukan perbedaan keyakinan, agama, budaya, ras, suku dan lain sebagainya tentunya akan sangat sulit, terlebih lagi di lingkungan sekolah dimana lingkungan tersebut merupakan tempat menuntut ilmu yang dilakukan oleh semua orang tanpa ada perbedaan sekalipun. Disanalah pihak sekolah maupun warga sekolah harus mampu menyatukan diri mereka dalam sebuah perbedaan seperti agama, suku, ras dan lain-lain. Tentu saja pasti ada rintangan maupun kendala-kendala yang dihadapi dalam mempersatukan agama yang disebut toleransi antar umat beragama tersebut. Kendala-kendala yang dihadapi dalam mencapai kerukunan antar umat beragama secara umum disebabkan oleh rendahnya sikap tolerasi, kepentingan politik dan sikap Begitu pula halnya terkait dengan penerapan toleransi antar agama Hindu dan agama Islam di SD Negeri 3 Keramas terdapat beberapa kendala maupun rintangan yang benar-benar menjadi penghalangnya. Kendala atau hambatan tersebut jelas-jelas ada, sebab toleransi antar siswa beragama Hindu dan Islam di SD Negeri 3 Keramas menyangkut banyak orang. Ini didasari atas setiap orang apalagi berbeda keyakinan maupun suku tentu mempunyai pandangan maupun pemikiran yang berbeda-beda sesuai dengan keperluannya. Sehingga hambatan tersebut bukan hal yang aneh atau baru lagi ketika melaksanakan toleransi antar agama Hindu dan agama Islam di lingkungan Adapun kendala-kendala dalam penerapan toleransi di SD Negeri 3 Keramas pada siswa beragama Hindu dan Islam sebagai berikut. Rasa Fanatisme Fanatisme akan ada dimanapun kita berada dan akan selalu ada dalam diri seseorang, apalagi seorang tersebut berada di lingkungan yang dimana tidak hanya satu agama saja melainkan ada beberapa agama di sekitarnya, pasti akan meninbulkan rasa fanatik karena berbeda keyakinan atau kepercayaan tersebut. Tapi di sisilain fanatisme itu perlu untuk tetap menjaga terutama menjaga ajaran agama yang di anutnya, tetapi jangan juga terlalu berlebihan dikarenakan sikap tersebut akan merusak tali silahturahmi kita dengan agama lain. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Fanatisme berasal dari dua suku kata yaitu fanatic dan isme. Fanatic berasal dari bahasa latin yaitu fanaticus, frantic atau frenzied yang berarti gila-gilaan, kalut, mabuk atau hingar binger. Fanatik dapat diartikan sebagai sikap seseorang yang melakukan atau mencintai sesuatu secara serius dan sungguh-sungguh, sedangkan isme dapat diartikan sebagai suatu bentuk keyakinan atau kepercayaan. Secara ringkas fanatisme adalah keyakinan atau kepercayaan yang selalu kuat terhadap suatu ajaran baik itu politik, agama dan lain-lain. Menurut Goddard . faktor-faktor yang memengaruhi fanatisme meliputi . tingkat minat dan kasih sayang yang mendalam terhadap suatu kegiatan tertentu, . sikap individu atau kelompok terhadap kegiatan tersebut, . durasi waktu yang dihabiskan individu dalam mengejar kegiatan tertentu, . Dukungan dan motivasi dari lingkungan keluarga juga memiliki dampak pada pilihan kegiatan seseorang. Menurut Wolman dalam Patriot . Fanatisme dinyatakan sebagai semangat yang terkonsentrasi pada satu ideologi dengan kegirangan yang ekstrem, ditandai dengan intensitas emosi yang luar biasa. Tanda-tanda fanatisme mencakup kurangnya pemikiran rasional, pandangan yang terbatas, serta keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan Pada zaman sekarang sikap fanatisme banyak menyebabkan konflik yaitu terjadinya perpecahan, kerusuhan yang mengatasnamakan agama sebagai jalan yang paling benar menuju sang ilahi. Salah satu kefanatikan adalah bersikap kasar dalam pergaulan dan sering berkata kasar. Pada ajaran Islam Allah SWT menyuruh hambanya secara bijaksana dan melalui pengajaran yang baik. Allah berfirman pada Qs. An Nahl: Sesungguhnya . kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmat dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Qs. An Nahl: Di SD Negeri 3 Keramas yang memiliki guru dan siswa yang berbeda keyakinan atau kepercayaan yaitu ada guru dan siswa yang beragama Hindu dan beragama Islam. Pasti akan timbul rasa fanatisme oleh guru dan masing-masing siswa tersebut. Inilah suatu kendala yang di hadapi dalam penerapan toleransi antar Agama Hindu dan Agama Islam di SD Negeri 3 Keramas, dimana rasa fanatik atau fanatisme tersebut jelas ditunjukkan oleh guru Agama Islam Di SD Negeri 3 keramas tersebut, beliau sangat menjaga kepercayaannya atau agamanya, beliau sendiri akan bertindak tegas jika ada anak didiknya khususnya yang beragama Islam melanggar ajaran agamanya sendiri. Seperti pada saat ada acara perpisahan atau acara yang melibatkan makan bersama guru agama Islam tidak akan mau ikut makan bersama guru-guru yang lainnya, beliau pasti memintanya bukan berupa makanan tetapi meminta berupa uang. Rasa fanatisme dari guru agama Islam tersebut sudah dari pertama beliau menjadi guru disana, sikap seperti itu akan selalu dilakukan oleh beliau. Tidak hanya gurunya saja ada beberapa siswa yang beragama Islam juga memiliki rasa fanatisme. Wawancara dengan I Gusti Agung Nyoman Putra selaku kepala sekolah yang menyatakan: Rasa fanatisme yang sudah terlihat dimana guru agama Islam tidak memperbolehkan siswa maupun guru lain untuk memasuki tempat ibadah mereka, tempat ibadah yang disediakan disekolah berupa ruangan kelas itu hanya boleh digunakan oleh guru agama Islam dan siswa beragama Islam mereka melakukan ibadah di sana tetapi kita yang bergama hindu tidak di perbolehkan masuk kesana Disini saya selalu memberikan pengertian agar mereka bisa saling menghormati satu sama lain dan tidak gara-gara berbeda agama menjadi bertengkar dan guru agama saya tegaskan agar memberi contoh yang baik. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Dari wawancara diatas menjelaskan bahwa guru agama Islam di SD Negeri 3 Keramas memiliki jiwa yang tegas dalam menjalankan ajaran agamanya, beliau tidak mau melanggar ajaran agama yang dianutnya dan pastinya memberikan contoh kepada siswanya yang beragama Islam tetapi tetap melaksanakan toleransi. Tanpa disadari berbeda sifat atau watak setiap siswa di SD Negeri 3 Keramas menjadi salah satu kendala atau penghambat ketika menerapkan toleransi antar agama Hindu dan Islam di lingkungan sekolah. Ini didasari atas apa yang akan dilaksanakan oleh temannya belum tentu dapat diterima oleh siswa lainnya, begitu pula sebaliknya apa yang akan direncanakan oleh dirinya belum tentu dapat diterima oleh teman-temannya. Sehingga perbedaan pendapat atau pandangan menjadi faktor utama yang menghambat siswa di SD Negeri 3 Keramas melaksanakan toleransi antar agama Hindu dan Islam. Apalagi ditambah dengan perbedaan agama dan suku menjadi tambah sulit untuk menyatukan persamaan atau pandangan dalam hal menjalin persaudaraan atau Wawancara dengan I Gusti Agung Nyoman Putra selaku kepala sekolah SD Negeri 3 Keramas yang menyatakan: Dari sekian jumlah siswa yang sekolah di SD Negeri 3 Keramas ada beberapa siswa yang memilih orang untuk diajak berteman. Dalam kesehariannya jarang mau bergabung atau berkumpul dengan teman-temann lainnya yang berbeda agama, kebanyakan mereka berkumpul dengan sesamanya, atau paling tidak anak tersebut bergabung dengan temannya yang dominan seagama denganya. Anak seperti itu yang sering menimbulkan permasalahan, apalagi terjadi konflik dengan teman yang lain agama maka sering samapai terjadi perselisihan. Bahkan juka ada teman seagama dengannya memberikan bantuannya atau sahabat dengan yang beda agama, dia sering menegur bahkan sampai tidak memberikan untuk Begitu pula yang dikatakan oleh guru wali kelas i I Ketut Merta mengatakan Banyaknya siswa susah untuk memberikan pendidikan apalagi menyarankan untuk saling menghargai atau menghormati sesamanya di lingkungan sekolah. Karena ada beberapa siswa watak memang keras, tidak peduli dengan teman sekitarnya, atau tak acuh sehingga susah untuk diberikan pengarahan apalagi disuruh untuk toleransi antar sesamanya. Kebanyakan dari mereka mementingkan dirinya sendiri daripada memperhatikan kepentingan teman-teman di sekitarnya, sehingga sering menimbulkan perselisihan atau ketidak cocokan. Uraian tersebut secara tidak langsung perbedaan sifat atau watak siswa di SD Negeri 3 Keramas menjadi salah satu kendala atau hambatan untuk menerapkan toleransi antar agama Hindu dan agama Islam. Sebab kebanyakan siswa di SD Negeri 3 Keramas lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada melihat kepentingan atau keperluan temantemannya, ada juga siswa yang tidak suka membantu temannya dan memilih-milih teman untuk diajak berteman yang dianggap sealiran atau sepaham ketika berada dirumah. Sehingga tidak jarang diantara mereka tidak perduli dengan kesusahan teman-teman yang satu agama maupun satu suku, apalagi dengan teman beda agama sudah pasti mereka tidak perduli. Kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan toleransi di SD Negeri 3 Keramas adalah adanya rasa fanatisme yang ditunjukkan oleh guru dan siswa yang bergama Islam, dikarenakan guru maupun siswa Islam tersebut mempertahankan ajaran agama yang mereka anut dan sebagai bukti ketaantan mereka terhadap agamanya. Keterbatasan Pembinaan Pembinaan mencakup proses, metode, upaya, tindakan, dan aktivitas yang diarahkan untuk mencapai hasil yang positif secara efisien (Simanjuntak & Pasaribu. Pengembangan toleransi adalah penting karena sebagai makhluk sosial, kita sangat https://jayapanguspress. org/index. php/metta bergantung pada bantuan orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempraktikkan sikap toleransi sejak awal untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain, sehingga mereka akan dengan senang hati memberikan bantuan ketika Selain itu, sikap toleransi juga membantu menciptakan harmoni dalam kehidupan bersama. Jika setiap individu dalam masyarakat percaya bahwa sikap toleransi dapat membawa harmoni, maka masyarakat tersebut akan menjadi tempat yang damai. Sikap toleransi juga berarti saling menghormati, dan dengan menghormati satu sama lain, kita dapat menciptakan kehidupan yang sejahtera. Dalam konteks ini, toleransi beragama menjadi hal yang sangat penting. Pembinaan upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi peserta didik. Pembinaan wajib di beribakan terutama di lingkungan pendidikan seperti di sekolah dasar. Pemberian pembinaan di lingkungan sekolah dasar lebih menekankan pada kedisiplinan, hormat-menghormati, dan lain sebagainya yang cocok diberikan di lingkungan sekolah dasar. Melaksanakan kegiatan terkait dengan toleransi antar umat beragama sebagai prilaku yang positif tentu mendapat dukungan dari pihak sekolah yang merupakan tempat menimba ilmu. Mengingat siswa di SD Negeri 3 Keramas yang melaksanakan kegiatan dalam hubungannya dengan toleransi antar umat beragama, tidak dapat dilaksanakan dengan baik tanpa bimbingan dari pihak sekolah. Baik bimbingan yang diberikan secara langsung dengan mempraktekkan di lapangan ketika melihat siswa sedang melaksanakan toleransi, maupun secara tidak langsung dengan memberikan pembinaan ketika melaksanakan pembelajaran yang berhubungan dengan toleransi. Wawancara dengan I Gusti Agung Nyoman Putra selaku kepala sekolah SD Negeri 3 Keramas yang menyatakan: Pembinaan yang saya berikan di sekolah sudah semaksimal mungkin, saya berikan pembinaan kepada siswa saya terus menerus, tidak hanya saya yang memberikan pembinaan tapi saya juga menyuruh guru-guru yang lain memberikan pembinaan pada saat mengajar, tapi dari pembinaan yang saya berikan pastinya ada banyak kekurangan. Saya harap ada dari dinas yang membantu memberikan pembinaan ke sekolah ini. Dari wawancara diatas kepala sekolah sendiri sudah berusaha memberikan pembinaan kepada para siswanya, beliau juga mengatakan tidak hanya beliau saja yang memberikan pembinaan tapi guru-guru yang lain juga memberikan pembinaan. Karena dari pendidik saja yang memberikan pembinaan ini menjadi kendala yang di hadapi dalam penerapan toleransi di SD Negeri 3 Keramas. Menjadikan pembinaan hanya sebatas lingkungan sekolah dan keseharian yang dilakukan di sekolah saja. Seharusnya ada dari pihak luar atau dari dinas terkait yang rutim memberikan pembinaan kesekolah khususnya pembinaan tentang toleransi. Begitu juga dengan pembinaan yang diberikan di SD Negeri 3 keramas yang biasanya hanya di berikan oleh kepala sekolah, guru agama dan guru wali, dari pemberian pembinaan kepada siswa tersebut pastinya akan ada banyak Begitu juga di SD Negeri 3 Keramas tidak pernah ada dari pihak luar sekolah yang memberikan pembinaan ke sekolah, pembinaan hanya diberikan oleh pendidik saja. Pembinaan yang diberikan kepada siswa biasanya tentang kedesiplin, kerja sama, hingga toleransi yang harus setiap hari dilaksanakan. Disinalah peran kepala sekolah, guru agama dan guru wali harus memberikan pembinaan yang lebih kepada seluruh siswanya. Dari pembinaan yang diberikan tersebut, seluruh siswa di SD Negeri 3 keramas sudah mampu mengerti dan menjalankan atau melaksanakan dari apa saja pembinaan yang di berikan oleh kepala sekolah dan guru-guru mereka selama ini. Sikap Eksklusivisme Dalam hidup berdampingan dengan keberagaman suku, budaya, ras, dan agama, kita sering menemui sikap yang membentuk arah kehidupan bersama. Kelompok atau individu yang memiliki sikap eksklusivisme cenderung menganggap diri atau https://jayapanguspress. org/index. php/metta kelompoknya sebagai yang terbaik, puncak dari segala hal, dan enggan berinteraksi dengan yang lain. Sikap ini menciptakan pandangan bahwa hanya agama yang dianutnya yang benar, sementara yang lain dianggap sesat dan perlu diubah atau ditinggalkan. Hal ini menjadi pemikiran dominan yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi, tanpa mempertimbangkan sudut pandang lain yang mungkin juga benar. Di sisi lain, sikap eksklusivisme ini menghadirkan tantangan tersendiri, karena cenderung menciptakan risiko intoleransi, kesombongan, dan penistaan terhadap pandangan yang berbeda, serta memiliki kekurangan bawaan karena mengasumsikan kebenaran secara mutlak dan kurangnya kritisisme terhadap kerentanan epistemologis. Meskipun demikian, komitmen dan ketegasan dalam memelihara dan membela keyakinan agama sering kali dipandang sebagai hal yang positif. Karena pada dasarnya, sikap eksklusivisme tidak selalu harus disalahkan atau dianggap negatif, melainkan lebih sering disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau pemahaman tentang agama yang dimiliki, atau dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya tempat individu tersebut tumbuh dan berkembang. Hidup dalam budaya eksklusif cenderung menciptakan persaingan antara kelompok, dimana masing-masing berusaha mempertahankan identitasnya dengan cara yang kadang-kadang memaksa. Agama juga mendorong pengikutnya untuk memiliki ikatan yang kuat dengan keyakinan mereka, sering kali melalui pelaksanaan ritual yang ketat dan penghayatan yang mendalam terhadap ajaran agama yang mereka anut. lingkungan umat Islam, ada pula pemahaman agama yang bersifat eksklusif dan terus Di Indonesia, khususnya, telah muncul pemahaman keagamaan yang disebut sebagai Islam radikal dan fundamentalis. Pemahaman ini menekankan praktik keagamaan tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan situasi yang ada. Para penganutnya tetap meyakini bahwa hanya Islam yang benar dan dapat menjamin keselamatan. Mereka berpendapat bahwa untuk mendapat keselamatan, seseorang harus menganut Islam, dan tindakan orang non-Muslim tidak diterima di hadapan Allah menurut pandangan mereka. Seperti diantaranya adalah firman Allah Swt: Barang siapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima . gama it. daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS Ali Imran 3: . Pada kalimat ini dijelaskan dengan sangat tegas bahwa siapa pun yang mencari keyakinan selain dari Islam tidak akan mendapatkan penghargaan atas perbuatan baiknya dan pada akhirnya akan merugi di akhirat. Pemimpin agama dari berbagai kepercayaan semakin menyadari perlunya pandangan baru dalam memahami hubungan antar agama. Mereka secara rutin atau dalam keadaan tertentu mengadakan pertemuan untuk mempererat hubungan dan mencari solusi atas tantangan keagamaan yang dihadapi Kesadaran semacam ini tidak hanya harus dimiliki oleh para pemimpin, tetapi juga oleh para penganut kepercayaan. Orang-orang yang memiliki pemahaman agama yang terbatas dan bahkan bertentangan dengan ajaran agamanya seringkali lebih fokus pada pembangunan fisik tempat ibadah dan meningkatkan jumlah pengikut, tanpa memberikan perhatian yang cukup pada pemahaman mendalam akan agama dan Di SD Negeri 3 Keramas sikap eksklusivisme pasti ada pada guru maupun siswa, apalagi di SD Negeri 3 Keramas guru dan siswanya mayoritas beragama Hindu dimana pasti akan menimbulkan sikap eksklusivisme dari guru dan siswa yang beragama Islam. Seperti dalam pengertian diatas sikap eksklusivisme ini timbul karena ada persaingan dan mempertahankan ajaran agama yang mereka yakini, jika sikap eksklusivisme tersebut terus ada pada guru maupun siswa di SD Negeri 3 Keramas pasti akan ada konflik di antara kedua agama tersebut. Wawancara dengan Putu Gede Sastraguna selaku wali kelas VIa SD Negeri 3 Keramas yang menyatakan: https://jayapanguspress. org/index. php/metta Sikap eksklusivisme yang diperlihat di sekolah yang saya lihat itu pada saat ada kunjungan dari siswa korea yang melakukan observasi ke sekolah, pada saat itu guru agama Islam melarang muridnya yang beragama Islam untuk ikuti dalam pembelajaran dari siswa korea teraebut dan beliau mengumpulkan siswanya yang beragama Islam untuk masuk keruangan kelas lain untuk melaksanakan pembelajaran agama Islam. Saya tidak tau pasti maksud dari guru agama Islam tersebut melarang siswanya untuk ikut serta. Tetapi dari yang saya liat dari sikap beliau tersebut adalah sikap eksklusivisme yang menandakan beliau mempertahankan ajaran agama yang beliau anut. Dari wawancara diatas menyatakan bahwa sikap eksklusivisme yang diperlihatkan oleh guru agama Islam dimana sikap tersebut adalah kendala yang dihadapi dalam penerapan toleransi di SD Negeri 3 Keramas. Sikap eksklusivisme yang masih ada pada guru maupun siswa pastinya akan membuat toleransi di SD Negeri 3 Keramas akan menghilang tetapi sikap tersebut bisa di atasi dengan saling terbuka dari guru dan siswa serta maupun hidup berdampingan dengan agama lain tanpa saling merendahkan dan mampu mencapai tujuan bersama dalam lingkungan sekolah. Di SD Negeri 3 Keramas baik guru agama Hindu maupun agama Islam sudah menunjukkan rasa kebersamaan, tetapi pasti saja ada sedikit masalah apalagi membahas tentang agama. Dimana guru agama Hindu dan guru agama Islam mereka masing-masing mepertahankan agama yang mereka yakini, dalam setiap agama pasti ada memberitahu umatnya untuk toleransi tetapi masih ada saja yang belum memahami sikap toleransi tersebut, seperti contohnya mempersalahkan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang setiap agama pasti berbeda-beda. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Untuk Menguatkan Toleransi Antar Agama Hindu dan Agama Islam di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Meskipun rambut mereka serupa dalam warna, pikiran mereka tidak selalu Hal ini menggambarkan bahwa setiap individu memiliki pandangan dan keinginan yang beragam. Di lingkungan sekolah dan masyarakat, keragaman merupakan hal yang umum terutama dalam aktivitas siswa. Para siswa sering kali membawa, atau paling tidak terpengaruh oleh, kebiasaan dari lingkungan keluarga mereka serta budaya dari masyarakat sekitarnya, ditambah dengan pengaruh nilai-nilai agama yang mereka Pentingnya memupuk nilai-nilai toleransi di kalangan siswa sangatlah besar, karena hal tersebut akan tercermin melalui sikap dan perilaku sehari-hari mereka di sekolah. Ini penting agar mereka bisa menghormati perbedaan orang lain, menghargai kebebasan individu, dan tidak merendahkan atau menghilangkan hak-hak orang lain. Memberi pelajaran kepada anak-anak tentang pentingnya kerukunan antar umat beragama menjadi suatu keharusan, mengingat mereka akan berinteraksi dengan orangorang yang memiliki keyakinan dan agama yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anak memahami dan menerima bahwa ada banyak agama di dunia ini, mereka akan lebih kuat dalam keyakinan agama mereka sendiri tanpa terpengaruh oleh pemahaman agama yang berbeda. Agama dilihat sebagai bagian integral dari kepribadian manusia yang sangat penting dalam kehidupan. Adapun beberapa contoh prilaku yang dapat memperkuat toleransi antar umat beragama seperti saling menghormati perbedaan pendapat, menghormati perbedaan pendapat, menyelesaikan masalah dengan musyawarah, saling memaafkan antar sesama, saling mengingatkan dalam kebaikan tanpa tindakan kekerasan, saling menjaga silahturahmi, tidak bermusuhan dan saling menjelek-jelekkan, tidak menyulut konflik, tidak saling bermusuhan, menghina, menjatuhkan dan saling tolong-menolong dalam https://jayapanguspress. org/index. php/metta kebaikan. Murid-murid bekerja bersama secara bergotong-royong dan menghargai perbedaan di antara mereka, mereka juga bekerja sama dalam segala hal, menunjukkan toleransi sebagai tanda hormat di antara mereka, menerima serta menghargai keberagaman dalam kebiasaan, budaya, dan kemampuan, serta unsur-unsur lainnya di lingkungan sekolah, semuanya bertujuan untuk menciptakan kesatuan dan kedamaian. Hal itu juga terjadi pada siswa di SD Negeri 3 Keramas, dari sekian jumlah siswanya setiap siswa atau individunya mempunyai pemikiran, keinginan, maupun prilaku yang berbeda-beda sesuai dengan kenyamanannya. Menyatukan hal itu tentu suatu pekerjaan yang tidak gampang, melainkan membutuhkan strategi maupun tenaga yang lumayan banyak. Apalagi dari sekian banyak siswa tersebut terdiri dari agama yang berbeda, tentu semakin menyulitkan dalam menyamakan atau mempersatukan pemikiran atau pandangan. Jadi upaya-upaya yang dilakukan untuk menguankan toleransi antar Agama Hindu dan Agama Islam di SD Negeri 3 Keramas sebagai berikut: Memberikan Sanksi Terhadap Pelecehan Agama Agama merupakan suatu sistem keyakinan dan tata nilai yang diikuti oleh manusia, sehingga agama memiliki konotasi sebagai ikatan yang harus dipegang dan dihormati oleh manusia. Problem-problem terkait agama di Indonesia, sebuah negara yang beragam, merupakan isu sosial yang sensitif yang membutuhkan perhatian khusus, karena perselisihan yang bersumber dari perbedaan keyakinan dapat mengakibatkan perpecahan, konflik bersenjata, dan sering kali dianggap sebagai ancaman serius dalam kehidupan berkomunitas dan berbangsa. Tidak dapat disangkal bahwa beberapa konflik, baik dalam skala personal, lokal, nasional, regional, maupun internasional, memiliki latar belakang perbedaan agama. Namun demikian, agama juga dapat menjadi faktor penyatuan dalam kehidupan bersama masyarakat, bangsa, dan negara. Kasus penghinaan agama di Indonesia masih mengacu pada UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (UU 1/PNPS/1. Pasal 1 UU No. 1/PNPS/1965 menyatakan: Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan dan mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari pokok-pokok ajaran agama itu. Apabila, setelah tindakan di atas telah dilakukan, tetapi masih terjadi pelanggaran ketentuan Pasal 1 UU 1/PNPS/1965 itu maka orang, penganut, anggota dan/atau anggota pengurus organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun. Penghinaan terhadap agama bisa terjadi dari berbagai kalangan, termasuk di antara siswa, yang seringkali muncul saat terjadi konflik atau kesalahpahaman antara individu-individu. Penting bagi peserta didik untuk membangun kesadaran dan kedisiplinan dari dalam diri mereka sendiri. Meskipun kepala sekolah, guru, dan pembimbing kelas memiliki tanggung jawab dalam menjaga disiplin siswa, tetapi implementasinya sebagian besar bergantung pada kesadaran dan kerelaan siswa itu Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istilah tata tertib memiliki makna khusus. Tata merujuk pada aturan, sistem, dan tatanan, sementara tertib mengacu pada peraturan. Jadi, tata tertib dapat dipahami sebagai rangkaian peraturan yang harus dipatuhi atau ditaati (KBBI, 2. Contohnya adalah tata tertib di sekolah, yang mencakup ketentuanketentuan yang mengatur kegiatan sehari-hari di sekolah dan mengatur sanksi bagi Tata tertib dibuat untuk melatih siswa agar memiliki sikap toleransi di dalam dirinya dan di harapkan dapat terinternalisasi dalam dirinya. Dengan demikian, para siswa dapat menjaga kebersamaan dan kekeluargaan yang ada di kelas dan di luar https://jayapanguspress. org/index. php/metta Sanksi adalah tindakan menghukum seseorang yang melanggar aturan. akan diberikan apabila siswa melanggar tata tertib sekolah atau siswa melakukan tidakan yang melanggar aturan sekolah agar siswa tersebut jera dan tidak melakukan perbuatan yang melanggar tersebut. Tata tertib yang ada di SD Negeri 3 keramas selalu dipatuhi oleh semua siswanya, tapi ada saja beberapa siswa yang melanggar. Siswa yang melanggar tersebut langsung di berikan pengarahan terlebih dahulu setelah itu baru di berikan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang di buat oleh siswa tersebut. Wawancara dengan I Gusti Agung Nyoman Putra selaku kepala sekolah SD Negeri 3 Keramas yang Saya selaku kepala sekolah selalu mengharapkan sikap toleransi muncul saat siswa menjaga kekeluargaan di antara mereka. Setiap siswa memiliki karakter dan pemikiran yang berbeda-beda. Oleh karena itu saya harapkan toleransi tetap terjaga dan saya harap tidak ada pelecehan agama di lingkungan sekolah ini, agar di SD Negeri 3 Keramas ini tetap toleransi dan tidak mempermasalahkan agama dan tetap rukun-rukun selalu. Seperti dalam wawancara di atas kepala sekolah menyatakan dilingkungan SD Negeri 3 keramas yang memiliki siswa beragama Hindu dan Islam sangat rentan akan pelecehan agama. Tetapi di lingkungan sekolah SD Negeri 3 Keramas seluruh siswanya sangat menghargai perbedaan tersebut. Hampir tidak pernah selama ini ada kasus pelecehkan agama di SD Negeri 3 Keramas tersebut. Dikarenakan sudah tertaman dalam diri siswa masing-masing bahwa toleransi dan hidup rukun dengan sesama walaupun berbeda agama, dari perbedaan tersebut tidak menghalangkan mereka untuk tetap belajar, bermain bersama-sama di sekolah tanpa membedakan agama, suku, dan ras dari masingmasing siswa. Adapun upaya-upaya yang dilakukan untuk menguatkan toleransi antar agama hindu dan agama islam di SD Negeri 3 Keramas adalah membirakan sanksi jika ada siswa yang melanggar tata tertib sekolah dan yang paling penting yaitu pemberian sanksi yang berat bagi siswa yang melakukan pelecehan agama. Pelecehan agama di SD Negeri 3 Keramas jangan sampai ada, karena toleransi yang sudah di lakukan oleh seluruh siswa sudah dilaksanakan dari sejak dulu. Mendapatkan Pembinaan Dari Semua Guru Membentuk sikap toleransi terhadap agama di sekolah melibatkan upaya guru untuk memberikan arahan dan dorongan kepada siswa agar menjaga kesatuan di antara mereka guna memupuk kerukunan di lingkungan sekolah. Dalam dinamika kehidupan komunitas kecil, seringkali timbul konflik yang dapat mengganggu persatuan. Apalagi jika komunitas tersebut berada dalam lingkungan sekolah yang melibatkan beragam ras, agama, kecenderungan, dan latar belakang yang beragam pula. Menggabungkan keragaman agama semacam ini merupakan tugas yang menantang. Toleransi dapat dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja menerapkan toleransi ketika berada di lingkungan sekolah, keluarga, dan di masyarakat. Toleransi juga dapat diterapkan ketika bermain dan belajar. Melaksanakan kegiatan pembinan terkait dengan toleransi di SD Negeri 3 Keramas sebagai perilaku yang positif tentu mendapat dukungan dari pihak sekolah itu Pihak sekolah sudah menjalankan kegiatan memberikan pembinaan tentang toleransi tersebut setiap harinya. Baik pembinaan secara langsung dengan mempraktekan di lapangan ketika melihat siswa sedang melaksanakan toleransi antar umat beragama, maupun secara tidak langsung dengan memberikan pengarahan maupun pembinaan ketika melaksanakan pembelajaran di kelas yang berhubungan dengan toleransi. Memberikan pembinaan kepada seluruh siswa di SD 3 Keramas dimulai dari kepala Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah (Sudarwan, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Meskipun sebagai guru yang mendapat tugas tambahan, kepala sekolah merupakan orang yang paling bertanggung jawab terhadap aplikasi prinsif-prinsif administrasi pendidikan yang inovatif di sekolah. Memegang peranan penting dalam pembinaan kepada seluruh siswanya. Kepala sekolah SD Negeri 3 Keramas sebagai pemimpin mempunyai tugas penting dalam segala hal yang berkaitan dengan sekolah, seperti halnya dengan memberikan pembinaan kepada seluruh siswa pada saat upacara bendera dan pada setiap hari sabtu. Tidak hanya kepala sekolah guru-guru yang ada di SD Negeri 3 Keramas turut serta dalam pemberian pembinaan pada di kelas. Seperti pada gambar dibawah ini pembinaan yang di berikan pada setiap hari sabtu dimana semua siswa dari kelas I samapi kelas VI berkumpul di halaman sekolah untuk mendengarkan pengarahan dari kepala sekolah dan guru-guru di SD Negeri 3 Keramas. Dimana pembinaan seperti ini selalu diberikan oleh kepala sekolah dan guru-guru yang ada di SD Negeri 3 Kermas. Tidak hanya dari kepala sekolah pembinaan juga diberikan oleh semua guru. Guru diibaratkan orang tua peserta didik di sekolah. Guru memiliki peran penting di lingkungan sekolah, peran guru yang paling menonjol adalah sebagai pengajar. Sebagai pengajar, guru berkewajiban menyajikan materi pelajaran, memilih dan menyaring materi pelajaran, memahami dasar dan tujuan pendidikan, mengolah bahan ajar, ahli bidang studi yang diajarkan, memberi penilaian, memberi motivasi, menjadi fasilitator, serta teladan bagi peserta didiknya (Deni, 2. Guru-guru yang ada di SD Negeri 3 Keramas ketika menjalankan tugas dan perannya sebagai seorang pendidik. Selain mendidik dan membimbing peserta didiknya untuk untuk bisa pandai atau cerdas, juga mempunyai tugas mengajari bagaimana cara berprilaku atau bertatakrama dengan teman di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, baik untuk saling membantu, menghormati, menghargai, maupun yang lainya. Kehadiran peserta didik atau siswa di SD Negeri 3 keramas dengan berbagai latar belakang suku dan agama berkumpul dalam satu lembaga pendidikan untuk menuntut ilmu, mempunyai suatu tradisi yang disebut toleransi antar umat beragama di lingkungan sekolah. Seperti halnya setiap guru agama dan guru wali dari kelas I samapi kelas VI setiap hari pada saat mengajar di kelas selalu menyempatkan untuk memberikan pembinaan kepada peserta didik agar selalu menunjukkan sikap toleransi terhadap siapa pun dan di mana pun mereka berada. Namun pembinaan yang lebih mengkhusus diberikan kepada siswa kelas satu yang baru mengenal dan memasuki lingkungan SD Negeri 3 Keramas. Sebab siswa kelas satu masih tergolong belia yang belum memahami kegiatan untuk saling membantu apalagi menghargai dan menghormati sesamanya di lingkungan sekolah. Sehingga kegiatan ini secara khusus menjadi tugas wali kelas satu untuk membimbing dan mendidik siswanya agar mampu menjalani sikap toleransi antar agama Hindu dan agam Islam. Wawancara dengan Putu Gede Sastraguna selaku wali kelas VIa SD Negeri 3 Keramas yang menyatakan: Siswa di SD Negeri 3 Keramas sudah sering di berikan pembinaan yang berkaitan dengan norma dan tata tertib serta memberi motivasi tentang toleransi yang sudah ada di sekolah ini sejak dulu. Wawancara di atas menyatakan bahwa upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk menguatkan toleransi antar siswa beragama Hindu dan agama Islam di lingkungan sekolah dengan cara memberikan pembinaan. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan pengertian terkait dengan arti penting perlunya menanam serta melaksanakan toleransi antar umat Bergama di sekolah maupun di masyarakat. Dengan demikian semboyan Negara Bhineka Tunggal Ika dapat dijalankan dengan baik sebagai cermin hidup berbangsa dan bernegara dalam kehidupan di masyarakat yang saling berdampingan dengan umat lain. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menguatkan https://jayapanguspress. org/index. php/metta toleransi antar agama Hindu dan agama Islam di SD Negeri 3 Keramas, salah satunya dengan cara memberikan pembinaan. Pembinaan merupakan suatu tindakan untuk memberikan motivasi, masukan, maupun arahan kepada seseorang yang dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. Inilah yang dilaksanakan oleh sekolah SD Negeri 3 Keramas terhadap prilaku siswanya yang tanpa disuruh namun mampu melaksanakan toleransi antar agama Hindu dan agama Islam. Tujuannya agar kegiatan tersebut tetap berkembang dari generasi ke generasi sebagai salah satu bentuk pendidikan karakter dalam menumbuhkan sikap kebersamaan baik itu di lingkungan sekolah maupun nantinya di masyarakat. UpayaUpaya yang dilakukan para guru untuk menguatkan toleransi antar siswa beragama Hindu dan Islam di SD Negeri 3 Keramas tidak begitu menyulitkan karena dari siswa sendiri sudah menanamkan sikap toleransi tersebut, disini peran guru hanya mengingatkan kembali dan mengarahkan untuk saling bersikap toleransi di lingkungan sekolah maupun di masyarakat dan guru-guru pun berharap toleransi antar agama Hindu dan Agama Islam di SD Negeri 3 Keramas tetap terjalin selamanya. Pemahaman Agama lain Lebih Komprehensif Kebebasan dalam menjalankan keyakinan agama adalah hak yang melekat pada manusia dan merupakan bagian dari kodratnya. Dari generasi ke generasi, manusia mengikuti suatu agama atau kepercayaan yang dianut oleh keluarga dan lingkungan Di Indonesia, kebebasan beragama telah menghasilkan berbagai macam agama dan kepercayaan karena faktor sosial dan budaya. Pandangan mengenai kebebasan beragama di Indonesia bervariasi tergantung pada keyakinan dan kemampuan rasional individu dalam memahami realitas yang ada. Perdamaian terwujud ketika setiap individu atau kelompok mengakui dan memahami keunikan mereka sendiri. Kesadaran ini memungkinkan penyelesaian terhadap perbedaan pendapat dan pemahaman antar individu atau kelompok yang berbeda. Sulit untuk mengklaim bahwa semua manusia Kesadaran akan perbedaan menekankan pentingnya saling menghargai. Dengan sikap tersebut, kita akan mencapai kesepahaman bahwa kedamaian bersama hanya dapat tercapai melalui pengakuan akan perbedaan individu yang seimbang. Istilah yang esensial dalam diskusi tentang kebebasan beragama adalah toleransi. Untuk menghormati hak setiap individu, mematuhi hukum yang berlaku, serta untuk mempromosikan kehidupan yang demokratis dan damai, keterlibatan semua pihak diperlukan untuk mendorong toleransi antarindividu. Komprehensif merujuk pada sesuatu yang meliputi berbagai aspek secara luas dan menyeluruh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep komprehensif didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dengan baik, menyeluruh, dan luas, serta menunjukkan pemahaman yang mendalam dan luas terhadap berbagai hal (KBBI, 2. Setiap agama memiliki ajarannya masing-masing, agama manapun tidak ada yang mengajarkan melakukan ajaran-ajaran negatif, karena setiap Agama selalu mengajarkan ajaran-ajaran yang bersifat positif. Ajaran-ajaran Agama di berikan kepada seluruh umat mulai dari anak-anak sampai orang tua. Pemahaman ajaran agama lebih ditekankan kepada generasi-generasi muda penerus bangsa. Melalui pendidikan agama dan budi pekerti yang di dapatkan di sekolah, para generasi muda dapat belajar agama secara bertahap dan lengkap. Selain disekolah-sekolah pendidikan agama juga diberikan di luar sekolah seperti berdirinya pesraman-pesraman baik di tingkat desa maupun ditingkat Para guru mengajarkan ajaran agama kepada generasi muda agar generasi muda tidak fanatik dalam beragama, agar tidak memandang rendah agama lain, dan selalu saling menghormati antar agama, agar tidak tercipta konflik antara umat beragama satu dengan yang lainnya. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Agama Hindu mengajarkan sebuah konsep yang menekankan kepada tiga bentuk keharmonisan yang harus di wujudkan oleh setiap umat-Nya, yang disebut dengan istilah Tri Hita Karana. Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sansekerta tri artinya tiga hita bahagia dan karana yang artinya penyebab. Dengan demukian Tri Hita Karana berarti tiga tiga penyebab kebahagiaan Wiana . ketiga penyebab kebahagiaan dan kesejahteraan ini yaitu: . Parahyangan, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta. Pawongan, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia. Palemahan, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan alamnya. Melalui konsep tersebut umat-Nya diarahkan agar membangun hubungan yang baik, selaras, serasi, dan seimbang demi terciptanya hidup yang harmonis, rukun, dan sejahtera. Di SD Negeri 3 Keramas para guru selalu mengajarkan ajaran agama kepada para siswa, agar para siswa mampu memahami dan melaksanakan ajaran agama sesuai dengan ajaran agama masing-masing, dengan begitu akan tercipta kerukunan dan sikap toleransi antar sesama siswa yang berbeda agama. Para guru selalu memberikan pemahaman agama kepada siswa diberbagai kesempatan. Agar siswa semakin mampu dan semakin memhami ajaran agamanya. Sehingga sikap toleransi beragama mampu dilaksanakan oleh siswa baik disekolah maupun diluar sekolah. Sikap toleransi dilingkungan sekolah bertujuan untuk menciptakan kondisi sekolah yang warga sekolahnya tidak sungkan untuk saling membantu, menolong, dan bekerjasama dalam berbagai kegiatan sehari-hari agar terciptanya lingkungan sekolah yang damai dan harmonis. Serta terciptanya lingkungan sekolah yang interaksi antara sesama siswa maupun interaksi siswa dengan guru atau guru dengan guru berlangsung baik walaupun terdapat perbedaan agama. Oleh sebab itu, pengembangan sikap toleransi sangat penting dikalangan siswa agar mereka dapat menghormati dan menerima perbedaan yang ada. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menguatkan toleransi di SD Negeri 3 Keramas adalah Memiliki pemahaman agama lain lebih komperhensif atau memiliki pemikiran tentang agama lain yang terbuka oleh guru dan siswa di SD Negeri 3 Keramas dan hal ini membantu agar toleransi di SD Negeri 3 keramas terus-menerus dilaksanakan dan menjadi contoh dari sekolah-sekolah lain yang memiliki agama yang berbeda dan mampu menjadi contoh bagi masyarakat. Mengedepankan Dialog Setiap agama memiliki dua sudut pandang yang tampaknya bertentangan. Di satu sisi, ada keyakinan akan kebenaran, keunggulan, dan keselamatan dari agama yang dipeluk seseorang, dengan penilaian bahwa keyakinan lain dianggap keliru, sesat, atau harus dihindari. Di sisi lain, terdapat prinsip menghargai, mencintai, tanpa pemaksaan dalam praktik beragama, dan mendorong untuk melakukan kebaikan kepada semua individu, yang dianggap sebagai inti dari ajaran setiap agama. Masyarakat Indonesia dikenal karena keberagaman agama dan budayanya yang beragam, mencakup berbagai keyakinan, suku, ras, budaya, dan kelompok. Keharmonisan antar umat beragama menjadi pondasi penting dalam menjaga kesatuan nasional dan kesatuan negara Republik Indonesia. Keharmonisan diartikan sebagai situasi sosial yang tenteram, saling menghargai, damai, meningkatkan kesejahteraan, penuh hormat, bertoleransi, dan berkolaborasi, sejalan dengan nilai-nilai agama dan semangat Pancasila. Dialog, sebagai sebuah sarana yang signifikan atau pilihan yang optimal, memiliki peranan yang krusial dalam menyelesaikan pertikaian di antara penganut agama. Pentingnya menyelesaikan konflik antar umat beragama tidak dapat diabaikan, mengingat dampaknya yang bisa merugikan masyarakat secara keseluruhan. Dialog dapat didefinisikan sebagai interaksi kehidupan yang mempertemukan individu dengan latar belakang yang beragam. Penggunaan dialog menjadi kunci dalam memperkuat semangat toleransi terhadap keberagaman agama. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Selain itu, dialog agama membantu dalam memperdalam pemahaman akan keyakinan pribadi dan menghargai keyakinan orang lain tanpa adanya diskriminasi. Melalui dialog antar agama, diharapkan para penganut agama dapat menunjukkan sikap toleransi yang lebih luas terhadap kepercayaan agama lainnya. Agama seharusnya menjadi sumber dari keselarasan spiritual yang membawa kedamaian dan keamanan, bukan penyebab konflik atau pertumpahan darah. Pertukaran pandangan dan kesediaan untuk menerima perbedaan dalam keyakinan agama dilakukan dengan tujuan untuk menemukan titik-titik persamaan dan belajar bagaimana menciptakan sebuah masyarakat yang lebih inklusif dan menekankan pentingnya harmoni dalam konteks kebangsaan dan Lebih dari sekadar meningkatkan toleransi, dialog antaragama memiliki potensi untuk mengubah pandangan hidup dan pemahaman teologis bagi para pihak yang Ini tidak hanya menyoroti keberadaan bersama setiap agama, tetapi juga menghargai dan mendukung keragaman agama tanpa mencoba untuk menyamakan Oleh karena itu, secara moral, dialog bertujuan untuk memperdalam pemahaman atas tradisi agama masing-masing secara lebih kritis, bukan untuk campur tangan atau mengubah keyakinan orang lain. Di dalam rencana sekolah, terdapat nilai toleransi yang dijelaskan dalam tujuan umum dan tujuan khususnya. Sementara tujuan umumnya adalah menciptakan lingkungan sekolah di mana semua anggota sekolah berperilaku dengan kesopanan dan memiliki karakter yang mencerminkan nilai-nilai Indonesia, tujuan khususnya adalah mengembangkan karakter siswa melalui pembentukan budi pekerti yang baik. Selain itu, pendidikan ini juga secara konsisten menanamkan sikap toleransi kepada siswa. Begitu juga yang di terapkan di SD Negeri 3 Keramas dimana dari pihak sekolah mengedepankan dialog sebagai wacana untuk bersikap toleransi kepada guru maupun siswa yang ada di SD Negeri 3 Keramas. Dialog tersebut bertujuan agar dari guru maupun siswa bisa membangun pemahaman dan saling pengertian, bukan untuk meraih kemenangan. Karena guru dan siswa mayoritas agamanya Hindu pasti ada rasa ingin menang atau ingin menguasai dari guru dan siswa yang beragama Islam, jadi dialog yang diberikan selalu tentang saling menghormati, mengerti agama lain, sopan, tidak menjelek-jelekan agama lain dan pastinya meningkatkan sikap toleransi yang sudah ada sejak dulu di sekolah tersebut. Dari tahun ketahun toleransi yang di perlihatkan di SD Negeri 3 Keramas sangat bagus dan pastinya semakin meningkat, walaupun ada saja yang membuat mereka merasa fanatik tetapi dengan setiap hari guru maupun siswa mendapatkan pembinaan atau didikan yang bagus dari pendidik membuat mereka semakin erat antara satu sama lain, meskipun mereka berbeda agama. Pentingnya dialog di sekolah pastinya akan berpengaruh besar bagi tingakah laku warga sekolah, meskipun diaolog yang diberikan sedikit kalau sudah tertanam dalam diri guru maupun siswa di SD Negeri 3 Keramas akan selalu menimbulkan sikap saling toleransi. Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil penelitian seperti yang dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal berikut ini yaitu pertama, bentuk toleransi antar Agama Hindu dan Agama Islam di SD Negeri 3 Keramas berupa kegiatan sosial, kegiatan keagamaan, dalam pergaulan di sekolah, kegiatan seni budaya, kegiatan olahraga di sekolah, dan kegiatan pembelajaran kelompok. Kedua, kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan toleransi di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar adalah rasa fanatisme, keterbatasan pembinaan, dan sikap eksklusivisme. Ketiga, upaya-upaya yang dilakukan untuk menguatkan toleransi antar agama Hindu dan agama Islam di SD Negeri 3 Keramas Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar adalah memberikan sanksi https://jayapanguspress. org/index. php/metta terhadap pelecehan agama, mendapatkan pembinaan dari semua guru, pemahaman agama lain lebih komprehensif, mengedepankan dialog sebagai wacana untuk bersikap toleransi kepada guru maupun siswa yang ada di SD Negeri 3 Keramas. Dialog tersebut bertujuan agar dari guru maupun siswa bisa membangun pemahaman dan saling pengertian, bukan untuk meraih kemenangan, dialog yang diberikan selalu tentang saling menghormati, mengerti agama lain, sopan, tidak menjelek-jelekan agama lain dan pastinya meningkatkan sikap toleransi yang sudah ada sejak dulu di sekolah. Daftar Pustaka