Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 DEKONSTRUKSI DIMENSI ESTETIKA SENI TARI PERSEMBAHAN DALAM MASYARAKAT RIAU: KRITIK POSTRUK TARI KONTEMPORER Syielvi Dwi Febrianty1*. Edi Satria2. Hamzaini 3. Mirda Aryadi4 1,2,34 Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Padangpanjang. Sumatera Barat *) Coresponding author Keywords Abstract Deconstruction, pasembahan dance, structure of meaning, riau This research aims to apply the application of Deconstruction to the Aesthetic Dimensions of Dance as presented to the people of Riau with a focus on criticism of contemporary dance postures. Based on the theory of Deconstruction introduced by Jacques Derrida, this research aims to deconstruct the meaning and structure of traditional dance in a contemporary context. Qualitative research methods were used through indirect observation and content analysis of dance performances in Riau. It is hoped that this research will provide a deeper understanding of how the concept of Deconstruction can be applied in studying and strengthening the aesthetic aspects of traditional Riau dance art in a modern contemporary context. The results of this research show that various symbolic meanings are revealed in gender, ecological perspectives, respect for nature, ethics and manners, through dance movements, props used, decoration and clothing, up to the design of the seven floors. All components in the Malay worship dance have a deep meaning and certain complexity. This article contributes to enriching the cultural treasures behind dance which presents contemporary Riau and the deep meaning behind it. PENDAHULUAN Pada tahun 1957 di Pekanbaru, dilakukan pertemuan untuk pembakuan tari persembahan yang menampilkan unsur-unsur tarian dan lagu-lagu Melayu Riau seperti tari serampang dua belas, tari mak inang pulau kampai, tari tanjung katung, dan tari lenggang patah sembilan (Sarita, et. Hasil pertemuan ini adalah penciptaan tarian baru, yaitu tari makan sirih oleh seniman Riau, yang kemudian dijadikan sebagai standar tari Upaya sosialisasi terhadap standar ini dilakukan guna memperkenalkannya kepada masyarakat Riau Tari Persembahan merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Riau. Indonesia. Tarian ini sering digunakan untuk menyambut tamu kehormatan atau acara-acara resmi. Gerakan dalam Tari Persembahan mencerminkan keramahtamahan dan penghormatan masyarakat Melayu Riau terhadap tamu yang datang. Tarian ini biasanya 117 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 dibawakan oleh sekelompok penari wanita dengan busana adat Melayu yang indah dan berwarna-warni, lengkap dengan hiasan kepala dan selendang. Selain itu, musik pengiring Tari Persembahan sering kali menggunakan alat musik tradisional seperti gendang, biola, dan akordeon, yang semakin menambah keindahan dan kekhidmatan suasana tarian (Tirto. id, 2. Makna yang terkandung dalam Tari Persembahan tidak hanya sebatas bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai simbol dari kekayaan budaya dan keragaman seni tradisional masyarakat Melayu Riau. Tarian ini merupakan representasi dari adat istiadat serta norma-norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Dalam setiap gerakannya, penari memperlihatkan keanggunan dan kelembutan, yang mencerminkan karakter masyarakat Melayu yang ramah dan bersahaja. Penari juga membawa tepak sirih yang berisi daun sirih, gambir, kapur, dan pinang, sebagai lambang penyambutan yang penuh kehangatan dan kebersamaan . idho, et. Di masa kini. Tari Persembahan tidak hanya dipentaskan dalam acara-acara adat atau penyambutan tamu saja, tetapi juga sering tampil dalam festival-festival budaya, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa Tari Persembahan masih tetap eksis dan relevan dalam kehidupan masyarakat modern. Upaya pelestarian tari ini dilakukan melalui pendidikan seni budaya di sekolah-sekolah dan sanggar-sanggar tari, yang mengajarkan generasi muda untuk menghargai dan meneruskan warisan budaya nenek moyang mereka. Dengan demikian. Tari Persembahan tidak hanya menjadi sekadar tontonan, tetapi juga sarana edukasi dan pengenalan akan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia luar (Marsan, et. al, 2. Dekonstruksi dalam menganalisis tarian membuka ruang untuk mempertanyakan dan memecah struktur konvensional yang mendasari penampilan tarian, menjelajahi kontradiksi, ketidaksesuaian, dan kompleksitas makna yang mungkin tersembunyi di balik gerakan, kostum, dan konteks pertunjukan (Derrida dalam Glendinning, 2. Sebagai contoh, gerakan tarian yang tampak sederhana dapat didekonstruksi untuk mengungkapkan lapisan-lapisan simbolik yang melampaui interpretasi konvensionalnya, mempertanyakan asumsi budaya dan sosial yang mendasarinya. Dengan pendekatan dekonstruksi, tarian tidak hanya dipahami sebagai representasi visual semata, tetapi juga sebagai medan penelitian yang memperluas pemahaman kita tentang budaya dan identitas. Dalam dekonstruksi, filosofi di balik pemberian tepak berisi sirih mengungkapkan kompleksitas simbolik yang melampaui makna literal. Ketika tamu tidak mengambil sirih, hal ini mencerminkan norma sopan santun yang sangat dijunjung tinggi. Bahkan, pada masa lalu, penolakan sirih bisa memicu reaksi marah, menyoroti dinamika kekuasaan dan adat Tari persembahan juga terbuka untuk analisis dekonstruksi. Gerakan sederhana seperti penghormatan dengan tangan dan kaki dapat diurai sebagai representasi hierarki sosial dan pengakuan terhadap kehadiran tamu. Evolusi tarian dari remaja ke penari dewasa menyoroti perubahan dalam penafsiran nilai-nilai tradisional seiring waktu. Pakaian tradisional dalam tarian juga dapat didekonstruksi. Penggunaan baju kurung teluk belanga dan aksesori seperti mahkota, dokoh, anting-anting, dan gelang bukan sekadar penampilan visual, melainkan konstruksi identitas yang terus berkembang. Kain songket berwarna cerah yang melilit bagian bawah tubuh menawarkan lapisan simbolik yang mengungkapkan kompleksitas budaya dan estetika yang melekat pada tarian ini. Dengan penganalisisan yang mendalam, artikel ini mencoba untuk mengungkap berbagai makna simbolis tersebut dalam kerangka berfikir dekonstruktif. Penelitian ini mengangkat tema terkait AuDekonstruksi dimensi estetika seni tari persembahan dalam 118 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 masyarakat riau: kritik postruk tari kontemporerAy. Estetika seni tari melibatkan penelusuran keindahan dalam gerakan, ekspresi, dan komposisi visual dalam konteks pertunjukan yang memperkaya pengalaman estetik penonton serta membuka dialog tentang makna dan emosi. Seperti yang diungkapkan oleh Alperson . , estetika tari tidak hanya mengangkat aspek visual semata, tetapi juga menggali kedalaman ekspresi emosional dan naratif yang melibatkan penonton secara holistik. LITERATURE REVIEW Teori dekonstruksi adalah sebuah pendekatan filosofis danritis yang dikembangkan oleh Jacques Derrida pada akhir abad ke-20. Tujuan utama dekonstruksi adalah untuk mengungkap dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari pemikiran dan struktur bahasa dalam teks-teks budaya. Derrida menekankan bahwa bahasa tidak pernah dapat sepenuhnya menyampaikan makna yang stabil, dan bahwa teks-teks selalu dipenuhi dengan ambiguitas dan kontradiksi (Derrida, 1. Melalui dekonstruksi. Derrida menunjukkan bagaimana bahasa dan pemikiran terjebak dalam hierarki dan oposisi yang dapat Dekonstruksi secara khusus menyoroti bagaimana fenomena literal dan non literal mengandung ketidakstabilan makna yang tak terhindarkan. Konsep penting dalam dekonstruksi adalah "differance," yang mengacu pada ide bahwa makna selalu tertunda dan terbuka terhadap interpretasi yang beragam. Derrida menekankan bahwa teks-teks tidak memiliki makna yang tetap dan bahwa interpretasi subjektif pembaca merupakan bagian integral dari proses pemahaman sebuah teks (Norris, 2. Melalui dekonstruksi. Derrida mengajak untuk menggali asumsi-asumsi tersembunyi dan kontradiksi dalam sebuah konstruksi fenomena untuk memperluas pemahaman terhadap kompleksitas dunia. Teori dekonstruksi, yang dikembangkan oleh Jacques Derrida, menawarkan wawasan yang berharga dalam konteks analisis seni pertunjukan seperti tari. Dekonstruksi mengajarkan kita untuk melihatuktur-struktur yang mendasari pemahaman kita tentang karya seni, termasuk tari, dan bagaimana bahasa serta simbol-simbol digunakan dalam konteks itu (Foster, 1. Dalam tari, dekonstruksi dapat diterapkan untuk meruntuhkan asumsi-asumsi tentang gerakan, naratif, dan makna yang mungkin tertanam dalam Dalam konteks tari, dekonstruksi mendorong kita untuk mengintip di balik tirai gerakan-gerakan yang tampaknya jelas dan terstruktur. Sebagai contoh, analisis dekonstruktif pada gerakan tari dapat membuka ruang untuk melihat bagaimana gerakan tersebut tidak hanya memiliki makna literal tetapi juga menyiratkan kontradiksi atau ketidakstabilan makna yang mungkin terlewatkan dalam interpretasi konvensional. Hal ini sejalan dengan pendekatan dekonstruktif yang menekankan pada ambiguitas dan kompleksitas makna. Dekonstruksi juga menantang konvensi-konvensi dalam tari yang mungkin telah menjadi norma dalam penafsiran karya seni tersebut (Desmond, 1. Sebagai contoh, melalui lensa dekonstruksi, penari dan koreografer dapat menginterogasi stereotip gender yang tertanam dalam gerakan tari tradisional atau mempertanyakan naratif yang dibangun di sekitar tubuh dalam gerakan tari (Ni'mah, 2. Dengan cara ini, dekonstruksi memberikan kerangka analitis yang memungkinkan untuk menggali makna-makna tersirat yang mungkin terabaikan. Dalam praktiknya, penerapan teori dekonstruksi dalam analisis tari dapat memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana gerakan-gerakan tari dapat dipahami dan diinterpretasikan. Pendekatan ini memungkinkan untuk membuka ruang bagi multiple interpretasi dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari norma-norma 119 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 dalam dunia tari. Dengan demikian, dekonstruksi tidak hanya meruntuhkan makna yang telah mapan tetapi juga membuka jalan bagi eksplorasi yang lebih dalam terhadap potensi makna yang tersembunyi. Dalam konteks analisis tari, dekonstruksi juga dapat membantu memperluas pandangan terhadap keberagaman budaya dan perspektif yang dapat diungkapkan melalui gerakan tari . estu, et. Al. Dengan mempertanyakan asumsi-asumsi budaya dan struktural yang mendasari tari, dekonstruksi memungkinkan untuk melihat bagaimana gerakan tari dapat menjadi medan pertarungan untuk kekuasaan, identitas, dan makna. Dengan demikian, dekonstruksi dapat membuka ruang untuk refleksi yang lebih dalam tentang hubungan antara tari, budaya, dan kekuasaan. RESEARCH METHOD Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian seni tari di Riau melalui kombinasi studi pustaka dan observasi tidak langsung dalam analisis konten untuk mendalami pemahaman terhadap praktik seni tari di wilayah tersebut. Smith . menegaskan metode penelitian observasi tidak langsung melibatkan pengamatan terhadap data yang telah direkam sebelumnya atau dokumen tertulis untuk mengevaluasi fenomena yang diteliti. Melalui observasi tidak langsung dengan memperhatikan gerakan penari dari berbagai media, peneliti dapat mendapatkan pandangan langsung mengenai proses kreatif, makna budaya, serta pengalaman estetika yang melandasi pertunjukan tari di Riau. Observasi pertunjukan seni tari juga memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam gerakan, kostum, musik, dan konteks pertunjukan. Sementara itu, analisis konten terhadap pertunjukan memberikan pemahaman yang lebih sistematis mengenai tema, naratif, dan simbolisme yang terkandung dalam karya seni tari tersebut, memberikan gambaran yang komprehensif tentang seni tari di Riau. Dalam melakukan analisis dekonstruksi terhadap tari kontemporer, metode penelitian yang digunakan harus memperhatikan kompleksitas gerakan, simbolisme, dan konteks budaya yang terlibat (Banes,2. Pendekatan penelitian ini memerlukan kombinasi antara observasi pertunjukan tari, analisis teks tari, serta pemahaman mendalam terhadap teori Peneliti akan meneliti gerakan, naratif, dan elemen-elemen visual dalam tari untuk mengungkap struktur-struktur makna yang mungkin tersembunyi di balik penampilan yang tampak. Metode penelitian dalam analisis dekonstruksi tari kontemporer dapat melibatkan langkah-langkah seperti dekonstruksi gerakan, identifikasi kontradiksi atau ketidakstabilan makna dalam pertunjukan, serta pembongkaran struktur naratif atau simbolis yang Analisis dekonstruktif dalam konteks tari tidak hanya memerlukan pemahaman mendalam terhadap gerakan tari itu sendiri, tetapi juga pengetahuan akan sejarah tari, teori kritis, dan konteks budaya di mana pertunjukan tersebut muncul (Foster. Dalam praktiknya, penelitian dekonstruktif terhadap tari kontemporer dapat melibatkan kajian mendalam terhadap karya-karya tari tertentu, identifikasi asumsi-asumsi yang mendasarinya, serta eksplorasi terhadap bagaimana gerakan, kostum, dan setting panggung dapat menjadi medan untuk membongkar struktur-struktur kekuasaan, identitas, dan makna. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas makna dalam karya seni tari kontemporer dan bagaimana teori dekonstruksi dapat diterapkan untuk memperluas interpretasi terhadap karya-karya 120 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 HASIL DAN DISKUSI PENELITIAN Tari Pasembahan merupakan salah satu bentuk tarian tradisional yang berkhas dari masyarakat Riau. Indonesia, dan memiliki makna yang dalam dalam konteks budaya lokal. Tari ini sering dipentaskan dalam berbagai acara adat, upacara keagamaan, atau perayaan tradisional sebagai bentuk ungkapan syukur dan penghormatan terhadap sesuatu. Dalam tari Pasembahan, gerakan-gerakan yang lemah gemulai dan penuh makna melambangkan kelembutan serta kehalusan budaya masyarakat Riau. Penelitian menunjukkan bahwa Tari Pasembahan di Riau memegang peranan penting dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi. Menurut Ahmad . , tarian ini juga mengandung simbol-simbol yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas, mencerminkan kearifan lokal masyarakat Riau dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya. Selain itu. Tari Pasembahan juga dianggap sebagai ekspresi identitas budaya yang unik bagi masyarakat Riau. Dalam konteks musik pengiring Tari Pasembahan, pentingnya alat musik tradisional seperti gendang dan rebana turut menambah nuansa khas dari pertunjukan ini. Musik yang mengiringi tarian memberikan ritme yang menghidupkan gerakan-gerakan serta menambah kedalaman makna dari setiap langkah yang dilakukan oleh penari. Keharmonisan antara gerakan tari dan musik tradisional menciptakan suatu kesatuan yang memukau dan memperkaya pengalaman visual dan auditori bagi penonton. Dengan keberlangsungan pertunjukan Tari Pasembahan, upaya pelestarian warisan budaya masyarakat Riau terus dilakukan. Melalui pertunjukan tari ini, generasi muda diajak untuk menghargai dan menjaga warisan budaya yang kaya, sehingga nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam Tari Pasembahan tetap hidup dan terus dijunjung tinggi dalam masyarakat Riau. Properti tari persembahan riau Tepak sirih dalam Tari Persembahan sebagai sarana penyambutan tamu penting harus disiapkan dengan teliti sebagai berikut: Daun Sirih disusun rapi dengan gagang mengarah ke atas, disertai dengan lima atau tiga bungkus sirih yang sudah dikapus untuk dijamah, kapur sirih, gambir, piring, tembakau, dan kacip. Gambar 1. Tepak sirih sebagai sarana penyambutan Tepak sirih dalam Tari Persembahan masyarakat Riau memiliki makna yang dalam dan kaya akan simbolisme budaya. Tepak sirih tidak hanya berfungsi sebagai alat properti dalam rangka penyambutan tamu yang dihormati, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual yang mendalam. Secara tradisional. Tepak sirih dianggap sebagai simbol keramahan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tamu, menunjukkan adat 121 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 istiadat yang turun-temurun di masyarakat Riau. Di balik fisik Tepak sirih yang terdiri dari daun sirih, kapur sirih, gambir, piring, tembakau, dan kacip, terdapat makna yang lebih mendalam. Setiap elemen dalam Tepak sirih dipercayai mewakili aspek-aspek tertentu dalam kehidupan masyarakat Riau, seperti kesucian . apur siri. , kekuatan . , kebersamaan . , dan keberanian . Melalui penyajian Tepak sirih dalam Tari Persembahan, masyarakat Riau mengungkapkan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal mereka. Tepak sirih dalam konteks Tari Persembahan juga mencerminkan hubungan yang erat antara manusia dan alam, serta antara manusia dengan sesama. Melalui penyusunan yang rapi dan simbolisme dari setiap elemen dalam Tepak sirih, pertunjukan tari menjadi sebuah representasi visual yang menggambarkan keharmonisan antara manusia, alam, dan tradisi. Dalam konteks ini. Tepak sirih tidak hanya menjadi alat properti, tetapi juga menjadi medium yang menghubungkan antara dunia nyata dan spiritual dalam praktik seni tari masyarakat Riau. Dalam keseluruhan konsep Tepak sirih dalam Tari Persembahan masyarakat Riau, terdapat pesan yang mendalam tentang nilai-nilai kehidupan, keberagaman budaya, dan kesatuan dalam keragaman. Melalui penyambutan tamu yang dihormati dengan Tepak sirih, masyarakat Riau menjunjung tinggi tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tepak sirih dalam Tari Persembahan bukan hanya sekadar simbol kebersamaan dan keramahan, tetapi juga merupakan cerminan dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Riau yang kaya akan makna. Gerakan tari persembahan riau Gerakan dalam Tari Persembahan masyarakat Riau mencakup gerakan-gerakan yang lembut, anggun, dan penuh makna. Dengan langkah-langkah yang mengalir dan dipenuhi dengan simbolisme, tari ini menampilkan kehalusan dan kelembutan sebagai ciri khasnya. Gerakan-gerakan tersebut sering kali menggambarkan cerita, nilai-nilai budaya, serta hubungan antara manusia dengan alam dan tradisi. Ekspresi wajah dan gestur tubuh penari juga memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui setiap gerakan, menciptakan sebuah karya seni yang memadukan keindahan visual dengan kedalaman makna filosofis dan spiritual yang kaya dari tradisi masyarakat Riau. Gambar 2. Gerakan dalam tari Pasembahan Riau Sumber: https://w. Gerakan dalam Tari Persembahan masyarakat Riau mencakup beragam nama dan 122 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 istilah yang menggambarkan setiap gerakan secara spesifik. Istilah-istilah ini mencakup langkah-langkah khas seperti "langkah balai" yang melambangkan keanggunan, "gerak ganti" yang menunjukkan pergantian posisi penari dengan ritme tertentu, serta "gerak jalin" yang mencerminkan kerjasama dan kebersamaan. Selain itu, istilah-istilah seperti "gerak tanda" dan "gerak lambai" digunakan untuk menandai ekspresi dan gerakan tangan yang khas dalam tari persembahan Riau, semuanya menggambarkan kekayaan gerakan dan simbolisme yang melekat dalam praktik seni tradisional ini. Tari Persembahan Riau bukan sekadar tarian tradisional biasa, melainkan sebuah seni pertunjukan yang sarat dengan makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Melayu Riau. Setiap gerakan dalam tari ini memiliki simbolisme tersendiri yang bertujuan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada penonton dan tamu yang hadir. Gerakan Mengayun Tangan Gerakan mengayun tangan dalam Tari Persembahan melambangkan kelembutan dan kehalusan budi pekerti masyarakat Melayu Riau. Ayunan tangan yang lembut menunjukkan keramahan dan sikap hormat kepada tamu yang disambut. Gerakan ini mencerminkan karakter masyarakat Melayu yang santun dan bersahaja dalam berinteraksi dengan sesama. Gerakan Menunduk dan Membungkuk Gerakan menunduk dan membungkuk dalam tarian ini adalah simbol dari rasa hormat dan penghormatan yang mendalam kepada tamu kehormatan atau individu yang lebih tua. Menunduk adalah bentuk penghormatan yang mengisyaratkan sikap rendah hati dan kesediaan untuk menghargai orang lain. Gerakan Membawa Tepak Sirih Salah satu ciri khas Tari Persembahan adalah penari membawa tepak sirih yang berisi daun sirih, gambir, kapur, dan pinang. Tepak sirih dalam budaya Melayu adalah simbol kebersamaan, persahabatan, dan rasa hormat. Penyerahan tepak sirih kepada tamu merupakan lambang penyambutan yang hangat dan penuh keakraban, mengisyaratkan bahwa tamu dianggap sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat setempat. Gerakan Berjalan Beriringan Penari yang berjalan beriringan dengan gerakan yang selaras menggambarkan kekompakan dan kebersamaan dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Melayu Riau menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan Melingkar Gerakan melingkar dalam tarian ini melambangkan siklus kehidupan dan keberlanjutan budaya. Dengan melakukan gerakan melingkar, penari mengisyaratkan bahwa tradisi dan budaya akan terus dilestarikan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ini juga menggambarkan kesatuan dan persatuan dalam masyarakat. Ekspresi Wajah dan Mata Selain gerakan tubuh, ekspresi wajah dan mata penari juga memainkan peran penting dalam menyampaikan makna tarian. Senyum dan pandangan mata yang lembut mengisyaratkan sikap ramah dan tulus dalam menyambut tamu. Ekspresi ini menunjukkan bahwa penyambutan dilakukan dengan hati yang ikhlas dan penuh kehangatan. Melalui kombinasi gerakan-gerakan tersebut. Tari Persembahan Riau tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan yang indah untuk dilihat, tetapi juga sebuah medium 123 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 komunikasi budaya yang kaya akan makna dan nilai-nilai luhur. Tarian ini menjadi sarana penting untuk mengenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Melayu Riau kepada generasi mendatang serta kepada dunia luar. Desain lantai Desain lantai yang digunakan pada Tari Persembahan Melayu Riau terdiri dari tujuh desain lantai. Desain lantai yang digunakan pada Tari Persembahan Melayu Riau, yang terdiri dari tujuh desain lantai, memiliki makna yang mendalam dalam konteks budaya dan tradisi masyarakat Riau. Setiap desain lantai dalam tarian ini tidak hanya merupakan tata letak fisik untuk penari bergerak, tetapi juga mengandung simbolisme dan makna filosofis yang melambangkan nilai-nilai, cerita, dan identitas budaya masyarakat tersebut. Setiap desain lantai dalam Tari Persembahan Melayu Riau merujuk pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan masyarakat Riau, seperti alam, kepercayaan, atau sejarah. Misalnya, desain lantai yang menyerupai pola-pola alam seperti bunga, daun, atau air bisa mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, serta keindahan alam sekitar yang menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Riau. Selain itu, desain lantai yang menggambarkan motif-motif tradisional dapat mengandung makna tentang warisan budaya, kearifan lokal, dan identitas suku atau kelompok dalam masyarakat Riau. Melalui tujuh desain lantai dalam Tari Persembahan Melayu Riau, penonton dapat memahami naratif yang terkandung dalam gerakan tarian dan hubungannya dengan desain Setiap desain lantai mungkin mengarah pada tahap cerita tertentu, menyampaikan pesan-pesan tentang kehidupan, keberanian, kebersamaan, atau nilai-nilai spiritual masyarakat Riau. Desain-desain lantai ini menjadi bagian penting dalam menghidupkan cerita yang dipersembahkan dalam tarian, menciptakan sebuah pengalaman visual yang memikat dan bermakna bagi penonton. Dalam konteks lebih luas, desain lantai dalam Tari Persembahan Melayu Riau juga dapat diinterpretasikan sebagai representasi visual dari struktur sosial, nilai-nilai etika, dan norma-norma yang menjadi landasan budaya masyarakat Riau. Melalui penggunaan tujuh desain lantai yang khas, tari ini tidak hanya menjadi medium ekspresi seni yang indah tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat dan merayakan warisan budaya yang kaya dan kompleks dari masyarakat Riau. Penari Penari dalam Tari Persembahan Melayu Riau saat ini tampil tanpa pasangan, dengan kelompok terdiri dari 5-7 perempuan. Perubahan ini terjadi karena pada masa lampau, terdapat penolakan dan protes terhadap keberadaan penari laki-laki yang ikut serta dalam pertunjukan Tari Persembahan Melayu Riau bersama penari perempuan. Sebagai respons terhadap hal ini, pencipta tarian memutuskan untuk menghilangkan penari laki-laki agar pertunjukan lebih sesuai dengan norma dan keyakinan masyarakat Riau. Dari perspektif dekonstruksi gender dalam makna penari dalam Tari Persembahan Riau yang tidak melibatkan laki-laki, penekanan dapat diletakkan pada pemberdayaan perempuan dalam seni dan budaya. Dalam konteks ini, penghilangan penari laki-laki dari pertunjukan dapat diinterpretasikan sebagai langkah untuk memberikan ruang eksklusif bagi perempuan dalam mendefinisikan dan merepresentasikan diri mereka tanpa campur tangan atau dominasi laki-laki. Hal ini mendorong pemahaman tentang kekuatan, keanggunan, dan keberanian perempuan sebagai subjek utama dalam praktik seni, menegaskan nilai kesetaraan dan keberagaman gender. 124 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 Dekonstruksi makna penari perempuan dalam Tari Persembahan Riau dari perspektif feminis juga dapat mengarah pada eksplorasi mengenai konstruksi identitas perempuan dalam konteks budaya dan tradisi. Dengan tidak melibatkan penari laki-laki, penari perempuan memiliki kesempatan untuk mengekspresikan dan memperkuat identitas mereka tanpa terpengaruh oleh stereotip atau norma gender yang mungkin membatasi kreativitas dan ekspresi mereka. Hal ini membuka jalan bagi penafsiran yang lebih luas tentang peran perempuan dalam seni dan budaya, serta menggali potensi serta keunikan yang dimiliki oleh perempuan dalam menciptakan dan mempertahankan warisan budaya. Selain itu, perspektif feminis dalam dekonstruksi makna penari perempuan dalam Tari Persembahan Riau yang tidak melibatkan laki-laki juga dapat menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam melestarikan dan mengembangkan seni Dengan menempatkan penari perempuan sebagai pusat dari pertunjukan, hal ini memperkuat narasi tentang keberagaman, kekuatan, dan keunikan perempuan dalam konteks seni dan budaya, serta mengajak untuk memahami dan menghormati peran serta kontribusi perempuan dalam menjaga warisan budaya yang bernilai dan beragam. 5 Tata rias dan busana Dandanan penari dalam Tari Persembahan Melayu Riau menampilkan kecantikan yang tidak berlebihan, namun terdapat perbedaan dalam hal pakaian dan aksesoris jika dibandingkan dengan Tari Makan Sirih. Evolusi dan perubahan dalam kostum dan aksesori Tari Persembahan Melayu Riau menunjukkan sentuhan glamor yang bertujuan untuk meningkatkan nilai estetika dan daya tariknya. Penari Tari Persembahan biasanya menggunakan sanggul yang diatur dengan rapi, dengan pilihan variasi seperti sanggul jonget atau sanggul lipan pandan, sementara rias wajahnya dirancang untuk menonjolkan kecantikan dengan tampilan yang elegan namun tidak berlebihan (Jamil, 2. Gambar 3. Tata rias dan kostum penari tari persembahan riau Tata rias dan busana dalam Tari Persembahan Riau mencerminkan keindahan, keanggunan, serta nilai-nilai tradisional dan estetika yang terkandung dalam seni dan budaya masyarakat Riau. Melalui tata rias yang dipilih dengan cermat dan busana yang dipilih secara khusus, penari mempersembahkan diri mereka sebagai perpanjangan dari nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam masyarakat. Tata rias yang tidak berlebihan namun elegan, serta busana yang dipadukan dengan aksesori yang tepat, menggambarkan keindahan yang dihormati dan dijaga dengan seksama. Selain sebagai elemen estetika, tata rias dan busana dalam Tari Persembahan Riau juga dapat mengandung makna simbolis yang dalam. Setiap warna, motif, dan aksesori yang 125 | P a g e Febrianty, et. eScience Humanity Journal 4 . May 2024 dipilih mungkin memiliki signifikansi budaya, sejarah, atau spiritual yang melibatkan penari dalam cerita yang mereka sampaikan melalui gerakan dan ekspresi dalam pertunjukan. Dengan demikian, tata rias dan busana tidak hanya menghias penampilan penari, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan, nilai, dan identitas budaya masyarakat Riau kepada penonton. Selain itu, tata rias dan busana dalam Tari Persembahan Riau juga dapat menjadi representasi dari evolusi dan adaptasi seni dan budaya terhadap perubahan zaman. Perkembangan dalam desain, gaya, dan bahan kostum serta aksesori mungkin mencerminkan bagaimana seni tari terus berkembang dan bertransformasi sesuai dengan tuntutan zaman modern, namun tetap mempertahankan esensi dan keaslian tradisi. Dengan demikian, tata rias dan busana dalam Tari Persembahan Riau tidak hanya menunjukkan keindahan visual, tetapi juga merangkum nilai-nilai warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan melalui seni pertunjukan yang khas dari masyarakat Riau. CONCLUSION Penelitian mengenai "Dekonstruksi Dimensi Estetika Seni Tari Persembahan dalam Masyarakat Riau: Kritik Postruktur Tari Kontemporer" mengungkapkan kompleksitas dan kedalaman makna yang tersirat dalam praktik seni tari tradisional Riau. Melalui pendekatan dekonstruksi dan kritik postruktur, penelitian ini membedah elemen-elemen estetika dalam Tari Persembahan, menyoroti bagaimana nilai-nilai budaya, tradisi, dan identitas lokal tercermin dalam gerakan, tata rias, serta kostum yang digunakan dalam pertunjukan Penelitian ini juga menggali perubahan dan adaptasi seni tari tradisional terhadap pengaruh kontemporer, menyoroti bagaimana seni tari terus berkembang tanpa kehilangan akar budaya yang mengakarnya. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan pentingnya memahami dan menghargai nilai-nilai estetika, budaya, dan identitas lokal yang terkandung dalam Seni Tari Persembahan masyarakat Riau. Dengan pendekatan dekonstruksi dan kritik postruktur, penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang kompleksitas makna seni tari tradisional dalam menghadapi dinamika zaman. Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas pemahaman tentang transformasi seni tari tradisional di tengah pengaruh kontemporer, menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya sambil membuka ruang untuk inovasi dan adaptasi yang relevan dengan zaman. REFERENSI