Jurnal Photon Vol. 4 No. Mei 2014 BEBERAPA FAKTOR RISIKO KETERLAMBATAN PERKEMBANGAN ANAK BALITA Wafi Nur Muslihatun. Juli Widiyanto Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jurusan Keperawatan F-MIPA dan Kesehatan UMRI ABSTRAK Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan berisiko mempunyai capaian akademik rendah serta memiliki dampak substansial pada kesehatan dan fungsi pendidikan. Periode penting perkembangan anak adalah masa usia di bawah lima tahun . Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan beberapa faktor risiko keterlambatan perkembangan pada anak usia Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan case control. Populasi studi adalah semua anak balita yang berkunjung ke Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP Sardjito Yogyakarta tahun 2012. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur, observasi dan wawancara mendalam. Data dianalisis dengan uji chi-square dan multipel regresi Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel yang terbukti berisiko terhadap keterlambatan perkembangan anak balita adalah riwayat asfiksia (OR= 69,3. 95%C = 1,82655,. , riwayat gizi kurang (OR= 19,5. 95%CI= 1,3-286,. , pemberian stimulasi kurang (OR= 17,1. 95%CI= 2,8-103,. dan ibu bekerja (OR= 16,4. 95%CI= 2,2-. , dengan nilai probabilitas sebesar 76,6%. Disarankan untuk melakukan pencegahan dan penanganan cepat kejadian asfiksia, gizi kurang pada anak, pemberian stimulasi perkembangan yang baik dan meningkatkan interaksi ibu yang bekerja dengan anaknya. Kata kunci: Keterlambatan Perkembangan. Balita PENDAHULUAN Keterlambatan atau gangguan atau penyimpangan perkembangan mencakup semua bentuk gangguan mental dan fisik atau kombinasi dari gangguan fisik dan mental yang terjadi sebelum seseorang mencapai usia dua puluh tahun, dapat terus berlanjut. Anak-anak dengan keterlambatan dan gangguan perkembangan memiliki dampak substansial pada kesehatan dan fungsi pendidikan anak-anak. Dampak substansial anak dengan gangguan perkembangan antara lain kunjungan dokter 1,5 kali lebih banyak. 3,5 kali lebih banyak masa perawatan di rumah sakit. dua kali lebih banyak jumlah hari sekolah yang hilang. dan peningkatan 2,5 kali lipat kemungkinan mengulang kelas di FMIPA-UMRI sekolah dibandingkan dengan anak tanpa kondisi ini. Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi keterlambatan perkembangan Riwayat asfiksia. Bayi Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi kurang, tingkat pendidikan ibu rendah, pekerjaan ibu, status ekonomi keluarga rendah, jarak kehamilan kurang dari 12 bulan, pemberian Air Susu Ibu (ASI) kurang dari 1 bulan, tidak ada riwayat diberi dongeng dalam 2 minggu, riwayat sepsis, riwayat hiperbilirubinemia, riwayat kejang demam, pekerjaan bapak dan lingkungan fisik merupakan faktor-faktor risiko keterlambatan perkembangan anak. Diperkirakan 200 juta anak-anak di dunia Vol. 4 No. Mei2014 Penelitian perkembangan anak di Yogyakarta tahun 1989 menunjukkan 14% anak usia prasekolah Denver Developmental Sceening Test (DDST) abnormal. Hasil penelitian tentang perkembangan anak di Kabupaten Bantul Yogyakarta pada tahun 2007 menunjukkan 28% anak balita dengan perkembangan meragukan dan 8% anak kemungkinan mengalami perkembangan . Berdasarkan data dari Instalasi Catatan Medik dan data kunjungan di Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, pada tahun 2009 didapatkan 8,16% kasus anak dengan keterlambatan perkembangan. Pada tahun 2010 terjadi peningkatan kasus menjadi 14,85% kasus dan pada tahun 2011 ada 10,07% kasus anak dengan keterlambatan Deteksi perkembangan pada anak merupakan tema global utama dalam pelayanan kesehatan anak secara modern. Rekomendasi dari komite ahli WHO tahun 2007 menyebutkan faktor-faktor terjadinya keterlambatan perkembangan untuk dilakukan tindakan pencegahan. Masa anak merupakan dasar pembentukan fisik dan kepribadian pada masa berikutnya. Usia anak sampai dengan lima tahun merupakan usia paling kritis. Dikatakan kritis karena usia tersebut merupakan suatu masa atau tahapan umur yang menentukan kualitas manusia pada usia selanjutnya. Pada masa berbahasa, keativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat . Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan beberapa faktor risiko kejadian keterlambatan perkembangan pada anak usia Jurnal Photon balita di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan case control. Penelitian ini menggunakan pendekatan retrospektif diawali dengan mengamati pada kelompok kasus . nak usia balita dengan keterlambatan perkembanga. , kemudian dilanjutkan dengan kelompok pembanding . nak perkembangan norma. Setelah mengamati kelompok kasus dan kelompok kontrol, jumlah angka terpajan dan tidak terpajan dari masing-masing kelompok kasus dan kontrol dianalisis dengan membandingkan frekuensi pajanan antara kedua kelompok tersebut. Penelitian dilakukan di Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta dari bulan April sampai dengan Mei 2012. Populasi studi pada penelitian ini adalah semua anak usia balita yang berkunjung ke Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2012. Sampel dalam penelitian ini adalah anak usia balita . sia 12-59 bula. , sehat dengan perkembangan normal dan suspek mengalami keterlambatan perkembangan yang datang ke Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Besar sampel dalam kemaknaan (Confident Interval/CI) 95%, dihitung berdasarkan nilai OR dan p2 hasil penelitian sebelumnya sesuai dengan sembilan variabel yang diteliti. Besar sampel minimal dihitung menggunakan rumus:. E _E E Z 1AA / 2 2 pE1 A p E A Z 1A A A p1 A1 A p1 AA A A p 2 A1 A p 2 AAE nA E A p1 A p 2 A Diperoleh hasil 35 sampel dengan perbandingan kasus: kontrol = 1:1. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode nonrandom baik terhadap sampel kasus maupun sampel kontrol secara FMIPA-UMRI Jurnal Photon memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi sampel kasus dan kontrol adalah sebagai berikut: Anak balita sehat yang berkunjung ke poliklinik tumbuh kembang RSUP dr. Sardjito, diklasifikasi perkembangan atau perkembangan normal, memiliki ibu yang bersedia menjadi penandatanganan lembar informed consent dan mampu berkomunikasi. Data penelitian terdiri dari: Data sekunder, berupa data demografi dan data kesehatan balita kelompok kasus dan kelompok kontrol dari catatan rekam medik pasien. Data primer, setelah diperoleh data demografi dan data kesehatan balita, dilakukan observasi dan wawancara langsung kepada orang tua/pengasuh anak balita. Observasi dilakukan perkembangan anak balita menggunakan lembar Denver II untuk mengetahui status perkembangan anak balita, skor APGAR untuk mengetahui riwayat asfiksia,. berat badan lahir untuk mengetahui riwayat BBLR. dan Tinggi Badan/Umur anak untuk mengetahui riwayat gizi kurang. Wawancara langsung dilakukan untuk mendapatkan informasi secara lebih rinci tentang pemberian ASI,. tingkat pendidikan ibu, ibu bekerja dan pengeluaran keluarga untuk pemenuhan nutrisi . Data pengetahuan ibu tentang perkembangan anak dikumpulkan dengan kuesioner yang diadopsi dari kuesioner Caregiver Knowledge Child Development Inventory (CKCDI). Data pemberian stimulasi perkembangan dikumpulkan dengan instrumen/kuisioner FMIPA-UMRI Vol. 4 No. Mei 2014 yang dikembangkan dari pedoman stimulasi perkembangan anak dan lembar Denver II. Data kualitatif, diperoleh dari 10% responden dari kelompok kasus dan kelompok kontrol melalui indepth interview untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang keterlambatan perkembangan dan faktor-faktor yang keterlambatan perkembangan anak dari variabel-variabel yang diteliti. Analisis data pada penelitian ini dilakukan menggunakan alat bantu komputer dengan program SPSS for windows terdiri dari: analisis univariat, analisis bivariat, analisis multivariat. Analisis univariat dilakukan dengan cara membuat distribusi frekuensi dari setiap variabel. Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hubungan antara dua variabel yaitu masing-masing variabel independen dan variabel dependen. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square dengan menghitung OR. Tingkat kepercayaan ditentukan p= 0,05 dengan CI Analisis multivariat untuk melihat variabel-variabel dengan variabel dependen serta mengetahui variabel independen yang paling besar hubungannya dengan variabel dependen. Uji regresi logistik digunakan untuk menjelaskan hubungan variabel independen dengan variabel dependen. Data kualitatif yang diperoleh melalui indept interview dilakukan analisis isi . ontent analysi. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan untuk dilaksanakan . thical clearanc. dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang tertanggal 13 April 2012. HASIL DAN PEMBAHASAN Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP Sardjito Yogyakarta adalah suatu unit Vol. 4 No. Mei2014 pelayanan kesehatan paripurna meliputi tindakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang ditangani oleh Tim ahli dari berbagai disiplin ilmu dan profesi. Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta bertujuan untuk memfasilitasi agar proses tumbuh kembang seorang anak berlangsung secara baik dan optimal. Pelayanan yang tersedia di Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta antara lain klinik laktasi, klinik balita, klinik usia sekolah dan remaja, klinik gizi, klinik genetika, klinik gigi, pemeriksaan general check up anak serta konsultasi Dari data kunjungan Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta tanggal 9 April sampai dengan 1 Mei 2012 terdapat 131 kunjungan anak balita. Dari jumlah tersebut 79 di antaranya adalah anak usia balita . -59 bula. dan dilakukan pemeriksaan perkembangan oleh dokter menggunakan formulir Denver II. Ada sembilan anak yang tidak memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sehingga tidak disertakan sebagai sampel penelitian karena menderita retardasi mental, epilepsi, riwayat menderita kelainan jantung bawaan, cerebral palsy, penyakit berat yaitu nefrotik sindrom dan meningo-ensefalitis. Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah anak yang memiliki riwayat mengalami Jurnal Photon asfiksia neonatorum lebih banyak pada kelompok kasus . ,7%) dibanding anak pada kelompok kontrol . ,9%). Sebanyak 22,9% anak kelompok kasus memiliki riwayat BBLR (<2. 500 gra. , dan hanya 2,9% anak pada kelompok kontrol memiliki riwayat BBLR. Lebih banyak anak pada kelompok kasus . ,7%) yang tidak diberikan ASI Eksklusif (<6 bula. , dibanding anak pada kelompok kontrol yang tidak diberikan ASI Eksklusif . ,3%). Jumlah anak yang mempunyai riwayat mengalami gizi kurang lebih banyak pada kelompok kasus . ,3%) dibanding anak pada kelompok kontrol . ,9%). Ibu yang memiliki pendidikan rendah lebih banyak terdapat pada kelompok kasus . ,4%) dibanding pada kelompok kontrol . ,7%). Lebih banyak ibu pada kelompok kontrol yang berpengetahuan tinggi . ,9%) dibanding ibu pada kelompok kasus . ,7%). Ibu yang bekerja lebih banyak terdapat pada kelompok kasus . ,6%) dibanding pada kelompok kontrol . ,3%). Pengeluaran untuk nutrisi anak < Rp 305. 036/bulan pada kelompok kasus sedikit lebih banyak . ,7%) dibanding pengeluaran untuk nutrisi anak pada kelompok kontrol . %). Sebanyak 71,4% anak kelompok kasus kurang (<80%), dan hanya 14,3% anak pada kelompok kontrol kurang mendapatkan stimulasi perkembangan. Tabel 1. Analisis Univariat Kelompok Kasus dan Kontrol Keterlambatan Perkembangan Kelompok Kasus dan Kontrol di Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta Karakteristik Riwayat Asfiksia C Asfiksia C Tidak Asfiksia Riwayat BBLR Mean Standar Deviasi Minimum Maksimum C BBLR C Tidak BBLR Kasus Kontrol Total FMIPA-UMRI Jurnal Photon Vol. 4 No. Mei 2014 Karakteristik Pemberian ASI kurang Mean Standar Deviasi Minimum Maksimum C Tidak ASI Eksklusif C ASI Eksklusif Riwayat gizi kurang C Gizi kurang C Gizi baik Pendidikan ibu rendah C Rendah C Tinggi Pengetahuan ibu tentang perkembangan anak Mean Standar Deviasi Minimum Maksimum C Rendah C Tinggi Ibu bekerja C Bekerja C Tidak Bekerja Pengeluaran untuk kebutuhan nutrisi anak C < Rp 305. 036/bulan C > Rp 305. 036/bulan Pemberian stimulasi perkembangan kurang Mean Standar Deviasi Minimum Maksimum C Kurang C Baik Hasil penelitian ini membuktikan bahwa adanya riwayat asfiksia berhubungan dengan keterlambatan perkembangan pada anak usia balita . -value <0,. dengan nilai OR 11,8, 95%CI 1. Faktor lain perkembangan pada anak usia balita adalah: adanya riwayat BBLR (OR 10. 1, 95%CI 1. Pemberian ASI kurang . idak diberikan ASI eksklusi. (OR 3. 7, 95%CI 1. Riwayat gizi kurang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan pada anak usia balita (OR 17,7. 95%CI 2. FMIPA-UMRI Kasus Kontrol Total 61,500 Pengetahuan ibu tentang perkembangan anak rendah (OR 12. 4, 95%CI 2. Pemberian stimulasi perkembangan kurang (OR 15, 95%CI 4. (Tabel . Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa riwayat asfiksia adalah faktor risiko yang paling kuat terhadap keterlambatan perkembangan anak usia balita (Tabel . Risiko keterlambatan perkembangan tidak dipengaruhi oleh pendidikan ibu rendah dan pengeluaran keluarga untuk kebutuhan nutrisi anak rendah. Vol. 4 No. Mei2014 Jurnal Photon Tabel 2. Analisis Bivariat Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Keterlambatan Perkembangan Anak Usia Balita di Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta Faktor Risiko Riwayat Asfiksia Asfiksia Tidak Asfiksia Riwayat BBLR C BBLR C Tidak BBLR Pemberian ASI kurang C Tidak ASI Eksklusif C ASI Eksklusif Riyawat Gizi Kurang (TB/U) C Gizi kurang C Gizi baik Pendidikan Ibu C SD. SMP C SMA. Perguruan Tinggi Pengetahuan Ibu C Rendah C Tinggi Ibu Bekerja C Bekerja C Tidak Bekerja Pengeluaran anak/bulan C < Rp 305. 036,00 C > Rp 305. 036,00 Pemberian Stimulasi C Kurang C Baik C Kasus Kontrol 95% CI p-Value Tabel 3. Model Akhir Analisis Multivariat dengan Metode Backward LR Beberapa Faktor Risiko Keterlambatan Perkembangan Anak Usia Balita di Poliklinik Tumbuh Kembang RSUP dr. Sardjito Yogyakarta Faktor Risiko Riwayat Asfiksia Riwayat gizi kurang Pemberian Stimulasi Kurang Ibu Bekerja Pembahasan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat empat variabel yang secara bersamasama terbukti kuat sebagai faktor risiko terjadinya keterlambatan perkembangan anak usia balita, yaitu riwayat asfiksia, riwayat gizi kurang, pemberian stimulasi perkembangan kurang dan ibu bekerja. Asfiksia adalah masalah umum yang dapat mengakibatkan defisit perkembangan saraf, dan pada gilirannya akan mengganggu anak yang Adjusted OR 95% CI 8 - 2655. 3 - 286,7 8 - 103. 2 - 118. p-Value sedang berkembang. Asfiksia perinatal dianggap salah satu yang utama penyebab cedera otak dan cacat perkembangan saraf di kemudian hari pada bayi cukup bulan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Moura DR. yang menyebutkan bahwa nilai APGAR menit ke lima kurang dari tujuh merupakan faktor risiko terjadinya suspek keterlambatan perkembangan pada anak usia antara 12 dan 24 bulan. Anak-anak dengan riwayat nilai FMIPA-UMRI Jurnal Photon APGAR menit ke lima kurang dari tujuh menunjukkan risiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami suspek keterlambatan perkembangan atau Suspect Development Delay (SDD) dan empat kali lebih tinggi menetap dalam kondisi ini dibandingkan dengan anak-anak yang riwayat nilai APGAR menit ke lima mencapai tujuh atau lebih. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian oleh Elenjickal MG. yang menunjukkan bahwa bayi baru lahir mengalami asfiksia berat dikategorikan sebagai bayi baru lahir risiko tinggi. Tingginya risiko pada bayi baru lahir berhubungan signifikan dengan keparahan keterlambatan perkembangan Gizi sangat berperan pada periode kritis pertumbuhan otak yaitu pada triwulan terakhir kehamilan sampai dengan tiga tahun pertama kehidupan, yang sering disebut sebagai windows of opportunity. Kekurangan gizi selama masa kritis perkembangan anak akan menyebabkan penurunan jumlah sel-sel otak yang akan mengganggu pertumbuhan otak kurang gizi dapat menyebabkan penurunan sebanyak 20-30% sel-sel otak dan 15-25% jumlah plasmogen . at penting untuk myeli. pada substansi alba otak. Kekurangan gizi pada masa bayi dan anak usia dini memberikan efek yang merugikan pada perkembangan kognitif dan perilaku anak-anak. Indeks TB/U <-2 z score . pertumbuhan yang linear dan disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dan infeksi sebelum dan sesudah kelahiran. Stunting pada awal kehidupan anak berhubungan dengan lemahnya perkembangan kognitif, motorik dan sosial emosional serta meningkatkan Pertumbuhan terhambat atau stunting pada usia dua tahun pertama kehidupan meningkatkan kerusakan yang ireversibel termasuk pemendekan tubuh pada usia dewasa, kemampuan sekolah lebih FMIPA-UMRI Vol. 4 No. Mei 2014 rendah dan berisiko terkena penyakit kronis yang berhubungan dengan nutrisi. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Walker SP. yang menyebutkan bahwa anak dengan riwayat gizi kurang mempunyai risiko tiga kali lebih besar mengalami keterlambatan perkembangan dibanding anak yang tidak ada riwayat gizi kurang dan penelitian oleh Sitaresmi dkk. yang menyebutkan bahwa anak status gizi kurang merupakan faktor risiko keterlambatan perkembangan anak. Perkembangan stimulasi/rangsangan khususnya stimulasi dalam keluarga. Stimulasi dalam keluarga yang dapat diberikan antara lain berupa penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak serta perlakuan ibu terhadap perilaku anak. Anak yang banyak mendapatkan stimulasi terarah akan cepat berkembang dibanding anak yang kurang atau bahkan tidak mendapatkan stimulasi. Stimulasi juga dapat berfungsi untuk penguat perkembangan anak. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Hastuti. yang membuktikan bahwa pengasuhan stimulasi psikososial yang diberikan ibu kepada anak di rumah memberikan pengaruh positif pada perkembangan fisik dan motorik anak. Penelitian Briawan. menyimpulkan bahwa pemberian stimulasi berkorelasi dengan nilai perkembangan anak. Ibu bekerja cenderung memiliki waktu yang kurang untuk memberikan stimulasi perkembangan pada anak, sehingga anak Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sitaresmi, dkk. yang merupakan faktor risiko keterlambatan perkembangan anak. Anak dengan ibu yang bekerja mempunyai risiko dua kali lebih perkembangan dibanding anak dengan ibu Vol. 4 No. Mei2014 yang tidak bekerja. Meskipun demikian, menurut Grantham. hal yang penting bukan lama ibu bersama anak setiap hari, namun pada intensitas interaksi ibu dan anak sewaktu mereka bersama-sama. Interaksi ibu dan anak sewaktu anak makan, anak bermain maupun sewaktu ibu bekerja . i ruma. berhubungan secara positif bermakna dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian sebelumnya oleh Brooks-Gunn J et al. menyebutkan bahwa pengaruh ibu bekerja pada kemampuan kognitif anak tergantung pada kualitas asuhan yang diterima anak di rumah maupun kualitas asuhan yang diterima anak di institusi penitipan anak/sekolah anak. KESIMPULAN DAN SARAN Riwayat asfiksia, riwayat gizi kurang, pemberian stimulasi perkembangan kurang dan ibu bekerja merupakan faktor risiko yang terbukti bersama-sama berpengaruh terhadap keterlambatan perkembangan anak usia Disarankan untuk meningkatkan upaya deteksi dini dan penanganan keterlambatan perkembangan yang baik dan meningkatkan interaksi ibu yang bekerja dengan anaknya. DAFTAR PUSTAKA