JURNAL KESEHATAN ILMIAH INDONESIA (INDONESIAN HEALTH SCIENTIFIC JOURNAL) Vol 3 No. 2 Desember 2018 HUBUNGAN LAMA MENDERITA DAN KOMPLIKASI DENGAN ANSIETAS PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 Febrina Angraini Simamora. Adi Antoni Febrina. angraini@yahoo. ABSTRACT Diabetes Mellitus control measures are needed, especially by making blood sugar levels as close to normal as possible, is one of the best prevention efforts against the possibility of developing complications in the long run. The duration of the patient has DM is also a thing that is a strong factor associated with self-care behavior. Usually sufferers who have just been diagnosed with diabetes will feel anxiety compared to patients who have long suffered from This study aims to identify the relationship between complications and length of suffering with anxiety in patients with type 2 diabetes. The study design used is descriptive There were 62 samples according to the criteria of the study sample. The sampling technique used was purposive sampling. Data is collected by using a questionnaire. Data analysis using Chi square test. The results showed there was no relationship between complications and length of suffering with anxiety in patients with type 2 diabetes The clients with Type 2 diabetes who are in good psychosocial condition would be able to perform selfcare-\activity so that they would be able to control the blood sugar. The Type 2 diabetes clients were hoped to be able in adaptation with their diabetes, so they havenAot anxiety and depression, and then they can do their self care activities and can control their blood sugar. Keywords: Anxiety. DM complication, length of suffer Abstrak Tindakan pengendalian Diabetes Mellitus sangat diperlukan, khususnya dengan mengusahakan tingkat gula darah sedekat mungkin dengan normal, merupakan salah satu usaha pencegahan yang terbaik terhadap kemungkinan berkembangnya komplikasi dalam jangka panjang. Lama penderita mengalami DM juga merupakan suatu hal yang merupakan faktor kuat yang berhubungan dengan perilaku perawatan diri. Biasanya pnderita yang baru saja terdiagnosis DM akan merasakan kecemasan dibandingkan dengan penderita yang sudah lama menderita DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara komplikasi dan lama menderita dengan ansietas pada penderita DM tipe 2. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Terdapat 62 orang sampel sesuai dengan kriteria sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan komplikasi dan lama menderita dengan ansietas pada penderita DM tipe 2. Klien DM dengan kondisi psikososial yang baik, akan mampu melakukan aktivitas perawatan diri yang baik sehingga mampu mengontrol kadar gula darah. Klien DM tipe 2 diharapkan mampu beradaptasi dengan diabetesnya sehingga tidak mengalami ansietas dan depresi sehingga mampu melakukan perawatan diri yang baik dan kadar gula darah yang terkontrol. Kata kunci : ansietas, komplikasi DM, lama menderita JURNAL KESEHATAN ILMIAH INDONESIA (INDONESIAN HEALTH SCIENTIFIC JOURNAL) Vol 3 No. 2 Desember 2018 Pengelolaan dan pengontrolan diabetes yang dilakukan dengan tidak tepat akan mengakibatkan terjadinya komplikasi akut ataupun kronik. Pengontrolan diabetes sangat dipengaruhi oleh kemandirian pasien diabetes dalam melakukan perawatan diabetes yang benar (Soegondo. Soewono & Subekti, 2. Tindakan pengendalian Diabetes Mellitus sangat diperlukan, khususnya dengan mengusahakan tingkat gula darah merupakan salah satu usaha pencegahan yang terbaik terhadap kemungkinan berkembangnya komplikasi dalam jangka Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh terutama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh Hal ini akan berdampak terhadap kualitas hidup pasien diabetes (Sustrani & Hadibroto, 2. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku perawatan diri diabetes diantaranya yaitu pengetahuan, stress, depresi, ansietas, kepercayaan terhadap program pengobatan diabetes, dan dukungan sosial. Lama penderita mengalami DM juga merupakan suatu hal yang merupakan faktor kuat yang berhubungan dengan perilaku perawatan Biasanya pnderita yang baru saja terdiagnosis DM akan merasakan kecemasan dibandingkan dengan penderita yang sudah lama menderita DM (Wilson. Ary. Biglan. Glasgow. Toobert, & Campbell, 1. Pada penelitian Murdiningsih & Ghofur . ditemukan bahwa tingkat kecemasan penderita DM tipe 2 berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 85,3%. Penderita dengan komplikasi cenderung merasakan kecemasan yang lebih dibandingkan dengan penderita tanpa Data yang didapatkan tentang pasien diabetes di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Pirngadi Kota Medan menunjukkan bahwa penderita diabetes mellitus tipe 2 semakin meningkat Berdasarkan data Rekam Medik RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan PENDAHULUAN Latar Belakang Epidemiologi menunjukkan adanya insidens dan prevalensi DM tipe II di WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes yang cukup besar untuk tahun-tahun mendatang. Jumlah kasus diabetes di dunia mengalami peningkatan secara signifikan pada sepuluh tahun belakangan ini dan merupakan penyebab kematian keenam di seluruh dunia. Peningkatan jumlah kasus diabetes tersebut akan berdampak terhadap menurunnya angka harapan hidup, meningkatnya angka kesakitan, dan menurunnya kualitas hidup (Nwankwo et , 2. Data International Diabetes Federation (IDF, 2. menyatakan jumlah pasien diabetes diseluruh dunia hingga tahun 2013 mencapai 382 juta orang dan diprediksi akan terus meningkat sebesar 55% hingga tahun 2035 diperkirakan jumlahnya mencapai 592 juta orang. Secara epidemiologis diabetes seringkali tidak terdeteksi dan mulai terjadinya diabetes adalah tujuh tahun sebelum diagnosis Peningkatan jumlah penderita DM di berbagai wilayah memiliki derajat yang tidak sama, wilayah Pasifik Barat memiliki penderita DM yang lebih banyak dibandingkan dengan wilayah lainnya yaitu berkisar 138 juta orang dan wilayah Afrika menempati posisi terkecil dengan jumlah penderita berkisar 19,8 juta orang. Untuk wilayah Asia Tenggara, ditemukan 72,1 juta penderita DM dan menempati urutan kedua dari tujuh pembagian wilayah yang ada. Indonesia merupakan negara yang menempati urutan ke tujuh dari sepuluh negara dengan jumlah kasus diabetes terbanyak pada usia 20 Ae 79 tahun dan jumlah pasien mencapai 8,5 juta orang (IDF, 2. DM merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol berdasarkan 4 pilar yaitu edukasi, manajemen diet, olahraga dan obat-obatan. JURNAL KESEHATAN ILMIAH INDONESIA (INDONESIAN HEALTH SCIENTIFIC JOURNAL) pada tahun 2016 dilaporkan terdapat sebanyak A 923 yang menjalani pengobatan di instalasi rawat jalan. Dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan sebanyak A 984 penderita. Kebanyakan klien DM yang datang untuk kontrol di Terdapat penderita yang baru terdiagnosis DM sampai dengan penderita yang sudah puluhan tahun hidup dengan DM. Vol 3 No. 2 Desember 2018 Melayu Tamil Status menikah Menikah Janda Duda Pendidikan SMP SMA Pendidikan Tinggi Pekerjaan PNS/TNI/Polri Petani Wiraswasta Pensiunan Lain-lain/tidak Status ekonomi < UMR Ou UMR METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian yaitu seluruh klien DM tipe 2 yang melakukan kunjungan ke poliklinik endokrinologi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan dengan rata-rata kunjungan A80 klien setiap harinya. Sampel diperoleh sebanyak 62 orang dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Terdapat 2 kuesioner dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi karakteristik responden, ansietas menggunakan kuesioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-square. Lama menderita DM 2-5 tahun >5 tahun Komplikasi Mata kabur Tidak Dari Tabel 1 diatas dijelaskan bahwa mayoritas responden berumur 4160 tahun dan rata-rata berusia 49,8 tahun sebanyak 57 responden . ,9%), berjenis responden . ,7%), memiliki suku batak ,8%), responden yang menikah sebanyak 54 responden . ,1%), pendidikan terakhir SMA sebanyak 46 responden . ,2%), pekerjaan wiraswasta sebanyak 37 responden . ,7%), status ekonomi dengan pendapatan diatas UMR sebanyak 43 responden . ,4%), lama menderita DM selama > 5 tahun sebanyak 57 responden . ,9%), dan yang tidak mengalami komplikasi sebanyak 56 responden . ,3%). HASIL PENELITIAN Karakteristik Responden Distribusi responden berdasarkan karakterikstik dijelaskan pada Tabel 1 berikut ini : Tabel. 1 : Distribusi Frekuensi dan Persentasi Data Demografi Klien DM Tipe 2 di RSUD Pirngadi Kota Medan . Karakteristik (%) Umur 20-40 tahun 41-60 tahun Jenis kelamin Laki-laki Suku Batak Jawa Minang Ansietas. Depresi. Dukungan Sosial. Aktivitas Perawatan diri, dan Kontrol Kadar Gula Darah JURNAL KESEHATAN ILMIAH INDONESIA (INDONESIAN HEALTH SCIENTIFIC JOURNAL) Distribusi frekuensi ansietas, depresi, dukungan sosial, aktivitas perawatan diri dan kontrol kadar gula darah akan dijelaskan pada tabel 2 berikut komplikasi, tidak terdapat hubungan antara komplikasi dengan ansietas dengan p = 0,477 . > 0,. Tabel. 2 : Distribusi Frekuensi dan Persentase Ansietas klien DM tipe 2 di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan . Variabel . (%) Ansietas Tidak ada ansietas Ansietas ringan Ansietas sedang Tabel 2 diatas menunjukkan dari 62 orang responden, sebanyak 36 responden . ,1%) tidak mengalami ansietas, sebanyak 14 responden . ,6%) memiliki gejala ansietas sedang, dan sebanyak 12 responden . ,4%) memiliki gejala ansietas ringan. Korelasi antara Ansietas. Depresi, dan Dukungan Sosial dengan Aktivitas Perawatan Diri Korelasi antara ansietas, depresi, dan dukungan sosial dengan aktivitas perawatan diri akan dijelaskan pada tabel 3 berikut ini : Tabel. 3 : Hasil Analisa Korelasi Ansietas. Depresi, dan Dukungan Sosial dengan Aktivitas Perawatan Diri Klien DM tipe 2 . Variabel Ansietas Tidak Ansietas . % CI) 0,654 Lama menderita 2-5 tahun Eo 5 tahun Komplikasi Tidak Mata kabur 0,477 Vol 3 No. 2 Desember 2018 Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara lama menderita dengan ansietas dengan p = 0,654 . > 0,. Begitu juga dengan PEMBAHASAN Lama Menderita DM Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas klien DM tipe 2 yang melakukan kunjungan ke poliklinik endokrinologi RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan telah menderita DM selama lebih dari 5 tahun . ,9%). Namun terdapat . ,1%) menderita DM sekitar 2-5 tahun. Hal yang sama ditemukan ChingJu et al . yang menjelaskan bahwa rata-rata klien DM tipe 2 yang menjadi respondennya telah menderita DM selama 12,5 tahun. begitu juga dengan Gonzales et al . yang menjelaskan bahwa ratarata lama menderita DM responden penelitiannya adalah sekitar 9,5 tahun. Gao et al . menemukan hal yang sama, yaitu sekitar 71,2% klien DM tipe 2 di pusat perawatan diabetes di Cina telah menderita DM selama lebih dari 5 tahun. Lama menderita DM kurang menggambarkan keadaan penyakit yang sesungguhnya karena biasanya klien baru terdiagnosa setelah mengalami komplikasi yang nyata, sementara proses penyakit tersebut sudah berlangsung lama sebelum Klien menjelaskan lama ditegakkan, sehingga hal ini kurang menderita DM (Simamora, 2. Lama menderita DM sering Komplikasi biasanya mulai timbul setelah klien menderita DM selama lebih dari 10 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas lama menderita klien adalah kurang dari 10 tahun, hanya beberapa responden saja yang berkisar 10-15 tahun, sehingga masih belum didapatkan klien dengan komplikasi yang kompleks (Simamora, 2. Komplikasi yang Dialami Hasil penelitian menjelaskan bahwa 88,7% klien dengan DM tipe 2 yang JURNAL KESEHATAN ILMIAH INDONESIA (INDONESIAN HEALTH SCIENTIFIC JOURNAL) berkunjung ke poliklinik endokrinologi RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan tidak mengalami komplikasi yang rumit. Hal tersebut terjadi karena sebelumnya telah ditentukan kriteria yang akan dijadikan sebagai responden penelitian, yaitu tidak menagalami komplikasi yang kompleks. Berbeda dengan Gao et al . yang menjelaskan bahwa sekitar 69,8% klien DM tipe 2 di pusat perawatan diabetes di Cina mengalami komplikasi, dan 70,7% mengalami obesitas sentral. Komplikasi diabetes dapat terjadi dalam kategori komplikasi akut yang terjadi akibat perubahan yang relatif dari kadar glukosa plasma. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan bagi klien DM. Pada penelitian ini terdapat 9,7% responden yang mengalami komplikasi berupa mata kabur. Komplikasi yang terjadi bukan merupakan komplikasi yang kompleks, namun perlu dilakukan perawatan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang membahayakan klien DM Kerusakan dinding pembuluh darah kecil dapat menyebabkan retinopati. Retinopati penumpukan sorbitol pada lensa mata yang mengakibatkan penarikan cairan dan perubahan kejernihan lensa mata (Price, & Wilson, 2006. Waspadi dalam Sudoyo. Hiperglikemia juga menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah yang besar yang berhubungan dengan terjadinya infark miokard, stroke dan penyakit pembuluh darah tepi. Komplikasi maupun neuropati yang sering terjadi adalah komplikasi pada kaki atau kaki Gangguan vaskuler perifer baik akibat makrovaskular . dan mikrovaskular menyebabkan iskemia kaki (Ignatavicius & Workman, 2. Ansietas Hasil menunjukkan bahwa klien DM tipe 2 yang berkunjung ke poliklinik endokrinologi RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan rata-rata tidak mengalami Sebagian besar responden pada penelitian ini tidak merasakan kecemasan disebabkan karena sebagian Vol 3 No. 2 Desember 2018 besar klien telah menderita DM selama >5 tahun dan telah mendapatkan informasi yang cukup tentang penyakitnya. Selain itu, responden juga tidak merasa cemas karena rentang kadar gula darahnya telah terkontrol dan telah mampu menerima kondisi kesehatannya. Terdapat sekitar 22,6% yang mengalami ansietas sedang, dan 19,4% mengalami ansietas ringan. Dalam penelitian ini, beberapa tanda dan gejala yang menunjukkan kecemasan pada klien DM tipe 2 adalah adanya perasaan cemas . , merasa tegang, sukar memulai tidur, sulit berkonsentrasi, otot terasa kaku, penglihatan kabur, denyut nadi cepat dan berdebar-debar, berat badan turun, gangguan pencernaan, sering kencing, mulut kering, dan gelisah. Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan kondisi medis sering ditemukan walaupun insidensi gangguan bervariasi untuk masing-masing kondisi medis, hal ini akan mempengaruhi tingkat kecemasan klien. Sebaliknya pada pasien yang dengan diagnosa baik tidak terlalu (Sadock, 2. Berbeda dengan Murdiningsih & Ghofur . yang menemukan bahwa tingkat kecemasan penderita DM tipe 2 yang melakukan kunjungan ke puskesmas Banyuanyar berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 85,3%. Begitu juga dengan Carlos et al . yang menjelaskan bahwa penderita DM memiliki tingkat depresi dan ansietas yang sedang sampai berat dan penyesuaian psikologis dalam tingkat sedang. Diabetes merupakan penyakit kronik yang dialami oleh klien sepanjang Gangguan fisik dapat mengancam integritas seseorang baik berupa ancaman secara eksternal maupun Pada klien dengan DM, perubahan pada fungsi tubuh dan aktivitas dalam melakukan perawatan dirinya seringkali menyebabkan adanya perasaan cemas akan kehidupannya sekarang dan masa depan. Tingkat penyesuaian emosional yang sangat tinggi sangat diperlukan klien agar dapat beradaptasi JURNAL KESEHATAN ILMIAH INDONESIA (INDONESIAN HEALTH SCIENTIFIC JOURNAL) dengan kondisi dan melakukan perawatan yang benar terhadap penyakitnya. Potter & Perry . mengatakan dipengaruhi oleh stimulus internal dan eksternal yang dihadapi individu dan membutuhkan respon perilaku yang terus Proses menstimulasi individu untuk mendapatkan bantuan dari sumber-sumber di lingkungan dimana dia berada. Perawat merupakan sumber daya yang tersedia di lingkungan rumah sakit yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk membantu pasien keseimbangan diri dalam menghadapi lingkungan yang baru. Vol 3 No. 2 Desember 2018 ditegakkan, sehingga hal ini kurang menderita DM. Lama menderita DM sering Komplikasi biasanya mulai timbul setelah klien menderita DM selama lebih dari 10 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas lama menderita klien adalah kurang dari 10 tahun, hanya beberapa responden saja yang berkisar 10-15 tahun, sehingga masih belum didapatkan klien dengan komplikasi yang kompleks. Hanya sekitar 7,7% klien yang mengalami ansietas yang melakukan aktivitas perawatan diri yang baik. Dalam penelitian ini sebagian klien tidak mengalami diabetes selama lebih dari 5 tahun sehingga klien sudah dapat beradaptasi dengan kondisi tubuhnya dan mampu melakukan aktivitas perawatan diabetes yang disarankan petugas Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas perawatan diri diabetes tidak hanya dipengaruhi oleh ansietas, namun dipengaruhi faktor lain seperti usia, jenis kelamin, sosial ekonomi, lama menderita DM, aspek psikososial, penatalaksanaan diabetes, dan komunikasi petugas kesehatan (Kusniawati, 2. Klien DM mempunyai perbedaan sikap terhadap dirinya dan kehidupannya termasuk dalam pola makan karena adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh, seperti sering kencing, perubahan pola tidur, dan stress. Oleh karena itu kualitas hidup penting bagi penderita DM karena menggambarkan kekuatan penderita dalam mengelola penyakit serta memelihara kesehatannya dalam jangka waktu lama yang tentunya akan mempengaruhi tingkat ansietas penderita. Klien yang mengalami ansietas akan lebih kecil 0,77 kali kemungkinannya dalam melakukan aktivitas perawatan diri yang baik. Dapat disimpulkan bahwa semakin positif sikap penderita dalam menghadapi pengelolaan DM, maka semakin baik praktik penderita DM dalam Hubungan Lama Menderita dengan Ansietas Tidak terdapat hubungan antara lama menderita dengan ansietas. Pada klien dengan DM, perubahan pada fungsi tubuh dan aktivitas dalam melakukan perawatan dirinya seringkali menyebabkan kehidupannya sekarang dan masa depan. Tingkat penyesuaian emosional yang sangat tinggi sangat diperlukan klien agar dapat beradaptasi dengan kondisi dan melakukan perawatan yang benar terhadap Klien yang baru terdiagnosa DM cenderung akan melakukan aktivitas perawatan diri yang buruk. Seseorang dengan perasaan cemas yang terus menerus dapat menyebabkannya hanya fokus terhadap kecemasannya dan penyakit yang diderita. Gejala cemas seperti gelisah, kurang nafsu makan, dan lain sebagainya dapat menyebabkan perilaku perawatan diri diabetes yang Lama menderita DM kurang menggambarkan keadaan penyakit yang sesungguhnya karena biasanya klien baru terdiagnosa setelah mengalami komplikasi yang nyata, sementara proses penyakit tersebut sudah berlangsung lama sebelum Klien menjelaskan lama JURNAL KESEHATAN ILMIAH INDONESIA (INDONESIAN HEALTH SCIENTIFIC JOURNAL) mengikuti pengelolaan DM sehingga gula darahnya semakin terkontrol. Hal ini membuat tingkat kecemasan penderita DM berkurang (Jazilah, 2. Vol 3 No. 2 Desember 2018 selalu dikontrol agar tidak terjadi kenaikan glukosa darah. Keharusan pasien DM melakukan perawatan diri berhubungan dengan proses dan kondisi perkembangan yang terjadi selama siklus hidup. Dua kategori dari perawatan diri terkait perkembangan adalah mempertahankan kondisi yang mencegah efek yang membahayakan terhadap perkembangan manusia dan memberikan perawatan untuk mengatasi efek tersebut (Christensen & Kenney. Hubungan Komplikasi dengan Ansietas Tidak Terdapat hubungan antara komplikasi dengan ansietas. Sebagian besar klien yang memiliki komplikasi merupakan klien yang tidak mengalami Ansietas yang dirasakan klien dengan diabetes akan mempengaruhi klien dalam melakukan perawatan diri diabetes. Sebagian klien menyatakan bahwa jika sedang merasa cemas dan gelisah, perawatan diri pun tidak bisa dipenuhi dan gula darah akan naik. Pada penelitian ini terdapat 9,7% responden yang mengalami komplikasi berupa mata kabur. Komplikasi yang terjadi bukan merupakan komplikasi yang kompleks, namun perlu dilakukan perawatan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang membahayakan klien DM Kerusakan dinding pembuluh darah kecil dapat menyebabkan retinopati. Retinopati penumpukan sorbitol pada lensa mata yang mengakibatkan penarikan cairan dan perubahan kejernihan lensa mata (Price, & Wilson, 2006. Waspadi dalam Sudoyo. Hiperglikemia juga menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah yang besar yang berhubungan dengan terjadinya infark miokard, stroke dan penyakit pembuluh darah tepi. Komplikasi maupun neuropati yang sering terjadi adalah komplikasi pada kaki atau kaki Gangguan vaskuler perifer baik akibat makrovaskular . dan mikrovaskular menyebabkan iskemia kaki (Ignatavicius & Workman, 2. Hasil pernyataan Hawari . dalam Suliswati . yaitu pada penderita diabetes mellitus umumnya mengalami rasa cemas terhadap segala hal yang berhubungan dengan diabetesnya. Perasaan cemas terhadap kadar gula darah yang harus SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara komplikasi dan lama menderita dengan ansietas pada penderita DM tipe 2. Saran