HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 HoCh: Jurnal Holistic Christianity e-ISSN:- https://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/HoCh p-ISSN:Vol. 1 No. 1 (Maret 2. hlm:69-85 DOI: https://doi. org/10. 34081/HoCh. Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu Pendidikan Agama Kristen Multikultural dalam Mengatasi Dilema Religius Siswa Muslim di Sekolah Kristen Keysha Loteus Mauk,1 Firman Panjaitan. * 1,. Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu. Indonesia Email: panjaitan. firman@gmail. Diterima: 20 Jan. Direvisi: 17 Maret 2026 Disetujui: 24 Maret 2026 Abstract Indonesia, as a multicultural nation, faces challenges in managing religious education in faith-based schools. The practice of religious education in Christian schools that only provide Christian Religious Education often creates a religious dilemma for Muslim students as a minority group. This condition has the potential to trigger identity confusion, social alienation, and value conflicts if it is not managed in an inclusive manner. This study employs a descriptive qualitative method through a literature review of relevant books and journal articles. The purpose of this study is to examine the learning of Contextual Christian Religious Education as an effort to develop an educational approach that respects pluralism without weakening the Christian identity of the school. The findings indicate that the integration of multicultural, contextual, and inclusive approaches in Christian Religious Education is essential to create meaningful and equitable learning that aligns with the principles of diversity and national education regulations. Therefore, the implementation of Contextual Christian Religious Education can serve as a pedagogical strategy to support the creation of an inclusive educational environment while maintaining the religious identity of the school institution. Keywords: Contextual Christian Religious Education. Multicultural Education. Muslim Students. Inclusive Education. Abstrak Indonesia sebagai bangsa multikultural menghadapi tantangan dalam pengelolaan pendidikan agama di sekolah berbasis keagamaan. Praktik pendidikan agama di sekolah Kristen yang hanya menyediakan Pendidikan Agama Kristen kerap CopyrightA2026. Penulis. License: This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International (CC BY-SA 4. | 69 HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 menimbulkan dilema religius bagi siswa Muslim sebagai kelompok minoritas. Kondisi ini berpotensi memicu kebingungan identitas, keterasingan sosial, serta konflik nilai apabila tidak dikelola secara inklusif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap buku dan artikel jurnal yang relevan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Multikultural sebagai upaya membangun pendidikan yang menghargai pluralitas tanpa melemahkan identitas Kristen sekolah. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi pendekatan multikultural, multikultural, dan inklusif dalam Pendidikan Agama Kristen penting untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, adil, serta selaras dengan prinsip kebhinekaan dan regulasi pendidikan Dengan demikian, penerapan Pendidikan Agama Kristen Multikultural dapat menjadi strategi pedagogis yang mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif sekaligus menjaga identitas keagamaan institusi sekolah. Kata-kata kunci: Pendidikan Agama Kristen Multikultural. Pendidikan Inklusif. Siswa Muslim. Multikultural. Pendidikan Pendahuluan Indonesia adalah negara yang sangat beragam, yang dihuni lebih dari 270 juta penduduk, sekitar 300 kelompok etnik dan 6 agama resmi diantaranya ada Islam. Kristen. Katolik. Hindu. Buddha, dan Konghucu. 1 Keragaman ini, di satu sisi merupakan kekayaan bangsa, namun, di sisi lain, juga menimbulkan tantangan Penelitian menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi sumber konflik jika tidak dikelola dengan baik oleh karena itu, pendidikan multikultural dan inklusif di sekolah menjadi sangat penting. Para ahli menekankan bahwa pendidikan yang menghargai perbedaan budaya dan agama harus diupayakan agar keberagaman tidak menjadi sumber perpecahan. Dalam konteks global. UNESCO mendorong pendidikan inklusif yang mengakomodasi keberagaman siswa. 2 Di Indonesia sendiri, semangat AuBhineka Tunggal IkaAy dan kebebasan beragama dijamin konstitusi, hingga Sistem Pendidikan Nasional juga dituntut menghormati pluralism, dan hal ini telah ditegaskan oleh pemerintah Indonesia dalam kebijakan pendidikan. 3 Misalnya. UU Sisdiknas tahun 2003, pasal 12 yang menyatakan bahwa setiap peserta didik berhak mendapatkan Devi Syukri Azhari et al. AuMulticultural Education and the Significance of Education,Ay 2024, 1101Ae8, https://doi. org/10. 47709/educendikia. Dkk Ramli Rasyid. AuPentingnya Pendidikan Multikultural Dalam Konteks Pancasia Di MasyarkatAy 7 . : 3648Ae55. Ahmad Rifki Harianto and Abdurrahman Abdurrahman. AuStrategi Kepala Sekolah Dalam Menciptakan Karakter Toleransi Antar Siswa Beragama,Ay Edukasiana: Jurnal Inovasi Pendidikan 4, 3 . : 661Ae73, https://doi. org/10. 56916/ejip. pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut. 4 Peraturan pemerintah No. 55/2007 lebih lanjut mewajibkan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan mata pelajaran agama. Bahkan Menteri Agama menegaskan bahwa tak masalah jika siswa beragama berbeda berlajar di sekolah Kristen atau Madrasah, karena setiap sekolah wajib menerima murid tanpa membeda-bedakan agama, oleh sebab itu setiap sekolah harus menyediakan guru agama sesuai dengan setiap agama yang dianut oleh para 5 Namun dalam kenyataannya, parktik di lapangan seringkali jauh dari kata Sebagian sekolah, termasuk sekolah Kristen, memilih menyelenggarakan pelajaran agama sesuai dengan afiliasi yang dianut oleh sekolah tersebut yang diikuti oleh seluruh siswa dari semua agama, ketimbang mengadakan kelas agama terpisah, yang sesuai dengan masing-masing agama yang dianut para siswa. Kondisi demikian menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas pendidikan agama bagi siswa Penelitian ini memusatkan perhatian pada sekolah berbasis Kristen, yaitu satuan pendidikan dasar berbasis agama Kristen, yang dikelola oleh Lembaga Kristen dan hanya menyediakan pengajaran Pendidikan Agama Kristen, dimana lingkungan seperti ini sering menimbulkan dilema religius bagi siswa Muslim yang bersekolah di sekolah berbasis Kristen, karena mereka berada dalam situasi minoritas ditambah lagi mereka harus menerima pendikan agama Kristen, sehingga mereka diperhadapkan pada tantangan indentitas dan nilai. 7 Harus diakui bahwa sekolah yang berbasiskan atau berafiliasi pada agama Kristen hanya menyediakan Pendidikan Agama Kristen (PAK), seperti dalam penelitiannya Sena Abdillah menemukan bahwa siswa Muslim yang bersekolah di sekolah berbasis Kristen harus dapat mematuhi semua peraturan-peraturan dan kebijakan yang ada disekolah termasuk mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sehingga siswa Muslim tidak mendapatkan penguatan identitas Islam di sekolah. 8 Sejalan dengan penelitian tersebut Mohamad Faojin menemukan bahwa masih banyak sokolah AuUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional,Ay 1 . : 1Ae42. Haekal Attar. AuKemenag Tak Anggap Masalah Jika Ada Murid Berasal Dari Agama Yang Berbeda,Ay NU Online, 2023. Nurhamidi Rizky Setiawati. AuDinamika Religiusitas Siswa Muslim Di Sekolah Non Islam (Studi Kasus Siswa Muslim SMA Santo Thomas Yogyakart. ,Ay Pendidikan Agama Islam XI, no. : 98. Antone. Pendidikan Kristiani Kontekstual, ed. Anton Sulistianto, 1st ed. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 22. Sena Abdillah Syakur. AuKeberagaman Siswa/Siswi Muslim Di Sekolah Bebasis Kristen (Studi Kasus Di SMA Lentera Harapan Jati Agung Lampung Selata. Ay (Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 berbasis Kristen yang belum menjalankan regulasi yang dibuat oleh pemerintah terkait dengan penyediaan guru dan fasilitas bagi siswa yang memiliki latarbelakang agama yang berbeda, karena dianggap mengancam AukekhasanAy lembaga. 9 Hal ini semakin memicu timbulnya dilema religius bagi seorang siswa Muslim, terutama ketika mereka harus memperhadapkan pengajaran agama yang mereka terima di sekolah dengan pengajaran agama di rumah. Meskipun terdengar tidak menyenangkan, namun harus diakui bahwa sekolah yang berbasis Kristen seringkali menimbulkan dilema religius bagi siswa Muslim, kondisi ini teridentifikasi melalui pengamatan dilapangan dimana adanya keinginan siswa Muslim berinisial A untuk berpartisipasi dalam praktik peribadatan nonMuslim, yakni Ibadah Sekolah Minggu, hal ini dipicu oleh rasa nyaman, kesenangan, serta rasa ingin tau yang tinggi yang diperoleh selama proses pembelajaran Agama Kristen di sekolah, karena sekolah Kristen tidak pernah menyediakan pendidikan agama yang lain selain Pendidikan Agama Kristen. Akibatnya para siswa Muslim harus menentukan arah antara mempertahankan praktik dan keyakinan agamanya di rumah dan mengikuti norma-norma kehidupan sekolah yang secara lembaga pendidikan yang berbasis Kekristenan. 10 Dilema ini bukan sekadar persoalan ritual tetapi juga berkaitan dengan perasaan keterasingan, kebingungan identitas, tekanan sosial, dan potensi konflik nilai dalam proses pembelajaran. Penelitian dan laporan lapangan menujukkan bahwa tanpa strategi pedagogis dan kebijakan sekolah yang jelas dan inklusif mengakibatkan siswa minoritas, dalam hal ini berkaitan dengan agama, dapat mengalami penurunan tingkat religiusitas praktis, atau sebaliknya menarik diri secara sosial. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa beberapa sekolah jenjang SD sampai SMA Kristen mengganti pelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan program AuPendidikan ReligiusAy yang bersifat umum. Hal ini memiliki pengertian, di satu sisi, bahwa pendidikan agama yang ditujukan kepada siswa Muslim tidak dibimbing secara khusus menurut agamanya, dan di sisi lain. Pendidikan Agama Kristen sebagai mata pelajaran dan praktik pembelajaran yang wajib diikuti dan dirancang menurut kerangka teologis, memiliki upaya dalam pengembangan kurikulum multikultural dengan memasukkan dimensi Mohamad Faojin et al. AuInterdisipliner Hak Pendidikan Agama Islam Bagi Siswa Muslim Di Sekolah NonAy 2, no. : 15Ae25. Sabilla Hidayani et al. AuPermasalahan Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Pembelajaran Di Sekolah Minoritas MuslimAy 10 . : 174Ae80, https://doi. org/10. 23916/085932011. Jurnal Penelitian et al. AuReligiuos Education Service According to StudentAos Religion At SchoollAy 15, no. : 13Ae31. multikultural dan inklusif. 12 Situasi ini menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap guru, khususnya guru Pendidikan Agama Kristen, dalam merancangkan kurikulum. Melalui hal ini guru Pendidikan Agama Kristen dituntut untuk mempersiapkan materi ajar yang mampu menanggapi kondisi plural di kelas. Berbagai kajian terbaru menekankan tentang kebutuhan integritas dalam hal pendekatan multikultural dan multikultural melalui Pendidikan Agama Kristen, agar pendidikan tidak memojokkan siswa beragama minoritas. Dalam teorinya John Dewey menekankan bahwa pengalaman siswa adalah basis pembelajaran, pendidikan merupakan proses pengalihan dan pengolahan pengalaman terus menerus14Oleh karena itu, materi pembelajaran perlu dihubungkan dengan pengalaman nyata peserta didik agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, dalam konteks keberagaman agama di sekolah, guru Pendidikan Agama Kristen tetap berpegangpada tujuan utama yaitu menyampaikan nilai dan ajaran iman Kristen, namun dalam proses pedagogisnya guru perlu mempertimbangkan latar belakang pengalaman religius siswa yang berbeda agar tercipta suasana pembelajaran yang inklusif, dialogis dan menghargai perbedaan. Selanjutnya James Banks menggarisbawahi bahwa pendidikan multikultural harus mencakup lima dimensi, yaitu: integrasi konten multikutural dalam kurikulum, konstruksi pengetahuan tentang keragaman, penggurangan prasangka, pedagogi kesetaraan, dan pemberdayaan budaya peserta didik. 15 Dengan demikian, materi pembelajaran tidak hanya memperkaya perspektif kebudayaan bangsa. Aplikasi teori ini relevan pada pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Multikultural, karena guru dapat memasukkan perspektif lintas agama, menggunakan contoh-contoh yang menghargai kemajemukan, serta menerapkan metode yang setara bagi semua siswa, pendekatan ini membantu membangun inklusivitas di sekolah plural tanpa mengabaikan identitas Kristen. Melihat keragaman dan tantangan di atas, sangat mendesak mengembangkan penelitian tentang pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang multikultural. Pendidikan Agama Kristen pada dasarnya bertujuan menanamkan nilaii dan ajaran Ribka Rahelni Putri et al. AuPeran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Menanamkan Sikap Inklusif Generasi Z,Ay Jurnal Teruna Bhakti 6, no. : 111, https://doi. org/10. 47131/jtb. Damaris Tonapa et al. AuMembangun Karakter Kristiani Melalui Agama KristenAy 6, no. Dalam Perspektif and John Dewey. AuHakekat Pendidikan Menurut Prespektif John Dewey Tinjauan Teoritis Wasitohadi,Ay 2002, 49Ae61. Dharma Ratna Purwasari. AuKonsep Pendidikan Multikultural Dalam Pandangan James A BanksAy 10 . : 249Ae58. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 iman Kristen serta membentuk karakter peserta didik berdasarkan nilai kasih, penghargaan terhadap sesama, dan tanggungjawab sosial. Oleh karena itu, penelitian ni bertujuaan menelaah praktik pembelajaran Pendidikan Agama Kristen multikultural di sekolah Kristen, sehingga dapat dikembangkan pembelajaran yang berakar pada nilai iman Kristen sekaligus menghargai keberagaman peserta didik. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, khususnya melalui pendekatan studi pustaka . ibrary researc. Langkah-langkah yang penulis lakukan adalah dengan terlebih dahulu mengelaborasi pemahaman tentang Pendidikan Agama Kristen Multikultural berdasarkan kompilasi dari berbagai pandangan yang telah disajikan, baik melalui buku maupun artikel jurnal. Kompilasi bacaan tersebut akan penulis analisis melalui kajian berbagai literatur yang relevan dengan topik penelitian tersebut. 16 Hasil analisis ini kemudian diterapkan dalam penelitian ini, sehingga menghasilkan sebuah hasil kajian yang relevan mengenai Pendidikan Agama Kristen Multikultural. Langkah terakhir adalah menggabungkan hasil penelitian dengan kajian pustaka yang telah dilakukan secara menyeluruh untuk membangun sebuah model Pendidikan Agama Kristen Multikultural di sekolah Kristen, agar Pendidikan Agama Kristen tersebut menjadi Pendidikan agama yang inklusif dan menghargai pluralitas dari keberadaan siswa yang ada di sekolah Kristen. Hasil dan Pembahasan Pendidikan Agama Kristen Multikultural Pendidikan Agama Kristen Multikultural adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan ajaran Kristen dengan koneks kehidupan, budaya dan pengalaman peserta didik. Pendekatan ini berupaya untuk menjembatani Aupesan InjilAy dengan realitas lokal, sehingga iman menjadi hidup dan relevan bagi siswa. 17 Dalam praktiknya, guru yang mengajarkan Pendidikan Agama Kristen Multikultural dapat menggunakan ilustrasi budaya setempat dan bahasa akrab siswa untuk memudahkan pemahaman iman Kristiani, tanpa mengubah inti ajaran. Misalnya, simbol atau cerita lokal dapat digunakan dalam pembelajaran agar nilai-nilai Kristen tampak dekat Milla Tunna Imah and Budi Purwoko. AuStudi Kepustakaan Penerapan Konseling Neuro Linguistic Programming (NLP) Dalam Lingkup PendidikanAy (State University of Surabaya, 2. Rafael Salas Sinaga. AuPendidikan Agama Kristen Kontekstual : PAK Memulai Pendekatan Kontekstual Bagi Perkembangan Spiritualitas Generasi Z,Ay n. d, 18. dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Pada perspektif teologis, konsep ini terinspirasi dari cabang ilmu teologi yang dikenal dengan nama Teologi Multikultural, yaitu cabang ilmu teologi Kristen yang mencoba untuk mengelindankan ajaran Kristen dengan konteks budaya lokal, sehingga ajaran Kristen menjadi sebuah ajaran yang relevan dengan budaya di mana Kekristenan itu Hesselgrave dan Rommen mendefinisikan multikulturalisasi sebagai Aupenyajian pesan Injil yang relevan secara budayaAy. Hal ini berarti Pendidikan Kristen Multikultural tidak mengubah isi doktrin, melainkan mengemasnya dalam bahasan dan simbol lokal agar iman mudah dipahami dan diterima. 19 Sejalan dengan hal tersebut, dalam prespektif pedagogis. Pendidikan Agama Kristen Multikultural dirancang agar siswa memahami isi ajaran dengan lebih mendalam. Sutanto menegaskan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Multikultural bukan hanya memakai bahasa lokal, tetapi mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam proses pembentukan iman. 20 Dengan pendekatan ini peserta didik dapat melihat kaitan antara ajaran Kristen dan kehidupan mereka, sehingga pembelajaran tidak bersifat normatif-pedagogis saja, melainkan lebih aplikatif. Jadi dengan mengakui konteks sosial-budaya, siswa yang mengikuti Pendidikan Agama Kristen Multikultural, termasuk siswa Muslim di dalamnya, ikut membangun sikap toleransi dan harmoni. Dilema Religius Dilema religious, menurut Apriano, dipahami sebagai konflik nilai yang muncul ketika agama harus menjalankan fungsi spiritual sekaligus sosial dalam masyarakat yang majemuk. Di Indonesia, agama-agama tidak hanya berperan sebagai sistem kepercayaan individual, tetapi juga sebagai kekuatan integrasi sosial yang berkontribusi pada harmoni dan persatuan bangsa. 22 Tantangannya terletak pada bagaimana setiap agama mampu mengelola ritus, ajaran, dan ekspresi AuMisi Kristologi Dalam Konteks Kebudayaan,Ay Logia: Jurnal Teologi Pentakosta, 2019. David J. Hesselgrave and Edward Rommen. Kontekstualisasi: Makna. Metode. Dan Model (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 21-22. Toleransi Beragama. D I Tengah, and Masyarakat Pluralisme. AuPeran Pendidikan Agama Kristen Kontekstual: Membangun Toleransi Beragam Di Tengah Masyarakat PluralismeAy 3, no. : 1623Ae29. Desy Irawati Santoso et al. AuPengembangan Kurikulum Kontekstual Pak Berbasis Nilai Kristiani Dan Aspirasi Belajar Peserta Didik Menurut Campbell Wyckoff,Ay Regula Fidei : Jurnal Pendidikan Agama Kristen 10, no. : 273Ae87, https://doi. org/10. 33541/rfidei. Alvian Apriano. AuMenuju Komunitas Kolaboratif: Implikasi Teori Intersubjektivitas Dalam Dilema Komunitas Religius Multikultur,Ay Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology 2, no. : 195Ae208, https://doi. org/10. 24071/snf. 8499, 7-8. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 keimanannya agar tetap relevan dalam ruang publik tanpa kehilangan identitas teologis yang khas. Di satu sisi, agama dituntut mempertahankan kemurnian doktrin dan tradisi internalnya. di sisi lain, agama juga didorong untuk beradaptasi dengan nilai-nilai kebangsaan dan realitas sosial yang plural. Dilema ini menjadi inti persoalan teologis karena menyangkut penafsiran ajaran agama dalam konteks kehidupan berbangsa, serta persoalan sosiologis karena berkaitan dengan relasi antarumat beragama dan kohesi sosial. Dalam konteks Indonesia, dilema religius tercermin jelas dalam upaya menyeimbangkan ajaran agama dengan Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila berfungsi sebagai titik temu nilai-nilai keagamaan yang beragam, sekaligus kerangka normatif untuk menjaga persatuan nasional. Dengan demikian, dilema religius bukan sekadar masalah konflik, melainkan proses dinamis untuk menjaga eksistensi agama sambil mengarahkan nilai-nilai keagamaan agar mendukung toleransi, keadilan, dan persatuan kebangsaan. Interaksi Sosial dan Tekanan Lingkungan Praktik ibadah dan pengalaman Spiritual di sekolah Kristen bagi siswa Muslim di lingkungan sekolah Kristen berlangsung secara multikultural dan melibatkan kekuatan penyesuaian. 23 Temuan penelitian yang dilakukan oleh Siwi Kartika Sari menunjukkan bahwa siswa cenderung lebih terfokus pada praktik keagamaan kolektif yang memiliki makna sosial yang kuat, seperti pelaksanaan puasa Ramadan dan perayaan Idul Fitri bersama, dibandingkan dengan kewajiban ritual harian yang pengawasannya relatif terbatas di lingkungan sekolah. Kondisi ini selaras dengan realitas empiris di lapangan, di mana sebagian siswa Muslim mengalami kesulitan dalam melaksanakan salat fardu secara konsisten dan lebih menaruh perhatian pada ibadah yang bersifat periodik atau tahunan, tanpa menunjukkan adanya penurunan tingkat keimanan. Guru-guru mengungkapkan bahwa selama bulan Ramadan siswa Muslim tampak lebih antusias dalam berdiskusi mengenai makna puasa dan kebersamaan, sedangkan pada hari-hari pembelajaran reguler beberapa siswa cenderung menunda pelaksanaan salat Zuhur hingga setelah kembali ke rumah. Sejalan dengan hal tersebut. Mohammad Khoirunzzadi juga menemukan fenomena serupa pada salah satu siswa Muslim yang menunjukkan ketertatikan dan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti kegitan ibadah kelas yang berlandaskan ajaran Kristen. Nurma Dwi. AuPenguatan Toleransi Melalui Implementasi Budaya Sekolah Religius : Studi Kasus SDN Jakarta Timur,Ay April . 116Ae27, https://doi. org/10. 47709/educendikia. Siwi Kartika Sari. AuIdentitas Sosial Pelajar Muslim Sekolah Menengah Kejuruan Kristen 1 Kabupaten Klaten,Ay n. hal ini tampak dari partisipasinya yang aktif seperti secara sukarela mengajukan diri untuk memimpin pujian serta memimpin doa selama kegiatan ibadah berlangsung. Secara teoritis, pengalaman spiritual siswa dapat dianalisis dengan konsep pembelajaran multikultural. John Dewey berpendapat bahwa pengetahuan dibangun dari pengalaman nyata. Dalam konteks ini, pengalaman mengikuti kebaktian Kristen atau diskusi antar agama di kelas menjadi konteks pembelajaran yang kaya. Sebagai contoh, seorang siswa mengisahkan bahwa mendengarkan doa guru Kristen membuatnya merenungkan makna cinta sesama, yang kemudian ia hubungkan dengan ajaran Islam tentang kasih sayang. 26 Ini membuktikan bahwa teori Dewey terbukti, sehingga pengalaman di atas mengajarkan agar guru bisa mengaitkan pembelajaran dengan konteks kehidupan siswa. Penerapan ini membantu siswa Muslim menghayati nilai-nilai universal yang dibagikan lintas agama, sehingga mereka merekonstruksi pemahaman agama sendiri menurut lensa pengalaman baru. Namun, perlu menjadi perhatian bahwa Dewey juga menekankan peran guru dalam memfasilitasi pengalaman berkualitas. Di banyak kelas Pendidikan Agama Kristen, pendekatan pengajaran mesih bersifat teacher centered, sehingga pengalaman siswa terbatas pada menerima informasi secara pasif. Hasil wawancara menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen kadang kurang melibatkan siswa untuk refleksi atas pengalaman keagamaan yang berbeda, padahal memperdalam pengalaman religius siswa Muslim justru membutuhkan komunikasi dialogis seperti guru mengajak siswa singkat tentang perbedaan praktik ibadah, atau menyelenggarakan simulasi ibadah bersama bersama secara netral, bila guru mengadopsi prinsip experiental learning. 27 Menurut Dewey, guru akan lebih mendorong siswa untuk mengkonstruksi makna ajaran agama berdasarkan apa yang mereka alami di sekolah dan di masyarakat luas. Penelitian terdahulu mengarisbawahi potensi kebijakan inklusif bahwa ketika lingkungan keluarga dan sekolah kurang religius, siswa gampang terpengaruh, sehingga religiusitas mereka rendah. Dalam studi ini, faktor lingkungan juga terbukti penting seberapa jauh guru dan teman-teman mendukung siswa menjalankan 28 Oleh karena itu. Pendidikan Agama Kristen di kelas tetap berfokus pada Muhammad Khoiruzzadi. AuDualisme Pengetahuan Agama: Dinamika Religiusitas Siswa Muslim Di SD Kristen PuboAy 19, no. S Nurhasanah. Adam Malik, and D Mulhayatiah. AuPenerapan Model Experiental Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kritis SiswaAy 2, no. : 58Ae62. Nurhasanah. Malik, and Mulhayatiah. Mluweh and A Mustad. AuImplementasi Pendidikan Karakter Dengan Model Pembiasaan Untuk Meningkatkan Kedisiplinan,Ay Jurnal Pendidikan Dasar, 2020. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 penyampaian nilai dan ajaran iman Kristen sebagai tujuan utama Pendidikan Agama Kristen itu sendiri. Namun demikian, dalam ranah pedagogis dan penglolaan kelas, guru perlu menunjukkan sikap menghargai keberagmana latar belakang religius peserta didik, terutama siswa Muslim. Bentuk penghargaan tersbeut tidak berkaitan dengan perubahan materi ajar PAK, melainkan pada pemberian ruang bagi siswa untuk menjalankan kewajiban agamanya, misalnya dengan memberi kesempatan waktu bagi siswa muslim utuk melaksanakan salat atau menyediakan ruang tenang untuk berdoa. Dengan demikian, pembelajaran PAK tetap berjalan sesuai dengan tujuan dan identitasnya, sehaligus menciptakan lingkungan belajar yang menghargai hak beragama setiap peserta didik. Peran Guru dan Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Multikultural Secara prinsip, guru Pendidikan Agama Kristen adalah penentu kualitas pembelajaran multikultural. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa mayoritas guru Kristen belum mendapatkan pelatihan khusus multikultural yang memadai. Akibatnya, metode pengajaran cenderung satu arah dan kurang menekankan nilai toleransi, sebagaimana kurangnya pemahaman guru membuat pengajaran Pendidikan Agama Kristen seringkali tidak memperhatikan keberagaman. Meskipun demikian, seringkali ditemukan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen, ketika berada di lapangan, selalu berinisiatif untuk menyesuaikan pendekatan Pendekatan ini mencerminkan pandangan Banks yang menganjurkan untuk melakukan sebuah tindakan integratif konten. maksudnya: siswa belajar tentang keyakinan agama mereka sendiri sekaligus membandingkan keyakinan tersebut melalui sudut pandang/perspektif lain. 30 Guru pun menyesuaikan proses pembelajaran dengan lebih inklusif lagi, misalnya dengan menggunakan equity pedagogy, yaitu memodifikasi cara mengajarkan agar semua siswa dari beragam latar bisa belajar secara efektif. Secara konseptual. John Dewey melihat guru sebagai fasilitator pengalaman. Dengan demikian, secara praktis seorang guru Pendidikan Agama Kristen harus merancang kegiatan yang memungkinkan siswa belajar dengan melakukan . earning Jessy Yunus Dannari et al. AuPendidikan Agama Kristen Dalam Perspektif Multikulturalisme Di Sekolah,Ay 2025, 23-24. Farida Hanum. AuPendidikan Multikultural Dalam Pluralisme Bangsa,Ay 2004, 1Ae24. Farida Hanum, "Pendidikan Multikultural Dalam Pluralisme Bangsa,Ay 2004, 1Ae24. by doin. 32 Meskipun demikian, harus diakui bahwa masih ada sebagian guru yang masih menggunakan metode konvensional . eramah dan hafala. , dan belum sepenuhnya menerapkan prinsip konstruktivisme, kondisi tersebut berpotensi menurunkan efektivitas pembelajaran multikultural. 33 Sebaliknya, apabila guru mampu mengakomodasi pengalaman personal, rasa keterasingan, dan latar belakang sosial-keagamaan peserta didik, maka pembelajaran Pendidikan Agama Kristen akan menjadi lebih bermakna. 34 Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memperoleh implikasi lanjutan berupa penekanan pada urgensi pelatihan multikultural bagi guru Pendidikan Agama Kristen. Temuan penelitian oleh Yuni Tobe menunjukkan bahwa guru yang mendapatkan pelatihan multikultural memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyampaikan nilai-nilai Kristen secara relevan dan sensitif terhadap keragaman agama di lingkungan sekitarnya. Sebagai ilustrasi, kepala sekolah melaporkan bahwa setelah mengikuti seminar tentang pluralisme, guru Pendidikan Agama Kristen menjadi lebih aktif mengintegrasikan narasi dan nilai-nilai dari tradisi Islam ke dalam silabus pembelajaran, sehingga siswa Muslim merasa lebih diakui dan diperhatikan. Secara umum, terdapat kesepakatan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Kristen tidak seharusnya memonopoli perspektif keagamaan tertentu, melainkan perlu dikembangkan dengan pemahaman multikultural untuk mendorong sikap saling menghargai dan kerukunan antarumat beragama. Tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan ketersediaan sumber belajar yang representatif. Akibatnya, sebagian besar guru Agama Kristen terpaksa mencari sumber eksternal, sementara minimnya materi ajar yang berorientasi multikultural menjadi hambatan dalam mewujudkan pembelajaran yang inklusif. Implementasi kurikulum Merdeka menuntut pergeseran strategi pedagogis, dari model ceramah ke model yang lebih aktif, dialogis dan trasformatif. Multikulturalisasi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di tengah pluralisme harus berfokus pada pembangunan kompetensi etika sosial dan ranah afektif siswa, di mana iman diwujudkan dalam aksi nyata kolaboratif. 36 Salah satu stategi yang harus menjadi inti dari Pendidikan Agama Kristen Multikultural, dimana dialog ini efektif dalam mempromosikan sikap Yugga Tri Surahman et al. AuMaksimalisasi Kualitas Belajar Peserta Didik Menggunakan Metode Learning By Doing Pragmatisme By John DeweyAy 3, no. : 137Ae44. Ridwan Wirabumi et al. AuMetode Pembelajaran CeramahAy I, no. I . ): 105Ae13. Nurhasanah. Malik, and Mulhayatiah. AuPenerapan Model Experiental Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kritis Siswa, 45. Ay Yuni Tobe et al. AuPendidikan Agama Kristen Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Dalam Konteks MultikulturalismeAy 1, no. , 28. Mluweh and Mustad. AuImplementasi Pendidikan Karakter Dengan Model Pembiasaan Untuk Meningkatkan Kedisiplinan, 47. Ay HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 saling menghargai dan menciptakan ruang konstruktif. Strategi inilah yang dalam catatan sejarah keberagaman di Indonesia, telah menjadikan masyarakat Indonesia yang plural dapat hidup berdampingan secara damai. 37 Perlu dicatat bahwa dalam bentuknya, strategi tersebut memiliki tiga bentuk dialog karya sebagai aksi nyata, yaitu: pertama, dialog of action. Dialog ini merupakan strategi yang paling kuat untuk multikulturalisasi transformatif. Dialog Karya didefinisikan sebagai kerja sama aktif demi kepentingan umum dan kemanusiaan, yang secara pedagogis memiliki beberapa keunggulan stategis di kelas pluralis dan mengalihkan fokus siswa dari perdebatan perbedaan doktrin ke persamaan tujuan etnis dan sosial dengan berfokus pada aksi. Teologi inklusif multikultural diwujudkan secara praktis, di mana tindakan ini menghasilkan kasih dan aksi pelayanan universal. Kedua. Project Based Learning. Metode ini adalah benyuk nyata dari partisipatif aktif dalam dialog antar agama. Guru Pendidikan Agama Kristen dapat meracang Proyek Berbasis Masalah atau Proyek Kolaboratif yang melibatkan kegiatan pelayanan yang tidak bersifat doktrinal, misalnya dengan Proyek Bakti Sosial Bersama dengan cara mengorganisasi penggalangan dana atau kegiatan kebersihan lingkungan yang melibatkan siswa dari latar belakang agama yang 39 Hal ini menciptakan ruang interaksi damai dan menemukan kesamaan di tingkat kemanusiaan dan etika, kegiatan pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan komunitas tanpa memandang Ketiga, dengan Pendekatan Komparatif. Pendekatan ini adalah alat pedagogis yang krusial untuk melaksanakan kerangka teologi inklusif multikultural. Guru Pendidikan Agama Kristen mengajarkan bahwa keadilan, kasih, dan integritas adalah nilai luhur yang dapat di temukan di berbagai tradisi, dan bahwa Kristus sebagai sumber keselamatan absolut, di mana pembelajaran melibatkan studi kasus mengenai para tokoh, baik itu yang non-Kristen maupun Kristen, yang memperjuangkan Hak Azasi Manusia (HAM) dari agama lain. Studi kasus ini, kemudian, dibandingkan dengan konsep etika sosial dalam Alkitab seperti HAM, keadilan, dan kasih dengan ajaran agama atau ideologi lain. Perbandingan ini bertujuan menemukan titik temu dan sinergi dalam upaya mewujudkan masyarakat Yandri Angelica Silaban et al. AuRespon Iman Kristen Terhadap Pluralitas AgamaAy 1, no. : 62Ae72. Saniria Benu and Hasanuddin Manurung. AuDampak Pendidikan Agama Kristen Terhadap Toleransi Antar Agama Di IndonesiaAy 9, no. : 9Ae24. Beragama. Tengah, and Pluralisme. AuPeran Pendidikan Agama Kristen Kontekstual: Membangun Toleransi Beragam Di Tengah Masyarakat Pluralisme, 11-12. Ay yang adil dan damai, bukan untuk mencari kesamaan teologis yang mengarah pada Strategi tambahan seperti pedagogi Kasih dan inklusi yang berfokus pada ranah afektif untuk membentuk siswa menjadi individu yang inklusif, yaitu pedagogi inklusif berbasis Kasih yang tidak hanya tentang materi ajar, tetapi juga harus berdasarkan pada kasih, di mana guru Pendidikan Agama Kristen harus menjadi teladan dengan mengajarkan sikap inklusivitas dan sikap mengasihi. Siswa perlu belajar bagaimana mengelola emosi mereka ketika memiliki teman yang berbeda latar belakang agama yang berbeda, berinteraksi dengan orang lain, dan membangun hubungan yang baik, dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Kegiatan ini membutuhkan metode yang menuntut interaksi langsung, sehingga metode role play, diskusi kelompok, dan aktivitas kolaboratif dengan simulasi skenario konflik atau dilema antar agama dapat dipakai untuk melatih siswa berempati dan menyelesaikan masalah secara konstruktif. Tantangan Profesionalisme dan Implikasi Kebijakan Implikasi strategi multikultural di tengah pluralisme menempatkan guru Pendidikan Agama Kristen pada posisi yang tegas, yaitu sebagai penjaga integritas teologis yang disesuaikan dengan tuntutan siswa non-Kristen yang ada di dalam Tantangan terbesar bagi guru Pendidikan Agama Kristen adalah bagaimana menyeimbangkan mandat teologis dengan tuntutan toleransi dan inklusivitas, di mana guru dituntut untuk menjadi teladan iman di tengah masyarakat puralis, yang mengedepankan toleransi tanpa kehilangan jati diri yang memuliakan Kristus. Dengan demikian guru Pendidikan Agama Kristen Multikultural harus dapat menyampaikan kebenaran teologi Kristen dengan bijaksana dan penuh Kasih. Tekanan pada pemaparan materi Pendidikan Agama Kristen Multikultural terletak pada penyesuaian ajaran agama dengan prinsip-prinsip pluralis, sehingga pengajaran ini akan mengubur ekslusivitas iman Kristen. 42 Apalagi ketika pluralisme diartikan secara keliru sebagai pandangan bahwa semua agama sama besarnya termasuk Kristen, solusi pedagogis terletak pada pemahaman mendalam tentang teologi inklusif multikultural yang memungkinkan pengakuan nilai tanpa mengorbankan inti Sri Gunawa. AuPendekatan Kecedasan Majemuk Dan Teknologi Untuk Meningkatkan Efikasi Diri,Ay Universitas Aitlangga, 2024, 32. Peta Konsep. Mengelola Kebinekaan Sebagai Modal Sosial Pembangunan Nasional, vol. 2023, 8-9. Putri Debora Simanjuntak. AuKode Etik Tantangan Profesionalisme Guru PAK Di Zaman Pluralisme Yang Mengatakan Semua Agama Itu SamaAy 4, no. : 1821Ae27. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 keyakinan serta memberikan landasan bahwa umat Kristen dapat membuka kerja sama tanpa mengorbankan keimanan Kristen. Dalam praktik pembelajaran, guru masih sering menggunakan metode ceramah, di mana hal ini bertentangan dengan syarat dalam Kurikulum Merdeka. Oleh sebab itu, guru wajib memodifikasi diri dengan cara memodifikasi pembelajaran dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara berkelanjutan untuk mengimplementasikan metode yang lebih fleksibel dan relevan supaya lebih Modifikasi ini penting agar pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan siswa yang beragam dan guru memberikan kesempatan bagi semua siswa supaya dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang ada di sekolah. Secara eksternal, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia, melalui pelatihan guru, harus lebih berfokus pada pengembangan kemampuan dalam teologi Multikultural. Pelatihan ini harus membekali guru dengan alat praktis untuk mengelola ketegangan antar klaim kebenaran dan tuntutan toleransi serta kemampuan untuk memodifikasi pembelajaran (RPP) agar sesuai dengan kebutuhan Serta kurangnya sarana prasarana dalam menunjang fasilitas pembelajaran bagi siswa Muslim. Simpulan Dilema religius yang dialami siswa Muslim di sekolah berbasis Kristen menuntut sekolah untuk bergerak melampaui toleransi pasif menjadi inklusivitas institusional, yang artinya sekolah harus mengeluarkan kebijakan secara resmi untuk mengembangkan sebuah Pendidikan Agama Kristen Multikultural, yaitu sebuah tindakan pendidikan yang mampu untuk merangkul setiap keyakinan yang ada dalam sebuah wadah pemahaman tentang kebenaran secara universal, tanpa harus kehilangan konsep Kristiani. Pendidikan Agama Kristen Multikultural merupakan wadah yang akan mampu menerima setiap siswa, baik yang beragama Kristen dan non-Kristen, sekaligus mempersatukan para siswa tersebut ke dalam tindakan kasih yang melampaui batas-batas keagamaan. Suharsono. AuPeran Guru Agama Dalam Penanaman Nilai-Nilai Multikultural Di Sekolah DasarAy 8, no. : 437Ae47, https://doi. org/10. 35931/am. 3160, 16. Rezeki Putra Gulo and Elfin Wanius Waruwu. AuPendidikan Agama Kristen Inklusif : Menjembatani Iman Dan Keberagaman Melalui Kerangka Filosofis Inclusive Christian Religious Education : Bridging Faith and Diversity through a Philosophical FrameworkAy 6, no. : 52Ae 69, https://doi. org/10. 25278/jitpk. Daftar Pustaka