Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Penanganan Masalah Keperawatan Nyeri Akut dan Gangguan Integritas Kulit Pada Pasien Dengan Cedera Kepala Berat: Studi Kasus Nursing Care of Acute Pain and Skin Intergrity Impairment of patient with Severe Head Injuries: A Case Study Annisa Ul Husna1*. Riski Amalia2. Laras Chyntia Kasih2 Fakultas Keperawatan,Universitas Syiah Kuala Bagian Keilmuan Keperawatan Medikal Bedah. Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala *Email: riskiamalia@usk. ABSTRAK Cedera Kepala Berat . rauma brain injur. merupakan masalah kesehatan yang menjadi ancaman serius bagi penderitanya. Cedera kepala dapat menimbulkan pendarahan dan pembengkakan sehingga dapat menyebab peningkatan tekanan intrakranial dan akhirnya dapat menyebabkan kerusakan otak. Pasien dengan cedera kepala berat j u g a d a p a t mengalami perubahan fisik dan psikologis, bahkan kematian. Studi kasus ini bertujuan memberikan asuhan keperawatan pada Au Tn. MAy dengan Cedera Kepala Berat di ruang saraf pria Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pasien mengalami penurunan kesadaran dengan GCS E3M5Vx, agitasi, wajah meringis, luka dibagian punggung, serta kulit dan bibir kering. Intervensi yang diberikan berupa head up 30 derajat, pemberian terapi murotal AlQuran, pemberian terapi luka dengan minyak zaitun, dan pemberian madu pada bibir pasien yang kering. Paska intervensi, pasien menjadi lebih tenang, sering tidur, luka mengering dan bibir tampak lembab. Diharapkan pada pasien dan keluarga dapat mengaplikasikan latihan yang diajarkan untuk mencegah resiko terjadinya komplikasi dari cedera kepala berat. Kata Kunci: Nyeri akut, gangguan integritas kulit, cedera kepala berat, studi ABSTRACT Severe head injury or traumatic brain injury is a problem that can pose a serious threat to sufferers. These symptoms cause bleeding and swelling, resulting in brain damage and increased intracranial pressure. According to case study, patients with severe head injuries experience physical and psychological changes, even death. This case study aims to provide nursing care to Mr. M with a serious head injury in the men's nerve room at Dr. Regional General Hospital Zainoel Abidin Banda Aceh. The patient experienced decreased consciousness with GCS E3M5Vx, agitation, facial grimace, wounds on the back, and dry skin and lips. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember The interventions provided include a 30 degree head up. Al- Quran murotal therapy, and wound treatment by olive oil and treat dry lips with honey. The finding obtained that the patient is calmer and can sleep confortably, the wound has dried up and the lips seem moist. It is hoped that patients and families can apply the exercises taught to prevent the risk of complications from serious head injuries. Keyword: Acute Pain. Skin Integrity Disorders. Severe Head Injuries. Case Studies PENDAHULUAN Cedera kepala atau trauma brain injury merupakan suatu masalah kesehatan yang paling banyak terjadi di dunia, dan menjadi penyebab utama peningkatan angka mortalitas dan morbiditas pada semua kelompok umur (Taufiq. Saragih, & Natalia, 2. Cedera kepala merupakan gangguan traumatis fungsi otak, baik disertai perdarahan interstisial pada substansi otak tanpa mengganggu kontinuitas Cedera kepala dapat mengakibatkan perubahan fisik dan psikis yang berakibat fatal yaitu kematian (Utami. Rahayu, & Astuti, 2. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa 69 juta orang diseluruh dunia mengalami cedera kepala setiap tahunnya. Afrika dan Asia Tenggara adalah negara dengan jumlah kasus terbesar yaitu sebanyak 56% dan Amerika Utara yang terendah yaitu sebesar 25% (Makmur et al. , 2. Sedangkan di Indonesia berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar bahwa cedera kepala masuk dalam urutan ketiga cedera tersering dengan persentase 11,9 %. Namun, masih banyaknya kasus cedera kepala yang tidak terlapor dikarenakan berbagai alasan dan penelitian yang masih sangat terbatas (Samsir et al. , 2. Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpanya pendarahan interstitial dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak. Trauma atau cedera kepala dikenal sebagai gangguan fungsi normal otak karena baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Defisit neurologis terjadi karena robeknya sustansia alba, iskemia, dan pengaruh masa karena hemoragik, serta edema serebral di sekitar jaringan otak (Zuriati & Suriya. Melti, 2. Pasien Traumatic Brain Injury (TBI) tingkat sedang hingga berat biasanya menghadapi berbagai masalah kesehatan kronis. Masalah-masalah ini menambah biaya dan beban bagi penderita TBI, keluarga, dan masyarakat. antara mereka yang masih hidup 5 tahun setelah cedera: 57% mengalami kecacatan sedang atau berat, 55% menganggur, 50% kembali ke rumah sakit setidaknya sekali, 33% bergantung pada orang lain untuk membantu aktivitas sehari-hari, 29% merasa tidak puas dengan kehidupan, 29 % menggunakan obatobatan terlarang atau meminum alkohol, dan 12% tinggal di panti jompo atau institusi lain (Centers for Disease Control and Prevention, 2. TBI terdapat beberapa jenis yaitu gegar otak . ehilangan kesadaran singkat akibat cedera kepal. , cedera tembus . danya benda asing yang masuk ke ota. , cedera kepala tertutup . enturan pada kepala namun tidak mengenai otak dan tengkorak masih utu. , patah tulang tengkorak . atah tulan. , hematoma . endarahan pada ota. , laserasi . obeknya pembuluh darah atau jaringa. , anoksia . urangnya pasokan oksigen ke jaringa. , memar . emar pada jaringan ota. , dan cedera aksonal difus, yang menyebabkan kerusakan koneksi saraf (Ahmed et al. , 2. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Pada artikel ini, kompleksnya masalah yang dihadapi pasien cedera kepala berat maka diperlukan asuhan keperawatan pada pasien secara komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mencegah komplikasi yang lebih Artikel ini akan membahas mengenai masalah keperawatan yang dialami pasien yaitu nyeri akut dan gangguan integritas kulit. METODE Jenis penelitian ini adalah studi kasus, dengan pengambilan sampel dilakukan pada pasien terdiagnosa medis Cedera Kepala Berat (CKB). Tahapan studi kasus ini sesuai dengan proses asuhan keperawatan, yaitu tahap pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan KASUS AuTn MAy berusia 26 tahun dirawat di ruang saraf pria dengan diagnosa medis penurunan kesadaran et causa CKB (Intracranial Hemorrhagic (ICH) Subdural Arachnoid Hematoma (SAH) traumati. Fraktur depressi os parietemporalis dekstra-Sinistra. Pasien belum sadarkan diri sejak di bawa ke rumah sakit dengan. Pasien terjatuh dari sepeda motor sejak A 20 jam SMRS, muntah . , kejang (-), tidak ada perdarahan dari telinga, hidung dan mulut. HASIL AuTn M adalah pasien dengan diagnosa medis CKB mengalami penurunan kesadaran sejak di bawa ke rumah sakit dengan. Pasien terjatuh dari sepeda motor sejak A 20 jam SMRS, muntah . , kejang (-), tidak ada perdarahan dari telinga, hidung dan mulut. Hasil pemeriksaan fisik pasien didapatkan keadaan umum pasien tampak lemah, pemeriksaan Glasgow Coma Scale (GCS): E3M5Vx (Somnolenc. Tekanan darah: 130/ 80 mmHg, denyut nadi: 68 x/menit, frekuensi pernapasan: 20x/menit, dan suhu tubuh: 36,6oC. Hasil yang didapatkan pada pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis, sklera putih, dan palbera normal, hidung tidak ada sekret, tidak ada massa ataupun sinus di hidung. Bagian mulut, mukosa bibir kering, tidak terdapat perbesaran vena jugularis. Pada area thoraks terlihat adanya tarikan dinding dada saat inspirasi, irama pernapasan teratur, dan tidak menggunakan otot bantu pernapasan, tidak teraba massa, dan suara vesikuler di paru-paru kanan dan Area abdomen, tidak ada asites dan tidak adannya bekas jaringan parut, distensi kandung kemih tidak ada, bising usus 15 x/menit. Area ekstremitas, tidak ada edema dan sianosis, luka parut di area lengan dan lutut sebelah kiri, kulit teraba hangat. Capillary Refill Time 1 detik. Obat yang diberikan antara lain yaitu Citicoline 500 mg/12 jam, ketorolac 1 amp/ 8 jam. Paracetamol 1gr/ 8 jam. Nimodipin 2,1 ml/jam, infus NaCl 0,9 %. Dilakukan CT scan kepala tanpa kontras pada gambar 1 yaitu dengan hasil: EDH ringan di regio parietal dekstra. SDH tipis di regio parietotemporal sinistra. Patechial haemorrhage di lobus frontal dekstra-sinistra. SAH di felx cerebri dan regio frontal dekstra-sinistra. Edema cerebri. Fraktur os parieto-oksipital dekstra31 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember sinistra. Subgaleal hematoma di regio parietal dekstra dan parietotemporal Gambar 1. Hasil pemeriksaan CT-Scan Kepala tanpa kontras Asuhan keperawatan pada nyeri akut yaitu dengan memberikan posisi head up , untu melan ar an perfusi sere ral dan menurun an te anan intra ranial, terapi murattal Al-Quran untuk memberikan ketenangan sehingga pasien nyaman untuk beristirahat dan terapi murratal al-quran ini diberikan setiap 30-40 menit Untuk masalah keperawatan gangguan integritas kulit yaitu pemberian minyak zaitun untuk mengurangi kekeringan pada kulit pasien dan madu yang bermanfaat untuk melembabkan bibir pasien yang kering dan pecah-pecah. Pada masalah keperawatan nyeri akut, penanganan pada hari pertama dan keempat tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dan pasien merasa lebih tenang dan nyaman ketika beristirahat. Sedangkan pada masalah keperawatan gangguan inegritas kulit terdapat perubahan yang signifikan yaitu setelah dioleskan minyak zaitun pada kulit yang kering kemudian pada hari ke tiga rawatan, kulit pasien menjadi lembab dan juga bekas luka semakin mengering. Penggunaan madu pada bibir pasien dapat membuat bibir menjadi lembab. PEMBAHASAN Pada kasus ini, pasien dengan penurunan kesadaran yang dialami setelah pasien terjatuh dari sepeda motor sejak A 20 jam sebelum masuk rumah sakit, muntah . , kejang (-), tidak ada perdarahan dari telinga, hidung dan mulut dengan diagnosis Cedera Kepala Berat (ICH SAH traumati. Fraktur depressi os oksipital dengan diagnosa keperawatan adalah Nyeri akut dan gangguan integritas kulit. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Nyeri merupakan gejala paling umum pada pasien dengan penurunan Nyeri merupakan respon alami yang terjadi secara langsung terhadap suatu peristiwa yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan (Apriani. Agustina, ada pasien dengan T I, elevasi epala dari posisi se ara signifi an menurunkan ICP dan dikaitkan dengan tidak adanya perubahan oksigenasi otak, seperti yang ditunjukkan oleh tekanan oksigenasi vena jugularis dan/atau jaringan otak (Burnol et al. , 2. Elevasi kepala head up 15-30 derajat efektif untuk melancarkan perfusi serebral dan menurunkan intracranial melalui beberapa mekanisme, yaitu menurunkan tekanan darah, perubahan ventilasi, meningkatkan aliran vena melalui vena jugularis yang tak berkatup sehingga menurunkan volume darah vena sentral yang menurunkan tekanan intracranial (Saputra et. al, 2. Salah satu jenis intervensi yang dapat diberikan sebagai stimulasi suara adalah dengan memberikan terapi murottal Al-Qur'an (Yusuf, & Rahman, 2. Murottal Al-Qur'an merupakan rangsangan pendengaran yang merupakan salah satu terapi gelombang suara yang dihantarkan ke otak sehingga merangsang perubahan reseptor dan akan memicu rangsangan neurotransmitter seperti endorfin, enkhepalin, dinorfin yang dapat mencegah aktivasi zat nyeri (Mutiah, & Dewi, 2. Mendengarkan Alquran membuat pasien lebih toleran terhadap rasa sakit dan meningkatkan kadar kortisol sebagai hormon pencegah rasa sakit. Sehingga hasil yang diperoleh dengan mendengarkan pasien membaca Alquran dapat memberikan kenyamanan pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran (Hanafi. Muhammad, & Wulandari, 2. Gejala gelisah pada pasien berkurang dan masih sulit tidur dengan skala nyeri FLACC =3, sehingga keadaan pasien lebih membaik. Pada diagnosa keperawatan gangguan integritas kulit, penanganan menggunakan terapi madu dan minyak zaitun. Sifat antibakteri pada madu biasanya berhubungan dengan dua mekanisme utama, yaitu: penghambatan pertumbuhan mikroba oleh hidrogen peroksida (H2O. yang dihasilkan melalui aktivitas enzimatik . eperti: glukosa oksidas. dan penghambatan pertumbuhan mikroba melalui aktivitas non-peroksida (Martinotti, & Ranzato, 2. Pada sebagian besar madu di dunia, aktivitas antibakteri disebabkan oleh osmolaritas dan keasaman madu dari hidrogen peroksida (H2O. (Yilmaz, & Aygin, 2. Minyak zaitun dapat membuat kulit pasien menjadi lebih lembab dan halus karena memiliki vitamin E dan minyak zaitun dapat mengisi lapisan keratin dalam kulit sehingga menimbulkan efek lembab, mengurangi gatal, serta mengobati luka dan infeksi yang ada (Muliani et al. , 2. Kandungan yang dimiliki oleh minyak zaitun yaitu asam lemak dan vit E sebagai antioksidan yang membantu melindungi struktur sel dari kerusakan radikal bebas dan memberikan kelembapan kulit serta dapat melindungi dari elastisitas kulit dari kerusakan. (Nurdianti, 2. Madu telah dibuktikan dalam banyak penelitian memiliki efek antibakteri, terkait dengan osmolaritas tinggi, pH rendah, kandungan hidrogen peroksida dan Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember kandungan senyawa yang tidak berkarakter. Ketika diterapkan pada luka, osmosis diharapkan dapat menarik air dari luka ke dalam madu, membantu mengeringkan jaringan yang terinfeksi dan mengurangi pertumbuhan bakteri (Weissenstein. Villalon. Luchter, & Bittmann, 2. Sehingga kulit dan bibir pasien tampak SIMPULAN Peneliti berkesimpulan bahwa adanya pengaruh dan manfaat intervensi posisi head up , terapi murottal Al-Quran, pemberian minyak zaitun dan madu yang diberikan pada pasien cedera kepala berat. SARAN Diharapkan kepada perawat agar dapat mentindaklanjuti perawatan dengan intervensi posisi head up , terapi murottal Al-Quran, pemberian minyak zaitun dan madu yang diberikan agar dapat mencapai kondisi pasien yang optimal. DAFTAR PUSTAKA