E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif Hubungan antar Empati dan Bystander Effect dengan Perilaku Prososial pada Siswa Kelas XI SMA X Jakarta Dhia Ashilah, 2Tatiyani Psikologi. Universitas Persada Indonesia Y. Jakarta E-mail : dhia. ashilah@upi-yai. Tatiyani@upi-yai. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Empati dan Bystander Effect dengan Perilaku Prososial pada siswa Kelas XI SMA X Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan populasi berjumlah 420 siswa laki-laki dan perempuan, sehingga didapatkan jumlah sample sebanyak 201 siswa laki-laki dan perempuan. Pengumpulan data menggunakan skala likert dan pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan arah positif yang signifikan antara empati dan perilaku prososial sebesar r = 0,508 dan p = <0,001 dan terdapat hubungan dengan arah positif signifikan antara bystander effect dengan perilaku prososial sebesar r = 0,428 dan p = <0,001. Selanjutnya hasil analisis data multivariate correlation menggunakan SPSS 27. 0 for windows diperoleh koefisien determinasi korelasi R square sebesar 0,275 dan berdasarkan regresi korelasi multivariate dipeoleh nilai koefisiensi korelasi R = 0,524 dengan p = <0,001 yang berarti terdapat hubungan antara empati dan bystander effect dengan perilaku prososial pada siswa kelas XI SMA X Jakarta. Kata Kunci : Perilaku Prososial. Empati, dan Bystander Effect. ABSTRACT The purpose of this study is to determine the relationship between empathy and the bystander effect with prosocial behavior among 11th-grade students at SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. This research is a quantitative research, with a population of 420 male and female students, resulting in a sample size of 201 male and female students. Data was collected using a Likert scale, and samples were taken using simple random sampling. The results showed a significant positive correlation between empathy and prosocial behavior with r = 0. 508 and p < 0. and a significant positive correlation between the bystander effect and prosocial behavior with r = 0. 428 and p < 0. Furthermore, multivariate correlation data analysis using SPSS 27. for Windows obtained a correlation determination coefficient R square of 0. Based on multivariate correlation regression analysis, the correlation coefficient value R = 0. 524 with p < 0. 001, indicating a relationship between empathy and the bystander effect with prosocial behavior among 11th-grade students at SMA Muhammadiyah 3 Jakarta Keywords : Prosocial Behavior. Empathy. Bystander Effect Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 PENDAHULUAN Periode remaja merupakan waktu ketika manusia melalui perubahan besar dalam berbagai aspek, seperti aspek fisik, kognitif, serta psikososial. Menurut Bashori . alam Amseke & Panis, 2020, p. interaksi sosial semakin dipelajari pada masa remaja sehingga muncul perilaku sosial yang menjadi standar etika bagi masyarakat Indonesia yang mengutamakan nilai gotong royong. Survei Doing Good Index 2020 yang dikutip dari Abidin dkk, . 3, p. menunjukkan bahwa indikator donasi, kesukarelaan, dan membantu orang asing semuanya tercakup dalam survei ini. Indonesia mencetak skor tinggi dalam aspek membantu orang lain dan menyumbangkan waktu. Bentuk-bentuk indikator tersebut dapat dikategorikan sebagai perilaku prososial. Menurut Bierhoff . alam Lomboan, 2020, . perilaku prososial merupakan tindakan yang dilakukan seseorang untuk memberik bantuan dengan intensi memperbaiki situasi orang yang dibantu, tanpa memperhatikan alasan di balik tindakan tersebut. Perilaku prososial dapat memberikan banyak manfaat pada remaja, psikososial mereka. Salah satu hal penting yang berkaitan dengan perilaku prososial adalah empati. Hurlock . alam Kusumawardani & Soetjiningsih, kemampuan` untuk mengerti perasaan dan emosi orang lain, serta kemampuan untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Selain itu Goleman . alam Mulyawati , 2022, p. menyatakan dalam berfungsi sebagai bentuk penyensoran Hoffman . alam Taufik 2012, p. menambahkan bahwa seseorang dapat merasa lebih baik ketika pertolongan yang DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif diberikan didahului oleh empati, karena menurunnya empathtetic disstress yang dirasakan oleh penerima bantuan. Perilaku prososial dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti Bystander. Sarwono . alam Nur & Ansyah, 2022, p. mendefinisikan Bystander atau pengamat sebagai individu yang hadir dan memiliki dampak signifikan terhadap bagaimana seseorang mengambil keputusan untuk membantu dalam keadaan darurat. Latene dan Rodin . alam I. Rahmawati, 2022, p. menguraikan jika seseorang akan cenderung lebih memberi pertolongan saat mereka berada dalam situasi darurat dan hanya terdapat sedikit orang di sekitar Hal ini disebabkan karena berkumpulnya banyak orang akan tanggung jawab. Dalam Psikologi, hal tersebut disebut dengan Bystander Effect. Istilah Bystander Effect berawal dari penelitian eksperimen oleh Latane dan Darley yang membuktikan bahwa semakin banyak pengamat, maka semakin rendah persentase individu untuk menolong (Baron & Byrne, 2005, p. Namun. Penelitian terbaru tentang bystander effect mengalami pergeseran Banyak akademisi beralih dari sudut pandang yang menekankan aspek negatif dari kehadiran orang lain, menuju pandangan yang lebih Dalam konteks ini, dalam situasi berbahaya, keberadaan orang lain di sekitar justru dapat menjadi pemicu bagi (Fahmi, 2017, p. Meninjau dari hasil penelitian tersebut, penulis percaya bahwa temuan dari penelitian ini lebih relevan dan sesuai untuk diterapkan di Indonesia daripada temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Latane dan Darley serta peneliti dari Barat lainnya. Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif LANDASAN TEORI Perilaku Prososial Baron Bryne menjelaskan tindakan membantu orang lain tanpa secara langsung memberikan membantu, bahkan dapat menimbulkan bahaya bagi orang yang membantu. Dimensi Perilaku Prososial Menurut Eisenberg dan Mussen . alam Kurniasih & Halimah, 2018, p. perilaku prososial dapat diamati melalui beberapa indikator, yaitu : Sharing Bersedia berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana bahagia maupun sedih. Cooperating Kesanggupan untuk bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai Kerja sama yang efektif mencakup hal-hal yang keuntungan bersama, saling memberi, saling membantu, dan menenangkan. Helping Kerelaan untuk menolong orang lain yang sedang kesusahan. Menolong dapat berupa menyediakan informasi, menawarkan bantuan atau melakukan mendukungkeberlangsungan kegiatan orang /lain. Donating Kedermawanan dan dengan rela menyumbangkan sejumlah barang miliknya kepada yang membutuhkan. Honesty Kemampuan untuk mencurangi orang Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Prososial Sarwono dan Meinarno . , membagi faktor perilaku prososial menjadi dua, . Faktor Situasional : Bystander Bystander merupakan mereka yang dekat dengan kejadian dan memiliki dampak signifikan terhadap keputusan individu untuk menawarkan bantuan saat dibutuhkan atau tidak. Daya tarik Penilaian positif individu terhadap korban . enganggap korban menari. akan memberikan pengaruh terhadap orang lain bersedia menolong atau tidak. Hal ini dapat dilihat dalam iklan produk kecantikan yang menunjukkan bahwa banyak pria akan membantu seorang wanita cantik yang dipandang menarik. Namun, ketertarikan bystander kepada korban tidak hanya terbatas pada ketertarikan fisik, adanya AukesamaanAy juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perilaku membantu. Atribusi terhadap korban Seseorang memiliki kecenderungan menolong orang lain jika mempercayai bahwa orang tersebut mengalami ketidakberuntungan yang tidak dapat diatasi oleh dirinya sendiri. Pengaruh model Melihat orang lain terlibat dalam aktivitas menolong dapat memotivasi seseorang untuk membantu para korban. Desakan waktu Orang yang sibuk dan terburu-buru cenderung tidak memberi pertolongan, sedangkan orang yang punya waktu luang lebih cenderung menawarkan bantuan kepada yang membutuhkan. Sifat kebutuhan Mirip dengan atribusi terhadap korban, jika penolong melihat bahwa korban membutuhkan bantuan karena faktorfaktor di luar kendali korban, maka kemungkinan korban akan dibantu akan lebih tinggi. Faktor dalam diri : Suasana hati . Seseorang mungkin lebih cenderung memberi pertolongan karena emosinya. Emosi positif umumnya memperkuat Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 dorongan seseorang untuk membantu orang lain. Sifat Sejumlah riset telah menunjukkan hubungan antara karakteristik individu dan kecenderungan mereka untuk Jenis Kelamin Secara umum, laki-laki lebih bersedia membantu dalam keadaan darurat yang Hal ini merupakan hasil dari prasangka gender yang sudah tertanam yang menyatakan bahwa laki-laki lebih kuat dan mampu membela diri daripada Tempat Tinggal Dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah metropolitan, mereka yang tinggal di daerah pedesaan lebih cenderung bersedia menawarkan bantuan. Pola Asuh Peran pola asuh dalam keluarga berkaitan dengan tingkah laku. Pola asuh orang tua demokratis secara signifikan mendorong anak untuk menjadi individu yang suka menolong. Menurut Staub . alam Rahmawati, 2022 p. terdapat sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap individu kerika berperilaku prososial, yakni: Faktor Internal Self-Gain Keinginan memperoleh pujian, pengakuan, ataupun menghindari pengucilan. Personal Values Norma pribadi adalah harapan individu untuk bertindak dengan cara tertentu yang sejalan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya. Empati Keterampilan untuk memahami emosi atau keadaan orang lain. Keterampilan ini DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Pengalaman dan suasana hati Jika seseorang sebelumnya mencapai kesuksesan atau mendapatkan hadiah atas bantuan mereka, individu tersebut lebih mungkin untuk membantu orang lain. Selain itu, seseorang dengan suasana hati yang bahagia cenderung lebih suka membantu dibandingkan dengan individu yang sedang sedih. Norma Sosial Norma sosial yang dimaksud adalah resiprokal, yang berarti seseorang cenderung membantu orang lain yang pernah membantunya. Karakteristik Kepribadian Kepribadian seperti introvert atau ekstrovert dianggap dapat berpengaruh terhadap perilaku prososial. Hal ini karena individu ekstrovert lebih berorientasi pada orang lain, sementara individu introvert lebih tertutup terhadap lingkungan Religiusitas Setiap agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendorong saling membantu dan mengasihi. Oleh karena itu, individu yang sangat religius cenderung lebih sering membantu orang Kemampuan yang dimiliki Apabila seseorang merasa memiliki melakukan tindakan prososial, maka ia cenderung akan melakukannya. Faktor Eksternal Diantaranya adalah Derajat Kebutuhan. Karakteristik orang yang memerlukan pertolongan. Hubungan antara calon penolong dan yang ditolong. Kejelasan Stimulus. Kondisi Lingkungan. Pengorbanan yang harus dikeluarkan. Kehadiran orang lain (Bystande. Keluarga. Budaya Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif METODOLOGI Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Simple Random Sampling. Menurut Sugiyono (Harahap , 2018, p. , simple random sampling adalah metode pemilihan< sampel dari populasi secara acak sederhana sehingga setiap anggota populasi mempunyai peluang yang< sama besar untuk menjadi sampel. Terdapat 3 skala pada penelitian ini, skala pertama yaitu sekala perilaku prososial yang Eisenberg dan Mussen . alam Kurniasih , 2018, p. , melalui enam aspek, yaitu Berbagi (Sharin. Bekerjasama (Cooperatin. Menolong (Helpin. Memberi (Donatin. Kejujuran (Honest. Skala kedua yaitu skala Empati dioperasionalkan menurut Davis . melalui 4 aspek, yaitu Perspective Taking. Fantasy. Empathetic Concern (EC). Personal Distress (PD) Skala ketiga yaitu skala Bystander Effect yang dioperasionalkan menurut Sarwono . alam Asiah, 2017, p. melaui 3 aspek, yaitu pengaruh sosial, hambatan bystander, penyebaran tanggung jawab Analisis menggunakan metode Bivariate Correlation untuk mengetahui hubungan antara satu variable independent dan satu variable dependent, yaitu : Ha1 : Terdapat hubungan antara Empati dengan Perilaku prososial siswa kelas XI SMA X Jakarta. Ha2 : Terdapat hubungan antara Bystander Effect dengan Perilaku prososial siswa kelas XI SMA X Jakarta. Analisis ketiga menggunakan metode Multivariate Correlation mengetahui hubungan antara lebih dari satu variable independent dan satu variable dependent, yaitu : Ha3: Terdapat hubungan antara Empati dan Bystande Effect dengan Perilaku Prososial siswa kelas XI SMA Jakarta Hasil dari data analisis selanjutnya dihitung dengan bantuan progtam SPSS 0 for windows. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis data Bivariate Correlation koefisien korelasi antara Perilaku Prososial dengan Empati adalah r = 0,508 dan p < 0,05, dapat diartikan bahwa terdapat korelasi signifikan positif antara Perilaku Prososial dengan Empati pada siswa kelas XI SMA X Jakarta. Hal tersebut sesuai hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Helmi dkk, . yang menunjukkan korelasi positif antara empati dengan perilaku prososial yang berarti semakin tinggi empati seseorang maka akan semakin tinggi pula kecenderungan munculnya perilaku Hasil analisist kedua dengan analisis data Bivariate Correlations antara Perilaku Prososial dan Bystander Effect di dapatkan hasil r = 0,428 dan p < 0,05 Hal ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Syafira . bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara perilaku prososial dengan bystander effect. Apabila variabel perilaku prososial tinggi, maka akan diikuti dengan tingginya variabel bystander effect. Begitu pula sebaliknya apabila variabel perilaku prososial bernilai rendah, maka variabel bystander effect akan rendah. Berdasarkan hasil Analisa statistic Multivariate Correlation antara variable Empati dan Bystander Effect dengan Perilaku Prososial didapatkan hasil koefisien korelasi R sebesar 0,524 dan RA Vol. 5 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 5 No 1 Maret 2025 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 = 0,275 dengan p < 0,05, menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara Perilaku Prososial dengan Empati dan Bystander Effect siswa kelas XI SMA X Jakar. Kemudian, untuk mengetahui kontribusi Empati dan Bystander Effect terhadap Perilaku Prososial dapat diperoleh menggunakan uji analisis dengan metode Multivariate Stepwise menggunakan aplikasi statistik SPSS 27. 0 for windows. Dari hasil analisis diperoleh total kontribusi variabel Empati terhadap Perilaku Prososial sebesar 25,8% dan untuk variabel Bystander Effect terhadap Perilaku Prososial sebesar 1,7%, sehingga terbentuknya Perilaku Prososial sebesar 27,5%, sementara 72,5% merupakan faktor lain< yang tidak diteliti. penulis seperti jenis kelamin, budaya, dan faktor lainnya. KESIMPULAN DOI: https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif sebaliknya, semakin rendah bystander effect maka semakin rend. ah pula kecenderungan munculnya perilaku Terdapat hubungan antara empati dan bystander effect terhadap perilaku prososial pada siswa kelas XI SMA X Jakarta DAFTAR PUSTAKA