Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 1-8 E-ISSN: x-x ISSN: Menejemen Satwa Berkelanjutan Dalam Industri Ekowisata Rasmi. Hi. Panu1*. Surmawati Hadi1 Program Studi Biologi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara Abstract Biodiversity in Indonesia is so abundant that it is called a megabiodiversity area. Endemic animal species are spread throughout the archipelago in Indonesia, however, due to low public knowledge, some endemic animals are threatened with extinction. Sustainable animal management can be a conservation solution that can be used by the government to maintain the stability of these This research aims to determine sustainable animal management in the ecotourism industry. This research uses the literature study method. The research results show that one way to reduce the impact of animal extinction is in situ conservation through an ecotourism approach. Keywords: animals, endemic, conservation, ecotourism. Pendahuluan Indonesia adalah salah satu negara memiliki keanekaragaman hayati yang kaya. Diperkirakan sebanyak 000 jenis satwa liar atau sekitar 17% satwa di dunia terdapat di Indonesia, walaupun luas Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan dunia. sekitar 12% . species, 39% endemi. dari total spesies binatang menyusui, urutan kedua di 7,3% . spesies, 150 endemi. dari total spesies reptilian, urutan keempat di dunia. 17% . 1 spesies, 397 endemi. dari total spesies burung di dunia, urutan kelima. 270 spesies amfibi, 100 endemik, urutan keenam di dunia. dan 2827 spesies binatang tidak bertulang belakang, selain ikan air tawar. Selanjutnya. Indonesia memiliki 35 spesies primata . rutan keempat, 18% endemi. dan 121 spesies kupukupu . % endemi. Indonesia menjadi satusatunya negara setelah Brazil, dan mungkin Columbia, dalam hal urutan keanekaragaman ikan air tawar, yaitu sekitar 1400 spesies (Dephut 1994. Mittermeier dkk. Kekayaan tersebut juga menjadi ancaman kepunahan, secara wajar kepunahan atau kerusakan dapat terjadi karena faktor perubahan alam misalnya perubahan iklim global, akan tetapi derajat kepunahan yang cepat justru menjadi hal yang tidak wajar. Penyebab utama terjadi kepunahan atau kerusakan satwa maupun habitatnya adalah terfragmentasinya habitat tempat hidup, pemanfaatan secara berlebihan dan perburuan dan perdagangan ilegal. Secara spesifik, hilang dan rusaknya habitat satwa disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, diantaranya konversi hutan alam untuk perkebunan dan tanaman industri sebagai tuntutan pembangunan, pembalakan liar . llegal *Corresponding Author: rasmihipanu92@gmail. Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 1-8 E-ISSN: x-x ISSN: dan kebakaran hutan. Perburuan dan perdagangan ilegal satwa juga terus permintaan pasar yang antara lain pengobatan tradisional (Santosa, 2. Salah satu cara menangani kerusakan tersebut adalah dengna melakukan konservasi. Salah satu bentuk konservasi adalah melalui konservasi ekssitu. Konservasi eks- situ adalah konservasi hewan diluar habitatnya. Caranya dengan membangun kondisi semirip mungkin dengan habitat aslinya. Secara kawasan lindung maupun taman nasional berdampak baik pada pelestarian spesies tertentu, namun ditinjau lebih lanjut taman nasional ataupun wisata-wisata mempertimbangakan habitat asli dan penyediaan koridor untuk reproduksi spesies itu sendiri, akan menyebabkan Soekmadi . Indonesia dipandang oleh beberapa kalangan sebagai salah satu pengelolaan hutan yang AubaikAy, dalam konteks menjaga keanekaragaman hayati yang terdapat di Kenyataan mengindikasikan bahwa keberadaan kawasan konservasi sebagai Aukawasan terlarangAy untuk aktivitas pembalakan sudah mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak. Namun perlu disadari juga bahwa pengelolaan kawasan konservasi belum optimal. Pudyamoko (Imron & Sinaga, 2. menjelaskan bahwa terdapat beberapa kepunahan lokal dibeberapa kawasan lindung di pulau Jawa. Diduga penyebab utamanya adalah aktifitas manusia. hal ini memungkinkan perlunya suatu kawasan konservasi insitu dengan pendekatan ekowisata berkelanjutan. Sehingga satwa akan tetap berada pada habitat asalnya, namun pemerintah atau pengelolanya juga mendapatkan penghasilan dan konservasi satwa dan ekosistemnya dapat terkontrol. Makalah ini bertujuan berkelanjutan dalam industri ekowisata. Metode Penelitian ini dilakukan dengan metode tinjauan pustaka, yaitu melalui studi pustaka dengan menggunakan berbagai sumber data seperti artikel atau prosiding pada jurnal elektronik, buku. Referensi yang menggunakan tiga tahap, yaitu: . Analisis deskriptif, yaitu pengumpulan dan analisis data. Analisis isi, yaitu memanfaatkan prosedur tertentu untuk menarik kesimpulan. Analisis kritis, yaitu mengkritisi fakta-fakta yang ditemukan selama studi literatur, serta menyikapi makna suatu fenomena secara Hasil dan Pembahasan Menejemen Satwa Berkelanjutan Dalam Industri Ekowisata Pembangunan ekonomi daerah yang kuat dan berkelanjutan merupakan sebuah kolaborasi yang efektif antara pemanfaatan sumberdaya yang ada, masyarakat dan pemerintah. Dalam konteks ini, pemerintah sebagai regulator berperan strategis dalam mengupayakan kesempatan yang luas berpartisipasi penuh dalam setiap aktivitas ekonomi, pemanfaatan sumber daya alam dan pelestariannya. Menurut undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya ini dilakukan melalui: . Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 1-8 E-ISSN: x-x ISSN: keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Salah satu upaya pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya lokal yang optimal dan sesuai dengan regulasi tersebut adalah mengembangkan pariwisata dengan konsep Ekowisata. Ekowisata atau ecotourism mulai diperkenalkan pada tahun 1980-an sebagai bentuk strategi kreatif program ekowisata merupakan industri yang berkembang dengan tantangan yang cukup besar, banyak usaha yang di lakukan untuk mengembangkan sebuah ekowisata, di antaranya menjalin kerja pemerintah daerah, komunitas dan organisasi lingkungan serta bagaimana mempertahankan praktek lingkungan yang baik (Herbig , 1. Secara umum Ceballos-Lascuryin pada tahun 1983 menjelaskan, sesuatu yang terfokus pada pentingnya alam, domain kognitif dan afektifitas dan perilaku melalui suatu jelajah alam yang utuh dan tidak terkontaminasi dengan pemandangan dan tumbuhan dan hewan liar, serta manifestasi budaya apapun yang ada . aik masa lalu maupun sekaran. yang ditemukan di daerah ini (Ceballos-Lascuryin 1987, van der Merwe di 1. Penjelasan-penjelasan dapat disimpulkan ekowisata merupakan suatu bentuk strategi kreatif yang didesain untuk menjelajah alam yang utuh dan tidak terkontaminasi dengan tujuan tertentu, melalui kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas dan organisasi mempertahankan praktek lingkungan yang baik. Cater dan Lowman , 1994 menjelaskan bahwa terdapat empat unsur yang harus diperhatikan dalam pengembangan ekowisata yaitu . Menarik wisatawan ke lingkungan alam yang unik dan dapat diakses. Digunakan konservasi alam melalui pendidikan. Menyebabkan perubahan sikap di masyarakat dan pemerintah lokal. Menyediakan lapangan kerja dan peluang kewirausahaan bagi masyarakat lokal. Pengembangan memiliki tujuan yang berbeda-beda, salah satunya pelestarian satwa berkelanjutan. Pelestarian satwa berkelanjutan dapat dijalankan dengan mengikuti prinsipprinsip ekowisata. Menurut Damanik dkk. terdapat 7 prinsip-prinsip ekowisata yaitu: Mengurangi dampak negatif berupa lingkungan dan budaya lokal akibat kegiatan wisata. Membangun penghargaan atas lingkungan dan budaya dengan tujuan wisata, baik pada diri wisatawan, masyarakat lokal, maupun pelaku wisata lainnya. Menawarkan pengalaman-pengalaman positif bagi bagi wisatawan maupun masyarakat lokal, melalui kontak budaya yang lebih intensif dan kerjasama dalam pemeliharaan atau konservasi daerah tujuan objek wisata. Memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi keperluan konservasi melalui kontribusi atau pengeluaran ekstra wisatawan. Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat local, dengan menciptakan produk wisata yang mengedepankan nilai-nilai lokal. Memberikan kepekaan terhadap situasi sosial, lingkungan dan politik di daerah tujuan wisata. Menghormati hak asasi manusia dan Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 1-8 E-ISSN: x-x ISSN: wisatawan dan masyarakat lokal untuk menikmati atraksi wisata sebagai wujud hak asasi, serta tunduk kepada aturan main yang adil dan disepakati bersama dalam pelaksanaan transaksitransaksi wisata. Prinsip-prinsip merupakan komponen penting yang harus dikembangkan dalam suatu industri membutuhkan komponen yang lain sebagai bentuk implementasi prinsip ekowisata yaitu kerjasama pemerintah (Stakeholder terkai. , masayarakat dan wisatawan, penyediaan koridor satwa dan kesejahteraan satwa. Kerjasama pemerintah, masyarakat dan wisatawan Pemerintah melaksanakan fungsi dan perannya secara optimal, salah satu fungsi pemerintah adalah membuat regulasi dan menjalankannya, dalam UUD 1945 Pasal 33, ayat 3 dan 4 menyatakan: Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk rakyatAyA Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan dan kemajuan ekonomi nasionalAy. Amandemen kedua dari UndangUndang Dasar juga mendukung hak Hal memberikan dasar bagi undang-undang pengelolaan berkelanjutan atas sumber masyarakat Indonesia. Sehingga dalam pengembangan ekowisata pemerintah harus berdampingan dengan masyarakat untuk memajukan ekonomi nasioanl dan menjaga kelestarian alam. Kerja sama tersebut dapat dilakukan dengan penyediaan sarana dan menjaga keberlanjutan pelestarian satwa dalam konteks ekowisata. Salah satu sarana yang perlu diperhatikan adalah pembangunan koridor satwa dari wilayah yang satu kewilayah yang lain, dan perencanaan pembangunan pemerintah yang harus disesuaikan dengan prinsip mengalami stres dihabitat alaminya, pemerintah juga perlu mengadakan masyarakat yang berada disekitar kawasan ekowisata mengenai konservasi dan peran konservasi dalam kemajuan masayarakat memahami peran apa yang harus dilakukan. Tugas penggerak dan penjaga kestabilan suatu mengambil peran secara optimal. Sehingga tujuan ekowisata sebagai sarana edukasi dapat tersampaikan kepada wisatawan, komponen edukasi mengambil bagian dalam kegiatan sosialisasi maupun pelatihan yang pengelolah (Masyarakat dan pemerinta. perlu melibatkan wisatawan dalam manajemen satwa liar dalam suatu Menurut Munro, dkk . bahwa wisatawan dapat menjadi mitra dalam managemen konservasi satwa berkelanjutan karena wisatawan memilki peran besar dalam keberhasilan konservasi satwa liar berkelanjutan, hal tersebut dapat dilakukan dengan menjalin komunikasi yang baik dengan wisatawan, dan memberikan penjelasan yang baik saat berinteraksi dengan satwa liar. Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 1-8 E-ISSN: x-x ISSN: Penyediaan koridor satwa populasi dan mencegah terjadinya isolasi Secara singkat koridor ekologi populasi di habitatnya. diartikan sebagai hubungan antara jalur Kesejahteraan satwa fisik atau biolog yang memungkinkan Kesejahteraan satwa merupakan salah pergerakan spesies dari tempat yang satu satu komponen penting yang harus dengan yang lain (Swart. J, dkk. dipahami oleh pengelola manajemen Ketersediaan koridor dalam suatu satwa berkelanjutan dalam industri pengembangan ekowisata satwa liar ekowisata, karena kesejahteraan satwa sangat penting karena memudahkan akan memungkinkan konservasi satwa akses satwa mencari makanan maupun Menurut Farm Animal Ketersediaan koridor juga Welfare Council . diacu dalam dapat menghindari dampak buruk dari Appleby Hughes . proses inbreeding. Menurut Takadjandji. kesejahteraan satwa dapat dilihat M dan Sawitri . R . Inbreeding berdasarkan aspek-aspek kebebasan dapat mengakibatkan kepunahan pada (Five Freedom. , yaitu: populasi yang ada karena pada generasi ketiga jumlah individu tiap kelamin yang a. Bebas dari rasa lapar dan haus hidup kurang dari satu. Comizzoli dkk. reedom from hunger and thirs. juga menjelasakan, reproduksi Makanan dan minuman merupakan dan kesuburan yang terjadi akibat kebutuhan pertama dalam hidup. inbreeding adalah kemandulan dan Kebebasan dari rasa lapar dan haus ini ketidaksuburan pada banteng jantan ditempatkan di urutan pertama karena ini maupun betina. sangat mendasar, primitif, dan tidak Penjelasan tersebut menujukkan, dapat ditolerir. Lapar adalah saat-saat menejemen satwa berkelanjutan sangat satwa terstimulasi untuk makan. Satwa koridor memerlukan akses yang mudah terhadap untuk menjamin konservasi satwa. makanan dan minuman untuk menjaga Wuisang . menjelaskan salah satu kesehatan dan kebugaran. Magnen cara pengendalian lingkungan adalah (Islahuddin 2. menjelasakan ada tiga meningkatkan pertimbangan tingkat kategori ukuran kelaparan yaitu Pertama, konektifitas ekologi dengan penyedian termasuk di dalamnya masuknya makan, mengontrol kedua, jumlah rata-rata memakan, dan keragaman spesies tumbuhan dan ketiga, waktu yang dibutuhkan dalam hewan liar. Pentingnya penyediaan koridor Metode-metode yang dapat digunakan juga diatur pemerintah sebagai pedoman untuk mengukur rasa haus adalah proses pelestarian spesies dan perlindungan pengukuran jumlah air yang masuk. Kementerian lingkungan jumlah rata-rata meminum, dan waktu hidup dan klestarian lingkungan dalam yang dibutuhkan dalam pendistribusian peraturan direktur jendral konservasi dan minuman. sumber daya alam tahun 2016 tela b. Bebas dari rasa tidak nyaman . reedom menetapkan pedoman penentuan koridor from discomfor. hidupan liar sebagai ekosistem esensial. Ketidaknyamanan dalam butir s menyebutkan fungsi koridor keadaan lingkungan yang tidak sesuai sebagai habitat atau penghubung dua pada satwa. Kondisi lingkungan yang atau lebih habitat dari spesies hidupan ekstrim dan penerapan manajemen yang liar yang dilindungi yang memungkinkan membuat stres mempengaruhi kesehatan terjadinya pergerakan individu antar Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 1-8 E-ISSN: x-x ISSN: dan kesejahteraan satwa. Akibatnya selain metabolisme, satwa yang stres akan memperburuk penampilan . , satwa juga akan lebih rentan terhadap infeksi agen penyakit (Blecha 2. Bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit . reedom from pain, injury, and diseas. Sehat pada satwa secara individu secara sangat sederhana dapat didefinisikan negatif sebagai Autidak adanya symptom penyakitAy (Ekesbo 1. Penyakit seringnya diakibatkan oleh kekeliruan Sehingga pengelolah perlu menyediakan jasa penanganan medis akan memungkinkan kelestarian satwa. Bebas untuk menampilkan perilaku alami . reedom to express normal Satwa kebiasaan atau perilaku yang khas untuk masing-masing jenis. Kebebasan ini sangat penting dipertahankan dalam menimbulkan stres pada satwa yang akan berakibat buruk, hal ini juga berkaitan dengan perilaku wisatawan sehingga pengelolah sangat penting menjalin kerjasama dan memberikan Bebas dari rasa takut dan tekanan . reedom from fear and distres. Para peneliti mempunyai takaran tersendiri dalam mengukur tingkat stres, seperti detak jantung dan kadar konsentrasi pada plasma katekolamin dan kortikosteron. Pengelola harus memastikan satwanya terbebas dari penderitaan mental akibat kondisi sekitar, perlakuan, dan manajemen. Moberg . menyatakan stres berpengaruh terhadap kesejahteraan satwa tergantung besar kecilnya kerugian biologis akibat stres tersebut. Meskipun akomodasi atas stres mungkin terjadi, namun jika tidak maka stres dapat berakibat kematian. Stres tidak hanya merupakan keadaan saat satwa kemampuannya, tetapi juga pada saat satwa mempunyai respon yang lemah bahkan terhadap rangsangan normal sehari-hari (Duncan dan Fraser Kesimpulan Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa salah satu cara mengurangi dampak kepunahan satwa adalah dengan konservasi insitu melalui pendekatan ekowisata. Terdapat tiga cara yang harus dilakukan untuk manajemen satwa berkelanjutan dalam industri ekowisata yaitu kerjasama pemerintah, masyarakat dan wisatawan, peran pemerintah sebagai pembuat regulasi dan menjalankannya serta pengawas, wisatawan sebgai mitra yang menjaga keberlangsungan satwa dengan berusaha bertukar informasi sebanyak mungkin tentang satwa yang akan dikunjunginya, penyediaan koridor yang berfungsi sebagai penghubung sekaligus habitat satwa dan berfungsi mengungi menyediakan akses satwa melakukan kesejahteraan satwa yang terdiri dari lima komponen yaitu bebas dari rasa lapar dan haus . reedom from hunger and thirs. , bebas dari rasa tidak nyaman . reedom from discomfor. , bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit . reedom from pain, injury, and diseas. , bebas untuk menampilkan perilaku alami . reedom to express normal behaviou. dan bebas dari rasa takut dan tekanan . reedom from fear and distres. Bioadventure. Journal of Archipelagoes Wildlife and Life Science. Vol. 1 No. 1/Pages: 1-8 E-ISSN: x-x ISSN: Referensi