Counseling & Humanities Review Vol. No. 2 Month 2025, pp. 105-xx p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: https://doi. org/10. Received (October 12th 2. Accepted (November 15th 2. Published (December 30th 2. Peer Attachment dan Kecemasan Sosial pada Siswa : Studi Korelasional Shania Andrisa Putri1*). Frischa Meivilona Yendi2. Zadrian Ardi3. Lisa Putriani4 Universitas Negeri Padang. Indonesia *Corresponding author, e-mail: shaniaandrisaputri31@gmail. Abstrak Masalah dalam penelitian ini adalah masih ditemukannya siswa kelas X dan XI yang mengalami kecemasan sosial dalam interaksi dengan teman sebaya di lingkungan sekolah. Peer attachment diyakini sebagai salah satu faktor psikososial yang berperan dalam kecemasan sosial siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peer attachment dengan kecemasan sosial pada siswa kelas X dan XI. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian berjumlah 249 siswa yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa skala peer attachment dan skala kecemasan sosial. Uji validitas dilakukan menggunakan teknik korelasi item total, sedangkan uji reliabilitas menggunakan CronbachAos alpha. Uji hipotesis menggunakan analisis korelasi Pearson Product Moment dengan taraf signifikansi 5%. Hasil analisis data menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,273 dengan nilai signifikansi p < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan positif antara peer attachment dengan kecemasan sosial siswa. Artinya, kualitas keterikatan dengan teman sebaya memiliki peranan dalam tingkat kecemasan sosial yang dialami siswa. Keywords: peer attachment, kecemasan sosial, remaja, siswa SMA, bimbingan dan konseling This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2019 by author. Introduction Kecemasan sosial merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa takut berlebihan terhadap penilaian negatif dalam situasi sosial, khususnya saat berinteraksi dengan orang lain (American Psychiatric Association, 2. Kondisi ini banyak dialami oleh remaja karena pada masa ini individu berada pada tahap perkembangan yang menuntut penerimaan sosial dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal yang efektif (Santrock, 2023. Putra, 2. Pada konteks sekolah menengah atas, kecemasan sosial dapat menghambat partisipasi siswa dalam kegiatan belajar, interaksi dengan teman sebaya, serta perkembangan sosial dan emosional secara optimal (Imaddudin et al. Secara global, prevalensi kecemasan sosial pada remaja dilaporkan berada pada kisaran 15Ae20%, menjadikannya salah satu gangguan kecemasan yang paling umum dialami pada masa remaja (Liu et , 2. Studi longitudinal terbaru juga menunjukkan bahwa kecemasan sosial yang tidak tertangani pada masa sekolah berpotensi berlanjut hingga dewasa dan berdampak terhadap rendahnya kepercayaan diri, kesulitan relasi sosial, serta hambatan akademik (Duagi et al. , 2. Di Indonesia, hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa gangguan kecemasan termasuk kecemasan sosial menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang paling banyak dialami oleh remaja usia sekolah (Wahdi et al. , 2. Data ini menunjukkan bahwa kecemasan sosial merupakan isu psikososial yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam konteks pendidikan. Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan sosial masih menjadi permasalahan nyata pada siswa SMA. Berdasarkan data penelitian, sebanyak 51,32% siswa berada pada kategori kecemasan sosial sedang, dengan kecenderungan paling dominan pada aspek fear of negative evaluation dan social Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa masih merasakan kekhawatiran terhadap penilaian sosial serta ketidaknyamanan dalam situasi interaksi dengan teman sebaya, khususnya dalam konteks pembelajaran dan hubungan sosial di sekolah. Kecemasan sosial pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi kepribadian, konsep diri, harga diri, serta kemampuan regulasi emosi yang belum berkembang secara optimal (Chen et al. , 2. Sementara itu, faktor eksternal mencakup lingkungan keluarga, pola asuh, hubungan teman sebaya, serta iklim sosial sekolah (Coyle et al. , 2. Interaksi antara faktor-faktor tersebut dapat memperkuat atau justru menurunkan tingkat kecemasan sosial yang dialami siswa. Salah satu faktor eksternal yang memiliki peran penting dalam dinamika kecemasan sosial remaja adalah peer attachment. Peer attachment merupakan keterikatan emosional antara individu dengan teman sebaya yang tercermin melalui aspek kepercayaan, komunikasi, dan perasaan diterima dalam hubungan sosial (Armsden & Greenberg, 1987. dalam Rahmawati, 2. Teori keterikatan menjelaskan bahwa hubungan yang aman dengan teman sebaya dapat memberikan rasa aman dan dukungan emosional, sehingga individu lebih mampu menghadapi tuntutan sosial tanpa kecemasan berlebih (Bowlby. Salavou & Giannakopoulos, 2. Berdasarkan hasil penelitian, peer attachment siswa berada pada kategori tinggi dengan nilai mean sebesar 76,20. Namun demikian, pada aspek komunikasi dan alienation masih ditemukan siswa pada kategori sedang hingga tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun secara umum hubungan pertemanan tergolong baik, sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam membuka diri, berkomunikasi secara efektif, serta merasa kurang diterima oleh kelompok sebaya. Ketidakseimbangan ini berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas peer attachment berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja. Remaja dengan peer attachment yang baik cenderung memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih rendah karena merasa diterima dan didukung oleh lingkungan sosialnya (Karimah & Prtamama, 2. Sebaliknya, rendahnya kelekatan dengan teman sebaya, khususnya pada aspek alienation, berhubungan dengan meningkatnya perasaan kesepian dan kecemasan dalam situasi sosial (Sigarlaki & Nurvinkania, 2. Temuan ini menegaskan bahwa peer attachment merupakan salah satu faktor penting dalam proses penyesuaian sosial remaja. Keterkaitan antara kedua variabel tersebut juga tercermin dari hasil analisis penelitian yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara peer attachment dan kecemasan sosial dengan nilai koefisien korelasi r = 0,273 . < 0,. Meskipun kekuatan hubungan tergolong rendah, temuan ini menunjukkan bahwa kualitas keterikatan teman sebaya tetap memberikan kontribusi dalam dinamika kecemasan sosial siswa. Fenomena ini diperkuat oleh hasil wawancara awal dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SMA Adabiah 2 Padang, yang mengungkap bahwa masih terdapat siswa yang cenderung menarik diri, kurang percaya diri saat berinteraksi, enggan berbicara di depan kelas, serta menghindari aktivitas Guru BK juga menyampaikan bahwa siswa dengan kecemasan sosial umumnya mengalami kesulitan menjalin kedekatan dengan teman sebaya, kurang terbuka dalam berkomunikasi, dan merasa tidak nyaman berada dalam situasi sosial tertentu. Temuan ini menunjukkan bahwa kecemasan sosial tidak hanya berdampak pada aspek emosional, tetapi juga pada proses penyesuaian sosial siswa di lingkungan sekolah. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, kajian empiris mengenai hubungan peer attachment dan kecemasan sosial pada siswa SMA masih relatif terbatas. Padahal, tuntutan akademik dan sosial di Peer Attachment dan Kecemasan Sosial pada Siswa : Studi Korelasional Shania Andrisa Putri. Frischa Meivilona Yendi. Zadrian Ardi. Lisa Putriani 107 sekolah semakin meningkat, sehingga siswa dituntut memiliki kemampuan adaptasi sosial yang baik. Kondisi ini menjadikan kecemasan sosial sebagai isu penting yang perlu mendapatkan perhatian, khususnya dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah (Nurjana, 2. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji secara empiris hubungan antara peer attachment dan kecemasan sosial pada siswa SMA Adabiah 2 Padang. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian bimbingan dan konseling serta menjadi dasar praktis bagi guru BK dalam merancang layanan yang berfokus pada penguatan hubungan teman sebaya guna menurunkan tingkat kecemasan sosial siswa. Metode Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional yang bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis hubungan antara peer attachment dengan kecemasan sosial siswa. Desain penelitian korelasional digunakan untuk mengidentifikasi arah dan kekuatan hubungan antarvariabel tanpa memberikan perlakuan khusus kepada subjek penelitian (Sugiyono, 2. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Adabiah 2 Padang tahun ajaran 2025/2026 yang berjumlah 249 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan sampel penelitian (Dewi, 2. Pemilihan teknik ini dilakukan karena jumlah populasi relatif terjangkau dan memungkinkan untuk diteliti secara keseluruhan. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang disusun berdasarkan teori peer attachment dan teori kecemasan sosial pada remaja. Skala peer attachment mencakup aspek trust, communication, dan alienation(Armsden & Greenberg, 1. , sedangkan skala kecemasan sosial mengukur ketakutan serta ketidaknyamanan siswa dalam situasi sosial (La Greca & Harrison, 2. Kedua instrumen menggunakan skala Likert dengan lima pilihan jawaban. Uji validitas instrumen dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment, sedangkan uji reliabilitas dilakukan menggunakan CronbachAos Alpha. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen peer attachment dan kecemasan sosial memiliki koefisien reliabilitas di atas 0,70, sehingga dinyatakan reliabel dan layak digunakan dalam penelitian. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 26 for Windows. Analisis deskriptif digunakan untuk memperoleh nilai frekuensi, persentase, dan rata-rata setiap variabel, sehingga memberikan gambaran umum mengenai tingkat peer attachment dan kecemasan sosial siswa. Sebelum pengujian hipotesis, dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas data. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji KolmogorovAeSmirnov untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal. Data yang berdistribusi normal memungkinkan penggunaan analisis statistik parametrik. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis korelasi Pearson Product Moment dengan taraf signifikansi = 0,05. Interpretasi hasil analisis didasarkan pada nilai koefisien korelasi dan tingkat signifikansi untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan antara peer attachment dan kecemasan sosial siswa. Penelitian ini telah memperoleh izin dari pihak sekolah. Seluruh partisipan berpartisipasi secara sukarela, dan kerahasiaan data responden dijaga dengan baik sesuai dengan prinsip etika penelitian di bidang pendidikan. Results and Discussion Tabel 1. Skor dan Kategori Peer attachment (X) dan Kecemasan Sosial (Y) Variabel Peer attachment Min Max Mean Kategori Tinggi Kecemasan Sosial Sedang Skor dan Kategori Peer attachment (X) dan Kecemasan Sosial (Y) (Shania Andrisa Putri. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor peer attachment berada pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki kualitas keterikatan yang baik dengan teman sebaya, yang tercermin melalui adanya kepercayaan, komunikasi yang cukup efektif, serta perasaan diterima dalam hubungan sosial. Sementara itu, skor rata-rata kecemasan sosial berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kecemasan dalam situasi sosial tertentu, seperti saat berinteraksi atau menghadapi penilaian dari teman sebaya, namun kecemasan tersebut belum berada pada tingkat yang mengganggu secara signifikan. Peer Attachment Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengolahan data digambarkan sub variabel peer attachment sebagai berikut: Diagram Peer Attachment . Ae . Sangat Tinggi . Ae . Tinggi . Ae . Sedang Frekuensi . Ae . Rendah . Ae . Sangat Rendah Gambar 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Peer Attachment Berdasarkan gambar 1 di atas, dapat dilihat bahwa peer attachment berada pada kategori sangat tinggi sebanyak 18 siswa dengan persentase 7,23 %. Sebanyak 76 siswa dengan persentase 30,52% berada pada kategori tinggi. Seabanyak 93 siswa dengan persentase 37,35% berada pada kategori Sebanyak 49 siswa dengan persentase 19,68% berada pada kategori rendah dan 13 siswa dengan persentase 5,22% yang berada pada kategori sangat rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa peer attachment siswa SMA Adabiah 2 Padang secara umum berada pada kategori sedang hingga tinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun skor keseluruhan berada pada kategori sedang, ratarata pada setiap subvariabel peer attachment menunjukkan kecenderungan tinggi, sehingga kualitas keterikatan siswa dengan teman sebaya relatif baik, terutama pada aspek kepercayaan dan komunikasi. Peer Attachment dan Kecemasan Sosial pada Siswa : Studi Korelasional Shania Andrisa Putri. Frischa Meivilona Yendi. Zadrian Ardi. Lisa Putriani 109 Kecemasan Sosial Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengolahan data digambarkan sub variabel kecemasan sosial sebagai berikut: Diagram Kecemasan Sosial . Ae . Sangat Tinggi . Ae . Tinggi . Ae . Sedang Frekuensi . Ae . Rendah . Ae . Sangat Rendah Gambar 2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Kecemasan Sosial Berdasarkan gambar 2 di atas, dapat dilihat bahwa kecemasan sosial tidak ada siswa yang memiliki kategori sangat tinggi. Sebanyak 26 siswa dengan persentase 10,45% berada pada kategori tinggi. Seabanyak 83 siswa dengan persentase 33,33% berada pada kategori sedang. Sebanyak 65 siswa dengan persentase 26,10% berada pada kategori rendah dan 18 siswa dengan persentase 7,23% yang berada pada kategori sangat rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kecemasan sosial siswa SMA Adabiah 2 Padang secara umum berada pada kategori sedang. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun sebagian siswa masih mengalami kecemasan dalam situasi sosial tertentu, tingkat kecemasan tersebut belum berada pada level yang mengganggu secara signifikan dalam interaksi sosial sehari-hari. Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat hasil uji normalitas. Adapun data lengkap mengenai hasil uji normalitas secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Variabel yang Diuji Residual (XAeY) Statistik KAeS 0,035 Asymp. Sig. 0,200c Keterangan Normal Tabel 2. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test (Shania Andrisa Putri. Berdasarkan hasil uji normalitas data menggunakan One-Sample KolmogorovAeSmirnov Test terhadap nilai residual, diperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,200 yang lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa data residual berdistribusi normal dan memenuhi asumsi untuk dilakukan analisis statistik parametrik. Selanjutnya, dilakukan uji linearitas untuk mengetahui apakah hubungan antara peer attachment dan kecemasan sosial bersifat linear. Uji linearitas ini merupakan bagian dari uji prasyarat analisis yang bertujuan memastikan bahwa hubungan antara peer attachment (X) dan kecemasan sosial (Y) memenuhi asumsi untuk dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Tabel 3. Uji Korelasi Variabel Peer attachment (X) dan Kecemasan Sosial (Y) Variabel X Variabel Y r (Pearso. p-value Keterangan Peer Attachment Kecemasan Sosial 0,273 0,000 Signifikan Tabel 3. Uji Korelasi Variabel Peer attachment (X) dan Kecemasan Sosial (Y) (Shania Andrisa Putri. Hasil uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,273 dengan nilai signifikansi p = 0,000 . < 0,. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara peer attachment dan kecemasan sosial siswa. Nilai koefisien korelasi tersebut mengindikasikan bahwa tingkat hubungan berada pada kategori rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa peer attachment memiliki keterkaitan dengan kecemasan sosial siswa, namun bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan munculnya kecemasan sosial. Secara deskriptif, peer attachment siswa berada pada kategori tinggi, sedangkan kecemasan sosial berada pada kategori sedang. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterikatan dengan teman sebaya belum sepenuhnya berfungsi sebagai faktor protektif. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yendi et al. serta Yuri. Yendi, dan Ardi . yang menegaskan bahwa dukungan sosial teman sebaya berperan dalam pembentukan efikasi diri dan penyesuaian sosial siswa, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas hubungan yang terjalin. Ditinjau dari aspek peer attachment, aspek trust berada pada kategori tinggi dan berperan sebagai faktor pelindung psikologis. Kepercayaan terhadap teman sebaya membantu siswa merasa aman dalam interaksi sosial. Temuan ini sejalan dengan Zhang & Wang, . serta Ying et al. yang menyatakan bahwa kepercayaan dalam hubungan teman sebaya dapat menurunkan kecemasan sosial melalui peningkatan rasa aman dan konsep diri. Namun demikian, aspek communication berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa keterbukaan komunikasi antar siswa belum berkembang secara optimal. Kondisi ini mendukung temuan Akbari et al. yang menyatakan bahwa keterbatasan komunikasi interpersonal dan regulasi emosi berkaitan dengan meningkatnya kecemasan sosial pada remaja. Berbeda dengan dua aspek tersebut, aspek alienation berada pada kategori sedang hingga tinggi. Perasaan keterasingan mencerminkan adanya jarak emosional dalam hubungan pertemanan dan menjadi faktor yang paling dominan berkaitan dengan kecemasan sosial. Temuan ini sejalan dengan Mota et al. yang menyatakan bahwa alienation dalam peer attachment berhubungan positif dengan kecemasan sosial. Hasil ini juga diperkuat oleh penelitian Khaira & Firman, . yang menegaskan bahwa kelekatan teman sebaya yang tidak aman berkaitan dengan munculnya perilaku dan respons emosional maladaptif pada remaja. Temuan penelitian ini juga selaras dengan penelitian Sigarlaki & Nurvinkania . serta Rusprayunita . yang menunjukkan bahwa kualitas hubungan teman sebaya yang kurang aman dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam interaksi sosial. Selain itu. Izzaty . dan Shaprizal et . menegaskan bahwa kecemasan sosial tetap dapat muncul meskipun dukungan atau kelekatan teman sebaya tergolong cukup baik, terutama ketika individu masih merasakan keterasingan Dengan demikian, arah hubungan positif antara peer attachment dan kecemasan sosial dalam penelitian ini dipengaruhi oleh dominasi aspek alienation. Temuan ini tidak menunjukkan bahwa peer attachment yang tinggi meningkatkan kecemasan sosial, melainkan menegaskan bahwa kualitas kelekatan menentukan arah pengaruhnya. Hal ini sejalan dengan temuan Derin et al. serta Zimmer-Gembeck et al. yang menyatakan bahwa kelekatan yang tidak aman meningkatkan kerentanan psikologis remaja terhadap kecemasan sosial. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkuat bahwa peer attachment memengaruhi kecemasan sosial melalui dinamika aspek trust, communication, dan alienation. Aspek trust dan communication berperan sebagai faktor protektif, sedangkan alienation menjadi faktor risiko yang meningkatkan Peer Attachment dan Kecemasan Sosial pada Siswa : Studi Korelasional Shania Andrisa Putri. Frischa Meivilona Yendi. Zadrian Ardi. Lisa Putriani 111 kecemasan sosial siswa. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya peran layanan bimbingan dan konseling dalam meningkatkan kualitas hubungan teman sebaya. Guru Bimbingan dan Konseling perlu mengembangkan intervensi yang berfokus pada penguatan kepercayaan, keterampilan komunikasi interpersonal, serta pengurangan perasaan keterasingan dalam hubungan sosial siswa, sehingga peer attachment dapat berfungsi secara optimal dalam mendukung kesehatan psikologis Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara peer attachment dengan kecemasan sosial pada siswa kelas X dan XI SMA Adabiah 2 Padang. Hubungan yang ditemukan memiliki derajat kekuatan rendah dengan nilai koefisien korelasi r = 0,273, yang menunjukkan bahwa peer attachment berperan dalam dinamika kecemasan sosial siswa, namun bukan sebagai satu-satunya faktor penentu. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas keterikatan dengan teman sebaya, khususnya melalui aspek kepercayaan, komunikasi, dan perasaan keterasingan, memiliki peranan penting dalam tingkat kecemasan sosial yang dialami siswa. Dengan demikian, peer attachment menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya memahami serta menangani kecemasan sosial siswa di lingkungan sekolah. Kata Ucapan Penulis mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karuniaNya sehingga skripsi yang berjudul AuHubungan Peer attachment Siswa dengan Kecemasan SosialAy dapat diselesaikan dengan baik. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rektor Universitas Negeri Padang. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang, serta Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling atas dukungan dan fasilitas akademik yang telah diberikan selama proses penyusunan skripsi ini. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Ibu Dr. Frischa Meivilona Yendi. Pd. Pd. Kons. selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan arahan, bimbingan, serta masukan yang sangat berarti sejak tahap perencanaan hingga penyusunan akhir skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Zadrian Ardi. Pd. Pd. Kons. selaku Kontributor I dan Ibu Dr. Lisa Putriani. Pd. Pd. Kons. selaku Kontributor II, serta Bapak Ade Herdian Putra. Pd. selaku penimbang instrumen . , yang telah memberikan saran, kritik, serta penilaian ilmiah sehingga kualitas penelitian ini dapat terjaga. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala SMA Adabiah 2 Padang, guru Bimbingan dan Konseling, serta seluruh siswa yang menjadi responden penelitian atas izin, kerja sama, dan partisipasi yang telah diberikan, sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan karya ilmiah ini di masa mendatang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu Bimbingan dan Konseling, khususnya dalam upaya memahami dan menangani kecemasan sosial siswa. Referensi