Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MENULIS ESAY ARGUMENTATIF MELALUI PENILAIAN REKAN SEJAWAT BERLANDASKAN TRI KAYA PARISUDHA Kadek Devi Kalfika Anggria Wardani1 Universitas Pendidikan Nasional Email Address devikalfika@undiknas. Keywords: esay argumentatif, menulis. Tri Kaya Prisudha Abstrak Sejumlah studi menunjukkan bahwa menulis teks argumentatif merupakan salah satu genre teks yang penting dipelajari oleh mahasiswa. Hal tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa genre teks ini adalah bentuk paling umum yang ditugaskan kepada Meski demikian hingga saat ini masih banyak pihak yang memandang bahwa kemampuan mahasiswa dalam menulis teks argumentatif kurang baik. Dengan menggunakan penilaian rekan sejawat dan konsep kearifan lokal Bali. Tri Kaya Prisudha , kajian ini mengembangkan sebuah model pembelajaran menulis teks Pengembangan dilakukan dengan menggunakan model Desain Based Research (DBR) untuk memformulasikan sintaks pembelajaran yang efektif. Melalui proses tersebut dihasilkan sintaks pembelajaran yang mensinergikan penilaian rekan sejawat dan nilai-nilai kearifan lokal dalam Tri Kaya Prisudha . Berpikir yang benar . berkata yang benar . berbuat yang benar . dan proses penulisan esay argumentatif yang tidak hanya dapat meningkatkan kualitas esay yang dihasilkan, namun juga membentuk karakter generasi muda Indonesia yang Pendahuluan Keterampilan menulis esay argumentatif merupakan salah satu keterampilan penting yang dikuasai oleh mahasiswa. Lebih dari sekadar terampil menulis, penulisan genre ini memiliki keterkaitan dengan sejumlah kemampuan esensial lainnya seperti kemampuan untuk berpikir kritis dan mengembangkan argumen secara logis dan sistematis yang berperan dalam dunia dan karier akademis mahasiswa (Larson, 2019. Sato, 2. Hal inilah yang kemudian menyebabkan esay argumentatif menjadi salah satu bentuk tugas paling umum yang diberikan kepada mahasiswa (Mei, 2006. Schneer. Wingate, 2. Meski demikian, guru seringkali mengeluhkan kualitas esay argumentatif yang dihasilkan oleh mahasiswa. Kualitas argumen maupun struktur esay yang ditulis dinilai masih kurang memuaskan (Latifi. Noroozi, & Talaee, 2020. Noroozi. Biemans, & Mulder, 2. Hal tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa penyusunan esay argumentatif memiliki kompleksitas yang cukup tinggi, karena melibatkan kemampuan kognitif dan linguistik sekaligus (Ferretti. Andrews-Weckerly, & Lewis. Kombinasi kemampuan tersebut dapat mencakup kemampuan mengorganisasikan ide, memposisikan diri dalam argumen yang disusun, mengintegrasikan informasi, hingga berkaitan dengan kemampuan memilih diksi dan menggunakan ejaan. Kajian yang dilakukan oleh Peloghitis . mengidentifikasi setidaknya terdapat sembilan kesulitan umum yang ditemui mahasiswa pada saat menulis esay argumentatif. mengorganisasikan ide, . mengintegrasikan informasi dari sumber akademik yang diperoleh, . menemukan bukti untuk mendukung argumen, . menulis kalimat topik, . tata bahasa, . menulis klaim balik, . menempatkan pungtuasi . anda bac. , . memilih kosa kata, . menggunakan ragam bahasa akademik. Dalam urutan tingkat kesulitan tersebut, kesulitan utama yang dihadapi oleh mahasiswa berkaitan dengan menyusun ide yang disampaikan dalam esay. Meskipun dosen telah memberikan pedoman secara terperinci dan jelas mengenai struktur teks, responden menunjukkan sikap ambivalen berkaitan dengan apakah ide yang telah disusun cukup memuaskan atau tidak dan bagaimana kemudian ide Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | 38 tersebut sebaiknya diorganisasikan dalam esay. Terlebih dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi yang demikian pesat, informasi yang tersedia bagi mahasiswa sangat banyak. Bagaimana kemudian memilih informasi yang relevan dan mengintegrasikannya menjadi sebuah wacana yang kohesif dan koheren menjadi masalah lain yang dihadapi. Berdasarkan wawancara dan observasi yang dilakukan kepada sejumlah mahasiswa pada beberapa universitas di Bali, menunjukkan kecenderungan masalah serupa seperti yang diidentifikasi dalam kajian Peloghitis . Argumen yang disampaikan mahasiswa seringkali tidak memiliki kesesuaian dengan topik yang dipilih. Informasi yang disampaikan tidak terstruktur, bahkan cenderung melakukan pengulangan pada informasi yang sama di beberapa bagian esay. Selain itu, posisi argumen penulis tampak tidak jelas. Masalah lain yang teridentifikasi tampak pada masalah struktur esay. Struktur esay tampak tidak beraturan dan terdapat beberapa komponen tidak lengkap. Mengingat peran penting keterampilan menulis argumentatif , masalah teridentifikasi tersebut memerlukan perencanaan strategis untuk diselesaikan. Terkait dengan sejumlah kendala yang diidentifikasi di atas, pada dasarnya cukup banyak dikaji dalam penelitian dan sejumlah strategi telah dikembangkan. Salah satu strategi yang dipandang banyak mendatangkan keberhasilan untuk meningkatkan keterampilan menulis esay argumentatif mahasiswa melalui penerapan penilaian rekan sejawat . eer-assessmen. (Kerman. Noroozi. Banihashem. Karami, & Biemans, 2022. Latifi et al. , 2020. Latifi. Noroozi, & Talaee, 2021. Schneer, 2. Penilaian sejawat merupakan kegiatan siswa mengevaluasi kinerja teman sebaya secara kuantitatif dengan penilaian dan/atau secara kualitatif dengan komentar. Umpan balik kuantitatif dan kualitatif yang diberikan dan diterima oleh siswa merupakan inti dari proses penilaian sejawat, dan bertindak sebagai referensi yang ditawarkan untuk pertimbangan penulis untuk merevisi tulisannya yang mengarah pada konstruksi pengetahuan (Ng. Tay, & Cho, 2. Selain memberikan kontribusi positif terhadap esay yang dihasilkan, penilaian rekan sejawat dapat meningkatkan kemandirian, keterlibatan dan melatih kemampuan berpikir kritis mahasiswa (Ng et al. , 2015. Surahman. Wedi. Sulthoni. Soepriyanto, & Setyosari, 2. Meski demikian, penilaian rekan sejawat dinilai memiliki sejumlah kelemahan. Kelemahan tersebut berkaitan dengan keakuratan penilaian dan objektivitas penilaian (Fathi & Khodabakhsh, 2. Mahasiswa merasa ragu ketika menilai esay yang ditulis sendiri maupun esay yang ditulis oleh rekannya. Peserta didik juga memiliki prasangka bahwa nilai yang diberikan tidak atau kurang sesuai karena ada perasaan tidak suka dari teman yang menilai. Prasangka ini yang kemudian membentuk kisi-kisi yang dapat mengurangi efektivitas penilaian rekan sejawat. Berkaitan dengan hal tersebut penulis menawarkan solusi dengan menginternalisasikan etika ilmiah berlandasakan kearifan lokal Tri Kaya Prisudha . Tri Kaya Prisudha merupakan tiga dasar perilaku individu yang harus disucikan, yakni pikiran, perkataan, dan perbuatan (Somawati. Asri, & Ni, 2. Manusia yang beretika mengacu pada pola berpikir . , berbicara . , dan bertindak . Ketiganya bersifat bersih dan suci sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat (Atmadja, 2. Dengan mengedepankan nilai yang terdapat dalam kearifan lokal tersebut, penulis meningkatkan akuntabilitas proses penilaian rekan sejawat, sehingga penilaian yang dihasilkan berkualitas sekaligus mengasah karakter mahasiswa agar beretika dalam menyampaikan argumen. Pada tahap selanjutnya, berbeda dengan penelitian lain yang meletakkan penilaian rekan sejawat pada bagian akhir proses menulis, penilaian rekan sejawat yang diperkuat dengan konsep kearifan lokal tersebut dimulai sejak proses 39 | Kadek Devi Kalfika Anggria Wardani Hal ini dilakukan untuk mengatasi kendala utama mahasiswa dalam menulis teks argumentatif . engorganisasikan id. Dengan begitu mahasiswa dimungkinkan untuk mengevaluasi esay yang ditulis sejak tahap pengorganisasian ide, sehingga kualitas esay yang dihasilkan dapat Terkait dengan hal tersebut, tujuan kajian ini adalah mengembangkan sintaks pembelajaran menulis esay argumentatif dengan memaksimalkan potensi penilaian rekan sejawat yang diperkuat dengan nilai-nilai kearifan lokal Tri Kaya Prisudha . Metode Desain kajian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan metode Design Based Research (DBR) yang dikembangkan oleh (Reeves, 2006:. Mengacu pada siklus DBR, penelitian ini dibagi menjadi empat fase. Fase pertama, analisis masalah yang dilakukan oleh peneliti bersama kelompok ahli melalui Focus Group Discussion (FGD). FGD tersebut diselenggarakan untuk mengembangkan sintaks pembelajaran menulis esay argumentatif yang mensinergikan penilaian rekan sejawat dan nilai-nilai kearifan lokal Tri Kaya Prisudha. Pada tahap ini lima orang dosen bahasa pengampu Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) Bahasa Indonesia yang berafiliasi di tiga universitas di Bali sebagai partisipan. Kelima orang dosen tersebut dipilih atas dasar kepakarannya dalam desayn instruksional dan pemahamannya terhadap esay argumentatif. Kelima dosen tersebut kemudian diberi kode A1. A2. A3. A4, dan A5. Analysis of problems by Development of solutions informed by existing design principles and Testing and refinement of solutions in Reflection to produce Audesign principlesAy and Refinement of Problems. Solutions. Methods, and Design Principles Gambar 1 Model Design Based Research (DBR) (Reeves, 2006:. Fase kedua, merupakan tahap pengembangan solusi atas permasalahan yang telah teridentifikasi pada FGD dengan mengembangkan sintaks pembelajaran penulisan esay argumentatif dengan memanfaatkan penilaian rekan sejawat dan nilai-nilai kearifan lokal Tri Kaya Prisudha. Fase ketiga dilakukan simulasi dengan melibatkan 100 orang mahasiswa yang mengikuti MKWU Bahasa Indonesia. Siswa diberikan pembelajaran penulisan esay argumentatif menggunakan desayn instruksional yang telah dikembangkan. Setelah itu mereka diberikan kuesioner untuk mengetahui pendapat mereka berkaitan dengan pembelajaran yang telah dikembangkan. Umpan balik yang diterima dari siswa Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | 40 dipergunakan untuk menyempurnakan desayn isnstruksional yang telah dikembangkan pada fase refleksi . ase terakhi. Hasil dan Pembahasan Hasil . Analisis Masalah oleh Praktisi Pada FGD yang dilakukan, berdasarkan hasil diskusi bersama dengan partisipan A1. A2. A3. A4, dan A5 terdapat sejumlah masalah terkait dengan pembelajaran menulis esay argumentatif yang berhasil Permasalahan pertama terkait dengan kelemahan mahasiswa dalam mengorganisasikan Semua partisipan menyampaikan pendapat yang sama bahwa mahasiswa sering merasa ragu terhadap argumen yang ditulis. Apakah argumen yang ditulis telah sesuai atau tidak dengan topik yang dipilih dan bagaimana argumen tersebut sebaiknya disusun. Pernyataan A1 bahkan menunjukkan kesulitan ini telah terjadi sejak awal proses penulisan: AuMahasiswa membutuhkan waktu yang lama untuk proses menulis, terutama di tahap awal. Mereka bingung bagaimana cara menyampaikan argumen dalam esay dan apakah argumen yang telah disusun sudah sesuai dengan topik dan posisi yang dipilihAy. Permasalahan kedua berkaitan dengan kurang terampilnya mahasiswa untuk menyeleksi sumber informasi yang tepat untuk mendukung argumen mereka. Kebiasaan siswa untuk mencari informasi di internet, menyebabkan mereka terpapar informasi yang luar biasa banyak. Informasi yang berlebih tersebut pada akhirnya membuat siswa kesulitan untuk memilah dan memilih informasi mana yang benar-benar relevan dengan topik yang akan ditulis dan kemudian mengorganisasikannya. Partisipan A3 mengungkap bahwa: AuMahasiswa sekarang terbiasa apa-apa cari di internet. Akhirnya mereka bingung pakai yang mana. Karena tidak mau ambil pusing jadilah pakai yang urutan paling atas, padahal belum tentu isinya sesuaiAy. Permasalahan ketiga berkaitan dengan penggunaan aspek kebahasaan, seperti ejaan dan diksi. Sejumlah partisipan mengungkap bahwa dalam kesehariannya mahasiswa terbiasa untuk menggunakan ragam nonbaku, sehingga kebiasaan tersebut terbawa pada saat menulis teks esay argumentatif yang dalam penulisannya menuntut penggunaan ragam baku. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya muncul bentuk-bentuk kebahasanan nonbaku dalam esay argumentatif yang ditulis. Partisipan A4 menyampaikan bahwa: AuPUEBI dan KBBI telah disosialisasikan penggunannya sejak awal Meski demikian ya sulit juga karena sudah terbiasa. Kesalahannya berpola dan mirip satu sama lainAy. Hal ini menunjukkan bahwa sulit untuk membentuk kesadaran norma penggunaan bahasa, karena kebiasaan tersebut telah terbentuk sejak lama. Permasalahan keempat terkait dengan kurang terstrukturnya esay yang disusun. Semua partisipan mengungkap bahwa pedoman terkait dengan struktur teks esay argumentatif yang benar telah Meski demikian,mahasiswa tetap merasa kesulitan. Lebih jauh partisipan A2 menyampaikan bahwa AuMahasiswa cenderung melakukan pengulangan pada informasi yang sama di beberapa bagian esay. Jadi ini bagian yang mana kemduian diulang lagi. Strukturnya jadi tidak jelasAy Partisipan yang lain menilai gejala ini sebagai akibat dari permasalahan yang pertama, yakni menyangkut pengorganisasian ide. Sejumlah permasalahan di atas kemudian diperparah dengan jumlah siswa yang cukup banyak dalam satu kelas. Jumlah rata-rata mahasiswa yang ada di kelas berkisar antara 40-50 mahasiswa. Memberikan umpan balik yang berkualitas kepada mahasiswa menjadi sebuah hal yang sangat 41 | Kadek Devi Kalfika Anggria Wardani Seringkali koreksi hanya dilakukan di tataran permukaan seperti kesesuaian topik dan isi serta tata bahasa. Koreksi tidak sampai menyentuh aspek ideasional. Partisipan A5 menyampaikan bahwa AuSebenarnya ingin memberikan penjelasan yang detail kepada mahasiswa. Tapi ya begitu, keterbatasan wkatu membuat semuanya menjadi sulitAy . Hal yang tidak jauh berbeda juga diungkap oleh partsipan A1 AuKalau detail sekali sulit karena terbentur keadaan. Bagus sebenarnya jika mahasiswa juga ikut terlibat dalam memberikan umpan balikAy. Secara keseluruhan masalah yang berhasil diidentifikasi FGD ini menunjukkan bahwa proses penulisan esay argumentatif menuntut keterlibatan mahasiswa baik secara kognitif maupun keterampilan linguistik. Dengan kata lain mahasiswa perlu mengerahkan lebih banyak usaha dan membutuhkan kontrol serta pengaturan diri yang ketat dalam menulis. Hasil FGD ini menjadi bahan masukan untuk mengembangkan sintaks pembelajaran menulis esay argumentatif berlandaskan Tri Kaya Parisudha di fase selanjutnya. Pengembangan Sintaks Pembelajaran Berlandaskan Tri Kaya Parisudha Menulis Esay Argumentatif Berdasarkan temuan yang diperoleh pada fase pertama, fase kedua dilanjutkan untuk mengembangkan sintaks pembelajaran menulis esay argumentatif yang efektif. Mengacu pada permasalahan yang telah teridentifikasi, terdapat dua aspek yang akan dioptimalisasi. Pertama, penggunaan penilaian rekan sejawat dan yang kedua penguatan nilai Tri Kaya Prisudha sebagai etika dalam melakukan proses penilaian. Penilaian rekan sejawat digunakan untuk membantu siswa dalam hal: . mengorganisasikan dan merekonstruksi ide dalam esay, . menilai validitas sumber informasi yang digunakan sebagai bukti pendukung argumen, . mengecek ketepatan aspek kebahasan. Proses penilaian dimulai sejak tahap ideasional dalam menulis. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapatkan umpan balik lebih awal sehinga pengembangan dan organisasi argumen lebih terstruktur ketika masuk dalam tahap pengembangan. Secara lebih khusus penilaian rekan sejawat tersebut mencakup komponen. tujuan penulisan, . gagasan, . organisasi teks, . pilihan kata . , . tata bahasa. Tabel 1 Sepuluh Tuntunan pada Tri Kaya Prisudha (Atmadja, 2. No. Tiga unsur Tri Kaya Prisudha Komponen Etika yang Tercakup di dalam setiap unsur Tri Kaya Prisudha Manacika . erpikir yang suc. Tidak menginginkan sesuatu yang tidak baik, tidak wajar, dan tidak merupakan hak. Tidak berpikir buruk terhadap mahluk lain . Tidak mengingkari karma phala Wacika . erbicara yang suc. Tidak suka mencaci maki . Tidak berbicara kasar terhadap mahluk lain . Tidak memfitnah . Tidak ingkar janji Kayika . ertingkah laku yang . Tidak menyiksa mahluk lain . Tidak melakukan kecurangan Aspek kedua yang dikembangkan berkaitan dengan internalisasi nilai Tri Kaya Prisudha. Internalisasi nilai kearifan lokal ini pada asarnya digunakan untuk menyempurnakan proses penilaian rekan sejawat, mengingat kajian yang telah dilakukan menunjukkan proses penilaian ini memiliki Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | 42 kelemahan (Fathi & Khodabakhsh, 2. Nilai kearifan lokal dalam Tri Kaya Parisudha dikembangkan sebagai etika dalam melakukan proses penilaian. Etika yang dikembangkan mengacu pada sepuluh tuntutan Tri Kaya Prisudha (Tabel . yang kemudian dikontekstualisasi dengan sintaks proses penulisan esay argumentatif. Kedua aspek tersebut kemudian dielaborasikan dalam siklus menulis menggunakan strategi Hal ini didasarkan atas tinjauan salah satu hasil FGD yang memperlihatkan lemahnya strategi kognitif yang digunakan oleh mahasiswa dalam menulis. Strategi kognitif yang dimaksud tersebut mencakup tahapan: . generating idea, . revising, . elaborating, . editing, . Dengan menggabungkan semua aspek tersebut, tersusun sintaks pembelajaran sebagai berikut. Tabel 2. Sintaks Pembelajaran Menulis Esay Argumentatif Fase Prakondisi A Menciptakan kondisi interaktif yang mampu merangsang keingintahuan mahasiswa terhadap esay A Menyampaikan konsep esay argumentatif dan struktur . Aktivitas Dosen Akivitas Mahasiswa A Dosen memulai proses pembelajaran dengan mengajukan sebuah topik yang masih menjadi perdebatan kemudian meminta pendapat mahasiswa berkaitan dengan hal tersebut dan mengaitkannya dengan esay A Menyampaikan konsep penting berkaitan dengan esay argumentatif A Menyampaikan struktur teks A Mahasiswa mencermati informasi yang disampaikan A Mahasiswa berdiskusi dengan dosen A Mahasiswa memperhatikan penyampaian konsep esay A Mahasiswa memperhatikan penyampaian struktur teks esay argumentatif Generating idea Pemunculan topik dan argumen A Dosen meminta mahasiswa untuk mendukung gagasan membahas sebuah topik . yang masih menjadi perdebatan di masyarakat A Dosen meminta mahasiswa menentukan sikap atas permasalahan yang dibahas A Dosen meminta mahasiswa membuat draft awal yang isinya merupakan kerangka esay yang disusun A Dengan melibatkan berbagai sumber informasi, mahasiswa memilih salah satu topik A Mahasiswa memposisikan dirinya dalam menyikapi topik tersebut dan menyusun argumen yang mendukung posisinya tersebut A Mahasiswa menyusun draft awal berdasarkan topik dan argumen yang telah disusun. Revising A Dosen meminta mahasiswa berpasangan dengan rekan sejawatnya untuk menilai draft yang telah disusun. anacika, wacika, dan kayik. A Dosen menyampaikan protokol etika dalam Tahap revisi konsep awal dengan menggunakan etika protokol penilaian A Mahasiswa memilih rekan sejawat berdasarkan arahan dari dosen A Mahasiswa menyimak protokol etika dalam melakukan proses 43 | Kadek Devi Kalfika Anggria Wardani melakukan proses penilaian menggunakan konsep Tri Kaya Parisudha A Dosen menyampaikan pedoman penilaian dan menjelaskan cara penggunaanya kepada A Dosen meminta mahasiswa melakukan penilaian berdasarkan pedoman dan protokol etika yang telah penilaian menggunakan konsep Tri Kaya Parisudha A Mahasiswa menyimak penjelasan mengenai cara penggunaan pedoman A Mahasiswa melaukan penilaian menggunakan pedoman penilaian dan protokol etika yang disampaikan oleh dosen A Dosen mengarahkan mahasiswa untuk mendiskusikan bersama hasil penilaian yang telah . anacika, wacika, dan kayik. A Bersama rekan sejawat mahasiswa melakukan brainstorming untuk mengembangkan draft awal yang disusun menjadi sebuah esay yang utuh dengan memperhatikan struktur penulisan esay argumentatif yang baik A Mahasiswa mendiskusikan bersama hasil penilaian yang telah dilakukan A Mahasiswa melakukan brainstorming untuk mengembangkan draft awal yang disusun bersama rekan A Mahasiswa melakukan brainstorming bersama rekan sejawatnya untuk mengembangkan draft awal yang telah direvisi menjadi sebuah esay yang utuh. Elaborating Memilih dan mengintegrasikan detail yang mendukung, menjelaskan, mengilustrasikan, dan/atau mengembangkan ide. Editing Melakukan penyuntingan atas esay yang dihasilkan secara substansi, struktur, maupun . anacika, wacika, dan kayik. Publishing Mempublikasikan esay yang . anacika dan kayik. A Dosen meminta mahasiswa untuk melakukan proses penyuntingan baik secara substansi, struktur, maupun A Dosen kemudian meminta mahasiswa merevisi kembali esay yang ditulis berdasarkan hasil suntingan yang disampaikan oleh rekan sejawat A Mahasiswa melakukan proses penyuntingan terhadap esay yang dihasilkan oleh rekan sejawat baik secara substansi, struktur, maupun A Mahasiswa kembali merevisi esay yang ditulis berdasarkan hasil suntingan yang dilakukan oleh rekan A Dosen meminta mahasiswa untuk mempublikasikan esay yang telah dibuat di blog kelas atau media lain yang bisa diakses secara A Mahasiswa mempublikasikan esay yang telah ditulis di blog kelas atau media lain yang bisa diakses secara umum Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 Tahap Penilaian Sintaks Pembelajaran Menulis Berlandaskan Tri Kaya Parisudha | 44 Esay Argumentatif Penilaian terhadap sintaks pembelajaran yang telah dikembangkan dilakukan dengan mengujicobakan secara langsung kepada 100 orang mahasiswa yang mengikuti MKWU Bahasa Indonesia. Tahap penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah sintaks pembelajaran yang telah dikembangkan mampu mengatasi masalah yang telah teridentifikasi dan meningkatkan kualitas esay yang dihasilkan. Selain itu, pada tahap akhir akan diberikan open kuesioner untuk memperoleh rekomendasi dan respons mahasiswa terhadap sintaks pembelajaran yang telah dikembangkan. Pertama, 80% mahasiswa menyatakan bahwa proses pembelajaran yang dilalui mampu membimbing mereka menulis esay dengan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Mahasiswa merasa terbimbing pada setiap proses yang dilalui. Pelibatan rekan sejawat dapat menghindarkan mereka dari AukebuntuanAy ketika mencari ide atau informasi yang dibutuhkan untuk mendukung argumen. Hal tersebut ditunjukkan oleh salah satu komentar mahasiswa berikut AuAda temen diskusi yang bisa bantu kalau buntu atau butuh ideAy. Selain itu, kekeliruan yang dibuat juga bisa teridentifikasi lebih awal sehingga menghindarkan mereka dari kesalahan di tahap selanjutnya. Kedua, 85% mahasiswa setuju bahwa protokol etika berlandaskan Tri Kaya Parisudha mampu membuat mereka untuk lebih teliti dalam melakukan penilaian. AuBerbuat itu harus baik, jadi berhatihati sekali waktu cek. Jangan sampai nanti kita salah koreksi terus esay temen kita jadi salahAy. Sementara itu, mahasiswa lain berpandangan dengan adanya protokol etika berlandaskan Tri Kaya Parisudha, mahasiswa menjadi lebih mudah menerima penilaian yang disampaikan AuTeman kita koreksi pasti hati-hati, jadi kita juga harus terima demi kebaikan kita jugaAy. Selain itu, diskusi yang dilakukan dengan santun . juga memudahkan mahasiswa dalam menerima masukan yang diberikan oleh rekan sejawatnya. Ketiga, kualitas esay yang dihasilkan tergolong baik. Hal tersebut ditandai dengan . Sembilan puluh lima persen esay yang dihasilkan telah memenuhi kriteria struktur esay yang benar, . Delapan puluh persen esay yang dihasilkan telah memiliki kesesuaian antara topik dan argumen yang disusun, . Enam puluh persen mahasiswa masih melakukan kesalahan di bidang tata bahasa skala minor . urang dari . Sehingga dapat dikatakan bahwa sintaks pembelajaran yang dihasilkan mampu meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menulis. Beberapa masukan yang diberikan oleh peserta didik terhadap sintaks pembelajaran yang telah dikembangkan berkaitan dengan pelatihan untuk menilai aspek kebahasaan dari sisi ejaan dan tata Dalam melakukan proses penilaian rekan sejawat mereka seringkali harus melihat KBBI atau PUEBI untuk meyakinkan mereka bahwa penilaian yang dilakukan tidak keliru, sehingga waktu yang dibutuhkan cukup lama. Oleh karena itu, mahasiswa perlu diberikan pelatihan proses penilaian bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Refleksi Pengembangan Sintaks Pembelajaran Menulis Esay Argumentatif Berlandaskan Tri Kaya Parisudha Secara umum berdasarkan penilaian pada fase selanjutnya, terkait dengan sintaks pembelajran yang dikembangkan telah berjalan dengan baik. Sehingga pada fase terakhir, perbaikan didasarkan atas masukan yang diberikan oleh mahasiswa. Penyempurnaan dilakukan dengan memberikan pelatihan dan pengayaan penyuntingan, terutama dari aspek tata bahasa. Melalui pelatihan tersebut diharapkan 45 | Kadek Devi Kalfika Anggria Wardani mahasiswa semakin memahami aspek tata bahasa yang perlu diperhatikan dalam menulis esay Selain itu, pada tahap refleksi sintaks pembelajaran yang telah dikembangkan akan disusun kembali dalam bentuk pedoman yang lebih lengkap untuk kemudian bisa diimpelemntasikan oleh dosen yang lain. Buku pedoman tersebut mencakup sintaks pembelajaran, pedoman penilaian, materi, serta media berkaitan dengan penulisan esay argumentatif. Pembahasan Berdasarkan temuan pada bagian hasil, studi ini memberikan bukti bahwa keterampilan siswa dalam menulis esay argumentative dapat ditingkatkan melalui pengembangan sintaks pembelajaran dengan memanfaatkan penilaian rekan sejawat dan nilai-nilai kearifan lokal Tri Kaya Parisudha. Pada dasarnya, permasalahan yang diidentifikasi pada saat FGD merupakan kendala yang umum dihadapi oleh siswa dalam menulis esay argumentatif seperti kesulitan mengorganisasikan ide, menyeleksi informasi, mengembangkan argumen, esay yang kurang terstruktur, hingga permasalahan tata bahasa (Peloghitis, 2. Meski demikian karena jumlah mahasiswa yang cukup banyak, dosen mengalami kesulitan melakukan bimbingan dan memberikan umpan balik yang berkualitas terhadap esay yang ditulis oleh mahasiswa. Dengan demikian optimalisasi pemanfaatan penilaian rekan sejawat menjadi salah satu solusi yang tepat. Selain itu, diketahui bahwa sejumlah elemen turut berperan dalam menunjang keberhasilan sintaks pembelajaran yang dikembangkan. Pertama, penilaian yang dilakukan oleh rekan sejawat digunakan oleh siswa sebagai bahan bimbingan untuk melakukan revisi terhadap konsep, ide, informasi, struktur, serta atata bahasa yang digunakan. Fakta ini sejalan dengan temuan kajian yang dilakukan Da Costa & Carvalho . dan Merl . yang mengungkap bahwa penilaian rekan sejawat merupakan sarana yang efektif untuk membimbing siswa melakukan evaluasi atas pekerjaannya. Selain itu, penggunaan rekan sejawat juga membuktikan bahwa proses penilaian dengan cara ini dapat meningkatkan keterlibatan, kemandirian, tingkat ketegasan dan melatih kemampuan higher order thinking skills mahasiswa (Ellis, 2001. Kumar. Sharma. Nusair, & Khan, 2020. Surahman et al. , 2. Kedua, pemanfaatan hasil penilaian rekan sejawat sebagai bahan untuk melakukan brainstorming. Hal ini sejalan dengan temuan Correa, et. yang mengungkap bahwa brainstorming merupakan salah satu strategi menulis yang cenderung disukai oleh siswa pada saat menulis. Hal tersebut berkaitan dengan kesempatan mereka untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat mereka sehingga ide yang dimiliki bisa dievaluasi dan dikembangkan. Ketiga, berkaitan dengan pemberian panduan dan bimbingan kepada siswa untuk menggunakan pedoman penilaian yang telah disiapkan. Hal ini sejalan dengan temuan Zundert, et. al ( 2012a. yang mengungkap bahwa panduan dan bimbingan dapat meningkatkan kualitas umpan balik yang Sehingga penilaian yang dilakukan lebih akurat. Keempat, landasan Tri Kaya Parisudha sebagai protokol etik dalam melakukan penilaian secara keseluruhan mampu meningkatkan kualitas tiga elemen yang disebutkan sebelumnya. Hal tersebut tidak terlepas dari esensi Tri Kaya Parisudha sebagai tiga perilaku manusia berupa pikiran, perkataan, dan perbuatan yang harus disucikan. Sehingga mahasiswa menjadi lebih berhati-hati, teliti, dan cermat baik dapalam berpikir, berkata, maupun bertindak. Semuanya harus didasarkan pada pemikiran yang bersih dan dimunculkan untuk kebaikan. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | 46 Dengan kata lain, poin tambahan yang didapat selain meningkatnya keterampilan siswa dalam menulis esay argumentatif yakni pengembangan karakter dan budaya intelektual mahasiswa. Simpulan Penelitian pengembangan ini berhasil mengembangkan sintaks pembelajaran melalui pemanfaatan penilaian rekan sejawat berlandaskan Tri Kaya Parisudha yang dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menulis esay argumentatif. Hasil penelitian tersebut berimplikasi praktis pada praktik mengajar menulis untuk mempertimbangkan penggunaan penilaian rekan sejawat dan ineternalisasi nilai-nilai yang bersumber dari kearifan lokal. Kajian ini masih dilakukan pada tataran pengembangan, diperlukan penelitian yang luas untuk mengkaji lebih dalam efektivitas penggunaan rubrik tersebut dengan melibatkan jumlah sampel yang lebih besar. Terutama dalam kaitannya terhadap kualitas esay argumentatif yang dihasilkan. Daftar Rujukan Book Atmadja. Nengah Bawa. Wacana Postgenerik terhadap Tri Hita Karana pada Masyarakat Bali. Depok: PT RajaGrafindo Persada. Peloghitis. Difficulties and strategies in argumentative writing: A qualitative analysis. In P. Clements. Krause, & H. Brown (Eds. Transformation in language education. Tokyo: JALT. Journal Article Benitez-Correa. Vargas-Saritama. Gonzalez-Torres. Quinonez-Beltran. , & Ochoa-Cueva, . StudentsAo Preferences and Learning Styles in Relation to Reading and Writing Strategies at Distance Higher Education. International Journal of Learning. Teaching and Educational Research, 21. , 316Ae336. https://doi. org/10. 26803/ijlter. Da Costa. , & Carvalho. Applying Peer Instruction to Computer Science Students Using Non-native Language: A Study with Undergraduate Students. 2021 Ie International Conference on Engineering. Technology and Education. TALE 2021, 854Ae858. https://doi. org/10. 1109/TALE52509. Ellis. Looking at OurselvesAiSelf-Assessment and Peer Assessment: Practice examples from New Zealand. Reflective Practice, 2. , 289Ae302. https://doi. org/10. 1080/1462394012010303 Fathi. , & Khodabakhsh. Self-Assessment and Peer-Assessment in Writing Course of Iranian EFL Students: An Investigation of Writing Anxiety. 88Ae96. Ferretti. Andrews-Weckerly. , & Lewis. Improving the Argumentative Writing of Students with Learning Disabilities: Descriptive and Normative Considerations. Reading & Writing Quarterly, 23. , 267Ae285. https://doi. org/10. 1080/10573560701277740 Kerman. Noroozi. Banihashem. Karami. , & Biemans. Online peer feedback patterns of success and failure in argumentative essay writing. Interactive Learning Environments, 30. , 1Ae13. https://doi. org/10. 1080/10494820. Kumar. Sharma. Nusair. , & Khan. Anonymous online peer assessment in an undergraduate course: An analysis of StudentsAo perceptions and attitudes in the South Pacific. 1Ae https://doi. org/10. 1109/tale48000. Larson. Using Essay Responses as a Basis for Teaching Critical ThinkingAea Variation Theory Approach. Scandinavian Journal Educational Research, 00. , 1Ae15. https://doi. org/10. 1080/00313831. Latifi. Noroozi. , & Talaee. Worked example or scripting? Fostering studentsAo online argumentative peer feedback, essay writing and learning. Interactive Learning Environments, 0. , 47 | Kadek Devi Kalfika Anggria Wardani 1Ae15. https://doi. org/10. 1080/10494820. Latifi. Noroozi. , & Talaee. argumentative peer learning processes and outcomes. British Journal of Educational Technology, 52. , 768Ae784. https://doi. org/10. 1111/bjet. Mei. Creating a contrastive rhetorical stance: Investigating the strategy of problematization in studentsAo argumentation. Regional Language Centre Journal, 37. , 329Ae251. Merl. Communicative style: Act like a pro: How authenticity management can support students in communicating effectively in a second language (A. , & G. Eds. International Conference on Interactive Collaborative Learning. ICL 2017. Vol. 716, pp. 587Ae https://doi. org/10. 1007/978-3-319-73204-6_64 Ng. Tay. , & Cho. Usefulness of Peer Comments for English Language Writing Through Web-Based Peer Assessment BT - Emerging Issues in Smart Learning (G. Chen. Kumar. Kinshuk. Huang, & S. Kong. Eds. Berlin. Heidelberg: Springer Berlin Heidelberg. Noroozi. Biemans. , & Mulder. Relations between scripted online peer feedback processes and quality of written argumentative essay. Internet and Higher Education, 31, 20Ae31. https://doi. org/10. 1016/j. Peloghitis. Difficulties and strategies in argumentative writing: A qualitative analysis review of the literature. Transformation in Language and Education, 399Ae406. Nagoya: Japan Association for Languange Teaching. Reeves. Design research from a Technology Perspective. In J. Van Den Akker. Gravemeijer. McKenney, & N. Nieveen (Eds. Educational Design Research (First, pp. 52Ae https://doi. org/10. 4324/9780203088364 Sato. Assessing critical thinking through L2 argumentative essays: an investigation of relevant and salient criteria from ratersAo perspectives. Language Testing in Asia, 12. , 9. https://doi. org/10. 1186/s40468-022-00159-4 Schneer. Rethinking the Argumentative Essay. TESOL Journal, 5. , 619Ae653. https://doi. org/10. 1002/tesj. Somawati. Asri. , & Ni. Implementasi Ajaran Tri Kaya Parisudha Dalam Membangun Karakter. Pasupati, 6. , 1Ae22. https://doi. org/Di Era Digital. Juhttps://doi. org/10. 37428/pspt. Surahman. Wedi. Sulthoni. Soepriyanto. , & Setyosari. Design of Peer Collaborative Authentic Assessment Model Based on Group Project Based Learning to Train Higher Order Thinking Skills of Students. 285(Ice. , 28Ae31. https://doi. org/10. 2991/icet-18. van Zundert. Kynings. Sluijsmans. , & van Merriynboer. Teaching domain-specific skills before peer assessment skills is superior to teaching them simultaneously. Educational Studies, 38. , 541Ae557. https://doi. org/10. 1080/03055698. van Zundert. Marjo J. Sluijsmans. Kynings. , & van Merriynboer. The differential effects of task complexity on domain-specific and peer assessment skills. Educational Psychology, 32. , 127Ae145. https://doi. org/10. 1080/01443410. Wingate. AuArgument!Ay helping students understand what essay writing is about. Journal of English for Academic Purposes, 11. , 145Ae154. https://doi. org/10. 1016/j.