PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. September 2025, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. ANALISIS FAKTOR KESULITAN SISWA KELAS i DALAM PENGEMBANGAN IDE KARANGAN DI SD NEGERI PODOREJO 01 SEMARANG Dian Angelina Nainggolan. Dicky Agil Pamungkas. Arum Retno Sari. Seli Novita Fitriyani. Sekar Nabilah Salsabila. Moh Farizqo Irvan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Informasi Artikel ABSTRAK Riwayat Artikel: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab siswa kelas 3 di SDN Podorejo 01 mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide karangan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi melalui subjek penelitian meliputi bapak kepala sekolah, bapak guru kelas 3, dan 24 siswa. Hasil penemuan menunjukkan bahwa kesulitan siswa dalam mengembangkan ide karangan dipengaruhi oleh faktor internal dan Faktor internal mencakup rendahnya kemampuan membaca, kesulitan menjaga fokus saat menulis, dan rendahnya minat baca tulis Sementara itu faktor eksternal meliputi keterbatasan metode dan media pembelajaran, lingkungan kelas yang kurang mendukung, serta belum adanya program sekolah yang terstruktur dalam meningkatkan literasi menulis. Analisis juga menemukan bahwa keterbatasan dalam penguasaan kosakata, tata bahasa, dan struktur kalimat turut menjadi Hasil penelitian ini menunjukkan signifikansi terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam mendorong penerapan metode pembelajaran yang inovatif, penyusunan program literasi yang lebih sistematis, serta peningkatan peran orang tua dalam mendampingi anak di rumah. Pemahaman terhadap faktor-faktor ini memberikan kontribusi penting dalam merancang pendekatan pembelajaran yang lebih efektif guna menunjang pengembangan keterampilan menulis Diterima: 27-05-2025 Direvisi: 13-06-2025 Dipublikasikan: 30-09-2025 Kata-kata kunci: Faktor. Kesulitan. Pengembangan Ide. Siswa Sekolah Dasar This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Dian Angelina Nainggolan. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi. Universitas Negeri Semarang. Sekaran. Gunung Pati. Semarang City. Central Java 50229. Indonesia Email: nainggolandian7@students. PENDAHULUAN Tantangan dalam dunia pendidikan dasar bukan hanya sekedar penguasaan materi ajar, tetapi juga mencakup pengembangan keterampilan esensial seperti menulis. Menulis adalah kemampuan krusial untuk menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan, sebuah keterampilan yang memungkinkan siswa untuk berbagi cerita dan gagasan dengan orang lain (Rahmayanti et al. , 2. Namun, realitas di lapangan seringkali menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, di mana banyak siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide karangan, khususnya di tingkat sekolah dasar. Fenomena ini menjadi perhatian Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 khusus di kelas 3 SDN Podorejo 01, di mana kemampuan siswa dalam menulis karangan masih belum optimal. Kesulitan ini tidak hanya menghambat kemampuan mereka untuk mengekspresikan diri secara tertulis, tetapi juga berpotensi mempengaruhi pemahaman mereka terhadap materi pelajaran lain. Untuk memahami akar permasalahan ini, perlu dilakukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor penyebab kesulitan siswa dalam mengembangkan ide karangan. Bahasa sebagai alat komunikasi yang tidak dapat dipisahkan di kehidupan manusia karena mempunyai peran penting untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain (Mailani et al. , 2. Oleh karena itu, penguasaan bahasa yang baik menjadi fondasi penting bagi kemampuan menulis yang efektif. Sebaliknya, siswa yang kurang memahami kosakata, tata bahasa, dan struktur kalimat akan kesulitan merangkai ide menjadi karangan yang koheren. Kesulitan menulis yang dialami siswa tidak hanya disebabkan oleh rendahnya penguasaan bahasa. Beberapa aspek lain turut memengaruhi, seperti gangguan pada keterampilan motorik, perilaku, ingatan, persepsi, serta dominasi tangan. Selain itu, kemampuan dalam memahami instruksi dan melakukan koordinasi lintas-indera . ross-moda. juga berperan penting. Faktor-faktor tersebut dapat menghambat proses berpikir, menyusun ide secara tertulis, dan melakukan revisi terhadap tulisan mereka (Hulwah & Ahmad, 2. Kurangnya latihan menulis secara rutin menjadi salah satu faktor utama rendahnya kemampuan menulis Menulis bukanlah keterampilan yang cukup dipahami secara teori, melainkan membutuhkan proses latihan yang berkelanjutan, terarah, dan disiplin agar keterampilan tersebut berkembang secara optimal (Akhila & Inderasari, 2. Ketika siswa jarang berlatih, mereka akan mengalami kesulitan dalam menghasilkan ide, menyusun kalimat yang efektif, dan mengorganisasi tulisan dengan baik. Selain itu, minimnya aktivitas membaca juga turut memengaruhi kualitas tulisan siswa. Siswa yang rajin membaca umumnya memiliki wawasan yang lebih luas, penguasaan kosakata yang lebih kaya, serta pemahaman yang lebih baik terhadap struktur kalimat (Zulni et al. , 2. Membaca secara konsisten dapat menjadi sumber inspirasi dalam menulis, karena melalui membaca, siswa belajar berbagai gaya bahasa dan teknik penulisan. Oleh karena itu, latihan menulis yang konsisten dan minat baca yang tinggi perlu ditumbuhkan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Di sisi lain, inovasi dalam metode pembelajaran juga dapat memberikan dampak positif terhadap kemampuan menulis siswa. Salah satu cara agar minat belajar siswa meningkat ialah dengan memakai media ajar (Nazir & Tarmini, 2. Media ajar seperti video animasi dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi secara efektif dan inovatif (Ilmi & Tajuddin, 2. Penggunaan media yang menarik dan interaktif dapat memotivasi siswa untuk menulis dan membantu mereka mengembangkan ide-ide kreatif. Masih terdapat kesenjangan dalam hal eksplorasi mendalam terhadap konteks lokal di sekolah dasar tertentu, terutama dalam mengidentifikasi faktor spesifik yang menyebabkan kesulitan siswa dalam mengembangkan keterampilan menulis. Penelitian-penelitian yang ada cenderung membahas permasalahan membaca secara umum dan belum banyak yang memfokuskan diri pada analisis kontekstual dan praktik pembelajaran aktual di lapangan, seperti yang terjadi di kelas 3 SDN Podorejo 01. Hal ini sejalan dengan temuan (Ayuniar. Afandi, & Setiawan, 2. yang menyatakan bahwa upaya guru dalam mengajarkan keterampilan membaca pada masa pandemi melibatkan berbagai metode dan strategi yang disesuaikan dengan karakteristik siswa, seperti pemberian motivasi, pembiasaan literasi, hingga bimbingan khusus bagi siswa yang memiliki kemampuan rendah. Demikian pula, (Muryanti & Syahruniwati, 2. menekankan bahwa penggunaan media pembelajaran berupa video terbukti dapat membantu siswa dalam memahami dan menggali informasi penting dari teks narasi sejarah, meskipun pembelajaran dilakukan secara daring. Namun, fokus penelitian tersebut lebih banyak diarahkan pada kemampuan menyimak dan membaca informasi, bukan pada kemampuan mengekspresikan gagasan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian yang lebih spesifik dan mendalam untuk memahami kondisi faktual di sekolah tersebut, termasuk kebiasaan belajar siswa, pendekatan guru, serta ketersediaan dan penggunaan media pembelajaran dalam mendukung keterampilan Dengan memahami akar permasalahan ini secara komprehensif, guru dan pihak sekolah dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa dan membantu mereka mencapai potensi terbaiknya. Dengan demikian, analisis terhadap faktor-faktor penyebab kesulitan siswa dalam mengembangkan ide karangan di kelas 3 SDN Podorejo 01 perlu dilakukan secara komprehensif, dengan mempertimbangkan aspek penguasaan bahasa, faktor-faktor internal siswa, kurangnya latihan menulis, minat baca, dan inovasi dalam metode pembelajaran. Dengan memahami akar permasalahan ini, guru dan pihak sekolah dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa dan membantu mereka mencapai potensi penuh mereka. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis faktor-faktor penyebab siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide karangan di SD Nainggolan, dkk. Analisis Faktor Kesulitan . ye p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Negeri Podorejo 01. Dalam penelitian kualitatif, proses menjadi hal yang amat harus diperhatikan, dimana peneliti sebagai pengumpul instrumen harus mampu menempatkan dirinya pada posisi subjektif mungkin sehingga data yang dikumpulkan menjadi data yang mampu untuk dipertanggungjawabkan (Safarudin. Zulfamanna. Kustati, & Sepriyanti, 2. Subjek Penelitian Sumber data dalam penelitian ini mencakup kepala sekolah, guru kelas 3, dan siswa kelas 3. Pemilihan ketiga subjek ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh dan mendalam dari sisi kebijakan, pelaksanaan, dan pengalaman langsung terkait kesulitan siswa dalam mengembangkan ide karangan. Kepala sekolah berperan memberikan wawasan mengenai kebijakan dan arah kebijakan pendidikan di sekolah, sedangkan guru kelas 3 menyumbangkan informasi terkait strategi pembelajaran, pendekatan yang digunakan dalam mengajar, serta berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Di sisi lain, siswa kelas 3 dijadikan sebagai subjek utama penelitian untuk mengamati secara langsung pengalaman belajar mereka, khususnya dalam hal kesulitan yang mereka hadapi saat mengembangkan ide dalam kegiatan menulis Dengan melibatkan ketiga pihak ini, diharapkan penelitian dapat menangkap dinamika yang terjadi secara lebih utuh, baik dari sisi kebijakan, pelaksanaan, maupun pengalaman langsung siswa. Gambar 1. Proses Pemilihan Subjek Instrumen dan Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan kepala sekolah serta guru-guru yang terlibat, dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang komprehensif mengenai kebijakan pendidikan yang diterapkan di sekolah, strategi atau metode pengajaran yang digunakan di kelas, serta berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran sehari-hari. Selain itu, observasi dilakukan melalui pemberian tes serta pemantauan langsung terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung di kelas 3 SD Negeri Podorejo 01. Dengan observasi ini, peneliti dapat melihat secara nyata dinamika interaksi antara guru dan siswa, serta bagaimana materi pelajaran disampaikan dan dipahami oleh siswa. Teknik dokumentasi juga dimanfaatkan untuk melengkapi data yang diperoleh, seperti mengumpulkan dokumen-dokumen terkait kebijakan sekolah, rencana pembelajaran, dan hasil evaluasi siswa. PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. September 2025: 252 - 261 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Gambar 2. Prosedur Penelitian Analisis Data Teknik analisis data melalui 4 tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi kemudian dipilih untuk menyaring informasi yang relevan dan fokus pada faktor-faktor penyebab kesulitan siswa dalam mengembangkan ide menulis karangan. Untuk memastikan bahwa data yang diperoleh benarbenar relevan dengan tujuan dan maksud penelitian, peneliti menerapkan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan metode yang digunakan untuk mengatasi keraguan terhadap hasil penelitian, meskipun masih banyak yang belum sepenuhnya memahami arti dan tujuan dari triangulasi dalam konteks riset. Kurangnya pemahaman ini menjadi penyebab utama. Secara esensial, triangulasi adalah pendekatan multi-metode yang diterapkan peneliti saat mengumpulkan dan menganalisis data. Gagasan utamanya adalah bahwa suatu fenomena dapat dimaknai dan dipahami secara lebih mendalam serta menghasilkan tingkat kebenaran yang lebih tinggi jika dilihat dari berbagai perspektif. Mengamati fenomena dari berbagai sudut pandang memungkinkan diperolehnya hasil yang lebih dapat dipercaya. Oleh karena itu, triangulasi berfungsi sebagai upaya untuk memverifikasi keabsahan data atau informasi dengan melihatnya dari berbagai sudut pandang, serta meminimalkan ketidakjelasan dan makna ganda yang mungkin muncul selama proses pengumpulan dan analisis data (Andarusni Alfansyur, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan di kelas 3 SDN Podorejo 1, salah satunya dengan kepala sekolah. Bapak Sumarso, sebagai narasumber utama. Dari hasil wawancara tersebut, diperoleh berbagai informasi penting yang berkaitan dengan faktor-faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menulis (Utari & Rambe, 2. Selain kepala sekolah, data yang dikumpulkan dari guru kelas dan siswa untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh. Seluruh data yang terkumpul kemudian dianalisis secara kualitatif untuk mengungkap pola-pola yang muncul selama proses pembelajaran menulis berlangsung. Pembahasan dalam bagian ini disusun dengan mengaitkan hasil temuan di lapangan dengan teori-teori yang relevan serta temuan dari penelitian sebelumnya, sehingga dapat memberikan pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan yang dikaji. Nainggolan, dkk. Analisis Faktor Kesulitan . ye p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Tabel 1. Narasumber Pengumpulan Data Nama Informan Tanggal Wawancara Tempat Wawancara Bapak Kepala Sekolah 6 Maret 2025 Ruang Kepala SDN Podorejo 01 Bapak Guru Kelas 3 6 Maret 2025 Ruang Kepala SDN Podorejo 01 Siswa Kelas 3 10 Maret 2025 Ruang Kelas 3 SDN Podorejo 01 Hasil Wawancara Kepala Sekolah Peneliti : Apakah keterbatasan menulis siswa menjadi salah satu permasalahan utama dalam pembelajaran di SDN Podorejo 01? Subjek : Ya, terutama di kelas 1, kami sudah melihat adanya keterbatasan dalam menulis. Saat ini, ada 9 anak yang mengikuti kelas tambahan untuk belajar membaca dan menulis. Kami berusaha memberikan dukungan agar mereka dapat mengatasi kesulitan ini. Peneliti : Faktor apa saja yang menurut Bapak paling mempengaruhi keterampilan menulis siswa? Subjek : Faktor yang paling mempengaruhi keterampilan menulis siswa adalah rajin ke perpustakaan dan sering melakukan kegiatan literasi. Kedua hal ini sangat membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan menulis, namun kegiatan tersebut belum terlaksana dengan maksimal dan konsisten. Peneliti : Bagaimana peran lingkungan sekolah dalam mendukung peningkatan keterampilan menulis siswa? Subjek : Sekolah menyediakan perpustakaan dan anak-anak dihimbau untuk ke perpustakaan saat istirahat, dan di beberapa kelas ada pojok baca. Cara ini sangat membantu mereka untuk lebih tertarik membaca dan Peneliti : Apakah ada program khusus yang diterapkan sekolah untuk meningkatkan keterampilan menulis Subjek : Belum ada program khusus serta program evaluasi untuk hal tersebut. Peneliti : Bagaimana peran teknologi atau media digital dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan menulis mereka? Subjek : Teknologi berperan penting. Namun, kami memiliki keterbatasan fasilitas . Dimana hanya ada satu LCD di sekolah. Ini membatasi penggunaan media digital dalam pembelajaran menulis. Hasil Wawancara Guru Peneliti : Apakah ada pola umum dalam kesulitan menulis siswa, seperti kesulitan merangkai kata, kurangnya ide, atau kesalahan dalam tata bahasa? Subjek : Ada, biasanya kesulitan terletak pada ejaan dan keterampilan, serta penggunaan huruf yang benar. Solusinya, setiap paragraf kami kasih kata kunci untuk memandu mereka. Peneliti : Apakah faktor eksternal seperti lingkungan, kebiasaan membaca, atau penggunaan teknologi mempengaruhi keterampilan menulis siswa? Subjek : Lingkungan rumah siswa belum mendukung untuk meningkatkan kemampuan baca tulis, kebanyakan siswa juga tidak ada les tambahan. Pemberian video sangat membantu. Keahlian membaca dan menulis siswa juga bervariasi. Peneliti : Seberapa pengaruh kebiasaan membaca terhadap kemampuan siswa dalam menulis? Subjek : Sangat berpengaruh. Banyak siswa yang belum terbiasa membaca secara rutin, sehingga berdampak pada kesulitan menulis teks. Peneliti : Apakah metode bercerita atau brainstorming pernah digunakan sebelum siswa mulai menulis? Subjek : Pernah. Saya menggunakan metode storytelling, ilustrasi cerita maupun metode berbasis teknologi untuk menarik perhatian mereka. Peneliti : Apakah penggunaan media pembelajaran tertentu . ambar, video, cerita pende. membantu siswa dalam menulis karangan? Subjek : Sangat membantu sekali. Media-media tersebut membuat siswa lebih termotivasi untuk menulis. Namun, masih mengalami keterbatasan untuk media digital. Hasil Wawancara Siswa Kelas 3 SD Peneliti : Apakah kamu merasa kesulitan dalam menentukan ide saat menulis karangan? Jika iya, mengapa? PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. September 2025: 252 - 261 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Subjek : Iya, kadang-kadang aku kesulitan mencari ide. Terus biasanya bingung mau menulis tentang apa, terutama jika tidak ada tema yang jelas. Peneliti : Apakah kamu sering kehabisan kosakata saat menulis? Subjek : Ya, sering. Kadang saya ingin menulis sesuatu, tapi aku tidak tahu kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan ide. Peneliti : Bagaimana cara guru mengajar dapat mendukung kamu dalam mengembangkan ide karangan? Subjek : Guru sering memberikan contoh cerita dan mengajak kita berdiskusi. Itu membantu saya mendapatkan ide. Kadang guru juga memberi kata kunci yang bisa saya gunakan. Peneliti : Menurutmu, apa yang bisa membuat kamu lebih mudah menulis karangan? Subjek : Jika ada lebih banyak buku cerita dan waktu untuk membaca, saya rasa itu bisa membantu. Juga, jika guru lebih sering memberi latihan menulis, saya bisa lebih terbiasa. Peneliti : Apakah sekolah mendukung dalam meningkatkan keterampilan menulis karangan? Subjek : Ya, sekolah ada perpustakaan namun belum ada kegiatan sekolah yang mendukung. Namun, saya harap ada lebih banyak kegiatan yang bisa membuat kami lebih sering menulis. Gambar 3. Hasil Test Tertinggi Siswa Nainggolan, dkk. Analisis Faktor Kesulitan . ye p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Gambar 4. Hasil Test Terendah Siswa Pembahasan Hasil wawancara dan observasi yang diperoleh memberikan informasi menarik terkait faktor penyebab siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide karangan. Kemampuan menulis karangan siswa kelas 3 SDN Podorejo 1 masih mengalami berbagai kendala yang dapat ditinjau dari faktor internal maupun Interaksi antara faktor internal . emampuan dasar, motivas. dan eksternal . ingkungan, metode, teknolog. sangat esensial dalam mempengaruhi keterampilan menulis siswa secara menyeluruh dan berkelanjutan (Marlina et al. , 2. Faktor Internal yang Menyebabkan Siswa Kesulitan Mengembangkan Ide Karangan Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan di kelas 3 SDN Podorejo 1, ditemukan beberapa kondisi dan kebiasaan siswa yang berhubungan dengan kemampuan mengembangankan ide dalam menulis karangan. Adapun hasil temuan yang dapat dianalisis berdasarkan tiga faktor utama, yaitu kemampuan membaca yang masih rendah, kesulitan siswa dalam menjaga fokus, dan rendahnya minat baca tulis. Kemampuan Membaca yang Masih Rendah Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru kelas 3 SDN Podorejo 1, serta hasil observasi langsung di kelas, ditemukan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam keterampilan Meskipun antusiasme siswa dalam kegiatan menulis cukup tinggi, masih terdapat hambatan dalam merangkai kalimat secara utuh. Hal ini disebabkan oleh pemahaman terhadap isi bacaan yang belum optimal. Dalam proses pembelajaran menulis permulaan, langkah awal yang sangat penting adalah mengenalkan huruf kepada siswa. Pengenalan huruf ini menjadi fondasi utama yang harus dikuasai sebelum siswa diarahkan ke tahap berikutnya, yaitu latihan menulis secara terstruktur dan berkelanjutan. Tanpa penguasaan huruf yang baik, siswa akan mengalami kesulitan dalam membentuk kata dan kalimat saat menulis (Hadyanti, 2. Kebiasaan membaca yang rutin dan intensif dapat memperkaya kosakata, memperbaiki pemahaman terhadap struktur bahasa, serta memperluas wawasan yang sangat berguna dalam proses menulis (Ririn Sabriadi, 2. Pihak sekolah sebenarnya telah mengupayakan kegiatan literasi seperti membaca mandiri dan membaca bersama, namun pelaksanaannya belum konsisten dan sistematis. Meskipun siswa diarahkan untuk mengunjungi perpustakaan saat jam istirahat, kenyataannya masih banyak yang kesulitan memahami teks secara menyeluruh. Akibatnya, ketika diminta untuk menulis, ide-ide yang dimiliki siswa terbatas karena tidak mampu menangkap informasi dari bacaan sebagai sumber inspirasi. Kesulitan ini terlihat jelas saat siswa PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. September 2025: 252 - 261 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 diminta membuat karangan, di mana beberapa hanya mampu menuliskan satu hingga dua kalimat yang Hal tersebut mengindikasikan bahwa rendahnya kemampuan membaca masih menjadi penghambat utama dalam proses pengembangan gagasan saat menulis. Kesulitan Siswa Dalam Menjaga Fokus Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru kelas 3 SDN Podorejo 1 dan observasi langsung di dalam kelas, terlihat bahwa beberapa siswa mengalami kesulitan untuk tetap fokus saat kegiatan menulis Permasalahan ini sejalan dengan penelitian yang berjudul AuMengungkap Faktor-faktor Penghambat Kemampuan Menulis Siswa Kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah Birul Walidain WidodarenAy yang mengungkapkan bahwa kurangnya fokus dan latihan menulis di rumah menjadi penghambat utama dalam pengembangan keterampilan menulis siswa kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (Riska Kusna et al. , 2. Penelitian ini menekankan pentingnya menyediakan waktu dan kesempatan bagi siswa untuk berlatih menulis setiap hari guna meningkatkan kemampuan mereka. Meski pada awalnya mereka tampak antusias, konsentrasi mereka cenderung mudah teralihkan oleh hal hal di sekitar. Ada yang mulai menulis namun kemudian berhenti karena merasa bingung melanjutkan, dan ada pula yang justru asyik berbicara dengan teman yang disebelahnya. Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang paling menantang dibandingkan dengan keterampilan lainnya seperti menyimak, berbicara, dan membaca, karena menulis memerlukan pemikiran kreatif untuk menghasilkan ide-ide yang tepat (Rahayu et al. , 2. Guru di kelas 3 ini juga menyampaikan bahwa anakanak perlu lebih banyak didampingi agar bisa menyelesaikan tulisan mereka sampai tuntas. Kondisi ini menunjukkan bahwa, meskipun sudah ada upaya untuk membiasakan siswa membaca di perpustakaan, siswa masih memerlukan bimbingan dan strategi khusus agar mereka bisa lebih fokus serta mampu menuangkan ide secara berkelanjutan. Rendahnya Minat Baca Tulis Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru kelas 3 di SDN Podorejo 1 serta hasil observasi langsung di kelas, ditemukan bahwa minat siswa terhadap kegiatan membaca dan menulis masih tergolong rendah. Pihak sekolah menyatakan belum memiliki program yang efektif untuk menumbuhkan minat tersebut, seperti kegiatan literasi yang belum dilaksanakan secara konsisten dan pemanfaatan pojok baca yang masih kurang optimal. Padahal. Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) secara signifikan dapat meningkatkan minat baca siswa, terutama ketika didukung oleh jadwal membaca yang teratur, fasilitas perpustakaan yang lengkap, dan peran aktif guru (Wulandari et al. , 2. Selain itu, belum ada kegiatan rutin yang mendorong siswa untuk aktif menulis. Guru juga mengungkapkan bahwa siswa sebenarnya antusias jika hasil tulisannya dihargai, misalnya dengan dipajang. Namun, tanpa adanya pembinaan yang berkesinambungan, siswa cenderung menulis hanya jika diberikan tugas. Ketika diminta menulis secara bebas atau mengekspresikan ide sendiri, sebagian besar siswa tampak kurang antusias. Situasi ini menunjukkan bahwa selain pembiasaan, dibutuhkan juga rangsangan yang mampu menumbuhkan rasa senang dan kepercayaan diri siswa dalam menulis. Faktor Eksternal yang Menyebabkan Siswa Kesulitan Mengembangkan Ide Karangan Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan di kelas 3 SDN Podorejo 1, ditemukan tiga faktor utama dari eksternal yang menyebabkan siswa mengamali kesulitan mengembangankan ide dalam menulis karangan, yaitu keterbatasan metode dan media mengajar, lingkungan kelas, dan program Keterbatasan Metode dan Media Mengajar Metode konvensional yang masih sering digunakan dapat menyebabkan siswa cenderung kesulitan mengembangkan imajinasi dan menemukan ide yang akan dijabarkan dalam karangan. Seperti yang dijelaskan oleh guru kelas 3, ketika guru menggunakan metode yang menarik seperti storytelling, ilustrasi cerita maupun metode berbasis teknologi, siswa cenderung akan bersemangat dalam belajar. Sedangkan berdasarkan hasil observasi, saat siswa menulis karangan tanpa media apapun, mereka akan merasa kesulitan dan mudah bosan. Karena, faktor yang menyebabkan masih rendahnya keterampilan menulis siswa di antaranya kesulitan dalam menemukan ide, merangkai kata dengan baik, serta kurangnya variasi metode pembelajaran yang digunakan oleh guru (Marlina & Yapis Dompu, 2. Namun sayangnya, pada SDN Podorejo 01 belum terdapat program evaluasi berkelanjutan untuk terhadap efektivitas metode pengajaran menulis yang diterapkan di sekolah. Keterbatasan media ajar menjadi salah satu faktor penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menulis karangan karena media ajar memainkan peran penting dalam pengembangan ide, mendukung pemahaman, dan meningkatkan semangat belajar. SDN Podorejo 01 mengalami keterbatasan dalam fasilitas media digital dimana hanya memiliki satu proyektor dalam satu sekolah. Padahal, melalui platform digital seperti aplikasi menulis interaktif, dan media sosial edukatif, siswa dapat mengekspresikan ide secara kreatif. Media digital juga menyediakan akses ke berbagai referensi dan contoh karangan yang dapat dijadikan inspirasi dalam menulis karangan. Penggunaan media pembelajaran yang tepat menjadi salah satu faktor penting untuk membantu meningkatkan kemampuan menulis siswa (Rizky et al. , 2. Salah satu media yang relevan untuk Nainggolan, dkk. Analisis Faktor Kesulitan . ye p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 meningkatkan kemampuan menulis adalah gambar berseri berbasis digital. Media ini menawarkan bantuan visual yang dapat membantu siswa mengembangkan alur cerita, menentukan karakter, dan menyusun konflik serta runtut. Lingkungan Kelas Lingkungan kelas 3 SDN Podorejo 01 belum sepenuhnya mendukung terciptanya pembelajaran yang kondusif bagi siswa dalam mengembangakan ide karangannya. Pertama, dari ketersediaan sumber bacaan . eperti buku ana. masih tergolong kurang dan hanya tersedia di perpustakaan. Kedua, kebisingan yang terjadi antar siswa membuat siswa lainnya mengalami hilang fokus atau gangguan konsentrasi untuk mengembangkan ide karangan mereka. Ketiga, kurangnya interaksi antar siswa. Berdasarkan observasi lapangan, siswa yang memiliki interaksi baik dengan berdiskusi akan cenderung mudah menulis karangan karena saling bertukar ide. Sedangkan, ada beberapa siswa yang kesulitan mengembangkan ide karangan karena hanya berdiam diri tanpa berinteraksi/berdiskusi dengan siswa lain. Namun terdapat pula siswa yang dengan mudah mengembangkan karangan tanpa berdiskusi dengan temannya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang berjudul AuPengaruh Lingkungan Kelas terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas II SDIT IqroAo NogosariAy bahwa kelas yang terpapar masalah kebisingan, kekurangan fasilitas, dan kurangnya interaksi sosial yang mendukung, menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam fokus dan mengoptimalkan potensi belajar mereka pada mata pelajaran bahasa Indonesia, termasuk menulis (Zahro et al. , 2. Sedangkan penelitian lain juga menjelaskan bahwa lingkungan yang mendukung, baik dari segi fasilitas, suasana, maupun hubungan antara guru dan siswa, dapat memotivasi dan meningkatkan konsentrasi siswa dalam proses belajar, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar mereka (Safitri et al. , 2. Program Sekolah Belum ada program khusus menulis yang dilakukan SDN Podorejo 01. Program sekolah hanya sebatas ketersediaan perpustakaan yang jarang dikunjungi siswa. Pengadaan pojok baca belum maksimal, dan pembiasaan literasi sebelum pembelajaran belum berjalan secara rutin dan sistematis. Padahal, literasi yang terintegrasi dan terprogram dengan baik sangat penting untuk menumbuhkan minat baca dan menulis siswa secara berkelanjutan. Program literasi sekolah berdampak positif dan signifikan terhadap peningkatan keterampilan menulis siswa, terutama dalam aspek pengembangan ide, struktur karangan, penggunaan bahasa, dan teknik menulis (Purap & Purwono, 2. Program yang dapat dilakukan yaitu pengadaan jadwal wajib kunjung perpustakaan, penyediaan pojok baca di kelas, dan kegiatan membaca buku non-pelajaran sebelum pembelajaran dimulai secara rutin. Penerapan program yang konsisten dan sistematis mampu meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam kemampuan berbahasa tulis. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelas 3 SDN Podorejo 01 Semarang, dapat disimpulkan bahwa kesulitan siswa dalam mengembangkan ide karangan disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi rendahnya kemampuan membaca, kurangnya fokus saat menulis, dan rendahnya minat baca tulis siswa. Sementara faktor eksternal mencakup keterbatasan metode dan media pembelajaran, lingkungan kelas yang kurang mendukung, serta belum adanya program sekolah yang terstruktur dalam meningkatkan literasi menulis. Hasil penelitian ini signifikan karena memberikan gambaran nyata tentang akar permasalahan kesulitan menulis pada siswa sekolah dasar, sehingga dapat menjadi dasar penyusunan strategi pembelajaran yang lebih efektif dengan memanfaatkan metode pembelajaran inovatif dan media digital secara optimal serta penyusunan kebijakan pendidikan yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan secara berkelanjutan, seperti mengembangkan program literasi yang lebih terstruktur. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupan yang hanya melibatkan satu sekolah dan data kualitatif yang sangat bergantung pada persepsi informan sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi secara luas. DAFTAR PUSTAKA