Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 1 . , 2023: 68-94 ISSN: 2721-8082. E-ISSN: 2722-2918 DOI: https://doi. org/10. 19105/meyarsa. Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial Munabiah Lestari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta lestari20@mhs. Musfiah Saidah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta saidah@uinjkt. Abstract The millennial generation, as the largest contributor to the composition of the population in the demographic bonus. Identical to the productive and energetic young generation, the millennial generation is often labeled as an Agent of Change. Currently the world, especially Indonesia, is facing an era of openness in social media. One of the most worrying problems in the era of openness is the existence of religious hoaxes that divide religious communities. A pluralistic country like Indonesia, can be said to be in great threat if religious hoaxes continue to run rampant. This study aims to determine the condition of religious hoaxes and literacy in Indonesia. Furthermore, the extent to which religious hoaxes can be overcome with digital literacy will be something interesting in this research. The method used in this research is a survey on the condition of religious hoaxes in Indonesia. The results of the study found that the distance between religious hoax information and social media users was very close. Religious hoax information on social media, including radical sites, terrorism cases, and hate speech. Many Indonesian people do not have the ability to check data. So that the presence of the "Millennial Digital Literacy" solution can be used as a solution for handling religious hoaxes in Indonesia. Keywords: Religius hoax, digital literacy. millennial generation Abstrak: Generasi milenial, sebagai penyumbang komposisi kependudukan terbesar dalam bonus demografi. Identik dengan generasi muda yang produktif dan berenergi, generasi milenial sering mendapat label sebagai Agent of Change atau pelaku perubahan. Saat ini dunia, khususnya Indonesia, sedang dihadapkan pada era keterbukaan dalam sosial media. Salah satu permasalahan yang paling mengkhawatirkan di era keterbukaan, yaitu adanya hoaks keagamaan pemecah belah umat agama. Negara majemuk seperti Indonesia, dapat dikatakan berada dalam ancaman yang besar jika hoaks keagamaan terus merajalela. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi hoaks keagamaan dan literasi di Indonesia. Selanjutnya, sejauh mana hoaks keagamaan dapat diatasi dengan literasi digital, akan menjadi sesuatu yang menarik dalam penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey tentang kondisi hoaks keagamaan di Indonesia. Hasil Author correspondence email: Meinurazizahmei6933@gmail. Available online at: http://ejournal. id/index. php/meyarsa/ Copyright . 2023 by Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial penelitian ditemukan bahwa jarak informasi hoaks keagamaan dan pengguna sosial media, sangatlah dekat. Informasi hoaks keagamaan yang ada di sosial media, diantaranya situs-situs radikal, kasus terorisme, dan ujaran kebencian. Masyarakat Indonesia banyak yang belum memiliki kemampuan dalam pengecekan data. Sehingga hadirnya solusi AuLiterasi Digital MilenialAy dapat dijadikan solusi untuk penanganan hoaks keagamaan di Indonesia. Kata Kunci: Hoaks keagamaan. literasi digital. generasi milenial Pendahuluan Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (BPS), jumlah penduduk Indonesia sampai September 2020 berjumlah 270 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2. Selanjutnya, menurut Susenas 2017, jumlah generasi milenial mencapai sekitar 88 juta jiwa atau 33,75 persen dari total penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2. Hal tersebut memiliki arti bahwa generasi milenial mendominasi dalam kependudukan. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Alvara Research Center di 6 Kota besar di Indonesia yaitu Jabodetabek. Surabaya. Medan. Makassar. Bandung, dan Semarang sebagai representasi urban. Survei tersebut dilakukan pada rentang usia antara 20-34 tahun sebagai representasi usia generasi milenial. Survei tersebut memiliki hasil bahwa jumlah konsusmsi internet cenderung lebih banyak pada usia muda, yaitu usia 20-24 tahun dan 25-30 tahun. Smartphone menjadi device favorite di kalangan muda. Fitur dalam smartphone seperti untuk instant messenger dan sosial media sangatlah banyak digunakan, yaitu sebesar 89,2%. Generasi ini sudah sangat terbuka dengan kehadiran yang tanpa batas bernama sosial media (Ali & Puwandi, 2. Hasil riset dari Alvara Research Center membuktikan bahwa generasi milenial mendapatkan ancaman dari keluasan dan keterbukaan Salah satu ancamannya, yaitu mudahnya mendapatkan informasi hoaks atau berita kebohongan. Kondisi negara Indonesia yang sangat majemuk dalam sisi agama, ras, dan budaya memberikan arti bahwa temuan isu hoaks yang paling berbahaya bagi persatuan umat beragama dan bangsa adalah hoaks keagamaan. Saat ada informasi hoaks tentang agama, maka sangat banyak dampak negatif yang ditimbulkan. Misalnya, politik akan memanas, pemerintah akan kacau, kejahatan akan merajalela, dan dunia internasional pun akan dapat terpancing secara emosional. Dampak negatif tersebut ditimbulkan karena masing-masing pihak pasti akan membela agama yang dipeluknya atau akan menyerang pihak yang merendahkan agamanya karena hoaks keagamaan biasanya berisi tentang fitnah terhadap suatu agama. Dalam beberapa tahun terakhir, kehidupan digital menjadi sebuah dilema yang menarik untuk diperbincangkan. Di satu sisi memberikan kemudahan di berbagai bidang, tetapi di sisi lain membawa pengaruh dan tantangan dalam menikmati segala kemudahan. Seiring dengan terbukanya Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. kemudahan akses informasi, media digital memiliki peran dalam menyuntikan pesan yang dapat mengubah pandangan khalayak. Kehadiran teknologi digital menyebabkan perubahan dalam ruang publik ketika gaya hidup hingga pola konsumsi difasilitasi oleh teknologi. Masyarakat hendaknya bijak dalam menyikapi perubahan ini. Kemampuan tersebut terkait erat dengan pemahaman dalam menggunakan teknologi digital. Melalui kecakapan ini, masyarakat tidak akan mudah terperdaya oleh berbagai kemudahan. Bahkan lebih dari itu, kecakapan masyarakat ini secara tidak langsung akan berpengaruh. Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, pada periode Agustus 2018-31 Maret 2020, ditemukan isu hoaks yang 156 isu. Hoaks tentang agama berjumlah 208 (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2. Tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah tersebut dapat lebih banyak atau terus meningkat. Data hoaks tersebut memberikan bukti bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih sangatlah buruk. Syarifudin Yunus, penggiat literasi sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka, menegaskan ada tujuh dampak buruk apabila tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Pertama, kebodohan yang sulit diatas, sehingga sulit membangun masyarakat cerdas dan bijak. Kedua, produktivitas yang sangat kurang, sehingga malas untuk meningkatkan potensi diri dan hanya mengandalkan atau bergantung dengan orang lain. Ketiga, pendidikan yang tertinggal, sehingga gagal berkontribusi terhadap bangsa, negara, dan agama. Keempat, angka putus sekolah tinggi, sehingga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) rendah dan menjadi salah satu faktor meningkatnya pengangguran. Kelima, kemiskinan yang meluas, sehingga menjadi beban ekonomi dan sulit membangun ekonomi kreatif. Keenam, kriminalitas yang meninggi, sehingga hidup tidak aman, salinh menaruh rasa curiga, dan lingkungan menjadi tidak nyaman. Ketujuh, sikap bijak yang rendah, sehingga mudah menerima informasi yang masuk tanpa mengecek kebenarannya dan rentan konflik (Syarif Yunus, 2019: diakses pada 28 Februari 2. Dari dampak buruk rendahnya literasi yang sudah dipaparkan, dapat kita ketahui bahwa permasalahan rendahnya literasi di Indonesia harus segera diatasi. Kecakapan digital sangatlah dibutuhkan agar kita tidak hanya menjadi pemakan informasi. Akan tetapi, mampu menyelediki kebenaran Informasi. Hal tersebut sesuai dengan anjuran di dalam Al-Quran surat AlHujurat ayat 6, yang memiliki arti Au Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan . , yang akhirnya kamu menyesali perbuatan ituAy (Qs. Al-Hujurat . : . (Kementerian Agama RI, 2008: . Menurut Tafsir Jalalain Jilid 2, di dalam surat ayat Al-Quran tersebut juga memberitahu kita dampak dari minimnya kecakapan digital, yaitu akan Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial menimbulkan kerugian terhadap suatu kaum (Al-Mahalli & As-Suyuti: Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalahnya adalah Bagaimana fenomena literasi digital dan hoaks keagamaan di Indonesia? Bagaimana pandangan Al-Quran tentang hoaks? Apa upaya pemerintah dalam meningkatkan literasi untuk menanggulangi hoaks? Dan bagaimana literasi digital milenial mampu membuat Indonesia damai? Studi ini diharapkan dapat memperluas literatur yang ada dan memberikan kontribusi penting bagi generasi milenial dan pemerintah untuk menghasilkan beberapa pertimbangan untuk penggunaan media sosial. Diharapkan dengan penulisan makalah ini, mampu meningkatkan kemampuan literasi digital milenial di Indonesia karena generasi milenial dapat kita sebut sebagai Agent of Change atau pelaku perubahan. LANDASAN TEORI Literasi Media Literasi media berasal dari bahasa inggris yaitu media literacy. Media diartikan sebagai tempat pertukaran pesan sedangkan literacy berarti melek. Dalam hal ini literasi media merujuk kemampuan khalayak yang melek terhadap media massa dalam konteks komunikasi massa. Literasi media dapat disebut dengan suatu proses mengakses, menganalisis secara kritis pesan media, dan menciptakan pesan menggunakan alat media (Hobbs, dalam Potte. Rubin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi media adalah pemahaman sumber, teknologi komunikasi, kode yang digunakan, pesan yang dihasilkan, seleksi, interpretasi, dan dampak dari pesan tersebut. Maka dapat dikatakan bahwa adanya Internet atau media baru ini membuat pola komunikasi manusia berubah. (Apriadi Tamburak. Menurut Potter . , literasi media adalah dimensional di mana terdapat empat hal yang terkait antara dimensi-dimensi literasi media yaitu dimensi kognitif, dimensi emosional, dimensi keindahan dan dimensi The Cognitive domain . anah kogniti. mengacu kepada proses mental dan pemikiran. Kemampuan kognitif mengacu pada tingkat kesadaran, mulai dari simbol-simbol sederhana sampai kepada sebuah pemahaman yang kompleks . , tentang bagaimana sebuah pesan diproduksi dan mengapa disampaikan dengan cara seperti itu. Inilah dimensi intelektual. Kenyataannya terletak pada kekuatan struktur pengetahuan untuk memberikan banyak konteks dalam konstruksi pemaknaan. The emotional domain atau ranah emosi merupakan dimensi perasaan. Sebagian orang kurang sensitif dan sulit terbangkitkan emosinya ketika menerpakan diri kepada media, sebagian lainnya sangat sensitif dan mudah terbangkitkan emosinya ketika diterpa media massa. The esthetic domain atau ranah keindahan, mengacu pada kemampuan untuk menikmati, memahami dan Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. mengapresiasi isi media dari sebuah poin pandangan yang artistik. Apresiasi mencakup kemampuan untuk melihat perbedaan antara seni asli dan tiruan. The moral domain atau ranah moral merupakan kemampuan untuk memahami nilai-nilai dalam pesan-pesan tersebut. Hoaks Kata Hoax berasal dari bahasa Inggris yang artinya tipuan, menipu, berita bohong, berita palsu atau kabar burung yang disebarkan oleh Hoaks bukan singkatan tetapi satu kata dalam bahasa Inggris yang punya arti sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. AohoaksAo adalah Aoberita bohongAo. Dalam Oxford English dictionary. AohoaksAo didefinisikan sebagai Aomalicious deceptionAo atau Aokebohongan yang dibuat dengan tujuan jahatAo. Menurut Ireton. Posetti dan UNESCO, . mendefiniskan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta (Allcott dan Matthew, 2. Sedangkan dalam Cambridge Dictionary . disebutkan jika hoaks adalah rencana menipu sekelompok besar orang. Hoaks dapat diartikan sebagai informasi yang tidak berdasarkan fakta atau data tetapi tipuan dengan tujuan untuk memperdaya masyarakat dengan model penyebaran yang massif. Sebuah informasi bisa saja mengandung kesalahan . atau bias. Namun, kekeliruan dalam hoax adalah buah dari kesengajaan. Dengan kata lain, hoax adalah rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun AodijualAo sebagai kebenaran . purposefully false story or account that is presented to be tru. Ay (Silverman, 2. Karena urusannya adalah pada AokebenaranAo atau AofaktaAo, kerap hoax disamakan dengan fake news, yaitu berita palsu yang mengandung informasi yang disengaja guna menyesatkan orang dan kerap memiliki agenda politik tertentu . ake news stories contain deliberately misleading information and often have prominent political agenda. Ay (Merwe, 2. Berkaca pada berbagai definisi di atas, maka apapun pernyataannya, hoax mengandung unsur-unsur: . informasi yang menyesatkan . isleading informatio. tindakan yang disengaja . eliberate or purposefully ac. ketidakbenaran yang ditampilkan seolah-olah sebagai kebenaran . resented untruth as the ultimate trut. Hoax terjadi pada skala yang lebih besar, diarahkan untuk menarik perhatian publik, sekaligus merepotkan publik dan menghabiskan sumberdaya untuk METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian metode campuran . ix Pada tahap pertama dilakukan penelitian kuantitatif untuk mengetahui gambaran secara umum bagaimana pengelolaan privasi di media sosial. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan survey daring kepada 67 orang informan yang termasuk kategori generasi milenial. Secara Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial umum, generasi Y atau yang lebih dikenal dengan generasi milenial adalah orang lahir pada tahun 1981-2000 (Taylor dan Keeter, 2. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan paradigma positivisme, yaitu suatu pandangan bahwa ilmu hanya dapat diperoleh melalui fenomena yang empiris, dapat diamati dan dapat diukur serta diujikan dengan metode ilmiah. Dalam penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebar survei online. Metode survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data statistik deskrptif. Teknik ini adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul. Selain itu untuk menambah analisa, peneliti mewawancarai informan yang memiliki pengetahuan seputar isu hoax. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil survei Kondisi Hoaks Keagamaan di Indonesia yang telah penulis jalani, penulis mendapatkan hasil sebagai berikut: Profil Informan Informan dalam penelitian ini berjumlah 67 orang, yaitu masyarakat Indonesia yang berumur 20 Ae 35 tahun. Mayoritas adalah pengguna aktif sosial media dan berasal dari beragam agama. Diagram 1. Jumlah Pengguna Aktif Sosial Media Penggunaan Sosial Media dan Pesan Instan Sebanyak 46,3% responden mengaku paling sering menggunakan aplikasi WhatsApp. Kemudian disusul dengan Instagram dengan 37,3% Sedangkan, sisanya menjawab Twitter. Facebook. TikTok, dan Artinya whatsapp menjadi aplikasi pesan instan yang diminati. Sedangkan instgram adalah media sosial yang paling banyak diakses. Tidak dapat dimungkiri, kemunculan teknologi yang semakin canggih dewasa ini berdampak menghadirkan keberagaman media. Tidak mengherankan lagi jika saat ini masyarakat mulai mengkonsumsi media elektronik atau media baru lewat smartphone yang dimiliki masing-masing Banyak penyebutan untuk media baru seperti media siber. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. digital media, media online, dan sebagainya. Akses informasi yang dahulu terbatas, saat ini justru menjadi tanpa batas. Masyarakat dengan mudah dapat mengakses informasi lewat akun media sosialnya. Seperti facebook, twitter, instagram, blog, youtube dan sebagainya. Proses penyampaian pesan melalui media pun mengalami suatu pergeseran yang cukup krusial. Jika media selama ini adalah pusat informasi dan informasi tersebut diberikan atau dipublikasikan dengan satu arah, kini media menjadi lebih terbuka, interaktif, dan digunakan oleh berbagai kalangan. Khalayak tidak lagi sekadar objek yang terpapar oleh informasi, melainkan telah dilibatkan aktif sebagai penerima dan pengguna informasi karena teknologi menyebabkan interaksi di media bisa terjadi (Nasrullah, 2013: ). Diagram 2. Sosial Media yang Sering Digunakan Akses Berita Online Instagram, aplikasi yang sangat terkenal di kalangan generasi muda. Selain dapat digunakan untuk berkomunikasi melalui Direct Massage, instagram juga memudahkan pengguna untuk mengakses informasi melalui akun-akun yang terdaftar di Instagram. Informasi yang beredar di instagram sangatlah beragam dan cepat tersebar. Instagram menjadi tempat paling banyak digunakan untuk membaca berita online, sebanyak 65,7% responden menyetujui hal tersebut. Kemudian, untuk mendapatkan informasi atau membaca berita, situs berita online kompas. com paling banyak diakses, sebanyak 37,3% sepakat dengan hal tersebut. Selanjutnya dari CNN yaitu sebanyak 29,9%. Diagram 3. Aplikasi yang Paling Sering Digunakan untuk Membaca Berita Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial Diagram 4. Stasiun Berita Online untuk Membaca Berita Penyebaran Berita Hoaks Keagamaan Berdasarkan dari hasil penelitian, sebanyak 95,5% responden pernah melihat/membaca/mendengar berita hoaks keagamaan di sosial Data tersebut membuktikan tentang keterbukaan akses internet sebagai lahan menyebarkan berita hoaks. Selain itu, data tersebut juga seharusnya menjadi lampu merah untuk masyarakat Indonesia kalau informasi hoaks sangat dekat jaraknya dengan pengguna sosial media. Selaras dengan informasi sebelumnya, ternyata sebanyak 32,8% responden menemukan berita hoaks melalui instagram. Selanjutnya disusul dengan instagram yaitu sebanyak 19,4% responden. Setelah itu, sebanyak 82,1% responden tidak terlalu sering melihat berita hoaks dan 17,9% sangat sering melihat berita hoaks di sosial media. Hasil penelitian tersebut sangatlah mengkhawatirkan karena terbukti jika berita hoaks memang sudah sangat mudah untuk ditemui tanpa sengaja. Seperti yang ketahui, pembaca informasi di media sosial berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari anak kecil yang belum bisa membedakan berita hoaks atau tidak, sampai orang tua yang relative cenderung langsung membagikan informasi tanpa dicek kebenarannya, misalnya di dalam grup WhatsApp keluarga besar. Diagram 5. Berita Hoaks Keagamaan di Sosial Media Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. Diagram 6. Penyebaran Berita Hoaks Keagamaan Diagram 7. Tingkat Melihat Berita Hoaks Keagamaan di Sosial Media Jenis Berita Hoaks Keagamaan Dari beberapa contoh berita hoaks yang ada, faktanya 52,2% responden paling sering melihat berita online tentang fitnah terhadap tokoh Selanjutnya 23,9% responden melihat berita hoaks keagamaan tentang fitnah pertikaian antar agama dan 20,9% melihat berita hoaks keagamaan melalui manipulasi gambar keagamaan. Jika dilihat dari hasil penelitian tersebut dengan jumlah terbesar pada berita online tentang fitnah terhadap tokoh agama. Hal tersebut memiliki makna bahwa masyarakat masih berada pada garis AufanatismeAy tanpa mengecek suatu Sikap fanatisme hadir saat tokoh agama yang menjadi panutannya dihina, sehingga tidak jarang dapat menimbulkan kerusuhan. Padahal, bisa saja dalam informasi tersebut terdapat unsur adu domba. Oleh karena itu, sebaiknya sebagai masyarakat beragama yang bermoral, kita seharusnya mengecek suatu kebenaran informasi, baru bisa bertindak. Diagram 8. Contoh Berita Hoaks Keagamaan Korban Hoaks Keagamaan Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 79,1% responden tidak pernah menjadi korban hoaks keagamaan dan 20,9% pernah menjadi korban hoaks keagamaan. Angka 20,9% bukanlah suatu angka yang kecil. Angka tersebut berpeluang meningkat jika berita hoaks yang beredar sangat banyak, namun belum ditangani dengan upaya pencegahan dan Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial Diagram 9. Korban Hoaks Keagamaan Tingkat Kepedulian Terhadap Berita yang Masuk Sebanyak 64,2% responden memperhatikan berita online yang datang kepadanya. Akan tetapi, sebanyak 35,8% responden tidak memperhatikan berita online yang datang kepadanya atau dapat dikatakan cuek dalam menerima informasi. Hal tersebut berarti responden yang berjumlah 35,8% tidak pernah mengecek kebenaran berita yang masuk Kemudian, dilihat dari sisi kemampuan melakukan pengecekan berita, sebanyak 62,7% responden mengaku sudah memiliki kemampuan dalam melakukan pengecekan berita atau dapat dikatakan sudah mampu membedakan antara berita hoaks dan fakta. Selanjutnya, sebanyak 37,3% responden mengaku belum memiliki kemampuan untuk mengecek kebenaran berita. Hal ini menunjukkan jika perlu ditingkatkan kesadaran dan konfirmasi berita yang di dapatkan sehingga tidak terjebak dalam berita yang belum diketahui kebenarannya. Diagram 10. Kepedulian Terhadap Berita yang Datang Diagram 11. Kemampuan Mengenali Berita Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. PEMBAHASAN FENOMENA LITERASI DIGITAL DAN HOAKS KEAGAMAAN DI INDONESIA Literasi dalam Potter . 4: . ialah kemampuan seseorang untuk membaca tulisan. Literasi menurut Silverblatt dan Eliceiri . 7, dalam Potter, 2010: . dalam Kamus Media Literasi milik mereka mendefinisikan literasi media sebagai keterampilan berpikir kritis yang memungkinkan khalayak untuk memahami informasi yang mereka terima melalui saluran komunikasi massa dan memberdayakan mereka untuk mengembangkan penilaian independen tentang konten media. Critical thinking menjadi poin yang sangat berperan bagi khalayak dalam mengidentifikasi informasi yang diterima. Dalam penelitian ini, literasi media diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menganalisa disinformasi suatu berita. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemberian literasi berpengaruh terhadap meningkatnya kemampuan dalam menganalisa hoax keagaamaan. Berdasarkan hasil penelitian tentang kondisi hoaks keagamaan di sosial media, literasi digital dapat menjadi solusi sekaligus permasalahan di Indonesia. Pada faktanya, berdasarkan data dari Katadata Insight Center, skor literasi digital belum mampu mendapatkan angka yang AubaikAy . baru sedikit di atas AusedangAy . Literasi digital, memiliki 4 sub-indeks. Diantaranya, sub-indeks Informasi & Literasi Data. Komunikasi & Kolaborasi. Keamanan, dan Kemampuan Teknologi. Sub-indeks Informasi dan Literasi Data, memiliki skor yang paling rendah, yaitu sebesar 3,17. Sub indeks Kemampuan Teknologi, memiliki skor yang paling tinggi, yaitu sebesar 3,66. Indonesia Wilayah Tengah tepatmya di daerah Bali. Kalimantan, dan Sulawesi, memiliki kondisi Literasi Digital yang relatif lebih baik dan wilayah timur cenderung mendapat skor yang lebih rendah daripada wilayah tengah dan barat. Hampir di 34 provinsi, skor Sub-indeks 1 Informasi dan Literasi Data memiliki skor paling rendah dibanding subindeks lainnya. Selanjutnya. Indeks Literasi Digital yang tinggi cenderung berkolerasi dengan usia muda yang ada pada generasi milenial. Generasi Z memiliki skor indeks tinggi sebesar 13%, generasi milenial 25%, dan generasi x dan boomers 10%. Sayangnya, fakta dari survei menunjukan bahwa semakin tinggi literasi digital, maka semakin rendah kecenderungan positif dalam mencerna berita online dan semakin rendah kecenderungan untuk tidak menyebarkan hoaks. Tingkat kecenderungan untuk tidak menyebarkan hoaks rendah karena berkaitan dengan kurangnya kemampuan mengenali hoaks dan tidak dapat mencerna berita online dengan baik. (Katadata Insight Center & Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2020: 29-. Oleh karena itu, fakta tentang Indeks Literasi Digital yang belum cukup tinggi, sangat berpengaruh terhadap kemampuan pengguna internet dalam mengenali hoaks. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial Indonesia sebagai negara majemuk, salah satunya dalam hal agama. Indonesia memiliki keanekaragaman penduduk dengan agama yang berbeda-beda. Informasi hoaks keagamaan yang ada di sosial media, tentulah sangat berbahaya bagi persatuan umat beragama di Indonesia. Pertama, situs-situs radikal, berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kementerian Komunikasi dan Informatika, telah memblokir 22 sistus atau website radikal. Sebanyak 22 situs internet radikal yang dilaporkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Pada awalnya, pihak Kemkominfo sudah memblokir 3 situs, namun BNPT melaporkan kembali untuk Kemkominfo dapat memblokir 19 situs berdasarkan surat bernomor No 149/K. BNPT/3/2015 tentang situs atau website radikal ke dalam sistem filtering Kemkominfo. Selain itu, pemerintah juga menegaskan akan menutup situs-situs terkait ISIS (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2015: diakses pada 29 Januari Seperti yang kita ketahui. ISIS seringkali dikaitkan dengan Islam. Sehingga, menyebabkam banyak masyarakat yang membenci Islam. Jika permasalahan situs-situs radikal tersebut tidak diatasi, maka perpecahan antara umam beragama, bahkan internal Islam itu sendiri, akan terjadi. Kedua, kasus terorisme, berdasarkan data dari Polda Bengkulu. Detasemen Khusus (Densu. 88 Antiteror Polri berhasil menangkap 370 tersangka terkait kasus tindak pidana terorisme sepanjang tahun 2021. Data tersebut diakumulasi hingga Jumat, 24 Desember 2021. Jumlah penangkapan yaitu sebanyak 370 tersangka. Penangkapan terbanyak terjadi pada Maret 2021, yaitu sebanyak 75 orang. Penangkapan para tersangka terorisme tersebar di berbagai provinsi. Misalnya. Sumatera Utara. Jambi. Lampung. Banten. Jawa Barat. Jawa Tengah. Jawa Timur. Sulawesi Selatan. Maluku. Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Terdapat tiga terduga teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI) ternyata menguasai bidang Informasi dan Teknologi (Polda Bengkulu, 2021: diakses pada 30 Januari 2. Keilmuan tersebut sangatlah berbahaya jika digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung Berbicara mengenai situs-situs radikal dan kasus terorisme, konsep berjihad dalam hal itu seringkali dikaitkan dengan salah makna. Pada kasus tersebut, menganggap jihad adalah mati terbunuh secara sia-sia, memerangi orang yang tidak bersalah, dan lainnya. Hal tersebut sangatlah bertentangan dengan konsep Jihad dalam Islam. Konsep Jihad dalam Islam, dapat kita lihat pada surat Al-Baqarah ayat 190: aAcEEa Ea Oaa a E aI aOIA aAcEEaa Eac aOIa OaCaEa OI aE Ia OEa aO ia acaIA aAOaCaEa O A aOa a O aEA Artinya: AuDan perangilah di Jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh. Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batasAy. Menurut telaah Tafsir Al-Muyassar Jilid 1 kita tidak diperkenankan untuk memerangi orang-orang kafir yang tunduk, minta perlindungan dan Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. mengadakan perjanjian untuk berdamai dan benar-benar memenuhinya. Selanjutnya, janganlah orang mukmin melampaui batas terhadap aturan perang, seperti membunuh orang tua, para wanita, dan anak-anak, karena mereka bukanlah pasukan perang yang layak untuk dibunuh (Mashudi, 2020: . Selaras dengan Tafsir Al-Muyassar Jilid 1, menurut Tafsir Al-Munir Jilid 1, kita diperbolehkan berperang untuk menegakkan agama Allah karena itu adalah keridhaannya. Jadi, berperang di jalan Allah artinya berperang untuk meninggikan dan memenangkan agama Allah. Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batasan syariat-syariat dan hokum-hukum yang telah ditetapkannya (Az-Zuhaili, 2013: . Jadi, berdasarkan pembahasan dari Tafsir Al-Muyassar Jilid 1 dan Tafsir Al-Munir Jilid 1, banyak orang yang keliru dalam memaknai kata AuJihadAy. Kekeliruan tersebut membawa pada sikap yang salah yaitu jihad berbentuk penyerangan dan kekerasan terhadap orang-orang atau pihak yang bahkan dijamin keselamatannya dalam Islam melalui aksi ekstremisme, terorisme, dan radikalisme. Jihad sebenarnya dalam Islam adalah jihad untuk pemberantasan kezaliman (Kurniawan, 2021: diakses pada 01 Februari 2. Ketiga, ujaran kebencian di sosial media, kasus tersebut bukanlah sesuatu yang asing lagi. Sangat banyak ujaran kebencian yang dapat kita temui di sosial media. Tidak menutup kemungkinan, bahwa sangat banyak hoaks keagamaan yang beredar di sosial media. Seperti informasi tentang hoaks, yang penjelasannya dibagikan oleh Kecamatan Gerokgak. Kabupaten Buleleng. Pada Mei 2020, ada informasi yang berjudul AuKonspirasi Komunis. Yahudi, dan Nasrani Manfaatkan Covid-19 untuk Menghancurkan IslamAy. Pada informasi tersebut, dijelaskan bahwa sebanyak 12 misi yang akan dilakukan dalam menghancurkan Islam. Faktanya. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial Gambar 1. [HOAKS] Konspirasi Komunis. Yahudi dan Nasrani Manfaatkan COVID-19 untuk Menghancurkan Islam (Toni. , 2. Informasi tersebut adalah hoaks, faktanya dilansir dari laman situs Liputan6. com, klaim konspirasi Komunis. Yahudi, dan Nasrani manfaatkan Covid-19 untuk menghancurkan Islam adalah tidak benar. Sebanyak 12 misi yang tercantum pada klaim yang beredar tersebut tidak terbukti kebenarannya (Aryadi, 2020: diakses pada 01 Februari 2. Gambar 2. [HOAKS] Berita Hoax Bulan April 2021 (Gerokgak, 2. Selanjutnya, pada April 2021 ada informasi yang berjudul AuBom Gereja Katedral Makassar Dikendalikan Jarak Jauh oleh PKIAy. Informasi tersebut berupa pesan berantai WhatsApp dan begitu massif Sehingga, pemerintah Kabupaten Buleleng berusaha mengurai dan mengcounter berita hoaks tersebut melalui tim CIRT Kabupaten Buleleng. Faktanya, informasi tersebut adalah hoaks. Bom di depan Gereja Katedral Makassar adalah insiden bom bunuh diri dan pelakunya merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terlibat dalam penyerangan di Filipina beberapa waktu lalu (Gerokgak, 2021: diakses pada 01 Februari 2. Selain itu, juga terdapat di dalam website kominfo berisi informasi klarifikasi tentang berita hoaks yang berjudul Au[HOAX] Terjadi Lagi Pembunuhan Terhadap MuadzinAy Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. Gambar 3. [HOAKS] Terjadi Lagi Pembunuhan Terhadap Muadzin . th, 2. Penjelasan : Masyarakat kembali diresahkan dengan adanya isu lama terkait adanya kasus pembunuhan yang menimpa seorang muadzin . ukang adza. di Majalengka. Pada Februari 2018 kasus ini cukup ramai menjadi perbincangan di media sosial. Tara Asih adalah nama orang yang pertama kali mengunggah berita itu melalui akun media sosialnya. Akan tetapi, faktanya isu tersebut adalah hoaks atau kabar bohong. Pada akhirnya, sang pengunggah informasi yaitu Tara Asih ditangkap polisi dan selanjutnya dipenjara karena kasus penyebaran hoaks. Polisi mengklarifikasi bahwa tidak ada korban seorang muadzin dan pelaku orang Berita hoaks tersebut sangatlah berbahaya jika tidak ada yang mengklarifikasi kebohongan atas berita itu. Terlebih lagi, berita hoaks tersebut mengidentitaskan korbannya adalah seorang AuMuadzinAy yang pastinya merupakan orang yang beragama Islam. Hal tersebut sangatlah bersifat provokatif karena jika banyak masyarakat muslim yang sudah termakan hoaks, maka kemungkinan dapat terjadi suatu perlawanan demi kepentingan membela saudara seagama. Adanya penangkal hoaks sangat berdampai baik untuk mengecek kebenaran berita. Sehingga, masyarakat dapat membedakan berita bohong dan fakta. Isu hoaks yang beredar harus segera diberhentikan seperti dengan penangkal hoaks dari kominfo, turnbackhoax, ataupun situs berita Dampak lainnya dari adanya penangkal hoaks, masyarakat dapat semakin berhati-hati dalam bersikap dan menyebarkan informasi di sosial media karena sanksi tegas dalam UU ITE sangat jelas adanya. Seperti pada berita di atas, sang penggunggah berita langsung ditangkap oleh kepolisian Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial karena menyebarkan berita hoaks, dan terjerat Pasal 28 ayat 2 UndangUndang No. 11/2008 tentang ITE. Seperti contoh yang sudah dipaparkan, orang-orang penyebar hoaks dapat dikatakan sebagai orang-orang yang munafik. Pernyataan tersebut sesuai dengan yang ada pada Hadist Shahih Bukhari: AIA a ACa aEa au aca Ea O au Oa eEAa O au e aIa Ia A a aAOaa eE aIaIAA Artinya : Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: AuTanda orang munafik adalah tiga. Bila berbicara maka berbohong, bila dipercaya maka berkhianat dan bila berjanji maka berselisihAy (Sunarto, al, . (Hadist Shahih Bukhari: 2. PANDANGAN AL-QURAN TENTANG HOAKS Sebagai masyarakat muslim yang mempunyai populasi terbesar di Indonesia pastilah memiliki pengaruh yang besar dari segala aspek Jika masyarakat muslim tidak mampu membendung atau menyaring arus infromasi. Sehingga, masyarakat muslim pastinya akan mudah terhasut, maka perpecahan persatuan agama dan bangsa, akan memiliki peluang yang lebih tinggi untuk terjadi. Dalam Al-Quran. Allah SWT melarang hambanya untuk membawa berita bohong karena akan mendapatkan balasan azab dari Allah. Seperti yang terdapat dalam surat An-Nur ayat 11 : a aII aE eIa ia Ea eaONaa Uc Eac aEI ia a eEa NaOa Oea Eac aE eIa ia aE aE aEa eI aa aI eI aNI acIA a aeE eAEA e AA a e aAua acIa EacaOIa e aO A ca ca aAeE aIa ia OEaO OEOa aEeNua Ia eI aN eIa ENua a a OIA a aA eEa Ia IA Artinya: AuSesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu . Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar . ari dosa yang diperbuatny. dia mendapat azab yang besar . Ay Berdasarkan surat tersebut, di dalam Tafsir Al-Misbah terdapat satu contoh cerita tentang penyebaran berita bohong. Seperti dalam kisah Aisah ra yang difitnah oleh Abdullah Ibn Ubayy Ibn Salul. Ia menyebarkan berita bahwa Aisyah ra menjalin hubungan mesra dengan Shafwan. Padahal Shafwan tidak sengaja menemui Aisyah ra yang ketinggalan rombongan karena tertidur. Shafwan pun memiliki tujuan pergi keluar karena mendapat perintah dari Nabi untuk mengamati pasukan musuh jangan sampai ada yang membuntuti pasukan muslim (Shihab, 2002: 294-. Selanjutnya, larangan menyebarkan berita bohong juga terdapat dalam surat An-Nahl ayat 105: ca a aAcEEaa ia O a OEaEa Na aIa ea aaOIA a AuaIacI O eA aO eaa EacaOIa Ea Oae Ia IaOIa aiOA Artinya : AuSesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong. Ay Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. Berdasarkan surat tersebut, di dalam Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5. Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang tidak memiliki tujuan beriman Manusia jenis ini tidak akan mendapatkan petunjuk menuju iman kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya serta apa yang dibawa oleh Rasul yang diutus-Nya di dunia, di akhirat kelak dia akan mendapatkan siksaan yang menyedihkan lagi menyakitkan (Muhammad, 2003: . Berdasarkan surat An-Nur ayat 11 dan surat An-Nahl ayat 105, menjelaskan bahwa menyebarkan infromasi yang belum diketahui kebenarannya sangatlah dilarang. Dalam ayat Al-Quran tersebut juga tertulis jelas tentang azab yang akan didapatkan bagi penyebar berita Masyarakat muslim, khusunya generasi milenial, yang mempunyai peranan penting, seharusnya dapat berfikir kritis dan selektif di era globalisasi dengan keterbukaan akses internet yang sangat luas. UPAYA PEMERINTAH MENINGKATKAN LITERASI UNTUK MENANGGULANGI HOAKS KEAGAMAAN Sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjalankan dan mensosialisasikan tentang Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membentuk kelompok kerja Gerakan Literasi Nasional sebagai koordinasi dalam berbagai kegiatan literasi yang dikelola unit-unit kerja terkait. Selama ini media lebih ditunjukan untuk kepentingan hiburan. Padahal, jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik, media memiliki peran besar dalam menyediakan ruang berbicara. Konsep literasi disandingkan dengan kebudayaan. Makna kebudayaan bukan hanya diartikan dalam bentuk kesenian namun juga kebiasaan yang terus Salah satu budaya yang mulai pudar adalah toleransi dan Hal tersebut merupakan sebuah paradoks di tengah arus global yang menyuguhkan kecepatan akses infromasi. Indonesia seakan belum siap menghadapi pesatnya peruabah zaman. Oleh karena itu, penulis menggagas adanya gerakan dialog tolerasi untuk mendorong ajakan sebar berita benar secara pribadi. Seperti yang kita ketahui bahwa berita hoaks dapat tersebar dari satu orang ke orang lain secara singkat dan menjadi viral, tentunya berita benar pun memiliki peluang untuk dapat tersebar secara singkat jika banyak yang menyebarkannya. Setidaknya dengan menyebarkan berita benar melalui media masing-masing artinya kita mampu memberitahu sebuah kebenaran diatas berita hoaks yang banyak Menurut William L. Rivers, media komunikasi massa dapat mempengaruhi dan mengakibatkan banyak perubahan apalagi jika terkait kepentingan khalayak umum. Media juga mampu menggalang persatuan opini publik terhadap peristiwa tertentu . Gerakan Literasi Nasional merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antarunit utama pelaku gerakan literasi dengan mengumpulkan Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial semua potensi dan melibatkan publik dalam menumbuh kembangkan, membudayakan, dan membantu meningkatkan literasi di Indonesia. Gerakan ini dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan serentak, mulai dari ranah terkecil yaitu keluarga. Selanjutnya sampai ke sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Meningkatkan literasi bangsa perlu direalisasikan dalam sebuah gerakan nasional yang terintegrasi, tidak parsial, sendiri-sendiri, atau ditentukan oleh kelompok tertentu. Gerakan literasi tentunya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Diantaranya gerakan literasi menjadi tanggung jawab pemangku kepentingan termasuk dalam dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat penting untuk memastikan dampak positif dari adanya gerakan peningkatan daya saing bangsa untuk lebih berkualitas (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017: diakses pada 28 Februari 2. Selain dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagr. menyatakan, dalam mendukung peningkatan literasi di daerah. Kemendagri telah menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 18 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No 13 Tahun 2019 tentang Laporan dan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Dalam regulasi tersebut, pembangunan literasi diukur melalui dua indikator, yaitu. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Nilai Tingkat Gemar Membaca Masyarakat (TGM). Selanjutnya menurut Permendagri No 18 Tahun 2020, salah satu bentuk upaya Kemendagri dalam mendorong budaya literasi adalah dengan diterbitkannya Kepmendagri No 050-3708 Tahun 2020 tentang Hasil Verifikasi dan Validasi Pemutaakhiran Klasifikasi. Kodifikasi dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah. Regulasi tersebut bisa menjadi pedoman pemerintah daerah dalam menyusun APBD terkait perpustakaan dan literasi (Kementerian Dalam Negeri, 2021: diakses pada 28 Februari 2. Selain dari literasi untuk menanggulangi hoaks. Indonesia juga memiliki undang-undang yang mengatur tentang hukuman bagi pelaku penyebaran hoaks. Menurut hukumonline. com, seseorang dapat dipidana menurut UU ITE tergantung dari muatan konten yang disebarkan, selain yang bertujuan untuk menyesatkan konsumen, seperti: Jika berita bohong bermuatan kesusilaan maka dapat dijerat pidana berdasarkan Pasal 27 ayat . UU ITE. Jika bermuatan perjudian maka dapat dipidana berdasarkan Pasal 27 ayat . UU ITE. Jika bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dipidana berdasarkan Pasal 27 ayat . UU ITE. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. Jika bermuatan pemerasan dan/atau pengancaman dipidana berdasarkan Pasal 27 ayat . UU ITE. Jika bermuatan menimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA dipidana berdasarkan Pasal 28 ayat . UU ITE. Jika bermuatan ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi dipidana berdasarkan Pasal 29 UU ITE. Selanjutnya. Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (Au 1/1946A. juga mengatur mengenai berita bohong yakni: Pasal 14 Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun. Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi- tingginya tiga Pasal 15 Barangsiapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidaktidaknya patut dapat menduga bahwa kabar demikian akan atau sudah dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi, tingginya dua tahun (Saufa Ata, 2021: diakses pada 28 Februari 2. Jadi, pemerintah memiliki upaya menanggulangi hoaks dengan cara gerakan literasi nasional, peraturan meneteri dalam negeri tentang peningkatan literasi, dan melalui undang-undang. LITERASI DIGITAL MILENIAL UNTUK INDONESIA DAMAI Teknologi komunikasi dalam perkembangannya mencakup semua dan semakin lama semakin mengintegrasikan layanan yang membuka kesempatan berinteraksi dari segala penjuru dunia. Jika dulu semua terjadi dengan sederhana, maka sekarang semua terjadi semakin kompleks dengan bantuan teknologi yang semakin cepat (Sapta, 2019: . Tidaklah heran kemudian jika sejak masih berada di bangku sekolah dasar sudah mengenal dengan internet dan melakukan berbagai kegiatan yang menggunakan internet (Frederik,. 2020: . Literasi Digital Milenial adalah sebuah solusi tepat untuk penanganan hoaks keagamaan di Indonesia. Literasi digital milenial memiliki slogan AuDari Milenial untuk Masyarakat IndonesiaAy. Slogan tersebut memiliki makna bahwa. Milenial haruslah berperan aktif dalam penanganan hoaks keagamaan, demi terwujudnya penurunan hoaks keagamaan di Indonesia, terciptanya negara yang aman dan bersatu, dan lainnya. Hal tersebut dikarenakan jika generasi milenial sudah cerdas, maka peluang masyarakat Indonesia untuk menjadi cerdas Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial juga akan semakin besar karena populasi masyarakat Indonesia didominasi oleh generasi milenial. Hal tersebut sejalan dengan keterangan dari narasumber. Tuhu Nugraha. Penyebab berita hoaks mudah berkembang, yaitu karena membuat dan mendistribusikan informasi sangatlah mudah dan murah. Sehingga, semua orang bisa membuat dan menyebarkan informasi. Padahal, dampak berkembangnya hoaks sangatlah berbahaya, yaitu memicu kemarahan dan keresahan masyarakat. Sang pembuat dan penyebar berita hoaks sangat tahu memetakan hot spot dari audiens. (Tuhu Nugraga. Pengamat Digita. Khususnya dalam hoaks keagamaan. Indonesia menjadi tempat yang sangat startegis untuk menyebarkan isu tersebut karena agama menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas seorang individu. Sementara. Indonesia adalah negara yang majemuk. Ketika sebuah isu bertemu dengan hot spot seseorang maka orang tersebut menjadi tidak rasional, tidak akan mengecek kebenaran berita dan informasi. Pada nyatanya, orang tersebut langsung membagikan informasi tersebuh, dan memicu kemarahan pada penerima informasi. Hal tersebut sangatlah berbahaya dan memicu Oleh karena itu diperlukan solusi melalui literasi. Solusi dalam penanganan hoaks keagamaan yaitu dengan literasi Semua individu dari generasi manapun perlu diedukasi bahwa informasi di media sosial itu bisa dibuat oleh siapa saja, kapan saja, dan informasi tersebut belum tentu benar. Setiap individu seharusnya melakukan check and recheck untuk membandingkan informasi yang Terlebih lagi, kalau informasi tersebut berasal dari sumber media non mainstream karena cenderung lebih anarkis. Pada media non mainstream tidak ada etika dan asosiasi yang mengawasi. Tidak ada standar kompetensi saat peliputan dan mengunggah konten. (Tuhu Nugraha, pengamat digita. Ketika mendapatkan sebuah informasi yang berasal dari sumber meragukan dan penerima informasi menjadi ragu-ragu, maka lebih baik berhenti pada diri sendiri dan tidak perlu dibagikan. Akan tetapi, sering kali seseorang marah apabila telah dibilang membagikan hoaks karena niatnya hanya untuk membagikan informasi. Banyak orang lupa ketika membagikan informasi maka juga harus bertanggung jawab atas konsekuensi yang mungkin terjadi ketika orang lain menerima informasi Saat seseorang membagikan informasi hal tersebut akan berdampak positif atau berguna, jika informasi tersebut benar adanya. Namun, jika informasi tersebut adalah hoaks atau menyesatkan maka dapat menyebabkan orang lain marah dan terjadi kerusuhan. Hal lain yang penting adalah, membaca informasi dari media yang dapat dipercaya dan juga pendapat yang dikemukakan oleh para ahlinya. Media yang dapat dipercaya, yaitu media mainstream karena media mainstream menyajikan informasi dengan SOP tertentu, terdapat skill dan Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. etika yang dipegang, serta reputasi media yang harus dijaga. Media mainstream contohnya stasiun televisi, media cetak, dan media online yang Selanjutnya, jika sudah diisebut sebagai ahli, maka seseorang itu harus memenuhi beberapa syarat. Diantaranya, kompetensi pengetahuan dan keilmuannya, serta terkait dengan pengalaman dan jam terbang, dan yang terakhir adalah pengakuan dari komunitas atau rekan sesama di Jadi, seseorang yang hanya sekedar terkenal, bukan berarti orang tersebut sudah ahli. Hal tersebut penting untuk dipahami karena saat ini sangat banyak yang self proclaim. Peran milenial sangat dibutuhkan untuk menangani kasus hoaks Mulai dari diri sendiri untuk lebih hati-hati dan melakukan check and recheck ketika mendapatkan informasi. Kemudian, selalu mengingatkan di kanal yang dimiliki masing-masing agar semua mempunyai kemampunyai literasi yang baik. (Tuhu Nugraha. Pengamat Digita. Selaras dengan hasil wawancara bersama seorang pengamat media sosial, upaya penanganan hoaks keagamaan sangat tepat melalui literasi digital milenial, dan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, milenial cerdas tulisan, seperti yang kita ketahui bahwa informasi hoaks yang beredar di sosial media, banyak yang berbentuk tulisan. Misalnya, dalam pesan berantai WhatsApp dan caption postingan pada sosial media. Generasi milenial haruslah dapat mencari kebenaran pada informasi yang berbentuk tulisan tersebut. Contohnya, kita mendapatkan informasi tentang AuPembakaran AlQuran oleh seorang NasraniAy. Jika kita melihat informasi tersebut, pastinya aka nada rasa amarah yang timbul. Pada akhirnya, akan terjadi perpecahan antar umat beragama, khususnya orang-orang muslim yang tidak terima dengan perilaku tersebut. Akan tetapi, sebagai seseorang yang cerdas, informasi tersebut haruslah di cek kebenarannya. Kita dapat memakai kata kunci AuPembakaran Al-QuranAy. AuAl-Quran dibakarAy. AuNasrani membakar Al-QuranAy, dan lainnya. Selanjutnya buka website turnbackhoax. id atau com, masukan kata kunci dalam kolom pencarian, maka akan didapatkan hasil informasi yang menejalskan bahwa berita itu hoaks Selain melalui website tersebut, kita dapat mengecek kebenarannya melalui Instagram @turnbackhoax. Di Instagram tersebut banyak informasi hoaks yang sudah diperjelas agar tidak ada yang keliru. Selain itu, kita haruslah membiasakan membaca pesan sampai habis, agar tidak ada informasi yang menggantung. Kedua, milenial cerdas gambar, sangat banyak informasi hoaks yang disebarkan dalam bentuk gambar. Misalnya, gambar masjid yang sedang terbakar dan diisukan dibakar oleh umat agama lain. Padahal, bisa saja masjid tersebut terbakar karena bencana kebakaran atau hal lain. Kita dapat mengecek kebenaran informasi tersebut melalui Google Image. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial Simpanlah informasi gambar yang didapat. Selanjutnya, klik icon AucameraAy yang terdapat di google Image, maka informasi yang diinginkan akan segera Jika hasil penelusuran gambar serupa itu banyak, cek-lah Ketiga, milenial cerdas link, pengguna instant messenger pasti sudah tidak asing lagi dengan link yang banyak dibagikan pada pesan berantai WhatsApp. Link tersebut dapat berupa phissing. Pencurian data dan informasi sangatlah mudah dilakukan dengan hanya satu klik pada link Jika kita terlanjur membuka link tersebut, hindarilah memasukkan data-data pribadi yang bersifat rahasia dan sensitif. Keempat, milenial cerdas domain, trik ini adalah hal yang sering dilakukan oleh penipu. Menyamarkan domain seakan-akan itu adalah domain yang resmi dari suatu perusahaan. Contohnya, pastinya kita pernah menemui website seperti amazon. Biasanya domain yang resmi cenderung menggunakan (. atau (. Para pengguna sosial media haruslah teliti dengan domain yang biasanya terletak di akhir link. Hal tersebut dikarenakan domain tersebut sangatlah mudah membuat keliru. Kelima, milenial cerdas kenali ciri-ciri hoaks. Pada dasarnya, informasi hoaks biasanya sengaja diciptakan untuk kepentingan dan keuntungan tertentu, judul berita yang heboh dan membuat kepanikan, konten berita yang bersifat provokatif dan menyesatkan pembacanya, sumber berita yang tidak jelas, dan lainnya (Hamzah & Putri, 2020: . Selanjutnya yang terakhir, yaitu milenial cerdas saring sebelum sharing. Setelah kita mengetahui tentang cara pertama sampai kelima, ujung tombak dari segala cara yaitu kita haruslah melaksanakan saring dengan kelima cari tersebut, barulah kita dapat sharing informasi terhadap orang Adanya literasi digital milenial, dibuat dengan tujuan sebagai upaya preventif penanganan hoaks. Sebelum berita hoaks semakin banyak menyebar, maka perlunya upaya yang bernama AuLiterasi Digital MilenialAy. Seperti anjuran dalam Al-Quran untuk kita agar tidak langsung mengikuti informasi yang belum kita ketahui kebenarannya. Anjuran tersebut terdapat dalam surat Al-Isra ayat 36: U ia I EOea EEa a aN eaEIa ia ua acIa E eacIa O eEAa O eEa aEEa a OEeaEa EIa eINaa IeAA aAOEA a AOEa eCA Artinya: AuDan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu Karena pendengaran, penglihatan, dan hati Nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannyaAy. Di dalam Tafsir Jalalain Jilid 1, menjelaskan Dan janganlah kamu mengikuti atau menuruti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati yakni kalbu semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya, yaitu apakah yang diperbuat dengannya?(Al-Mahalli dan As-Suyuti, 1. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. Setiap individu perlu memahami bahwa kemampuan dalam literasi digital merupakan hal pokok dalam era globaliasi dalam keterbukaan akses sosial media. Menjadi generasi literat berarti dapat memproses berbagai informasi, dapat memahami pesan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk. Kesadaran berpikir kritis akan timbul jika kita sudah mampu menjadi menerapkan literasi digital milenial dalam menggunakan sosial media (Nasrullah, et. al, 2017: . Berbicara mengenai literasi digital milenial, tentunya dilaksanakan untuk tujuan kerukunan. Moderasi beragama merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan. Pilihan pada moderasi yaitu dengan menolak radikalisme dan liberalism dalam beragama adalah kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban. Demi terwujudnya moderasi beragama, salah satu solusi kuatnya yaitu dengan peningkatkan kemampuan literasi digital terutama pada diri generasi milenial (Romly, 2020: . Hoaks keagamaan seringkali memunculkan kasus yang mengkaitkan dengan Islam. Misalnya radikalisme, terorisme, dan lainnya. Padahal. Islam adalah agama rahmata lilAoalamin. Islam hadir membawa kerahmatan bagi seluruh alam. Islam pun diidentifikasikan sebagai suatu kepatuhan atau ketundukan (Direktoral Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, 2018: . Oleh karena itu, tidaklah mungkin Islam mengajarkan hal yang tidak sesuai dengan yang ada di dalam Al- Quran, kecuali untuk orang-orang yang mau merugi. Literasi digital pun sangat selaras dengan potongan ayat Al-Quran pertama yang turun, yaitu AuIqraAy atau bacalah. KESIMPULAN Penyebaran hoax menjadi tantangan di tengah perkembangan media Salah satunya hoax seputar keagamaan. Oleh karena itu perlu adanya literasi digital. Sayangnya Indeks literasi digital berada pada kondisi yang Berdasarkan data dari Katadata Insight Center. Literasi digital baru mampu mencapai skor AusedangAy . ataupun Aubelum baikAy. Sub-Indeks Informasi dan Literasi Digital memiliki skor paling rendah yaitu sebesar 3,17. Padahal Islam telah mengatur dengan baik melalui Alquran tekait larangan menyampaikan berita yang tidak bernar sebagaimana yang tercantum dalam surat An-Nur ayat 11 dan surat An-Nahl ayat 105, adalah ayat yang berisi larangan dalam menyebarkan berita hoaks. Kedua ayat tersebut menjelaskan tentang azab yang pedih bagi para pembawa berita Kemudian, generasi milenial sebagai generasi yang memiliki peranan penting dalam bangsa, agama, dan negara. Generasi tersebut mengalami problematika yang cukup krusial dalam kemampuan literasi Berdasarkan dari Katadata Insight Center. Generasi milenial memiliki skor indeks paling tinggi yaitu sebesar 25%, dibandingkan dengan generasi Z dan generasi X. Namun, faktanya semakin tinggi literasi digital, maka kemampuan mencerna beritao nline dan tidak menyebarkan berita Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial akan semakin rendah. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya pemahaman yang benar dalam literasi digital. Untuk menjawab problematika ini, generasi milenial dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya preventif melalui literasi. Pemerintah sebenarnya telah berusaha untuk meningkatkan kegiatan literasi di Indonesia. Misalnya, melalui Gerakan Nasional Literasi. Kebijakan Kemendagri, dan peraturan perundangundangan. Akan tetapi, cara tersebut belum efektif karena tidak melibatkan generasi milenial atau generasi muda didalamnya. Kehadiran generai milenial sangatlah dibutuhkan agar dalam menerapkan solusi untuk mengatasi permasalahan literasi. Diantaranya mengecek tulisan, gambar, link, domain, ciri-ciri hoaks, dan tidak lupa untuk menggunakan prinsip Ausaring sebelum sharingAy. Demi tercapainya gagasan tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat beberapa rekomendasi. Pertama, sekolah sebaiknya membuat inovasi baru yaitu ekstrakulikuler berbasis detektif info. Benefit yang akan didapatkan siswa adalah dapat mengikuti perlombaan cek fakta, melatih berfikir kritis, melatih sikap selektif, dan lainnya. Selain itu, sekolah dapat membuat program yaitu setiap masa orientasi siswa, dapat dilakukan kegiatan seminar anti hoaks bagi siswa-siwa baru. Kedua, pemerintah dapat mengajak generasi milenial membuat suatu komunitas resmi cek fakta yang dinaungi oleh pemerinta. Komunitas tersebut dapat diisi oleh generasi Sesuai dengan slogan literasi digital milenial, yaitu AuDari Milenial untuk Masyarakat Indonesia. REFERESI BUKU Satu Penulis Az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir (Aqidah. Syariah. Manha. (Alfaatihah - Al- Baqara. Juz 1 & 2. Darul Fikr. Mashudi. Telaah Tafsir Al-Muyassar Jilid 1. Intelegensia Media. Muhammad. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5. Pustaka Imam asySyafiAoi. Romly. Etika Pergaulan Umat Beragama (Aqidah TerjagaKerukunan Terpelihara. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Banten. Shihab. Tafsir Al-Misbah (Pesan. Kesan, dan Keserasian AlQura. Lentera Hati. Penulis dua atau tiga Al-Mahalli. , & As-Suyuti. Tafsir Jalalain Berikut ASBABUN NUZUL AYAT Surat Al-Fatihah s. Al-Isra Jilid 1. Sinar Baru Algesindo. Al-Mahalli. , & As-Suyuti. Tafsir Jalalain Berikut ASBABUN NUZUL AYAT Surat Al-Kahfi s. An-Nas 2. Sinar Baru Algesindo. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. Ali. , & Purwandi. THE URBAN MIDDLE-CLASS MILLENIALS INDONESIA: Financial and Online Behavior. Alvara Research Center. Penulis lebih dari tiga Nasrullah. Aditya. Satya. Nento. Hanifah. Miftahussururi, & Akbari. Materi Pendukung Literasi Digital (Gerakan Literasi Nasiona. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Sunarto. Tarjamah Shahih Bukhari. CV. Asy Syifa. Penulis berupa tim atau lembaga Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI. Pedoman Pembinaan Korban Aliran dan Paham Keagamaan di Indonesia. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI. Katadata Insight Center & Kementerian Komunikasi dan Informatika. Indeks Literasi Digital. Katadata Insight Center & Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Pusat Statistik. Profil Generasi Milenial Indonesia (Badan Pusat Statisti. Kementerian Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. SERIAL Artikel Jurnal Gasa. , dkk. Literasi Media sebagai Kunci Sukses Generasi Digital Natives di Era Disrupsi Digital. Jurnal Pustaka Komunikasi, 03. , 82. Hamzah. , & Putri. Mengenal dan Mengantisipasi Hoax di Media Sosial pada Kalangan Pelajar. Jurnal Abdi MOESTOPO, 03. , 11. Sari. Sapta. Literasi Media pada Generasi Milenial di Era Digital. Jurnal Profesional FIS UNIVED, 06. , 39. Wawancara Nugraha. Tuhu. March . Personal Interview. PUBLIKASI ELEKTRONIK Admin Kementerian Dalam Negeri. Membangun Literasi Perlu Dukungan Pemerintah Daerah. https://perpustakaan. id/membangun-literasi- perludukungan-pemerintah-daerah/. February 28, 2022. Aryadi. [Hoa. Konspirasi Komunis. Yahudi, dan Nasrani Manfaatkan Covid-19 Menghancurkan Islam. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Penanganan Hoaks Keagamaan di Sosial Media Melalui Literasi Digital Milenial http://cirt. id/verifikasi/detail/386konspirasikomunis-yahudi-dan-nasrani-manfaatkan-covid-19-untukmenghancurkan-islam. February 01, 2022 Badan Pusat Statistik. Berita Resmi Statistik (Hasil Sensus Penduduk https://w. id/pressrelease/2021/01/21/1854/hasil-sensuspenduduk- 2020. February 01, 2022 Gerogak. Berita Hoax Bulan April 2021. https://gerokgak. id/informasi/detail/berita/75-beritahoax- bulan-april-2021. February 01, 2022 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kilasan Gerakan Literasi Nasional. https://gln. id/glnsite/tentang-gln/. February 28. Kementerian Komunikasi dan Informatika. BNPT Minta Kominfo Blokir Situs Radikal. https://kominfo. id/index. php/content/detail/4627/BNPT Minta Kominfo Blo kir 22 Situs Radikal/0/berita_satker. January 29. Kementerian Komunikasi dan Informatika. Laporan Isu Hoaks (Periode September 2. In http://w. id (Issue Septembe. https://w. id/content/all/laporan_isu_hoaks. January 29, 2022. Kementerian Komunikasi dan Informatika. [HOAKS] Terjadi Lagi Pembunuhan Terhadap Muadzin. https://w. id/content/detail/17066/hoaksterjadilagi-pembunuhan-terhadap-muadzin/0/laporan_isu_hoaks. February 28, 2022. Kurniawan. Penafsiran Ayat-ayat Jihad yang Benar. https://islam. id/tafsir/penafsiran-ayat-ayat-jihad-yang-benarqQ08f. February 01, 2022. Polda Bengkulu. Sepanjang Tahun 2021. Polri Berhasil Amankan Tersangka Teroris. https://humas. id/2021/12/25/sepanjang-tahun-2021-polriberhasil-amankan-370-tersangka-teroris/. January 30, 2022. Taqiyya. Pasal untuk Menjerat Penyebar Hoax. https://w. com/klinik/a/pasal-untuk-menjeratpenyebar-ihoax- lt5b6bc8f2d737f. February 28, 2022. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94 Munabiah Lestari, et al. Taylor. Paul and Scot Keeter. AuMillenials: A Potrait of Generation NextAy. Pew Research Center . org/millenials Yunus. 7 Persoalan Masyarakat Akibat Tingkat Literasi Rendah. https://w. com/amp/s/m. com/amp/syarifyunus/7persoalan-masyarakat-akibat-tingkat-literasi-rendah1rjXYC5fad. February 28, 2022. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2023: 68-94