KEMAMPUAN ANAK PENDERITA AUTIS DALAM MEMAHAMI TINDAK TUTUR DIREKTIF: TINJAUAN PRAGMATIK KLINIS Nurul Fitrah Yani Program Studi Administrasi Bisnis. Politeknik Informatika Nasional LP3I Makassar Jl. Perintis Kemerdekaan. Makassar E-mail: nurulfitrahyani@ymail. Abstract. The Ability Of Chil dren With Autism In Comprehending The Directi ve S peech Acts: Prag matik Review Of Clinical. The aim of the study were to . describe the ability of autistic children to ko mprehend direct ive speech, and . describe the ab ility of autistic ch ild ren to produce directive speech. This research was a case study with qualitative descriptive anlysis. Located at Bunda Autistic School at Makassar. The data resource were three children and supervisory teacher as a key informer. The research was conducted for two months from February to April 2014. The result of reseach indicated that . almost all forms o f nonverbal responses performed, especially by children with autis m, were characterized by moderate and severe (AAS and AAB)autistics. Verbal response can only be performed by autistics with mild characreristic. AAS. the AAR autistic children had good ability to explain half of the existing category in performing direct speech. AAS had good enough ability and was able to explain some of existing category, but not more then AAR, the ability of AAB in exp lain ing TTD was lo w and limited. From the existing category, the AAB was only able to produce of TTD in one case only. Abstrak. Kemampuan Anak Penderita Autis dalam Memahami Tindak Tutur Direktif: Tinjauan Prag matik Klinis. Penelit ian in i bertujuan . mendeskripsikan kemampuan anak penderita autis dalam memahami . o mprehens. tindak tutur direkt if, dan . mendeskripsikan kemampuan anak penderita autis dalam bertindak tutur direkt if . Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan analisis deskriptif kualitatif. Lokasi penelit ian d i Seko lah Autis Bunda. Su mber data adalah anak penderita autis yang berju mlah tiga orang anak ditambah seorang pembimb ing sebagai informan kunci. Durasi penelitian selama dua bulan, yakn i Februari hingga April tahun 2014. Hasil penelit ian ini menunjukkan bahwa . ) kemampuan anak penderita autis dalam menerima t indak tutur direktif hamp ir keseluruhan bentuk tanggapan dilakukan secara nonverbal, khususnya bagi anak penderita autis yang berciri sedang (AAS) dan berat (AAB). Adapun yang berbentuk tanggapan berupa verbal hanya bisa dilaku kan oleh anak penderita autis yang berciri autis ringan (AAR). kemampuan anak penderita autis dalam merespons tindak tutur direktif, yakni AA R memiliki kemampuan yang baik dan mampu merespons seperdua dari kategori yang ada. AAS memiliki kemampuan yang cukup baik dan mampu merespons beberapa kategori dari kategori yang ada, akan tetapi tidak lebih banyak dibandingkan AAR. AAB dalam merespons TTD tergolong rendah dan terbatas. Dari kategori yang ada. AAB hanya mampu memproduksi TTD pada satu wujud kategori saja. Kata kunci: Tindak Tutur Direktif Anak Penderita Autis. Pragmatik Klinis Anak penderita autis juga kesulitan untuk mengembangkan percakapan interaktif. Hal ini terjadi karena gejala autise membuat mereka kesulitan memahami dan memprediksi pikiran dan perasaan orang lain. Mereka menganggap suatu proses berganti mendengarkan dan menjelaskan adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Mereka tidak tahu mana yang harus fokus didengarkan dan bagaimana cara merespon balik pembicaraan rekan Adanya gangguan atau penyakit bawaan pada anak penderita autis menyebabkan terganggunya sistem komunikasi yang terjalin dalam sebuah interaksi. Salah satu bentuk interaksi dalam sebuah komunikasi yang Jurnal Retorika. Volume 10. Nomor 1. Februari 2017, hlm. 1Ai71 dilakukan oleh manusia adalah tuturan . indak tutu. (Nadar, 2. Tindak tutur dapat juga dikatakan sebagai suatu tindak bahasa atau speech act yang merupakan bagian dari peristiwa tutur atau speech event. Tindak tutur merupakan suatu gejala individual yang bersifat psikologis, di mana keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam mengha-dapi situasi tertentu (Chaer, 2. Dalam penelaahannya, pragmatik meliputi aspek penutur, mitra tutur, tujuan tutur dan tuturan sebagai kegiatan tindak tutur, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Mitra tutur berarti orang yang berinteraksi atau berkomunikasi dengannya, tujuan tutur adalah maksud penutur mengungkapkan sesuatu, sedangkan tuturan adalah bentuk tindak tutur atau produk suatu tindak tutur (Dardjowidjojo, 2. Tujuan tutur adalah maksud anak-anak tersebut mengucapkan sesuatu dan tindak tutur adalah produk ujaran yang diproduksi oleh anak-anak tersebut. Sementara itu, kaitannya dengan performansi kemampuan anak meliputi kemampuan memahami dan kemampuan penerbitan bahasa. Kemampuan memahami adalah kemampuan seorang anak dalam mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar-nya, termasuk di dalamnya adalah kemampuan untuk memahami tindak tutur (Leech, 2. Lahey persoalan anak yang mengalami kerusakan bahasa khusus dalam memisahkan bentuk dari isi dan penggunaan, sehingga defisit sintaksis dapat terjadi dengan adanya semantik dan pragmatik yang utuh. Selanjutnya menurut (Craig, 1. , berusaha mengajukan sebuah perspektif interaksionis dalam ulasannya tentang defisit pragmatik pada kerusakan bahasa khusus. Mendefinisikan pragmatik klinis sebagai studi tentang cara penggunaan bahasa seseorang dalam berkomunikasi yang menga-lami kekacauan pragmatik. Kekacauan prag-matik berhubungan dengan faktor kognitif dan linguistic (Cummings, 2. Dalam semua komunikasi kebahasaan terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan hanya sekadar lambang, kata atau kalimat (Searle, 1. Ithriyah . , meneliti tentang efektivitas terapi applied behavioral analysis anak berkebutuhan khusus dengan ciri autis: suatu kajian psikolinguistik. Hasil penelitian menun- jukkan bahwa model terapi ABA efektif digunakan dalam peningkatan bahasa anak autis. Hal ini terbukti dengan meningkatnya stimulus yang diberikan oleh para terapis, yaitu dengan adanya peningkatan dalam penguasaan kosakata pada anak penderita autis. Anak autis rata-rata memiliki perkembangan bahasa setelah memperoleh terapi pembelajaran metode ABA. Setelah diberikan penerapan metode ABA, rata-rata kemampuan berbahasa anak autis mening-kat dengan adanya satu atau dua kali tindakan pembelajaran dengan penilaian sempurna. Pada penelitian lain, peneliti menemukan juga adanya sebuah hasil penelitian yang membahas tentang tindak tutur direktif dalam wacana kelas yang diteliti oleh Etikasari . Yuniarti . , berjudul kompetensi tindak tutur direktif anak usia pra sekolah . ajian pada kelompok bermain anak cerdas P2PNFI regional II Semarang menunjukkan bahwa dalam menanggapi atau merespon TTD, anak usia prasekolah melakukannya dalam dua bentuk utama yaitu mengiyakan atau menolak dengan melakukannya secara verbal dan non verbal, ada perkembangan yang terjadi pada pemahaman anak yaitu bentuk penolakan secara langsung sudah tidak terjadi lagi. Mereka lebih banyak menggunakan penolakan secara tidak langsung untuk meminimalkan ancaman, pada proses penerbitan TTD oleh anak usia prasekolah ada dua tipe dasar yang muncul yaitu tipe memerintah dan melarang, terdapat kaitan antara usia dengan strategi kesantunan, strategi kesantunan direktif. Berdasarkan uraian di atas dan dengan adanya berbagai fenomena yang terjadi sehingga perlu dilakukan penelitian secara mendalam terhadap masalah yang ada dan pentingnya akan manfaat yang ditimbulkan bila hal tersebut untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap berbagai fenomena gangguan kebahasaan tersebut dengan menggu-nakan suatu pendekatan teori pragmatik klinis. Penanganan masalah atau gangguan-gangguan bahasa tentunya dapat terpecahkan dengan menggunakan tinjauan pragmatik klinis, yaitu dengan memfokuskan terhadap salah satu gangguan kebahahasaan yang terjadi pada penderita autis yaitu pada spesifikasi tindak tutur direktif. Tujuan dari penelitian ini, yaitu mendeskripsikan kemampuan anak penderita autis dalam memahami . tindak tutur Nurul Fitrah Yani. Kemampuan Anak Penderita Autis dalam memahami Tindak Tutur Direktif METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan analisis deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif ini bertolak pada sebuah realita penggambaran yang terjadi di lapangan, yaitu bahasa yang berupa tuturan . indak tutur direkti. yang terjadi atau yang berlangsung dalam sebuah komunikasi antara objek yang Metode kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai tindak tutur direktif anak penderita autis dengan menggunakan tinjauan pragmatik klinis. tidak dapat terekam dan dapat dides-kripsikan, seperti suasana percakapan, mimik, gerakan tubuh, dan hal yang dapat mempengaruhi tuturan objek yang bersang-kutan, yaitu tururan direktif yang terjadi antara pembimbing dengan anak penderita autis Definisi Operasional Penelitian ini dilakukan di SLB Negeri Makassar, yaitu SLB Autis Bunda yang terletak di Sudiang. Penelitian ini berlangsung selama dua bulan, yakni Februari hingga April tahun Definisi operasional pada penenitian ini, yaitu kemampuan adalah kecakapan atau potensi seseorang individu untuk menguasai keahlian dalam melakukan atau mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan atau suatu penilaian atas tindakan seseorang, tindak tutur direktif merupakan tindak ujaran yang dila-kukan penuturnya dengan maksud agar mitra tutur melakukan apa yang ada dalam ujaran tersebut . isalnya: menyuruh, memohon, meminta, menuntu. , anak penderita autis yaitu anak penderita autis yang ada di SLB Autis Bunda, kemampuan memahami yaitu kemampuan anak penderita autis dalam memahami TTD, baik secara verbal maupun nonverbal. Sumber Data Analisis Data Sumber data dalam penelitian adalah hasil interaksi baik berupa tindakan maupun tuturan, yaitu tuturan . indak tutur direkti. dari penutur dan petutur. Sumber data juga diperoleh dari hasil wawancara dari para informan, yaitu pembimbing yang berhubungan langsung dengan anak penderita autis. Analisis dilakukan dengan menganalisis data yang telah terkumpul. Data yang terkumpul dikelompokkan berdasarkan permasalahan yang ada, yang kemudian data-data yang terkumpul diuraikan sebagai suatu analisis. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, menyu-sunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu dilakukan sambil membuat koding dan kartu data. Tahap akhir dari analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. setelah selesai tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara. Lokasi dan Waktu Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, teknik wawancara, teknik rekam , dan teknik catat. Teknik observasi dilakukan dengan memper-hatikan tuturan direktif, baik berupa tuturan direktif berupa pemahaman maupun tuturan direktif berupa respons yang berlangsung pada saat terjadi komunikasi antara pembimbing dan anak penderita autis. Teknik Wawancara dilakukan dengan pihak SLB Autis Bunda, yaitu pembimbing yang terkait tuturan direktif anak penderita Teknik rekam dilakukan dengan merekam segala bentuk tindak tutur direktif yang terjadi di Sekolah antara pembimbing dengan anak penderita autis. Dalam teknik catat peneliti mencatat hal-hal di luar bahasa . yang HASIL PENELITIAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa strategi yang digunakan oleh anak penderita autis ketika merespons tuturan yang diberikan oleh pembimbingnya. Respons yang digunakan oleh anak penderita autis dalam TTD terdiri atas wujud mengiyakan, menolak, membantah, dan membiarkan. Sedangkan kemam- Jurnal Retorika. Volume 10. Nomor 1. Februari 2017, hlm. 1Ai71 puan dalam merespons TTD berwujud dalam kategori, yaitu memerintah, memohon, menyuruh, mendesak, mengajak, menuntut, dan meminta. Kemampuan Anak Penderita Autis Dalam Memahami TTD Respons TTD dalam bentuk mengiyakan dilakukan dengan cara: berikut hasil yang diberikan pada kategori mengiyakan dengan ujaran . indakan verba. : pada respons jenis ini, anak dengan serta merta melaksanakan tindakan sesuai apa yang diu-jarkan dalam TTD oleh Pembimbing, tanpa menghasilkan ujaran untuk Bentuk tindakan verbal, yaitu mengiyakan dilakukan dengan mengikuti intruksi TTD: (KTS . Pada saat hendak memulai pelajaran pembimb ing mengajak semua anak berdoa bersama-sama dan AAR d itunjuk untuk memimpin doa. : AuAyo berdoa!Ay AAR: (Mengajak temannya untuk berdo. dan mengatakan AuMari kita berdoaAy AAR: (Ikut bernyanyi dan menyanyikan lagu yang biasa dia nyanyika. Berikut hasil yang diberikan pada kategori menolak: tindakan menolak dilakukan dalam dua bentuk, yaitu menolak dengan ujaran . indakan verba. dan menolak tanpa ujaran . indakan nonverba. Berikut respons menolak dengan ujaran . indakan verba. Bentuk penolakan yang dilakukan secara verbal sebagai wujud respons dari AAR dilakukan sebagai berikut: (KTS . Ketika jam pelajaran AAR sedang asik bermain dengan telepon genggamnya, tiba-tiba pembimb ingnya mengambil telepon genggamnya. P : AuSini telepon genggamnya!Ay AAR: (Menolak untuk memberikan telepon genggamnya sambil men jerit dan berkata secara berulang-ulan. AuSaya tidak mauAtidak mauA tidak mau. Ay Bentuk penolakan yang dilakukan secara nonverbal, sebagai berikut: (KTS . Ket ika jam istirahat kondisi di ruang kelas sepi dan AAR selalu membu ka lemari pembimb ingnya dan mengeluarkan barangbarang yang ada di dalam lemari tersebut sehingga mendapat teguran dari : AuHey. JanganA, simpan kembali!Ay AAR: (Hanya diam dan tidak mengikuti pembimb ingnya, melakukan tindakan tersebu. Berikut pada kategori membiarkan: pada kategori membiarkan ini direspons oleh AAR denagn tindakan nonverbal, yaitu membiarkan ketika diberikan perhatian. Dapat dilihat pada contoh berikut: (KTS . Pada saat siswanya dalam kondisi agak kacau, pembimb ing selalu merealisasikan bentuk perhatiannya dengan memperhatikan segala hal, termasuk mengenai kerapian siswa. P : (Pemb imbing merapikan pakaian AAR dan mengajaknya bernyany. AAR: Hanya diam dan memb iarkan pembimbingnya merapikan pakaiannya. Kemampuan Anak Penderita Autis Dalam Merespons TTD Berikut respons yang diberikan dengan kategori memohon: (KTS . Pada saat pelajaran sedang berlangsung. AAR masih saja bermain dengan telepon genggamnya sehingga pembimbing menyita telepon genggam miliknya AAR: (Meringis dan memohon agar pembimbingnya memberikan telepon genggam Berikut respons yang diberikan pada kategori menyuruh: (KTS . Ket ika pelajaran keteramp ilan. AAR memilih untuk menggambar dan Pada saat menggambar AAR mengalami kesulitan kemud ian menyuruh pembimbing untuk membantunya. AAR: (Menarik tangan pembimb ingnya sambil merengek menyuruh pembimb ingnya untuk membuatkan gambar tersebu. Nurul Fitrah Yani. Kemampuan Anak Penderita Autis dalam memahami Tindak Tutur Direktif PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan menunjukkan bahwa kemampuan anak penderita autis dalam menerima tindak tutur direktif hampir keseluruhan bentuk tanggapan dilakukan secara nonverbal, khususnya bagi anak penderita autis yang berciri sedang (AAS) dan berat (AAB). Adapun yang berbentuk tanggapan berupa verbal hanya bisa dilakukan oleh anak penderita autis yang berciri autis ringan (AAR), kemampuan anak penderita autis dalam merespons tindak tutur direktif, yakni AAR memiliki kemampuan yang baik dan mampu merespons seperdua dari kategori yang ada. AAS memiliki kemampuan yang cukup baik dan mampu merespons beberapa kategori dari kategori yang ada, akan tetapi tidak lebih banyak dibandingkan AAR. kemampuan AAB dalam merespons TTD tergolong rendah dan Pada respons jenis ini, anak dengan serta merta melaksanakan tindakan sesuai apa yang diujarkan dalam TTD oleh Pembimbing, tanpa menghasilkan ujaran untuk meresponsnya. Bentuk tindakan verbal, yaitu mengiyakan dilakukan dengan mengikuti intruksi TTD: (KTS . Pada saat hendak memu lai pelajaran pembimb ing mengajak semua anak berdoa bersama-sama dan AAR d itunjuk untuk memimpin doa. P: AuAyo berdoa! Au AAR: (Mengajak temannya untuk berdo. dan mengatakan AuMari kita berdoaAy AAR: (Ikut bernyanyi dan menyanyikan lagu yang biasa dia nyanyika. Pada contoh di atas. AAR mampu memberikan respons dengan sangat baik, bahkan respons itu mampu dilakukannya dalam bentuk tindakan dan ujaran. Ketika hendak memulai pelajaran, kebiasaan yang sering dilakukan di dalam kelas adalah berdoa. Dengan adanya kebiasaan seperti pada (KTS . , yaitu pembimbing memberikan TTD perintah untuk berdoa dan AAR langsung paham dan melakukan sesuai dengan apa yang diperin-tahkan Berikut hasil pembahasan pada kategori menolak menolak: Tindakan menolak dilakukan dalam dua bentuk, yaitu menolak dengan ujaran . indakan verba. dan menolak tanpa ujaran . indakan nonverba. Berikut respons menolak dengan ujaran . indakan verba. Bentuk penolakan yang dilakukan secara verbal sebagai wujud respons dari AAR dilakukan sebagai berikut: (KTS . Ketika jam pelajaran AAR sedang asik bermain dengan telepon genggamnya, tiba-tiba pembimb ingnya mengambil telepon genggamnya. P : AuSini telepon genggamnya!Ay AAR: (Menolak untuk memberikan telepon genggamnya sambil men jerit dan berkata secara berulang-ulan. AuSaya tidak mauA tidak mauA. tidak mau. Ay Pada contoh di atas merupakan wujud respons menolak yang dilakukan oleh AAR. Sikap memberontak yang dilakukan oleh AAR sebagai wujud dari respons menolak terhadap sesuatu yang tidak dia kehendaki atau sukai. Situasi yang melibatkan dia bertentangan dengan apa yang ada dalam hasratnya. Berikut hasil pembahsan pada kategori Pada kategori membiarkan ini direspons oleh AAR denagn tindakan nonverbal, yaitu membiarkan ketika diberikan perhatian. Dapat dilihat pada contoh berikut: (KTS . Pada saat siswanya dalam kondisi agak kacau, pembimb ing selalu merealisasikan bentuk perhatiannya dengan memperhatikan segala hal, termasuk mengenai kerapian siswa. P: (Pembimb ing merapikan pakaian AAR dan mengajaknya bernyany. AAR: Hanya diam dan memb iarkan pe mbimbingnya merapikan pakaiannya. Pada contoh di atas, bentuk respons yang diberikan oleh AAR menunjukkan sebuah tindakan, yaitu AAR menerima dengan baik Sikap penerimaan TTD yang diberikan kepadanya. Tindakan menerima TTD tersebut ditandai dengan sikapnya yang tidak risau atas tindakan TTD yang diberikan kepadanya dan membiarkan proses tersebut terus berlangsung. Tindakan Pembimbing terhadap AAR merupakan sebuah tindakan input bagi AAR dan tidak mengganggunya. Jurnal Retorika. Volume 10. Nomor 1. Februari 2017, hlm. 1Ai71 Kemampuan Anak Penderita Autis Dalam Merespons TTD. Berikut hasil pembahasan respons pada kategori memohon: (KTS . Pada saat pelajaran sedang berlangsung. AAR masih saja bermain dengan telepon genggamnya sehingga pembimbing menyita telepon genggam miliknya AAR: (Meringis dan memohon agar pembimb ingnya memberikan telepon genggam milikny. Pada contoh di atas merupakan wujud TTD yang terjadi sewaktu pembimbing menyita telepon genggam AAR yang sedang asyik Ketika pembimbing menyita telepon genggam AAR, terjadi tindakan penolakan, yaitu AAR tidak menyukai tindakan tersebut sehingga dia meringis dan memohon agar pembimbingnya memberikan kembali telepon genggam miliknya. Menyuruh (KTS . Ket ika pelajaran keteramp ilan. AAR memilih untuk menggambar dan Pada saat menggambar AAR mengalami kesulitan kemud ian menyuruh pembimbing untuk membantunya. AAR: (Menarik tangan pembimb ingnya sambil merengek menyuruh pembimb ingnya untuk membuatkan gambar tersebu. Pada contoh di atas, digambarkan mengenai kemampuan AAR dalam merespons TTD. Kemampuannya dalam melakukan tinda-kan sebagai wujud dalam merespons TTD dapat dikatakan sudah baik dapat dilihat pada contoh tersebut, yaitu AAR memilki keteram-pilan yang cukup bagus, termasuk dalam hal menggambar dan mewarnai KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data di bagian pembahasan, maka dapat dikemukakan simpulan, yaitu . kemampuan anak penderita autis dalam menerima tindak tutur direktif hampir keseluruhan bentuk tanggapan dilaku-kan secara nonverbal, khususnya bagi anak penderita autis yang berciri sedang (AAS) dan berat (AAB). Adapun yang berbentuk tang-gapan berupa verbal hanya bisa dilakukan oleh anak penderita autis yang berciri autis ringan (AAR). kemampuan anak penderita autis dalam merespons tindak tutur direktif, yakni AAR memiliki kemampuan yang baik dan mampu merespons seperdua dari kategori yang ada. AAS memiliki kemampuan yang cukup baik dan mampu merespons beberapa kategori dari kategori yang ada, akan tetapi tidak lebih banyak dibandingkan AAR. kemampuan AAB dalam merespons TTD tergolong rendah dan Dari kategori yang ada. AAB hanya mampu memproduksi TTD pada satu wujud kategori saja DAFTAR PUSTAKA