Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 1. Tahun 2022. Halaman 48-56. E-ISSN 2579-6291. Tingkat Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Panjang Larva Ikan Kakap Putih (Lates calcarife. Dengan Suhu Pemeliharaan Yang Berbeda Kartika Dewi Cahyani 1. Muzahar1. Wiwin Kusuma Atmaja Putra1 Jurusan Budidaya Perairan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Maritim Raja Ali Haji INFO NASKAH Kata Kunci: Suhu. Ikan kakap putih. Lates ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisaran suhu media pemeliharaan yang optimal terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan kakap putih. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium biologi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji. Ikan uji yang digunakan adalah larva ikan kakap putih berumur 3 hari yang dipelihara dalam 13 akuarium dimana satu akuarium khusus untuk pengamatan organ. Akuarium yang digunakan berukuran 25x25x35 cm diisi air sebanyak 10 liter dengan kepadatan 5 ekor/liter. Perlakuan suhu yang dilakukan yaitu P1 . AC). P2 . AC). Kontrol . AC), dan P4 . AC) dengan 3 kali ulangan. Rancangan yang digunakan rancangan acak Larva diberi pakan rotifera menggunakan metode abliditum dengan frekuensi 3 kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan larva ikan kakap putih menghasilkan laju pertumbuhan panjang dan kelangsungan hidup sebesar 4,99 mm dan 28,67% pada suhu optimal 32AC Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : Fax. Email: kartikadewicahyani15@gmail. muzahar@umrah. id, wiwinbungo@yahoo. Survival Rate And Length Growth Of White Snapper (Lates calcarife. Larvae With Different Rearing Temperatures Kartika Dewi Cahyani 1. Muzahar1. Wiwin Kusuma Atmaja Putra1 Department of Aquaculture. Faculty of Marine and Fisheries Sciences. Raja Ali Haji Maritime University ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords This study aims to determine the optimal temperature range of rearing media for the growth and survival of barramundi larvae. This research was conducted in the biology laboratory of the Faculty of Marine Sciences and Fisheries. Raja Ali Haji Maritime University. The test fish used were 3 day old white snapper larvae which were kept in 13 aquariums where one aquarium was specifically for organ The aquarium used is 25x25x35 cm filled with 10 liters of water with a density of 5 fish/liter. The temperature treatments were P1 . AC). P2 . AC), control . AC), and P4 . AC) with 3 replications. The design used was a completely randomized design. Larvae were fed rotifers using the abliditum method with a frequency of 3 times a day. The results showed that the white snapper larvae produced a length growth rate and survival rate of 4. 99 mm and 28,67 % at an optimal temperature of 32AC. Temperature. White snapper. Lates calcarifer Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : Fax. Email: kartikadewicahyani15@gmail. muzahar@umrah. id, wiwinbungo@yahoo. PENDAHULUAN Salah satu komoditi budidaya laut yang unggul di Indonesia ialah ikan kakap putih (Lates calcarife. Hal ini disebabkan ikan kakap putih mempunyai perkembangan relatif cepat, mudah dipelihara serta mudah menyesuaikan diri dengan area budidaya. Penyediaan benih yang cukup, baik dalam jumlah, waktu. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 1. Tahun 2022. Halaman 48-56. E-ISSN 2579-6291. ataupun kualitas menjadi aspek utama untuk menjamin kelangsungan usaha pembesaran ikan kakap putih. Fase paling kritis dalam memproduksi benih ikan merupakan fase larva hingga pasca larva ( benih ukuran 1- 3 c. Menurut Usman et al. , ( 2. , salah satu aspek lingkungan yang berpengaruh dalam pemeliharaan fase larva yaitu suhu. Bersumber pada hasil pemeliharaan larva di unit pembenihan rakyat, sesuai data petani ikan tingkat kelangsungan hidupnya di bawah 50% ( dari 300. 000 ekor larva jadi 20. 000Ae40. 000 eko. Hal ini paling utama diakibatkan oleh suhu yang tidak normal. Pada siang hingga sore hari suhu air bisa menggapai 28ACAe 30AC, namun pada malam sampai pagi hari temperatur air bisa turun sampai di bawah 25AC. Pola perubahan suhu tersebut akan berakibat langsung ataupun tidak langsung terhadap proses fisiologi yang selanjutnya akan mempengaruhi pertumbuhan serta kelangsungan hidup biota air yang dibudidayakan. Ikan kakap putih merupakan hewan ektotermal( poikiloterma. ialah suhu tubuh ikan kakap putih membiasakan suhu perairan( Masturah et al. , 2. Suhu merupakan salah satu parameter kualitas air yang sangat dominan terhadap kelangsungan hidup ikan, dan hampir setiap organisme yang hidup di dalamnya memiliki suhu optimum untuk kehidupannya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan suhu terhadap tingkat pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan kakap putih (Lates BAHAN DAN METODE Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan ditambah 1 ulangan untuk pengamatan organ. Perlakuan yang diberikan berdasarkan penelitian Kelabora . pada ikan mas, sebagai . Pemeliharaan larva ikan kakap putih dalam air bersuhu 26AC (P. Pemeliharaan larva ikan kakap putih dalam air bersuhu 28AC (P. Pemeliharaan larva ikan kakap putih dalam air bersuhu 30AC (P. Pemeliharaan larva ikan kakap putih dalam air bersuhu 32AC (P. Alat dan bahan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2. Tabel 1. Nama alat dan kegunaannya Nama alat Akuarium Heater Mesin aerator dan aerasi Mikroskop Jumlah 13 buah 16 buah 1 buah 1 buah Ember 10L Saringan 4 buah 1 buah Pipet tetes Alat kualitas air 1 buah 1 buah Kegunaan Untuk wadah pemeliharaan Untuk pemanas air Untuk penyuplai oksigen Untuk mengamati organ dan pengukuran panjang larva Untuk wadah cadangan air Untuk mengambil larva ikan kakap putih Untuk mengambil pakan alami Untuk mengukur pH. DO, salinitas dan suhu Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 1. Tahun 2022. Halaman 48-56. E-ISSN 2579-6291. Tabel 2. Nama bahan dan kegunaannya Nama alat Jumlah Larva ikan kakap putih 650 ekor Rotifera Kegunaan Sebagai hewan uji Sebagai pakan alami Prosedur Penelitian Prosedur yang akan dilakukan pada penelitian ini sebagai berikut : Persiapan Wadah Saat sebelum digunakan, seluruh wadah percobaan dibersihkan dengan metode menyikat pinggiran akuarium dengan busa kemudian dicuci dengan air serta dikeringkan selama 1 hari. Akuarium yang digunakan berukuran 25 x 25 x 35 cm. Setelah itu dicoba pengisian air keesokan harinya pada akuarium percobaan sebanyak 10 L. Persiapan Hewan Uji Ikan uji yang digunakan berupa larva ikan kakap putih berusia 3 hari sesudah kuning telur habis . asa post larv. yang diperoleh dari Balai Benih Ikan (BBI) Pengujan. Larva dipelihara pada suhu yang sesuai dengan tiap-tiap perlakuan dengan padat tebar larva 5 individu/ liter air Pergantian air Penggantian air dilakukan tiap 2 hari sekali sebanyak 30% dari total volume Air pengganti disediakan dalam akuarium cadangan dengan mutu air yang sama dengan air yang digantikan. Berikutnya aerator serta heater dipasang kemudian suhu diatur sesuai perlakuan yang diletakkan di ruangan ber- AC dengan suhu 26AC (Hasibuan et al. , 2. Pemberian Pakan Larva diberi pakan berupa rotifer dengan metode abliditum . ingga kenyan. dengan frekuensi 3 kali satu hari pada pagi hari, siang hari serta sore hari. Rotifera diperoleh dari Balai Benih Ikan (BBI) Pengujan. Rotifera diberikan dengan memakai pipet tetes sesuai dengan padat tebar larva pada akuarium. Rotifera diberikan sebanyak 5 ekor/ ml pada hari ketiga hingga hari kesepuluh, serta 10 ekor/ ml pada hari kesebelas hingga hari keempat belas. Rata- rata serapan rotifer dalam saluran pencernaan larva usia 3 serta 6 hari per hari berturut- turut adalah 9 serta 16 individu/ larva. Rotifera diberikan dengan memakai pipet tetes sesuai dengan padat tebar larva pada akuarium. Sampling Sampling meliputi pengukuran panjang, abnormalitas dan tingkat kelangsungan hidup larva yang dilakukan pada awal dan akhir penelitin dengan mengambil larva secara acak sebanyak 5 ekor, sedangkan pembentukan organ diamati pada saat larva berumur 3 hari, 5 hari, 9 hari dan 18 hari (Shadrin & Pavlov, 2. Sampling dilakukan dengan menggunakan mikrosop. Parameter Penelitian Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) Tingkat kelangsungan hidup . urvival rate/SR) adalah presentase jumlah ikan yang hidup selama pemeliharaan. Data diperoleh dengan cara sampling kemudian menghitung jumlah ikan pada akhir penelitian. Penghitungan tingkat kelangsungan hidup ikan menggunakan rumus di bawah ini (Effendie, 1. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 1. Tahun 2022. Halaman 48-56. E-ISSN 2579-6291. yasya yc = yasyayeo100 Keterangan : SR O Tingkat kelangsungan hidup (%) Nt O Jumlah ikan hidup pada akhir penelitian . No O Jumlah ikan pada awal penelitian . Pertumbuhan Panjang Mutlak Pertumbuhan panjang mutlak diukur menggunakan mikroskop. Ikan uji diletakkan dikaca preparat dan diukur melalui komputer yang terhubung dengan Menurut Effendie . pertambahan panjang dapat dihitung dengan menggunakan rumus : P = Pt Ae Po Keterangan : : Pertambahan panjang ikan : Panjang akhir ikan . : Panjang awal ikan . Kualitas Air Pengukuran parameter fisika-kimia air untuk mengetahui kualitas air sebagai media pemeliharaan selama penelitian. Parameter fisika-kimia air yang diamati setiap seminggu sekali yang meliputi pengukuran Ph. DO, salinitas dan amoniak. Pengukuran konsentrasi oksigen terlarut (DO) dilakukan dengan menggunakan DO-meter. Derajat keasaman pH diukur menggunakan pH-meter. Analisis Data Data pengamatan berupa pertumbuhan mutlak, dan kelangsungan hidup. Data dianalisis menggunakan ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% apabila ada perbedaan terhadap perlakuan dilanjutkan uji Beda Nyata Terkecil atau Lower Significance Different. Analisis dilakukan dengan menggunakan mikroskop excel. Pertumbuhan Panjang . HASIL Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh data yang meliputi data pertumbuhan panjang mutlak . , kelangsungan hidup (%), abnormalitas, perkembangan organ larva serta data parameter kualitas air selama pemeliharaan antar perlakuan P1 . AC). P2 . AC). Kontrol . AC) dan P4 . AC). Pertumbuhan Panjang Mutlak . Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data pertumbuhan panjang mutlak . larva ikan kakap putih yang disajikan pada Gambar 1. 4,62 A 0,02AN 4,77 A 0,04u 4,99 A 0,05AO 3,47 A 0,03AE Kontrol Perlakuan Gambar 1. Pertumbuhan panjang mutlak . larva ikan kakap putih setiap Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 1. Tahun 2022. Halaman 48-56. E-ISSN 2579-6291. (Keterangan : P1 = 26AC. P2 = 28AC. Kontrol = 30AC. P4 = 32AC) Hasil uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan pertumbuhan mutlak larva ikan kakap putih pada semua perlakuan berbeda nyata. Perlakuan P1 . AC) memiliki pertumbuhan panjang mutlak sebesar 3,47 A 0,03 mm, perlakuan P2 . AC) sebesar 4,62 A 0,02 mm, perlakuan Kontrol . AC) sebesar 4,77 A 0,04 mm dan perlakuan P4 sebesar 4,99 A 0,05 mm. Hasil uji statistik dengan = 0,05 didapatkan nilai F hitung > F tabel yang menunjukkan ada nya pengaruh perbedaan suhu pemeliharaan terhadap pertumbuhan larva ikan kakap putih dan dilakukan uji lanjut BNT. Hasil uji lanjut BNT menunjukkan gambaran bahwa perlakuan P1 memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan P2. Kontrol dan P4. Perlakuan P2 memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan P1. Kontrol dan P4. Perlakuan Kontrol memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan P1. P2 dan P4. Begitu pula dengan perlakuan P4 yang memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan P1. P2 dan Kontrol. Kelangsungan Hidup (%) Kelangsungan Hidup (SR%) Kelangsungan hidup dinyatakan sebagai persentase jumlah ikan yang hidup selama jangka waktu pemeliharaan dibagi dengan jumlah ikan yang ditebar (Effendie, 1. Data kelangsungan hidup larva ikan kakap putih selama masa penelitian 15 hari pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 2. 28,67 A 1,15AN 25,33 A 1,15AN 26,00 A 2,00AN 18,67 A 1,15AE Kontrol Perlakuan Gambar 2. Kelangsungan hidup (SR%) larva ikan kakap putih setiap perlakuan (Keterangan : P1 = 26AC. P2 = 28AC. Kontrol = 30AC. P4 = 32AC) Hasil uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan P1 memiliki kelangsungan hidup yang berpengaruh nyata terhadap perlakuan P2. Kontrol dan P4. Sedangkan perlakuan P2. Kontrol dan P4 tidak memiliki pengaruh nyata antara satu dan yang lain. Hasil uji statistik dengan = 0,05 didapatkan nilai F hitung 27,11 dan nilai F tabel 4,07 (F hitung > F tabe. yang menunjukkan ada nya pengaruh perbedaan suhu pemeliharaan terhadap pertumbuhan larva ikan kakap putih dan dilakukan uji lanjut BNT. Hasil uji lanjut BNT menunjukkan gambaran bahwa perlakuan P1 memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan P2. Kontrol dan P4. Perlakuan P2 memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan P1, tetapi tidak meberikan pengaruh nyata terhadap Kontrol dan P4. Perlakuan Kontrol memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan P1, tetapi tidak meberikan Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 1. Tahun 2022. Halaman 48-56. E-ISSN 2579-6291. pengaruh nyata terhadap P2 dan P4. Begitu pula dengan perlakuan P4 yang memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan P1, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap P2 dan Kontrol. Kualitas Air Kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan kakap putih sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian adalah pH, salinitas. DO dan amoniak. Hasil pengamatan kualitas air larva ikan kakap putih diperoleh dengan Ph 8 Ae 8,23. DO yaitu 7,1 Ae 7,3 mg/l, salinitas 30 Ae 31,67 ppt dan amoniak 0,01 Ae 0,05 mg/L . Data kualitas air pada wadah pemeliharaan larva ikan kakap putih selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Data kualitas air akhir penelitian Perlakuan DO . g/L) 8 Ae 8,17 7,1 Ae 7,3 Salinitas . 30 Ae 31,33 Amoniak . g/L) 0,01 Ae 0,02 8 Ae 8,23 7,1 Ae 7,27 30 Ae 31,67 0,04 Kontrol 8 Ae 8,13 7,1 Ae 7,3 30 Ae 31,67 0,04 Ae 0,05 8 Ae 8,17 7,1 Ae 7,3 30 Ae 31,67 0,04 (Keterangan : P1 = 26AC. P2 = 28AC. Kontrol = 30AC. P4 = 32AC) Berdasarkan hasil pengukuran setelah 15 hari penelitian nilai pH pada setiap perlakuan adalah P1 . , perlakuan P2 . , perlakuan Kontrol . dan perlakuan P4 . DO (Dissolved Oxyge. pada setiap perlakuan adalah P1 . , perlakuan P2 . , salinitas pada setiap perlakuan adalah perlakuan P1 . , perlakuan P2 . , perlakuan Kontrol . dan perlakuan P4 . , dan kadar amoniak setelah 15 hari pemeliharaan adalah perlakuan P1 . ,02 mg/. , perlakuan P2 . ,04 mg/. , perlakuan Kontrol . ,04 mg/. dan perlakuan P4 . ,04 mg/. PEMBAHASAN Pembahasan untuk semua parameter penelitian ini meliputi pertumbahan panjang mutlak, kelangsungan hidup dan kualitas air. Pertumbuhan Panjang Mutlak . Menurut Pramudyas . , pertumbuhan bisa dianggap sebagai hasil dari sesuatu proses metabolisme pakan yang diakhiri dengan penyusunan unsur- unsur Bersumber pada ( Gambar . hasil pertumbuhan panjang mutlak larva ikan kakap putih diketahui bahwa perlakuan P4 . , 99A 0, 03AO) mm berbeda nyata dengan perlakuan P1 . , 47A 0, 03AE) mm tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lain. Bersumber pada hasil, menampilkan bahwa suhu media pemeliharaan memberikan tingkatan pertambahan panjang terhadap larva ikan kakap putih, sebab suhu berkaitan dengan proses metabolisme. Pada perlakuan P1 dengan suhu media pemeliharaan 26AC menampilkan pertumbuhan terendah dibanding perlakuan yang lain. Menurut Dyara et al. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 1. Tahun 2022. Halaman 48-56. E-ISSN 2579-6291. suhu dingin menimbulkan pertambahan panjang ikan lambat karna metabolisme, aktivasi enzim serta hormon perkembangan ikan yang tidak bekerja Hasil yang sama ditemui pada perlakuan pengaruh suhu media pemeliharaan terhadap laju pemangsaan serta perkembangan larva ikan lele dumbo (Clarias gariepinu. oleh Lestari . , menyatakan bahwa pada suhu 26AC mempunyai perkembangan terendah ialah 17. 39A1. 21 mm, semakin rendah temperatur media pemeliharaan . uhu 26AC) perkembangan juga rendah. Perihal ini diakibatkan oleh lambatnya proses pencernaan pada larva ikan tersebut. Tidak hanya itu, rendahnya suhu pemeliharaan pula berakibat pada nafsu makan yang jadi menurun sehingga konsumsi nutrisi larva ikan jadi menurun. Pernyataan ini sesuai dengan Dyara et al. , ( 2. jika kenaikan temperatur air pada batasan tertentu bisa memicu proses metabolisme ikan serta tingkatkan laju mengkonsumsi pakan sehingga mempercepat pertumbuhan. Sehingga dengan pergantian suhu pada sesuatu perairan akan menyebabkan berubahnya seluruh proses didalam perairan( Ridho dan Patriono 2. Tetapi, peningkatan suhu yang terus menjadi tinggi akan mengurangi pertumbuhan, sebab selera makan ikan memiliki suhu yang maksimal. Menurut Djajasewaka dan Djajadireja . menyatakan jika suhu optimum untuk selera makan ikan yaitu 25Ae27AC. Begitu pula pada perlakuan P4 . AC). Kontrol . AC) serta P1 . AC) juga ada sebagian ikan yang alami keterlambatan pertumbuhan, tetapi tidak sebanyak pada perlakuan P1 . AC) yang menciptakan rata-rata pertumbuhan yang sangat rendah diantara perlakuan lain. Kelangsungan Hidup (SR%) Tingkat kelangsungan hidup ialah kebalikan dari tingkat mortalitas. Kelangsungan hidup berperan untuk menghitung presentase ikan yang hidup pada akhir penelitian. Hasil penelitian, menampilkan bahwa perlakuan P1 mempunyai tingkat kelangsungan hidup terendah ialah sebesar 18, 67%. Menurut Dyara et al. tingkat kematian larva ikan yang terkategori tinggi diakibatkan ukuran ikan yang kecil . arva 7 har. , ukuran ikan pengaruhi kelangsungan hidup ikan, fase kritis serta rentan mati yakni saat ukuran ikan masih kecil sebab energi tahan tubuh ikan yang belum cukup baik terhadap lingkungan luar, tidak hanya ukuran ikan aspek yang mempengaruhi pada derajat kelangsungan hidup ikan ialah mutu air yang cocok dengan SNI. Menurut Budianto et al. , ( 2. suhu diatas ataupun dibawah batasan kisaran optimum berpotensi membatasi perkembangan serta sanggup menyebakan kematian larva. Menurut Kelabora . , fase larva ialah masa kritis untuk ikan, sehingga tingkatan mortalitas paling tinggi berlangsung pada fase larva. Pada penelitian ini ukuran larva yang masih kecil menimbulkan rendahnya tingkatan kelangsungan hidup larva ikan kakap putih sehingga sangat rentan terhadap pergantian kondisi media semacam pergantian mutu air, meski pergantian tersebut sangat kecil Meski keadaan mutu air dalam kondisi wajar serta pakan memadai, tingkatan mortalitas larva kerap kali masih besar. Nurmasyitah et al. , ( 2. menjelaskan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva ikan kakap putih sebesar 30%, serta sesuai dengan pernyataan Mayunar . yang menerangkan jika tingkat kelangsungan hidup larva ikan kakap putih berkisar antara 30- 50%. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 1. Tahun 2022. Halaman 48-56. E-ISSN 2579-6291. Kualitas Air Aspek lain yang menunjang kelangsungan hidup larva yakni media pemeliharaan yang terkendali dengan baik. Keadaan media pemeliharaan sepanjang penelitian terletak pada kisaran yang masih bisa ditoleransi oleh larva ikan kakap putih. Nilai pH pada penelitian ini berkisar 8Ae 8, 23, kisaran tersebut masih dalam batasan toleransi untuk pemeliharaan larva ikan kakap putih. Bersumber pada SNI 2014 nilai pH yang baik untuk pemeliharaan larva ikan kakap putih yakni 7, 5- 8, 5. Nilai DO yang diperoleh berkisar 7, 1Ae 7, 3 mg/L, nilai DO untuk budidaya air laut hendaknya terletak diatas 4 mg/L (SNI 2. Menurut Hasibuan et al. , . , bila oksigen terlarut tidak seimbang maka akan mengakibatkan stress pada ikan sebab otak tidak memperoleh suplai oksigen yang layak, dan kematian akibat kekurangan oksigen . yang dikarenakan jaringan tubuh ikan tidak bisa mengikat oksigen yang terlarut dalam darah. Konsumsi oksigen setiap jenis berbeda- beda, ikan pelagis seperti kakap merah serta kakap putih membutuhkan DO yang lebih besar dibanding ikan demersal ( Shubhi et al. , 2. Nilai salinitas berkisar antara 30Ae 31, 67 ppt. Bersumber pada SNI 2014 standar nilai salinitas untuk budidaya ikan kakap putih yaitu 2833. Serta keadaan amoniak, ialah berkisaran antara 0, 01Ae 0, 05 mg/l. Konsentrasi amoniak dalam wadah selama masa penelitian terletak dalam kisaran yang rendah. Bersumber pada SNI 2014 standar nilai amoniak yaitu optimal 1. KESIMPULAN Bersumber dari hasil penelitian dapat disimpulkan : Perlakuan suhu memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup larva ikan kakap putih. Suhu optimal untuk pemeliharaan larva ikan kakap putih yaitu suhu 32AC. 2 Saran Bersumber pada hasil penelitian, perlakuan dengan suhu 32AC mempunyai pertumbuhan panjang serta kelangsungan hidup yang terbaik sehingga dianjurkan kepada para pembudidaya untuk memakai temperatur 32AC dalam memelihara larva ikan kakap putih. DAFTAR PUSTAKA