Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 38-44 Available at http://jurnal. id/jpterpadu Jurnal Perikanan Terpadu P-ISSN: 2599-154X E-ISSN: 2745-6587 Pemanfaatan Infusum Daun Pepaya (Carica papay. Sebagai Bahan Anestesi Alami Pada Lobster Batu (Panulirus penicillatu. The Utilization of Papaya Leaf Infusion (Carica papay. as a Natural Anesthetic for Rock Lobster (Panulirus penicillatu. Riska Dwi Yanti1. Nabila Ukhty1* Prodi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Teuku Umar. Aceh. Indonesia *Korespondensi: nabilaukhty@utu. Article Information Abstract The sale of lobster plays a significant role in the fisheries sector, particularly within the export market. Lobster transportation is typically carried out using a dry transport system. Anesthesia is a crucial step in the dry transport process. Anesthetic agents can be Keywords : derived from natural sources, such as papaya leaf infusion. The Induction time. Natural aim of this study is to evaluate the effect of papaya leaf infusion anesthesia. Rock lobster, on induction time and sedation time as a natural anesthetic for Sedation time, rock lobsters, as well as to determine the optimal concentration of Transportation papaya leaf infusion for use as a natural anesthetic. This research utilized an experimental design with three treatments: P1 . g/L). P2 . g/L), and P3 . g/L). The data collected included induction time, sedation time, and the survival rate of lobsters during the recovery period. The data were analyzed using descriptive and inferential statistical methods, including ANOVA and the Honest Significant Difference (HSD) test. The results indicated that varying concentrations significantly affected (P<0. induction time but did not significantly affect (P>0. sedation time. The induction time for treatments P1 and P2 was significantly different from that of P3. The survival rates were 100% for treatments P1 and P2, while P3 had a survival rate of The optimal concentration of papaya leaf infusion was found to be P1, which induced anesthesia in the lobsters within 50 minutes and 16 seconds, with a recovery time of 2 minutes, and a 100% survival rate. Yanti. D & Ukhty. Pemanfaatan infusum daun Pepaya (Carica papay. sebagai bahan anestesi alami pada lobster Batu (Panulirus penicillatu. Jurnal Perikanan Terpadu 5. : 38-44. Submitted Revised Accepted Published 24/12/2024 08/02/2025 09/02/2025 09/02/2025 PENDAHULUAN Lobster atau udang barong atau udang karang (Panulirus spp. ) merupakan produk perikanan yang potensial dan bernilai ekonomis penting untuk ekspor. Permintaan lobster, untuk pasar domestik maupun ekspor terus meningkat (Fauzi et al. , 2. Data produksi lobster di Page . Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Provinsi Aceh mencapai 6. 172,11 ton pada tahun 2021, 6. 178,28 ton pada tahun 2022, dan 6. 134,32 ton pada tahun 2023. Lobster termasuk ke dalam kelompok komoditi utama untuk ekspor dengan menyumbang nilai ekspor sebesar 0,043 juta USD . ,65%) (DKP Aceh 2. Pengiriman lobster dilakukan melalui jalur udara atau jalur darat. Transportasi merupakan bagian penting dalam kegiatan pemasaran lobster secara komersial untuk menyuplai kebutuhan Menurut Sandrayani, . dalam Putri et al. , . transportasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem basah dan sistem kering. Transportasi sistem kering lebih sederhana, ekonomis, dan dapat menghemat volume. Menurut Abid et al. , . salah satu teknologi transportasi ikan hidup adalah tarnsportasi sistem kering, yaitu sistem pengangkutan tanpa menggunakan air. Transportasi kering Kondisi tidak sadar dilakukan untuk mengurangi metabolisme dan respirasi lobster selama transportasi (Yana, 2. Bahan anestesi alami yang banyak di gunakan berasal dari tumbuhan, dikarena kandungan saponin yang terdapat pada tumbuhan tersebut. Saponin merupakan senyawa yang banyak didapatkan pada tumbuhan sebagai antivirus/bakteri jenis glikosida yang berbuih bila bereaksi dengan air, namun senyawa ini dapat menjadi racun jika digunakan secara berlebihan. (Rohendi et , 2. Menurut Putri et al. , . saponin mengandung ion natrium, yang sifatnya dapat mempengaruhi sistem saraf dan memperlambat metabolisme. Adapun beberapa bahan anestesi alami yang sudah digunakan untuk bahan anestesi lobster air tawar diantaranya Syamsunarno, . mengunakan ekstrak daun rambutan. Putri et al. , . memanfaatkan daun durian, dan Rahayu . memanfaatkan infusum serai. Bahan alami lainnya yang dapat di gunakan sebagai anestesi adalah daun pepaya (Carica papay. Daun pepaya (Carica papay. mengandung senyawa pseudocarpain, glikosida, karposida, saponin, sukrosa dan levuvosa yang dapat menenangkan ikan selama pengangkutan (Kasmaruddin, 2. Belum ada informasi mengenai infusum daun pepaya sebagai obat bius alami lobster, sehingga diperlukan penelitian mengenai efektivitas infusum daun papaya sebagai bahan anestesi lobster, dalam penelitian ini percobaam dilakukan pada lobster batu. Tujuan penelitian ini yaitu, untuk mengetahui pengaruh infusum daun pepaya sebagai bahan anestesi alami terhadap waktu induktif dan waktu sedatif pada lobster dan untuk mendapatkan konsentrasi terbaik dari infusum daun pepaya sebagai bahan anestesi alami terhadap lobster. METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada Oktober hingga November 2022. Penelitian dilakukan selama magang di UD Nagata Tuna. Banda Aceh. Provinsi Aceh. Page | 39 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Bahan dan Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini diantaranya wadah/toples, panic rebusan, saringan, gelas ukur, timbangan digital, penggaris, stopwatch, dan alat tulis. Bahan yang digunakan diantaranya lobster batu (Panulirus penicillatu. sebanyak 27 ekor ukuran 100-120 gram/ ekor, daun papaya, dan air laut. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) , yang terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan pada percobaan terletak pada jumlah daun papaya yang digunakan dalam pembuatan air infusum, yaitu: P1: 100 gram daun pepaya setiap 1 L air. P2: 150 gram daun pepaya setiap 1 L air, dan P3: 200 gram daun pepaya setiap 1 L air. Tahapan penelitian dimulai dari pembuatan air infusumn daun papaya, pemilihan lobster, pemingsanan lobster, dan yang terakhir pengamatan respon lobster. Prosedur Penelitian Pembuatan infusum daun pepaya Pembuatan infusum daun papaya dengan mengunakan metode perebusan, daun papaya yang telah dipisahkan dari tangkainya direbus mengunakan air laut selama A 10 menit pada air mendidih. Setelah itu, daun papaya disaring dan air infusum dituangkan ke dalam wadah dan didiamkan selama 3 hari. Masing-masing perlakuan diberikan 3 wadah toples transparan sebagai ulangan untuk setiap percobaan. Pemilihan lobster Untuk mendapatkan lobster yang sehat diperlukan pemilihan terhadap lobster dengan ciriciri masih dalam keadaan segar, tidak lemas, dapat merespon dengan baik dan pergerakan lobster masih aktif. Lobster yang akan dianestesi, dipuasakan terlebih dahulu, kemudian setelah itu lobster ditimbang dan diukur panjang badannya. Pemingsanan lobster Lobster terpilih kemudian dimasukkan ke media infusum daun pepaya yang telah didiamkan selama 3 hari. Setiap wadah terdiri dari satu ekor lobster. Perhitungan waktu pingsan dilakukan dengan cara mengamati dan menghitung waktu awal hingga lobster pingsan. Selama proses pemingsanan berjalan, dilakukan pengamatan secara deskriptif respon setiap lobster yang ada di dalam toples. Tingkah laku lobster yang telah dianestesi memiliki kriteria di setiap fase, kriteria perubahan aktifitas lobster yang digunakan mengacu pada (Wibowo, 2005 dalam Putri et al. , 2. yang dapat dilihat pada Tabel 1. Page | 40 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Table 1. Criteria for changes in lobsters during stunning time Activity changes Criteria The lobster moves actively, the body is upright, the walking legs and swimming legs move normally, the response is very good. Lobster activity begins to decrease, tail folds inward, walking legs and swimming legs move slowly, response to stimuli is still good. The lobster is restless, but a moment later the lobster returns to calm, its swimming legs weaken, its response begins to decrease. The lobster begins to lose balance, the tail bends inward, the movements of the swimming legs and walking legs are weak, the response becomes Weak movements, tilted/inverted body position, loss balance, response to weak stimuli. Lobster limbung, hilang keseimbangan, posisi tubuh Tilted/upside down, the lobster tends to be silent, and the response is very weak . lmost non-existen. Normal activity Calm/Relax Panic Initial disorientation Disorientation Fainted Perhitungan waktu induktif dan sedatif Selama proses anestesi, dilakukan pengambilan data yaitu menghitung waktu induktif dan waktu sedative. Waktu induktif yaitu waktu yang dibutuhkan oleh lobster mulai dari lobster dimasukan ke dalam wadah larutan infusum daun papaya hingga lobster pingsan. Setelah lobster pingsan, dilakukan proses pemulihan dengan cara memasukan lobster kedalam bak yang berisikan air laut yang diberi aerasi. Waktu yang diperlukan dalam proses pemulihan dihitung sebagai waktu sedatif, yaitu waktu yang diperlukan oleh lobster sampai sadar dan beraktivitas seperti normal Tingkat kelangsungan hidup Setelah dilakukan percobaan, lobster yang telah sadar didiamkan di dalam bak air laut selama tiga hari untuk masa pemulihan. Dan pemeliharaan. Pemeliharaan lobster air tawar bertujuan untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup (Survival rat. lobster pasca anestesi selama 3 hari. Perhitungan presentase lobster hidup dihitung dengan rumus berikut: SR = . umlah lobster akhi. umlah lobter awa. X 100%. Analisis Data Data dari pengamatan . aktu induktif dan sedukti. dianalisis menggunakan ANNOVA dengan aplikasi SPSS. Hasil pengamatan respon lobster dianalisis secara deskriptif. Data disajikan dalam bentuk tabel. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada tahapan pemingsanan lobster dilakukan perhitungan waktu pingsan yaitu waktu induktif dan perhitungan waktu sadar atau pemulihan yaitu waktu sedatif. Hasil perhitungan waktu induktif dan sedatif lobster yang dipingsankan dapat dilihat pada Tabel 2. Page | 41 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Table 2. Inductive and sedative time for stunning Lobsters with Papaya leaf infusion Treatment Inductive time Significance of . inductive time 50 A 4,13b 41 A 3,18b 0,001 21 A 3,98a Sedative time . 1 A 0,6 2 A 0,87 3 A 1,2 Significance of sedative 0,098 Note: a, and b, are notations, if the letters of the notation are different then it shows significantly different results, while the same notation shows the results are not significantly different. Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi daun papaya pada air infusum maka semakin cepat lobster pingsan. Pada perlakuan P3 dengan jumlah daun pepaya sebanyak 200 gram/Liter waktu induktif lobster selama 21 menit. Semakin tinggi kosentrasi infusum daun pepaya (Carica papay. yang diberikan maka semakin singkat waktu yang dibutuhkan lobster untuk pingsan dan semakin lama waktu yang di butuhkan lobster untuk pulih kembali. Hal ini dikarenakan senyawa saponin yang terkandung di dalam daun papaya yang diketahui dapat menghentikan sistem saraf. Menurut Kasmaruddin et al. , . daun pepaya mengandung senyawa pseudocarpaina, glikosida, karposid, saponin, sakarosa,dan levuvosa, yang dapat membuat ikan tenang selama pengangkutan. Menurut Putri et al. , . saponin merupakan senyawa yang terdiri dari ion natrium yang dapat mempengaruhi sistem saraf dan memperlambat metabolisme. Hasil uji ANOVA menunjukan bahwa pemberian air infusum daun pepaya (Carica pepay. terhadap lobster batu (Panulirus penicillatu. dengan kosentrasi yang berbeda di setiap perlakuan berpengaruh signifikan (P<0,. terhadap waktu induktif. Uji lanjut mengunakan BNJ/Turkey memperlihatkan perbedaan yang nyata pada perlakuan P3 terhadap perlakuan P1 dan P2, sedangkan perlakuan P1 dan P2 tidak berbeda secara nyata. Respon Tingkah Laku Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui tingkah laku lobster selama dalam pengaruh anestesi dengan mengunakan infusum daun pepaya pada perlakuan yang berbeda. Data yang didapat mengunakan metode observasi dengan melihat tingkah laku lobster pada awal lobster dimasukan kedalam larutan anestesi sampai lobster hilang kesadaran. Data pengamatan respon tingkah laku lobster dapat diliat pada Tabel 3. Table 3. Rock lobster behavioral responses using different concentrations Treatments Time required . Normal Calm/Relax 0 - 12 8- 16 5 - 10 Panic 16 - 23 10 - 15 Initial 27 Ae 37 23 Ae 27 15 Ae 18 Disorientation Fainted 37 Ae 46 27 Ae 35 18 - 21 Page | 42 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Tabel diatas merupakan respon tingkah laku lobster batu selama dianestesi mengunakan infusum daun pepaya, kosentrasi yang berbeda menunjukan perubahan waktu yang berbeda di setiap Perlakuan P1 menunjukan aktivitas normal dan waktu pingsan lebih lama dibandingkan dengan P2 dan P3. Awal pemasukan lobster laut pada air infusum, lobster masih beraktivitas secara normal, yaitu untuk P1 menit ke 0-12. P2 menit ke 0-8 menit, dan P3 menit ke 0-5 menit. Aktivitas normal lobster dapat dilihat lobster dapat bergerak aktif, memberikan respon pada saat disentuh, badan Lobster mulai kehilangan keseimbangan untuk P1 pada menit ke 46-50. P2 pada menit ke 3541, dan P3 pada menit ke 21-24. Tingkat Kelangsungan Hidup Setelah lobster dipulihkan, lobster didiankan selama 3 hari untuk melihat pengaruh infusum daun papaya terhadap tingkat kelangsungan hidup lobster. Tingkat kelangsungan hidup lobster dapat dilihat pada Tabel 4. Table 4. Survival rate of rock lobsters after anesthesia Treatments Survival rate (%) 77,77 Pada proses pemulihan lobster selama tiga hari, lobster yang dipingsankan pada infusum papaya P1 dan P2 tidak mengalami kematian, sedangkan pada perlakuan P3 lobster mengalami kematian sebanyak 2 ekor. Maka didapatkan hasil tingkat kelangsungan hidup lobster batu pada perlakuan P1 dan P2 sebesar 100% dan P3 sebesar 77,77%. Tingkat kelangsungan hidup lobster pada perlakuan P3 lebih rendah dari perlakuan P1 dan P2 dikarenakan saponin yang terkandung di dalam daun papaya dapat beracun apabila digunakan secara berlebihan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Rohendi et al. saponin merupakan senyawa yang banyak didapatkan pada tumbuhan sebagai antivirus/bakteri jenis glikosida yang berbuih bila bereaksi dengan air, namun senyawa ini dapat menjadi racun jika digunakan secara berlebihan. KESIMPULAN Perbedaan konsentrasi infusum daun papaya (Carica papay. memberikan pengaruh terhadap waktu induktif, yaitu konsentrasi P3 berpengaruh secara nyata terhadap konsentrasi P1 dan P2. Konsentrasi P2 terpilih menjadi konsentrasi terbaik untuk memingsankan lobster dengan waktu 50 menit 16 detik, waktu sadar . 2 menit, dan tingkat kelangsungan hidup yang sangat tinggi yaitu 100%. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada UD. Nagata Tuna. Banda Aceh, yang telah memberikan izin dan fasilitas kepada peneliti untuk melakukan penelitian ini. Page | 43 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 DAFTAR PUSTAKA