Indonesian Journal of Spatial Planning P-ISSN: and E-ISSN: pp-pp http://journals. id/index. php/ijsp Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN KONSERVASI PENYU PANTAI PATIHAN. KECAMATAN SANDEN KABUPATEN BANTUL Keysha Al Maira Dwiantoroa . Diah Intan Kusumo Dewib Departement Perencanaan Wilayah dan Kota. Jalan Prof. Soedarto. SH. Tembalang. Semarang. Jawa Tengah. Email: keyshaalmaira@students. Info Artikel: a Artikel Masuk: 2025-10-24 a Artikel diterima: 2025-10-30 a Tersedia Online: 2025-10-30 ABSTRAK Wilayah pesisir di Indonesia menghadapi krisis ekologi yang kompleks, termasuk degradasi habitat pesisir dan ancaman terhadap populasi penyu yang merupakan spesies langka dan dilindungi. Pantai Patihan di Bantul. Yogyakarta, merupakan salah satu kawasan konservasi penyu yang memiliki potensi ekologi, sosial, dan ekonomi yang besar. Studi ini menggunakan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan kawasan konservasi berbasis masyarakat di Pantai Patihan. Kawasan ini memiliki habitat alami yang mendukung penyu lekang dan penyu hijau bertelur dengan tingkat keberhasilan penetasan relatif tinggi (A80%). Keberadaan kelompok konservasi lokal (KKP Mino Raharj. menjadi faktor kunci dalam pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat. Terdapat tantangan teknis, keterbatasan fasilitas, dan ancaman lingkungan perlu diatasi dengan pendekatan partisipatif, peningkatan kapasitas SDM, kemitraan akademik, dan diversifikasi sumber pendanaan. Strategi pengembangan disusun untuk mengoptimalkan konservasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal secara Kata Kunci: Konservasi Penyu. Pantai Patihan. Analisis SWOT. ABSTRACT The coastal areas of Indonesia face complex ecological crises including habitat degradation and threats to rare species such as marine turtles. Pantai Patihan in Bantul. Yogyakarta, represents a significant conservation site with important ecological, social, and economic potential. This study employs a SWOT analysis to identify strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the community-based development of the turtle conservation area at Pantai Patihan. Findings indicate that the site has a natural habitat favorable for Lekang (Lepidochelys olivace. and green turtles (Chelonia myda. nesting, with a relatively high hatching success rate of approximately The presence of a local conservation group (KKP Mino Raharj. is crucial in managing and empowering the community. Nevertheless, technical challenges, limited facilities, and environmental threats must be addressed through participatory approaches, capacity building, academic partnerships, and diversified funding. The formulated development strategies aim to optimize conservation efforts while sustainably improving the welfare of local communities. Keyword: Sea Turtle Conservation. Pantai Patihan. SWOT Analysis. PENDAHULUAN Wilayah pesisir Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis ekologi yang kompleks. Salah satu masalah utamanya yaitu degradasi habitat di pesisir. Penelitian di Pesisir Kabupaten Cirebon menunjukkan bahwa konversi mangrove ke tambak memperparah abrasi dan mengubah garis pantai secara signifikan (Raharjo et al. Hal yang sama terjadi di Kecamatan Ujung Pangkah. Jawa Timur, di mana eksploitasi kayu bakau dan mangrove menyebabkan menurunnya fungsi ekologi pesisir (Prasetyo et al. , 2. Selain degradasi habitat, populasi spesies langka seperti penyu juga terancam. Studi di Paloh. Kalimatan Barat menunjukkan bahwa penurunan populasi penyu berkaitan dengan kerusakan habitat peneluran dan aktivitas manusia yang tidak terkendali (Jakaria et al. Kerusakan fisik dan biologi pada pesisir semakin diperburuk oleh rendahnya kesadaran masyarakat terhadap konservasi. Konservasi merupakan sebuah kegiatan Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 untuk melindungi, memelihara, dan menjaga keberadaan bahan, sumber daya, atau makhluk hidup agar tidak mengalami kerusakan, kepunahan, atau hilang. telur penyu ke tempat aman . atchery sederhan. dan merawat tukik, meskipun sarana dan sumber daya masih terbatas. Kesadaran tersebut melahirkan Gerakan swadaya Masyarakat pada tahun 2010. Warga Dusun Patihan bersama nelayan pemindahan telur penyu ke hatchery darurat untuk diselamatkan. Dari sinilah lahir Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Mino Raharjo, yang kemudian berkembang menjadi lembaga pelestari resmi dengan dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta Desa Wisata Patihan. KKP ini berbasis komunitas lokal, beranggotakan nelayan, petani, dan warga pesisir yang secara sukarela menjadi ranger konservasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengelolaan konservasi di Pantai Goa Cemara. Dusun Patihan, telah memberi dampak positif terhadap kesejahteraan penguatan manajemen sumber daya manusia (Munandar, 2. Selain itu pengembangan pada kawasan konservasi Pantai Goa Cemara menyoroti model masyarakat . ommunity based touris. yang memaksimalkan potensi sosial dan ekonomi Dusun Patihan pengelola utama tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan (Irfani et al. , 2. Konservasi bahwa sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, baik untuk kepentingan masa kini maupun masa Kegiatan ini meliputi langkahlangkah kerusakan, maupun pemulihan kondisi jika terjadi kerusakan (Fatmawati, 2. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan konservasi, seperti UndangUndang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, hingga UndangUndang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil. Pemerintah daerah juga mengambil peran penting dalam pelindungan pesisir, yaitu dengan kebijakan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan kawasan konservasi pesisir seluas kurang lebih 696 hektar di Bantul, termasuk Pantai Patihan, melalui Perda RTRW DIY 20232043. Pantai Patihan menurut beberapa informasi dari hasil wawancara, sebelum ditetapkan menjadi kawasan konservasi dikenal sebagai pesisir yang masih alami, sepi, dan hanya dimanfaatkan oleh nelayan serta masyarakat sekitar. Terdapat juga banyak vegetasi berupa pohon cemara udang yang tumbuh rindang di tepi pantai, membentuk Lorong-lorong alami yang memberi keteduhan (Irfani et al. , 2. Keberadaan kondisi alam yang masih alami serta potensi ekosistem pesisir yang terjaga inilah yang kemudian menjadi latar munculnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan pantai. Selain itu, tantangan lingkungan seperti abrasi, degradasi habitat alami tetap menjadi ancaman yang haris diantisipasi. Hal tersebut menegaskan perlunya strategi pengelolaan partisipatif, dan berkelanjutan. Keberhasilan konservasi penyu di Pantai Samas, yang juga terletak di Kecamatan Sanden, menjadi bukti bahwa pengelolaan berbasis masyarakat dapat berjalan efektif jika ditunjang oleh dukungan pemerintah dan akademisi (Setyorini et al. , 2025. Dengan begitu, kawasan ini tidak hanya berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan yang adil bagi masyarakat sekitar. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian mengenai potensi pengembangan kawasan konservasi di Pantai Patihan menjadi sangat penting. Terdapat penyu-penyu khususnya penyu lekang (Lepidochelys olivace. dan penyu hijau (Chelonia myda. , rutin mendarat untuk bertelur di pantai ini. Sehingga muncul beberapa ide dan gerakan masyarakat lokal yaitu warga Dusun Patihan sendiri pada tahun 2010 yang berinisiatif memindahkan Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 karena melalui penelitian ini dapat diidentifikasi potensi ekologi, sosial, dan ekonomi yang ada. Penelitian sebelumnya di Pantai Patihan Pantai Samas menunjukkan bahwa pengelolaan konservasi berbasis masyarakat melalui kolaborasi antar masyarakat, pemerintah dan akedemisi (Irfani et al. , 2018. Munandar, 2015. Setyorini et al. , 2025. Namun, kajian terdahulu belum menyoroti hal mendalam antara faktor ekologi, sosial, serta kelembagaan pada kawasan konservasi terutama di Pantai Patihan. Oleh karena itu, penelitian ini mengintegrasikan analisis potensi dari aspek ekologi, sosial-ekonomi, dan kelembagaan secara komperhensif untuk merumuskan strategi pengembangan konservasi berbasis masyarakat yang adaptif dan karakterristik lokal Pantai Patihan Musim pendaratan penyu di pesisir Bantul relatif konsisten. Studi di Pantai Samas mencatat penyu hijau mendarat antara Januari hingga awal Februari, sedangkan penyu lekang biasanya pada periode April hingga Juli (Setyorini et al. , 2025. Selain itu, faktor suhu pasir sangat menentukan keberhasilan inkubasi dan sex rasio tukik. menunjukkan bahwa pasir halus berwarna hitam . ,0 %), suhu sekitar 25Ae42 AC . atarata 29,7 AC), kelembapan pasir dan udara optimal . %, 56Ae94 %) menghasilkan penetasan hingga 85% (Faddilah et al. Hasil dari inkubasi tersebut akan melahirkan tukik, yaitu anak penyu yang baru menetas dari sarang. Tukik memiliki ukuran tubuh kecil, karapas yang masih lunak, serta cadangan kuning telur di bagian perut yang menjadi sumber energi awal sebelum mereka mampu mencari makan sendiri di laut. Pada fase ini tukik sangat rentan terhadap ancaman predator, sampah plastik, serta hambatan cahaya buatan yang dapat mengganggu mereka untuk orientasi ke laut. Tingkat kelangsungan hidup tukik di alam liar sangat rendah, diperkirakan hanya 1 ekor dari 1000 tukik yang mampu bertahan hingga dewasa (Dermawan et al. , 2009. Wallace et , 2011. Zeno Adi Eti Harnino et al. , 2. Kerentanan bergantung pada proses inkubasi dan penetasan, tetapi juga pada kualitas habitat pesisir yang menjadi jalur orientasi dan perlindungan alami bagi sarang maupun tukik saat menuju laut. Metode untuk menganalisis potensi menggunakan analisis SWOT. Oleh karena itu, diperlukan metode analisis yang dapat menggambarkan kondisi kawasan secara menyeluruh dan membantu menentukan arah pengembangannya. Bertujuan secara (Strength. , (Weaknesse. , peluang (Opportunitie. , dan ancaman (Threat. Analisis SWOT membantu dalam merumuskan strategi yang tepat, apakah melalui memaksimalkan kekuatan dan peluang, meminimalkan kelemahan, atau pengembangan ekowisata dapat berjalan secara berkelanjutan dan efisien (Amei Jaya et al. , n. Vegetasi (Pandanus tectoriu. dan cemara laut (Casuarina equisetifoli. berperan penting dalam menjaga ekologi penyu karena mampu melindungi sarang dari paparan sinar matahari berlebih, menjaga kelembapan, serta sebagai penahan abrasi. Studi di Pantai Perancak. Bali, memperlihatkan bahwa penyu lekang cenderung memilih lokasi sarang di dekat vegetasi pandan karena akar tanaman ini mampu mengikat pasir dan mengurangi risiko keruntuhan sarang, sementara penelitian di TCEC Bali KAJIAN PUSTAKA Ekologi Penyu dan Fungsi Habitat Pesisir Spesies penyu yang mendarat di pesisir selatan Bantul didominasi penyu lekang (Lepidochelys olivace. dan penyu hijau (Chelonia myda. Keduanya telah masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan status terancam . ndangered dan vulnerabl. , sehingga kebutuhan akan konservasi menjadi sangat mendesak (IUCN, 2. Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 menegaskan bahwa keberadaan vegetasi pantai merupakan faktor penting bagi orientasi tukik menuju laut. Dengan demikian keberlangsungan vegetasi hanya menjaga stabilitas ekosistem pesisir, tetapi juga menjadi komponen penting dalam strategi konservasi penyu yang berkelanjutan (Jayawangsa & Larasati, 2024. Mansula & Romadhon, 2020. Setiawan et al. , 2023. Zeno Adi Eti Harnino et al. , 2. Metode Teknis Penetasan Infrastruktur Konservasi sebagai wadah koordinasi, pengambilan keputusan, serta pengelolaan sumber daya. Kelembagaan mencangkup aturan formal ataupun informal yang mengatur interaksi antar aktor dalam memanfaatkan sumber daya (Ostrom, 1. kelembagaan juga memiliki peran penting dalam menyatukan berbagai stakeholder untuk mendukung keberlanjutan konservasi (Ostrom, 1. Menurut studi di Kawasan Konservasi Perairan Paloh. Kalimantan Barat, menunjukkan bahwa sinergi kelembagaan mendorong terwujudnya pembagian peran yang jelas dalam pengelolaan penyu, mulai dari pemantauan habitat, penetasan telur, hingga kegiatan edukasi. Kelembagaan lokal seperti kelompok konservasi terbukti efektif konservasi (Safitri et al. , 2. Pada Kawasan Konservasi Penyu di Pantai Patihan keberadaan Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Mino Harjo POKDARWIS merupakan contoh nyata lembaga lokal yang berperan dalam kegiatan monitoring dan edukasi (KKP Mino Raharjo, 2025, data tidak dipublikasikan ). Upaya Indonesia umumnya dilakukan melalui relokasi telur ke hatchery semi-alami. Telur dipindahkan ke sarang buatan dengan kedalaman 30-35 cm, menggunakan media pasir homogen, serta menjaga kelembapan agar tetap stabil. Faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan pH pasir, serta teknik penanganan telur menjadi aspek kritis yang menentukan tingkat keberhasilan penetasan penyu lekang untuk menghindari pembusukan dan gangguan jamur/bakteri (Diyah Saputri et al. , 2. Bangka Belitung kedalaman sarang semi alami terhadap persentase penetasan telur penyu sisik (Eretmochelys imbricat. Tiga perlakuan kedalaman . cm, 20 cm, 25 c. diuji untuk melihat mana kedalaman yang optimal. hasil kajian diperlukan untuk melihat bagaimana kondisi mikrohabitat di setiap lokasi konservasi sangat menentukan keberhasilan relokasi telur. Pelibatan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam kawasan konservasi, terutama melalui pendekatan Community-Based Development (CBD). Melalui pendekatan tersebut, masyarakat lokal tidak hanya menjadi penerima manfaat tetapi juga pelaku aktif dalam konservasi. Peran lembaga swadaya masyarakat (LSM) menjadi sangat penting dalam memberikan pendampingan berupa teknis, pelatihan, kesadaran dan partisipasi. CBD bukan hanya mendorong keterlibatan masyarakat, akan terjadinya peningkatan penetasan serta penguatan identitas budaya, serta kapasitas lokal yang diperkuat melalui pemberdayaan ekonomi dengan adanya CBD (Lasmi, 2. Selain sarana penetasan. Infrastruktur konservasi juga termasuk fasilitas monitoring, pos pemantau sarang, pusat konservasi dan Pada pusat Konservasi di Pantai Paloh. Kabupaten Sambas, mengintegrasikan berbagai fasilitas mulai dari fasilitas pengelola, pusat informasi, penampungan penyu, sarang semi alami dan sebagainya, sebagai kombinasi fungsi pariwisata (Florentius Juhardi et al. , 2. Adanya regulasi yang menjadi kerangka hukum pengikat bagi semua pihak dalam pengelolaan konservasi. Penyu termasuk satwa yang dilindungi sesuai UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No. Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Penelitian di Pantai Kelembagaan. Regulasi, dan CommunityBased Development (CBD) Kelembagaan kawasan konservasi memiliki peran strategis Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 Kembar. Kebumen, menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap regulasi konservasi penyu cukup tinggi, meskipun masih terdapat praktik pengambilan telur secara ilegal karena faktor ekonomi (Kartono et al. , 2. Regulasi yang kuat perlu diimbangi dengan sosialisasi dan penegakan hukum agar dapat diterapkan secara konsisten di tingkat lokal. Partisipasi Masyarakat menggunakan drone untuk menghasilkan peta spasial kawasan pesisir. Observasi dilakukan terhadap kondisi biofisik pantai, sarang penyu. Wawancara pengelolaan konservasi, tantangan yang dihadapi, serta peran masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian penyu, yang dilakukan dengan informan kunci yang dipilih secara purposif, terdiri atas pengelola Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Mino Raharjo serta masyarakat Dusun Patihan. Kriteria informan mencangkup pengelola kawasan konservasi yang memahami kondisi wilayah, memeiliki pengalaman dalam pengelolaan kawasan konservasi dan merupakan warga asli dusun Patihan sehingga data diperoleh secara akurat dan valid. Pemberdayaan Partisipasi masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam pengelolaan kawasan konservasi berbasis komunitas. Kawasan konservasi penyu, partisipasi masyarakat meliputi kegiatan patroli pantai, perlindungan satang, penetasan semi-alami, hingga edukasi kepada pengunjung (Pelupessy et , 2. Keterlibatan pada kawasan konservasi tidak hanya berfungsi menjaga keberlangsungan ekologi penyu tetapi juga memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan pesisir. Selanjutnya adanya partisipatif akan berkembang menjadi upaya pemberdayaan yang lebih luas. Data sekunder dikumpulkan dari dokumen resmi pemerintah daerah seperti RTRW Kabupaten Bantul dan RTRW DIY 2023 Ae 2043, laporan Rencana Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Mino Raharjo, serta berbagai literatur akademik. Beberapa rujukan yang digunakan antara lain penelitian (Zainuri et al. mengenai efektivitas analisis SWOT dalam perencanaan kawasan konservasi pesisir. Amei Jaya et al. , . tentang strategi pengembangan konservasi penyu di Bengkulu, (Ngurah et al. , 2. terkait strategi pengelolaan konservasi berbasis masyarakat, serta (Ruiter & Maarten Sanders, 1. dalam buku Physical Palnning: Politicies. Methods and Technigques. Pemberdayaan masyarakat tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas melalui pendidikan lingkungan dan kegiatan ekonomi alternatif. Di kawasan KKP3K Paloh, program sosialisasi dan edukasi berbasis konservasi penyu berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus menciptakan peluang wisata sekitar. Kegiatan pelepasan tukik bahkan dapat dijadikan atraksi edukatif, yang meningkatkan ekonomi masyarakat (Yuliono et al. , 2. Dengan demikian, partisipatif dan pemberdayaan masyarakat saling melengkapi dalam menciptakan model Partisipatif menjamin adanya keterlibatan langsung, sedangkan pemberdayaan memastikan keberlanjutan dan kemandirian masyarakat Analisis data menggunakan kerangka SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. Metode ini dipilih karena mampu mengidentifikasi faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan, serta faktor eksternal berupa peluang dan ancaman, sehingga strategi pengembangan dapat dirumuskan secara (Ngurah Penggelompokan faktor internal mencangkup kondisi biofisik kawasan pantai, kelembagaan, dan sumber daya manusianya, sedangkan faktor internal meliputi kebijakan pemerintah, dukungan lembaga mitra, peluang ekonomi, serta ancaman lingkungan. Pengelompokan ini dilakukan berdasarkan karakteristik faktor yang METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif dan telaah literatur. Data primer Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 berasal dari dalam dan luar kawasan konservasi yang berpengaruh terhadap pengelolaan. Kelebihan analisis SWOT terletak pada identifikasi faktor penting meskipun dalam kondisi keterbatasan data, sehingga strategi pengelolaan tetap dapat dirumuskan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa SWOT efektif digunakan dalam menyusun strategi konservasi berbasis masyarakat (Amei Jaya et , 2. Namun demikian, kelemahannya adalah kecenderungan subjektivitas peneliti dan ketiadaan pembobotan antar faktor, sehingga tidak menghasilkan prioritas kuantitatif. Dalam penelitian ini. SWOT digunakan dalam bentuk keterbatasan waktu, data statistik, dan sumber daya, sehingga analisis lebih diarahkan pada pemetaan kondisi riil kawasan sebagai dasar penyusunan strategi yang aplikatif. Hasil analisis SWOT digunakan untuk merumuskan strategi pengembangan yang berbagi ke dalam empat kategori, strategi S-O. W-O. S-T, dan W-T kemudian digunakan untuk strategi jangka pendek dalam kurun 1Ae5 tahun, yang selaras dengan penyusunan masterplan kawasan konservasi penyu Pantai Patihan. Keuntungan lain dari penggunaan SWOT adalah kemampuannya menghasilkan strategi yang aplikatif dan adaptif. Dengan metode ini, penelitian diharapkan mampu menghasilkan strategi pengembangan kawasan konservasi Pantai Patihan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian ekologi penyu, tetapi juga memperkuat dimensi sosial, kelembagaan, dan pemberdayaan masyarakat lokal secara HASIL DAN PEMBAHASAN Pantai Patihan atau dikenal juga dengan sebutan Goa Cemara merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki potensi besar sebagai lokasi konservasi penyu di Kabupaten Bantul. Kawasan ini memiliki kondisi fisik berupa pantai berpasir hitam dengan mineral tinggi, kontur landai, serta vegetasi penyangga seperti cemara laut dan pandan pantai yang mendukung keberlangsungan habitat penyu. Lokasi yang relatif tenang dan jauh dari aktivitas permukiman memberikan peluang besar bagi penyu lekang (Lepidochelys olivace. dan penyu hijau (Chelonia myda. untuk bertelur di kawasan ini. Potensi ekologi tersebut semakin infrastruktur yang dibangun di kawasan Studi di Bali yang dilakukan oleh (Mansula & Romadhon, 2. bahwa keberadaan vegetasi pantai dan kontur landai merupakan faktor penting yang mempengaruhi pemilihan lokasi peneluran penyu. Data lapangan menurut dokumen KKP Mino Raharjo Pantai Patihan menunjukkan tren positif pada data jumlah telur penyu yang Dalam periode 2020-2023, terdapat ratusan sarang pada tiap musim dan rata-rata melepaskan ribuan tukik ke laut setiap penetasan mencapai A80%. Angka ini relatif tinggi jika dibandingkan dengan penelitian global yang menunjukkan rata-rata keberhasilan penetasan penyu hanya berkisar 50Ae60% (Wallace et al. , 2. Dalam hal tersebut hadirnya Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Mino Raharjo menjadi faktor dalam upaya keberhasilan kawasan konservasi di Pantai Patihan, kelompok ini hadir dari inisiatif swadaya masyarakat sejak tahun 2010, terutama dipelopori oleh para nelayan dan warga setempat yang menyadari menurunnya populasi penyu akibat perburuan telur dan kerusakan Dapat dikatakan KKP ini berfungsi sebagai agent of change yang menjembatani sebuah kepentingan ekologi dengan kebutuhan sosial ekonomi warga lokal (Yuliono et al. KKP memiliki sistem kerja yang berlandaskan konservasi berbasis komunitas dan juga berperan sebagai edukasi lingkungan. Kegiatan pelepasan tukik dijadikan sarana pembelajaran bagi sekolah lokal, fungsi ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Safitri et al. , 2. bahwa keberhasilan konservasi sangat ditentukan oleh tingkat literasi lingkungan masyarakat disekitar kawasan. KKP Mino Raharjo juga menjalin kolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam, serta lembaga swasta melalui program CSR. Pada tahun 2024. Pantai Patihan mendapat bantuan dari program CSR Bakti BCA yang mendukung pembangunan fasilitas konservasi. Beberapa infrastruktur penting seperti hatchery, bangunan utama konservasi, dan sistem kelistrikan berbasis tenaga surya telah dibangun dan berfungsi dengan baik dapat dilihat pada Gambar 1. Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 Dengan begitu KKP bukan hanya sebagai komunitas lokal, tetapi juga peran penting kelembagaan yang mampu mengakses sumber daya eksternal untuk keberlanjutan konservasi. yang memangsa tukik, serta gangguan aktivitas manusia berupa pencahayaan buatan, kendaraan, dan pembangunan yang berpotensi mengacaukan orientasi tukik menuju laut. Ditambah lagi, ancaman abrasi dan degradasi vegetasi pantai menjadi risiko ekologi yang tidak bisa diabaikan. Selain itu, dibutuhkan tenaga ahli pendamping yang memiliki pemahaman tinggi terhadap kebutuhan lapangan. Tantangan lain yang masyarakat yang bersifat multidimensi, mulai dari keterbatasan pendidikan, minimnya pelibatan pemuda dan perempuan, hingga pengetahuan konservasi yang belum merata. Kondisi optimalisasi manfaat ekonomi ekowisata Oleh karena itu, strategi penguatan kapasitas SDM, serta penguatan Berdasarkan temuan tersebut, dapat dilihat bahwa pengembangan Pantai Patihan bukan hanya persoalan fisik dan kelembagaan, tetapi juga terkait erat dengan aspek sosial-ekonomi masyarakat lokal. Gambar 1. Infrastruktur Fasilitas Kawasan Konservasi Sumber : Hasil Observasi . Meskipun demikian, masih terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, salah satunya yaitu keterbatasan sumber daya manusia dalam hal teknis konservasi. Anggota KKP masih minim terhadap pelatihan mengenai monitoring. Sebagian besar ranger merupakan relawan dengan keterampilan teknis yang masih terbatas, terutama dalam hal pemantauan suhu pasir, penerapan biosekuriti hatchery, serta penanganan penyakit pada penyu. Hal ini diperburuk dengan belum adanya standar operasional prosedur (SOP) tertulis yang baku, sehingga kegiatan monitoring maupun pelepasan tukik masih bergantung pada Padahal dijelaskan menurut (Setiawan et al. , 2. bahwa suhu pasir sangat berpengaruh terhadap rasio kelamin tukik, dengan meningkatnya suhu akibat perubahan iklim dapat menghasilkan proporsi berina yang lebih dominan, sehingga akan berpotensi mengganggu keseimbangan populasi jangka panjang. Berdasarkan wawancara pada pengelola Masyarakat Desa Gadingsari telah mengikuti berbagai pelatihan seperti pengembangan UMKM pengelolaan destinasi, dan keselamatan Namun, materi pelatihan yang diberikan selama ini dinilai terlalu umum dan kurang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan spesifik masyarakat. Mereka berharap pelatihan yang diberikan ke depan bisa lebih fokus, teknis, dan disesuaikan dengan konteks kawasan wisata konservasi penyu. Selain pendamping yang memiliki pemahaman Tantangan lain yang perlu dicermati adalah kerentanan masyarakat yang bersifat multidimensi, mulai dari keterbatasan pendidikan, minimnya pelibatan pemuda dan perempuan, hingga pengetahuan konservasi yang belum merata. Kondisi ini berpotensi menghambat optimalisasi manfaat ekonomi ekowisata konservasi. Kawasan ini juga menghadapi ancaman eksternal seperti akumulasi sampah plastik yang mengganggu ekosistem pantai, predator alami seperti anjing dan burung Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 Hasil analisis SWOT dapat dilihat pada tabel 1, menunjukkan bahwa pengelolaan keseimbangan antar kekuatan ekologi dan potensi sosial yang serupa dengan temuan di kawasan konservasi lain di Indonesia. Menurut Lasmi . dan Ostrom . , keberhasilan kawasan konservasi berbasis masyarakat ditentukan oleh kolaborasi kelembagaan dan tingkat partisipasi lokal dalam menjaga sumber daya pesisir. Kondisi serupa juga terlihat pada pantai patihan dengan adanya kekuatan utama berupa dukungan lembaga KKP Mino Raharjo mampu menjadi modal sosial untuk Sementara lingkungan seperti abrasi dan sampah plastik mencerminkan tantangan umum pada kawasan pesisir tropis seperti yang disebutkan oleh Wallace et al. dan Pelupessy et al. , yang menegaskan pentingnya integrasi konservasi ekologi dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Strenght- S melebihi rata-rata global 50Ae60% A Adanya kelompok lokal (KKP Mino Raharj. yang aktif Opportunities- O A Pemberdayaan A Peluang kerjasama yang lebih luas dengan kampus. LSM. CSR A Pendanaan CSR, hibah, atau pemerintah pusat untuk menambah Tabel 1. Hasil Analisis SWOT Sumber: Hasil Analisis . Strenght- S A Kondisi vegetasi cemara laut dan pandan ekologi penyu A Keberadaan (Lepidochelys (Chelonia myda. A Tingkat penetasan relatif (A80%), Weakness - W A Sarana yang masih pantau seadanya, monitoring belum A Keterbatasan SDM keterampilan teknis A Pelatihan disesuaikan dengan A Belum ada SOP Weakness - W pelepasan tukik. Threats- T A Sampah plastik dan . njing, mengancam tukik. A Aktivitas manusia . ampu, kendaraan, yang mengganggu orientasi tukik. A Ancaman vegetasi pantai A Ketergantungan Berdasarkan hasil analisis SWOT yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa pengelolaan kawasan konservasi penyu di Pantai Patihan memiliki beragam faktor internal dan eksternal yang saling memengaruhi. Oleh karena itu, hasil pemetaan ini menjadi dasar dalam penyusunan strategi pengembangan kawasan konservasi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Strategi dirumuskan melalui kombinasi antara faktor internal dan eksternal, yang meliputi strategi S-O (StrengthAe Opportunit. W-O (WeaknessAeOpportunit. ST (StrengthAeThrea. , dan W-T (WeaknessAe Threa. dapat dilihat pada tabel 2. Strategi S-O Dari hasil analisis SWOT yang menghasilkan Strategi S-O, difokuskan pada pemanfaatan kekuatan internal kawasan untuk mendukung peluang eksternal secara sinergis. Langkah standardisasi hatchery menjadi langkah awal Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 yang penting, misalnya dengan menyesuaikan kedalaman sarang semi-alami, pengaturan suhu pasir, dan kelembapan sesuai pedoman teknis yang telah direkomendasikan oleh Marine Turtle Monitoring Guidelines & SOPs. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan keberhasilan penetasan tukik, sebagaimana juga dibuktikan oleh penelitian (Widhayanti et al. , 2. di Pulau Bando, yang menunjukkan tingkat keberhasilan penetasan mencapai lebih dari 90%. riset jangka panjang, seperti pada program konservasi di Tortuguero. Costa Rica, telah berkembang menjadi sinergi antara riset ilmiah, edukasi masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal (Huynh et al. , 2. Mereka menunjukkan bahwa tantangan ekologi bisa diubah menjadi peluang kolaboratif penelitian, edukasi, dan pemberdayaan. Diversifikasi pendanaan melalui hibah internasional dan program CSR juga menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada donasi informal (Van De Geer et al. , 2. Dengan memanfaatkan peluang-peluang ini, kelemahan teknis dan infrastruktur konservasi dapat secara bertahap diatasi. Integrasi vegetasi pantai seperti cemara laut, pandan, dan spinifex dapat membantu menahan abrasi sekaligus menjaga kelembapan pasir, sesuai dengan hasil studi (Hallett et al. tentang restorasi ekologi pesisir. Dukungan kelembagaan lokal juga diperlukan, khususnya KKP Mino Raharjo, dapat diperkuat dengan akses pendanaan dari CSR atau hibah pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur monitoring dan pos pengawasan. Dengan demikian, kekuatan ekologi dan sosial yang dimiliki kawasan ini dapat dioptimalkan untuk Strategi S-T Strategi S-T dengan menggunakan kekuatan internal yang ada dalam menghadapi Perlunya melakukan sistem patroli terpadu yang melibatkan ranger KKP, aparat desa, dan BKSDA sangat penting untuk mencegah perburuan telur penyu. Dengan memanfaatkan keterlibatan aktif masyarakat, sistem patroli berbasis komunitas dapat berjalan secara berkelanjutan, sebagaimana telah dibuktikan di Paloh Kalba. Kalimantan Barat (Kartowijono et , 2. Selain itu, pentingnya penguatan sistem pelatihan dan penyusunan SOP konservasi akan membantu menjaga efektivitas kegiatan meskipun dana dan fasilitas terbatas. Serta, pemanfaatan teknologi sederhana seperti pengaturan pencahayaan pantai juga diperlukan untuk mencegah disorientasi tukik akibat cahaya Penelitian (Van De Geer et al. , 2. merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi orientasi tukik menuju laut. Melalui hal diatas, dengan mengoptimalkan kekuatan sosial dan ekologi, strategi ini mampu menjadi benteng perlindungan dari ancaman predator, sampah plastik, maupun aktivitas manusia yang berpotensi merusak habitat. Strategi W-O Strategi W-O mengatasi kelemahan dengan memanfaatkan peluang yang tersedia. Keterbatasan fasilitas monitoring dan hatchery dapat diatasi melalui penggunaan teknologi sederhana, seperti logger suhu dan kelembapan otomatis, yang mudah dioperasikan oleh masyarakat. Pendekatan community-based monitoring ini telah terbukti efektif dalam penelitian (Olendo et al. di Lamu. Kenya, yang berhasil mempertahankan keberhasilan penetasan hingga 81,3% meski dengan keterbatasan teknis. Selain itu, pelatihan teknis bagi ranger konservasi juga penting dilakukan agar mereka memiliki keterampilan memadai dalam hal monitoring suhu pasir, penerapan biosekuriti hatchery, dan penanganan penyu yang sakit atau terluka, sebagaimana direkomendasikan WWF dan IUCN. Adanya peluang dengan melalukan kemitraan akademik dengan universitas di Yogyakarta dapat membuka akses terhadap Strategi W-T Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 Strategi W-T untuk meminimalkan kelemahan sekaligus mengantisipasi ancaman. Pembentukan Forum Konservasi Desa menjadi langkah penting untuk memperkuat koordinasi antara masyarakat, aparat desa, dan lembaga pemerintah, sehingga kegiatan konservasi tidak lagi terlalu bergantung pada bantuan eksternal. Selain itu, dengan penerapan zonasi konservasi pesisir yang terdiri dari zona inti, zona penyangga, dan zona pemanfaatan terbatas dapat membantu melindungi habitat penyu dari tekanan pembangunan. Pengaturan jumlah kunjungan saat musim peneluran juga perlu diberlakukan untuk mengurangi gangguan terhadap habitat alami. Dari sisi hukum, legalitas kawasan konservasi melalui Perdes atau Perda sangat diperlukan agar terdapat dasar hukum yang jelas dalam melarang pengambilan telur penyu ilegal dan mengatur tata ruang pesisir. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Widhayanti et al. , 2. yang menekankan pentingnya dukungan kelembagaan formal dalam menjaga keberlanjutan konservasi penyu berbasis masyarakat. Dengan strategi ini, kelemahan internal dapat ditekan dan ancaman eksternal dapat lebih terkendali. Strategi S-O Strategi S-T A Sistem terpadu oleh ranger KKP, aparat desa. BKSDA perburuan telur. A Penguatan sistem pelatihan dan SOP untuk mengurangi keterbatasan dana Penggunaan A Mengimplementasik pencahayaan untuk gangguan eksternal Tabel 2. Perumusan Strategi Sumber : Hasil Analisis . Strategi S-O A Melakukan fasilitas konservasi mengikuti Permen KP No. 6/2024 A Integrasi emara laut, kelembapan pasir A Memperkuat kelembagaan lokal (KKP Mino Raharj. CSR/pemerintah Strategi W-O A Menggunakan skema communitybased . isalnya pengawasan manual A Pelatihan penanganan penyu sakit/terluka . erbasis SOP WWF & IUCN Marine Strategi W-O Turtle Specialist Grou. A Kemitraan akademik dengan universitas di Yogyakarta untuk riset jangka panjang, dan edukasi A Diversifikasi sumber konservasi melalui hibah internasional Strategi W-T A Mengurangi kelembagaan lokal A Membuat . ona inti, zona A Membatasi mengatur kunjungan A Penguatan regulasi Peraturan Desa/Perda untuk ilegal & mengatur tata ruang pesisir KESIMPULAN & REKOMENDASI Berdasarkan hasil penelitian yang kawasan konservasi penyu di Pantai Patihan memiliki potensi ekologi dan sosial yang Kondisi habitat yang masih alami, keberadaan spesies penyu lekang (Lepidochelys olivace. dan penyu hijau Dwiantoro. Dewi Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 29 - 42 (Chelonia myda. , serta tingkat keberhasilan A80% menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki daya dukung ekologi yang kuat. Peran aktif Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Mino Raharjo sebagai penggerak utama kegiatan konservasi juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan upaya pelestarian dan pemberdayaan masyarakat lokal. Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala yang perlu diatasi, seperti keterbatasan fasilitas konservasi, minimnya kapasitas teknis sumber daya manusia, serta ancaman eksternal berupa abrasi, sampah plastik, dan ketergantungan terhadap bantuan eksternal. untuk melakukan kajian lanjutan mengenai efektivitas penerapan zonasi konservasi kawasan pesisir dan dampaknya terhadap populasi penyu serta ekonomi masyarakat Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan model kuantitatif berbasis pembobotan SWOT atau metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk melakukan priotitas strategi pengelolaan yang lebih dengan demikian hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan dan pengembangan konservasi penyu yang lebih adaptif partisipatir dan berkelanjutan. REFERENSI