Jurnal Social Philantropic 2022. Vol. No. 1, 7-15 Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya e-ISSN: x x. p-ISSN: x x Harga Diri Sebagai Prediktor Kecenderungan Narsistik Pada Pengguna Instagram 1Retno Dian Veronica, 2Ditta Febrieta 1,2Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya febrieta@dsn. Abstrak Perkembangan teknologi internet dewasa ini berkembang cukup pesat terutama pada media sosial. Pada media sosial instagram, individu akan mudah untuk mengunggah foto dan berharap mendapatkan like ataupun komentar pada Menggunggah foto atau video dengan intensitas yang semakin sering atau berlebihan menunjukkan perilaku yang mengarah pada kecenderungan narsistik. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh harga diri terhadap kecenderungan narsistik pada mahasiswa pengguna Instagram di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Subjek penelitian ini adalah 140 mahasiswa pengguna Instagram. Hasil penelitian menunjukkan harga diri mampu mempengaruhi kecenderungan narsistik secara signifikan dengan nilai F=12,465 dan p=0,001 . <0,. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa harga diri mampu mempengaruhi kecenderungan narsistik pada mahasiswa pengguna Instagram di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya sebesar 8,3%, sedangkan sisanya 91,7% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Kata kunci: Harga diri, kecenderungan narsistik, mahasiswa Abstract The development of internet technology today is growing quite rapidly, especially on social media. On Instagram social media, individuals will find it easy to upload photos and hope to get likes or comments on their uploads. Uploading photos or videos with more frequent or excessive intensity shows behavior that leads to narcissistic tendencies. k This study aims to determine the effect of self-esteem on narcissistic tendencies in students using Instagram at Bhayangkara University. Greater Jakarta. The subjects of this study were 140 students using Instagram. The results showed that selfesteem was able to significantly influence narcissistic tendencies with values of F=12,465 and p=0. <0. Based on these results, it can be concluded that self-esteem is able to influence narcissistic tendencies in students using Instagram at Bhayangkara University. Greater Jakarta by 8. 3%, while the remaining 91. 7% is influenced by other factors outside this study. Keywords: Collage student, narcisstic, self esteem. Veronica. & Febrieta. LATAR BELAKANG Menurut Durand dan Barlow . menyatakan bahwa individu yang memiliki kecenderungan narsistik berlebihan cenderung memanfaatkan individu lain untuk kepentingan diri sendiri dan menunjukkan sedikit empati kepada individu lain. Individu yang narsistik cenderung memanfaatkan hubungan sosial untuk mencapai popularitas dan hanya tertarik dengan halhal yang menyangkut kesenangan diri sendiri (Mehdizadeh. Menurut American Psychiatric Association menyatakan dalam DSMV (Riyanita & Supradewi, 2. , seseorang dapat dikatakan memiliki kecenderungan narsistik apabila dirinya mempunyai minimal lima dari sembilan ciri sebagai berikut, yaitu melebihkan kemampuan yang dimilikinya, selalu menginginkan pujian terhadap orang lain, berimajinasi tentang kesuksesan dan kecantikan yang tak terbatas, merasa unik dan istimewa sehingga hanya mau bergaul dengan orang yang berkelas tinggi, merasa dirinya berhak untuk mendapatkan perlakuan khusus dari orang lain, memanfaatkan orang lain dengan tujuan mendapatkan apa yang diinginkan, kurang mampu berempati pada orang lain, selalu memiliki rasa iri hati pada kesuksesan orang lain dan berperilaku kasar, serta angkuh. Perkembangan teknologi saat ini sudah semakin maju, khususnya Indonesia saat ini internet menjadi salah satu media yang banyak digunakan oleh kalangan masyarakat. Hal tersebut untuk memenuhi informasi dan dapat berbagi manfaat salah satunya yaitu internet. Internet (Interconnected Networ. menghubungkan ke computer dan jaringan-jaringan komputer diseluruh dunia (Wardayanti, 2. Internet sekarang juga sudah menjadi gaya hidup baru dan kebutuhan seseorang di seluruh dunia termasuk Indonesia. Perkembangan alat-alat komunikasi membuat pemenuhan akan kebutuhan internet menjadi semakin mudah (Rini. Abdullah, & Rinaldi, 2. Berdasarkan GoodNewsFromIndonesia. id, menurut data yang dirilis Napoleon Cat, pada periode Januari-Mei 2020, pengguna Instagram di Indonesia mencapai 69,2 juta pengguna. Pada Januari tercatat sekitar 62,23 juta pengguna, lalu naik pada Februari menjadi 62,47 juta pengguna. Kemudian di bulan berikutnya (Mare. penggunanya semakin meningkat dan mencapai 64 juta pengguna. Sebulan kemudian diperoleh data pengguna yang mencapai 65,7 juta, hingga ditutup pada Mei dengan catatan 69,2 juta pengguna. Selain itu, pengguna dari golongan generasi yang paling mendominasi hingga 25 juta pengguna atau mendominasi 36-38 % usia 18- 24 (Iman. Menurut CNN Indonesia (Indra, 2. , instagram menempati urutan teratas sebagai media sosial paling banyak untuk narsis dibanding Snapchat. Twitter dan Facebook yaitu melakukan survei terbaru pada 10. 000 orang partisipan generasi milenial dan menemukan bahwa ada 64% partisipan meyakini Instagram merupakan jenis media sosial untuk narsis dan mengaku memberikan like pada foto dan video sebagai balasan dari orang lain yang sebelumnya memberi like juga diunggahan mereka. Kemudian ada 78% mengatakan bahwa mereka dan orang lain yang dikenalnya menghapus unggahan foto atau video ketika tidak mendapatkan banyak like. Hal ini membuktikan bahwa mayoritas pengguna media sosial salah satunya Instagram ingin mendapatkan like yang banyak dan tidak sepenuhnya bermaksud membagi pengalaman mereka dengan orang lain. Menurut Raskin & Terry (Riyanita & Supradewi, 2. narsistik adalah individu yang mengagumi pada diri sendiri dengan ditandai adanya kecenderungan menilai bahwa dirinya dengan cara berlebihan, suka menjadi titik pusat perhatian, kurang suka menerima sebuah kritikan mengenai dirinya, lebih mengutamakan diri sendiri dan kurang memiliki sikap empati terhadap orang lain. Puspitasari (Riyanita & Supradewi, 2. berpendapat bahwa segala sesuatu yang ditampilkan oleh individu pada lingkunganya yaitu dari sisi baik individu itu sendiri. Oleh karena itu, kecenderungan seseorang untuk menampilkan fisiknya dan kehidupan melalui fotografi ataupun video berkaitan dengan adanya indikasi kecenderungan narsisistik pada diri individu. Berdasarkan studi awal yang dilakukan ditemukan bahwa waktu dan tujuan mereka mengunggah diinstagram ingin mendapatkan perhatian dari orang lain, mereka merasa senang selalu mendapatkan like disetiap unggahan instagram merasa unggahannya lebih baik dari individu lain, dan berkhayal tentang kesuksesan dimasa depan. Hal tersebut menunjukkan mahasiswa mengungkapkan bahwa hampir setiap hari membuka Instagram sekitar 4 jam, untuk mencari kesenangan dan tujuan mengunggah foto atau video untuk dilihat individu lain sehingga bisa mengunggah foto serta video setiap hari 7 kali sampai 10 kali dan merasa senang selalu mendapatkan like karena mendapatkan like itu penting sehingga membuka Instagram terus-menerus karena ingin mengetahui seberapa individu melihat dan suka terhadap unggahannya serta merasa lebih baik dari unggahan orang lain karena merasa lebih menarik dari unggahannya daripada orang lain. Perilaku mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial instagram dengan mengunggah foto, memperbarui status dan mendapatkan followers secara berlebihan dalam menampilkan diri berhubungan dengan adanya kecenderungan narsistik. Kecenderungan narsistik juga berhubungan pada jumlah aktivitas di website yang dilihat dari jumlah teman dan jumlah wallposts atau pesan dinding yang ia miliki. Menurut Fox dan Rooney (Rahmawati, 2. bahwa individu yang sering memposting foto secara online dapat menunjukkan kecenderungan narsistik. Sedangkan menurut Panek (Rahmawati, 2. bahwa individu dengan adanya mempromosikan diri secara online setiap harinya dengan mengunggah foto, memperbarui status untuk mendapatkan tanda suka, komentar atau mendapatkan followers. Individu yang mengunggah foto di media sosial dapat memberikan kepuasan bagi individu dengan kecenderungan narsistik agar individu tersebut dapat menerima umpan balik yang positif dari orang lain, serta individu dalam menggunakan media sosial khususnya Instagram juga masih kurang dapat mengelola waktu yang baik dalam mengunggah Harga Diri Sebagai Prediktor Kecenderungan Narsistik Pada Pengguna Instagram memamerkan diri dengan mengubah bentuk diri, mempercantik foto dengan berbagai filter yang secara berlebihan dalam menampilkan diri dan ingin menjadikan eksistensi diri sendiri. dan harga diri yang rendah, individu narsistik menuntut perhatian yang terus menerus dilingkunganya. Individu dengan harga diri yang rendah rentan untuk ingin menjadi pusat perhatian dan membutuhkan pengakuan dari orang lain. Salah satunya yaitu cara yang dilakukan dengan mengunggah setiap kegiatan yang dilakukan di media sosial seperti akun instagram. Berdasarkan aspek harga diri menurut Coopersmith (Andarini. Susandari, & Rosiana, 2. yaitu menggambarkan sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian atau berharga, kebajikan, dan kompeten. Hal ini berarti bahwa bagaimana individu dapat menerima ataupun menolak suatu kondisi yang dialami. Harga diri yang tinggi merupakan perasaan dan pandangan yang positif terhadap semua hal baik yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya, harga diri yang rendah merupakan rasa tidak cukup terhadap diri dan percaya bahwa dirinya tidak cukup baik atau sejahtera dalam memperoleh sesuatu. Individu yang memiliki harga diri rendah cenderung ingin mendapat pengakuan diri dari orang Individu yang menunjukkan penampilan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, merasa senang ketika mendapatkan like atau komentar positif dari orang lain dan menilai bahwa mendapatkan like atau komentar positif dari orang lain merupakan hal penting. Hal tersebut berpengaruh pada harga diri individu ketika individu merasa senang saat mendapatkan perhatian dari orang lain dan mendapatkan like atau komentar positif dari orang lain karena diapresiasi dan diterima Namun. Individu menilai dirinya negatif karena ketika mendapatkan like disetiap unggahan merasa sangat berharga bagi individu apabila individu kurang merasa puas dengan jumlah like yang ada dan perhatian dari orang lain maka individu merasa adanya penolakan dari Sedikides. Rudich. Gregg. Kumashiro, & Rusbult . menyebutkan salah satu faktor yang mempengaruhi kecenderungan narsistik adalah harga diri. Menurut Coopersmith (Andarini. Susandari, & Rosiana, 2. harga diri merupakan evaluasi penilaian terhadap individu yang memandang dirinya sendiri dimana mengarah pada penerimaan atau penolakan dan kesuksesan yang telah dicapai. Seseorang yang memiliki harga diri tinggi merupakan individu yang dapat diterima dengan baik dan diperhatikan dilingkungannya, sebaliknya seseorang yang memiliki harga diri rendah merupakan individu yang ditolak atau tidak diterima kehadirannya dan tidak disukai oleh lingkungannya. Campbel. Rudich & Sedikides (Rahmawati, 2. menyatakan bahwa adanya kecenderungan narsistik pada individu yang memiliki harga diri tinggi yaitu menganggap diri mereka memiliki hubungan sosial yang baik sedangkan indvidu dengan harga diri rendah berusaha dengan berhubungan sosial dan meningkatkan harga dirinya. Individu yang dengan adanya kecenderungan narsistik membutuhkan pengakuan dan pujian dari orang lain demi menaikkan harga Hal ini yang menyebabkan individu dengan kecenderungan narsistik membutuhkan jejaring sosial untuk mencari perhatian dan dukungan sosial. Coopersmith (Andarini. Susandari, & Rosiana, 2. menyebutkan empat aspek dalam harga diri individu yaitu kemampuan, keberartian atau berharga, kebajikan, dan Harga diri yang tinggi merupakan perasaan dan pandangan yang positif terhadap semua hal baik yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya, harga diri yang rendah merupakan rasa tidak cukup terhadap diri dan percaya bahwa dirinya tidak cukup baik atau sejahtera dalam memperoleh sesuatu. Individu yang memiliki harga diri rendah cenderung ingin mendapat pengakuan diri dari orang Pada umumnya, kecenderungan narsisistik berhubungan dengan pandangan diri yang positif yang meninggi pada sifatsifat tertentu seperti inteligensi, kekuatan, dan daya tarik diri (Buffardi & Campbel, 2. Menurut penelitian yang dilakukan Adi dan Yudiati (Rahmawati, 2. mengungkapkan bahwa seseorang dengan adanya kecenderungan narsistik mempunyai harga diri yang Hal ini disebabkan karena seseorang dengan kecenderungan narsistik membutuhkan pengakuan dan pujian dari lingkungan di sekitarnya untuk menaikkan harga dirinya. Oleh karena itu, seseorang dengan kecenderungan narsistik juga memerlukan media sosial salah satunya instagram untuk mencari perhatian dan dukungan sosial, serta untuk menyingkirkan perasaan yang tidak nyaman dengan harga diri yang rendah, individu narsistik menuntut perhatian yang terus menerus dilingkunganya sehingga dapat meningkatkan harga METODE PENELITIAN Nevid & Rathus (Riyanita & Supradewi, 2. menambahkan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik yaitu senang pamer tentang pendapat dari orang lain yang mengakui keunikan dan keberhasilannya ataupun pencapaian yang sangat dibanggakan pada dirinya sendiri. Hal tersebut dilakukan pada saat seseorang yang adanya terindikasi kecenderungan narsistik merasa harga dirinya mulai terancam, ketika sekitar lingkungannya mulai mengkritik dan memberi masukan yang menurutnya tidak sesuai dengan dirinya. Oleh karena itu, untuk menyingkirkan perasaan yang tidak nyaman Variabel dan Definisi Operasional Menurut Azwar . identifikasi variabel adalah langkah penetapan label bagi variabel-variabel utama dalam penelitian dan penetuan fungsinya masing-masing. Variabel merupakan objek yang dijadikan hal untuk diselidiki dalam suatu penelitian yang memiliki berbagai variasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu harga diri sebagai variabel bebas . ndependent variabl. dan kecenderungan narsistik sebagai variabel terikat . ependent variabl. Veronica. & Febrieta. Kecenderungan Narsistik Kecenderungan narsistik adalah individu yang berlebihan pada diri sendiri terhadap kebutuhan akan dikagumi, dimana cenderung memanfaatkan orang lain untuk kepentingan diri sendiri, suka menjadi pusat perhatian, menganggap dirinya paling hebat dan kurang menunjukkan empati pada orang lain. Kecenderungan narsistik diukur menggunakan skala kecenderungan narsistik berdasarkan 7 aspek yaitu Authority. Self-Sufficiency. Superiority. Exhibitionism. Exploitativeness. Vanity dan Entitlement. Semakin sering individu memposting foto dan video di Instagram maka semakin tinggi kecenderungan narsistik. Harga Diri Harga diri adalah evaluasi penilaian individu terhadap diri sendiri pada kemampuan dan kesuksesan yang telah dicapai serta perlakuan yang diperoleh dari interaksi lingkungan. Harga diri diukur menggunakan skala harga diri berdasarkan 4 aspek yaitu kekuatan, keberartian, kemampuan dan kebajikan. yaitu Sangat Sering (SS). Sering (S). Jarang (J), dan Tidak Pernah (TP). Untuk skala harga diri disusun berdasarkan aspek-aspek yaitu kekuatan, keberartian, kemampuan dan kebajikan. Skala ini menggunakan empat pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS). Sesuai (S). Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala harga diri disusun dengan aitem favorabel dan unfavorabel yang terdiri dari 32 aitem. Validitas merupakan sejauh mana alat ukur mampu mengungkap apa yang hendak diukur. Apakah item-item tersebut di dalam alat ukur mencerminkan hal yang semestinya diukur dan tidak mengungkap hal di luar tujuan ukurnya (Periantalo, 2. Menurut Azwar . validitas isi yaitu untuk menilai relevansi item dengan indikator serta mengkaji apakah seluruh item telah komprehensif dengan data yang hendak diukur. Pada penelitian ini, uji validitas isi dilakukan dengan melihat koefisien korelasi item total sebesar 0,30 dan apabila jumlah proporsi item tidak memenuhi setiap dimensi alat ukur, maka koefisien korelasi item total dapat diturunkan menjadi 0,25 (Azwar, 2. Sedangkan reliabilitas memiliki arti sebagai konsistensi atau keakuratan hasil alat ukur. Teknik pengukuran reliabilitas yang digunakan pada penelitian ini adalah Croncbach Alpha dimana konstruk atau variabel dapat dikatakan reliabel jika nilai Croncbach Alpha lebih besar dari 0,60. Hasil uji validitas pada skala kecenderungan narsistik didapatkan dengan melakukan try out kepada 55 mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya untuk menentukan aitem yang layak dan tidak layak dengan menggunakan daya diskriminasi aitem. Berdasarkan hasil uji coba daya beda yang terdiri dari 14 aitem yaitu menggunakan standar indeks beda aitem dalam penelitian ini sebesar 0. Setelah dilakukan analisis data, diketahui aitem yang memiliki daya beda diatas 300 yaitu sebanyak 12 aitem yang diterima, sedangkan sebanyak 2 aitem yang dinyatakan gugur (<0. Berdasarkan hasil uji reliabilitas data diatas pada skala kecenderungan narsistik dinyatakan sangat reliabel dengan Cronbach Alpha yaitu sebesar 0. Hal ini menandakan bahwa skala ini mampu mencerminkan 93,1% variasi skor murni subjek, sehingga dapat disimpulkan bahwa skala kecenderungan narsistik layak digunakan sebagai alat ukur untuk mengukur kecenderungan narsistik. Pada skala harga diri dengan melakukan try out kepada 55 mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya untuk menentukan aitem yang layak dan tidak layak terdiri dari 32 aitem yaitu menggunakan standar indeks beda aitem dalam penelitian ini sebesar 0. 250 dikarenakan agar tidak ada salah satu aspek yang gugur. Setelah dilakukan analisis data, diketahui aitem yang memiliki daya beda diatas 0. 250 yaitu sebanyak 10 aitem yang diterima, sedangkan sebanyak 22 aitem yang dinyatakan gugur (<0. Sedangkan pada skala harga diri dinyatakan reliabel dengan Cronbach Alpha yaitu Hasil uji reliabilitas skala harga diri mampu mencerminkan 73,5% variasi skor murni subjek, sehingga dapat disimpulkan bahwa skala harga diri layak digunakan sebagai alat ukur untuk mengukur harga diri. Sampel Penelitian/Subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa pengguna aktif instagram di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya yang terdiri dari 7 fakultas, yaitu Fakultas Psikologi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Fakultas Hukum. Fakultas Teknik. Fakultas Komputer. Fakultas Ilmu Komunikasi, dan Fakultas Ilmu Pendidikan. Karakteristik populasi dalam penelitian ini antara lain mahasiswa aktif di Universitas Bhayangkara, memiliki akun Instagram, menggunakan fitur Instagram, dan menyukai swafoto dan diunggah ke setiapharinya. Teknik non-probability yang dipilih dalam penelitian ini menggunakan Purposive sampling yaitu di mana peneliti membuat kriteria khusus pada subjek penelitian dan mencari subjek yang memenuhi berdasarkan kriteria tersebut dalam penelitian (Periantalo, 2. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Peneliti melakukan penelitian di kampus II yang berlokasi di Jl. Raya Perjuangan. Bekasi Utara. Kota Bekasi. Peneliti melakukan penelitian pada mahasiswa aktif yang berkuliah di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dengan berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan sebelumnya. pengambilan data dengan menyebarkan skala harga diri dan skala kecenderungan narsistik secara online melalui Google Form. Hal ini dilakukan karena pengambilan data dilakukan saat mahasiswa sedang melaksanakan kuliah pembelajaran jarak jauh atau daring akibat dampak dari pandemi Covid-19. Alat Ukur Instrumen yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan skala psikologi, dalam pengumpulan data dilakukan dengan menyebar skala kecenderungan narsistik dan skala harga diri. Kecenderungan narsistik diukur menggunakan skala kecenderungan narsistik berdasarkan 7 aspek yaitu Authority. Self-Sufficiency. Superiority. Exhibitionism. Exploitativeness. Vanity dan Entitlement menurut Raskin & Terry (Teniawaru. Wicaksono, & Saniatuzzulfa, 2. Skala kecenderungan narsistik terdiri dari 14 aitem dengan keseluruhan aitem menggunakan aitem favorable dengan empat pilihan jawaban Teknik Analisis Data Uji hipotesis dilakukan apabila data peneletian telah melewati syarat uji asumsi yaitu uji normalitas dan uji linearitas. Uji Harga Diri Sebagai Prediktor Kecenderungan Narsistik Pada Pengguna Instagram normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Dalam analisis regresi linear, bagian yang diuji normalitas bukanlah data per variabel penelitian melainkan data residual hasil analisis regresi. Uji Normalitas dilakukan untuk mengetahui distribusi residual dari model regresi, jika residual berdistribusi normal maka model dapat dianalisis dengan analisis regresi, namun jika residual tidak berdistribusi normal maka model tersebut tidak dapat dianalisis dengan analisis regresi. Sedangkan uji linieritas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua variabel secara signifikan mempunyai hubungan linier atau tidak. Setelah melakukan uji asumsi, data penelitian dianalisis dengan menggunakan metode analisis regresi linier untuk menguji hipotesis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS release 20. Kriteria Tinggi Sedang Rendah Total Skor > 30 20 Ae 30 < 20 Persentase 89,3 % 10,7 % Uji Asumsi Pada penelitian ini uji asumsi yang digunakan adalah uji normalitas dan uji linieritas. Uji normalitas menggunakan metode One Sample Kolmogorov-Smirnov, jika nilai signifikansi > 0,05 maka variabel berdistribusi normal dan sebaliknya jika signifikansi < 0,05 maka variabel tidak berdistribusi normal. Tabel 3 menunjukkan bahwa data residu pada variabel kenederungan narsistik dan harga diri berdistribusi normal dengan nilai Kolmogorov Smirnov memiliki nilai signifikansi sebesar 0,200 . >0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan sudah berdistribusi normal dan dapat dilakukan untuk analsiis HASIL PENELITIAN Karakteristik Subjek Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Pada Tes One-Sample Kolmogorov-Smirnov Unstandardized Residual Normal Parameters Mean Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive - 0. Negative Berdasarkan data yang diperoleh, responden dalam penelitian ini adalah Mahasiswa aktif Universitas Bhayangkara Jakarta Raya yang merupakan pengguna Instagram dengan keseluruhan subjek yang berjumlah 140 orang. Pada kategori usia, mayoritas responden berada pada usia 22 tahun dengan jumlah 29,3%. Pada kategori fakultas, responden penelitian mayoritas berasal dari Fakultas Ilmu Komunikasi dan Fakultas Psikologi dengan masing-masing 17,9%. Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Deskripsi Data Penelitian Variabel kecenderungan narsistik dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan skala kecenderungan narsistik yang terdiri dari 12 aitem dengan skor tertinggi 4 dan skor terendah 1 berdasarkan skala jenjang. Pada penelitian ini uji linieritas dilakukan menggunakan test for liniearity, dengan taraf signifikansi 0,05. Jika nilai Deviation from Linearity sig > 0,05 maka ada hubungan yang linier secara signifikan antara kedua variabel bila sig < 0,05 maka tidak ada hubungan yang linier. Berdasarkan Tabel 4, hasil yang didapatkan pada uji linieritas menunjukan nilai signifikansi linearity sebesar 0,001 . <0,. dan nilai deviation from linearity sebesar 0,680 . >0,. artinya data yang digunakan pada penelitian ini terdistribusi linier. Tabel 1. Deskripsi Variabel Kecenderungan Narsistik Kriteria Skor Persentase Tinggi > 40 70,7 % Sedang 20 Ae 40 29,3 % Rendah < 20 Total Hasil deskripsi statistik pada tabel 1 menunjukkan bahwa kecenderungan narsistik menunjukkan bahwa tidak ada subjek pada kategori rendah, sedangkan 29,3% yaitu sebanyak 41 subjek memiliki kecenderungan narsistik pada kategori sedang, dan 70,7% yaitu sebanyak 99 subjek memiliki kecenderungan narsistik pada kategori tinggi. Tabel 4. Hasil Uji Linieritas Kecenderungan Narsistik Harga Diri Variabel harga diri diukur dengan menggunakan skala harga diri yang terdiri dari 10 aitem dengan skor tertinggi 4 dan skor terendah 1 berdasarkan skala jenjang. Hasil deskripsi statistik pada tabel 2 menunjukkan bahwa tidak ada subjek pada kategori rendah, sedangkan 10,7% yaitu sebanyak 15 subjek memiliki harga diri pada kategori sedang, dan 89,3% yaitu sebanyak 125 subjek memiliki harga diri pada kategori tinggi. Between Groups (Combine. Linearity Deviation from Linearity Sig. Berdasarkan uji normalitas, dan uji linearitas yang telah dilakukan maka dapat dikatakan data dalam penelitian ini berdistribusi normal, tidak dan menunjukkan hubungan yang linear sehingga dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu analisis regresi linier. Tabel 2. Deskripsi Variabel Harga Diri Veronica. & Febrieta. Uji Hipotesis Uji regresi linier sederhana dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara Harga Diri terhadap Kecenderungan Narsistik. Berdasarkan hasil hipotesis regresi pada tabel 5 ditemukan bahwa harga diri mampu mempengaruhi kecenderungan narsistik secara signifikan dengan nilai F sebesar 12,465 dan nilai signifikansi sebesar p=0,001 . <0,. Hal ini menandakan bahwa model regresi dapat digunakan untuk memrediksi kecenderungan narsistik. Tabel 5. Hasil Uji ANOVA Model Regression 12,465 Residual Total Variabel Terikat : Kecenderungan Narsistik Prediktors : (Constan. Harga Diri Y = 29,929 0,338X Keterangan: Y = Kecenderungan Narsistik X1 = Harga Diri Konstanta sebesar 29,929 menyatakan bahwa jika tidak ada penambahan skor harga diri maka tingkat kecenderungan narsistik adalah sebesar 29,929 Koefisien regresi X1 sebesar 0,338 menyatakan bahwa setiap penambahan atau peningkatan satuan skor subjek pada variabel harga diri maka akan terjadi kenaikan taraf prestasi akademik sebesar 0,338. Sig. Artinya setiap kenaikan 1% pada varibel harga diri maka akan meningkat juga pada variabel kecenderungan narsistik sebesar 0,388%. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa koefisien bernilai positif yang berarti arah hubungan variabel harga diri terhadap variabel kecenderungan narsistik searah yang dimana apabila variabel harga diri meningkat sebesar 0,388% maka variabel kecenderungan narsistik akan meningkat sebesar 30,267%. Pada penelitian ini, uji hipotesis menggunakan metode analisis regresi linier dengan bantuan software SPSS. Tabel 6 menunjukkan bahwa koefisien regresi (R) sebesar 0,288. Nilai koefisien korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara Harga Diri dan Kecenderungan Narsistik. Hubungan antara Harga Diri dengan Kecenderungan Narsistik memiliki kekuatan yang lemah dan bersifat ada kemungkinan hubungan antara harga diri dengan kecenderungan narsistik. Tabel 6. Model Summary Model R Square Predictors: (Constan. Harga Diri Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 4,491 PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan, nilai koefisien korelasi sebesar 0,288** dengan taraf signifikansi . sebesar 0,001 . <0,. Nilai koefisien korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara Harga Diri dan Kecenderungan Narsistik, artinya semakin tinggi Harga Diri, maka semakin tinggi Kecenderungan Narsistik. Sebaliknya, jika Harga diri semakin rendah maka Kecenderungan Narsistik akan semakin rendah. Hubungan antara Harga Diri dengan Kecenderungan Narsistik memiliki kekuatan yang lemah dan bersifat ada kemungkinan hubungan antara harga diri dengan kecenderungan narsistik Koefisien determinasi (R Squar. pada penelitian ini sebesar 0,083, yang berarti bahwa harga diri mampu memprediksi variasi kecenderungan narsistik sebesar 8,3%, sedangkan sisanya 91,7% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian Berdasarkan hasil tersebut maka hipotesis nihil (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. diterima, yaitu harga diri sebagai prediktor kecenderungan narsistik pada pengguna instagram di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Berdasarkan hasil uji regresi yang dilakukan menggunakan teknik regresi linier sederhana diperoleh nilai F=12,465 dan nilai signifikansi sebesar p=0,001 . <0,. Pada hasil analisis regresi juga didapatkan nilai R Square sebesar 0,083, artinya harga diri mampu memberikan sumbangan efektif terhadap peningkatan 8,3%, sedangkan sisanya 91,7% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini seperti depression, loneliness, dan subjective well-being. artinya (H. ditolak (H. diterima yang menyatakan adanya harga diri mempengaruhi kecenderungan narsistik pada pengguna instagram di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Tabel 7. Skor Koefisien Unstandardized Coefficients Model Sig. Std. Error (Constan. 29,929 3,382 8,850 0,000 Harga Diri 0,338 0,096 3,531 0,001 Raskin & Terry (Riyanita & Supradewi, 2. menyatakan narsistik adalah individu yang mengagumi pada diri sendiri dengan ditandai adanya kecenderungan menilai bahwa dirinya dengan cara berlebihan, suka menjadi titik pusat perhatian, kurang suka menerima sebuah kritikan mengenai dirinya, lebih mengutamakan diri sendiri dan kurang memiliki sikap empati terhadap orang lain. Pada umumnya, kecenderungan narsisistik berhubungan dengan pandangan diri yang positif yang meninggi pada sifat-sifat tertentu seperti inteligensi, kekuatan, dan daya tarik diri (Buffardi & Campbel, 2. Coopersmith (Andarini. Susandari, & Rosiana, 2. menggambarkan sejauh mana individu tersebut menilai Dependent Variable: Kecenderungan Narsistik Tabel 7 menunjukkan bahwa variabel kecenderungan narsistik memiliki skor Unstandardized Coefficients sebesar 0,338 dengan nilai t sebesar 3,531 serta taraf signifikansi p < 0,05. Hal ini menadakan bahwa yang berarti harga diri berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderungan narsistik. Rumus persamaan regresi linier sederhana adalah sebagai berikut: Harga Diri Sebagai Prediktor Kecenderungan Narsistik Pada Pengguna Instagram dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian atau berharga, kebajikan, dan kompeten. Hal ini berarti bahwa bagaimana individu dapat menerima ataupun menolak suatu kondisi yang dialami. bahwa dirinya tidak cukup baik atau sejahtera dalam memperoleh sesuatu. Individu yang memiliki harga diri rendah cenderung ingin mendapat pengakuan diri dari orang Menurut Durand dan Barlow . menyatakan bahwa individu yang memiliki kecenderungan narsistik berlebihan cenderung memanfaatkan individu lain untuk kepentingan diri sendiri dan menunjukkan sedikit empati kepada individu lain. Pada umumnya, kecenderungan narsisistik berhubungan dengan pandangan diri yang positif yang meninggi pada sifatsifat tertentu seperti inteligensi, kekuatan, dan daya tarik diri (Buffardi & Campbel, 2. Nevid & Rathus (Riyanita & Supradewi, 2. menambahkan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik yaitu senang pamer tentang pendapat dari orang lain yang mengakui keunikan dan keberhasilannya ataupun pencapaian yang sangat dibanggakan pada dirinya sendiri. Hal tersebut dilakukan pada saat seseorang yang adanya terindikasi narsistik merasa harga dirinya mulai terancam, ketika sekitar lingkungannya mulai mengkritik dan memberi masukan yang menurutnya tidak sesuai dengan dirinya. Menurut penelitian Adi dan Yudiati (Rahmawati, 2. yang mengungkapkan bahwa seseorang dengan adanya kecenderungan narsistik mempunyai harga diri yang rendah. Hal ini disebabkan karena seseorang dengan kecenderungan narsistik membutuhkan pengakuan dan pujian dari lingkungan di sekitarnya untuk menaikkan harga dirinya. Oleh karena itu, seseorang dengan kecenderungan narsistik juga memerlukan media sosial salah satunya instagram untuk mencari perhatian dan dukungan sosial, serta untuk menyingkirkan perasaan yang tidak nyaman dengan harga diri yang rendah, individu narsistik menuntut perhatian yang terus menerus dil ingkunganya sehingga dapat meningkatkan harga Menurut Austin (Riyanita & Supradewi, 2. individu yang menggunakan jejaring sosial dengan tujuan untuk menampilkan versi ideal dari dalam diri atau kehidupan keseharian mereka, individu tersebut cenderung lebih berfokus pada berbagai hal yang positif dan mengurangi yang negatif dalam akun mereka. Hal ini tidak hanya membuat pengguna instagram AumenipuAy orang yang melihatnya, namun juga AumenipuAy dirinya sendiri. Puspitasari (Riyanita & Supradewi, 2. berpendapat bahwa segala sesuatu yang ditampilkan oleh individu pada lingkunganya yaitu dari sisi baik individu itu sendiri. Oleh karena itu, kecenderungan seseorang untuk menampilkan fisiknya dan kehidupan melalui fotografi ataupun video berkaitan dengan adanya indikasi kecenderungan narsisistik pada diri individu. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati . yang menunjukkan ada hubungan yang positif antara harga diri dengan kecenderungan narsisme, yang berarti semakin tinggi kecenderungan narsisme semakin tinggi harga Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunawan . dengan hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan harga diri dengan kecenderungan narsistik. Semakin tinggi harga diri, maka semakin tinggi kecenderungan narsistik pada pengguna instagram. Hasil uji kategorisasi menunjukkan bahwa subjek yang memiliki kecenderungan narsistik pada kategori tinggi sebanyak 99 responden dengan persentase 70,7% yang berarti membuat invidu tertarik dan suka mengunggah hal dan aktivitas sehari-hari tentang dirinya di media sosial khususnya di Instagram dengan tujuan mengunggah foto dan video di Instagram untuk ingin dilihat oleh orang lain dan mendapatkan like yang banyak serta menginginkan pujian dan menjadi pusat perhatian serta merasa iri. Pada kategori sedang sebanyak 41 responden dengan persentase 29,3% yang berarti bahwa individu terkadang tertarik dan suka mengunggah hal dan aktivitas sehari-hari tentang dirinya di media sosial khususnya di Instagram dengan tujuan untuk ingin dilihat oleh orang lain dan mendapatkan like yang banyak serta menginginkan pujian dan menjadi pusat perhatian serta merasa Harga diri yang tinggi merupakan perasaan dan pandangan yang positif terhadap semua hal baik yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya, ketika individu dengan harga diri yang rendah merupakan rasa tidak cukup terhadap diri dan percaya bahwa dirinya tidak cukup baik atau sejahtera dalam memperoleh sesuatu. Individu yang merasakan adanya hal-hal positif dalam dirinya tentu akan menyukai dirinya sendiri dan mengembangkan perasaan bahwa dirinya berharga. Campbel. Rudich & Sedikides (Rahmawati, 2. menyatakan bahwa adanya kecenderungan narsistik pada individu yang memiliki harga diri tinggi yaitu menganggap diri mereka memiliki hubungan sosial yang baik. Individu dengan harga diri yang rendah rentan untuk ingin menjadi pusat perhatian dan membutuhkan pengakuan dari orang lain. Salah satunya yaitu cara yang dilakukan dengan mengunggah setiap kegiatan yang dilakukan di media sosial seperti akun Berdasarkan aspek harga diri menurut Coopersmith (Andarini. Susandari, & Rosiana, 2. yaitu menggambarkan sejauh mana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian atau berharga, kebajikan, dan kompeten. Hal ini berarti bahwa bagaimana individu dapat menerima ataupun menolak suatu kondisi yang Harga diri yang tinggi merupakan perasaan dan pandangan yang positif terhadap semua hal baik yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya, harga diri yang rendah merupakan rasa tidak cukup terhadap diri dan percaya Pada uji kategorisasi variabel harga diri dengan kategori tinggi sebanyak 125 responden dengan persentase 89,3% menunjukkan bahwa individu yang memiliki mampu menerima dirinya dengan apa adanya serta mereka menganggap dirinya memiliki hubungan sosial yang baik. Mereka mendapatkan dukungan berupa penerimaan, penghargaan, atau dukungan dari lingkungan maupun keluarga sehingga mereka merasa diterima dan diperhatikan dilingkungan sekitarnya, dan kategori sedang sebanyak 15 responden dengan persentase 10,7% bahwa individu terkadang mampu menerima dirinya dengan apa adanya dan menganggap dirinya memiliki hubungan sosial yang baik serta terkadang mereka kurang mendapatkan dukungan dari lingkungan maupun keluarga sehingga mereka terkadang Veronica. & Febrieta. merasa diterima dan diperhatikan dilingkungan sekitarnya. Instagram di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya memiliki harga diri berada pada kategori sedang dan tinggi, sedangkan kecenderungan narsistik berada pada kategori sedang dan Hal ini sesuai dengan fenomena awal yang menujukkan bahwa responden memiliki kecenderungan narsistik sehingga membuat mereka tertarik dan suka mengunggah atau memperlihatkan hal tentang dirinya di media sosial khususnya di Instagram secara berlebihan. Mereka mengunggah foto di media sosial juga dengan tujuan mengunggah foto dan video di Instagram untuk ingin dilihat oleh orang lain dan mendapatkan like yang banyak sehingga menginginkan pujian dan menjadi pusat perhatian serta merasa iri terhadap hal yang dimiliki oleh orang lain karena merasa senang ketika orang lain memberikan like dan komentar positif, serta menganggap bahwa dirinya hebat dan istimewa, sehingga mereka melakukan segala sesuatu dengan memanfaatkan orang lain sesuai dengan keinginan dirinya sendiri. Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan, maka bagi para mahasiswa khususnya mahasiswa pengguna Instagram diharapkan dalam menggunakan media sosial seharusnya digunakan dengan baik agar dapat memberikan manfaat yang baik bagi diri sendiri dan tidak berlebihan dalam mengunggah foto atau video maupun aktivitas sehari-hari di media sosial khususnya Instagram agar menghindari rasa iri dan kecemburuan sosial, mampu menyaring informasi yang ada di media sosial, memiliki kreativitas dalam menampilkan diri sesuai dengan realitas serta individu diharapkan dapat mampu mengelola waktu dengan bijak dalam menggunakan media sosial khususnya Instagram. Diharapkan juga mahasiswa dapat mempertahankan harga diri dengan menjadi lebih positif melalui pemahaman diri yang baik dengan pengalaman, berinteraksi sosial, serta mampu mengenali minat bakat yang Hal ini menunjukkan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati . yang menunjukkan ada hubungan yang positif antara harga diri dengan kecenderungan narsisme, yang berarti semakin tinggi kecenderungan narsisme semakin tinggi harga diri. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunawan . menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan harga diri dengan kecenderungan narsistik. Semakin tinggi harga diri, maka semakin tinggi kecenderungan narsistik pada pengguna Instagram. Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mencari faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap kecenderungan narsistik seperti depresi, loneliness dan subjective well-being. Peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat melakukan penelitian yang lebih luas terhadap mahasiswa mengenai fenomena kecenderungan narsistik di Indonesia karena dalam penelitian ini masih kurang lengkap pada fenomena di Indonesia, serta mampu membangun tentang landasan teori yang lebih detail dan lengkap dari data yang telah digunakan dalam penelitian ini. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menyempurnakan skala dalam penelitian ini dikarenakan ada perubahan dalam penyusunan blue print untuk skala kecenderungan narsistik. Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah penelitian ini belum bisa dapat dikatakan sebagai penelitian yang relevan, sebab penelitian ini masih memiliki keterbatasan dan Beberapa kelemahan diantaranya ialah keterbatasan dalam pengambilan data kuesioner melalui Google Form dikarenakan seluruh mahasiswa melaksanakan pembelajaran jarak jauh akibat adanya pandemi Covid-19 sehingga peneliti tidak bisa menyebarkan kuesioner secara langsung dan tidak bisa memastikan apakah subjek yang menjadi responden dalam penelitian ini mengisi dengan sesuai keadaan dirinya atau tidak. Peneliti juga melakukan wawancara melalui WhatsApp kepada mahasiswa pengguna Instagram sehingga hasilnya kurang menggambarkan sepenuhnya terhadap fenomena di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. DAFTAR PUSTAKA