Qismul Arab: Journal of Arabic Education Volume 5 Issue 01 Desember 2025. Page 29-37 ISSN: 2827-9476 (Onlin. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/qismul_arab/ Implementasi Metode Audiolingual dalam Pembelajaran MahArah KalAm Inayah Priyatun Ahmad Taufiq UIN K. Abdurrahman Wahid Pekalongan UIN K. Abdurrahman Wahid Pekalongan priyatun24015@mhs. taufiq@uingusdur. DOI: https://doi. org/10. 62730/qismularab. Corresponding author: priyatun24015@mhs. Article Info Abstrak Kata kunci: Metode Audiolingual. MahArah KalAm. Pembelajaran Bahasa Arab. Keterampilan Berbicara Pada saat belajar bahasa Arab siswa dituntut untuk memiliki salah satu keterampilan dasar untuk berjalannya suatu keberlangsungan pembelajaran di kelas, yaitu MahArah kalAm. MahArah kalAm merupakan kemampuan dalam melafalkan bahasa Arab yang baik berdasarkan artikulasi untuk menyatakan atau juga menyampaikan suatu pikiran, perasaan serta gagasan. Kesenjangan metode dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan salah satu kendala yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam pembelajaran bahasa Arab khususnya dalam keterampilan berbicara, karena metode merupakan jalan yang ditempuh seorang guru untuk memberikan pelajaran kepada peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif Adapun jenis penelitian yang digunakan ialah studi kasus. Studi kasus merupakan jenis penelitian kualitatif yang menguji secara terperinci terhadap suatu latar, dokumen, orang, sebuah peristiwa. Jenis penelitian studi kasus dan metode penelitian kualitatif ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang kondisi terkini dari SMK NU Kajen khususnya terkait proses pembelajaran bahasa arab menggunakan metode audiolingual dalam mahArah kalAm, serta hasil dari penggunaan metodenya. Hasilnya, penerapan metode audiolingual pada pembelajaran mahArah kalAm di kelas XI SMK NU Kajen berjalan sangat antusias dalam mengikuti pengulangan ucapan guru. Selain itu, siswa kian lancar membaca dan melafalkan bahasa arab tanpa menggunakan intonasi seperti membaca alquran lagi. Keywords: Audiolingual method. MahArah KalAm. Arabic Language Learning, speaking skills Abstract When learning Arabic, students are required to have one of the basic skills for continuous learning in the classroom, namely MahArah kalAm. MahArah kalAm is the ability to pronounce Arabic well based on articulation to express or convey thoughts. Received 24 October 2025. Received in revised form 29 October 2025 year. Accepted 10 November 2025 Available online 2 December 2025 / A 2023 The Authors. Published by Jurnal Qismul Arab: Journal of Arabic Education. This is an open access article under the CC BY license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ Inayah Priyatun. Ahmad Taufiq feelings and ideas. The gap in methods in learning Arabic is one of the obstacles that causes a gap between expectations and reality in learning Arabic, especially in speaking skills, because methods are the path taken by a teacher to provide lessons to students. This research use descriptive qualitative approach. The type of research used is a case Case studies are a type of qualitative research that examines in detail a setting, document, person, or event. This type of case study research and qualitative research methods were used to collect data about the current conditions of NU Kajen Vocational High School, especially regarding the Arabic language learning process using the audiolingual method in mahArah kalAm, as well as the results of using the method. a result, the application of the audiolingual method in teaching mahArah kalAm in class Apart from that, students are becoming more fluent in reading and pronouncing Arabic without using intonation like reading the Al-quran again. Pendahuluan Pembelajaran mahAratul kalAm termasuk salah satu jenis pembelajaran keterampilan dalam bidang Bahasa Arab, pembelajaran tersebut dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam kemampuan siswa untuk mengungkapkan pikiran, pendapat, dan perasaan secara lebih terstruktur, efektif, dan tepat dengan menggunakan bahasa Arab. Adapun beberapa keterampilan berbahasa yang terdapat dalam Bahasa Arab yaitu mahAratul istimAAo atau keterampilan menyimak, mahAratul kalAm atau keterampilan berbicara, mahAratul qirAAoah atau keterampilan membaca, dan mahAratul kitAbah atau keterampilan menulis (Arif, 2. Pada saat belajar bahasa Arab siswa diharapkan memiliki salah satu keterampilan dasar untuk berjalannya suatu keberlangsungan pembelajaran di kelas, yaitu MahArah kalAm. MahArah kalAm merupakan kemampuan dalam melafalkan bahasa Arab yang baik berdasarkan artikulasi untuk menyatakan atau juga menyampaikan suatu pikiran, perasaan serta gagasan. MahArah kalAm juga melahirkan suasana yang baik di antara pembicara dan pendengar (AlAhyar, 2. MahArah kalAm merupakan suatu keterampilan berbahasa yang berkembang dan dipengaruhi oleh keterampilan menyimak. Berbicara dan menyimak merupakan komunikasi dua arah atau tatap muka yang dilakukan dengan dua orang atau banyak orang (Hanisa, 2. Melihat permasalahan yang muncul pada siswa di SMK NU Kajen, terdapat beberapa siswa belum memiliki keterampilan berbicara secara baik. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa melafalkan bahasa Arab secara baik. MahArah kalAm akan mudah dikuasai oleh siswa apabila diberikannya metode pembelajaran yang sesuai pada saat proses pembelajaran. Dari permasalahan tersebut maka peneliti memberikan metode yang sesuai dengan keadaan siswa pada saat proses pembelajaran. Ada beberapa metode dalam keterampilan berbicara, akan tetapi peneiti lebih memilih metode audiolingual untuk digunakan dalam pembelajaran Bahasa Arab. Selain itu, metode audiolingual juga cocok dengan beragam gaya belajar peserta didik, baik auditori, visual, dan kinestik, karena metode ini menggali bakat bawaan dari peserta didik dalam bentuk pendengaran . ,melihat/membaca teks . , dengan melibatkan peserta didik dalam pengalaman linguistic . (Mufida, 2. Menurut M. Ngalim Purwanto dalam bukunya AuIlmu Pendidikan Teoritis dan PraktisAy bahwa: AuDari beberapa metode tersebut. Metode audiolingual adalah salah satu metode yang dapat diterapkan untuk peserta didik Bahasa Arab, dan sesuai dengan pendekatan pendidikan konvergensi serta sejalan dengan teori Ki Hajar Dewantara AuTut Wuri . engikuti dari belakan. endorong atau memotivas. Ay yang pada umumnya Qismul Arab: Journal of Arabic Education dijadikan dasar dalam pemilihan metode pembelajaran di Indonesia. Audiolingual merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan terhadap apa yang telah dipelajari siswa untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu (Mufida, 2. Kata latihan mempunyai arti sesuatu yang selalu diulang-ulang, namun bagaimanapun juga antara situasi belajar yang pertama dengan situasi belajar yang realistis akan berusaha untuk melatih keterampilan Jika situasi pembelajaran mempersonalisasikan kondisi sehingga menuntut respons yang berubah, maka keterampilan akan lebih halus. Ada beberapa penelitian terdahulu yang ada korelasi dengan penelitian ini diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh HaniAoatul Khoiroh dengan judul thariqoh samAoiyyah syafawiyah (Auditory-Ora. untuk meningkatkan creative thinking dalam pembelajaran MahArah kalam (Khoiroh, 2. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan yang difokuskan dalam penggunaan metode samAoiyyah syafawiyah adalah penguasaan mufradat dan MahArah kalAm, akan tetapi bentuk penerapan dari metode audiolingual masih belum dikaji sehingga penelitian ini layak untuk dilakukan terutama pada siswa SMK NU yang berada di Kajen. Pekalongan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Adapun jenis penelitian yang digunakan ialah studi kasus. Studi kasus merupakan jenis penelitian kualitatif yang menguji secara terperinci terhadap suatu latar, dokumen, orang, sebuah peristiwa (Pakpahan, 2. Jenis penelitian studi kasus dan metode penelitian kualitatif ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang kondisi terkini dari SMK NU Kajen khususnya terkait proses pembelajaran bahasa arab menggunakan metode audiolingual dalam MahArah kalAm, serta hasil dari penggunaan Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada tujuan penelitian, yaitu untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tentang impelementasi dari metode audiolingual dalam pembelajaran MahArah kalAm. Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber primer dan sekunder. Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber informasi utama, yaitu subjek penelitian atau responden (Fadli, 2. Sumber data primer pada penelitian adalah siswa kelas XI SMK Maarif NU Kajen. Kemudian data sekunder peneliti dapatkan melalui telaah Pustaka . ibrary researc. dan jurnal-jurnal terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Hal ini karena data sekunder membantu menginterpretasi dan memvalidasi temuan yang dihasilkan dari data primer, sehingga memberikan analisis yang lebih komprehensif dan mendalam dari berbagai sumber informasi jurnal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi pada setiap pembelajaran Proses ini melibatkan subjek berupa guru Bahasa Arab, siswa dan objeknya berupa buku pelajaran Bahasa Arab, media yang digunakan serta metode audiolingual dalam MahArah kalAm. Hasil dari proses diatas kemudian dianalisis secara sistematis disertai dengan tinjauan ulang terhadap beberapa refrensi teoritis dan data sekunder untuk memperkuat penelitian. PEMBAHASAN Metode Audiolingual Dalam Pembelajaran MahArah kalAm Kata metode dalam istilah pendidikan biasanya digunakan untuk menunjukan untuk menunjukan sekumpulan kegiatan dan prosedur atau proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang tentunya sangat berpengaruh terhadap penguasaan murid atas ilmu, sikap, dan keterampilan tertentu (Baroroh & Rahmawati, 2. Bentuk dari kegiatan atau prosedur tersebut misalnya seperti membaca, mendengarkan, berdiskusi, menelaah dan Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ Inayah Priyatun. Ahmad Taufiq menganalisis, mengulang, menjelaskan, menggunakan papan tulis dan media-media pembelajaran yang lainnya (Nuraeni et al. , 2. Penerapan metode, kegiatan atau prosedur-prosedur diatas bukan berarti bahwa guru harus terpaku pada suatu kegiatan beserta prosedurnya, tetapi guru dituntut untuk kreatif dalam menerapkan berbagai kegiatan dan prosedur membelajarkan materi tertentu. Dalam arti bahwa guru dituntut menguasai berbagai metode . egiatan, prosedur, dan langkah-langkah pembelajara. dan dapat menerapkannya dengan baik (Aini & Safitri. Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran baik secara individual maupun kelompok. Agar terciptanya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, seorang guru harus mengetahui berbagai metode. Dengan memiliki pengetahuan mengenai sifat berbagai metode, maka seorang guru akan lebih mudah menetapkan metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi (Mulyana, 2. Metode Audiolingual (SamAoiyyah syafawiyya. merupakan salah satu metode pengajaran bahasa Arab yang mengutamakan latihan pendengaran dan pengucapan, dengan istilah lain yaitu metode belajar bahasa Arab yang di lakukan dengan mendengarkan bunyi dan mengucapkan sebagaimana mestinya (Lestari et al. , 2. Jadi belajar dengan metode ini seorang siswa mendengarkan kalimat bahasa Arab baik dari kaset ataupun guru yang membacakan kemudian menirukan secara berulang-ulang sehingga menguasi dan lancer (Mufida, 2. Metode pembelajaran audiolingual juga merupakan metode pembelajaran praktik langsung yang dilakukan oleh pendidik dengan melatih peserta didik untuk mempelajari bahasa yang baru dipelajarinya (Sadat et al. , 2. Sebagaimana nama metode ini, yaitu mendengarkan dan berbicara maka dalam aplikasinya, metode ini lebih menekankan pada dua aspek ini sebelum kedua aspek yang lain. Jika melihat konsep dasarnya, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapannya dalam pembelajaran MahArah al-kalAm, yaitu: Peserta didik harus menyimak, kemudian berbicara, lalu membaca dan kemudian menulis Tata bahasa disajikan dalam bentuk pola kalimat dengan topik situasi sehari-hari Latihan . rill/at-tadrbA. harus mengikuti operant-conditioning, dengan guru membacakan teks bahasa Arab dan memberikan rangsangan kepada peserta didik untuk mengikuti bacaan dan mengembangkan teks yang dibacakan guru Dalam latihan, pemberian hadiah lebih diutamakan daripada pemberian hukuman. Semua unsur bahasa harus disajikan dari yang mudah kepada yang sulit Guru harus menghindari kemungkinan-kemungkinan untuk memuat kesalahan peserta didik dalam merespon, sebab penguatan positif lebih efektif daripada penguatan negatif (Suryani et al. , 2. Adapun tahapan metode Audiolingual dalam pembelajaran MahArah al-kalAm adalah sebagai berikut: Guru memperdengarkan sebuah model dialog, baik secara langsung atau melalui rekaman Setelah dialog diperdengarkan, seluruh siswa kelas mengulangi baris-baris dialog, lalu mengikuti contoh atau model yang dibuat oleh guru Guru menjelaskan makna kalimat-kalimat dalam dialog, untuk kepentingan tersebut guru membuat sketsa tokoh-tokoh yang terdapat dalam dialog di papan tulis dan menunjukan baris-baris itu Qismul Arab: Journal of Arabic Education Setiap siswa mengulangi baris demi baris secara serempak. Setelah sepasang kalimat telah diucapkan dengan baik secara serempak, guru membagi kelas menjadi dua kelompok dan baris yang pertamapun diulangi dan diucapkan secara berbalas-balasan Berikutnya, peserta didik seorang demi seorang mengambil satu baris dialog dan mengulanginya. akhirnya, guru menyuruh peserta didik seorang demi seorang mengulangi kalimat-kalimat baru itu di depan kelas (Thohir. Kelebihan dan Kekurangan Metode Audiolingual Setiap metode dalam pembelajaran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dari penelitian ini ditemukan beberapa kelebihan dan kekurangan penggunaan metode Audiolingual dalam MahArah kalAm. Beberapa kelebihan tersebut di antaranya: Peserta didik dapat berkomunikasi lisan secara baik karena latihan menyimak dan berbicara dilakukan secara Suasana kelas menjadi hidup karena peserta didik aktif berdialog Membuat peserta didik lancar dalam berbahasa asing yang dipelajari walau dengan materi yang terbatas Daya ingat peserta didik menjadi terlatih (Yusuf Al-Ayubi et al. , 2. Metode Audiolingual memiliki andil cukup besar terutama pada pembelajar pemula atau pengenalan ungkapan baru yang hendak dipelajari olehnya. Adapun langkah-langkah dalam menyajikan metode audiolingual adalah sebagai berikut: Penyajian dialog atau bacaan pendek, dengan cara guru membacanya berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks Peniruan dan penghafalan dialog atau bacaan pendek, dengan teknik menirukan bacaan guru perkalimat secara klasikal, sambil menghafalkan kalimat-kalimat tersebut Penyajian pola-pola kalimat yang terdapat dalam dialog atau bacaan pendek, terutama yang dianggap sukar, karena terdapat struktur atau ungkapan berbeda dengan struktur dalam bahasa ibu pelajar. Ini dilakukan dengan teknik drill Dramatisasi dialog atau bacaan pendek yang sudah dilatihkan. Siswa mendramatisasikan dialog yang sudah dihafalkan di depan kelas secara bergantian Pembentukan kalimat-kalimat lain yang sesuai dengan kalimat yang sudah dipelajari (Ramadhan et al. , 2. Selain memiliki kelebihan, metode audiolingual ini juga memiliki beberapa kekurangan, antaralain: Peserta didik lebih condong untuk menyalin atau meniru. Secara bersamaan/individu peserta didik akan sering menyalin atau meniru perkataan dari seorang guru, sehingga tidak mengerti arti dari kata yang telah diucapkan Peserta didik tidak dilatih arti kalimat diluar konteks atau materi yang dipelajari. Ketika peserta didik berkomunikasi, mereka hanya paham apabila yang dibahas merupakan kalimat dalam konteks atau materi tersebut dan tidak paham dengan lkalimat diluar konteks Peserta didik sibuk mengobrol terkadang ketika pembelajaran berlangsung, ada beberapa peserta didik yang sibuk mengobrol dengan sesama temannya karena ia mengira bahwa seorang guru tidak memperhatikannya. Oleh karena itu seorang guru harus lebih memperhatikan peserta didik ketika pembelajaran berlangsung Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ Inayah Priyatun. Ahmad Taufiq Pada kenyatannya peserta didik tidak berperan aktif tetapi hanya saja memberikan tindakan terhadap stimulus guru (Mufida, 2. HASIL Implementasi Metode Audiolingual di SMK NU Kajen Dalam kegiatan pembelajaran Bahasa arab pada metode audiolingual di SMK NU Kajen, terdapat beberapa tahapan yang disampaikan oleh guru kepada peserta didik kelas XI yakni : Pendahuluan Guru memulai dengan kegiatan rutin membuka kelas . alam, berdoa, menanyakan kabar, mengecek kehadiran, mengecek kesiapan siswa dan kebersihan kela. Guru memberikan pesan moral eA aIIe ae aOe a aAserta motivasi. Guru mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya . Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Guru memberikan gambaran umum materi yang akan dipelajari Guru melakukan ice breaking AuAl Lughotuna Al Arobiyah. Al Arobiyah SahlahAy. Tepuk SobAhan. NahAron. Lailan. Kegiatan Inti Orientasi Guru memberikan mufrodat baru melalui nada lagu Aunaik becakA terkait materi bayAnAt syakhsiyyah dan siswa menirukannya berulang-ulang. Guru menayangkan video hiwar tentang BayAnAt Syakhsiyyah (Identitas Dir. , peserta didik menyimak dan mengamatinya dengan rasa ingin tahu. Guru membacakan teks hiwar dan peserta didik menirukan berulang-ulang. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengkritisi teks yang belum dipahami. Guru memberikan LKPD dan waktu kepada peserta didik untuk menghafalkan hiwar. Peserta Didik mengucapkan kembali kalimat yang telah dihafalkan secara berpasangan dengan maju ke depan kelas. Mengorganisasikan Peserta Didik Peserta didik dibentuk ke dalam 5 kelompok yang beranggotakan sekitar 5-6 orang. Peserta didik mendiskusikan permasalahan yang ada di LKPD berdasarkan hasil pengamatan. Peserta didik membuat teks percakapan sederhana dengan mengisi teks hiwar rumpang dan disalin di kertas manila terkait materi BayAnAt Syakhsiyyah (Identitas Dir. Peserta didik berbagi peran / tugas dalam kelompoknya untuk menyelesaikan solusi masalah yang ada di LKPD Penyelidikan Individu Dan Kelompok Pada tahap ini Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data informasi terkait dengan materi pembelajarn yang diajarkan yakni BayAnAt Syakhsiyyah (Identitas Dir. Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya Pada tahap ini Peserta didik yang menjadi perwakilan kelompoknya mendemonstrasikan hasil diskusinya di depan kelas sementara kelompok yang lain memberikan masukan, kritik, maupun saran. Menganalisa dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah Qismul Arab: Journal of Arabic Education Peseta didik bersama guru menyimpulkan dan melakukan evaluasi hasil belajar mengenai materi yang telah Peserta Didik Peserta didik menanyakan tentang hal yang belum dipahami dan/atau menjawab pertanyaan kepada guru terkait aktivitas yang dilakukan. Guru memberikan reward kepada kelompok yang dapat menyelesaikan LKPD dengan baik dalam kegiatan Kegiatan Penutup Guru bersama peserta didik melakukan refleksi terkait pembelajaran yang dilakukan. Guru menyampaikan materi yang akan datang. Kegiatan pembelajaran ditutup dengan berdoa dan salam. Langkah-Langkah Penggunaan Metode Audiolingual Karena Metode Audiolingual pada dasarnya adalah pendekatan lisan dalam pengajaran bahasa, maka tidak mengejutkan kalau proses pembelajaran benyak melibatkan kegiaan latihan isan. Prosedur pembelajaran selalu dimulai dengan mendengarkan dan berbicara, sementara pengajaran membaca dan menulis akan dikenalkan setelah peseta didik menguasai bahasa lisan. Dalam suatu kelas khas Audiolingual, prosedur-prosedur berikut akan biasa Awalnya, guru memberikan membuka pelajaran dan memberikan motivasi mengenai pembelajaran bahasa arab dan pesan moral AuMan Jadda Wa JadaAy serta ice breaking. Guru bisa bercerita, bercanda, atau sekedar berbicara hal yang memuat peserta didik menikmati suasana Selanjutnya peserta didik mendengarkan sebuah lagu gubahan terbaru yang dirancang oleh guru yakni tentang mufrodat yang akan dipelajari sesuai materi dengan menggunakan aransemen nada Aunaik becakAy. Setelah peserta didik dianggap faham, guru menayangkan video percakapan dan peserta didik menirukan secara berulang-ulang. Guru memperhatikan pelafalan kata demi kata, intonasi, dan kelancaran. Koreksi atas kekeliruan dalam pengucapan kata-kata atau tata bahasa dan dilakukan dengan segera dan langsung. Struktur-struktur kunci tertentu dari percakapan yang ditayangkan dan digunakan sebagai dasar untuk latihan pola dengan berbagai jenisnya. Pelafalan pertama-tama dipraktikan secara bersama-sama kemudian pelafalan berikutnya secara berpasangan. Peserta didik juga diberikan kesempatan untuk mengkritisi tekas atau bacaan yang belum dipahami. Peserta didik dikelompokkan menjadi 5 atau 6 yang masing-masing anggotanya terdiri dari 5 atau 6 orang dengan kelas yang majemuk. Kemudian peserta didik diberikan lembar kerja peserta didik (LPKD) oleh guru. Peserta didik fokus untuk menyelesaikan masalah yang ada di LKPD. Peserta didik berbagi peran / tugas dalam kelompoknya untuk menyelesaikan solusi masalah yang ada di LKPD. Kegiatan selanjutnya ialah peserta didik memainkan peran atau tugasnya sesuai dengan pembagian. Dengan cara perwakilan untuk mendemonstrasikan hasil disukusi, membuka dan menutups diskusi, menjawab pertanyaan dari peserta didik lain dan bahasan diskusi lain yang sesuai dengan teks yang dibuat. Selain itu, peserta didik dari kelomppok lain juga berkesempatan untuk mengkritisi dan mengajukan pertanyaan, kritik maupun saran. Setelah diskusi selesai, guru bersama peserta didik melakukan refleksi terkait pembelajaran yang Qismul Arab: Journal of Arabic Education/ Inayah Priyatun. Ahmad Taufiq Kegiatan tindak lanjut bisa berlangsung dalam laboratorium bahasa, dimana dialog lebih dilanjut dan kegiatan latihan-latihan dilaksakan. Kesimpulan Metode Audiolingual (SamAoiyyah syafawiyya. merupakan salah satu metode pengajaran bahasa Arab yang mengutamakan latihan pendengaran dan pengucapan. Belajar dengan metode ini, seorang siswa mendengarkan kalimat bahasa Arab baik dari lagu, video ataupun guru yang membacakan kemudian menirukan secara berulangulang sehingga menguasi dan lancer kosa kata maupun kalimat yang telah didengarkan. Berdasarkan keterangan dan hasil penelitian diatas, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Audiolingual dalam pembelajaran MahArah kalAm pada siswa kelas XI SMK MaAoarif NU Kajen dianggap mampu dalam menciptakan suasana kelas dan pembelajaran yang kondusif. Hal ini dibuktikan pada saat proses penerapan metode Audiolingual pada pembelajaran MahArah kalAm di kelas XI SMK NU Kajen berjalan sangat antusias dalam mengikuti pengulangan ucapan guru. Selain itu, siswa kian lancar membaca dan melafalkan bahasa Arab tanpa menggunakan intonasi seperti membaca al-qurAoan lagi. Siswa mengetahui dan mulai mengaplikasikan intonasi orang arab pada umunya dan melakukan percakapan seperti keseharian dengan bahasa arab. DAFTAR PUSTAKA