1 Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . Efektivitas Psikoedukasi Visual dan Partisipatif dalam Meningkatkan Pemahaman Anti-Bullying pada Siswa Sekolah Dasar Eka Sufartianinsih Jafar1. Riandra Maghfira R2. Andhini Dinda Lathifah3. Zohraya Maharani4. Andi Anisa Mutia Utami5 Fakultas Psikologi. Universitas Negeri Makassar. Indonesia E-mail: ekasjafar@unm. Abstract. This study aims to examine the effectiveness of visual and participatory psychoeducation themed "Stop Bullying: We Are All Valuable" in improving students' understanding of bullying in SD X. This study used a quasi-experimental method with a one group pre-test and post-test design. A total of 30 grade 3 students participated in this program. After the pre-test, students participated in psychoeducation through posters, videos, and interactive games. The normality test results showed that the data were normally distributed, and the paired samples t-test analysis results showed a significant difference between the pre-test and post-test scores with a significance value of p = 0. < 0. The mean score of the post-test was higher than the pre-test, indicating that students' understanding improved after participating in the Thus, this visual and participatory psychoeducation is effective to increase students' awareness about bullying and can be a preventive effort in creating a safe school environment for students. Keywords: bullying, psychoeducation, elementary school students, visual, participatory. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu proses untuk pembentukan individu. Sekolah merupakan salah satu sarana utama pendidikan formal dimana terjadi proses belajar mengajar antara guru dan siswa (Ansor & Pratiwi, 2. Pendidikan diberikan kepada siswa sebagai individu yang tengah berada dalam tahap perkembangan akademik maupun sosialemosional (Natanti. Dwijayanti, & Kusen. Lembaga pendidikan formal seperti pembentukan karakter dan nilai sosial siswa. Idealnya, sekolah perlu menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi perkembangan psikologis siswa secara optimal (Febriani et al. Namun, pada kenyataannya, lingkungan sekolah pun kerap menjadi tempat terciptanya permasalahan sosial siswa yang negatif (Friyadi & Hanani, 2. Permasalahan negatif yang masih banyak ditemukan adalah perilaku perundungan . antar siswa. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengemukakan bahwa terdapat 2. 057 aduan kasus sepanjang tahun 2024, dimana sebanyak 240 kasus . ,7%) diantaranya adalah kasus kekerasan fisik dan/atau psikis pada anak. Data Federasi Guru . 478 kasus bullying sepanjang tahun 2023. Olweus . mengemukakan bahwa perundungan atau bullying merupakan tindakan agresif disengaja yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dari waktu ke waktu mempertahankan dirinya. Kemendikbudristek mengemukakan beberapa bentuk dari bullying yaitu: . verbal yang meliputi ejekan, hinaan, atau julukan yang menyakitkan secara lisan, . fisik yang meliputi memukul, mencubit, menendang, atau pelecehan seksual, . nonfisik yang meliputi ancaman, mengomel, atau mempermalukan tanpa kontak langsung, . nonverbal yang meliputi gestur agresif, sinis, mengucilkan. Tindakan bullying umumnya terdiri atas beberapa pihak berbeda. Pertama, bullies . yang secara fisik, verbal, dan mental memiliki kemampuan melukai dan mendominasi korban. Kedua, victims . yaitu orang yang menjadi target perundungan oleh bullies. Umumnya. Efektivitas Psikoedukasi Visual dan Partisipatif dalam Meningkatkan Pemahaman Anti-BullyingA. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . orang yang menjadi korban seringkali sendiri, berbeda, atau berkepercayaan diri rendah. Ketiga, bystander adalah orang yang menyaksikan tindakan bullying tersebut (Rachma, 2. Pradana . menyatakan bahwa beberapa penyebab bullying dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, pengaruh komunikasi keluarga yang buruk, perbedaan status sosial, dan penggunaan teknologi yang tidak bijak. Anak-anak yang dipengaruhi oleh tekanan sosial seringkali meniru perilaku bullying agar dapat diterima dalam sebuah kelompok seperti ikut-ikutan bullying (Putri. Febriana, & Setyowati, 2. Selain itu, kecenderungan merasa iri, atau marah, dan keinginan untuk dianggap baik juga dapat mendorong seseorang untuk melakukan bullying tanpa menyadari akibatnya. Fenomena bullying di lingkungan sekolah dasar yang kian merebak memerlukan perhatian mendalam. Sekolah dasar merupakan tingkat pendidikan awal dimana karakter dan nilai seorang anak terbentuk (Qamaria et al. Berdasarkan hasil observasi. SD X merupakan salah satu sekolah dengan tindakan bullying di kalangan siswa. Tindakan bullying tersebut terjadi dalam berbagai bentuk, dari verbal hingga fisik. Berdasarkan hasil survei terhadap 30 siswa, diperoleh data bahwa sebagian besar siswa pernah menyaksikan atau mengalami tindakan yang berkaitan dengan perilaku bullying di lingkungan sekolah. Sebanyak 25 . %) siswa menyatakan pernah melihat teman mengejek teman lain, 20 . %) siswa melihat temannya memukul atau mendorong teman lain, dan 18 . %) siswa menyebutkan bahwa adanya teman yang tidak diajak bermain oleh Di sisi lain, terdapat pula respons positif yang diamati, yaitu sebanyak 27 . %) siswa melihat teman membantu siswa lain yang sedang sedih, dan 22 . %) siswa merasa pernah dikuatkan serta dibela oleh teman saat mengalami kesedihan. Terkait pengalaman pribadi siswa, sebanyak 13 . %) siswa mengaku pernah diejek atau dihina oleh teman, 9 . %) siswa pernah dipukul, didorong, atau disakiti secara fisik, dan 19 . %) siswa merasa pernah tidak diajak bermain oleh teman-temannya. Adapun ketika ditanyakan mengenai seberapa sering mereka mengalami bullying, hasil menunjukkan bahwa 3 . %) siswa menyatakan tidak pernah mengalaminya, 6 . %) siswa menyatakan jarang, 12 . %) siswa menyatakan kadang-kadang, 5 . %) siswa menyatakan sering, dan 4 . %) siswa menyatakan sangat sering mengalami bullying. Data ini mengindikasikan bahwa meskipun sebagian siswa jarang atau bahkan tidak pernah mengalami bullying, masih terdapat sejumlah siswa yang cukup signifikan mengalami bullying secara berulang, baik dalam bentuk verbal, fisik, maupun sosial. Untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang tindakan bullying, pendekatan yang sesuai dengan gaya belajar anak usia sekolah dasar harus digunakan. Penggunaan media visual dalam psikoedukasi telah terbukti Penelitian oleh Nafisah et al. menunjukkan bahwa penggunaan media video sebagai alat bantu dalam psikoedukasi secara signifikan meningkatkan pengetahuan siswa tentang perilaku bullying. Media visual seperti video, gambar, dan poster sangat efektif untuk menarik perhatian siswa dan membantu mereka memahami pesan secara jelas dan Hal ini menunjukkan bahwa daya tangkap dan keterlibatan siswa dalam pelajaran dapat diperkuat dengan metode visual. Selain pendekatan visual, keterlibatan aktif siswa melalui permainan edukatif dan simulasi juga membantu meningkatkan kesadaran sosial dan empati. Kurniawati. Hasanah, dan Zahro . menemukan bahwa psikoedukasi berdasarkan prinsip First Aid Psychological jika digunakan bersama dengan role play, video, dan ceramah dapat meningkatkan pemahaman siswa SMP tentang pentingnya dukungan teman sebaya untuk kesehatan mental. Novianty. Paramita, dan Rachel psikoedukasi yang dirancang untuk membantu siswa SMA mengenali dan mengelola emosi mereka secara efektif dapat membantu mereka mengontrol emosi mereka dengan lebih baik dan menghindari perilaku maladaptif. Kegiatan-kegiatan bahwa jika siswa terlibat secara langsung dalam proses psikoedukatif internalisasi nilainilai sosial lebih cepat berkembang daripada hanya mengajar satu arah. Berdasarkan hasil observasi dan temuan data yang menunjukkan tingginya kasus bullying di sekolah dasar, diperlukan sebuah Efektivitas Psikoedukasi Visual dan Partisipatif dalam Meningkatkan Pemahaman Anti-BullyingA. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . meningkatkan kesadaran dan empati siswa. Oleh karena itu, tim kami merancang program psikoedukasi bertajuk AuStop Bullying: Kita Semua BerhargaAy. Psikoedukasi ini bertujuan untuk mencegah tindakan bullying di sekolah berlanjut di masa mendatang. Siswa diajarkan untuk mengetahui jenis-jenis, penyebab, dampak, hingga solusi dari tindakan bullying. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk sikap saling menghargai dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan inklusif bagi semua pihak. METODE PELAKSANAAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis eksperimen semu . uasi experimenta. , yang menerapkan desain one group pre-test and post-test. Menurut Fraenkel et al. (William & Hita, 2. dalam desain ini, kelompok partisipan diukur dan diamati sebelum serta setelah diberikan Mulyana. Fahrudin, dan Achmad, . menyatakan bahwa dalam penelitian ini hanya menggunakan kelompok eksperimen, yang tidak memiliki kelompok pembanding atau kontrol. Desain penelitian ini dilakukan dengan pemberian pre-test sebelum materi dan diakhiri dengan post-test setelah materi Sampel dalam penelitian ini diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Metode ini merupakan cara pemilihan sampel yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti berdasarkan kriteria tertentu (Maharani & Bernard, 2. Kriteria atau pertimbangan yang digunakan dalam teknik ini dapat bervariasi, tergantung pada tujuan dan kebutuhan dari penelitian yang sedang Penelitian ini melibatkan 30 siswa kelas 3 di SD X, terdiri dari 12 laki-laki dan 18 perempuan berusia antara 8 hingga 10 tahun, yang dilaksanakan pada tanggal 7-9 Mei 2025. Dalam pelaksanaan program dibagi dalam beberapa tahap, dimulai dari pembagian pretest untuk mengukur pemahaman siswa tentang bullying. Selanjutnya, partisipan ditunjukkan video tentang contoh perilaku bullying di sekolah dengan tujuan agar mereka lebih tertarik dan nyaman dalam menerima Setelah itu, setiap siswa diberikan poster anti-bullying dan ditampilkan pula poster serupa melalui proyektor saat penyampaian materi yang mencakup definisi, penyebab, jenis-jenis, dampak, contoh tindakan bullying, serta solusi untuk Kegiatan dilanjutkan dengan permainan interaktif yang disertai pertanyaanpertanyaan sesuai teori yang telah dipaparkan guna memperkuat pemahaman siswa. Setelah itu dilakukan post-test untuk mengukur kembali pengetahuan setelah pemaparan materi, dan kegiatan ditutup dengan pemutaran video AuJumboAy sebagai bentuk hiburan agar siswa tetap antusias. Uji pengetahuan dilakukan melalui pengisian kuesioner yang diisi sebelum . dan sesudah . ost-tes. pemaparan materi mengevaluasi bagaimana siswa memahami Semua pertanyaan dibuat dalam format soal pilihan ganda dengan skala Urutan soal yang dibuat sebelum dan sesudah tes disusun secara berbeda. Tujuan dari kegiatan ini tidak hanya memberikan informasi tentang bahaya bullying, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental, menghormati perbedaan, serta menolak segala bentuk tindakan bullying. Hal ini diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, serta menanamkan kesadaran bahwa bullying dapat merugikan orang lain dan diri sendiri. HASIL DAN PEMBAHASAN Bullying adalah perilaku agresif berulang kekuasaan dan mempengaruhi korban secara fisik dan psikologis. Khoirunnisa. Ferryka, dan Rofisian . menyatakan bahwa efek bullying pada anak usia sekolah dapat mengganggu perkembangan sosial dan emosionalnya, seperti menurunnya rasa aman dan meningkatkan kecemasan. Muhibbin dan Suharsono . menambahkan bahwa psikoedukasi dengan pendekatan partisipatif dan visual memiliki kemampuan untuk secara efektif meningkatkan kesadaran siswa. Hal ini disebabkan fakta bahwa metode ini sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dasar. Purwanto et al. menyatakan bahwa psikoedukasi menyebabkan sikap prososial dan empati terhadap korban. Oleh karena itu. Efektivitas Psikoedukasi Visual dan Partisipatif dalam Meningkatkan Pemahaman Anti-BullyingA. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . penelitian ini menguji sejauh mana perbandingan skor pre-test dan post-test. Hasil psikoedukasi benar-benar mampu memberikan perubahan signifikan terhadap pengetahuan siswa terkait bullying. Gambar 1. Proses Pemberian Pre-Test dan Post-Test Sebanyak 30 partisipan mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman sebelum dan setelah pemberian psikoedukasi. Analisis data dilakukan menggunakan paired samples ttest berdasarkan hasil dari pre-test dan post- Sebelum data dianalisis menggunakan paired samples t-test, dilakukan uji normalitas terlebih dahulu dengan menggunakan metode Shapiro-Wilk untuk memastikan bahwa data memenuhi asumsi distribusi normal. Tabel 1. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Sig. Pretest Posttest Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh nilai signifikansi pada uji normalitas Shapiro-Wilk sebesar 0,082 untuk pre-test dan 0,069 untuk post-test. Kedua nilai tersebut lebih besar dari 0,05 (> 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal. Dengan demikian, asumsi normalitas telah terpenuhi, dan analisis data dapat dilanjutkan menggunakan paired samples t-test untuk menganalisis perbedaan skor antara pre-test dan post-test. Tabel 2. Paired Samples T-Test Pretest - Posttest Berdasarkan hasil analisis data menggunakan paired samples t-test, diperoleh nilai Sig. sebesar 0,000, yang menunjukkan nilai lebih kecil dari 0,05 (< 0,. Hal ini Sig. -taile. mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test yang dikerjakan oleh partisipan Efektivitas Psikoedukasi Visual dan Partisipatif dalam Meningkatkan Pemahaman Anti-BullyingA. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . Tabel 3. Data Deskriptif Pretest Posttest Berdasarkan data tersebut, diperoleh bahwa nilai mean dan median pada hasil post-test lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pretest. Peningkatan nilai ini menggambarkan adanya perubahan pada tingkat pemahaman Mean Median partisipan setelah mendapatkan psikoedukasi. Dengan kata lain, psikoedukasi yang diberikan tampak berpengaruh dalam meningkatkan pemahaman partisipan mengenai tindakan Gambar 2. Proses Pemberian Materi Psikoedukasi Proses pemberian materi psikoedukasi adalah tahapan di mana fasilitator atau tenaga profesional memberikan informasi psikologis yang sistematis kepada partisipan mengenai topik tertentu yang telah dirancang sesuai kebutuhan mereka. Menurut Lukens dan McFarlane . psikoedukasi adalah intervensi berbasis informasi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman individu terhadap kondisi psikologis, emosional, atau membangun keterampilan koping yang Untuk peserta, proses ini mencakup penyebaran materi secara interaktif, visual, dan verbal. Gambar 3. Evaluasi Pemahaman Partisipan Setelah interaktif yang berupa pemutaran video, penyampaian materi dengan poster dan permainan edukatif terbukti bahwa kegiatan ini meningkatkan pemahaman siswa sekolah dasar tentang bullying. Sebelum intervensi, kebanyakan siswa tidak dapat membedakan jenis bullying dan tidak tahu Efektivitas Psikoedukasi Visual dan Partisipatif dalam Meningkatkan Pemahaman Anti-BullyingA. Jurnal Dedikasi. Vol. No. 1, 2025 . bagaimana perilaku tersebut berdampak baik terhadap pelaku maupun korban. Setelah psikoedukasi siswa menjadi lebih paham terkait jenis-jenis bullying . erbal, fisik, dan sosia. dan dampaknya. Hal ini sejalan dengan temuan (Marhan et al. , 2. menyatakan bahwa media visual dan pembelajaran meningkatkan keterlibatan dan atensi siswa, terutama pada usia sekolah dasar. Keterlibatan aktif melalui diskusi dan permainan memberikan pengalaman bermakna bagi siswa, sekaligus memperkuat daya ingat mereka terhadap materi yang telah diberikan. Selain itu, metode yang digunakan juga sesuai dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Rina et al. menekankan betapa pentingnya meningkatkan empati dan kepedulian untuk mencegah intimidasi di kalangan anak-anak. Siswa tidak hanya menunjukkan pemahaman kognitif, tetapi juga menunjukkan respon afektif, seperti empati terhadap korban dan menolak perilaku yang merugikan orang lain. Selain itu, ditemukan bahwa siswa mulai menunjukkan kemampuan bullying, yaitu bullying fisik . enendang atau memuku. , verbal . , dan sosial . engucilkan Mereka menunjukkan pemahaman bahawa bullying berdampak negatif baik terhadap pelaku maupun korban. Selama diskusi kelompok, beberapa siswa bahkan mampu menyampaikan pendapat dan solusi secara lisan, menunjukkan transfer pengetahuan yang terjadi secara aktif. Kegiatan terhadap pernyataan Olweus . yang menyatakan bahwa meningkatkan kesadaran siswa akan ketidakseimbangan kekuasaan dan dampak bullying terhadap korban merupakan salah satu cara efektif untuk menekan perilaku Pengenalan peran bystander . yang memiliki potensi untuk mencegah atau memperkuat bullying juga disampaikan, dan menjadi salah satu fokus penting agar siswa tidak menjadi pelaku pasif. Berdasarkan psikoedukasi yang dilakukan terbukti berperan penting untuk strategi preventif dalam membangun pemahaman siswa terhadap Oleh karena itu, penerapan program sejenisnya perlu diperluas secara berkelanjutan di lingkungan sekolah agar tercipta budaya saling menghargai dan aman bagi seluruh KESIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan psikoedukasi AuStop Bullying: Kita Semua BerhargaAy yang dilakukan di SD X menunjukkan bahwa psikoedukasi visual dan partisipatif ini efektif meningkatkan pemahaman siswa tentang Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan skor post-test. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa telah meningkat Terbukti psikoedukasi yang menggunakan media visual partisipatif seperti video, poster, dan menyampaikan informasi kepada siswa sekolah dasar. Program ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa tetapi juga perbedaan, menjaga kesehatan mental, dan membuat lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua siswa. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar kegiatan psikoedukasi serupa dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan guru dan orang tua dalam mendukung pengembangan karakter positif pada siswa. DAFTAR PUSTAKA