Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Penguatan Kapasitas Guru melalui Workshop Pemanfaatan Teknologi dalam Implementasi Kurikulum Rahayu1. Muhammad Irvan NurAoiva2. Agussalim3*. Citra Prasiska Tohamba4. Rina Asrini Bakri5 1,4,5 Pendidikan Bahasa Inggris. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Makassar Administrasi Publik. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Makassar Pendidikan Ekonomi. Pascasarjana. Universitas Negeri Makassar *Coresponding Author: agussalim@unm. Dikirim: 26-08-2025. Direvisi: 28-09-2025. Diterima: 02-10-2025 Abstrak: Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru di Kecamatan Bontoala. Kota Makassar dalam memahami konsep Kurikulum Merdeka serta mengintegrasikan teknologi digital dalam perangkat ajar. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan guru secara aktif melalui tahap sosialisasi, workshop, diskusi kelompok, praktik penyusunan perangkat ajar, hingga refleksi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman guru terhadap struktur Kurikulum Merdeka sekaligus keterampilan memanfaatkan media digital, seperti Padlet. Canva, dan Wordwall, dalam mendukung Selain itu, kegiatan ini juga mendorong terbentuknya kolaborasi antar guru sebagai komunitas belajar untuk mendukung keberlanjutan implementasi kurikulum. Kendala yang ditemui meliputi keterbatasan sarana teknologi di sekolah dan variasi kemampuan digital guru, yang perlu ditindaklanjuti dengan program pendampingan lanjutan. Secara keseluruhan, kegiatan PKM ini memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kapasitas guru dan dapat menjadi model praktik baik penerapan Kurikulum Merdeka berbasis teknologi di daerah lain. Kata Kunci: Kurikulum Merdeka. Penguatan Guru. Pelatihan Teknologi Abstract: The Community Service Program (PKM) aimed to enhance the competence of teachers in Bontoala District. Makassar City, in understanding the concept of the Merdeka Curriculum and integrating digital technology into teaching materials. The implementation method employed a Participatory Action Research (PAR) approach, actively involving teachers through stages of socialization, workshops, group discussions, practical sessions on preparing teaching materials, and reflection. The results of the activity indicated an improvement in teachersAo understanding of the structure of the Merdeka Curriculum as well as their skills in utilizing digital media, such as Padlet. Canva, and Wordwall, to support Furthermore, the program encouraged the establishment of teacher collaboration as a learning community to sustain the curriculumAos implementation. Challenges encountered included limited technological facilities in schools and variations in teachersAo digital skills, which require follow-up through ongoing mentoring programs. Overall, this PKM activity made a tangible contribution to strengthening teachersAo capacity and can serve as a best practice model for implementing a technology-based Merdeka Curriculum in other regions. Keywords: Merdeka Curriculum. Teacher Empowerment. Technology Training PENDAHULUAN Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Keputusan Nomor 56 Tahun 2022 menetapkan kebijakan baru @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rahayu dkk. Penguatan Kapasitas Guru melalui Workshop Pemanfaatan TeknologiA mengenai penerapan kurikulum sebagai upaya pemulihan pembelajaran pasca Regulasi ini menekankan bahwa satuan pendidikan perlu memiliki kurikulum yang adaptif, fleksibel, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik maupun potensi daerah. Hal tersebut diwujudkan melalui Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang kini menjadi pedoman nasional dalam pelaksanaan pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan. Kurikulum Merdeka dirancang agar lebih sederhana namun tetap mendalam. Struktur utamanya terdiri atas kegiatan pembelajaran intrakurikuler dan proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Kegiatan intrakurikuler diarahkan pada pencapaian kompetensi inti, sementara proyek penguatan profil pelajar Pancasila difokuskan pada pembentukan karakter peserta didik yang beriman, mandiri, kreatif, kritis, serta memiliki kepedulian sosial (Kemendikbudristek, 2022. Satria et al. Satuan pendidikan juga diberikan ruang untuk menambahkan muatan lokal, baik melalui integrasi lintas mata pelajaran maupun pengembangan tema pembelajaran berbasis proyek sesuai kebutuhan (Solehudin et al. , 2022. Sitorus et al. Tantangan besar dalam implementasi kurikulum ini adalah kesiapan guru. Perkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut guru untuk mampu menghadirkan pembelajaran yang inovatif, menarik, dan relevan dengan kehidupan Inovasi dalam bahan ajar tidak hanya membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah, tetapi juga meningkatkan keterlibatan mereka selama proses pembelajaran (Sopiah et al. , 2019. Sopiah et al. , 2019. Kosasih, 2021. Adha & Faridi, 2. Bahan ajar yang dikembangkan dapat berupa buku, modul, video pembelajaran, hingga media interaktif berbasis teknologi digital. Sayangnya, masih banyak guru yang mengandalkan bahan ajar konvensional tanpa menyesuaikannya dengan konteks dan kebutuhan peserta didik. Sejumlah penelitian menegaskan pentingnya pelatihan bagi guru untuk meningkatkan kapasitas dalam menyusun perangkat ajar. Hakovy et al. , . menemukan bahwa pelatihan berbasis praktik secara langsung mampu mendorong guru menghasilkan perangkat pembelajaran yang kreatif. Studi Atmono et al. dan Azinar Ahmad et al. , . memperkenalkan konsep historiopreneurship, yaitu integrasi antara sejarah dan kewirausahaan dalam Pendekatan interdisipliner ini membuktikan bahwa materi pelajaran dapat dikemas secara kontekstual, sehingga tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga membuka peluang ekonomi dan keterampilan hidup bagi siswa. Penelitian lain yang dilakukan oleh Maulana et al. , . Rafida et al. , . dan Suryani et al. , . menegaskan bahwa pelatihan penyusunan bahan ajar berbasis teknologi sangat relevan untuk mendukung keberhasilan implementasi kurikulum di era digital. Guru yang terlibat dalam pelatihan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika lingkungan belajar serta memiliki keberanian untuk bereksperimen dengan metode baru. Berdasarkan realitas tersebut, tim pengabdian melaksanakan program pelatihan di Kecamatan Bontoala. Kota Makassar, dengan tujuan mendukung guru dalam memahami Kurikulum Merdeka sekaligus meningkatkan keterampilan mereka dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Guru yang menjadi mitra berasal dari berbagai satuan pendidikan dan memiliki latar belakang serta pengalaman yang Namun, mereka menghadapi tantangan serupa, yaitu keterbatasan dalam @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rahayu dkk. Penguatan Kapasitas Guru melalui Workshop Pemanfaatan TeknologiA menyusun perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka dan memaksimalkan potensi teknologi digital. Kegiatan ini tidak hanya menyajikan materi teoritis mengenai Kurikulum Merdeka, tetapi juga menghadirkan praktik langsung berupa penyusunan perangkat ajar, penggunaan aplikasi pembelajaran, serta diskusi kolaboratif antar peserta. Dengan demikian, diharapkan pelatihan ini mampu menghasilkan guru yang lebih percaya diri dalam mengimplementasikan kurikulum serta siap menghadirkan pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Metode Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menekankan partisipasi aktif guru sebagai mitra dalam seluruh rangkaian program. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengintegrasikan tiga aspek penting, yakni partisipasi, tindakan, dan Guru tidak hanya diposisikan sebagai objek kegiatan, tetapi juga sebagai subjek yang secara langsung terlibat dalam mengidentifikasi permasalahan, menyusun solusi, melaksanakan pelatihan, hingga melakukan evaluasi terhadap hasil Tahap Persiapan Langkah pertama adalah analisis kebutuhan mitra, yaitu guru-guru di Kecamatan Bontoala. Kota Makassar. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara singkat, ditemukan bahwa sebagian besar guru sudah memahami dasardasar Kurikulum Merdeka, tetapi masih menghadapi kesulitan dalam menerapkan teknologi pembelajaran untuk mendukung implementasinya. Atas dasar tersebut, tim merancang pelatihan dengan fokus pada dua aspek utama: . penguatan pemahaman Kurikulum Merdeka, dan . keterampilan pemanfaatan aplikasi dan media digital. Tahap Pelaksanaan Pelatihan diselenggarakan pada bulan Juli 2025 di Universitas Sawerigading Makassar dan diikuti oleh lebih dari 40 guru dari berbagai jenjang pendidikan. Rangkaian kegiatan meliputi: Sosialisasi Ae pemaparan materi mengenai konsep, filosofi, dan struktur Kurikulum Merdeka, termasuk kaitannya dengan capaian pembelajaran dan profil pelajar Pancasila. Workshop teknologi Ae pelatihan pemanfaatan aplikasi pembelajaran digital, media interaktif, serta strategi mengintegrasikan teknologi dalam perangkat ajar. Diskusi kelompok Ae guru peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan tantangan implementasi di sekolah masing-masing dan berbagi Praktik langsung Ae peserta melakukan simulasi penyusunan perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka dengan dukungan teknologi, didampingi fasilitator. Refleksi dan evaluasi Ae sesi akhir berupa presentasi hasil kerja kelompok, umpan balik dari fasilitator, serta refleksi bersama mengenai manfaat kegiatan dan rencana tindak lanjut. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rahayu dkk. Penguatan Kapasitas Guru melalui Workshop Pemanfaatan TeknologiA Tahap Evaluasi Evaluasi dilakukan melalui dua cara, yaitu observasi selama kegiatan dan penyebaran kuesioner di akhir pelatihan. Observasi digunakan untuk menilai partisipasi aktif guru, sementara kuesioner mengukur tingkat kepuasan dan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 32 orang guru merasa lebih percaya diri dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran serta memiliki pemahaman yang lebih baik terkait implementasi Kurikulum Merdeka. Rencana Tindak Lanjut Untuk menjamin keberlanjutan, tim pengabdian menyarankan adanya pendampingan rutin pasca-pelatihan melalui komunitas belajar guru di Kecamatan Bontoala. Selain itu, direncanakan pula workshop lanjutan dengan topik yang lebih spesifik, seperti penggunaan Learning Management System (LMS), pengembangan bahan ajar digital interaktif, dan desain evaluasi berbasis teknologi. Dengan adanya tindak lanjut, diharapkan kompetensi guru dapat terus berkembang dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah masing-masing. Secara keseluruhan, metode pelaksanaan yang partisipatif ini terbukti efektif dalam memberikan ruang bagi guru untuk belajar, berlatih, dan merefleksikan pengalaman mereka. Pendekatan PAR juga menjadikan kegiatan lebih relevan karena solusi yang dihasilkan berasal dari permasalahan nyata yang dihadapi guru, bukan hanya bersifat teoretis. IMPLEMENTASI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mengenai Implementasi Kurikulum Merdeka melalui Pemanfaatan Teknologi dilaksanakan pada bulan Juli 2025 di Universitas Sawerigading Makassar. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 60 guru dari berbagai satuan pendidikan di Kecamatan Bontoala, mulai dari tingkat PAUD. SD. SMP, hingga SMA. Para peserta memiliki latar belakang dan pengalaman mengajar yang beragam, namun menghadapi tantangan yang hampir serupa, yakni keterbatasan dalam memahami filosofi Kurikulum Merdeka dan keterampilan memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung proses pembelajaran Perencanaan Kegiatan Sebelum pelaksanaan, tim pengabdian menyusun perencanaan kegiatan yang Langkah awal adalah menentukan tujuan utama, yaitu meningkatkan kapasitas guru dalam memahami struktur Kurikulum Merdeka serta keterampilan mengintegrasikan teknologi digital dalam perangkat ajar. Tim juga menetapkan sasaran kegiatan, yaitu guru di wilayah Kecamatan Bontoala yang tergolong perlu pendampingan khusus dalam hal inovasi pembelajaran. Selanjutnya, disusun kurikulum pelatihan yang mencakup dua pokok bahasan utama: . penguatan pemahaman Kurikulum Merdeka dan . praktik pemanfaatan teknologi @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rahayu dkk. Penguatan Kapasitas Guru melalui Workshop Pemanfaatan TeknologiA Pembukaan dan Orientasi Acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan universitas dan koordinator PKM. Dalam sambutan tersebut ditegaskan bahwa Kurikulum Merdeka menuntut guru lebih kreatif, adaptif, serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi digital dianggap sebagai kebutuhan mendesak. Peserta juga diperkenalkan dengan agenda kegiatan, yang terdiri dari penyampaian materi, diskusi kelompok, praktik penyusunan perangkat ajar, dan evaluasi hasil. Gambar 1. Kegiatan Pembukaan dan orientasi materi Penyampaian Materi Materi inti terbagi menjadi dua sesi besar. Sesi pertama berfokus pada filosofi dan struktur Kurikulum Merdeka. Narasumber menjelaskan bahwa kurikulum ini mengedepankan diferensiasi, pembelajaran intrakurikuler, dan proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Guru diajak untuk memahami bahwa Kurikulum Merdeka tidak hanya soal penyederhanaan RPP, melainkan juga perubahan paradigma pembelajaran yang lebih fleksibel dan kontekstual. Gambar 2. Penyajian Materi oleh Narasumber Sesi kedua difokuskan pada praktik pemanfaatan teknologi. Guru diperkenalkan dengan berbagai aplikasi digital seperti Padlet. Canva, dan Wordwall. Narasumber mendemonstrasikan bagaimana aplikasi tersebut dapat digunakan untuk mendesain perangkat ajar, asesmen, serta media interaktif yang menarik. Pada tahap @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rahayu dkk. Penguatan Kapasitas Guru melalui Workshop Pemanfaatan TeknologiA ini, peserta tampak antusias karena sebagian besar baru pertama kali mempraktikkan penggunaan aplikasi tersebut secara langsung. Praktik Kelompok Setelah penyampaian materi, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok mendapat tugas menyusun perangkat ajar sederhana berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan instrumen asesmen berbasis Fasilitator mendampingi kelompok secara intensif, mulai dari perencanaan tujuan pembelajaran hingga mendesain media digital yang sesuai. Proses ini mendorong kolaborasi antarguru, sehingga terjadi pertukaran pengalaman dan ide Gambar 3. Kerja Kelompok Perjenjang Pendidikan Presentasi dan Evaluasi Pada tahap akhir, setiap kelompok mempresentasikan hasil perangkat ajar yang telah disusun. Sebagian besar kelompok berhasil mengintegrasikan aplikasi digital, misalnya membuat kuis interaktif menggunakan Wordwall, menyusun infografis dengan Canva, dan membuat forum diskusi daring melalui Padlet. Hasil presentasi menunjukkan bahwa guru mampu menyesuaikan teknologi dengan capaian pembelajaran yang relevan dalam Kurikulum Merdeka. Gambar 4. Presentasi kelompok terkait penggunaan teknologi Evaluasi dilakukan melalui angket dan refleksi bersama. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 80% peserta merasa kegiatan ini bermanfaat dan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rahayu dkk. Penguatan Kapasitas Guru melalui Workshop Pemanfaatan TeknologiA memberikan pengalaman baru yang dapat langsung diterapkan di kelas. Guru juga mengaku lebih percaya diri dalam mencoba inovasi pembelajaran berbasis digital. Namun, beberapa kendala yang ditemukan adalah keterbatasan sarana teknologi di sekolah serta variasi kemampuan literasi digital di antara guru. Pembahasan Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan semacam ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kompetensi guru. Pertama, dari segi pemahaman, guru peserta menjadi lebih memahami struktur dan filosofi Kurikulum Merdeka. Banyak guru sebelumnya masih menganggap Kurikulum Merdeka sebagai beban administratif baru, namun setelah mendapatkan penjelasan, mereka menyadari bahwa kurikulum ini justru memberi fleksibilitas dalam mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Hal ini sejalan dengan pandangan Kemendikbudristek . bahwa Kurikulum Merdeka hadir untuk memberi keleluasaan kepada satuan pendidikan dalam berinovasi. Kedua, dari segi keterampilan, pelatihan berhasil membekali guru dengan kemampuan teknis dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Guru yang sebelumnya terbatas pada penggunaan metode konvensional, kini mulai mampu memanfaatkan berbagai aplikasi digital. Temuan ini mendukung penelitian Hakovy et al. , . yang menekankan bahwa pelatihan berbasis praktik sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan guru dalam mengembangkan perangkat ajar Ketiga, kegiatan ini juga menumbuhkan semangat kolaborasi antar guru. Diskusi kelompok memberikan kesempatan bagi guru untuk saling bertukar pengalaman dan berbagi strategi pembelajaran. Suasana ini menciptakan komunitas belajar kecil yang potensial untuk dikembangkan menjadi wadah pengembangan profesional berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan konsep communities of practice yang diyakini mampu mempercepat adaptasi guru terhadap perubahan kebijakan kurikulum (Maulana et al. , 2. Dari sisi tantangan, masih ditemukan beberapa kendala yang dihadapi peserta, di antaranya keterbatasan fasilitas teknologi di sekolah, keterampilan digital yang belum merata, serta kebutuhan waktu yang cukup panjang untuk merancang perangkat ajar berbasis teknologi. Namun, kendala tersebut dapat diatasi melalui pendampingan lanjutan dan kolaborasi dengan pihak sekolah maupun pemerintah Secara umum, kegiatan ini memperlihatkan bahwa pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka berbasis teknologi sangat relevan dengan kebutuhan guru di Guru tidak hanya mendapatkan pemahaman teoretis, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan. Kegiatan serupa juga dapat menjadi model bagi program pendampingan guru di daerah lain, terutama di wilayah yang menghadapi tantangan serupa. Selain itu, hasil pelatihan ini mempertegas pentingnya integrasi teknologi dalam pembelajaran abad 21. Guru dituntut tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang mampu menghadirkan pengalaman belajar aktif, kolaboratif, dan kontekstual bagi siswa. Dengan bekal keterampilan teknologi, guru dapat lebih mudah mengembangkan bahan ajar yang relevan, kreatif, dan sesuai dengan capaian pembelajaran yang diamanatkan Kurikulum Merdeka (Suryani et al. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Rahayu dkk. Penguatan Kapasitas Guru melalui Workshop Pemanfaatan TeknologiA Implikasi Kegiatan Kegiatan PKM ini memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, bagi guru, kegiatan ini meningkatkan kompetensi profesional dan kepercayaan diri dalam melaksanakan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Kedua, bagi sekolah, adanya guru yang lebih siap menerapkan Kurikulum Merdeka akan mendorong terciptanya pembelajaran yang lebih adaptif dan sesuai kebutuhan peserta didik. Ketiga, bagi pengambil kebijakan, hasil kegiatan ini menegaskan perlunya program pelatihan berkelanjutan yang terstruktur agar implementasi Kurikulum Merdeka dapat berjalan secara optimal di semua daerah. Dengan demikian, pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka melalui pemanfaatan teknologi bukan hanya solusi jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional. KESIMPULAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema Implementasi Kurikulum Merdeka melalui Pemanfaatan Teknologi bagi Guru di Kecamatan Bontoala telah terlaksana dengan baik dan memberikan hasil yang positif. Berdasarkan rangkaian pelaksanaan, dapat disimpulkan bahwa program ini mampu meningkatkan pemahaman guru mengenai filosofi dan struktur Kurikulum Merdeka, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan praktis dalam mengintegrasikan teknologi pembelajaran. Guru peserta pelatihan menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti setiap sesi, baik pada tahap sosialisasi, workshop, diskusi, maupun praktik langsung penyusunan perangkat ajar. Hasil evaluasi memperlihatkan bahwa guru lebih percaya diri dalam merancang pembelajaran berbasis teknologi serta lebih memahami fleksibilitas yang ditawarkan Kurikulum Merdeka. Hal ini berdampak pada kesiapan mereka untuk menghadirkan proses belajar yang lebih kreatif, interaktif, dan berpusat pada peserta didik. Selain meningkatkan keterampilan individu, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antar guru melalui diskusi kelompok yang membentuk komunitas belajar Kolaborasi ini penting sebagai wadah pengembangan profesional Kendati demikian, masih terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan sarana teknologi di sekolah dan variasi kemampuan digital antar guru. Diperlukan tindak lanjut berupa pendampingan rutin dan pelatihan lanjutan agar transformasi pembelajaran dapat berjalan secara konsisten. Kegiatan ini dapat menjadi model praktik baik dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka berbasis teknologi di daerah lain. DAFTAR PUSTAKA