Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 26 No. 2 (Mei 2. Halaman: 227 Ae 240 Terakreditasi Peringkat 3 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 295/C/C3/KPT/2026 Model Pendidikan Keterampilan Tata Boga Bagi Warga Belajar Nonformal Di LKP Nazefa Adhelia Femmy Nanisa Ghiffari 1,*. Husnawati 1. Wahdatan Nisa 1. Ridwan 1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Mulawarman. e-mail: fng@gmail. com, husnawati@fkip. id, wahnisa@fkip. said@fkip. * Korespondensi: e-mail: adhelia. fng@gmail. Submitted: 19/05/2026. Revised: 25/05/2026. Accepted: 08/06/2026. Published: 09/06/2026 Abstract This study aims to analyze the culinary skills training model for non-formal learning residents at the Nazefa Course and Training Institute. This study analyzes training models related to the stages of planning, implementation, and evaluation of programs. This study uses a descriptive qualitative method by collecting data through direct observation in the field. The results of the study show that at the planning stage, the institution collaborates with the village to record participants from the housewife group through the Samarinda City Government Probebaya Program. At the implementation stage, the training focuses on hands-on practice and participants are allowed to take home the cooking results to maintain the spirit of learning. At the evaluation stage, the assessment is not only carried out when the course is completed, but continues with business assistance so that graduates are ready to face obstacles in the field. These findings suggest that the success of training depends not only on the transfer of technical skills, but also on the suitability of the curriculum to the economic needs of the field. This model enriches the non-formal education literature by emphasizing the importance of systematic program design so that graduates have ready-to-use competencies. The results of this research can be a reference for non-formal education providers in improving the quality of training programs to have a real impact on society. Keywords: Course & training institute. Nonformal education. Skills Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model pelatihan keterampilan tata boga bagi warga belajar nonformal di Lembaga Kursus dan Pelatihan Nazefa. Penelitian ini menganalisis model pelatihan yang berkaitan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan, lembaga bekerja sama dengan kelurahan untuk mendata peserta dari kelompok ibu rumah tangga melalui Program Probebaya Pemerintah Kota Samarinda. Pada tahap pelaksanaan, pelatihan fokus pada praktik langsung dan peserta diperbolehkan membawa pulang hasil masakan untuk menjaga semangat belajar. Pada tahap evaluasi, penilaian tidak hanya dilakukan saat kursus selesai, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan usaha agar lulusan siap menghadapi kendala di lapangan. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan tidak hanya bergantung pada transfer keterampilan teknis, tetapi juga pada kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan ekonomi di lapangan. Model ini memperkaya literatur pendidikan nonformal dengan menegaskan pentingnya rancangan program yang sistematis agar lulusan memiliki kompetensi yang siap pakai. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penyelenggara pendidikan nonformal dalam meningkatkan kualitas program pelatihan agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kata kunci: Lembaga kursus & pelatihan. Pendidikan nonformal. Keterampilan Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Adhelia Femmy Nanisa Ghiffari. Husnawati. Wahdatan Nisa. Ridwan Pendahuluan Pendidikan merupakan proses yang penting dalam mengembangkan potensi individu, membentuk karakter, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pendidikan terdiri dari tiga jenis, yaitu pendidikan informal, formal, dan nonformal (Situmorang et al. , 2. Pendidikan nonformal hadir sebagai alternatif bagi masyarakat yang tidak dapat mengakses pendidikan formal, terutama masyarakat yang tinggal di daerah terpencil atau memiliki keterbatasan usia dan ekonomi (Jeddawi, 2. Berdasarkan pendapat tersebut, keberadaan pendidikan nonformal ini sangat membantu dalam meratakan kesempatan belajar, sehingga setiap orang tetap bisa mengembangkan kemampuan dirinya meskipun memiliki keterbatasan akses pendidikan di jalur sekolah umum. Pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam penguasaan keahlian kerja karena sifatnya yang mudah menyesuaikan diri. Pendidikan nonformal memiliki sifat yang fleksibel, terstruktur, serta lebih menekankan pada pengembangan keterampilan dan kebutuhan masyarakat setempat (Jeddawi, 2. Hal ini membuat pendidikan nonformal lebih mudah mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Kemudahan dalam menyesuaikan diri ini membuat pendidikan nonformal dapat menjadi jawaban bagi masyarakat untuk mengasah kemampuan dan menyiapkan diri sebelum terjun ke dunia kerja. Salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan nonformal adalah Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). LKP merupakan bagian dari lembaga pendidikan nonformal. LKP berperan sebagai pendukung pendidikan formal dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan (Sholeh et al. , 2. Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) menjadi salah satu wadah yang sangat penting untuk membekali masyarakat dengan keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Pendidikan nonformal memiliki kelebihan pada sifatnya yang terbuka dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan pasar (Jeddawi, 2. Melalui program yang terstruktur. LKP memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kompetensi agar lebih siap dalam mencari kerja maupun merintis usaha mandiri. Tercapainya kemandirian dan kesiapan kerja tersebut sangat ditentukan oleh pemilihan jenis keterampilan yang tepat, di mana penguasaan keahlian di bidang kuliner menjadi salah satu program yang paling efektif untuk membantu meningkatkan kompetensi masyarakat. Keterampilan tata boga merupakan salah satu bidang keahlian yang menawarkan peluang kerja serta potensi kewirausahaan yang sangat luas bagi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh bisnis kuliner yang selalu dibutuhkan masyarakat dan produk olahannya dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan tanpa memerlukan modal awal yang terlalu besar. Pelatihan tata boga sangat relevan untuk mendorong kemandirian ekonomi keluarga, di mana masyarakat dapat memanfaatkan potensi bahan baku lokal untuk menciptakan produk yang memiliki nilai jual tinggi (Daud et al. , 2. Program pelatihan ini menjadi jalan keluar yang tepat dalam menyiapkan tenaga kerja yang ahli sekaligus memiliki jiwa wirausaha untuk Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Model Pendidikan Keterampilan Tata Boga BagiA menjawab masalah pengangguran melalui penciptaan lapangan kerja sendiri (Hidayatusarifah & Avrilianda, 2. Banyaknya minat masyarakat terhadap pelatihan ini menunjukkan bahwa menguasai keahlian tata boga dianggap sebagai langkah nyata dalam meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan tenaga kerja di bidang kuliner saat ini (Puspita et al. , 2. LKP Nazefa merupakan salah satu lembaga pelatihan pendidikan nonformal yang menyediakan program tata boga sebagai salah satu program utamanya. LKP Nazefa menjadi salah satu lembaga pendidikan nonformal yang berhasil dalam melaksanakan pendidikan keterampilan tata boga bagi warga belajar di Kota Samarinda. Temuan awal berdasarkan kajian awal dengan informan di LKP Nazefa menunjukkan adanya perubahan pada kemampuan peserta dalam mengembangkan usaha kuliner rumah tangga setelah mengikuti pelatihan Manfaat dari program ini terlihat dari kemampuan para lulusan yang kini mulai membuka usaha makanan sendiri, baik secara kecil-kecilan di rumah maupun sebagai usaha sampingan untuk membantu keuangan keluarga. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji bagaimana model pelatihan yang diterapkan oleh LKP Nazefa dalam meningkatkan keterampilan tata boga bagi warga belajar. Sehingga penelitian ini akan menggambarkan tentang model pelatihan yang diterapkan oleh LKP Nazefa. Penelitian mengenai pendidikan keterampilan tata boga mengkaji tahapan evaluasi (Fitriyani & Muarifuddin, 2. sedangkan penelitian ini secara khusus memfokuskan analisis pada alur teknis penyelenggaraan pendidikan keterampilan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemaparan rangkaian kegiatan instruksional yang saling berkaitan di LKP Nazefa, yang dirancang untuk memastikan warga belajar mencapai penguasaan keterampilan memasak secara nyata. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana model pendidikan keterampilan tata boga bagi warga belajar nonformal yang dilaksanakan di LKP Nazefa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis model pendidikan keterampilan tata boga bagi warga belajar nonformal yang dilaksanakan di LKP Nazefa. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis model pelatihan tata boga pada pendidikan nonformal di LKP Nazefa. Peneliti memilih metode ini karena sangat membantu untuk memahami kejadian di masyarakat secara mendalam melalui sudut pandang manusia (Lim, 2. Selain itu, penggunaan penelitian kualitatif dianggap sangat tepat untuk mempelajari berbagai jenis metode dalam dunia pendidikan dan sosial secara luas (Muzaini, 2. Penelitian ini dilaksanakan di LKP Nazefa yang berlokasi di Jl. Suryanata. Bukit Pinang. Kec. Samarinda Ulu. Kota Samarinda. Kalimantan Timur 75131. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama empat bulan, terhitung sejak bulan Januari hingga April tahun 2026. Pada penelitian ini, peneliti akan mengkaji secara mendalam Model Pelatihan Tata Boga dalam Meningkatkan Keterampilan Warga Belajar di LKP Nazefa, sehingga hasil Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Adhelia Femmy Nanisa Ghiffari. Husnawati. Wahdatan Nisa. Ridwan yang diperoleh adalah gambaran yang jelas mengenai bagaimana model pelatihan tersebut dilakukan oleh LKP Nazefa. Untuk mendapatkan data yang akurat, peneliti melibatkan enam orang informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu yang relevan dengan fokus penelitian. purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang digunakan ketika peneliti sudah punya target individu dengan karakteristik yang sesuai dengan penelitiannya (Ksanjaya & Rahayu, 2. Kriteria informan dalam penelitian ini meliputi satu orang pimpinan LKP yang memiliki wewenang penuh dalam pengelolaan program, satu orang instruktur yang merancang serta menyampaikan materi tata boga, serta empat orang alumni warga belajar yang telah menyelesaikan minimal satu periode pelatihan dan mampu memberikan informasi mendalam mengenai pengalaman belajarnya. Proses pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara dan Peneliti melakukan observasi yang diawali dengan mengunjungi lokasi penelitian untuk mengetahui gambaran umum tempat tersebut serta latar belakang berdirinya program Penelitian ini melibatkan 6 informan yang dipilih karena peran penting mereka, yaitu 1 orang pimpinan LKP, 1 orang instruktur, dan 4 orang alumni warga belajar. Penggunaan enam informan ini dianggap tepat karena fokus penelitian adalah menggali pengalaman mendalam tentang model pelatihan yang dilaksanakan di LKP Nazefa. Selain itu, peneliti mengumpulkan berbagai bukti pendukung hasil temuan di lapangan. Data yang telah terkumpul kemudian diolah melalui beberapa tahapan sesuai dengan teknik yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Peneliti memulai dengan melakukan reduksi data, yaitu merangkum dan memilih poin-poin penting dari hasil tanya jawab dan catatan lapangan agar lebih fokus pada tujuan penelitian. Setelah itu, peneliti melakukan penyajian data dengan menyusun informasi tersebut ke dalam tulisan yang rapi agar lebih mudah untuk dibaca dan dipahami. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan, di mana peneliti memeriksa kembali seluruh data yang telah disusun untuk menjawab inti dari permasalahan penelitian. Agar hasil penelitian ini dapat dipercaya, peneliti melakukan pengecekan keabsahan peneliti menggunakan triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan informasi yang didapat dari pihak pengelola, instruktur, dan peserta pelatihan untuk memastikan kebenaran data yang diperoleh. Peneliti menerapkan triangulasi teknik, yaitu dengan mengecek data yang sama menggunakan cara yang berbeda, seperti membandingkan hasil wawancara dengan hasil pengamatan di lokasi serta dokumen yang ada untuk memastikan bahwa data tersebut memang benar-benar sesuai. Hasil dan Pembahasan Pelatihan merupakan kegiatan pendidikan jangka pendek yang dilakukan secara teratur untuk meningkatkan keahlian dan kemampuan kerja masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengubah perilaku warga belajar melalui peningkatan pengetahuan serta keterampilan teknis Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Model Pendidikan Keterampilan Tata Boga BagiA yang dilakukan secara bertahap. Agar sebuah program pelatihan dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuannya, diperlukan pengelolaan yang rapi melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Arkam et al. , 2. Tahap Perencanaan Langkah awal yang sangat penting agar seluruh kegiatan dalam sebuah pelatihan berjalan dengan rapi adalah tahap perencanaan. Perencanaan merupakan sebuah proses untuk menetapkan tujuan serta menentukan apa saja yang harus dilakukan supaya tujuan tersebut bisa tercapai (Arifudin et al. , 2. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tahap perencanaan adalah dasar bagi lembaga untuk menyusun tujuan dan langkahlangkah kerja agar program pelatihan bisa berjalan lancar dan sesuai dengan harapan. Identifikasi Kebutuhan Sebelum memulai suatu kegiatan, pihak pengelola perlu mencari tahu apa saja yang diperlukan oleh calon peserta agar materi yang diberikan tidak salah sasaran. Proses mencari tahu ini disebut dengan identifikasi kebutuhan, yang bertujuan untuk mencocokkan kemampuan yang ingin dipelajari warga dengan program yang ada di lembaga. Identifikasi kebutuhan dilakukan untuk mengetahui apa yang diinginkan peserta, sehingga lembaga bisa menyiapkan program yang sesuai untuk meningkatkan keterampilan atau life skill mereka (Fitriany et al. Identifikasi kebutuhan merupakan langkah untuk mengumpulkan keterangan mengenai apa yang dibutuhkan masyarakat, agar pelatihan yang dilaksanakan benar-benar berguna bagi peserta terutama pada program pendidikan nonformal. Karakter utama pembelajaran nonformal adalah fleksibilitas dan respons terhadap kebutuhan belajar peserta (Johnson & Majewska. Berdasarkan pendapat tersebut, pembelajaran nonformal memiliki ciri utama berupa fleksibilitas dalam pelaksanaan serta kemampuan untuk menyesuaikan materi dan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran nonformal dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih sesuai, relevan, dan bermanfaat bagi Pendekatan yang diterapkan dalam pelatihan di LKP Nazefa berlandaskan pada prinsip andragogi, di mana warga belajar dipandang sebagai individu mandiri yang memiliki kebutuhan belajar spesifik berdasarkan pengalaman hidupnya (Knapke et al. , 2. Dengan demikian, penerapan prinsip andragogi dalam pelatihan memungkinkan proses pembelajaran yang berpusat pada warga belajar, dengan mempertimbangkan pengalaman dan kebutuhan belajar mereka sebagai dasar dalam penyusunan kegiatan pembelajaran. Instruktur juga menyebutkan bahwa kebutuhan belajar juga diperiksa kembali melalui tanya jawab santai sebelum praktik dimulai untuk mengetahui sejauh mana pengalaman memasak peserta. Pendekatan langsung dan fleksibel kepada warga belajar sangat penting agar materi pelatihan sesuai dengan kemampuan awal mereka (Mustangin, et al. , 2. Sejalan dengan itu. Peserta pelatihan juga membenarkan bahwa mereka mendapatkan informasi dan didata melalui pihak RT dan Pokmas karena pelatihan tata boga ini memang sesuai dengan apa yang mereka inginkan untuk menambah keahlian. Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Adhelia Femmy Nanisa Ghiffari. Husnawati. Wahdatan Nisa. Ridwan Hasil temuan penelitian di atas, dapat dilihat bahwa LKP Nazefa menggunakan teknik kerja sama dengan pihak pemerintah setempat (RT dan Keluraha. serta Kelompok Masyarakat (Pokma. untuk mencari tahu kebutuhan warga. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan RT. Pokmas, dan kelurahan mempermudah proses identifikasi kebutuhan warga belajar. Mencari tahu kebutuhan masyarakat adalah proses penting agar program yang dibuat oleh lembaga benar-benar cocok dengan warga yang akan belajar (Fatimatuzzahra et al. , 2. Dengan adanya bantuan dari Pokmas dan Kelurahan melalui program pemerintah seperti Probebaya. Kolaborasi dengan pemerintah lokal memperkuat akurasi pemetaan kebutuhan peserta pelatihan. Penyiapan Instruktur Setelah mengetahui apa yang dibutuhkan oleh peserta, langkah selanjutnya adalah menyiapkan pengajar atau instruktur yang akan memberikan materi. Pemilihan instruktur tidak boleh dilakukan sembarangan karena cara instruktur mengajar akan sangat menentukan apakah peserta bisa memahami materi dengan baik atau tidak. Instruktur harus memiliki kemampuan untuk mengelola pembelajaran, mulai dari memahami siapa pesertanya, merancang cara mengajar, hingga melaksanakan pelatihan agar tujuan bisa tercapai (Utami et , 2. Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa penyiapan instruktur adalah proses memilih pengajar yang bukan hanya ahli di bidangnya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola kelas dan menyampaikan ilmu dengan cara yang mudah dipahami oleh peserta. Temuan penelitian menunjukkan bahwa lembaga ini memiliki kriteria khusus dalam memilih pengajar. Pimpinan LKP menjelaskan bahwa instruktur yang dipilih harus memiliki sertifikat keahlian dan pengalaman mengajar masyarakat, bukan hanya sekadar ahli memasak. Hal ini dilakukan karena pengajar yang berpengalaman dianggap lebih paham cara menghadapi warga belajar yang latar belakangnya berbeda-beda. Ketersediaan instruktur yang mumpuni dan berkualitas adalah faktor pendukung utama dalam keberhasilan pelatihan (Mustangin et al. , 2. Temuan ini diperkuat oleh pengakuan Instruktur yang menyatakan bahwa sertifikat keahlian menjadi syarat penting agar materi yang disampaikan benar-benar sesuai standar. Sebuah lembaga kursus yang berkualitas melakukan perekrutan instruktur dengan melihat karakteristik, latar belakang, dan kemampuan yang dibuktikan dengan sertifikasi keahlian khusus (Saptadi, 2. Sertifikasi ini bukan sekadar dokumen formal, melainkan jaminan bahwa instruktur tersebut benar-benar kompeten di bidangnya dan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif. Dengan adanya standar keahlian yang tersertifikasi, instruktur dapat menguasai tahap-tahap kegiatan pelatihan secara sistematis sehingga materi yang disampaikan benar-benar memenuhi kebutuhan dunia kerja Selain itu. Peserta pelatihan juga merasa cara instruktur mengajar sangat membantu mereka karena instruktur menggunakan bahasa yang sederhana, sering memberikan contoh langsung, dan sabar dalam membimbing peserta yang masih pemula. Keberhasilan sebuah program sangat bergantung pada Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Model Pendidikan Keterampilan Tata Boga BagiA kemampuan instruktur dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan komunikatif (Mustangin et al. , 2. Dengan bimbingan yang sabar dan contoh praktis, peserta pelatihan tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pengalaman nyata yang meningkatkan rasa percaya diri dan keterampilan mereka untuk hidup mandiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompetensi instruktur menjadi faktor penting dalam mendukung efektivitas transfer keterampilan kepada peserta. Langkah ini diambil agar ilmu yang diberikan benar-benar bisa diterima dengan baik oleh peserta. Keberhasilan peserta dalam memperoleh pekerjaan tidak lepas dari peran instruktur dalam memberikan layanan pembelajaran yang optimal (Fatimatuzzahra et al. , 2. Instruktur yang kompeten harus mampu memenuhi berbagai peran krusial, mulai dari sebagai informator yang memberikan penjelasan teknis yang mudah dipahami, hingga sebagai evaluator yang memastikan setiap tahap pembelajaran dikuasai oleh peserta. Kurikulum dan Materi Agar pelatihan memiliki arah yang jelas, lembaga perlu menyusun urutan pelajaran atau yang disebut kurikulum. Kurikulum ini berfungsi sebagai panduan tentang apa saja yang harus dipelajari peserta, sedangkan materi adalah isi pelajaran agar peserta bisa menguasai keterampilan memasak dengan benar. Materi pelatihan, terutama dalam bentuk resep, harus disusun dengan bahasa yang jelas dan urut agar mudah dipahami serta dipraktikkan oleh peserta untuk mendapatkan hasil masakan yang memuaskan (Febriana et al. , 2. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum dan materi adalah panduan belajar yang dibuat rapi untuk memudahkan peserta dalam memahami teori dan praktik memasak. Temuan penelitian menunjukkan kurikulum yang digunakan di LKP Nazefa mengacu pada SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesi. Pimpinan LKP menjelaskan bahwa penggunaan standar nasional ini bertujuan agar ilmu yang didapat ibu-ibu peserta memiliki kualitas yang diakui secara resmi. Untuk memudahkan peserta. Instruktur menyederhanakan standar yang rumit tersebut ke dalam materi yang lebih praktis berupa modul resep. Modul ini isinya sangat lengkap, mulai dari daftar alat, bahan-bahan, sampai langkah-langkah memasak yang jelas. BPVP Samarinda, kurikulum pelatihan menjahit disusun berdasarkan SKKNI untuk memastikan peserta memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar industri, namun tetap memperhatikan karakteristik peserta dewasa yang membutuhkan materi aplikatif (Ulhaq et al. , 2. Penggunaan modul yang lengkap sebagai panduan praktis juga diterapkan oleh tutor untuk memastikan langkah-langkah pembelajaran terstruktur dan Hal ini dibenarkan oleh Peserta yang merasa sangat terbantu dengan modul tersebut karena bahasanya sederhana dan instruktur menjelaskan fungsi setiap alat serta bahan secara detail sebelum praktik dimulai. Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa LKP Nazefa sangat memperhatikan kualitas materi yang diberikan. Penggunaan standar SKKNI menunjukkan bahwa pelatihan dirancang dengan orientasi kompetensi yang terukur. Pemberdayaan harus diarahkan untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas individu melalui pelatihan yang terukur (Agustina et Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Adhelia Femmy Nanisa Ghiffari. Husnawati. Wahdatan Nisa. Ridwan , 2. Dengan merujuk pada standar nasional, pelatihan bagi ibu rumah tangga tidak hanya bersifat pengisi waktu luang, tetapi menjadi proses pendidikan yang berfokus pada penguasaan kemampuan fungsional dan sikap profesional yang bermanfaat bagi peningkatan ekonomi Penerapan standar yang tinggi ini memastikan bahwa hasil kerja warga belajar memiliki daya saing yang setara dengan standar industri, yang pada akhirnya mendukung kemandirian ekonomi mereka secara berkelanjutan. Penjadwalan Setelah semua persiapan siap, hal penting lainnya adalah menentukan kapan pelatihan akan dilaksanakan. Penentuan waktu ini harus dipikirkan dengan baik agar para peserta bisa hadir semua dan tidak terganggu dengan kegiatan mereka sehari-hari. Pengaturan waktu atau penjadwalan yang baik dalam pelatihan tata boga adalah yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan waktu luang para pesertanya (Ramadhani & Nugroho, 2. Dari pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa penjadwalan adalah proses menentukan waktu belajar yang tepat dan fleksibel agar para peserta bisa mengikuti seluruh kegiatan tanpa merasa terbebani oleh urusan lainnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa LKP Nazefa sangat memperhatikan waktu luang peserta dalam menentukan jadwal. Pimpinan LKP menjelaskan bahwa jadwal pelatihan dibahas bersama dengan pihak Kelurahan dan Pokmas agar tidak bentrok dengan kegiatan Instruktur juga menambahkan bahwa waktu pelatihan dibuat cukup fleksibel supaya ibuibu tetap bisa mengurus keperluan rumah tangga sebelum berangkat ke tempat pelatihan. Waktu belajar yang fleksibel, seperti kelas akhir pekan, sangat membantu warga belajar yang sibuk bekerja atau mengurus rumah tangga agar bisa terus hadir mengikuti Pelajaran (Pradita et al. , 2. Para peserta merasa sangat terbantu dengan pengaturan waktu ini. Mereka mengatakan bahwa jadwal yang dipilih sudah sangat pas, sehingga mereka bisa mengikuti praktik memasak dengan tenang tanpa harus terburu-buru pulang karena urusan rumah. Dari hasil penelitian ini. Penjadwalan fleksibel menjadi strategi untuk meningkatkan partisipasi dan kehadiran warga belajar. Koordinasi dan komunikasi yang baik dengan warga adalah kunci agar mereka mau terlibat dan hadir dalam sebuah kegiatan (Doloksaribu et al. Dengan melibatkan para ibu dalam menentukan jadwal, lembaga sebenarnya sedang melakukan proses sosialisasi yang efektif, sehingga peserta merasa program ini memang dibuat sesuai dengan kondisi mereka. Jadwal yang disepakati bersama ini memastikan bahwa tidak ada bentrokan waktu dengan kegiatan warga lainnya, sehingga tingkat kehadiran tetap terjaga dan proses belajar bisa berjalan sesuai rencana tanpa hambatan. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan merupakan inti dari sebuah program pelatihan, di mana rencana yang telah disusun mulai diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Tahap pelaksanaan adalah proses di mana kegiatan inti atau penyampaian materi dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam konteks pelatihan, ini mencakup interaksi langsung antara narasumber dan peserta melalui berbagai metode pembelajaran (Lestari et al. , 2. Dari Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Model Pendidikan Keterampilan Tata Boga BagiA pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tahap pelaksanaan adalah titik penentu di mana transfer pengetahuan dan keterampilan terjadi secara langsung untuk meningkatkan kompetensi warga belajar. Penyampaian Materi & Praktik Setelah acara pembukaan selesai, pelatihan masuk ke tahap inti yaitu penyampaian materi dan praktik langsung. Cara mengajar yang tepat sangat penting agar peserta tidak hanya sekadar tahu teorinya, tetapi juga benar-benar terampil dalam memasak. Mengenai hal ini, (Karimulloh et al. , 2. menjelaskan bahwa metode demonstrasi atau praktik langsung sangat efektif dalam pelatihan tata boga karena peserta bisa melihat secara nyata setiap langkah memasak, sehingga hasil belajarnya menjadi lebih maksimal. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa cara mengajar yang paling pas untuk pelatihan memasak adalah dengan memberikan contoh langsung, agar peserta bisa meniru dan memahami langkahlangkahnya dengan lebih cepat dan benar. Temuan penelitian menunjukkan LKP Nazefa menggunakan metode yang sangat mengutamakan praktik. Instruktur menjelaskan bahwa di hari pertama pelatihan, ia membagikan modul resep dan memberikan penjelasan mendalam mengenai fungsi alat serta bahan-bahan yang akan digunakan. Setelah itu, instruktur menggunakan metode demonstrasi, yaitu memperagakan cara memasak menu hari itu di depan kelas. (Aziza et al. , 2. menyebutkan bahwa pada pelatihan, metode demonstrasi digunakan agar peserta dapat melihat langsung teknik yang benar sebelum mempraktikkannya. Para Peserta merasa sangat terbantu dengan cara mengajar ini. Mereka mengaku lebih cepat paham karena porsi praktik di dapur jauh lebih banyak daripada penjelasan teori. Selain itu, mereka belajar dengan sistem kerja kelompok, sehingga bisa saling membantu jika ada yang merasa bingung saat sedang memegang alat atau mengolah bahan makanan. Menurut (Alisalman et al. , 2. kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama atau kolektif seperti ini memang sangat penting dalam program pemberdayaan masyarakat. Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa LKP Nazefa menerapkan sistem belajar yang sangat nyata dan tidak membosankan. Dengan menggabungkan penjelasan modul, contoh langsung dari instruktur . , dan praktik berkelompok. Metode demonstrasi dan praktik kelompok meningkatkan partisipasi aktif peserta dalam proses pembelajaran. Penggunaan metode demonstrasi yang diikuti dengan praktik langsung memang sangat cocok untuk pembelajaran yang menekankan pada penguasaan keterampilan (Mustangin et al. Selain itu, adanya sesi praktik berkelompok semakin menghidupkan suasana karena para ibu bisa saling berinteraksi dan bekerja sama secara nyata. Pendampingan Pasca Pelatihan Kegiatan pelatihan tidak berhenti begitu saja setelah praktik di dapur selesai. Agar ilmu yang didapat benar-benar bermanfaat, lembaga perlu memberikan pendampingan lanjutan untuk membantu peserta yang ingin mulai membuka usaha sendiri di rumah. Keberhasilan sebuah pelatihan dapat dilihat dari bagaimana alumni mampu menerapkan ilmunya untuk Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Adhelia Femmy Nanisa Ghiffari. Husnawati. Wahdatan Nisa. Ridwan bekerja atau berwirausaha, yang didukung oleh pemantauan dari pihak lembaga (Fitriyani & Muarifuddin, 2. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendampingan setelah pelatihan sangat penting agar peserta tidak merasa dilepas begitu saja, melainkan terus dibimbing hingga mereka benar-benar mandiri secara ekonomi. Temuan penelitian menunjukkan. LKP Nazefa memberikan dukungan nyata setelah pelatihan berakhir melalui dua cara. Pertama. Instruktur membuat grup WhatsApp sebagai wadah diskusi bagi para ibu-ibu. Jika mereka gagal saat mencoba resep sendiri di rumah, mereka bisa bertanya di grup dan instruktur akan memberikan solusinya. Kedua, lembaga memberikan bantuan berupa pembuatan desain logo dan kemasan bagi peserta yang ingin mulai berjualan. Branding usaha melalui logo adalah faktor penting dalam strategi pemasaran jangka panjang dan membangun identitas visual produk (Norhidayat et al. , 2. Para Peserta merasa sangat terbantu dengan adanya pendampingan ini. Peserta memanfaatkan desain logo dan kemasan sebagai bagian dari pengembangan identitas produk usaha. Dari hasil penelitian ini. Pendampingan pascapelatihan menunjukkan adanya orientasi keberlanjutan dalam model pelatihan. Program ini tidak hanya fokus pada tangan . eterampilan memasa. , tetapi juga pada keberlanjutan usaha peserta. Dengan memberikan bantuan branding . LKP Nazefa telah membantu peserta meningkatkan nilai jual produk mereka. Peningkatan kemampuan visual branding berbasis teknologi, seperti penggunaan media sosial dan desain yang menarik, dapat secara signifikan meningkatkan nilai jual produk tradisional dan kepercayaan konsumen (Rahayu & Winarti, 2. Tahap Evaluasi Dalam tahap evaluasi, penilaian hasil belajar bertujuan menilai sejauh mana peserta menguasai keterampilan yang telah diajarkan. Penilaian ini penting untuk memastikan bahwa warga belajar tidak hanya sekadar mengikuti kegiatan, tetapi benar-benar memiliki keahlian yang standar dalam bidang tata boga. Instrumen penilaian memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan kejuruan, khususnya bidang tata boga, karena bidang ini menuntut penguasaan teori sekaligus praktik yang matang untuk mengukur kemampuan seseorang secara akurat (Nurjanah & Prestiadi, 2. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian hasil belajar dalam tata boga harus dilakukan secara menyeluruh . eori dan prakti. untuk memastikan peserta benar-benar kompeten dalam teknik memasak yang diajarkan. Temuan penelitian menunjukkan penilaian hasil belajar di LKP Nazefa dilakukan secara langsung di lapangan pada setiap akhir sesi praktik. Instruktur menjelaskan bahwa ia menilai peserta berdasarkan hasil jadi produknya, mulai dari rasa, tekstur, tingkat kematangan, hingga seberapa mirip hasilnya dengan resep asli yang diberikan. Jika hasil masakan tidak sesuai ekspektasi . isalnya kue bantat atau kurang matan. , instruktur akan memberikan evaluasi dan penjelasan mengenai letak kesalahannya saat itu juga. Transformasi kemampuan masyarakat melalui pelatihan nonformal harus diukur secara nyata dari hasil produk dan kemandirian peserta (Norhidayat et al. , 2. Para Peserta membenarkan hal ini. Mereka merasa sangat terbantu dengan sistem penilaian langsung ini karena mereka bisa segera tahu di mana Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Model Pendidikan Keterampilan Tata Boga BagiA kekurangan mereka. Penilaian praktik digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan keterampilan peserta. Dari hasil penelitian ini, evaluasi berbasis praktik memungkinkan instruktur melakukan penilaian keterampilan secara langsung. Penilaian tidak dilakukan melalui tes tertulis yang rumit, melainkan melalui kualitas masakan yang dihasilkan peserta di dapur. Hal ini membuat evaluasi menjadi lebih bermakna karena peserta mendapatkan masukan yang bisa langsung mereka perbaiki. Metode penilaian berbasis hasil praktik ini sejalan dengan prinsip evaluasi pembelajaran (Mustangin et al. , 2. , yang menjelaskan bahwa penilaian bertujuan untuk mengukur keterserapan materi secara nyata serta melihat kemajuan pemahaman peserta setelah mengikuti proses pembelajaran. Dengan melakukan penilaian langsung terhadap rasa dan tekstur masakan. LKP Nazefa telah berhasil memastikan bahwa setiap warga belajar yang lulus memang telah memiliki keterampilan memasak yang nyata dan siap untuk digunakan secara mandiri. Sumber: Hasil Pengolahan Data . Gambar 1. Bagan Alur Model Pendidikan Keterampilan Tata Boga Bagi Warga Belajar Nonformal Di LKP Nazefa Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pelatihan tata boga di LKP Nazefa terdiri dari tiga tahapan utama yang saling mendukung. Pertama, perencanaan dilakukan dengan pemerintah, seperti Program Probebaya. Kedua, pelaksanaan menggunakan metode praktik langsung dengan pendekatan andragogi agar peserta lebih mudah memahami materi berdasarkan standar SKKNI. Ketiga, evaluasi dilakukan dengan melihat hasil karya peserta sekaligus memantau perkembangan kemandirian mereka setelah pelatihan berakhir. Model yang ditemukan dalam penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan nonformal melalui konsep pendidikan vokasi yang terintegrasi. Model ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan tidak hanya bergantung pada materi teknis saja, tetapi juga pada penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan nyata di lapangan. Secara teoretis, temuan ini memperkaya literatur pendidikan nonformal dengan menekankan bahwa program Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 227 - 240 (Mei 2. Adhelia Femmy Nanisa Ghiffari. Husnawati. Wahdatan Nisa. Ridwan pelatihan harus dirancang sebagai sistem yang berkelanjutan agar lulusannya lebih siap menghadapi tantangan ekonomi. Hal ini memberikan panduan praktis bagi penyelenggara pendidikan nonformal dalam menyusun program yang lebih sistematis dan berdampak nyata. Daftar Pustaka