Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 3 No. Juni 2025: Diterima Redaksi: 03-05-2025 | Revisi: 24-05-2025 | Diterbitkan: 01-06-2025 Dam Swadaya sebagai Bangunan Bersejarah dan Sumber Pemanfaatan Sosial Masyarakat Gondang Rejo Sekar Arum Ramadhani1. Karsiwan2. Lisa Retno Sari3 1,2,3Tadris IPS. Institut Agama Islam Negeri Metro. Lampung Indonesia Email: karsiwan@metrouniv. ABSTRACT: This study aims to explore the historical background and utilization of the 1952 Dam Swadaya located in Gondang Rejo Village. East Lampung. As a colonial-era infrastructure, the dam was originally constructed to regulate water flow and support local agricultural irrigation systems. In addition to its function as an irrigation channel. Dam Swadaya once served as a public recreational area. The findings reveal that the dam holds not only functional value but also educational potential as a learning resource for Social Studies (IPS), particularly in relation to the historical theme of Western colonialism in Indonesia. The integration of Dam Swadaya into educational contexts and local heritage preservation initiatives is essential to strengthen historical awareness and community identity. Keywords: dam swadaya, historical building, gondang rejo, lampung ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejarah pembangunan dan pemanfaatan Dam Swadaya 1952 yang terletak di Desa Gondang Rejo. Lampung Timur. Bendungan ini merupakan infrastruktur peninggalan masa kolonial yang awalnya dibangun untuk mengatur aliran air guna menunjang sistem irigasi pertanian lokaliterasin fungsinya sebagai penyalur air ke lahan persawahan. Dam Swadaya pernah dimanfaatkan sebagai kawasan rekreasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa bendungan ini tidak hanya bernilai fungsional, tetapi juga menyimpan potensi edukatif sebagai sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), khususnya pada tema sejarah kolonialisme dan pengaruh kedatangan bangsa Barat di Indonesia. Pemanfaatan Dam Swadaya dalam konteks pendidikan dan pelestarian warisan budaya lokal perlu digali lebih lanjut untuk mendukung penguatan identitas dan literasi sejarah masyarakat Kata kunci: dam swadaya, bangunan bersejarah, gondang rejo, lampung Copyright A 2025 The Author. This is an open-access article under the CC BY-SA license. Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional DOI: https://doi. org/10. 62238/jupsi. ( https://journal. com/index. php/jupsi Ramadhani. Karsiwan. Sari PENDAHULUAN Sejarah kolonialisme di Indonesia tidak hanya menyisakan narasi penindasan dan eksploitasi, tetapi juga peninggalan fisik berupa infrastruktur yang masih bertahan hingga kini (Choi, 2. Pada awal abad ke-20. Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan kebijakan politik balas budi atau politik etis, yang merupakan respons atas kritik terhadap ketimpangan sosial-ekonomi di Hindia Belanda (Kroeze, 2. Ratu Wilhelmina, dalam pidatonya di parlemen Belanda tahun 1901, menyampaikan bahwa negeri jajahan tidak semestinya hanya menjadi sumber keuntungan ekonomi, tetapi juga perlu dikembangkan dari sisi pendidikan, irigasi, dan migrasi (Karsiwan, 2020. Sjamsu, 1. Implementasi dari kebijakan tersebut terlihat dalam berbagai pembangunan infrastruktur publik seperti sekolah, rumah sakit, jalan desa, dan jaringan irigasi, khususnya di wilayah luar Jawa seperti Lampung yang menjadi tujuan utama program kolonisasi Belanda (Levang, 2. (Karsiwan & Pujiati, 2. Salah satu warisan konkret dari politik etis adalah pembangunan bendungan atau dam yang berfungsi sebagai penopang sistem pertanian di wilayah transmigrasi. Dam Swadaya yang terletak di Desa Gondang Rejo. Kabupaten Lampung Timur, merupakan contoh nyata dari infrastruktur kolonial yang dibangun dalam konteks kebijakan etis tersebut. Dibangun pada tahun 1952 oleh penduduk lokal yang didorong bekerja secara paksa, bendungan ini awalnya dirancang untuk keperluan irigasi pertanian sekaligus sebagai bagian dari penataan wilayah kolonisasi (Nitipradjo, 2010. Sari & Karsiwan. Meski awalnya bersifat eksploitatif. Dam Swadaya hari ini menyimpan potensi besar sebagai warisan sejarah, media edukatif, dan sumber penguatan identitas lokal. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan Dam Swadaya sebagai media edukatif dan pengembangan sosial belum dilakukan secara maksimal. Potensi bendungan sebagai sarana pembelajaran sejarah kolonial, teknik irigasi tradisional, hingga konservasi lingkungan belum terintegrasi dalam kurikulum sekolah maupun dalam program penguatan kapasitas komunitas. Sekolah-sekolah di sekitar Gondang Rejo, misalnya, belum menjadikan dam ini sebagai laboratorium pembelajaran lapangan dalam mata pelajaran IPS, sejarah, atau geografi. Padahal, pemanfaatan ruang sejarah dan fisik sebagai sumber belajar terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara afektif dan kognitif dalam memahami konteks lokal (Amboro, 2. Lebih lanjut, keterbatasan fasilitas penunjang seperti plakat informasi sejarah, pusat edukasi lingkungan, dan program wisata edukatif berbasis komunitas menyebabkan Dam Swadaya kehilangan daya edukatifnya. Tidak adanya dokumentasi sistematis mengenai sejarah pembangunan dan peran strategis bendungan ini membuat nilai-nilainya sulit dikenali oleh publik, terutama generasi muda. Sementara itu, rendahnya pemanfaatan teknologi digital dan media sosial juga memperlemah potensi penyebaran informasi sejarah secara luas. Dalam konteks literasi digital, hal ini menjadi ironi di tengah upaya peningkatan kesadaran sejarah melalui pendekatan kekinian yang berbasis teknologi. Rendahnya partisipasi komunitas lokal dalam menjaga dan mengembangkan Dam Swadaya sebagai ruang edukatif juga menjadi tantangan Padahal, pembangunan berbasis partisipatif yang melibatkan Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 3 No. Juni 2025: masyarakat secara langsung terbukti mampu mendorong keberlanjutan program pelestarian warisan Sejarah (Yudiyanto et al. , 2021. Sayangnya, sebagian besar warga hanya mengenal bendungan ini sebagai tempat irigasi atau taman rekreasi, tanpa pemahaman lebih dalam mengenai nilai historis dan sosialnya. Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi besar yang dimiliki Dam Swadaya dengan realitas pemanfaatannya di lapangan. Dalam lanskap penelitian sebelumnya, kajian mengenai bangunan kolonial telah banyak dilakukan, terutama oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan. Namun, fokus utama umumnya tertuju pada bangunan perkotaan seperti stasiun, mercusuar, dan pusat pemerintahan (Julianto et al. , 2. Penelitian mengenai bangunan air seperti bendungan, khususnya yang dikaji dari sisi edukatif dan sosial dalam perspektif lokal, masih sangat terbatas. Oleh karena itu, riset ini menempati posisi strategis dalam mengisi kekosongan tersebut dengan mengangkat Dam Swadaya sebagai objek kajian utama. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana bendungan ini dapat diintegrasikan sebagai media edukasi dan sarana pemberdayaan sosial di Desa Gondang Rejo. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjadi upaya pelestarian warisan kolonial dalam kerangka sejarah lokal, tetapi juga sebagai inovasi pendidikan berbasis konteks. Hal ini sejalan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran berbasis lingkungan dan karakter. Melalui pendekatan ini, diharapkan Dam Swadaya tidak hanya menjadi bangunan bisu masa lalu, tetapi juga ruang hidup masa kini yang mampu membentuk kesadaran sejarah, sosial, dan ekologis generasi penerus bangsa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi pemanfaatan Dam Swadaya sebagai media edukasi dan pengembangan sosial di Desa Gondang Rejo. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memahami makna, persepsi, serta pengalaman subjek secara mendalam melalui data yang bersifat naratif, bukan angka (Lexy J. Moleong, 2. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari warga dan tokoh masyarakat Desa Gondang Rejo yang dianggap memahami sejarah dan perkembangan Dam Swadaya, seperti kepala desa, tokoh adat, serta beberapa pengunjung dam. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian meliputi pedoman wawancara semi-terstruktur, catatan lapangan, kamera dokumentasi, dan daftar cek observasi. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Gondang Rejo. Kecamatan Pekalongan. Kabupaten Lampung Timur, yang dipilih karena merupakan lokasi langsung dari objek yang diteliti. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama yaitu wawancara, studi pustaka, dan survei lapangan. Wawancara dilakukan kepada empat informan kunci, yakni Bapak Danu Prayogo (Kepala Des. Bapak Suyanto. Bapak Hendri Irawan, dan Ibu Suratmi sebagai warga lokal, untuk mengetahui perubahan fungsi bendungan, saluran irigasinya, serta persepsi sosial masyarakat (T. Ramadhani. Karsiwan. Sari Nasution & Lubis, 2. Studi pustaka dilakukan guna memperoleh informasi mengenai latar belakang sejarah, kondisi awal Dam Swadaya, dan landasan kebijakan kolonial dalam pembangunan infrastruktur tersebut (Sugiyono, 2. Sementara itu, survei lapangan dilakukan dengan cara observasi langsung dan dokumentasi visual untuk mengidentifikasi kondisi fisik bendungan serta lingkungan sekitarnya (A. Nasution, 2. Seluruh data yang diperoleh dianalisis menggunakan model analisis data kualitatif interaktif menurut Miles dan Huberman (Miles et al. , 2. , yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian hasil dan pembahasan ini menyajikan temuan-temuan penting yang diperoleh dari penelitian mengenai Dam Swadaya, baik dari aspek historis, sosial, lingkungan, maupun pendidikan. Analisis dilakukan secara mendalam untuk mengkaji bagaimana bendungan ini tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur irigasi, tetapi juga menyimpan nilai-nilai historis dan potensi edukatif yang kaya. Penelusuran literatur dan data lapangan menunjukkan bahwa Dam Swadaya merupakan bagian dari warisan kolonial yang sarat dengan makna politik, sosial, dan budaya. Pembahasan dalam bagian ini dibagi ke dalam enam fokus utama yang saling berkaitan, mulai dari sejarah pembangunan dam sebagai bagian dari kebijakan kolonial, peran dam dalam ketahanan pangan lokal, hingga potensinya sebagai media pembelajaran kontekstual dalam pendidikan IPS. Selain itu, juga diuraikan pergeseran fungsi dam dari ruang teknis menjadi ruang publik, tantangan degradasinya, serta potensi revitalisasi yang menyatukan aspek edukatif dan lingkungan. Setiap subbagian membahas hasil yang telah dianalisis berdasarkan data historis, literatur akademik, serta interpretasi sosial dan pendidikan yang relevan dengan konteks lokal saat ini. Dam Swadaya sebagai Warisan Kolonial dan Representasi Politik Etis Temuan historis dari lokasi penelitian menunjukkan bahwa Dam Swadaya bukan sekadar struktur fisik, tetapi merupakan artefak sosial yang menyimpan jejak kebijakan kolonial Belanda, khususnya politik etis yang diterapkan pada awal abad ke-20. Dalam kerangka politik etis. Belanda memperkenalkan tiga agenda besar: edukasi, irigasi, dan emigrasi. Program ini bertujuan memperbaiki taraf hidup masyarakat pribumi sekaligus mengukuhkan kontrol kolonial di wilayah Hindia Belanda. Salah satu manifestasi dari kebijakan ini adalah transmigrasi resmi pertama yang mendatangkan lebih dari 1. 200 jiwa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ke wilayah Jojog . ini Gondang Rej. pada tahun 1939. Mereka ditempatkan di Bedeng 32 dan diarahkan untuk membuka hutan menjadi lahan produktif (Ramadhan KH, 1993. Setiawan et al. , 2. Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 3 No. Juni 2025: Pada tahun 1952. Dam Swadaya dibangun di atas tanah milik Kementerian Pekerjaan Umum Indonesia oleh penduduk lokal di bawah pengawasan Mereka bekerja tanpa bayaran finansial, hanya diberi makan sebagai imbalan, sebuah praktik yang menunjukkan ambiguitas antara pembangunan dan eksploitasi (Nitipradjo, 2. Nama asli bendungan ini adalah "Langen Tirto Swadaya", yang secara filosofis mencerminkan kerinduan masyarakat akan air dan kehidupan, namun juga mengandung ironi atas kondisi kerja paksa yang dialami para kolonis. Dalam sudut pandang sejarah lokal, pembangunan dam ini bukan hanya proyek teknis, melainkan proses panjang perjuangan masyarakat dalam menghadapi kerasnya kehidupan kolonial di tanah seberang. Struktur ini menjadi saksi diam atas bagaimana kebijakan kolonial memanipulasi narasi pembangunan untuk melayani kepentingan penjajah, namun pada saat yang sama melahirkan infrastruktur yang masih digunakan hingga kini. Fungsi Dam Swadaya dalam Sistem Irigasi dan Ketahanan Pangan Lokal Dalam konteks ketahanan pangan dan kemandirian desa. Dam Swadaya memiliki posisi vital sebagai tulang punggung sistem irigasi. Air dari bendungan ini dialirkan ke wilayah pertanian di Desa Purbinggo melalui jaringan irigasi Batanghari Utara, yang merupakan kelanjutan dari rekayasa sistem air kolonial. Sungai Way Batanghari sebagai sumber utama air dimodifikasi alirannya agar mengarah ke utara, menyesuaikan dengan topografi dan kebutuhan pertanian (Bukri, 1978. Hadikusuma, 1. Kemampuan dam ini untuk menyimpan air di musim hujan dan mengalirkannya saat musim kemarau menjadi solusi jangka panjang terhadap persoalan kekeringan yang selama ini membayangi petani Penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi irigasi dari Dam Swadaya tidak hanya menyentuh aspek teknis pertanian, tetapi juga menyatu dalam budaya agraris masyarakat setempat. Air dianggap sebagai berkah yang diperjuangkan bersama, dibagi melalui mekanisme gotong royong, dan dijaga melalui kesepakatan sosial informal. Sebagaimana dinyatakan oleh Acmadi . , sistem irigasi tradisional yang berkembang dari masa kolonial telah menjadi instrumen strategis dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas. Meskipun terdapat perubahan kebijakan pascareformasi dengan adanya intervensi seperti program WATSAL dan IOMP (Ardi, 2. , pada praktiknya dam-dam kecil seperti Swadaya tetap menjadi andalan masyarakat desa karena lebih fleksibel dan adaptif terhadap konteks lokal. Potensi Dam Swadaya sebagai Media Pembelajaran Kontekstual IPS Salah satu aspek yang mencuat dari hasil penelitian adalah besarnya potensi Dam Swadaya sebagai sumber belajar yang hidup bagi peserta didik. Namun, hingga saat ini potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh Ramadhani. Karsiwan. Sari lembaga pendidikan di sekitar lokasi. Padahal, bendungan ini dapat menjadi bahan ajar lintas disiplin dalam pelajaran IPS, sejarah lokal, geografi, kewarganegaraan, bahkan sains lingkungan. Misalnya, dari sisi sejarah, siswa dapat memahami dinamika kolonisasi, kerja paksa, serta konstruksi sosial yang terbentuk dalam proses transmigrasi kolonial. Sedangkan dari sisi geografi, mereka dapat mempelajari siklus hidrologi, perubahan bentang alam, dan ekosistem air buatan (Irham, 2. Nilai karakter seperti kerja sama, ketekunan, inovasi, dan refleksi juga dapat ditanamkan melalui studi lapangan ke Dam Swadaya. Kisah warga yang membangun bendungan ini dengan kondisi yang minim, namun penuh semangat, menjadi cermin kekuatan kolektif di tengah keterbatasan. Hal ini sejalan dengan gagasan pembelajaran kontekstual yang menyarankan penggunaan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar agar peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga realitas lokal yang membentuk identitas mereka (Amboro, 2. Tanpa integrasi sumber belajar lokal seperti Dam Swadaya ke dalam kurikulum, pendidikan akan kehilangan kesempatan emas untuk menumbuhkan pemahaman yang mendalam dan relevan. Degradasi Fungsi Sosial dan Ketidakterkelolaan Dam sebagai Ruang Publik Transformasi Dam Swadaya menjadi taman rekreasi pada awal 1990-an merupakan bentuk pemanfaatan baru yang menandakan dinamika sosial masyarakat lokal. Berdasarkan penuturan narasumber. Taman Rekreasi Langen Tirto Swadaya sempat menjadi destinasi favorit masyarakat, lengkap dengan wahana permainan, dan bahkan mengundang artis ibu kota untuk meramaikan acara di lokasi tersebut. Namun, kejayaan ini tidak berlangsung lama. Kurangnya perawatan, infrastruktur yang rusak, minimnya keamanan, serta munculnya insiden yang menyebabkan korban jiwa membuat kawasan ini Dalam persepsi warga, lokasi ini mulai dianggap angker dan tidak Pembahasan atas fenomena ini menunjukkan bahwa keberlangsungan sebuah ruang publik sangat bergantung pada sistem pengelolaan yang partisipatif, dukungan pemerintah, dan strategi keberlanjutan. Fandeli (Fandeli, 2. menyatakan bahwa kawasan wisata yang berbasis komunitas membutuhkan perencanaan lintas sektor dan dukungan multi-aktor untuk Dalam konteks Dam Swadaya, potensi sebagai ruang sosial dan edukatif sebenarnya masih ada, namun membutuhkan revitalisasi secara menyeluruh dengan pendekatan interdisipliner yang melibatkan pendidikan, konservasi, dan ekonomi lokal. Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 3 No. Juni 2025: Perluasan Fungsi Edukatif Dam Swadaya melalui Studi Lingkungan dan Kesadaran Bencana Dam Swadaya memiliki nilai lebih dibanding bendungan biasa karena lokasinya menciptakan ekosistem air yang kaya akan keanekaragaman hayati. Studi lingkungan yang dilakukan di sekitar kawasan ini menunjukkan keberadaan berbagai jenis tumbuhan air, burung lokal, hingga organisme air mikro yang dapat dijadikan bahan pembelajaran. Siswa dapat belajar mengenai interaksi ekosistem, kualitas air, perubahan iklim, serta pemantauan lingkungan secara langsung (Yudiyanto et al. , 2021. Selain aspek ekologi, dam ini juga memiliki potensi sebagai laboratorium bencana. Seiring berjalannya waktu, bendungan yang tidak dirawat menyimpan risiko longsor, banjir, atau bahkan runtuhnya struktur yang dapat membahayakan pemukiman sekitar. Dalam konteks pendidikan kebencanaan, dam ini dapat digunakan untuk simulasi tanggap darurat, pelatihan penyelamatan, dan manajemen risiko Siswa, anggota pramuka, serta organisasi kepemudaan dapat menggunakan lokasi ini untuk membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan risiko serta kemampuan bertindak dalam situasi darurat (Muslim. Wibisono, 2. Dengan pendekatan ini, pendidikan tidak lagi berada di dalam kelas semata, tetapi menjangkau pengalaman nyata yang lebih membekas dalam pembentukan karakter dan kecakapan hidup peserta didik. Nilai Karakter dalam Proses Sejarah dan Pembangunan Dam Swadaya Salah satu hasil yang paling menyentuh dari penelitian ini adalah bagaimana proses pembangunan Dam Swadaya menjadi cermin nilai-nilai luhur masyarakat kolonis. Meski berada dalam tekanan dan kekurangan, mereka tetap menunjukkan semangat kebersamaan yang tinggi. Kolaborasi mereka dalam menyelesaikan pembangunan dam dan saluran irigasi dilakukan tanpa pamrih, tanpa jaminan kesejahteraan yang pasti, hanya dengan harapan bahwa generasi mereka kelak akan memiliki kehidupan yang lebih baik (Karsiwan et al. , 2. Nilai-nilai seperti ketekunan, kerja sama, dan inovasi tertanam dalam sejarah pembangunan ini dan menjadi narasi penting yang layak diangkat dalam proses pendidikan karakter. Dalam konteks pendidikan IPS dan sejarah, narasi seperti ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi kritis agar peserta didik tidak hanya menghafal peristiwa, tetapi mampu memahami makna terdalam dari perjuangan, daya juang, dan harapan masyarakat masa lalu (Anggraena, 2022. Pratiwi et al. , 2. Oleh karena itu. Dam Swadaya bukan hanya objek pasif warisan kolonial, tetapi juga ruang aktif yang merekam nilai-nilai kemanusiaan yang perlu diwariskan. Ramadhani. Karsiwan. Sari KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Dam Swadaya di Desa Gondang Rejo merupakan warisan kolonial yang memiliki nilai strategis dalam konteks historis, agraris, edukatif, dan sosial. Dibangun dalam kerangka politik etis oleh masyarakat kolonis di bawah tekanan kolonial, dam ini bukan hanya infrastruktur teknis, tetapi juga simbol perjuangan dan ketekunan masyarakat Hingga kini. Dam Swadaya masih memainkan peran penting dalam sistem irigasi pertanian, namun pemanfaatannya sebagai media pembelajaran kontekstual IPS, ruang studi lingkungan, dan pusat pendidikan karakter belum tergarap optimal. Kurangnya dukungan fasilitas, dokumentasi sejarah, dan integrasi dengan kurikulum serta kebijakan lokal menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, perlu upaya revitalisasi berbasis kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat untuk menghidupkan kembali fungsi sosial dan edukatif Dam Swadaya. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi model pengembangan wisata edukatif berbasis sejarah lokal yang berkelanjutan dan partisipatif. DAFTAR PUSTAKA