Vol. 10 No. 1, 2025 p-ISSN : 2502-8383 e-ISSN : 2808-3954 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF TIPE INDEX CARD MATCH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN KOLABORASI SISWA Elfiana Universitas Islam Negeri Fatmawati Bengkulu Email: elfiana2805@gmail. Abstrak: Keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran merupakan elemen penting yang menjadi dasar untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tingkat keaktifan siswa di sekolah. Untuk menciptakan suasana belajar yang efektif dan kondusif, diperlukan metode pembelajaran yang mampu mendorong partisipasi aktif siswa di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model pembelajaran aktif tipe Index Card Match pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas IV SDN 166 Bengkulu Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN 166 Bengkulu Utara. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Penerapan model pembelajaran aktif tipe Index Card Match mampu meningkatkan hasil belajar kognitif siswa serta keterampilan kolaborasi mereka dalam bekerja sama. Model ini juga berhasil meningkatkan hasil belajar siswa secara keseluruhan, terlihat dari ketuntasan hasil belajar kognitif dengan nilai KKM Ou80, di mana 90% siswa mencapai Capaian ini telah melampaui target indikator keberhasilan sebesar 80%. Kata Kunci: Keterampilan Kolaborasi. Ketuntasan Belajar. Pembelajaran Kondusif. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu proses yang terpenting di dalam meningkatkan sumber diri dengan lingkungannya. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses memanusiakan Pendidikan merupakan proses penembangan individu dan kepribadian seseorang yang dilakukan secara sadar dan penuh dengan tanggung jawab untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai, sehingga mampu menyesuaikan belajar mengajar atau kegiatan pembelajaran, yang dapat dilaksanakan oleh lembaga pendidikan formal, nonformal, dan informal. 1 Menurut Trahati menyatakan bahwapendidikan adalah kegiatan yang dilakukan manusia secara sadar dan terprogram guna membangun personalitas yang baik dan mengembangkan kemampuan atau bakat yang ada pada diri individu manusia agar mencapai tujuan atau target tertentu dalam menjalani hidup. Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, keterampilan, dan keahlian tertentu kepada peserta didik. Melalui pendidikan,peserta didik berusaha mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang Tantangan besar dalam revolusi industri 4. 0 menuntut pendidikan agar mampu Julianto Alfin. AuKolaborasi Pendidikan Nonformal. Informal. Dan Formal Dalam Pendidikan Pemuda Di Daerah Istimewa Yogyakarta. ,Ay Jurnal Pendidikan Luar Sekolah 1, no. : 14Ae22, https://journal. id/index. php/jurnaldiklus/article/view/24644/13186. MR. Trahati. AuImplementasi Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Di Sekolah Dasar Negeri Tritih Wetan 05 Jeruklegi CilacapAy (Yogyakarta: FKIP UNY, 2. mencetak generasi yang memiliki keterampilan 4C, seperti berkolaborasi, komunikasi, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas. Dinamika dalam dunia pendidikan setiap saat terus berkembang, namun perkembangan tersebut tidak disertai dengan keseimbangan target keberhasilan peserta didik. Pada era yang serba digital, seharusnya peserta didik tidak lagi berpikir secara konvensional, tetapi dituntut proaktif untuk mengkritisi keadaan yang terjadi, sehingga menghasilkan output yang dapat cakap hidup di abad 21. Peserta didik harus mampu berkolaborasi dan berkomunikasi untuk menyesuaikan diri dengan dinamika segala sektor kehidupan yang terus berjalan. Keterampilan berkolaborasi dan komunikasi bukanlah output yang instan, melainkan harus dibentuk sejak dini. Oleh karena itu, guru sebagai ujung tombak dalam keberhasilan pembelajaran harus kreatif dalam mengintegrasikan keterampilan kolaborasi dalam proses Guru sebagai pengajar merupakan pencipta kondisi belajar siswa yang di desain secara sengaja, sistematis, dan berksinambungan. Sedangkan siswa sebagai subyek pembelajaran merupakan pihak yang menikmati kondisi belajar yang di ciptakan guru, pada proses pembelajaran dikelas, keduanya saling mempengaruhi dan memberi masukan. Oleh karenanya, kegiatan belajar merupakan aktifitas yang hidup, syarat nilai dan memiliki tujuan. keteribatan siswa secara aktif dalam proses pembeajaran merupakan hal yang sangat penting dan merupakan modal dasar bagi siswa agar dapat mencapai kompetensi pembelajaran yang Untuk mencapai tujuan ini, bukan hal yang mudah bagi guru untuk Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pendidik di SDN 166 Bengkulu Utara, metode yang digunakan oleh guru saat pembelajaran adalah metode ceramah dan demonstrasi dengan buku kelas sebagai satu-satunya bahan ajar. Guru belum pernah memfasilitasi siswa untuk berdiskusi secara terbimbing dengan melibatkan siswa secara aktif dalam penilaian. Guru juga masih kurang transparan dalam menyampaikan poin penilaian, sehingga apa yang dilakukan oleh siswa bukanlah usaha terbaiknya dan berdampak pada hasil belajarnya yang kurang Sehingga mengakibatkan beberapa permasalahan yang terjadi di SDN 166 Bengkulu Utara. Permasalahan tersebut yaitu selama kegiatan pembelajaran berlangsung dikelas IV SDN 166 Bengkulu Utara guru mengalami berbagai kendala karena siswa beberapa tidak tertarik dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, kemudian selama kegiatan pembelajaran banyak siswa yang kurang aktif pada saat guru menyampaikan materi ataupun memberikan kesempatan bertanya dan berdiskusi tentang materi Pendidikan Agama Islam. Sikap kurang aktif ini ditunjukkan dengan sedikitnya siswa yang bertanya dan berpendapat pada saat guru menyampaikan materi maupun menjelaskan materi pembelajaran. Sebagaian siswa kelas IV bersikap pasif pada saat proses pembelajaran berlangsung, siswa sering kali Nurbaya. AuPeningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Penyelesaian Masalah Melalui Model Problem Based Learning (PBL) Pada Pembelajaran Tematik Kelas VI SDN 19 Cakranegara,Ay Pendagogia: Jurnal Pendidikan Dasar 1 . : 106Ae113, https://jurnal. org/index. php/pendagogia/article/view/29. dan Ahmadi K. I Amri. Proses Pembelajaran Kreatif Dan Inovatif Dalam Kelas (Jakarta : Prestasi Pustaka Raya, 2. kurang bersemangat dalam pembelajaran. Hal tersebut menyebabkan suasana belajar yang dirasa kurang efektif dan efisien. Sehingga tujuan pendidik sebagai fasilitator sulit tercapai dan tujuan pendidikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan selama ini. Berdasarkan permasalahan diatas Peneliti menganggap masalah tersebut sangat penting dan perlu segera ditemukan jalan pemecahannya. Keberhasilan dalam pemecahan masalah ini akan sangat berpengaruh terhadap keaktifan belajar siswa di sekolah. Agar proses belajar mengajar menjadi efektif dan kondusif, diperlukan metode-metode atau model-model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam kelas. Untuk itu perlu ada model pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Adapun model yang dimaksud adalah model pembelajaran aktif tipe index card match. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran PAI di SDN 166 Bengkulu Utara dan menjadi referensi bagi pengembangan model pembelajaran di sekolah lainnya. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian tindakan yang dikembangkan berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran menjadi lebih efektif. Metode dan Rancangan Siklus Dalam Penelitian Penelitian tindakan kelas yang diterapkan menggunakan model yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Taggart (Arikunto, 2. Pada model ini terdapat empat komponen dari setiap siklusnya yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada tahapan refleksi peneliti mencari kelebihan dan kekurangan dalam Penggunaan Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match. Hasil refleksi tersebut akan digunakan untuk perbaikan pada tindakan berikutnya. Pelaksanaan penelitian ini mencakup 2 siklus. Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Cetakan Ke (Jakarta: Rineka Cipta. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada saat PPL 1 PPG Dalam Jabatan bulan Oktober-November 2023 . emester ganji. yang dilakukan di SDN 166 Bengkulu Utara. Desa Mangkurajo. Kecamatan Lebong Selatan. Kabupaten Lebong. Bengkulu. Subjek dan Objek Dalam Penelitian Objek penelitian ini adalah siswa kelas 4 SDN 166 Bengkulu Utara dengan jumlah 10 siswa terdiri dari 2 orang laki-laki dan 8 orang perempuan. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah peneliti sendiri. Dalam hal ini peneliti berperan langsung sebagai guru yang melakukan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menerapkan Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match. Guru pamong sebagai kolaborator dan rekan mahasiswa PPL PPG dalam penelitian ini terlibat sebagai observer yang membantu peneliti mendapatkan data penelitian. Instrumen- Instrumen Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini, instrumen yang digunakan adalah sebgai Lembar observasi keterampilan kolaborasi siswa Digunakan untuk mengetahui persentase keterampilan kolaborasi siswa dengan diterapkan Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match Lembar penilaian hasil belajar dalam LKPD Setiap siswa mendapatkan nilai hasil belajar dalam Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match. Penilaian dilakukan dengan peer assessment oleh teman sebayanya. Sumber Data Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Data ini dapat ditemukan dengan Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang Selain data primer, sumber data yang dipakai peneliti adalah sumber data sekunder, data sekunder didapat melalui berbagai sumber yaitu literatur artikel, serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan. Teknik pengumpulan data Metode Interview (Wawancar. Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi. Dalam hal ini, hasil wawancara ditentukan oleh beberapa faktor yang berinteraksi dan mempengaruhi arus Faktor-faktor tersebut adalah pewawancara, responden, topik penelitian yang tertuang dalam daftar pertanyaan, dan situasi wawancara. (Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, 1. Dalam penelitian ini penulis mengambil kepala sekolah, beberapa guru dan beberapa siswa. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang: Latar belakang berdirinya dan sejarah perkembangan SDN 166 Bengkulu Utara . Pelaksanaan proses belajar mengajar terutama tentang hasil belajar kognitif Dokumentasi Dokumen adalah rekaman peristiwa yang lebih dekat dengan percakapan, menyangkut persoalan pribadi dan memberikan interpretasi yang berhubungan sangat dekat dengan konteks rekaman peristiwa tersebut. Melalui metode ini, penulis mengumpulkan dokumendokumen . ata-dat. yang diperoleh dari Kantor SDN 166 Bengkulu Utara, seperti jumlah kelas, banyak siswa dan lain-lain. Observasi Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi keterampilan kolaborasi yang telah dibuat. Proses observasi dilakukan oleh dua orang observer. Pengamatan juga dilakukan untuk mengetahui keterampilan kolaborasi selama proses pembelajaran No. Nama Siswa Indikator Keterampilan Kolaborasi Kerjasama Tanggunjawab /2/. /2/. Tot al Skor Nilai= Eax100 Lembar Observasi Keterampilan Kolaborasi Siswa Rubrik Penilaian Keterampilan Kolaborasi Aspek Bekerjasama Tanggung Keterangan: Nilai= Kriteria Skor Keterangan C Penyelesaian tugas dilakukan 3 tanpa perlu diingatkan C Melaksanakan diberikan dengan sungguhsungguh C Bersedia membantu temannya 1 saat mengalami kesulitan Membagi dengan porsi yang adil Melaksanakan tugas yang telah disepakati dalam kelompok Menilai kerja teman sebayanya dengan benar Jika memenuhi semua Jika memenuhi Jika memenuhi satu Jika memenuhi semua kriteria Jika memenuhi dua kriteria Jika memenuhi satu kriteria Eax100 Kode nilai: 75,01-100 = sangat baik (SB) 50,01-75,00 = baik (B) 25,01-50,00 = cukup (C) 00,00-25,00 = kurang (K) Analisis setiap indikator keterampilan kolaborasi digunakan teknik analisis secara deskriptif dengan rumus sebagai berikut : Persentase keterampilan kolaborasi =Jumlah siswa yang menunjukkan aktivitas x 100% Jumlah siswa seluruhnya Indikator keberhasilan dalam penelitian ada dua yaitu. Jika seluruh indikator keterampilan kolaborasi siswa meningkat mencapai target 80% Jika hasil belajar kognitif mencapai target 80% siswa dengan nilai KKM Ou80 KAJIAN TEORI Keterampilan Abad Ke-21 Keterampilan abad ke-21 memiliki poin penting seorang individu untuk meningkatkan kemampuan dalam berbagi informasi, mengambil sebuah keputusan bersama, berkolaborasi, berinovasi, dan keterampilan bekerja menjadi poin yang penting. Indikator keberhasilan siswa tidak lagi berdasarkan tingkat keberhasilannya dalam melakukan pekerjaan manual, pekerjaan rutin dengan bantuan mesin atau dengan mengandalkan pasar tenaga kerja melainkan berdasarkan keterampilan dalam berkomunikasi, berbagi informasi dan menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan permasalahan kompleks serta dapat berinovasi dengan perkembangan teknologi untuk menciptakan sebuah ilmu pengetahuan. 6 US- based Partnership for 21st Century Skills (P. menyatakan bahwa kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke 21 yaitu AuThe 4CsAy yang berupa communication . , collaboration . , critical thinking . erpikir kriti. , dan creativity . Keempat kompetensi tersebut harus diajarkan kepada siswa pada abad ke-21. Keterampilan Kolaborasi Kolaborasi adalah suatu proses bekerjasama, berkoordinasi, dan mengandung unsur ketergantungan yang positif dalam suatu kelompok yang mengarah pada tujuan bersama yang hendak dicapai. Sedangkan pengertian keterampilan kolaborasi adalah suatu kemampuan dalam melakukan tukar pikiran atau gagasan dan juga perasaan antarsiswa pada tingkatan yang sama. 8 Keterampilan kolaborasi wajib dimiliki siswa sebagai keterampilan hidup . ife skil. karena dapat membantu siswa mengembangkan pentingnya dimensi sosial dan pribadi seorang siswa. Berdasarkan penelitian Law dkk. , menyatakan bahwa pembelajaran yang kolaboratif mampu membantu siswa untuk belajar secara sosial dan meningkatkan keterampilan sosial 9 Collaborative learning mengedepankan kedekatan sosial yang dapat mengembangkan suatu wawasan dalam pengetahuan dan pemahaman siswa. 1 Siswa juga harus diberikan bekerja secara kolaboratif sehingga akan tertanam jiwa saling menghargai, menghormati, tanggungjawab, tenggang rasa, dan lainnya. Pembelajaran yang bersifat kolaboratif memiliki lima unsur penting, yaitu positive interdependence, face-to-face promotive interactions, individual accountability and personal responsibility, team S Zubaidah. AuKeterampilan Abad Ke-21: Keterampilan Yang Diajarkan Melalui Pembelajaran. Seminar Nasional Pendidikan,Ay Seminar Nasional Pendidikan 2, no. : 1Ae17, https://scholar. id/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=IpsuIaJ&citation_for _view=IpsuIaJ:Xl6nMSl579sC. Partnership For 21st Century Skill. 21st Century Skills. AuEducation & Competitiveness : A Resource and Policy Guide. Tucson : Partnership For 21st Century Skill,Ay 2008, https://eric. gov/?id=ED519337. S Lelasari. Setyosari. , & Ulfa. AuPemanfaatan Social Learning Network Dalam Mendukung Keterampilan Kolaborasi Siswa,Ay Prosiding TEP & PDs 3, no. : 167Ae172. Y Law. So. , & Chung. AuEffect of Collaborative Learning on Enhancement of Students Ao Self-Efficacy . Social Skills and Knowledge towards Mobile Apps Development,Ay American Journal of Educational Research 5, no. : 25Ae29. I Anantyarta. , & Sari, 0AuKeterampilan Kolaboratif Dan Metakognitif Melalui Multimedia Berbasis Means Ends Analysis Collaborative and Metacognitive Skills Through Multimedia Means Ends Analysis Based,Ay Jurnal Biologi Dan Pembelajaran Biologi 2, no. : 33Ae43. work and social skills, dan group processing. 1 Funali . melakukan penelitian tentang pentingnya kemampuan kolaborasi siswa pada kelangsungan pembelajaran IPS pada siswa Kelas V SDN 1 Siboang. Jenis penelitiannya yaitu penelitian tindakan kelas. Funali memberikan soal kepada 16 siswa untuk dikerjakan secara individu dengan dibimbing oleh Hasilnya hanya 5 siswa yang mendapatkan skor diatas 65 . dengan skor tertinggi 87,5 sedangkan 11 siswa mendapatkan skor dibawah 65 . idak tunta. dengan skor terendah Artinya persentase tuntas klasikal hanya sebesar 31,25%. Setelah Funali membentuk kelompok kecil dan kembali memberikan soal kepada 16 siswa untuk dikerjakan secara kolaborasi, hasilnya meningkat cukup signifikan. Sebanyak 10 siswa mendapatkan skor diatas 65 . dengan skor tertinggi 100, sedangkan 6 siswa yang mendapatkan skor dibawah 65 . idak tunta. dengan skor terendah 62,5. Berdasarkan hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa kolaborasi sangat penting dan efektif diterapkan bagi keberlangsungan pembelajaran karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta membantu siswa dalam memecahkan masalah secara bersama-sama. Pemahaman siswa juga meningkat serta siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran sehingga meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Indikator Keterampilan Kolaborasi Pada rubrik penilaian keterampilan kolaborasi terdiri dari 5 subskill yang dinilai berdasarkan indikator yang dikembangkan dan diadaptasi dari Trilling dan Fadel . alam Aspridanel, 2. Subskill dan Indikator Keterampilan Kolaborasi Sub Skill Kerjasama Fleksibilitas Tanggung jawab Kompromi Komunikasi Indikator Peserta didik mampu bekerjasama dengan anggota tim yang beragam dalam menyelesaikan Peserta didik mampu beradaptasi pada masingmasing kelompok dalam menyelesaikan tugas. Peserta didik memiliki inisiatif dalam mengatur diri sendiri dalam kelompok dalam mengerjakan Anggota kelompok melakukan diskusi menyelesaikan tugas Seluruh anggota kelompok saling terhubung . dengan kelompok dalam menyelesaikan tugas P Setyosari. Pembelajaran Kolaborasi Landasan Untuk Mengembangkan Keterampilan Sosial. Rasa Saling Menghargai Dan Tanggung Jawab (Malang: Universitas Negeri Malang, 2. Funali. AuMeningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kolaborasi Pada Siswa Kelas V SDN I Siboang,Ay Jurnal Kreatif Tadulako Online 4, no. : 57Ae80. Hasil Belajar Hasil belajar erat kaitannya dengan proses memperoleh pengetahuan. hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindakan belajar dan tindakan mengajar. Penilaian hasil belajar mengisyaratkan hasil belajar sebagai program atau objek yang menjadi sasaran penelitian. Hasil belajar sebagai objek penilaian pada hakikatnya menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan instruksional. 1 Hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Bloom . alam Sudjana, 2. membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu: Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap. Ranah psikomotorik, berkenaan dengan ketrampilan dan kemampuan Menurut Gagne1 hasil belajar dapat dibagi5 menjadi lima kelompok, yaitu: Informasi verbal, yaitu tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang yang diungkapkan melalui bahasa lisan maupun tertulis kepada orang lain. Kemahiran intelektual, yaitu kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan lingkungannya dan dengan dirinya sendiri. Pengetahuan kegiatan kognitif, yaitu kemampuan yang dapat menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri khususnya bila sedang belajar dan . Keterampilan motorik, yaitu kemampuan seseorang yang mampu melakukan suatu rangkaian gerak gerik jasmani. Sikap, yaitu sikap tertentu dari seseorang terhadap suatu objek. Untuk memberikan informasi mengenai tingkat penguasaan materi yang diberikan selama proses belajar mengajar berlangsung digunakan alat ukur berupa tes dalam suatu proses evaluasi. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan terkait hasil belajar siswa dan keterampilan kolaborasi siswa dalam penerapan Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas IV SDN 166 Bengkulu Utara diperoleh hasil sebagai berikut : M Ilyas. E Yanuardianto, and 3T Al Maghrobi. AuPENGARUH PENGGUNAAN PEMBELAJARAN ONLINE MELALUI MEDIA APLIKASI ASSEMBRL EDU TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA MTs AL ISHLAH MAYANG JEMBER,Ay MUMTAZ: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. : 134Ae44, https://scholar. com/citations?view_op=view_citation&hl=en&user=2AZR2y8aJ&pagesize=1 00&citation_for_view=2AZR2y8aJ:MXK_kJrjxJIC. Ajeng Ayu Novelia Sidmewa,4 Yuyun Susanti, and Rizka Andhika Putra. AuPengaruh Model Self Directed Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi,Ay J-KIP (Jurnal Keguruan Dan Ilmu Pendidika. 2, no. : 197Ae206. D D Mudjiono. AuBelajar Dan 5Pembelajaran Cetakan KeduaAy (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2. Pra Siklus (Pra Penelitia. Pada tahap pra siklus, peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas 3 SD sebagai kolaborator untuk mengetahui permasalahan yang dialami oleh siswa dalam pembelajaran. Dari hasil wawancara diperoleh informasi dan kesimpulan sebagai berikut. Metode pembelajaran yang sering dilakukan oleh guru adalah metode ceramah, demonstrasi dan pemberian tugas. Guru kurang melibatkan siswa secara aktif. Guru tidak menjelaskan penilaian secara transparan, sehingga siswa tidak berusaha untukmendapatkan nilai maksimal Siswa merasa malas, malu, cuek, dan takut untuk bertanya tentang materi pelajaran yangbelum dipahami. Siswa belum berani tampil di depan kelas. Siswa belum pernah diajak untuk berkolaborasi dalam melakukan penilaian antar Sebagian besar siswa masih pasif dan kurang interaktif dalam pembelajaran Selain hasil wawancara juga diperoleh data berkaitan dengan hasil belajar kognitif siswa (UAS) pada saat duduk di kelas 3 SD sebagai berikut. Data Kognitif Nilai Ulangan Harian Kelas 1 SDN 166 Bengkulu Utara Kategori Tuntas Tidak tuntas Nilai rata-rata Nilai Ou80 O80 Jumlah Siswa Persentase (%) Hasil wawancara dan hasil belajar kognitif di kelas tersebut digunakan sebagai bahan untuk merencanakan perbaikan dan tindakan pada siklus I. Siklus I Tahap Perencanaan Tindakan Pelaksanaan siklus I diawali dengan melakukan persiapan, yaitu menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi Membaca QS. An-Nas. Selain itu juga menyusun LKPD Berbasis Peer Asseesment, serta soal tes evaluasi postes untuk mengukur pemahaman dalam pembelajaran. RPP dibuat dan didiskusikan dengan guru pamong sehingga sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan di sekolah Peneliti juga menjelaskan cara mengisi lembar penilaian Peer Assesment kepada Tahap Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran siklus I dilakukan selama 1 pertemuan 3x35 menit. Tahap observasi dan interpretasi Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa melalui lembar observasi dapat dilihat dalam tabel berikut. Rekapitulasi Persentase Keterampilan Kolaborasi Siswa Pada Pembelajaran Siklus I Indikator Persentase (%) Keterangan Kolaborasi Keterampilan 76,6% Sangat baik Bekerjasama 83,3% Sangat baik Keterangan persentase aktivitas siswa kurang . % -25%) cukup . %-50%) baik . %-75%) sangat baik . ebih dari 75%) Berdasarkan tabel di atas diperoleh informasi bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah sebagai berikut: Keterampilan Kolaborasi Bekerjasama Persentase keterampilan kolaborasi bekerjasama sudah termasuk dalam kategori sangat baik yaitu 76,6%. Hal ini dikarenakan desain LKPD Matching Card sudah membagi porsi bekerjasama dengan sangat adil sehingga mendukung siswa untuk bekerjasama. Keterampilan Kolaborasi Bertanggung jawab Persentase kolaborasi bertanggungjawab adalah 83,3%. Hal ini dikarenakan desain LKPD Matching Card sudah membagi porsi bekerjasama dengan sangat adil disertai dengan poin yang sangat transparan sehingga menstimulasi siswa untuk melakukan usaha terbaiknya. Rata-rata indikator keterampilan kolaborasi bekerjasama dan bertanggung jawab siswa pada siklus I sudah termasuk dalam kategori sangat baik. Namun untuk indikator keterampilan bekerjasmaa belummemenuhi target pencapaian 80%. Oleh karena itu perlu dilakukan rencana perbaikan di siklus II agarhasilnya mencapai target. Adapun hasil belajar kognitif siswa selama siklus I yang diperoleh dari nilai pretes dan postes siklus I. Hasil belajar tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Rekapitulasi Hasil Belajar Kognitif Siswa Pada Pembelajaran Siklus I Kategori Nilai Jumlah Siswa Tuntas Ou80 Tidak Tuntas O80 Nilai Rata-rata Berdasarkan tabel 5 di atas dapat diperoleh informasi bahwa hasil belajar siswa pada siklus I mencapai nilai rata-rata 74. Namun jika dilihat dari ketuntasan siswa dengan KKM Ou80, 50% siswa belum tuntas, sehingga siswa yang tuntas sebesar hanya 50%. Hasil ini belum menunjukkan keberhasilan untuk mencapai target ketuntasan 80%. Oleh karena itu perlu dilakukan rencana perbaikan di siklus II agar hasilnya mencapai target. Tahap Refleksi Pada tahap ini, peneliti bersama kolaborator merencanakan perbaikan berdasarkan data pengamatan . aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa pada siklus I. Rencana tersebut dijelaskan pada tabel berikut. Refleksi Tindakan Pembelajaran pada Siklus I Kekurangan Masih ada siswa yang tak acuh dan tidak bersedia membantu temannya saat mengalami kesulitan Interaksi yang masih kurang aktif antara peserta didik dengan guru maupun peserta didik dengan pesrta didik lain. Beberapa siswa masih malu tampil di depan kelas. Siswa masih merasa takut salah dalam menjawab pertanyaan guru dan kurang aktif menjawab. Rencana Perbaikan pada Siklus II Peneliti harus memberikan ketegasan dengan cara menegur siswa yang tidak bersedia membantu temannya Peneliti harus mengarahkan dan memotivasi bahwa setiap siswa mendapatkan porsi yang sama untuk mendapatkan nilai secara transparan sehingga siswa menjadi berani dan menunjukkan usaha terbaiknya. Peneliti harus memberikan motivasi pentingnya berlatih public speaking kepada siswa. Apresiasi dan reward juga perlu diberikan kepada siswa suka membaca atau menghafal secara mandiri. Peneliti harus mengarahkan dan memotivasi bahwa setiap siswa mendapatkan porsi yang sama untuk mendapatkan nilai secara transparan sehingga siswa menjadi berani dan menunjukkan usaha terbaiknya. Siklus II Pelaksanaan siklus I diawali dengan melakukan persiapan, yaitu menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi Konvensional dengan sintaks yang sesuai dengan. Selain itu juga menyusun LKPD Berbasis Peer Asseesment, serta soal tes evaluasi postes untuk mengukur pemahaman dalam pembelajaran. RPP dibuat dan didiskusikan dengan guru pamong sehingga sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan di sekolah tersebut. Peneliti juga menjelaskan cara mengisi lembar penilaian Peer Assesment kepada siswa. Tahap Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran siklus II dilakukan selama 1 pertemuan 3x35 menit. Tahap observasi dan interpretasi Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa melalui lembar observasi dapat dilihat dalam tabel berikut. Rekapitulasi Persentase Keterampilan Kolaborasi Siswa Pada Pembelajaran Siklus II No Indikator Keterampilan Kolaborasi Bekerja Bertanggungjawab Keterangan persentase aktivitas siswa Persentase (%) 83,3% 96,6% kurang . % -25%) cukup . %-50%) baik . %-75%) sangat baik . ebih dari 75%) Keterangan Sangat baik Sangat baik Berdasarkan tabel 8 di atas diperoleh informasi bahwa keterampilan kolaborasi siswa pada siklus I adalah sebagai berikut: Keterampilan Kolaborasi Bekerjasama Persentase keterampilan kolaborasi bekerjasama sudah termasuk dalam kategori sangat baik yaitu 83,3%. Hal ini dikarenakan siswa sudah terbiasa dengan desain LKPD Matching Card sudah membagi porsi bekerjasama dengan sangat adil sehingga mendukung siswa untuk bekerjasama. Keterampilan Kolaborasi Bertanggung jawab Persentase kolaborasi bertanggungjawab adalah 96,6%. Hal ini dikarenakan desain Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match sudah membagi porsi bekerjasama dengan sangat adildisertai dengan poin yang sangat transparan sehingga menstimulasi siswa untuk melakukan usaha terbaiknya. Rata-rata keterampilan kolaborasi siswa siklus II sudah termasuk dalam kategori sangat baik yaitu dan sudah memenuhi target pencapaian 80% pada seluruh indikator keterampilan kolaborasi siswa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa dalam bekerjasama dan bertanggungjawab. Adapun hasil belajar kognitif siswa selama siklus II yang diperoleh dari nilai pretes dan postes siklus II. Hasil belajar tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Kategori Tuntas Tidak Tuntas Nilai Rata-rata Rekapitulasi Hasil Belajar Kognitif Siswa Pada Pembelajaran Siklus II Nilai Jumlah Siswa Ou80 O80 Berdasarkan tabel 9 di atas dapat diperoleh informasi bahwa hasil belajar kognitif siswa pada siklus IImeningkat dengan signifikan dengan nilai rata-rata 88. Selain itu jika dilihat dari ketuntasan siswa dengan KKM Ou80, siswa yang tuntas sebesar 90%. Hasil ini telah melampaui target indikator keberhasilan 80%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tahap Refleksi Pada tahap ini, peneliti merencanakan mengevaluasi peningkatan hasil belajar kognitif siswa dan keterampilan kolaborasi siswa. Rata-rata keterampilan kolaborasi siswa siklus II sudah termasuk dalam kategori sangat baik yaitu dan sudah memenuhi target pencapaian 80% pada seluruh indikator keterampilan kolaborasi siswa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa dalam bekerjasama dan bertanggungjawab. Selain itu jika dilihat dari ketuntasan hasil belajar kognitif siswa dengan ketuntasan KKM Ou80, siswa yang tuntas sebesar 90%. Hasil ini telah melampaui target indikator keberhasilan 80%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Secara rinci peningkatan masing-masing indikator aktivitas belajarsiswa dan peningkatan hasil belajar kognitif siswa disajikan dalam gambar berikut. Grafik Perbandingan Persentase Indikator Keterampilan Kolaborasi Siswa Peningkatan Hasil Belajar Kognitif Siswa Berdasarkan gambar terjadi peningkatan seluruh indikator pada keterampilan kolaborasi siswa dan sudah memenuhi target pencapaian 80% pada seluruh indikator keterampilan kolaborasi siswa. Pada gambar 2 juga diperoleh hasil belajar kognitif siswa berdasarkan ketuntasan siswa dengan KKM Ou80, persentase ketuntasan terus meningkat dari pra siklus mencapai 30%, siklus I mencapai 50%, dansiklus II mencapai 90%. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan sebagaimana telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa Penggunaan Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa dan keterampilan kolaborasi siswa dalam bekerjasama dan bertanggungjawab. Rata-rata keterampilan kolaborasi siswa siklus II sudah termasuk dalam kategori sangat baik dan sudah memenuhi target pencapaian 80% pada seluruh indikator keterampilan kolaborasi siswa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa dalam bekerjasama dan bertanggungjawab. Selain itu jika dilihat dari ketuntasan hasil belajar kognitif siswa dengan ketuntasan KKM Ou80, siswa yang tuntas sebesar 90%. Hasil ini telah melampaui target indikator keberhasilan Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Secara rinci peningkatan masing-masing indikator aktivitas belajar siswa dan peningkatan hasil belajar kognitif siswa. DAFTAR RUJUKAN Alfin. Julianto. AuKolaborasi Pendidikan Nonformal. Informal. Dan Formal Dalam Pendidikan Pemuda Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ay Jurnal Pendidikan Luar Sekolah 1, no. : 14Ae https://journal. id/index. php/jurnaldiklus/article/view/24644/13186. Amri. dan Ahmadi K. Proses Pembelajaran Kreatif Dan Inovatif Dalam Kelas. Jakarta : Prestasi Pustaka Raya, 2010. Anantyarta. , & Sari. AuKeterampilan Kolaboratif Dan Metakognitif Melalui Multimedia Berbasis Means Ends Analysis Collaborative and Metacognitive Skills Through Multimedia Means Ends Analysis Based. Ay Jurnal Biologi Dan Pembelajaran Biologi 2, no. : 33Ae43. Funali. AuMeningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kolaborasi Pada Siswa Kelas V SDN I Siboang. Ay Jurnal Kreatif Tadulako Online 4, no. : 57Ae80. Ilyas. E Yanuardianto, and T Al Maghrobi. AuPENGARUH PENGGUNAAN PEMBELAJARAN ONLINE MELALUI MEDIA APLIKASI ASSEMBRL EDU TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA MTs AL ISHLAH MAYANG JEMBER. Ay MUMTAZ: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. : 134Ae44. https://scholar. com/citations?view_op=view_citation&hl=en&user=2AZR2y8a J&pagesize=100&citation_for_view=2AZR2y8aJ:MXK_kJrjxJIC. Law. So. , & Chung. AuEffect of Collaborative Learning on Enhancement of Students Ao Self-Efficacy . Social Skills and Knowledge towards Mobile Apps Development. Ay American Journal of Educational Research 5, no. : 25Ae29. Lelasari. Setyosari. , & Ulfa. AuPemanfaatan Social Learning Network Dalam Mendukung Keterampilan Kolaborasi Siswa. Ay Prosiding TEP & PDs 3, no. : 167Ae172. Mudjiono. D D. AuBelajar Dan Pembelajaran Cetakan Kedua. Ay Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002. Nurbaya. AuPeningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Penyelesaian Masalah Melalui Model Problem Based Learning (PBL) Pada Pembelajaran Tematik Kelas VI SDN 19 Cakranegara. Ay Pendagogia: Jurnal Pendidikan Dasar 1 . : 106Ae113. https://jurnal. org/index. php/pendagogia/article/view/29. Partnership For 21st Century Skill. 21st Century Skills. AuEducation & Competitiveness : A Resource and Policy Guide. Tucson : Partnership For 21st Century Skill,Ay 2008. https://eric. gov/?id=ED519337. Setyosari. Pembelajaran Kolaborasi Landasan Untuk Mengembangkan Keterampilan Sosial. Rasa Saling Menghargai Dan Tanggung Jawab. Malang: Universitas Negeri Malang, 2009. Sidmewa. Ajeng Ayu Novelia. Yuyun Susanti, and Rizka Andhika Putra. AuPengaruh Model Self Directed Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi. Ay J-KIP (Jurnal Keguruan Dan Ilmu Pendidika. 2, no. : 197Ae206. Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Cetakan Ke. Jakarta: Rineka Cipta. Trahati. MR. AuImplementasi Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Di Sekolah Dasar Negeri Tritih Wetan 05 Jeruklegi Cilacap. Ay Yogyakarta: FKIP UNY, 2015. Zubaidah. AuKeterampilan Abad Ke-21: Keterampilan Yang Diajarkan Melalui Pembelajaran. Seminar Nasional Pendidikan. Ay Seminar Nasional Pendidikan 2, no. : 1Ae17. https://scholar. id/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=IpsuIa J&citation_for_view=IpsuIaJ:Xl6nMSl579sC.