Jurnal AUDHI Vol. No. Januari 2026. Pages 63-72 p-ISSN: 2662-2469. e-ISSN: 2774-8243 https://jurnal. id/index. php/AUDHI Peran Tutor Sebaya Dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Siswa Tunarungu Di TK Inklusi Fransiska1. Adpriyadi2. Theresa Chrismawati3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. STKIP Persada Khatulistiwa Sintang Email: fransiskastg@gmail. Abstrak - Peran tutor sebaya berpotensi membantu perkembangan keterampilan sosial siswa tunarungu, namun pelaksanaannya sering terhambat berbagai faktor, sehingga diperlukan upaya guru yang tepat untuk memastikan proses pembelajaran dan interaksi sosial di TK inklusi berlangsung secara optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran tutor sebaya dalam mengembangkan keterampilan sosial siswa tunarungu, faktor penghambat, serta upaya guru untuk membantu siswa tunarungu dalam kegiatan pembelajaran. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang terdiri dari 1 orang tutor sebaya, 1 orang siswa tunarungu, dan 1 orang guru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan teknik analisis data menggunakan interaktif model dari Miles dan Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutor sebaya berperan positif dalam mengembangkan keterampilan sosial siswa tunarungu. Namun, efektivitas tutor sebaya masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan komunikasi visual, strategi pembelajaran yang belum sepenuhnya adaptif, kondisi lingkungan kelas yang kurang mendukung, serta belum adanya pengelolaan dan supervisi tutor sebaya secara sistematis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tutor sebaya terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa tunarungu, terutama ketika didukung oleh peran guru melalui komunikasi yang jelas, penataan tempat duduk yang tepat, serta penggunaan media visual yang baik. Kata kunci Ae Inklusi. Keterampilan Sosial. Tunarungu. Tutor Sebaya Abstract - The role of peer tutors has the potential to help develop the social skills of deaf students, but its implementation is often hampered by various factors, so appropriate teacher efforts are needed to ensure that the learning process and social interactions in inclusive kindergartens take place The purpose of this study is to describe the role of tutor sebayas in developing social skills of deaf students, inhibiting factors and teacher efforts to help deaf students in learning activities. The subjects in this study were 3 people, consisting of 1 tutor sebaya, 1 deaf student and 1 teacher. This study used a qualitative method with a case study research type. Data collection used observation, interviews and documentation with data analysis techniques using the interactive model from Miles and Huberman, which consists of data collection, data reduction, data presentation and concluding. Research results show that peer tutoring plays a positive role in developing the social skills of deaf However, the effectiveness of peer tutoring still faces obstacles such as limited visual communication, learning strategies that are not fully adaptive, less supportive classroom environments, and the lack of systematic management and supervision of peer tutors. This study concludes that peer tutoring has been proven to be effective in improving the social skills of deaf students, especially when supported by the role of teachers through clear communication, appropriate seating arrangements, and the use of good visual media. Keywords Ae Inclusive. Social Skills. Deaf. Peer Tutor Received 20 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Fransiska. Adpriyadi. Chrismawati. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. PENDAHULUAN endidikan anak usia dini merupakan fondasi penting bagi perkembangan anak secara sosial, emosional, kognitif, dan Dalam konteks ini, pendidikan inklusi di Taman Kanak-Kanak (TK) memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang setara serta belajar dan berinteraksi bersama teman sebaya (Nadifa et al. , 2. UNESCO merupakan hak fundamental setiap anak dan harus terintegrasi dalam kebijakan serta praktik pendidikan, termasuk bagi anak dengan disabilitas (Uarnicka et al. , 2. (Perdana et al. Pendidikan inklusi bagi anak tunarungu di penyesuaian terhadap kebutuhan anak agar pembelajaran dan interaksi sosial secara optimal (Kumala et al. , 2. (Yuniarni et al. Interaksi sosial anak terbentuk melalui keterampilan sosial, yang meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan berempati baik di rumah maupun di sekolah (Wahyuni & Sari, 2. (Diswantika, 2. Keterampilan sosial menjadi kebutuhan bagi semua anak, termasuk anak tunarungu. Keterampilan sosial adalah kemampuan individu untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan berhubungan dengan orang lain secara efektif dalam berbagai situasi sosial (Apendi et al. , 2. Keterampilan sosial ini juga perlu dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus seperti anak tunarungu. Anak pendengaran baik secara keseluruhan maupun sebagian, yang berdampak pada hambatan dalam menerima informasi dan berkomunikasi di lingkungan sekolah (Saputri. Widianti. Lestari. , & Hasanah, 2. Hambatan keterampilan sosial anak, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang dapat mendukung interaksi sosial dan keterlibatan anak tunarungu dalam kelas inklusi. Penelitian di TK Inklusi PAS Baitul QurAoan Ponorogo menunjukkan bahwa anak tunarungu mampu mencapai perkembangan sosial-emosional yang baik apabila didukung pembelajaran inklusi yang (Nowra, 2. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka keterampilan sosial perlu dimiliki oleh siswa tunarungu karena keterampilan sosial yang baik menjadi sangat penting bagi anak tunarungu agar mereka dapat lingkungan sosial mereka dan dapat mengurangi tingkat kecemasan sosial yang dialami (Apendi et al. , 2. Salah satu strategi pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan inklusi adalah tutor sebaya, yaitu siswa yang lebih mampu membantu teman yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran (Ciremay & Kartiko. Metode tutor sebaya memberikan manfaat ganda, baik bagi siswa yang dibimbing maupun bagi tutor dalam mengembangkan kemampuan akademik dan sosialnya (Angelia Widyastuti & Widiana, 2. Berbagai model tutor sebaya, seperti Classwide Peer Tutoring. Reciprocal Peer Tutoring, dan Peer Assisted Learning Strategy (PALS), meningkatkan keterlibatan belajar dan sikap prososial siswa berkebutuhan khusus (Hartinah & Hendriani, 2. Meskipun penelitian menunjukkan bahwa metode tutor sebaya dapat meningkatkan keterlibatan dan interaksi sosial siswa (Rochani, 2. serta terdapat kajian lain yang berbahasa melalui metode aktif (Indriyati & Sujarwanto, 2. , penelitian yang secara khusus mengkaji peran tutor dalam membatu siswa tunarungu dalam pembelajaran dan bersosial pada jenjang TK masih terbatas. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian dalam konteks pendidikan inklusi anak usia dini (Nurhasanah & Gumiandari, 2. Berdasarkan observasi awal di kelas B TK Kartika XII-17 Sintang, ditemukan seorang siswa tunarungu yang menggunakan alat bantu dengar dan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan teman dan guru akibat keterbatasan kosakata, sehingga cenderung pasif dalam interaksi sosial. Kondisi ini memperkuat urgensi kajian mengenai penerapan tutor sebaya dalam pembelajaran inklusi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran tutor sebaya, faktor penghambat, serta keterampilan sosial siswa tunarungu di TK Received 20 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Fransiska. Adpriyadi. Chrismawati. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. METODE PENELITIAN Berdasarkan masalah yang ada, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Jenis penelitian ini dipilih karena mengkaji secara mendalam, intensif, dan terperinci tentang seorang siswa yang mengalami tunarungu sehingga diperoleh informasi mendalam tentang tunarungu yang dialami oleh subjek penelitian tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di TK Kartika XVII-17 dengan alamat Jl. MT. Haryono KM. 4 Sintang. Subjek penelitian berjumlah 3 orang yang terdiri dari 1 orang tutor sebaya, 1 orang siswa tunarungu dan 1 orang guru. Tutor sebaya ini dipilih berdasarkan kedekatan antara siswa tunarungu dengan tutor sebaya serta tutor sebaya ini memiliki kemampuan menangkap pembelajaran dengan cepat sehingga dapat pembelajaran di kelas. Untuk subyek dalam penelitian ini dipilih karena siswa tersebut mengalamai tunarungu dan guru kelas dipilih sebagai subyek penelitian karena selalu melihat aktivitas siswa tunarungu dan tutor sebaya di dalam kelas. Pengumpulan data dilakukan selama kurang lebih 2 minggu dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu observasi non partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Tujuan observasi non partisipan adalah untuk melihat peran tutor sebaya, faktor penghambat, serta upaya guru dalam mengembangkan keterampilan sosial anak tunarung di TK Inklusi. Wawancara semi terstruktur dilakukan pada tutor sebaya, siswa tunarungu, dan guru kelas dengan 3 kali sesi. Wawancara semi terstruktur ini dilakukan untuk memastikan validitas dan reliabilitas data penelitian dengan menggunakan triangulangsi sumber dan ketepatan dalam pengamatan. Dokumen yang diperlukan berupa foto dan catatan perkembangan siswa tunarungu. Analisis data menggunakan interactive model dari Miles dan Huberman yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Berikut ini adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara yang dilakukan pada tutor sebaya, siswa tunarungu dan guru kelas. Tabel 1. Pedoman Observasi Tutor Sebaya No. Indikator Perilaku Mengajak siswa bermain/mengerjakan Membantu tugas belajar siswa tunarungu Menggunakan isyarat nonverbal jelas . erak tangan/bibi. Menunjukkan penerimaan . idak marah saat tak Konsisten mendampingi Catatan Tabel 2. Pedoman Observasi Siswa Tunarungu No. Indikator Perilaku Inisiasi interaksi . endekati tema. Respons ajakan bermain/tugas Komunikasi nonverbal . erak badan/ekspres. Kerja sama kelompok Partisipasi bermain luar Terpengearuh lingkungan Catatan Tabel 3. Pedoman Observasi Guru No. Indikator Perilaku Bahasa isyarat sederhana & gerak tubuh Tempatkan siswa di depan kelas Gunakan media visual Menepuk bahu untuk perhatian visual Memantau siswa tunarungu sambil kelola Catatan Observasi dilakukan selama 3 hari dengan masing-masing subyek penelitian dilakukan observasi selama 1 hari agar observasi bisa terfokus pada subyek penelitian yang dituju. Setelah selesai melakukan observasi maka peneliti selanjutnya melakukan wawancara kepada ke tiga subyek penelitian dengan tidak mengganggu waktu jam pembelajaran di kelas. Received 20 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Fransiska. Adpriyadi. Chrismawati. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. Tabel 4. Pedoman wawancara Pertanyaan untuk Tutor sebaya Bagaimana Anda mengajak dan mendampingi siswa tunarungu bermain atau belajar bersama di kelas/luar kelas? Apa kesulitan komunikasi yang Anda hadapi . isalnya isyarat nonverbal, respons lamba. Bagaimana perasaan Anda saat siswa tunarungu tidak merespons atau diam Apa yang membuat Anda senang bersosialisasi dengan teman lain? Pertanyaan untuk Siswa Tunarungu Senangkah bermain/belajar dengan teman atau tutor sebaya? Mengapa? Apa yang kamu lakukan saat ingin bicara dengan teman . erak tangan. Sulitkah mengerti ajakan teman bermain? Apa yang bikin sulit? Bagaimana rasanya dibantu tutor sebaya atau guru di kelas? Pertanyaan untuk Guru Kelas Strategi apa yang Anda gunakan untuk berkomunikasi dengan siswa tunarungu . syarat, media visua. ? Bagaimana membantu Anda dalam pembelajaran kelas inklusi? Hambatan apa yang dialami siswa tunarungu dalam interaksi sosial . ingkungan, komunikas. ? Mengapa Anda tempatkan siswa tunarungu di depan kelas dan gunakan media visual? HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Tutor Mengembangkan Siswa Tunarungu Sebaya Keterampilan Sosial Berdasarkan hasil observasi tampak bahwa siswa tunarungu selalu bersama temantemannya baik di dalam kelas maupun di luar kelas seperti dalam kegiatan senam bersama, hal ini menunjukkan indikator inisiasi dan respons interaksi sosial yang kuat. Berdasarkan dari hasil wawancara dengan siswa tunarungu diperoleh informasi : Ausaya suka main sama teman saya yang itu bu, dia baik karena dia suka tolong saya belajar, terus dia tarik tangan saya biar bisa main sama temanteman. Ay Gambar 1. Dokumentasi senam bersama Ketika pembelajaran di dalam kelas siswa tunarungu berusaha untuk mengerjakan apa yang gurunya minta. Hal ini juga tampak ketika ia ingin menyampaikan keinginannya kepada temannya maka temannya harus melihat gerak badan dan gerak bibir dari siswa tunarungu tersebut agar mengerti apa yang ia inginkan, yang mengindikasikan kemampuan komunikasi nonverbal dan verbal fungsional. Ketika di dalam kelas saat belajar bersama terkadang temannya membantu siswa tunarungu dalam menyelesaikan tugasnya. Hal ini terjadi karena siswa tunarungu merasa lebih nyaman untuk mencerminkan indikator kerja sama dalam Selain itu, pembelajaran di tingkat taman kanak-kanak tidak seberat bila dibandingkan dengan jenjang pendidikan di SD sehingga peran teman sebaya cukup membantu siswa tunarungu di dalam kelas. Selain pembelajaran di dalam kelas interaksi antara siswa tunarungu dan teman-temannya juga terjadi di luar kelas. Hal ini tampak ketika mereka bermain bersama tutor sebaya selalu mengajak siswa tunarungu untuk bermain bersama, yang memperkuat indikator partisipasi dalam aktivitas sosial. Walaupun terkadang antara siswa tunarungu dan tutor sebaya terlihat bingung ketika salah satu dari mereka berbicara atau menggunakan bahasa tubuhnya. Berdasarkan hasil observasi tersebut maka peran tutor sebaya sangat membantu anak tunarungu dalam aktivitasnya di sekolah. Received 20 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Fransiska. Adpriyadi. Chrismawati. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. Lebih lanjut, kehadiran tutor sebaya pada sekolah inklusi sangat membantu dan mempermudah guru dalam mendidik dan membimbing siswa dalam belajar. Tutor sebaya memiliki waktu yang lebih banyak bersama dengan temannya yang tunarungu dari pada waktu yang dimiliki oleh guru kelas dan guru pendamping (Angelia Widyastuti & Widiana. Berdasarkan pendapat tersebut maka sangat penting peran tutor sebaya dalam membantu siswa tunarungu dalam belajar dan bersosialisasi bersama teman-temannya. Data wawancara semakin menguatkan temuan observasi ini, hal ini diperkuat dari hasil wawancara ketika peneliti bertanya kepada tutor sebaya tentang apa yang membuat tutor sebaya senang membantu siswa tunarungu bersosialisasi dengan teman lain dan tutor sebaya menjawab : Ausaya mau bantu dia karena saya senang main sama dia bu karena dia orangnya baik, tapi dia suka diam kalau saya ajak dia ngomong, tapi tidak apa bu karena kata ibu guru dia tidak dengar saya ngomong apa. Ay Berdasarkan dari jawaban tutor sebaya itu maka tampak bahwa tutor sebaya memahami kondisi temannya yang tunarungu sehingga sikap ini menunjukkan indikator penerimaan dan sikap positif tutor sebaya sehingga tutor sebaya sudah melakukan perannya dengan sebaik mungkin. Hal ini seperti yang disampikan oleh Selvi, dkk (Hartinah & Hendriani, 2. dalam penelitiannya bahwa beberapa peran tutor sebaya adalah membantu siswa berkebutuhan memberikan motivasi apabila mengalami kendala-kendala, selalu tanggap dengan hal-hal yang perlu di pertimbangkan, menyampaikan kembali materi yang telah diajarkan oleh guru, mengajukan pertanyaan untuk memancing dan mengarahkan ke materi yang akan dipelajari, membantu anak untuk berinteraksi dengan yang Melihat hasil penelitian tersebut dan dikaitkan dengan hasil penelitian yang telah diteliti maka peran tutor sebaya adalah membantu siswa berkebutuhan khusus selama proses pembelajaran dan membantu anak untuk berinteraksi dengan yang lainnya. Dengan demikian, ketika siswa tunarungu berinteraksi dengan tutor sebaya, guru kelas dan teman-temanya maka interaksi ini dapat melatih Keterampilan sosial dapat terjadi dengan baik jika siswa tunarungu merasa nyaman dengan lingkungan sekitarnya sehingga penting peran penerimaan dari tutor sebaya, guru dan temanteman di lingkungan sekolahnya. Salah satu bentuk dukungan sosial bagi siswa tunarungu adalah dengan membuat lingkungan yang nyaman bagi siswa tunarungu dalam belajar. Berdasarkan dari hasil penelitian tentang kepercayaan diri ditinjau dari dukungan sosial pada siswa tunarungu menunjukkan hasil bahwa ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan kepercayaan diri, yang sangat signifikan artinya semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi kepercayaan diri siswa tunarungu (Omnihara et al. , 2. Secara penelitian yang telah dilakukan tampak bahwa peran tutor sebaya dalam mengembangkan pengembangan keterampilan sosial siswa Siswa menunjukkan keterbatasan dalam komunikasi sosial, seperti kesulitan memulai percakapan, bekerjasama dengan teman sekelas, mengalami peningkatan yang baik setelah diterapkannya interaksi antara siswa tunarungu dengan tutor Tutor yang diminta untuk mendampingi siswa tunarungu dapat memberikan dukungan dalam situasi belajar dan bermain terbukti mampu memfasilitasi terjadinya komunikasi yang lebih terbuka dan alami antara siswa tunarungu dengan teman sebayanya. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (Ubah et al. yang menemukan bahwa strategi pengajaran tutor sebaya secara signifikan meningkatkan penyesuaian sosial siswa dengan gangguan pendengaran sehingga peran tutor sebaya sangat membantu siswa tunarungu dalam penyesuaian sosial di lingkungan Faktor Penghambat Tutor Sebaya dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Siswa Tunarungu. Hambatan interaksi tutor sebaya Hasil keterlibatan siswa tunarungu dalam interaksi sosial dengan tutor sebaya terhambat oleh Received 20 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Fransiska. Adpriyadi. Chrismawati. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. keterbatasan akses terhadap informasi visual, terutama ekspresi wajah dan arah pandang Siswa tunarungu tidak merespons ajakan bermain secara aktif karena ia tidak menangkap isyarat nonverbal yang disampaikan oleh tutor Kondisi ini tetap terjadi meskipun tutor sebaya telah mengulang ajakan bermain beberapa kali. Temuan tersebut menunjukkan bahwa efektivitas tutor sebaya tidak hanya ditentukan oleh frekuensi interaksi, tetapi juga oleh kualitas strategi komunikasi visual yang Hambatan ini mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan komunikasi siswa tunarungu dan pendekatan interaksi tutor sebaya yang masih bersifat spontan dan belum terstruktur. Hambatan pedagogis dalam komunikasi guruAesiswa tunarungu Hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa siswa tunarungu mengalami kesulitan pembelajaran, sehingga guru harus berada disamping siswa ketika dia belajar di kelas. Hal ini diperkuat dengan jawaban dari guru yang Auiya bu, ketika saya meminta siswa saya yang tunarungu ini maju ke dapan saya harus berada disampingnya dan menyampaikan instruksi untuk menulis huruf dengan vocal yang jelas dan dengan suara yang agak lebih keras supaya dia bias mendengar apa yang saya instruksikan. Ay dari keterbatasan pendengaran siswa, tetapi juga dari strategi pedagogis guru yang belum komunikasi visual. Sejalan dengan penelitian di atas maka relasi pedagogis yang kurang adaptif dapat membatasi kesempatan siswa tunarungu untuk mengembangkan keterampilan sosial secara aktif di kelas inklusif (Dewi Anggraini et , 2. Hambatan keterbatasan dukungan media pembelajaran Lingkungan kelas yang ramai dan kurang terstruktur secara visual menjadi faktor penghambat dalam pembelajaran sosial siswa Data observasi menunjukkan bahwa siswa mudah terdistraksi oleh aktivitas teman sehingga mereka mengikuti kegiatan tanpa memahami tujuan sosial yang mendasarinya. Kondisi ini semakin diperkuat oleh keterbatasan media pembelajaran visual yang berfungsi sebagai pendukung pemahaman. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Sriwidiastuty et al. , 2. yang menunjukkan menunjukkan bahwa media gambar seri efektif dalam meningkatkan interaksi siswa tunarungu, penelitian yang mengkaji pemanfaatan media visual untuk mengelola distraksi lingkungan kelas masih terbatas. Temuan ini menunjukkan perlunya pengembangan media visual yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga mampu mengarahkan fokus dan makna aktivitas sosial siswa. Hambatan struktural dalam pelaksanaan tutor sebaya Berdasarkan hasil wawancara dengan guru terkait dengan pelaksanaan tugas dari tutor sebaya, guru mengatakan : Gambar 2. Dokumentasi pembelajaran di kelas Kesulitan tersebut berdampak pada rendahnya respons komunikasi siswa di dalam kelas. Ketika siswa tidak memahami pesan secara utuh, mereka cenderung memilih diam sebagai bentuk adaptasi pasif terhadap situasi Temuan ini menunjukkan bahwa hambatan komunikasi tidak hanya bersumber Auterkadang saya melihat bahwa siswa yang saya minta menjadi tutor sebaya ini tidak selalu bersama siswa tunarungu karena dia juga bermain bersama teman-temannya yang lain tetapi saya tidak melarangnya bu karena namanya anak-anak juga bebas bermain dengan siapapun. Ay Dari informasi tersebut tampak bahwa ibu guru juga memaklumi keadaan dari tutor sebaya karena setiap anak bebas bermain dengan siapapun tanpa membeda-bedakan temanya. sisi lain, guru memiliki keterbatasan dalam Received 20 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Fransiska. Adpriyadi. Chrismawati. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. melakukan pemantauan individual karena harus mengelola seluruh siswa di dalam kelas. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan tutor sebaya tidak hanya bergantung pada kompetensi tutor dan siswa, tetapi juga pada dukungan sistem sekolah. Tanpa pengaturan peran, waktu pendampingan, dan mekanisme supervisi yang jelas, pelaksanaan tutor sebaya cenderung berjalan tidak konsisten dan kurang berdampak pada perkembangan keterampilan sosial siswa tunarungu Upaya Guru Untuk Membantu Siswa Tunarungu Dalam Kegiatan Pembelajaran Guru memiliki peran yang sama dengan tutor sebaya dalam membantu siswa tunarungu dalam pembelajaran di kelas. Guru merupakan seseorang yang berperan sebagai pendidik, motivator, dan pelatih bagi peserta didiknya (Fitria & Lestari, 2. Berdasarkan hasil observasi yang menunjukan bahwa guru menggunakan komunikasi multimodal berupa gerak tubuh dan ekspresi wajah dan bahasa isyarat sederhana kepada siswa tunarungu seperti ketika berkomunikasi dengan siswa tunarungu guru menepuk bahu siswa tunarungu agar ia memperhatikan wajah gurunya. Hal ini diperkuat dari informasi yang diperoleh dari guru bahwa guru berusaha membantu siswa tunarungu dalam pembelajaran di kelas. Guru menggunakan bahasa isyarat sederhana kepada siswa tunarungu dengan meminta siswa tunarungu melihat ke arah guru saat berkomunikasi agar siswa tunarungu mengerti instruksi yang diberikan oleh gurunya dalam pembelajaran di kelas. Hasil temuan penelitian tersebut didukung oleh penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa gerakan bahasa isyarat sangat penting bagi siswa tunarungu pada saat proses belajar mengajar agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik (Purnama Sari & Marlina, 2. Upaya lain yang dilakukan oleh guru dalam membantu siswa tunarungu belajar di kelas adalah dengan menempatkan siswa tunarungu duduk di bagian depan. Hal ini tampak dari hasil observasi bahwa siswa tunarungu ditempatkan gurunya untuk duduk di depan dan berjarak tidak jauh dari meja guru. Hasil observasi ini juga diperkuat dengan dari hasil wawancara guru yang diperoleh informasi bahwa tujuan guru menempatkan siswa tunarungu duduk dibagian depan adalah agar guru dapat lebih mudah berinteraksi dengan siswa tunarungu dan dapat lebih mudah Memberikan tempat duduk yang istimewa bagi anak di depan ruangan serta tidak menempatkan anak di tempat yang gaduh dimana banyak suara adalah satu upaya guru dalam membatu siswa tunarungu belajar di kelas (Smith, 2. Selain dari beberapa upaya diatas guru juga menggunakan media visual yang dapat dilihat oleh siswa tunarungu. Berdasarkan dari hasil wawancara guru menyampaikan : Ausaya terkadang menggunakan media yang ada di sekitar siswa ketika mengajar mereka khususnya pada anak tunarungu, karena dia memilki keterbatasan pada pendengarannya jadi saya menggunakan media yang bisa dia lihat agar dia dapat mengerti apa yang saya ajarkan. Ay Hasil dari wawancara pada guru tersebut diperkuat dengan hasil observasi yang menunjukan bahwa guru menggunakan media plastisin ketika mengajarkan warna kepada siswa tunarungu. Gambar 3. Dokumentasi mengenalkan warna Media visual seperti simbol, gambar, objek memiliki peranan sangat penting dalam penyampaian pesan dalam proses pembelajaran karena dapat dilihat langsung oleh indera penglihatan (Hasanah, 2. Hasil observasi ini juga diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru yang mengatakan bahwa ia menggunakan media visual agar anak dapat langsung melihat media yang ia bawa dan mengajarkan dengan menggunakan gerak bibir yang mudah dipahami oleh siswa. Berdasarkan hasil penelitian (Juniarti et al. , 2. Received 20 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Fransiska. Adpriyadi. Chrismawati. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. menunjukan bahwa implementasi metode komunikasi visual sangat membantu anak pembelajaran dan meningkatkan kemampuan bahasa, kognitif dan sosial anak. Oleh karena itu guru perlu menggunakan komunikasi visual yang terdiri dari gambar maupun video kepada siswa tunarungu agar siswa tersebut dapat lebih mudah dalam menerima pembelajaran di dalam Guru pembelajaran agar siswa tunarungu dapat belajar setara dengan siswa tanpa disabilitas, meskipun pengajaran pada siswa tunarungu menuntut kompetensi khusus. Keterbatasan guru dalam penguasaan bahasa isyarat dan komunikasi efektif di sekolah inklusi tidak menjadi penghalang dalam memberikan layanan pembelajaran yang optimal, tetapi menegaskan pentingnya pelatihan profesional bagi guru. Hal ini sejalan dengan (Firli et al. yang menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusi bergantung pada kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan sikap guru, penyediaan sumber daya, serta pelatihan yang memadai agar guru mampu memahami dan menerapkan praktik pendidikan inklusif secara efektif di kelas. SIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutor sebaya berperan positif dalam mengembangkan keterampilan sosial siswa tunarungu di sekolah inklusi pada jenjang pendidikan anak usia dini. Peran yang dilakukan oleh tutor sebaya seperti membantu siswa tunarungu belajar dan bermain bersama teman-temannya. Upaya guru dalam membatu siwa tunarungu adalah dengan membantu interaksi antara siswa tunarungu dan tutor sebaya agar mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama, serta partisipasi sosial dalam kegiatan belajar dan Namun, efektivitas tutor sebaya masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan komunikasi visual, strategi pembelajaran yang belum sepenuhnya adaptif, kondisi lingkungan kelas yang kurang mendukung, serta belum adanya pengelolaan dan supervisi tutor sebaya secara sistematis. Berdasarkan temuan tersebut, guru dan TK Kartika XVII-17 mengimplementasikan tutor sebaya secara keterampilan komunikasi visual dasar, serta memanfaatkan media pembelajaran visual yang mendukung interaksi sosial siswa tunarungu. Selain itu penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan model tutor sebaya yang lebih sistematis dan berkelanjutan, serta mengkaji faktor pendukung lain dalam pengembangan keterampilan sosial siswa tunarungu di pendidikan inklusif. DAFTAR PUSTAKA