Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Edukasi Karakter dan Akhlak Mulia Anak bagi Guru PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung Educating the Next Generation in Building Character and Good Morals in Children for Early Childhood Education and Quranic Education Teachers in Mojoagung Oemi Noer Qomariyah*1. Susi Darihastining2. Siti Dinarti3 1,3Program Studi Pendidikan Matematika. Universitas PGRI Jombang 2Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas PGRI Jombang *Correspondence: umi. stkipjb@gmail. Abstrak Pendidikan karakter dan akhlak mulia merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beretika, berakhlak, dan berjiwa sosial. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) menjadi lingkungan strategis untuk menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini. Namun, masih banyak guru di lembaga PAUD dan TPQ yang belum memiliki pemahaman serta keterampilan pedagogis yang memadai dalam mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung. Jombang, melalui pelatihan edukasi karakter dan akhlak mulia anak. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup pelatihan partisipatif dengan pendekatan interaktif, diskusi kelompok, simulasi, studi kasus, serta pendampingan daring pasca-pelatihan. Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan ini dengan Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner umpan balik, dan wawancara tidak terstruktur. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep dan praktik pendidikan karakter, serta semangat untuk mengimplementasikannya dalam kegiatan pembelajaran. Tantangan seperti keterbatasan waktu dan latar belakang peserta yang beragam berhasil diatasi melalui pendekatan fleksibel dan komunikasi Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan edukasi karakter mampu memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat pemahaman guru PAUD dan TPQ sebagai agen pembentuk generasi unggul yang berkarakter dan berakhlak mulia. Kata kunci: akhlak mulia, anak usia dini ,pendidikan karakter, pelatihan Abstract Character education and good morals are the main foundations in shaping a superior generation that is not only intellectually intelligent, but also ethical, moral, and socially Early Childhood Education (PAUD) and Al-Qur'an Education Parks (TPQ) are strategic environments for instilling these values from an early age. However, many teachers in PAUD and TPQ institutions still lack adequate understanding and pedagogical skills in integrating character values into the learning process. This community service activity aims to enhance the capacity of PAUD and TPQ teachers in Mojoagung Sub-district. Jombang, through training in character education and noble moral values for children. The implementation methods include participatory training with an interactive approach, group discussions, simulations, case studies, and post-training online mentoring. A total of 40 A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 participants enthusiastically joined the activity. Data was collected through observation, feedback questionnaires, and unstructured interviews. The training results demonstrated an increase in participants' understanding of character education concepts and practices, as well as their enthusiasm to implement them in educational activities. Challenges such as time constraints and diverse participant backgrounds were successfully addressed through flexible approaches and intensive communication. This activity demonstrated that character education training can make a significant contribution to strengthening teachers' understanding of their role as agents in shaping the next generation into individuals of character and noble ethics. Keywords: good character, early childhood, character education, training. PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan landasan fundamental dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan social . Di tengah perkembangan zaman yang ditandai oleh pesatnya kemajuan teknologi, arus globalisasi, serta krisis moral yang kian nyata, pendidikan karakter menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Karakter yang baik tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses pendidikan yang berkelanjutan, sejak usia dini hingga dewasa. Pendidikan karakter adalah upaya disengaja untuk membantu seseorang memahami, merasakan, dan melakukan nilai-nilai etis yang inti, seperti rasa hormat, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, dan kasih sayang . Hal ini berarti pendidikan karakter tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik, yang saling terintegrasi dalam proses pembentukan kepribadian secara utuh. Pemerintah Indonesia juga menegaskan pentingnya pendidikan karakter melalui kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 . Program ini bertujuan membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia melalui pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam kegiatan belajar mengajar dan budaya sekolah. Lima nilai utama yang dikembangkan meliputi religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas . Pendidikan anak usia dini bukan hanya bertujuan menyiapkan kemampuan akademik dasar, tetapi juga membentuk nilai-nilai sosial dan karakter seperti empati, kejujuran, serta kemampuan berinteraksi secara positif dengan orang lain . Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter memiliki relevansi global sebagai penopang pembangunan berkelanjutan yang inklusif. Dengan demikian, pendidikan karakter bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh ekosistem pendidikan, termasuk orang tua, masyarakat, dan negara. Peran pendidik, khususnya di jenjang pendidikan anak usia dini, menjadi sangat strategis dalam membentuk dasar moral dan etika anak sebagai bekal menghadapi dinamika kehidupan masa depan . A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut . Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran strategis dalam meletakkan fondasi utama bagi perkembangan kognitif, sosial, emosional, serta moral anak. Pada masa usia dini, anak berada dalam fase perkembangan otak yang paling pesat, sehingga pengalaman belajar yang diberikan pada tahap ini memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak di masa depan Anak-anak yang mendapat stimulasi positif pada masa dini cenderung memiliki kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan berinteraksi sosial yang lebih baik . Hal ini memperkuat argumen bahwa pendidikan karakter dan akhlak harus dimulai sedini mungkin, karena pada tahap ini anak memiliki kemampuan meniru, menyerap, dan menanamkan nilai-nilai dengan sangat cepat . Oleh karena itu. PAUD tidak hanya berfungsi sebagai pengantar ke jenjang pendidikan berikutnya, tetapi sebagai titik awal pembentukan karakter dan kepribadian anak secara menyeluruh. PAUD adalah pijakan utama bagi pembangunan karakter bangsa. Investasi pada pendidikan usia dini merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan baik dalam aspek intelektual, spiritual, maupun moral. Guru PAUD dan pendidik di lembaga TPQ (Taman Pendidikan Al-QurAoa. juga memiliki peran kunci sebagai figur sentral dalam pembentukan nilai moral dan spiritual anak. Mereka bukan hanya menyampaikan materi ajar, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap dan Pendidik di lembaga PAUD dan TPQ menjadi role model pertama bagi anak di luar lingkungan keluarga, sehingga keberhasilan pendidikan karakter sangat tergantung pada kualitas interaksi yang dibangun antara guru dan anak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menetapkan lima nilai utama yang menjadi pilar pembentukan karakter, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diinternalisasikan melalui pendekatan holistic melalui budaya sekolah, kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan hubungan dengan orang tua serta masyarakat. Secara ideal, pendidikan karakter pada jenjang PAUD dan TPQ seharusnya diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam setiap aspek pembelajaran dan kehidupan sehari-hari anak di lingkungan sekolah. Anak usia dini adalah masa yang sangat penting dalam menjadi sangat krusial dalam menyiapkan generasi penerus yang berkualitas dan berakhlak mulia . Anak-anak usia dini diharapkan belajar karakter melalui pengalaman konkret, keteladanan, kegiatan bermain yang terstruktur, interaksi sosial yang sehat, serta lingkungan belajar yang mendukung perkembangan moral dan spiritual . Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter di lembaga PAUD dan TPQ sering kali belum berjalan secara optimal. Guru PAUD masih mengandalkan metode konvensional dan belum mampu merancang A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 pembelajaran yang secara sistematis menanamkan nilai-nilai karakter. Guru cenderung fokus pada aspek kognitif seperti membaca, menulis, dan berhitung . , sementara penguatan nilai moral dan sosial lebih sering terjadi secara insidental, tidak terencana, dan tidak terukur. Di lembaga TPQ, kegiatan belajarmengajar umumnya masih berpusat pada hafalan dan bacaan Al-QurAoan, dengan sedikit porsi untuk pembiasaan akhlak dalam bentuk konkret. Hal ini diperkuat oleh . yang menyebutkan bahwa masih banyak TPQ yang belum memiliki kurikulum pembelajaran akhlak yang aplikatif dan tidak semua guru memiliki pemahaman pedagogis yang memadai. Berdasarkan hasil Observasi menunjukkan bahwa anak-anak belum terbiasa praktik nilai seperti saling membantu dan tanggung jawab. Studi kualitatif menunjukkan hanya sebagian anak yang aktif merapikan mainan setelah bermain, sehingga menandakan lemahnya internalisasi karakter dasar seperti gotong royong dan tanggung jawab. Hasil wawancara dengan guru TPQ di wilayah Mojoagung mengungkapkan dominasi metode hafalan Al QurAoan tanpa diiringi penanaman nilai melalui narasi moral, diskusi, atau refleksi. Guru PAUD umumnya memiliki landasan pendidikan formal pendidikan anak, namun guru TPQ banyak yang berangkat dari jalur religi tanpa pelatihan pedagogis Hal ini menciptakan kesenjangan kompetensi dalam merancang aktivitas edukatif karakter. Tantangan ini sejalan dengan ditemukannya kebutuhan signifikan akan diklat inklusif dan pendampingan PAUD di Kabupaten Jombang, termasuk Kecamatan Mojoagung Pelatihan terkait pendidikan karakter dan inklusivitas PAUD saat bimtek lebih banyak fokus pada layanan anak berkebutuhan khusus dan belum sepenuhnya menekankan penguatan karakter holistik. Ini menunjukkan perlunya pelatihan yang komprehensif dan kontekstual bagi guru PAUD dan TPQ. Dengan memperhatikan fakta-fakta tersebut, pelatihan dan peningkatan kompetensi guru menjadi sangat mendesak, terutama dalam metode pengajaran berbasis nilai, pendekatan tematik integratif, strategi evaluasi perkembangan karakter, serta kemampuan reflektif sebagai pendidik. Tanpa kompetensi yang memadai, guru hanya akan menyampaikan pengetahuan kognitif tanpa dampak afektif dan sosial yang nyata bagi perkembangan moral anak. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman guru PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung terhadap pentingnya pembelajaran berbasis karakter dan akhlak mulia melalui pelatihan partisipatif dan pendampingan praktis. Pelatihan ini diharapkan dapat memperkaya keterampilan pedagogik, dan motivasi untuk menjadi teladan moral. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran melalui kurikulum berbasis nilai, sedangkan masyarakat menikmati dampak jangka panjang berupa generasi berakhlak mulia dan berdaya saing. A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 METODE Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Kecamatan Mojoagung. Kabupaten Jombang, yang merupakan salah satu wilayah dengan kepadatan lembaga PAUD dan TPQ cukup tinggi. Pelatihan diselenggarakan pada tanggal 15 Juni 2025, bertempat di Aula Desa Janti. Kecamatan Mojoagung. Lokasi ini dipilih karena aksesibilitasnya dan kapasitas ruangan yang memadai untuk kegiatan interaktif. Peserta pelatihan terdiri dari guru PAUD dan guru TPQ di wilayah Kecamatan Mojoagung. Total peserta berjumlah 100 orang, yang terdiri dari 62 guru PAUD dan 38 guru TPQ dari berbagai lembaga formal dan nonformal di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Peserta dipilih berdasarkan rekomendasi lembaga dan kesediaan untuk mengikuti pelatihan secara penuh. Model pengabdian yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan partisipatif, yaitu suatu pendekatan yang menekankan keterlibatan aktif peserta dalam seluruh proses pembelajaran. Dalam pelatihan partisipatif, peserta tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga terlibat dalam diskusi, tanya jawab dan praktik. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakter guru PAUD dan TPQ yang membutuhkan pengalaman langsung dan interaktif dalam memahami serta menginternalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia. Pendekatan ini dipilih untuk mendorong pemahaman yang lebih mendalam serta penerapan nilai-nilai karakter dan akhlak dalam pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan karakteristik peserta didik usia dini. Berikut ini adalah tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat: Observasi Perencana Sosialisasi Pelaksanaan Pendampin Gambar 1. Tahapan Pelaksanan kegiatan PkM Observasi Awal Kegiatan pengabdian diawali dengan observasi lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan yang dihadapi guru PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung dalam mengintegrasikan pendidikan karakter dan akhlak mulia dalam proses pembelajaran. Observasi dilakukan melalui kunjungan ke beberapa lembaga dan wawancara informal dengan guru dan pengelola lembaga. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar guru belum memiliki pemahaman yang mendalam tentang konsep pendidikan karakter dan masih minim dalam penggunaan metode yang aplikatif. Perencanaan Tim pelaksana pengabdian melakukan identifikasi kebutuhan lapangan melalui komunikasi awal dengan beberapa kepala PAUD dan TPQ. Berdasarkan hasil identifikasi, materi pelatihan disusun meliputi: konsep dasar karakter dan akhlak mulia anak, strategi pembelajaran berbasis nilai, dan penerapan metode A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 pendidikan karakter dalam kegiatan harian di PAUD dan TPQ. Modul pelatihan, media pendukung, dan logistik seperti alat tulis dan dokumentasi disiapkan secara sistematis. Sosialisasi Sebelum pelatihan, dilakukan sosialisasi kepada calon peserta melalui surat resmi yang disebarkan ke lembaga-lembaga PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung. Sosialisasi juga dilakukan melalui pertemuan koordinasi dengan koordinator wilayah pendidikan dan tokoh masyarakat keagamaan setempat. Tujuannya untuk menyampaikan tujuan kegiatan, materi pelatihan, dan jadwal pelaksanaan, serta mengajak partisipasi aktif. Pelaksanaan Pelatihan Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan tanya jawab. Pelatihan difokuskan pada pemahaman konsep dasar karakter anak, prinsip pendidikan karakter dalam Islam dan Pancasila, serta pentingnya keteladanan guru. Pendampingan Setelah pelatihan, dilakukan sesi pendampingan jarak jauh melalui grup WhatsApp selama dua minggu. Dalam forum ini, peserta dapat berkonsultasi, berbagi praktik baik, serta memperoleh masukan dari narasumber dan tim pengabdi dalam menerapkan materi pelatihan ke dalam konteks masingmasing lembaga. Untuk mendokumentasikan proses implementasi dan menilai respons peserta terhadap pelatihan, digunakan beberapa instrumen kualitatif, yaitu Observasi partisipatif. Kuesioner umpan balik. Wawancara tidak terstruktur serta Catatan Instrumen-instrumen ini difokuskan pada proses implementasi dan persepsi peserta, bukan pada pengukuran langsung hasil belajar atau peningkatan keterampilan mengajar, mengingat fokus utama pengabdian ini adalah penguatan kapasitas secara partisipatif melalui pengalaman dan interaksi. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan dengan judul AuPelatihan Edukasi Generasi Unggul dalam Membangun Karakter dan Akhlak Mulia Anak bagi Guru PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung. JombangAy dimulai dengan pemetaan lokasi dan karakteristik peserta. Peserta kegiatan terdiri atas 100 guru PAUD dan TPQ dari berbagai lembaga di Kecamatan Mojoagung. Sebagian besar peserta adalah perempuan . %), dengan latar belakang pendidikan minimal SMA sederajat hingga sarjana pendidikan. Para peserta memiliki peran penting di lembaga masingmasing, baik sebagai guru kelas, pengajar tahfidz, maupun pengelola program pembiasaan harian anak. Peserta ini menjadi sasaran utama karena mereka adalah ujung tombak dalam pendidikan karakter pada anak usia dini. Adapun langkah-langkah pengabdian kepada masyarakat yang telah terlaksana yaitu: A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Observasi Awal Kegiatan pengabdian diawali dengan pelaksanaan observasi lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan riil serta tantangan yang dihadapi oleh para guru PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung. Jombang, khususnya dalam upaya memberikan pemahaman tentang pentingnya pendidikan karakter dan akhlak mulia anak. Observasi ini dilakukan melalui kunjungan langsung ke sejumlah lembaga pendidikan anak usia dini dan TPQ yang tersebar di wilayah Kecamatan Mojoagung. Tim pelaksana melakukan wawancara informal dengan beberapa guru dan pengelola lembaga guna memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kondisi pembelajaran yang berlangsung. Dari hasil observasi diketahui bahwa sebagian besar guru belum memiliki pemahaman yang mendalam terkait konsep pendidikan karakter secara utuh. Para guru umumnya memahami pendidikan karakter sebatas pengenalan nilainilai moral secara verbal, tanpa diikuti dengan strategi pembelajaran yang aplikatif dan menyenangkan bagi anak. Selain itu, masih terbatasnya pelatihan atau pendampingan yang mereka terima dalam hal pengembangan kurikulum dan media pembelajaran berbasis nilai karakter menyebabkan penerapan di kelas belum optimal. Guru-guru juga mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan contoh konkret metode pembelajaran yang mampu menanamkan nilai-nilai akhlak secara kontekstual dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Temuan dari observasi awal inilah yang menjadi dasar dalam penyusunan materi pelatihan dan pendekatan yang digunakan, dengan fokus pada penguatan pemahaman konseptual, peningkatan keterampilan praktis, serta penyediaan inspirasi strategi pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan konteks PAUD dan TPQ. Perencanaan Setelah tahap observasi lapangan, tim pelaksana pengabdian melanjutkan kegiatan dengan melakukan identifikasi kebutuhan secara lebih terstruktur melalui komunikasi awal dengan beberapa kepala lembaga PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung. Komunikasi ini dilakukan untuk menggali lebih dalam mengenai isu-isu spesifik yang dihadapi para pendidik dalam menyampaikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia kepada anak didik. Hasil identifikasi kebutuhan menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan pemahaman antara teori pendidikan karakter dan praktik pembelajarannya di kelas. Berdasarkan informasi tersebut, tim menyusun materi pelatihan secara sistematis, yang mencakup tiga fokus utama: konsep dasar karakter dan akhlak mulia pada anak, strategi pembelajaran berbasis nilai-nilai moral dan religius, serta penerapan metode pendidikan karakter dalam kegiatan harian di lingkungan PAUD dan TPQ. A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Sosialisasi Sebelum kegiatan pelatihan dilaksanakan, tim pelaksana pengabdian terlebih dahulu melakukan tahap sosialisasi kepada calon peserta. Sosialisasi ini dilakukan melalui penyampaian surat resmi yang dikirimkan ke berbagai lembaga PAUD dan TPQ di wilayah Kecamatan Mojoagung. Selain itu, upaya sosialisasi juga diperkuat melalui pertemuan koordinasi yang melibatkan koordinator wilayah pendidikan serta tokoh masyarakat keagamaan setempat. Pertemuan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi secara langsung mengenai latar belakang dan tujuan pelatihan, materi-materi yang akan diberikan, serta jadwal dan lokasi kegiatan. Sosialisasi ini dinilai efektif dalam membangun kesadaran dan komitmen awal dari para calon peserta, sekaligus menjadi sarana memperkuat jejaring kemitraan antara tim pelaksana pengabdian dengan para pemangku kepentingan pendidikan di tingkat lokal. Melalui pendekatan komunikasi yang terbuka dan partisipatif, para kepala lembaga dan tokoh masyarakat turut mendorong guru-guru PAUD dan TPQ untuk mengikuti pelatihan secara aktif. Hal ini terbukti dari tingginya jumlah pendaftar dan kehadiran peserta selama pelatihan berlangsung. Pelaksanaan Pelatihan Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2025 dengan menggunakan pendekatan yang partisipatif, melalui metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, serta sesi tanya jawab. Metode-metode tersebut dipilih agar peserta tidak hanya menerima informasi secara satu arah, tetapi juga dapat berdialog secara aktif, saling bertukar pengalaman, dan merefleksikan praktik pembelajaran yang selama ini dijalankan di masing-masing lembaga. Pelatihan difokuskan pada peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep dasar karakter anak usia dini, termasuk pemahaman akan tahap perkembangan moral dan emosional anak. Selain itu, materi pelatihan juga mengangkat prinsip-prinsip pendidikan karakter dalam perspektif Pendidikan dan Agama, sehingga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan dapat terintegrasi secara harmonis dalam proses pembelajaran di PAUD dan TPQ. Peserta diajak mengeksplorasi nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan rasa hormat, baik melalui kajian teks maupun studi kasus. Salah satu materi yang mendapat perhatian khusus adalah pentingnya peran keteladanan guru sebagai figur utama dalam pembentukan karakter anak. Para peserta diberikan contoh konkret mengenai bagaimana sikap dan perilaku guru sehari-hari akan menjadi model yang ditiru oleh anak dalam proses internalisasi nilai. Pelatihan ini mendorong peserta untuk tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi pembimbing moral dan panutan akhlak bagi anak-anak didik mereka. Tahap evaluasi kegiatan dilakukan untuk menilai efektivitas pelatihan serta respon peserta terhadap materi dan metode yang digunakan. Evaluasi A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 dilaksanakan dengan menggunakan dua pendekatan utama, yaitu observasi partisipatif dan kuesioner kepuasan. Melalui observasi partisipasi, tim pelaksana mencatat tingkat keterlibatan peserta selama sesi pelatihan, termasuk keaktifan dalam diskusi kelompok, kehadiran, antusiasme dalam praktik, serta kemampuan peserta dalam menyusun rancangan pembelajaran berbasis karakter. Tahap evaluasi dilakukan dengan menggunakan observasi partisipasi, serta kuesioner kepuasan peserta terhadap materi dan fasilitator. Berikut adalah beberapa dokumentasi pelatihan. Gambar 2 Dokumentasi Pelatihan Pendampingan Sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan pelatihan, tim pelaksana pengabdian menyelenggarakan sesi pendampingan jarak jauh melalui platform WhatsApp yang berlangsung selama dua minggu setelah pelatihan selesai. Grup ini dibentuk sebagai ruang komunikasi interaktif antara peserta, narasumber, dan tim pengabdi. Melalui forum ini, peserta diberi kesempatan untuk berkonsultasi secara langsung terkait penerapan materi pelatihan di lembaga masing-masing. Selain itu, forum ini juga menjadi wadah untuk saling berbagi praktik baik, bertukar pengalaman, serta mendiskusikan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia ke dalam kegiatan belajar mengajar. Selama masa pendampingan, terjadi interaksi aktif antara peserta dan Beberapa peserta mengunggah dokumentasi praktik pembelajaran berbasis karakter, seperti penggunaan cerita bergambar bertema moral. A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 kegiatan pembiasaan antre, dan penyusunan RKH berbasis nilai religius. Tim pengabdi memberikan umpan balik, saran penguatan, serta motivasi agar proses internalisasi nilai dapat terus dilakukan secara konsisten. Pendampingan ini tidak hanya memperkuat pemahaman peserta terhadap materi pelatihan, tetapi juga membangun komunitas belajar yang kolaboratif antar guru PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung. Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan pelatihan, tim pengabdi menyebarkan kuesioner kepada seluruh peserta untuk mengukur tingkat kepuasan mereka terhadap pelaksanaan pelatihan, khususnya pada aspek materi dan fasilitator. Kuesioner ini disusun berdasarkan indikator-indikator yang mencerminkan kualitas isi pelatihan, relevansi materi terhadap kebutuhan peserta, serta efektivitas penyampaian oleh fasilitator. Sebanyak 100 peserta mengisi kuesioner secara lengkap, dan hasilnya digunakan sebagai data kuantitatif untuk menilai keberhasilan program serta sebagai dasar perbaikan di masa mendatang. Penilaian dilakukan dengan menggunakan skala Likert 1 sampai 5, di mana skor 1 menunjukkan ketidakpuasan dan skor 5 menunjukkan kepuasan yang sangat tinggi . Berikut adalah hasil umpan balik peserta pelatihan terhadap fasilitator. Tabel 1. hasil umpan balik peserta pelatihan terhadap fasilitator Dimensi Rata- Mode No. Indikator Kepuasan rata Skor Skor Responden Kompetensi Pengetahuan dan penguasaan Fasilitator materi oleh fasilitator. Keterampilan Kemampuan fasilitator dalam Mengajar menyampaikan materi. Kemampuan fasilitator dalam Interaksi dan berinteraksi dan berkomunikasi 4. Komunikasi dengan peserta. Sikap dan Sikap fasilitator selama pelatihan Profesionalisme dan etika profesionalnya. Kemampuan fasilitator dalam Pengelolaan mengatur waktu pelatihan secara 4. Waktu Antusiasme dan Semangat fasilitator dalam Motivasi mengajar dan memotivasi peserta. Responsivitas Kemampuan fasilitator dalam Terhadap menyesuaikan diri dengan Kebutuhan kebutuhan peserta. Peserta Rata-rata A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Berdasarkan tabel diatas. Hasil pengisian kuisioner oleh peserta pelatihan menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi pada tiap dimensi, dengan skor rata-rata 4 atau 90. dimensi AuSikap dan ProfesionalismeAy memperoleh skor rata-rata tertinggi sebesar 4,7 atau 96 %. Ini menunjukkan bahwa peserta sangat menghargai sikap dan profesionalisme fasilitator. Dimensi AuKompetensi FasilitatorAy juga memperoleh skor sangat tinggi, dengan rata-rata sebesar 4,6 atau 95 %. Hal ini menunjukkan bahwa peserta mengakui pengetahuan dan penguasaan materi dari fasilitator. Sementara AuPengelolaan WaktuAy mendapat rata-rata terendah sebesar 4,1 atau 84,00%. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan waktu selama pelatihan dapat menjadi bahan perbaikan agar lebih meningkatkan kepuasan peserta. Untuk selanjutnya akan dibahas mengenaihasil umpan balik peserta terhadap materi pelatihan. Berikut adalah hasil umpan balik peserta pelatihan terhadap fasilitator. Tabel 2. Hasil umpan balik peserta pelatihan terhadap Materi Dimensi Rata-rata No. Indikator Kepuasan Skor Relevansi Kesesuaian materi dengan Materi kebutuhan dan harapan peserta. Kedalaman Tingkat kedalaman dan cakupan Materi materi yang diberikan. Kemudahan Tingkat kemudahan peserta Pemahaman dalam memahami materi. Manfaat praktis dan aplikasi Kemanfaatan materi dalam Materi pekerjaan/kehidupan peserta. Kesesuaian Penyesuaian jumlah materi dengan Waktu dengan alokasi waktu pelatihan. Keterbaruan dan relevansi Aktualisasi materi dengan perkembangan 4. Materi Kelengkapan Ketersediaan dan kualitas bahan Materi Ajar ajar . odul, slide, dll. Kesesuaian Bagaimana materi disajikan 8 dengan Metode melalui metode pelatihan yang 4. Pelatihan Rata-rata Mode % Skor Responden Berdasarkan tabel diatas. Kepuasan peserta pelatihan terhadap materi memperoleh skor rata-rata tinggi dan persentase responden yang setuju atau sangat A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 setuju yang kuat. Pada dimensi AuKemanfaatan MateriAy memperoleh skor rata-rata tertinggi 4,5 atau sebesar 92%. Hal ini menunjukkan bahwa peserta merasa materi sangat bermanfaat. Pada dimensi AuKelengkapan Materi AjarAy juga mendapat respon sangat baik, dengan skor rata-rata 4,4 atau 91%, menunjukkan bahwa materi yang disediakan komprehensif. Selanjutnya pada dimensi AuKesesuaian dengan WaktuAy menunjukkan skor rata-rata terendah 3,8 atau 70%. Hal ini menunjukkan bahwa waktu atau durasi pelatihan kurang sesuai dengan yang disediakan, sehinga dapat dipakai sebagai bahan perbaikan pada pelatihan selanjutnya. Pada dimensi AuKedalaman MateriAy memperoleh skor rata-rata 4 atau 79%, ini menunjukkan bahwa meskipun dapat diterima, ada hal yang harus ditingkatkan untuk kedalaman materi. Dimensi AuKemudahan PemahamanAy memperoleh skor rata-rata tinggi 4,4 atau 90%, hal ini menyoroti bahwa materi yang disajikan mudah dipahami. AuRelevansi MateriAy dan AuAktualisasi MateriAy keduanya mencetak skor baik, dengan rata-rata 4,2 dan 4,3 yang menunjukkan bahwa materi relevan dan dapat diaplikasikan. Beberapa tantangan yang dihadapi selama kegiatan adalah perbedaan kemampuan dasar peserta, keterbatasan media pembelajaran yang tersedia di masing-masing lembaga, serta waktu pelatihan yang dirasa masih kurang untuk membahas seluruh topik secara mendalam. Namun demikian, dukungan dari perangkat desa, kepala lembaga, dan partisipasi aktif peserta menjadi faktor yang sangat membantu kelancaran kegiatan. Hasil yang dicapai dalam kegiatan pelatihan ini sejalan dengan gagasan para ahli tentang pentingnya pendidikan karakter pada anak usia dini. menyatakan bahwa pendidikan karakter yang efektif mencakup tiga komponen utama, yaitu moral knowing . engetahuan mora. , moral feeling . erasaan mora. , dan moral action . indakan mora. Pelatihan yang dilakukan telah mencakup ketiga aspek ini melalui pendekatan teori, diskusi pengalaman, dan praktik langsung. Menurut . , masa anak usia dini merupakan tahap perkembangan penting yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan peran figur dewasa. Dalam konteks ini, guru memiliki posisi strategis sebagai teladan perilaku moral. juga menegaskan bahwa pembentukan karakter anak tidak cukup hanya dengan pengajaran verbal, tetapi membutuhkan keteladanan dan konsistensi nilai dalam lingkungan belajar. Strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak, seperti bermain peran, bercerita, dan pembiasaan harian, akan lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter . Hal ini sudah diterapkan dalam pelatihan melalui simulasi kegiatan pembelajaran yang mengandung nilai religius dan sosial. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menekankan lima nilai utama yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas . Nilai-nilai tersebut diupayakan terintegrasi dalam penyusunan kegiatan belajar oleh para peserta pelatihan, misalnya dalam kegiatan membiasakan anak mengucapkan salam, antre, bekerja sama, dan bertanggung jawab dalam tugas sederhana. menyoroti pentingnya pengembangan keterampilan sosial dan resolusi konflik sejak dini sebagai bagian dari humanisasi pendidikan. Pelatihan ini juga mencakup A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 aspek tersebut melalui pembahasan kasus-kasus perilaku anak dan cara menanganinya secara positif. Dari sisi profesionalisme pendidik. National Association for the Education of Young Children menekankan pentingnya sikap etis dan komitmen guru dalam memberikan lingkungan pembelajaran yang aman, mendukung, dan bermakna secara moral bagi anak . Hal ini terlihat dari refleksi peserta yang mulai menyadari peran mereka bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembentuk kepribadian anak. Keberhasilan pendidikan karakter sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang kolaboratif, pendekatan berbasis praktik, serta keterlibatan aktif peserta dalam perancangan pembelajaran . Pelatihan ini juga menciptakan dampak sosial yang positif dengan terbentuknya jejaring antarlembaga PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung. Langkah ini mencerminkan potensi keberlanjutan program melalui komunitas guru yang saling berbagi praktik baik dan sumber daya pembelajaran. Sesuai pandangan . , pendidikan karakter yang berkelanjutan memerlukan pendekatan sistemik yang melibatkan tokoh pendidikan di berbagai level. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang bertajuk Pelatihan Edukasi Generasi Unggul dalam Membangun Karakter dan Akhlak Mulia Anak bagi Guru PAUD dan TPQ di Kecamatan Mojoagung. Jombang telah berhasil dilaksanakan dengan pendekatan pelatihan partisipatif yang dipadukan dengan pendampingan praktis pasca-pelatihan. Kegiatan ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman para guru terhadap pentingnya pendidikan karakter dan akhlak mulia dalam proses pembelajaran anak usia dini. Selain menambah wawasan konseptual, pelatihan ini juga memperkaya keterampilan pedagogik peserta dalam merancang dan menerapkan kegiatan pembelajaran berbasis nilai-nilai moral dan spiritual. Para guru menunjukkan antusiasme tinggi, baik dalam sesi interaktif maupun dalam proses refleksi dan praktik. Hal ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran dan motivasi untuk menjadi teladan moral yang konsisten di lingkungan belajar. Dampak jangka panjang yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya kualitas pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik, serta terbentuknya generasi muda yang berakhlak mulia, berintegritas, dan memiliki daya saing dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam membangun fondasi pendidikan nilai yang berkelanjutan di tingkat komunitas. Berdasarkan hasil pelaksanaan dan respons positif dari peserta, disarankan agar program pelatihan serupa dapat dilanjutkan dalam bentuk pelatihan lanjutan yang lebih mendalam dan tematik, khususnya terkait metode evaluasi perkembangan karakter anak, integrasi nilai-nilai akhlak dalam pembelajaran berbasis proyek, serta penggunaan media pembelajaran karakter yang kreatif. Selain itu, perlu dilakukan pendampingan intensif pasca-pelatihan melalui forum komunikasi guru, kunjungan monitoring, atau platform berbagi praktik baik sebagai A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 147-161 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 sarana refleksi dan penguatan kompetensi berkelanjutan. Program ini juga memiliki potensi untuk diperluas ke kecamatan lain di Kabupaten Jombang atau wilayah dengan karakteristik serupa, mengingat kebutuhan akan penguatan pendidikan karakter masih sangat tinggi di berbagai lembaga PAUD dan TPQ. DAFTAR PUSTAKA