Jurnal Siti Rufaidah Volume 3. Nomor 4. November 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 169-180 DOI : https://doi. org/10. 57214/jasira. Tersedia: https://journal. org/index. php/JASIRA Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kualitas Hidup Lasia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Yogi Novrizal1*. Afif D Alba2 Program Studi Sarjana Keperawatan Dan Pendidikan Profesi Ners. Institut Kesehatan Mitra Bunda Batam. Indonesia *Penulis korespondensi: yoginovrizal14@gmail. Abstract. Hypertension is a common health problem in the elderly that can affect quality of life. Hypertension in Batam city is a non-communicable disease that ranks 2 and with a percentage of 30. The World Health Organization (WHO) said that there are 50 70% of hypertensive patients who do not comply with prescribed Compliance with taking antihypertensive drugs is important to maintain blood pressure stability. Non-compliance in using antihypertensive drugs is one of the risk factors for increasing morbidity and uncontrolled hypertension events that can worsen the quality of life of hypertensive patients. This study aims to find out "The Relationship between Compliance with Taking Hypertension Medication and the Quality of Life of the Elderly in the Working Area of the Sei Lengkai Health Center in 2024". The research design used in this study is cross sectional. Data collection uses secondary data with the population of hypertension patients in Batam city in 2023 and primary data, namely a questionnaire on adherence to taking hypertension medication and quality of life for the elderly. Sampling was done using a purposive sampling technique with a total of 93 elderly people. The measuring tools in this study are the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. and WHOQOL-BREF Based on the results of the analysis, it is known that the p value is 0. 003, this states that there is a relationship between compliance with taking hypertension medication and the quality of life of the elderly in the Sei Langkai Health Center Work Area in 2024. The conclusion of this study is that adherence to taking antihypertensive medication is positively related to the quality of life of the elderly, so efforts are needed to increase medication adherence to support a better quality of life in the elderly. It is hoped that families and health workers will provide support and education to the elderly to maintain compliance in taking their medication to improve their quality of life Keywords: Antihypertensive Drugs. Compliance. Elderly. Hypertension. Quality of Life. Abstrak. Hipertensi merupakan masalah kesehatan umum pada lansia yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Penyakit Hipertensi di kota Batam merupakan penyakit tidak menular yang menduduki urutan ke 2 dengan presentase sebanyak 30,9%. World Health Organization (WHO) menyebutkan ada 50-70% pasien hipertensi tidak patuh terhadap obat yang diresepkan. Kepatuhan dalam mengonsumsi obat antihipertensi penting untuk menjaga stabilitas tekanan darah. Ketidakpatuhan dalam menggunakan obat antihipertensi menjadi salah satu faktor resiko meningkatnya morbiditas dan kejadian hipertensi tidak terkendali yang dapat memperburuk kualitas hidup penderita hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui AuHubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kuaitas Hidup Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Lengkai tahun 2024Ay. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dengan populasi penderita Hipertensi di kota batam tahun 2023 dan data primer yaitu kuisioner kepatuhan minum obat hipertensi dan kualitas hidup lansia. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah 93 lansia. Alat ukur dalam penelitian ini adalah kuisioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. dan WHOQOL-BREF. Berdasarkan hasil analisa diketahui bahwa nilai p value sebesar 0. 003, hal ini menyatakan bahwa ada hubungan antara kepatuhan minum obat Hipertensi dengan kualitas hidup lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Tahun 2024. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kepatuhan minum obat antihipertensi berhubungan positif dengan kualitas hidup lansia, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kepatuhan minum obat guna mendukung kualitas hidup yang lebih baik pada lansia. Diharapkan, keluarga dan tenaga kesehatan memberikan dukungan serta edukasi kepada lansia untuk menjaga kepatuhan dalam meminum obatnya guna memperbaiki kualitas hidup mereka Kata kunci: Hipertensi. Kepatuhan. Kualitas Hidup. Lansia. Obat Antihipertensi Naskah Masuk: 15 September 2025. Revisi: 04 Oktober 2025. Diterima: 27 November 2025. Terbit: 30 November 2025 Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kualitas Hidup Lasia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam LATAR BELAKANG Menurut World Health Organization (WHO),lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Lanjut usia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya (Mahyar & Mochartini, 2. Menua atau menjadi tua adalah suatu proses biologis yang tidak dapat dihindari. Proses penuaan terjadi secara alamiah. Hal ini dapat menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis (Sylvestris, 2. Lanjut usia mengalami masalah kesehatan ini berawal dari kemunduran sel-sel tubuh, sehingga fungsi dan daya tahan tubuh menurun serta faktor resiko terhadap penyakit meningkat diantaranya adalah Hipertensi (Fariska, 2. Masalah kesehatan yang sering muncul pada lansia adalah: Hipertensi. DM, penyakit sendi artritis, stroke. PPOK (Francisko, 2017. dalam Santiya, 2. Usia yang semakin bertambah mengakibatkan fisik seseorang akan mengalami perubahan, termasuk masalah kesehatan orang tersebut. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan merupakan penyakit degenerative atau Penyakit Tidak Menular (PTM) yang sering kali dijuluki sebagai "The Silent Killer". Julukan tersebut muncul karena penyakit ini memiliki gejala yang sulit untuk dideteksi secara jelas. Komplikasi yang diakibatkan oleh hipertensi dapat merujuk pada penyakit serius seperti penyakit jantung, stroke, atau kerusakan organ lainnya jika tidak dikendalikan dengan baik. Penggunaan obat antihipertensi merupakan salah satu pendekatan pengobatan yang umum digunakan untuk mengontrol tekanan darah pasien hipertensi (Anggriani. Hipertensi merupakan masalah kesehatan serius yang tidak dapat disembuhkan. Penderita hipertensi membutuhkan terapi seumur hidup untuk mengontrol tekanan darahnya agar tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Penyakit hipertensi membutuhkan kepatuhan dalam pelaksanaan terapi yang harus dilakukan seumur hidupnya. Penderita hipertensi yang patuh dalam melaksanakan pengobatan akan memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan penderita yang tidak patuh melaksanakan pengobatan (Saputri et al ,2017. dalam Fariska, 2. Hipertensi dapat mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang, dimana 1,5 juta kematian di Asia Tenggara sepertiga populasinya menderita hipertensi sehingga dapat menyebabkan peningkatan beban biaya kesehatan serta hipertensi merupakan penyakit tidak menular penyebab kematian terbanyak yang menempati urutan ke-3 di Indonesia dengan angka kematian 27,1% (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan data Kemenkes RI . , prevalensi kejadian hipertensi pada lansia di Indonesia pada umur 55Ae64 tahun sebesar . ,9%), umur 65Ae74 tahun sebesar . ,6%)dan umur>75 tahun sebesar . ,8%). Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 169-180 Prevalensi jumlah lansia di Kota Batam sebanyak 64. 156 jiwa. Prevalensi hipertensi di Kepulauan Riau berjumlah 26,3%. Jumlah penderita hipertensi di Kepulauan Riau menurut Kabupaten atau Kota yang paling tinggi yaitu Batam sebanyak 235. 689 kasus. Tanjung Pinang sebanyak 56. 930 kasus. Natuna sebanyak 18. 923 kasus. Karimun sebanyak 16. kasus, sedangkan Kepulauan Anambas sebanyak 5. 648 kasus (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2. Penyakit Hipertensi di kota Batam merupakan penyakit tidak menular yang menduduki urutan ke 2 dengan presentase sebanyak 30,9% (Dinas Kesehatan Kota Batam. Data dari 21 Puskesmas didapatkan lansia penderita Hipertensi sebanyak 17. Penyakit Hipertensi tertinggi di Puskesmas Sei Langkai dengan menduduki posisi pertama sebanyak 3. 006 kasus. Puskesmas Batu Aji menduduki posisi kedua sebanyak 953 kasus, dan ketiga Puskesmas Lubuk Baja sebanyak 1. 454 kasus (Dinas Kesehatan Kota Batam, 2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi tersebut yaitu faktor keturunan, umur, jenis kelamin, ras, konsumsi garam yang tinggi, pola makan, obesitas, stres, atau ketegangan jiwa, merokok, minum alkohol, dan kurangnya aktifitas fisik (Rina, 2007. Elvira & Anggraini, 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 10 Agustus 2024 di Puskesmas Sei Langkai. Di dapatkan jumlah penderita Hipertensi 3006 jiwa. Kerutinan penderita Hipertensi minum obat di Wilayah Puskesmas Sei Langkai yaitu rutin minum obat 1205 jiwa dengan presentase 40%, dan tidak rutin minum obat 1801 jiwa dengan presentase 60%. (Puskesmas Sei Langkai, 2. Dari hasil observasi dan wawancara terhadap 5 orang lansia penderita Hipertensi di Puskesmas Sei Langkai ,3 orang lansia mengatakan tidak rutin minum obat dan jarang melakukan pemeriksaan kesehatan dan selama menderita hipertensi sering mengalami sulit berkonsentrasi, mudah marah, merasa tidak nyaman,dan sulit beraktifitas. 2 orang lansia mengatakan rutin minum obat dan sering kesehatan,tidak beraktivitas,sering menjaga pola makan. Meskipun pengobatan hipertensi dengan obat antihipertensi merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi dan mempertahankan tekanan darah yang normal, tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat seringkali menurun. Kepatuhan yang rendah dalam minum obat antihipertensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kompleksitas regimen pengobatan, efek samping obat, ketidaktahuan pasien tentang Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kualitas Hidup Lasia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam pentingnya kepatuhan, dan kurangnya pemahaman tentang pengobatan hipertensi (Anggraini, 2017. dalam Lubis , 2. Berdasarkan dari latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Tahun 2024. KAJIAN TEORITIS Lansia Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan yaitu anak, dewasa dan tua (Nugroho, 2006. dalam Muslimah et al. , 2. Pada manusia, penuaan dihubungkan dengan perubahan degeneratif pada kulit, tulang, jantung, pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh lainnya. Dengan kemampuan regeneratif yang terbatas, mereka lebih rentan terkena berbagai penyakit, sindroma dan kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain (Nugroho, 2006. dalam Muslimah et al. , 2. Hipertensi Hipertensi adalah keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah diatas rentang normal yang dapat menimbulkan kerusakan pada tubuh. Hipertensi disebut pembunuh gelap atau silent killer karena merupakan penyakit mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejala terlebih dahulu sebagai peringatan bagi penderita. Gejala yang muncul sering dianggap gangguan biasa sehingga penderita terlambat menyadari akan datangnya penyakit (Sylvestris, 2. Tekanan darah merupakan tekanan yang berasal dari jantung yang berfungsi untuk menggerakkan darah keseluruh tubuh sehingga sangat penting pada sistem sirkulasi tubuh manusia. Tekanan darah tinggi atau yang disebut dengan hipertensi merupakan penyakit yang berbahaya di 30 dalam dunia medis karena penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian pada setiap orang (Sylvestris. Kepatuhan Kepatuhan merupakan tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap petunjuk atau intruksi yang diberikan kepada pasien dalam bentuk terapi yang telah ditentukan, baik diit, latihan, pengobatan atau menepati janji pertemuan dengan dokter kepada pasien (Claudia, 2. Kepatuhan adalah suatu perubahan perilaku dari yang tidak mentaati peraturan ke perilku yang mentaati peraturan (Gilang , 2. Kepatuhan ini dibedakan Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 169-180 menjadi dua yaitu kepatuhan penuh . otal complianc. dimana pada kondisi ini penderita penyakit hipertensi patuh secara sungguh-sungguh terhadap minum obat antihipertensi, dan penderita yang tidak patuh . on complianc. dimana pada keadaan ini penderita tidak minum obat antihipertensi secara teratur (Claudia, 2. Kualitas Hidup Kualitas hidup merupakan keadaan dimana seseorang mendapatkan kepuasan atau kenikmatan dalam kehidupan sehari-hari. Dimana kualitas hidup tersebut menyangkut kesehatan fisik dan kesehatan mental yang berarti jika seseorang sehat secara fisik dan mental maka orang tersebut akan mencapai suatu kepusan dalam Kesehatan fisik itu dapat dinilai dari fungsi fisik, keterbatasan peran fisik, nyeri pada tubuh dan persepsi tentang kesehatan (WHO, 1997 dalam Rohmah et al. 2012: Teten. , 2. Tiga hambatan aspek kualitas hidup yang mencerminkan adanya penurunan kualitas hidup pada penderita hipertensi, yakni aspek kesehatan fisik seperti sakit kepala dan muntah-muntah. Aspek psikis seperti, mudah marah dan mudah tersinggung, serta aspek hubungan sosial, tidak dapat bekerja dengan baik dan tidak dapat beraktivitas. Hal ini merupakan bentuk indikator kualitas hidup. Dengan demikian dapat diketahui bahwa terjadi masalah dan penurunan kualitas hidup yang mengakibatkan adanya hambatan hambatan pada fungsi kesehatan fisik, psikologis dan hubungan sosial pada penderita hipertensi (Rismawanti et al. , 2. METODE PENELITIAN Jenis dan Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Metode cross-sectional adalah sebuah studi korelasi untuk mencari suatu hubungan antara faktor risiko . dengan efek atau pengaruhnya . Pengumpulan data dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu antara faktor resiko dan pengaruhnya yang berarti semua variabel bebas dan terikat diamati dalam waktu bersamaan (Masturoh. , & Anggita, 2. Pada penelitian ini metode cross-sectional digunakan untuk mencari hubungan antar variabel dengan variabel independen kepatuhan minum obat hipertensi dan variabel dependen kualitas hidup lansia. Populasi dan Sampel penelitian Dalam penelitian ini, populasi adalah seluruh lansia yang berada di wilayah kerja puskesmas Sei Langkai Kota Batam. Teknik sampling yang digunakan pada Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kualitas Hidup Lasia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam penelitian ini yaitu teknik Non Probability Sampling dengan jenis pendekatan Purposive sampling yaitu cara pengambilan sampel dengan semua objek populasi namun tidak semua memiliki kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel. Penarikan sampel secara purposive sampling merupakan cara pemilihan berdasarkan pada kriteria tertentu yang dibuat oleh peneliti. Jumlah sample dalam penelitian ini berjumlah 93 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini instrumen atau alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner kepatuhan minum obat menggunakan MMAS (Morisky Medication Adherence Scal. untuk mengetahui kepatuhan dalam mengkonsumsi obat antihipertensi. Kuesioner MMAS terdiri dari 8 pertanyaan yang disusun dengan model jawaban AuyaAy dan AutidakAy yang akan mengidentifkasi perilaku pasien terkait pengobatan, pertanyaan terbagi menjadi 4 aspek yaitu lupa/tidak minum obat sebanyak 4 pertanyaan pada item nomor 1,2,4,5 menghentikan minum obat sebanyak 2 pertanyaan pada item nomor 3 dan 6, pengobatan yang mengganggu pada item nomor 7 dan kesulitan mengingat minum obat pada item nomor 8. Pengukuran kualitas hidup menggunakan kuesioner WHOQOL. Dimensidimensi dari kualitas hidup yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada dimensi-dimensi mengenai kualitas hidup yang terdapat dalam WHOQOL-BREF dimana terdapat enam dimensi yaitu . kesehatan fisik, . kesejahteraan psikologis, . tingkat kemandirian, . hubungan sosial, . hubungan dengan lingkungan, dan . keadaan spiritual. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Karakteristik Responden Tabel 1. Karaktrtistik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Frekuensi . Presentase (%) Berdasarkan tabel 1. diketahui bahwa sebagian besar lansia berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 52 lansia . %). Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 169-180 Analisa Univariat Analisa univariat merupakan analisis data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, ukuran tendensi sentral, atau grafik. Analisis dilakukan dengan menyusun variabel variabel penelitian ini secara deskriptif dengan tabel frekuensi (Saryono, 2. Adapun Analisa univariat dalam penelitian ini adalah : Tabel 2. Distribusi Lansia Berdsarkan Kepatuhan Minum Obat. Kategori Rendah Sedang Tinggi Total Frekuensi . Presentase (%) Berdasarkan tabel 2. menunjukan bahwa dari 93 lansia didapatkan hasil Kepatuhan Minum Obat Hipertensi. Sebagian besar katagori rendah sebanyak 37 lansia . %), dan kategori sedang sebanyak 33 lansia . %),dan kategori tinggi sebanyak 23 lansia . %). Tabel 3. Distribusi Lansia Berdasarkan Kualitas Hidup. Kategori Buruk Sedang Baik Total Frekuensi . Presentase (%) Berdasarkan tabel 3. menunjukan bahwa dari 93 lansia didapatkan hasil kualitas hidup Sebagian besar katagori sedang sebanyak 36 lansia . %), kategori buruk sebanyak 24 lansia . %),dan kategori baik sebanyak 33 lansia . %). Analisa Bivariat Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kualitas Hidup Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Tahun 2024. Tabel 4. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Kualitas Hidup Lansia. Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Tinggi Sedang Rendah Total Kualitas Hidup Lansia Sedang Buruk Baik Total 34,8% Value 0,003 Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kualitas Hidup Lasia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa kualitas hidup lansia sebagian besar dengan kategori buruk pada kepatuhan minum obat rendah yaitu 17 lansia . ,9%), kualitas hidup lansia dengan kategori buruk pada kepatuhan minum obat sedang yaitu 5 lansia . ,2%), kualitas hidup lansia dengan kategori buruk pada kapatuhan minum obat tinggi yaitu 2 lansia . ,7%). Dengan hasil nilai p value sebesar 0. 003<0,005, maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan H0 ditolak yaiutu terdapat korelasi atau hubungan yang bermakna atara kepatuhan minum obat hipertensi denga kualitas hidup lansia di wilayah kerja puskesmas sei langkai tahun 2024. Pembahasan Univariat . Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Hasil penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam bahwa dari 93 penderita hipertensi sebagian besar dengan Kepatuhan Minum Obat rendah sebanyak 37 . %). Kepatuhan konsumsi obat disini meliputi kepatuhan dalam mengikuti setiap aturan minum dan jenis obat yang harus diminum. Kasus tekanan darah tinggi dengan tingkat kepatuhan yang lebih rendah dikaitkan dengan kontrol tekanan darah yang lebih buruk dan hasil yang merugikan, termasuk stroke, infark miokard, gagal jantung, dan kematian (Permatasari & Patimah, 2. Faktor utama yang memengaruhi kepatuhan yaitu salah satunya usia, usia juga memengaruhi kepatuhan pasien hipertensi dalam minum obat Ranum, . Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar usia 60-74 tahun 93 lansia . %), hal ini dapat menggambarkan bahwa semakin tinggi usia, semakin tinggi risiko hipertensi dan pasien akan semakin patuh dalam mengontrol tekanan darah dan rutin minum obat (Ranum. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan,dengan patuhnya lansia penderita hipertensi meminum obat hipertensi sangat membantu lansia untuk mencapai kualitas hidup yang baik. Jika kepatuhan minum obat hipertensi yang rendah akan berdampak pada kesehatan fisik lansia penderita hipertensi. Kualitas Hidup Lansia Hasil penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam bahwa dari 93 lansia penderita Hipertensi sebagian besar dengan Kualitas Hidup sedang sebanyak 36 . %). Tiga hambatan aspek kualitas hidup yang mencerminkan adanya penurunan kualitas hidup pada penderita hipertensi, yakni aspek kesehatan fisik seperti sakit kepala dan muntah Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 169-180 Aspek psikis seperti, mudah marah dan mudah tersinggung, serta aspek hubungan sosial, tidak dapat bekerja dengan baik dan tidak dapat beraktivitas. Hal ini merupakan bentuk indikator kualitas hidup. Dengan demikian dapat diketahui bahwa terjadi masalah dan penurunan kualitas hidup yang mengakibatkan adanya hambatan-hambatan pada fungsi kesehatan fisik, psikologis dan hubungan sosial pada penderita hipertensi. Kualitas hidup dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dikaitkan dengan karakterikstik individu dan karakteristik lingkungan. Karakteristik individu yang dapat mempengruhi kualitas hidup terdiri dari faktor demografi . sia,jenis kelamin,status pekerjaan,tingkat pendidika. ,faktor perkembangan . ktivitas fisik,kepatuhan diet hipertens. ,faktor biologis serta komorbiditas dan lama menderita hipertensi. Sedangkan karakteristik lingkungan meliputi faktor lingkungan sosial . ukungan keluarga dan jenis caregiver. dan lingkungan fisik (Munira et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan, penderita hipertensi lebih banyak mengalami kualitas hidup sedang dikarenakan rendahnya kepatuhan penderita dalam meminum obat hipertensi. Lansia dengan hipertensi yang mengalami kualitas hidup buruk sebaikknya melakukan berbagai langkah untuk memperbaiki kondisi mereka. Pendekatan ini mencakup aspek medis, gaya hidup, serta dukungan sosial dan mental, ada beberapa hal yang bisa diterapkan oleh lansia adalah sebagai berikut :mematuhi pengobatan,menjaga pola makan sehat, olahraga teratur,mengeloa stres, menjaga berat badan ideal,dan evaluasi kesehatan secara berkala. Bivariat . Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kualitas Hidup Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai. Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam, didapatkan hasil bahwa kualitas hidup lansia sebagian besar dengan kategori buruk pada kepatuhan minum obat rendah 17 penderita . ,9%) . Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai hubungan kepatuhan minum obat Hipertensi dengan kualitas hidup lansia maka dilakukan analisa Uji Chi-Square melalui program SPSS. Berdasarkan hasil analisa diketahui bahwa nilai p value sebesar 0. 003, hal ini menyatakan bahwa ada hubungan antara kepatuhan minum obat Hipertensi dengan kualitas hidup lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Tahun 2024. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Printinasari . ,dengan judul hubungan kepatuhan minum obat anti hipertensi dengan kualitas hidup pasien hipertensi di puskesmas rawalo kabupaten Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi dengan Kualitas Hidup Lasia di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam banyumas dengan sampel 76 responden dan hasil p value 0,003, hal ini menyatakan bahwa ada hubungan kepatuhan minum obat antihipertensi dengan kualitas hidup pasien hipertensi (Bota, 2. Ketidakpatuhan dalam meminum obat antihipertensi menjadi salah satu faktor resiko meningkatnya morbiditas dan kejadian hipertensi tak terkendali yang dapat memperburuk kualitas hidup penderita hipertensi (Kurniawan et al. , 2. Sebagian besar penderita hipertensi kualitas hidupnya mengalami penurunan, terutama pada dimensi fisik dan Adanya proses penyakit akan mengakibatkan penurunan kemampuan fisik pada pasien hipertensi, yang ditandai dengan kelemahan, rasa kurang berenergi, pusing sehingga berdampak ke psikologis pasien, dimana penderita merasa kalau hidupnya ini tidak berguna karena memiliki penyakit . Pasien dengan penyakit hipertensi yang memiliki rasa percaya diri dapat mengurangi perasaan dan pandangan negatif terhadap masalah, sehingga menumbuhkan rasa bisa untuk melawan gangguan fisik dan psikis yang dialaminya guna mencapai kualitas hidup yang lebih baik (Bota, 2. Peneliti menarik kesimpulan bahwa lansia yang patuh dalam minum obat hipertensi cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak patuh. Kepatuhan dalam minum obat memungkinkan tekanan darah lansia lebih terkontrol, sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan, yang secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian kepatuhan minum obat hipertensi dengan kualitas hidup lansia di wilayah puskesmas sei langkai yang telah dilakukan pada tanggal 12 - 26 September tahun 2024 dengan jumlah responden 93 lansia dapat disimpulkan bahwa Terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat hipertensi dengan kualitas hidup lansia di Wilayah kerja Puskesmas Sei Langkai Tahun 2024 dengan nilai p value 0,003>0,005. Saran