Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 TINJAUAN EKLESIOLOGIS ATAS TANGGUNG JAWAB GEREJA ATAS KERASULAN PANGGILAN Gregorius Hertanto Dwi Wibowo MSC Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng gregoriushertanto@stfsp. Abstrak Artikel ini menyajikan tinjauan eklesiologis tentang tanggung jawab Gereja dalam mempromosikan panggilan untuk menjadi imam dan hidup bakti. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif, termasuk analisis dokumen-dokumen Gereja Katolik, untuk mengeksplorasi hubungan antara sifat dasar Gereja dan misi kerasulannya dalam memelihara dan mendukung panggilan untuk menjadi imam dan hidup membiara. Kontribusi unik dari artikel ini adalah pernyataan bahwa promosi panggilan lebih dari sekadar menemukan para pelayan Gereja. pada kenyataannya, ini adalah aspek penting dari proses menjadi Gereja itu sendiri, karena panggilan secara intrinsik terhubung dengan identitas Gereja. Penelitian ini mengindikasikan bahwa setiap elemen di dalam Gereja memiliki tanggung jawab yang penting dalam mengidentifikasi, membimbing, dan memfasilitasi individuindividu yang merespons panggilan Tuhan. Temuan-temuan dari penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih dalam tentang pentingnya peran Gereja dalam mendukung kerasulan dan panggilan untuk hidup kudus, yang pada akhirnya menawarkan landasan dan motivasi yang lebih kuat untuk meningkatkan komitmen Gereja terhadap panggilan-panggilan ini di masa depan. Kata Kunci: vita consecrata, panggilan, communio, promosi panggilan, gereja Abstract This article presents an ecclesiological overview of the Church's responsibility in promoting vocations to the priesthood and consecrated life. It employs qualitative research methods, including an analysis of Catholic Church documents, to explore the relationship between the Church's nature and its apostolic mission to nurture and support vocations to the priesthood and the monastic life. The unique contribution of this article is the assertion that vocation promotion extends beyond merely finding Church ministers. it is, in fact, an essential aspect of the process of becoming the Church itself, as vocations are intrinsically connected to the Church's identity. The research indicates that every element within the Church is responsible for identifying, guiding, and facilitating individuals who respond to God's call. The findings of this study aim to provide deeper insights into the significance of the Church's role in supporting apostolates and vocations to a holy life, ultimately offering a stronger foundation and motivation to enhance the Church's commitment to these vocations in the future. Key words: consecrated life, vocation, communion, promoting vocation, church PENDAHULUAN Panggilan menjadi imam dan religius di dalam Gereja merupakan anugerah Allah yang sangat berharga. Panggilan itu merupakan undangan Tuhan untuk berpartisipasi dalam rencana kasih Allah dan untuk mewujudkan keindahan Injil melalui aneka ragam status hidup. Demikian diungkapkan oleh Paus Fransiskus dalam pesan untuk Hari Doa bagi Panggilan pada 21 April 2024 (Fransiskus 2. Keanekaragaman status hidup yang ada itu dibandingkannya dengan polifoni yang indah, yang menggabungkan aneka karisma dan panggilan, bagaikan batubatu yang hidup dalam bangunan Gereja. Di sanalah Gereja berada dalam perjalanan: AuThe Church in the moveAy yang akan berziarah bersama menuju tujuannya. Gereja membutuhkan pekerja-pekerja untuk kebun anggur yang dipercayakan kepadanya. Panggilan bukan hanya merupakan anugerah bagi orang yang menerimanya, tetapi ini juga merupakan sebuah karunia bagi Gereja secara keseluruhan, sebuah manfaat bagi kehidupan dan misinya. Oleh karena itu. Gereja dipanggil untuk menjaga karunia ini, untuk menghargainya dan mencintainya (Yohanes Paulus II 1992, para. Promosi panggilan menjadi sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang melibatkan semua agen Gereja. Gereja harus Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 selalu memohon sambil melaksanakan berbagai upaya agar para orang muda bergabung ke dalam pelayanan yang khusus ini, baik sebagai imam maupun sebagai religius dan biarawan-biarawati. Pertanyaannya adalah apakah sesungguhnya tanggung jawab Gereja terhadap kerasulan panggilan? Pertanyaan ini menarik bila dijawab dengan sudut pandang ekklesiologi, yaitu dengan terlebih dulu menemukan kaitan hakiki antara panggilan itu dan jatidiri Gereja. Karena itu muncul pertanyaan lanjutan: Mengapa Gereja? Siapakah Gereja? Siapa sebenarnya Gereja, sehingga harus bertanggung jawab terhadap panggilan ini? Maksudnya tentu untuk mencari alasan dasar mengapa Gereja harus bertanggung jawab. Sebab bila Gereja tidak menemukan artinya hidup panggilan itu bagi dirinya, tentulah secara logis tidak bisa dituntut suatu tanggung jawab darinya. Sejauh penelusuran kami, pembahasan kerasulan panggilan dalam sudut pandang eklesiologis ini merupakan fokus penelitian yang baru. Beberapa artikel mengenai promosi panggilan yang dapat ditemukan berfokus pada tindakan konkrit yang harus dibuat oleh keluarga, sekolah, atau pendidik untuk memotivasi anak muda pada panggilan ini. Yuvenalis Raga Gening misalnya berfokus pada peran keluarga dan menemukan kurangnya peran keluarga dalam promosi panggilan di Paroki Katedral Palangkaraya. Ia menyarankan agar keluarga menyadari tanggung jawab mereka. (Gening 2. Supriyadi sejalan dengan hal itu menyebut bahwa keluarga merupakan seminari pertama untuk menumbuhkan panggilan iman dan hidup membiara. Keluarga Kristiani merupakan rukun hidup awal, yang dipanggil untuk mewartakan Injil kepada manusia selama perkembangan manusia, dan mengantar mereka pada kematangan melalui pembinaan bertahap dan herangsurangsur di dalamnya. AuSebagai rukun hidup yang pertama, keluarga menjadi bidang reksa pastoral yang paling dasar hagi kehidupan manusia dan Gereja. Ay(Supriyadi 2011, . Sementara Kwirinus, mengatakan bawha meskipun panggilan itu merupakan misteri dan kebebasan Tuhan, namun panggilan memerlukan kerjasama manusiawi, yang terutama disumbangkan oleh keluarga. Demikian hasil penelitian Kwirinus di daerah aerah Ketapang. Sekadau dan Sintang. Kalimantan Barat (Kwirinus and Saeng 2023, . Kwirinus menekankan juga pentingnya kerjasama antara keluarga dan sekolah serta awam seluruhnya dalam menumbuhkan panggilan di kalangan kaum muda. Satu sumbangan menarik lainnya adalah tulisan dari Doni Malau yang mengangkat hakikat imamat dalam reksa pastoral Gereja menurut dokumen-dokumen Gereja. Ia memfokuskan diri pada reksa pastoral untuk pertumbuhan panggilan berangkat dari hakekat imam sebagaimana diungkapkan dalam dokumen Gereja seperti Optatam Totius. Presbyterorum Ordinis dan Dokumen Gift and Ministry yang ditulis oleh Yohanes Paulus II. (Malau 2. Dalam tulisan-tulisan tersebut bahwa Gereja dari hakikatnya harus mengusahakan tumbuhnya panggilan, agaknya diandaikan begitu saja. Karena itu tulisan yang berbicara tentang kerasulan panggilan dengan berangkat dari hakikat Gereja sendiri akan menjadi sumbangan penting bagi kerasulan itu sendiri. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang didasarkan pada studi literatur. Studi literatur melibatkan analisis data dari berbagai buku referensi dan penelitian terdahulu yang relevan untuk membangun kerangka teori untuk masalah yang dihadapi. Pendekatan ini digunakan untuk memperkuat hipotesis melalui sumber-sumber literatur yang kredibel (Suwartono 2014, . Penulis berkonsentrasi pada penelaahan dokumendokumen dari Konsili Vatikan II, khususnya Lumen Gentium (LG). Perfectae Caritatis (PC), dan Optatam Totius (OT). Dokumen-dokumen ini dianalisis untuk menyoroti fokus mereka pada pelayanan pastoral panggilan. Selain itu, penulis membandingkan temuan-temuan ini dengan literatur lain, artikel penelitian yang relevan, dan dokumen-dokumen Gereja pasca-Konsili Vatikan II yang membahas tentang panggilan religius dan imamat, untuk menilai kesinambungan reksa pastoral dalam konteks ini. Temuan-temuan dari analisis ini disajikan secara HASIL DAN PEMBAHASAN Gereja merupakan Hasil Buah Panggilan Dalam teologi sesudah Konsili Vatikan II, sudah jamak bahwa Gereja bukan hanya berarti institusi. Tentu masih ada pengertian semacam ini, misalnya nampak kalau kata Gereja dipakai dalam konteks hukum. Misalnya di daerah Maluku sering disebut bahwa tanah ini dan tanah sana adalah milik AumisiAy. Yang dimaksud adalah milik Gereja. Sekolah ini adalah sekolah milik Gereja. Di situ Gereja berarti Keuskupan sebagai institusi. Tapi toh Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 dalam arti tertentu bisa disebut milik umat Katolik, milik kita bersama. Jadi secara murni pengertian Gereja sudah berkembang, tak lagi murni institusional saja. Selain itu umumnya orang juga sudah mengerti bahwa Gereja bukan hanya hirarki. Paus. Uskup dan Imam . eperti yang sering dituntut bila ada masalah dalam sebuah wilayah: Gereja bilang apa? Apa sikap Gereja? Mengapa Gereja diam saja? Ae Tentu juga semoga pengertian yang demikian tidak terkandung dalam pertanyaan yang hendak kita bahas sekarang ini: Apa tanggung jawab Gereja bagi panggilan?). Umumnya orang sudah dihidupi oleh Roh Konsili Vatikan II: Gereja berarti kita semua ini. AuThe Church is we and not somebody else. Ay Bersama Konsili kita mengerti Gereja baik sebagai Tubuh Mistik Gereja, maupun Gereja sebagai Umat Allah. Richard P. McBrien dalam bukunya. The Church, menyebut enam tema kunci dalam ekklesiologi Gereja menurut Konsili Vatikan II: Gereja sebagai misteri atau Sakramen . awan Gereja Institus. Gereja sebagai Umat Allah . awan Gereja hirarki. Gereja sebagai hamba . awan Gereja yang misinya hanya berpusat pada pelayanan sabda dan sakrame. Gereja sebagai Communio . awan Gereja yang bersifat monarkis absolut dan Gereja dengan struktur piramida. Gereja sebagai komunitas ekumenis . ang mengimbangi pengertian Gereja Katolik sebagai Gereja yang benar dan satu-satuny. dan Gereja sebagai komunitas eskatologis . awan triumphalisme Gereja yang mengidentikkan Gereja dengan Kerajaan Alla. (McBrien 2009, . Dua hal penting dapat ditarik dari pengertian McBrien itu, yaitu Gereja sebagai pembawa misteri Kristus, dan Gereja sebagai komunitas. Pandangan seperti itu juga tercakup dalam uraian Joseph Ratzinger ketika ia membahas ekklesiologi Konsili Vatikan II dalam suatu Konggres Pastoral salah Keuskupan di Italia. meringkaskan identitas Gereja itu dalam dua hal saja: Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus dan Gereja sebagai Umat Allah. (Ratzinger 2. Dengan gambaran Tubuh Mistik Kristus terangkum apa yang dimaksud Gereja ad intra. Gereja secara ontologisnya, artinya apa yang menjadikan Gereja dari dalam. Sedangkan sebagai umat Allah Gereja menampakkan dirinya ad extra. Gereja bukan hanya apa yang kelihatan saja, melainkan mengandung realitas mistik yang berhubungan dengan jati dirinya. Ratzinger mengutip kata-kata Romano Guardini yang kemudian menjadi kata kunci pembaharuan ekklesiologi post perang dunia II Ae atau ekklesiologi pro-KV II: AuThe Church is awakening from within. Ay Masa Gereja institusional sudah lewat. Orang mulai menyadari Gereja sebagai yang berhubungan dengan batin seseorang. Gereja bukan lagi institusional belaka, tetapi Kristus yang hadir secara baru, secara mistik di dalam tubuh-Nya sekarang. Gereja adalah buah dari kehadiran Kristus dan perjumpaan manusia dengan-Nya. Kristuslah yang menjadikan persekutuan menjadi communio dan communio itu tak lain adalah persekutuan yang hidup karena dan oleh Kristus. Ratzinger melanjutkan mengutip Guardini. AuGereja bukan sebuah institusi yang direncanakan dan dibangun oleh manusia . sebuah realitas yang hidup . Dia masih hidup melalui perjalanan waktu. Seperti semua realitas yang hidup, dia bertumbuh, dia berubah . namun demikian kedalaman inti identitas essensialnya tetap yang sama. nukleus terdalamnya adalah Kristus. Bila kita melihat Gereja . sebagai organisasi . seperti sebuah asosiasi . kita tidak dapat sampai kepada pengertian yang benar tentangnya. Sungguh, dia adalah realitas yang hidup dan relasi kita dengannya harus menjadi kehidupan. Ay(Ratzinger 2. Kesimpulannya Gereja adalah hasil dari sebuah jawaban atas panggilan untuk berjumpa dengan Kristus itu sendiri. Penekanan semacam ini merangkum Gereja baik dalam segi interioritasnya maupun dalam segi Gereja mempunyai jiwanya, tetapi juga mempunyai bentuknya, yang tak lain adalah komunitas. Gereja menjadi kita. Dalam Gereja sebagai realitas yang hidup ini, batas-batas sosial politik lalu terlampaui dan ikatan antara surga dan bumi lalu ditegaskan dengan jelas. Gereja adalah komunitas dengan suatu harapan yang hidup, tempat orang berdosa dan punya kelemahan diampuni dan diterima, tetapi juga diberdayakan oleh kekuatan Roh Kudus. Gereja itu buah penuh sukacita dari panggilan. Di dalamnya cerita Injil terulang lagi. Orang-orang tertarik kepada-Nya dan ingin hidup lebih dekat di sekitar diri-Nya. Orang-orang disembuhkan dari penyakitnya, yang lain terkesan dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang lain lagi menemukan sahabat sejati, yang memberikan hidup yang kekal. Kisah Gereja adalah kisah tentang orang-orang seperti ini. Bukan hanya para rasul, tetapi juga para martir dan santo-santa, orang-orang kudus sepanjang jaman, dan barisannya berderet sampai kepada pengalaman-pengalaman setiap pribadi kita. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Pada tahun 1985, 20 tahun setelah penutupan Konsili Vatikan II, diadakan Synode Luar biasa Para Uskup yang bertujuan memperdalam dan menghidupkan kembali ajaran-ajaran Konsili Vatikan II. Synode tersebut menyimpulkan ekklesiologi Konsili Vatikan II dalam kata communio. Eklesiologi persekutuan adalah gagasan sentral dan fundamental dari dokumen-dokumen Konsili. Persekutuan Tubuh Kristus yang ekaristi menandakan dan menghasilkan, yaitu membangun, persekutuan intim semua umat beriman dalam Tubuh Kristus yang adalah Gereja . Kor 10:. 5 Extraordinary Synod 1. Dipanggil, berjumpa, tinggal bersama dengan-Nya, dan hidup serta diperkaya oleh kekayaan misteri-Nya. Itulah communio, jatidiri ontologis Gereja. Gereja sebagai Communio dalam Dunia Sebagai unsur ontologis Gereja, panggilan menunjuk pada dinamika Gereja, yaitu bahwa dalam kenyataannya Gereja terus-menerus dipanggil untuk mengikuti Kristus lebih dalam, sebab itulah hakekat mengikuti Kristus, yaitu tidak pernah berhenti di satu tempat atau posisi saja. Konsekuensinya, panggilan membawa serta tugas. Dengan kata lain, selain panggilan untuk tinggal, masih ada lagi panggilan untuk pergi. Pergilah wartakanlah. ajarlah semua bangsa menjadi murid-Ku. Gereja tidak pernah menjadi communio tertutup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan dalam kenyataannya adalah communio yang dinamis, yang mengikuti Kristus sang terang dunia, yang hadir di dunia bersama dengan kegembiraan dan harapannya. Gereja pada hakikatnya bersifat misioner. (Lumen Gentium. Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja 1964, para. Di sini kita ingat sabda Tuhan, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga" (Mat 5:13-. Dalam ekklesiologi Konsili Vatikan II selain Tubuh Mistik Kristus, masih terdapat beberapa gambaran lain untuk Gereja, seperti kandang, kawanan, tanaman, bangunan, kenisah kudus. Yerusalem baru, dan mempelai,(Lumen Gentium. Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja 1964, para. namun gambaran kuat lainnya adalah Gereja sebagai Umat Allah yang baru. (Lumen Gentium. Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja 1964, chap. Dengan istilah itu mau diungkapkan juga aspek peziarahan Gereja. Gereja adalah komunitas pezarah sepanjang sejarah keselamatan. Jadi ia mempunyai sifat eskatologis: Gereja yang sedang menuju kepada kepenuhan kerajaan Allah. Itulah Gereja yang membawa harapan. Secara demikian. Gereja juga harus hadir di dunia, bersama dengan Ia tidak ada untuk dirinya sendiri saja dan memiliki perutusan menjadi instrumen pembawa harapan bagi terwujudnya kerajaan Allah sampai saat-Nya AuAllah menjadi segalanya dalam segala sesuatuAy . Kor. 15, . Sebagai communio di tengah dunia. Gereja umat Allah bertumbuh, berkembang, berinteraksi dan Di dalam sinode tentang sinodalitas diangkat juga padanan kata yang menggambarkan hal itu, yaitu persekuutan . , pengambil bagianan . , dan perutusan . Dalam sifat persekutuan dan partisipatifnya, aspek komunitas manusiawinya tidak disangkal, tetapi juga harapannya akan persatuan abadi selalu dibawanya. Jadi serentak dua hal terjadi di dalam peziarahan ini. Di satu pihak. Gereja membawa juga pengalaman tinggal di dunia, dan dengan begitu juga pengalaman kedosaannya, tetapi di lain pihak berkat bimbingan Roh Kudus Gereja membiarkan diri dituntun pada kepenuhannya. Dalam dinamisitas inilah Gereja menampilkan tritugas Kristus: mewartakan, menguduskan, dan menggembalakan. Tugas itu dilaksanakan oleh seluruh anggotanya, sesuai dengan kharisma dan anugerah-Nya. Gereja bisa tampil sebagai nabi, imam dan raja, baik secara keseluruhan sebagai satu communio maupun dalam diri anggota-anggotanya dalam kharismakharismanya. Lebih dalam lagi sebagai communio besar. Gereja juga terdiri dari persekutuan-persekutuan. Gereja adalah sebuah Communion of communities. Persekutuan-persekutuan itu mencakup baik persekutuan teritorial maupun persekutuan kategorial yang terbangun atas keinginan dan panggilan untuk menghidupi kharisma yang Di sinilah kita menyaksikan aneka panggilan dalam Gereja, yang membentuk juga aneka persekutuan. menyebut antara lain tarekat hidup bakti, persekutuan sekular dan serikat-serikat lainnya. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 Panggilan Khusus sebagai Ungkapan Dasar Panggilan Gereja Lumen Gentium membuat aspek dinamis Gereja lebih terasa lagi dengan membicarakan panggilan Gereja kepada kekudusan dalam bab sendiri. Panggilan kepada kekudusan ditujukan kepada semua orang, semua anggota Gereja. Meskipun dalam Gereja tidak semua menempuh jalan yang sama, entah tertahbis atau tidak tertabis, namun semua orang dipanggil kepada kekudusan, dan menerima iman yang sama dalam kebenaran Allah . ih 2Ptr 1:. Jalan yang berasal dari Kristus itu berbeda-beda. Ada yang dipanggil menjadi guru, ada yang dipanggil menjadi imam, yang bertanggung jawab untuk membagikan misteri-misteri ilahi dan menjadi gembala bagi yang lain, namun martabat semua umat beirman dalam membangun Tubuh Kristus adalah sama dan Perbedaan itu adalah untuk saling melayani Tubuh Kristus yang sama. (Lumen Gentium. Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja 1964, para. Di sinilah titik kunci untuk berbicara tentang kerasulan panggilan. Intinya, kalau kita berbicara tentang tanggung jawab Gereja terhadap panggilan, kita berbicara tentang tanggung jawab kita sendiri - yang sendiri merupakan anggota Gereja - terhadap apa yang esensial dalam diri kita sendiri. Apa itu yang dimaksud dengan unsur esensial di sini? Pertama: Gereja adalah persekutuan umat yang menanggapi panggilan Allah, panggilan yang menyangkut kita semua, sebagaimana diuraikan dengan cukup panjang lebar dalam Lumen Gentium dengan judul: panggilan kepada kekudusan (Bab V). Yang kedua: esensial menyangkut bagaimana panggilan itu dihidupi untuk menjaga persekutuan melalui jalan yang berbeda-beda. Di sana ada tempat khusus bagi panggilan dan peranan dari biarawan (LG bab VI), imamat (Bab . , dan awam (Bab IV). Kerasulan Panggilan bertugas untuk mengembangkan panggilan hidup bakti baik sebagai imam, religius dan awam misioner. Tanggung jawab itu menyangkut keluasan dari panggilan , tetapi juga kekhususan dari panggilan itu sendiri. Luas karena menyangkut Gereja seluruhnya seturut karisma yang diberikan Kristus yang diberikan kepada setiap orang, tetapi juga khusus, karena panggilan yang umum itu menuntut suatu bentuk dan cara hidup yang khusus pula. Akhir-akhirnya cara hidup khusus ini pun mempunyai sumbangan yang sama signifikannya bagi Gereja, dan karena itu tak boleh dipandang secara sampingan saja. Intinya, karena apapun bentuk panggilan itu, masing-masing bentuk dipanggil untuk menampakkan sungguh-sungguh hakekat Gereja dengan misterinya. Konkretnya sebagai imam, orang dipanggil untuk menampakkan Kristus sendiri yang menguduskan umat dengan kurban-Nya, mereka melakukan juga tugas Kristus sebagai Gembala dan Kepala Gereja dan menghimpun keluarga Allah sebagai satu persaudaraan, penuh semanggat kesatuan serta mengantaranya melalui Kristus dalam Roh kepada Allah Bapa dan bersama Uskup mengajarkan apa yang mereka imani . LG . Begitu pula para awam mempunyai panggilan khusus, sesuai dengan sifat kedekatan mereka dengan dunia, di mana mereka hidup. AuDi depan dunia tiap awam harus menjadi saksi kebangkitan dan kehidupan Tuhan Yesus dan tanda Allah yang hidup. Semua bersama-sama dan masing-masing menurut tanggung jawabnya, harus memelihara dunia dengan buah-buah rohani . Gal 5:. , dan mencurahkan ke dalamnya Roh, yang menjiwai orang-orang miskin, lembut dan damai itu, yang oleh Tuhan dalam Injil dinyatakan berbahagia . Mt 5: 3-. Dengan satu kata: Aoapa tugas jiwa dalam badan, itulah hendaknya orang kristen dalam dunia. AoAy (LG . Tentang para biarawan-biarawati. LG memberi gambaran kekhasan mereka, misalnya dalam LG 46: AuHendaknya para biarawan-biarawati memperhatikan dengan cermat agar melalui mereka. Gereja benar-benar makin hari makin lebih menampilkan, baik kepada umat beriman maupun kepada yang tidak beriman. Kristus yang bersamadi di bukit, atau yang mewartakan Kerajaan Allah kepada umat, yang menyembuhkan orang sakit dan cedera atau yang memberkati anakanak dan berbuat baik kepada semua orang dan yang selalu taat kepada kehendak Bapa yang Ay Mereka ini seperti diungkapkan oleh Perfectae Caritatis menampakkan hakekat Gereja sebagai mempelai Kristus . PC . (Konsili Vatikan II 1. Dengan mengikrarkan ketiga nasehat Injil mereka membuat keutamaankeutaman Yesus Ae sebagai pribadi yang murni, miskin dan taat -menjadi nampak nyata. Yohanes Paulus II menambahkan dalam Ensiklik Vita Consecrata, bahwa oleh kehadiran para religius mata orang beriman diarahkan pada misteri Kerajaan Alah yang sudah berdaya dalam sejarah ini dan yang sementara menuju ke pemenuhannya di surga. (Yohanes Paulus II 1996, . Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 AuApa jadinya dunia tanpa para religius ini?. Tanpa tanda yang konkret ini, akan ada bahaya bahwa cinta kasih yang menjiwai Gereja akan menjadi dingin, bahwa paradox Injil keselamatan akan menjadi tumpul, dan AogaramAo iman akan kehilangan rasanya dalam dunia yang mengalami Gereja dan masyarakat membutuhkan orang-orang yang mampu membaktikan diri mereka sendiri secara total bagi Allah dan sesama demi cinta kepada AllahAy (VC . (Yohanes Paulus II 1996, para. Apa yang diamanatkan Konsili ini dalam setiap bentuk panggilan itu tidak lain terjadilah hakekat dan perutusan Gereja sendiri, yang harus menjadi konkret dalam cara hidup yang unik dan sekaligus berbeda-beda seturut kharisma masing-masing. Dalam Vita Consecrata tiga pokok penting diangkat oleh Yohanes Paulus II mengenai kekhasan dari hidup yang dibaktikan itu: yaitu agar mereka memberikan kesaksian akan iman trinitaris . onfessio trinitari. , menampakkan tanda persaudaraan dalam persekutuan Gereja . ignum fraternitati. dan mempraktekkan pelayanan kasih . ervitio caritati. Jadi di mana hidup bakti dipraktekkan, di sana ditampakkan inti Gereja itu sendiri. Dalam bukunya mengenai kaul kekal. Karl Rahner menyinggung juga keterkaitan antara berkaul dan hakikat Gereja:(Rahner 1. Rahner mengajukan pertanyaan, apa yang terjadi pada kaul kekal, ketika orang mengatakan ya untuk seumur hidup dengan kaul-kaul kebiaraannya. Menurutnya, kaul bukan hanya terjadi di dalam Gereja. Gereja bukan hanya kelompok yang menaungi kejadian berkaul . palagi kalau dimengerti sempit lagi: kaul hanya di dalam tarekat, tarekat yang menaunginy. Rahner mengerti terbalik: Kaul bukan terjadi dalam Gereja, melainkan Gereja terjadi dalam peristiwa kaul itu. Ada peristiwa (Ereigni. yang menyentuh hakekat Gereja. Gereja menjadi nyata karenanya. Rahner jelas memahami kaul sebagai peristiwa Gereja justru karena di sana ada peristiwa panggilan Allah. Dalam setiap peristiwa kaul terdapat rahasia Allah yang mau dikenang dan Kaul mengungkapkan tanggapan penuh iman dan penuh cinta dari seseorang yang mengalami Allah yang hadir dalam hidup. Ada Yesus Kristus yang memungkinkan semua itu. Dia itu jalan masuk kepada Allah tetapi juga pemberian diri Allah yang seutuhnya. Ada persekutuan, ada persaudaraan, karena itulah yang terjadi: ada saudara-saudara yang koncern dengan kehendak Allah. Secara itu terjadilah Gereja. Inilah peristiwa simbolik, yaitu bahwa peristiwa kaul menjadikan ciri sakramental Gereja nampak, serentak bersama dengan ciri kenabian dan ciri kontemplatifnya. Dalam point inilah nampak sebuah alasan mendasar mengapa Gereja harus bertanggung jawab terhadap hidup panggilan. Jawabannya adalah karena panggilan dan bentuk-bentuk hidup panggilan berhubungan dengan keberadaannya yang paling dasar. Itulah cara Gereja bereksistensi seturut panggilan dasarnya sebagai Tubuh Kristus dan Umat Allah. Menyuburkan bentuk-bentuk hidup panggilan, sama saja dengan menyuburkan dirinya Dengan demikian juga sama dengan menguatkan dirinya sendiri. Jawaban anggota Gereja terhadap panggilan Tuhan sebagai peristiwa hakiki ini dapat dibandingkan dengan Ekaristi sebagai peristiwa AomenjadinyaAo Gereja, sebagaimana diungkapkan dalam dokumen Ecclesia de Eucharistia. (Yohanes Paulus II 2003, para. Dalam konteks Ekklesiologi Ekaristi, partisipasi seluruh anggota Gereja dalam peristiwa ekaristi adalah peristiwa Gereja, bukan hanya karena ekaristi dibuat di dalam dan oleh Gereja, melainkan juga terutama karena dengan merayakan Ekaristi. Gereja merayakan peristiwa kejadian Gereja itu sendiri. ATak henti-hentinya Gereja menerima hidupnya dari kurban penyelamatan ini. Ia menghampirinya bukan hanya lewat peringatan penuh iman, melainkan juga lewat kontak nyata, justru karena kurban ini senantiasa dihadirkan baru, dilestarikan secara sakramental, dalam setiap komunitas yang mempersembahkannya lewat tangan pelayan tertahbisAu(Yohanes Paulus II 2003, para. Ekaristi mempersatukan seluruh umat dalam persekutuan dan secara demikian juga menumbuhkan Gereja. Begitu pun, di mana anggota menghidupi panggilan Gereja melalui cara hidup yang khusus dan intensif, sehingga memperteguh persekutuan communio, di sana Gereja menjadi. Tanggung jawab Gereja terhadap Panggilan Kalau hidup panggilan berhubungan dengan essensi dan eksistensi Gereja sendiri, maka bisa dimengerti bahwa tanggungjawab menumbuhkan panggilan merupakan tanggung jawab Gereja seluruhnya. Pesan itu juga disampaikan oleh Paus Benediktus XVI baru-baru dalam pesannya untuk Minggu Panggilan ke 48 tanggal 15 Mei 2011, khususnya ketika ia menekankan tanggung jawab Gereja lokal untuk itu: AuKemampuan untuk mempromosikan panggilan merupakan tanda vitalitas dari Gereja Lokal. Ay(Benedict XVI 2. Seruan ini tidak bisa disangkal lagi merupakan kesadaran Gereja sepanjang masa. Pendahulunya, yaitu Paus Benediktus XV telah Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 menyinggung kemendesakan Gereja Lokal untuk menumbuhkan panggilan imam pribumi sebagai ciri kemandiriannya dalam ensiklik Maximum Illud yang diterbitkan tahun 1919. (Benediktus XV 2. Ia memerintahkan kepada Kongregrasi Propaganda Fide untuk mendirikan seminari-seminari dan memperhatikan formatio seminaris di daerah-daerah misi. AuDi mana ada jumlah yang cukup imam-imam pribumi yang terdidik dengan baik dan pantas dalam panggilan sucinya, di situ Gereja dapat dikatakan dibangun dengan baik, dan karya misioner tercapaiAy (MI . (Benediktus XV 2019, para. Konsili Vatikan II yang sering dijuluki sebagai sebagai Asebuah peristiwa rahmat dan ungkapan terbesar dari bimbingan pastoral Gereja pada abad iniAu(Congregration for Institutes of Consecrated Life and Societies of Apostolic Life 1. mengangkat tanggung jawab ini dalam berbagai macam dokumennya seperti Gaudium et Spes. Perfectae Caritatis dan Optatam Totius. Dokumen Perfectae Caritatis yang berbicara tentang pembaharuan hidup religius menyebut para imam, pendidik kristen, orang tua dan lembaga-lembaga hidup bakti harus berpartisipasi dalam tanggung jawab ini, namun kesaksian hidup para anggota ditekankan secara khusus: Imam-imam dan pendidik kristen harus berusaha sungguh-sungguh untuk menumbuhkan panggilan kebiaraan. Juga dalam pewartaan sehari-hari harus lebih sering dibahas nasehat-nasehat Injil dan hidup dalam status kebiaraan. Dengan mendidik puteraputerinya dalam susila kristen, para orang tua hendaknya memupuk serta melindungi panggilan kebiaraan di dalam hati mereka. Lembaga-lembaga berhak menyebarkan informasi tentang dirinya, dalam rangka memupuk panggilan dan mencari calon, sejauh hal itu terjadi dengan bijaksana dan wajar, sambil memperhatikan kaidah-kaidah yang diberikan Takhta Suci dan waligereja setempat. Namun para anggota harus sadar, bahwa teladan hidupnya sendiri merupakan anjuran yang paling baik bagi lembaganya dan undangan untuk memeluk hidup kebiaraan (PC . (Konsili Vatikan II 1. Dokumen Optatam Totius yang berbicara khusus tentang pendidikan imam, menegaskan hal yang AyTugas memupuk panggilan terletak di pundak seluruh umat Kristen, yang harus memajukannya terutama dengan kehidupan yang benar-benar KristenAy (OT . Optatam Totius mengingatkan bahwa seluruh jemaat bertanggung jawab untuk mempromosikan panggilan imamat. Secara khusus disebutkan siapa-siapa yang harus terlibat dan bertanggung jawab dalam reksa panggilan: Keluarga-keluarga: yang dengan semangat iman, cinta kasih dan kesalehan menjadi bagaikan seminari Paroki-paroki: dengan mengikutsertakan para remaja sendiri dalam kehidupannya yang melimpah Guru (Kateki. dan para pendidik kaum muda, dan khususnya serikat-serikat katolik yang harus membina remaja sedemikian sehingga mereka dapat mendengar panggilan ilahi dan mengikutinya dengan suka Imam. dengan menunjukkan kerajinan seorang rasul dalam memupuk panggilan, dan dengan demikian menarik para remaja kepada imamat. Kehidupan imam-imam ini hendaknya dihayati dengan rendah hati, giat dan gembira, dengan saling cinta sebagai imam dan kerjasama yang baik dengan saudara-saudara Tugas Uskup untuk menggiatkan panggilan: yaitu dengan menggiatkan kawanannya dan mengusahakan perpaduan yang erat antara semua tenaga dan usaha. Disebut juga beberapa sarana usaha yang dianjurkan Konsili terutama doa yang tekun, pertobatan kristen dan pendidikan umat kristen yang makin hari makin mendalam, yang diberikan lewat pewartaan dan katekese, maupun lewat bermacam-macam alat komunikasi sosial. (Optatam Totius 1965, para. Tanggung jawab untuk hidup panggilan bukan hanya terjadi di sekitar awal perjalanan, tetapi juga di sekitar pemeliharaan panggilan itu sendiri. Konsili tak henti-hentinya menyinggung pentingnya pembinaan yang menyeluruh dan integral bagi yang mereka terpanggil. Karena itu diperlukan kerjasama yang baik bersama-sama semua umat beriman dengan segala keahliannya: psikologi, kultural dan sosiologis selain pendidikan yang menyangkut pengetahuan dan pertumbuhan iman itu sendiri . OT). Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 PENUTUP Pembicaraan tentang kerasulan panggilan dalam kacamata ekklesiologi menghantar kita pada beberapa kesimpulan berikut: Pertama, panggilan itu bukan suatu pokok periferial dalam Gereja. Panggilan adalah sebuah pokok yang menyangkut baik essensi dan eksistensi dari Gereja. Dengan kata lain pokok yang menyangkut identitas hakiki Gereja. Di dalam kehidupan keterpanggilan yang dihayati sungguh-sungguh itu. Gereja yang sesungguhnya menjadi nampak: bahwa ia adalah Tubuh Kristus, bahwa ia adalah Umat Allah yang terpanggil dan diutus di dunia ini dan yang sumber hidup baktinya berasal dari kontemplasi dalam persekutuan Allah Tritunggal dan arahnya adalah masuk ke dalam persekutuan itu secara makin dalam agar Kerajaannya menjadi makin penuh. Kedua, karena Panggilan bersangkut paut dengan jatidiri Gereja, maka promosi panggilan juga harus disertai pendalaman terhadap misteri dan identitas Gereja itu sendiri. Dalam konteks Gereja Tubuh Kristus misalnya, kita perlu meningkatkan rasa keterpautan antara Gereja dan Kristus, antara si terpanggil dengan Dia yang memanggilnya, sebab panggilan pada dasarnya bersifat sakramental, sesuai hakekat Gereja sebagai Sakramen. Maka pendalaman akan misteri Gereja, usaha menemukan dan memperkenalkan kekayaan misterial Gereja harus dibuat sedemikian, agar kekayaan itu bisa bukan hanya diketahui tetapi juga dihidupi dan dibanggakan oleh setiap anggota Gereja. Begitupun berkaitan dengan identitas Gereja sebagai Umat Allah, sebagai hamba yang melayani di dunia, menuntut usaha sedemikian agar orang sungguh melihat panenan dengan gembira. Sebab kegembiraan akan perutusan yang dilaksanakan dalam kolegialitas dan komunitas akan menggerakkan ketergerakan hati untuk terlibat dalam karya di ladang Tuhan ini. Kesaksian hidup yang menggembirakan dari orang-orang yang sudah lebih dulu menjalani panggilannya dalam Gereja pastilah akan merupakan daya promosi yang kuat bagi generasi Kita menyadari bahwa promosi panggilan mencakup baik keterbukaan akan penyelenggaraan Tuhan maupun kesiapsediaan untuk ambil bagian dalam pekerjaan panenan. AyPanggilan untuk imamat dan hidup bakti pertama-tama dan terutama merupakan buah dari kontak yang terus-menerus dengan Allah yang hidup dan doa permohonan yang diangkat kepada Tuan yang empunya panenan, baik di komunitas paroki, dalam keluarga Kristen dan dalam kelompok-kelompok yang membaktikan diri secara khusus bagi doa untuk Ay(Benediktus XVI 2. Ketiga, justru karena kegiatan promosi panggilan adalah kegiatan hakiki Gereja, maka promosi panggilan tidak boleh tidak harus menyentuh locus ecclesiologis, yaitu pusat-pusat peristiwa gerejani maupun jantung hati Gereja di mana hakikat Gereja nampak paling nyata. Pusat-pusat peristiwa misalnya saat Gereja berkumpul merayakan ekaristi, atau saat Gereja melalui pelayanan sakramen menyatakan kehadiran Kristus yang menyelamatkan: sakramen pernikahan, sakramen orang sakit, pengakuan dosa dan sebagainya. Hal ini menuntut pelayanan sepenuh hati dari para pelayan. Dengan kata lain sebuah hidup yang sungguh-sungguh memberi kesaksian akan misteri yang sementara dihadirkan. Sementara jantung hati Gereja mencakup komunitaskomunitas eklesial: komunitas basis gereja, paroki, keuskupan dan kelompok-kelompok kategorial serta Semakin komunitas-komunitas ini sungguh-sungguh menghadirkan Gereja, semakin kuatlah motivasi panggilan bisa dijamin. Menghidupkan komunitas-komunitas dan perayaan-perayaan imannya merupakan unsur mutlak untuk promosi panggilan. Keempat, keyakinan bahwa Gereja bukan hanya realitas manusiawi, dan perutusannya bukan hanya perutusan sendiri membuat kita tidak pernah boleh pesimis. Juga di dalam dunia kita dengan segala macam tantangannya yang semakin kompleks. Usaha mendorong panggilan itu sesuai dengan penyelenggaraan Tuhan (OT . AuTuhan tidak pernah akan gagal untuk memanggil orang-orangnya pada setiap tahap kehidupan untuk ambil bagian dalam misinya dan untuk melayani Gereja di dalam pelayanan tertabis dan dalam hidup bakti,Ay begitu ditegaskan Paus Benediktus XVI dalam pesan Minggu Panggilan ke-48. (Benediktus XVI 2. Paus mengatakan hal itu bukan sambil menutup mata terhadap tantangan dan kesulitan dewasa ini, di mana sering suara panggilan seperti tertutup oleh suara-suara yang lain, sehingga nampak sulit bagi setiap anggota Gereja untuk menyerahkan diri sepenuhnya untuk mengikuti Kristus. Diperlukan di sana tanggung jawab yang lebih lagi, agar orang-orang yang mempunyai tanda-tanda panggilan sungguh-sungguh dapat didukung oleh seluruh komunitas dan dimampukan untuk menjawab ya terhadap Allah dan Gereja. Jurnal fides Et Ratio Volume 9. Nomor 2. Desember 2024 KEPUSTAKAAN