Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap High Order Thinking Skill (Hot. Peserta Didik Di Kelas 4 SD Negeri Prajekan Kidul 2 Nur azizatun niza Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Abdurrachman Saleh Situbondo nurazizatuniza@gmail. Heldie Bramantha Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Abdurrachman Saleh Situbondo heldie_bramantha@unars. Aenor Rofek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Abdurrachman Saleh Situbondo aenor_rofek@unars. Abstrak Penelitian ini didasarkan dari berbagai permasalahan diantaranya: model pembelajaran yang kurang bervariasi tentang berfikir siswa yang sederhana dan faktor kelas yaitu dari kelas rendah ke kelas tinggi yang disebut kelas peralihan. Dimana kelas yang dipilih dalam penelitian ini adalah kelas 4, sehingga siswa memerlukan penyesuaian dalam tingkat Penelitian ini menggunakan metodelogi kuantitatif dan jenis quasi eksperimental Baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Random Sampling digunakan untuk memilih sampel penelitian. Eksplorasi ini bertujuan untuk mendapatkan data mengenai dampak penerapan model pembelajaran project based learning terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa pada pembelajaran IPA kelas 4 SD Negeri 2 Prajekan Kidul. Dengan rencana penelitian Posttes Only Control Group design penelitian ini diselesaikan. Berdasarkan hasil post test yang dilaksanakan peneliti pada kelas kontrol dengan model pembelajaran konvensional dan kelas eksperimen dengan model pembelajaran Project Based Learning menunjukkan jika pada kelas eksperimen mempunyai hasil yang lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Uji hipotesis yang dilakukan dengan data yang homogen menghasilkan T hitung . > T tabel . , yang dapat dinyatakan jika H0 ditolak dan Ha diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran Project Based Learning terhadap Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi siswa kelas 4 pada mata pelajaran IPA. Kata Kunci: Pembelajaran Project Based Learning 1. High Order Thinking Skill 2. The Influence of the Project Based Learning Model on High Order Thinking Skill (Hot. of Students in Class 4 of SD Negeri Prajekan Kidul 2 Abstract This research is based on various problems including: learning models that lack variety regarding simple student thinking and class factors, namely from low class to high class which is called the transition class. Where the class chosen in this research is class 4, so students need adjustments in their level of thinking. This research uses quantitative methodology and a type of quasi-experimental design. In both the control and experimental classes. Random Sampling was used to select research samples. This exploration aims to obtain data regarding the impact of implementing the project based learning model on students' higher order thinking abilities (HOTS) in grade 4 science learning at SD Negeri 2 Prajekan Kidul. With the Posttest Only Control Group research plan, the research design was completed. Based on the results of the post test carried out by researchers in the control class with the conventional learning model and the experimental class with the Project Based Learning learning model, it shows that the experimental class had higher results than the control class. Hypothesis testing carried out with homogeneous data produces T count . > T table . , which can be stated if H0 is rejected and Ha is accepted. So, it can be concluded that there is a significant influence of the Project Based Learning learning model on the Higher Level Thinking Skills of grade 4 students in science subjects. Keywords: Project Based Learning 1. High Order Thinking Skill 2. PENDAHULUAN Pendidikan adalah pembelajaran informasi, kemampuan, dan kecenderungan suatu kelompok yang diberikan pada umur setara, kemudian ke umur berikutnya melalui pendidikan, persiapan, atau penelitian. Mengingat Peraturan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Umum, pendidikan adalah suatu kegiatan yang terencana untuk menciptakan aktivitas belajar dan pengalaman pendidikan yang bertujuan agar peserta didik secara efektif menumbuhkan kemampuan dirinya untuk mempunyai tenaga, ketenangan, budi pekerti, wawasan, etika yang mulia, dan kemampuan yang diperlukan tanpa orang lain dan masyarakat, negara dan negara bagian. Jadi, pendidikan adalah sesuatu yang menghasilkan perubahan sikap dan Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai peran dan tugas yang sangat penting dalam menciptakan kualitas pembelajaran yang baik. Tenaga pengajar memiliki peran utama dalam pendidikan karena guru adalah orang yang menjalankan kegiatan pembelajaran. Kemajuan tujuan pembelajaran tidak seluruhnya ditentukan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi baik faktor luar maupun faktor dalam. Variabel dalam diri berasal dari siswa itu sendiri dalam mengikuti pengalaman pendidikannya, sedangkan faktor luar berasal dari bagaimana guru melaksanakan kegiatan pembelajaran. Menurut (Bramantha, 2. mendeskripsikan bahwa Belajar merupakan suatu gerakan yang dilakukan untuk menciptakan perubahan dalam pemikiran dan keilmuan siswa. Model pembelajaran yang imajinatif membuat siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pengalaman pendidikan. Model pembelajaran adalah suatu karya dan metodologi yang ditujukan untuk tujuan pembelajaran yang sukses dan Sejak dulu model pembelajaran yang sering digunakan biasanya selalu berpusat pada guru (Teacher Cente. dan tidak dengan pada kurikulum 2013 yang lebih mengkhususkan pembelajaran dilaksanakan dengan berpusat pada siswa (Student Cente. Pembelajaran IPA SD merupakan pembelajaran yang bertujuan untuk membahas materi IPA secara dasar. Pembelajaran IPA SD diharapkan minimal dapat mempelajari keterampilan proses dasar IPA siswa wajib dikembangkan dalam proses pembelajaran IPA (Kumala, 2. Permasalahan tersebut disebabkan kemampuan siswa yang masih kurang mampu untuk berfikir secara mendalam tentang konsep IPA secara luas maka, siswa hanya perlu mempelajari secara dasar tentang keterampilan IPA secara sederhana. Di Sekolah Dasar terdapat kelas rendah dan kelas tinggi yang sama-sama mempelajari tentang pembelajaran IPA. Tingkat berfikir yang tinggi dapat dikategorikan dengan kemampuan berfikir tingkat tinggi atau dikenal dengan High Order Thinking Skill (HOTS). Kemampuan tersebut perlu dilatih agar peserta didik terbiasa untuk menyelesaikan permasalahan yang rumit dengan baik. Keterampilan berfikir tingkat tinggi terdiri dari kegiatan berfikir kreatif, keterampilan memecahkan masalah, berfikir kritis, mengambil keputusan dan keterampilan berargumen (Purba, 2. Keterampilan berfikir tingkat tinggi terdapat pada tingkatan C4. C5 dan C6 yaitu menganalisis, mengevaluasi dan mencipta yang termasuk dalam taksonomi bloom. Cara yang mampu menciptakan High Order Thinking Skill adalah dengan menggunakan model pembelajaran berbasis projek (Project Based Learning Mode. Model pembelajaran berbasis kegaiatan praktek merupakan model pembelajaran yang didalamnya terdapat latihan berpikir kritis dengan memanfaatkan media. Menurut Mahtumi . menyatakan model pembelajaran Project Based Learning merupakan model pembelajaran imajinatif di mana siswa diberi kesempatan untuk bekerja secara bebas dalam membuat pembelajaran mereka melalui pandangan dunia pembelajaran yang baru dan berfokus pada siswa, yang memposisikan guru sebagai inspiratif dan fasilitator. Dari pengamatan yang dilakukan di SDN Prajekan Kidul 2. Peneliti memilih pengamatan di kelas 4 sebab kelas 4 merupakan kelas peralihan dari kelas rendah ke kelas tinggi yang dimana pastinya mengalami banyak permasalahan yang Dari Penjabaran permasalahan yang ditemukan dapat disimpulkan, ada beberapa masalah seperti permasalahan yang berasal internal dan eksternal. Permasalahan internal yang terjadi berupa kurangnya keafktifan dan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran, tidak mengulangi kembali pembelajaran yang dipelajari disekolah dan yang lainnya. Permasalahan eksternal berupa kurangnya pembelajaran yang variatif dengan menggunakan model yang melibatkan siswa secara langsung, media yang digunakan kurang menarik perhatian siswa, dan penggunaan metode pembelajaran konvensional dengan metode ceramah. Semua permasalahan tersebut membuat berfikir siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks menjadi kurang bagus. Dari masalah yang terjadi dapat diatasi dengan model pembelajaran Project Based Learning. Hal tersebut juga terdapat dalam kurikulum 2013 menurut Kemendikbud . yang menyatakan bahwa: Project Based Learning. Problem based learning dan discovery learning merupakan model pembelajaran yang disarankan untuk pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti ingin memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut dengan melakukan penelitian berjudul AuPengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap High Order Thinking Skill (HOTS) Peserta Didik Dalam Pembelajaran IPA di Kelas 4 SD Negeri Prajekan Kidul 2Ay. Seseorang mempunyai keterampilan berfikir dalam menyelesaikan permasalahan yang dimiliki. Keterampilan dalam mencari solusi dari permasalahan yang terjadi tidaklah mudah apabila orang tersebut belum terampil dalam memecahkan masalah. Masalah dapat terselesaikan dengan keterampilan berfikir tingkat tinggi. Keterampilan berfikir tingkat tinggi atau dalam bahasa inggris yaitu High Order Thinking Skill sebaiknya dimiliki oleh peserta didik agar mampu menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari atau yang ada Seseorang bisa dikatakan masuk dalam kriteria keterampilan berfikir tingkat tinggi apabila mereka mampu mengambil keputusan secara logis, berfikir kritis serta mempunyai pengetahuan yang berhubungan dengan permasalahan yang terjadi. Menurut Sani . menyatakan bahwa berfikir kritis adalah pola berfikir konvergen, sedangkan berfikir kreatif adalah pola berfikir divergen. Pola berfikir konvergen merupakan pola pikir yang fokus pada persoalan yang sedang Pola berfikir divergen merupakan pola pikir yang menggunakan banyak informasi. Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Mukarrama . menyatakan bahwa Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi memasuki fase kemampuan berpikir kritis, kemampuan penalaran menentukan (Decisive Reasonin. Penalaran inovatif . enalaran imajinati. , kemampuan bersaing . , dan kemampuan mengambil keputusan secara sederhana . engarahan Menurut Rusydiana . HOTS merupakan sesuatu yang patut dipandang sebagai untuk mengembangkan kemampuan nalar tegas dalam menangani permasalahan yang rumit. Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa High Order Thinking Skill merupakan keterampilan berfikir secara kritis, logis kreatif dan dapat mencari penyelesaian dari permasalahan yang Indikator HOTS merupakan ciri-ciri yang menentukan sesorang sudah dapat dikategorikan memiliki keterampilan High Order Thinking Skill. Di dalam Taksonomi Bloom. HOTS merupakan bagian dari ranah kognitif. Bloom juga menyatakan indikator HOTS yaitu menganalisis (C. Mengevaluasi (C. dan mencipta/berkreasi (C. Dari Taksonomi Bloom. Ansari & Abdullah . mendeskripsikan bahwa indikator HOTS sebagai berikut: Tabel 1. Indikator HOTS Menganalisis Mengevaluasi Mengkreasi Menganalisis data yang diterima dan mengelompokkan informasi menjadi lebih sederhana agar bias mengenali Dapat mengetahui dan membedakan penyebab serta akibat dari skenaria yang rumit. Membuat pertanyaan. Menyampaikan penilaian terhadap pengaturan, pemikiran dan strategi dengan menggunakan model yang sesuai atau pedoman yang ada untuk menjamin kelangsungan atau manfaatnya. Memberikan spekulasi, mencermati dan melakukan pengujian. Mengakui atau menolak pernyataan sehubungan dengan tindakan yang telah ditetapkan Memberikan spekulasi pemikiran atau sudut pandang terhadap suatu permasalahan. Rencanakan metode untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan tersebut. Mengkoordinasikan komponen atau bagian ke dalam desain lain yang belum pernah ada Memperkirakan tingkat kemampuan penalaran yang tidak dapat disangkal, mengingat permasalahan yang berorientasi pada konteks, bukan praktik sehari- hari, dan memanfaatkan berbagai jenis pertanyaan adalah ciri-ciri HOTS (Fanani. Dari pernyataan diatas menjelaskan bahwa permasalahan dalam HOTS biasanya berhubungan dengan pengalaman nyata siswa yang kemudian di uji dengan berbagai bentuk soal. Berbagai masalah yang disajikan oleh pendidik melatih siswa untuk berfikir dan menyelesaikan permasalahan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa HOTS adalah nteraksi yang terjadi dalam diri individu yang digambarkan dengan beberapa sifat sebagai berikut . Mencakup lebih dari satu respon yang benar yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah: . Berbicara tentang tingkat pemahaman terhadap suatu . Ditandai dengan tugas yang kompleks, yang tidak dapat dapat diselesaikan secara sederhana. Bebas konten dan sekaligus content related. Austik, (Zaini, et al. , 2. Berdasarkan pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa HOTS merupakan solusi dari masalah yang berhubungan dengan pengalaman nyata siswa dengan tingkat permasalahan yang tinggi. Pembelajaran Berbasis Proyek menjadi pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai penghibur utama dalam pengalaman yang sedang berkembang dan pendidik sebagai pengatur dalam pembelajaran. Model pembelajaran Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang melibatkan permasalahan sebagai fase mendasar pembelajaran dan menjadikan proyek sebagai tahap terakhir (Hidayat, 2. Sedangkan menurut (Murfiah, 2017:. Pembelajaran Project Based Learning merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan persoalanpersoalan sebagai fase terpenting dalam mengumpulkan dan menguraikan informasi baru mengingat keterlibatan dengan latihan-latihan asli. Project Based Learning model pembelajaran yang didalamnya menggunakan proyek sebagai bentuk penyelesaian masalah yang diberikan. Langkah-langkah memahami pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebagai berikut: Fase 1: mengamati fase 6: menguji hasil dan mengevaluasi pengalaman fase 2: menentukan pertanyaan mendasar fase 5:memonitor siswa dan kemajuan fase 3: mendesain fase 4: jadwal proyek Gambar 1. Langkah-langkah PjBL Gaya merupakan tarikan dan dorongan. Tanpa disadari setiap saat kita melakukan Gaya dalam beraktivitas. Pada saat menutup atau membuka pintu sudah dapat dikatakan jika kita sudah melalukan Gaya. Dari peristiwa membuka dan menutup pintu dapat menunjukkan bahwa Gaya menyebabkan benda diam menjadi bergerak. Gaya yang dilakukan tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan pengaruhnya. Selain contoh tersebut, pengaruh Gaya dapat juga dapata diamati dari peristiwa mendorong meja, menendang bola, menangkap bola, melempar batu, serta mengayuh sepeda dan lain-lain. Pengaruh Gaya selain membuat benda bergerak Gaya juga dapat mempengaruhi benda bergerak menjadi diam. Dalam hidup kita sering mengalami Gaya yang berbeda-beda. Gaya terdiri dari beberapa macam, yaitu Gaya pegas. Gaya listrik. Gaya tarik menarik. Gaya gravitasi. Gaya gesek, dan Gaya otot. Gaya terdiri dari beberapa jenis yaitu: Gaya pegas. Gaya listrik. Gaya magnet. Gaya gravitasi. Gaya gesek dan Gaya otot. Selain itu, juga ada hubungan Gaya dan gerak yang terdiri dari: pengaruh Gaya terhadap gerak benda, pengaruh Gaya terhadap bentuk benda, dan pengaruh Gaya dapat mengubah arah benda atau kecepatan benda. METODE PENELITIAN Dengan menggunakan jenis penelitian eksperimen, penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Sugiyono . menyatakan bahwa jenis penelitian eksperimen adalah suatu metode eksperimen kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas . terhadap variabel terikat . dalam kondisi terkendali. Penelitian eksperimen ini menggunakan Beetwin Grup design karena lebih mudah untuk menyesuaikan dengan kondisi sekolah. Jenis penelitian tersebut menggunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penelitian ini menggunakan Posttes Only Control Group design. Desain penelitian yang dilaksanakan menggunakan posttest atau tes akhir yang kemudian dari tes tersebut dianalisis untuk melihat pengaruhnya. Sedangkan untuk data awal penelitian ini diambil dari nilai harian siswa. Posttes Only Control Group design dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut: Tabel 2. Desain Penelitian Kolompok Perlakuan Postes Kelas Ekperimen Kelas Kontrol Populasi dalam tinjauan ini diambil dari jumlah lengkap siswa kelas IV SD Negeri Prajekan Kidul 2 yang berjumlah 28 siswa. Sampel penelitian ini terdiri dari siswa kelas IV B SDN Prajekan Kidul 2 Kabupaten Bondowoso tahun ajaran 2022Ae Kelas yang digunakan sebagai kelas kontrol dalam eksplorasi ini adalah kelas IV dengan jumlah siswa sebanyak 14 orang. Dengan jumlah siswa 14 orang, kelas IVB dijadikan sebagai tempat eksperimen. Pemeriksaan ini melibatkan instrumen penelitian berupa pengumpulan informasi, instrumen tes, instrumen dokumentasi dan pertemuan. Instrumen tes yang digunakan terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk mengetahui apakah instrumen yang dibuat memenuhi syarat atau tidak. Selanjutnya dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terlebih Uji normalitas menggunakan liferor dan uji homogenitas menggunakan uji Fisher. Tes kedua dilakukan sebagai syarat analisis informasi. Setelah itu dilakukan uji hipotesis penelitian untuk mengetahui hasil penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan Microsof Excel 2010 dengan menggunakan rumus sebagai berikut: yc= ycUI1 Oe ycUI2 . cu Oe . cu2 Oe . yc22 1 1 Oo 1 . cu yc. ycu1 ycu2 Oe 2 Aturan pengujiannya adalah apabila t tabel > t hitung maka Ho diakui dan Ha ditolak, sedangkan apabila t tabel < t hitung maka Ho ditolak dan Ha diakui pada taraf kepentingan = 0. 05 dan dengan derajat kebebasan/dk n_1 n_2-2. HASIL DAN PEMBAHASAN Instrumen dalam penelitian merupakan sesuatu yang penting yang memerlukan analisis agar dapat menghasilkan data yang valid. Adanya data yang sudah valid mempermudah peneliti untuk mengetahui hasil penelitian yang Pada sebuah penelitian, kita menguji instrument yang diberikan kepada siswa. Dua puluh siswa SD Prajekan Kidul 2 kelas V ikut serta dalam pengujian penelitian ini. Konsekuensi dari pengujian ini menghasilkan uji coba yang layak terhadap uji validitas dan uji reliabilitas yang menjadi standar. Uji validitas dilaksanakan dengan menggunakan Microsoft Excel 2010. Mengingat hasil perhitungan yang dilakukan oleh para ilmuwan, nilai pengujian berada di antara 0. 662 dengan rtabel 0. Uji ketergantungan menghasilkan rhitung sebesar 0,841 dan nilai rtabel sebesar 0. Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa jika r hitung > r tabel maka seluruh soal tes yang digunakan dinyatakan substansial. Tabel 3. Hasil uji validitas soal post test No. r table r hitung 0,554 0,542 0,538 -0,088 0,609 0,507 0,495 0,486 0,475 0,662 0,448 0,495 0,575 0,563 0,515 -0,211 0,565 -0,028 0,549 0,662 0,487 0,536 0,565 0,042 0,597 Keterangan Valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Berikut tabel hasil uji reliabilitas yang telah dilakukan oleh ahli terhadap instrumen uji yang menjadi alat untuk mengetahui hasil penelitian: Tabel 4. Hasil Uji reliabilitas soal post test Reliabilitas r hitung r tabel Hasil uji 0,841 0,443 Keterangan Reliabel Dari data yang diperoleh maka instrument tersebut dapat dikatakan reliable sebab memenuhi kriteria reliable yaitu diatas 0. Mengingat tes yang diselesaikan pada siswa kelas 4, kelas kontrol memiliki skor rata-rata 62. 5 dan kelas eksperimen memiliki skor rata-rata 76. Rata-rata kedua kelas tersebut menunjukkan bahwa kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Project Based Learning lebih paham serta mempunyai nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hasil uji keteraturan menunjukkan informasi tersebar dengan nilai Fhitung < Ftabel dan konsekuensi uji homogenitas menyatakan informasi tersebut merupakan informasi homogen dengan Fhitung < Ftabel. Setelah uji normalitas dan homogenitas selesai, ahli kemudian melakukan uji spekulasi. Hasil pengujian spekulatif diperoleh thitung . > ttabel . yang menyatakan terdapat pengaruh yang sangat besar dari penggunaan model pembelajaran project based learning terhadap Kemampuan Berpikir High Demand siswa. Berdasarkan penjabaran tersebut dapat dibuktikan jika terdapat prinsip Project Based Learning yang diperoleh dan bermanfaat untuk melatih High Order Thinking Skill peserta didik dan pendidik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan RifaAoI, et al. , . 2:95-. yang menyatakan 5 prinsip-prinsip yang ada dalam pembelajaran Project Based Learning seperti prinsip sentralistis, prinsip pendorong, prinsip investigasi kontruktif, prinsip otonomi dan prinsip realistis. Tingkat kemampuan penalaran siswa yang tidak dapat dipungkiri dalam pengalaman pendidikan dengan menggunakan model Project Based Learning juga seluruhnya terlihat dari kegairahan siswa dalam menangani permasalahan yang diberikan oleh pendidik. Selain itu, siswa mampu mengerjakan post-test dengan baik dan mendapatkan nilai yang tinggi. Penelitian ini sudah mencapai hasil yang diingikan oleh peneliti yaitu sebagai berikut: Meningkatnya berfikir siswa dari berfikir secara sederhana menjadi berfikir yang lebih kritis Bertambahnya pengetahuan siswa dalam menyelesaikan berbagai Ada komunikasi yang dinamis antara siswa dan pendidik dan antara siswa dan siswa dalam pengalaman pendidikan. Penemuan-penemuan dalam eksplorasi ini atau lingkungan yang menarik sehubungan dengan model pembelajaran Pemahaman Berbasis Proyek adalah: Selama pengalaman pendidikan, siswa mempelajari ide-ide pusat melalui Selain itu, memusatkan perhatiannya pada proyek yang dilakukan yang artinya kegiatan tersebut masuk dalam prinsip sentralistis. Ketika siswa mulai berkonsentrasi mencari jawaban atas pertanyaan atau permasalahan guru. Siswa terhibur dengan kesulitan-kesulitan atau persoalan-persoalan yang disampaikan oleh pendidik dengan menarik. Dari sini cenderung diurutkan ke dalam pedoman mengarahkan yang tanpa disadari siswa mencoba untuk menjawabnya. Peserta didik juga diajak untuk membuat perencanaan seperti menyiapkan alat dan bahan dalam proyek yang dibuat untuk penyelesaian permasalahan. Kegiatan tersebut termasuk dalam prinsip Investigasi Konstruktif. Pada saat pelaksaanan proyek siswa bekerja secara bertanggung jawab dan bekerjasama untuk menyelesaikan proyek yang telah direncanakan. Dalam kegiatan tersebut dapat digolongkan pada prinsip otonomi. Dengan adanya kegiatan pembelajaran dengan menggunakan proyek dapat memberikan peluang nyata untuk pertumbuhan bagi siswa yang dimana peserta didik dapat berfikir secara realistis. Hal ini termasuk dalam prinsip Berdasarkan penjabaran tersebut dapat dilihat jika terdapat prinsip Project Based Learning yang diperoleh dan bermanfaat untuk melatih High Order Thinking Skill peserta didik dan pendidik dalam mencapai tujuan pendidikan. Prinsipprinsip tersebut sejalan dengan RifaAoI, et al. , . 2:95-. yang menyatakan 5 prinsip-prinsip yang ada dalam pembelajaran Project Based Learning seperti prinsip sentralistis, prinsip pendorong, prinsip investigasi kontruktif, prinsip otonomi dan prinsip realistis. SIMPULAN Siswa dapat belajar dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning untuk mampu mengasah High Order Thinking Skill atau Bahasa Indonesia keterampilan berfikir kritis. Kemampuan siswa untuk berpikir pada tingkat yang lebih tinggi dapat memberdayakan siswa dalam menjawab permasalahan yang diberikan oleh pendidik atau permasalahan yang ditanyakan. Hal tersebut dapat diperkuat dan dibuktikan oleh pengujian hipotesis yang dilakukan oleh peneliti yang hasilnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat besar dari penggunaan model pembelajaran berbasis proyek terhadap Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Selain akibat dari tes hipotesis, adanya dampak juga ditunjukkan oleh akibat dari post-test yang dilakukan pada akhir contoh yang menunjukkan bahwa kelas uji coba adalah kelas IVB dengan nilai rata-rata nilal 76. 28 dari pada kelas kontrol yaitu kelas IVA dengan nilai rata-rata Hasil uji hipotesis memperoleh nilai signifikan bahwa Thitung . > Ttabel . yang memiliki maksud t hitung lebih besar dari t tabel sehingga Ha diterima dan Ho di tolak. Sehingga, terdapat pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran Project Based Learning terhadap High Order Thinking Skill. REFERENSI