EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational PENDEKATAN HUMANISTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA BERBASIS PSIKOSOSIAL LITERASI KUSTYARINI1. ETTY UMAMY2 Prodi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia. Universitas Wisnuwardhana Malang e-mail: kustyarinireinanda@gmail. com1, ettyumamy2@gmail. ABSTRAK Pendidikan berbasis psikososioliterasi merupakan aspek penting dari pendekatan humanis terhadap pembelajaran di sekolah, yang berfokus pada menghubungkan materi pengajaran dengan situasi kehidupan nyata siswa dan kondisi psikologis sosiologis. Pendekatan ini mendorong siswa untuk menghubungkan pengetahuan mereka dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran terjadi secara alami melalui kegiatan kerja dan pengalaman siswa, bukan transfer pengetahuan. Pedagogi psikososial sangat penting untuk pendidikan karakter, karena membantu guru meningkatkan pemahaman mereka tentang pengajaran dan melacak kualitas pengajaran mereka melalui refleksi kritis. Pembelajaran bahasa harus komprehensif dan terintegrasi, yang melibatkan pemilihan konteks dan pengalaman pribadi yang cermat. Pendekatan ini mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan reflektif, menumbuhkan lingkungan sosial yang mendukung, dan meningkatkan komitmen untuk belajar. Kata Kunci: humanis. Bahasa, psikososial, literasi ABSTRACT Psychosocioliteracy-based education is a crucial aspect of the humanist approach to learning in schools, focusing on linking teaching material with students' real-life situations and sociological psychological conditions. This approach encourages students to connect their knowledge with their lives as family and society members. Learning outcomes occur naturally through student work and experience activities, rather than knowledge transfer. Psychosocial pedagogy is essential for character education, as it helps teachers improve their understanding of teaching and trace the quality of their teaching through critical reflection. Language learning should be comprehensive and integrated, involving careful selection of context and personal experience. This approach encourages students to develop reflective abilities and skills, fostering a supportive social environment and promoting a commitment to learning. Keywords: humanism, language, psychosocial, literacy PENDAHULUAN Sejak manusia dilahirkan, pada dasarnya potensi untuk belajar sudah ada. Hal ini merujuk pada teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Jean Piaget bahwa perkembangan kognitif manusia dalam hal ini belajar sudah muncul sejak kelahirannya. Permulaan belajar manusia yang sudah ada sejak dilahirkan tersebut akan terus berkembang sampai pada usia kematangan dan terus akan berkembang selagi manusia atau individu tersebut dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Manusia dalam belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan . , akan tetapi dipengaruhi oleh lingkungannya juga. Asumsi inilah yang pada akhirnya memunculkan teori belajar behavioristik yang masingmasing dikembangkan oleh Pavlov dan Skiner. Belajar menurut behavioristik adalah perubahan perilaku yang terjadi melalui proses stimulus dan respon yang bersifat mekanis. Oleh kerena itu, lingkungan yang sistematis, teratur, dan terencana dapat memberikan pengaruh . yang baik sehingga manusia bereaksi terhadap stimulus tersebut dan memberikan respon yang Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Mengacu pada teori perkembangan kognitif Piaget maupun behavioristik Pavlov dan Skiner, memberikan pemahaman bahwa manusia dalam menjalani hidup selalu senantiasa akan bersentuhan dengan pendidikan yang di dalamnya terdapat muatan belajar dan akan selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, pendidikan dan pembelajaran di sekolah hendaknya diperbaiki dan diperbaharui sehingga memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat manusia. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada aspek-aspek kemanusiaan yang perlu ditumbuhkembangkan pada diri siswa. Semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah semestinya harus dapat mengembangkan potensi siswa secara optimal sehingga bermanfaat baginya, bagi masyarakat dan dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan tidak hanya berfokus pada bidang-bidang tertentu saja, namun juga mencakup pendidikan bahasa. Berkat sarana bahasalah seseorang dapat mempelajari bidangbidang yang lain. Oleh karena itu, belajar bahasa hendaknya fungsional, di samping menguasai kaidah bahasa, juga harus dapat menggunakannya untuk berbagai keperluan, termasuk untuk mengembangkan karakter yang baik, budi pekerti luhur, atau akhlak yang mulia. Tujuan pemelajaran bahasa dan sastra Indonesia seperti yang tertuang dalam kurikulum 2013 di antaranya adalah peserta didik menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk. Oleh karena itu pula, pemelajaran bahasa tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah. Antara keterampilan yang satu dengan keterampilan yang lain hendaknya diajarkan secara Seperti yang sudah dikemukakan di atas, untuk mengembangkan potensi siswa secara optimal dapat dilakukan salah satu di antaranya adalah belajar bahasa . Di antara semua bidang linguistik terapan, bidang pembelajaran bahasa ibu dan bahasa asing merupakan bidang yang sudah mantap perkembangannya karena pembelajaran bahasa mempunyai daya jual yang tinggi dan diperlukan masyarakat. Pengetahuan linguistik mengenai bentuk, makna, struktur, fungsi, dan variasi bahasa sangat diperlukan sebagai modal dasar pembelajaran Kegiatan pembelajaran bahasa merupakan upaya yang mengakibatkan siswa dapat mempelajari bahasa dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Suatu program pembelajaran bahasa yang menyeluruh dan terpadu tidak dapat melepaskan diri dari pemberian input kebahasaan dan aspek-aspek kebudayaan pada waktu yang bersamaan. Hal ini perlu dilakukan agar pelajar dapat mengaplikasikan kecakapan linguistik dan keterampilan berbahasa dalam suatu konteks budaya sebagaimana dianut oleh suatu masyarakat. Dalam proses belajar-mengajar bahasa ada sejumlah variabel, baik bersifat linguistik maupun yang bersifat nonlinguistik, yang dapat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar itu. Variabel-variabel itu bukan merupakan hal yang terlepas dan berdiri sendirisendiri, melainkan merupakan hal yang saling berhubungan, berkaitan, sehingga merupakan satu jaringan sistem. Keberhasilan belajar bahasa, yaitu yang disebut asas-asas belajar, yang dapat dikelompokkan menjadi asas-asas yang bersifat psikologis anak didik, dan yang bersifat materi linguistik. AsasCopyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational asas yang yang bersifat psikologis itu, antara lain adalah motivasi, pengalaman sendiri, keingintahuan, analisis sintesis dan pembedaan individual. Motivasi lazim diartikan sebagai hal yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Maka untuk berhasilnya pengajaran bahasa, murid-murid sudah harus dibimbing agar memiliki dorongan untuk belajar. Jika mereka mempunyai dorongan untuk belajar. Tanpa adanya kemauan, tak mungkin tujuan belajar dapat dicapai. Jadi, sebelum proses belajar mengajar dimulai, atau sebelum berlanjut terlalu jauh, sudah seharusnya murid-murid diarahkan. Pengalaman sendiri atau apa yang dialami sendiri akan lebih menarik dan berkesan daripada mengetahui dari orang, karena pengetahuan atau keterangan yang didapat dan dialami sendiri akan lebih baik daripada hanya mendengar keterangan guru. Keingintahuan merupakan kodrat manusia yang dapat menyebabkan manusia itu menjadi maju. Pada anak-anak usia sekolah rasa keingintahuan itu sangat besar. Rasa keingintahuan ini dapat dikembangkan dengan memberi kesempatan bertanya dengan meneliti apa saja. Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik. Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh dikatakan relatif masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yang relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan hal-hal yang bersifat positif tentang Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik ia adalah alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagi penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis. Psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik . umanistic Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistic. Aliran Psikologi Humanistik selalu mendorong peningkatan kualitas diri manusia melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang ada pada setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, proses pendidikan pun senantiasa berubah. Tujuan pendidikan dasar dan menengah sudah memetakan dan memuat ranah yang Namun demikian, dalam pelaksanaannya belum optimal karena kurang menempatkan peserta didik ke dalam dunia peserta didik yang seharusnya baik dari sosiokultural maupun psikologis. Yang seharusnya dibutuhkan adalah pendidikan yang mempertimbangkan diri anak sebagai subjek yang diakui seutuhnya. Pendidikan yang mempertimbangkan diri anak sebagai subjek yang diakui seutuhnya adalah pendidikan yang tidak hanya humanis dan kontekstual namun juga pendidikan dan pembelajaran yang bermakna. Bermakna dalam artian kurikulum hingga materi pelajaran yang disuguhkan benar-benar bermanfaat bagi perkembangan psikologis, sosiologis, dan intelektual mereka. METODE PENELITIAN Saat ini banyak metode dan teknik pembelajaran bahasa yang dikenalkan oleh pakar pendidikan dan digunakan oleh para guru dalam kegiatan belajar-mengajar bahasa di kelas. Namun demikian, elemen dasar pendidikan bahasa secara tradisonal tetap tidak dapat dibuang begitu saja. Ada empat keterampilan berbahasa yang harus diajarkan dalam pembelajaran bahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Empat keterampilan berbahasa tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu, dari berbagai metode yang ada, kemudian diterapkan pendekatan secara Pembelajaran bahasa tidak dapat hanya dilakukan dengan memadukan empat keterampilan berbahasa itu saja, namun harus dipayungi oleh tema-tema tertentu sehingga empat keterampilan berbahasa tersebut dapat dipraktikkan secara terpadu. Tidak mungkin Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational dalam kehidupan nyata masing-masing keterampilan berbahasa tersebut berjalan sendirisendiri. Keempatnya harus saling terpadu dan melengkapi. Pembelajaran bahasa secara Wacana 1 Narasi Fungsi-fungsi Komunikatif dan bentukbentuk linguistik yang Berbagai individu dan Wacana 2 Deskripsi Wacana 3 Argumentasi Menyimak Membaca Berbicara Menulis Wacana 4 Fiksi Gambar 1. Keterpaduan Elemen Bahasa Berdasarkan contoh tersebut, tampak bahwa ada dua prinsip agar dapat mencapai keterpaduan dalam pembelajaran bahasa. Prinsip yang pertama ialah keefektifan komunikasi secara luas. Para pembelajar bahasa membutuhkan keterampilan berbahasa yang dapat diterapkan dalam kehidupan mereka, untuk keperluan belajar dan berkomunikasi. Mereka perlu memahami orang lain, berunding dengan orang lain, membuat keputusan, dan mengungkapkan maksud-maksud pribadi secara menyenangkan serta meyakinkan. Terampil berkomunikasi berarti tidak hanya memiliki pengetahuan bahasa, tetapi juga dapat menggunakan bahasa secara tepat dalam berbagai situasi. Pengguna bahasa yang baik dapat memilih secara tepat bahasa yang digunakan, disesuaikan dengan konteksnya. Pilihan tersebut tumbuh dari kepekaan sosial dan kepekaan linguistik. Prinsip kedua, situasi pembelajaran bahasa menurut konteks. Prinsip perpaduan yang paling mendasar ialah bahwa pembelajaran bahasa akan optimal jika diusahakan dalam konteks yang bermakna. Kegiatan yang dilakukan oleh subjek didik, pengalaman berkomunikasi secara aktif, dan proses berpikir yang mereka alami membuat mereka menjadi penyimak dan pembaca cerdas, serta pembicara dan penulis yang kreatif. Apabila pembelajaran bahasa tidak bermakna bagi subjek didik dan tidak memiliki tujuan yang jelas, subjek didik akan mengalami kegagalan dalam belajar bahasa. Pemilihan konteks secara berhati-hati dan sistematis sangat penting dalam mengembangkan program pembelajaran bahasa yang efektif di sekolah. Subjek didik hendaknya juga diberi kesempatan untuk memilih konteks yang sesuai dengan latar belakang Tugas-tugas atau kegiatan pembelajaran perlu menggunakan sekurang-kurangnya tiga macam konteks yang berbeda, yaitu konteks ekspresif, kognitif, dan sosial. Konteks ekspresif ialah situasi yang memberikan kesempatan kepada subjek didik untuk mengungkapkan pendapat dan perasaan pribadi atau menanggapi hal-hal yang diungkapkan oleh orang lain. Konteks kognitif merupakan wahana untuk mengembangkan kemampuan Bahasa tidak dapat dipisahkan dari pikiran. Penggunaan bahasa dalam konteks kognitif memberikan kesempatan kepada subjek didik untuk memahami pikiran orang lain dan mengungkapkan pikiran sendiri. Konteks sosial tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahasa. Orang menggunakan bahasa untuk membangun dan meneruskan hubungan sosial. Sejak dini anak-anak berkomunikasi dalam konteks sosial. Oleh karena itu, tugas sekolah dalam membelajarkan bahasa sesuai dengan konteks ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik agar memiliki keterampilan berbahasa. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pembelajaran yang bermakna akan menciptakan kemampuan dasar yang lebih substansial yakni merangsang minat belajar dan mendorong rasa ingin tahu. Dengan demikian, untuk mengembangkan pendidikan yang humanis maka diperlukan: Pendidikan yang menghargai dan mengembangkan segenap potensi manusia. tidak saja dimensi kognitif, namun juga kemampuan afektif, psikomotorik dan potensi unik lainnya. Peserta didik dihargai bukan karena ia seorang juara kelas melainkan karena ia mengandung potensi yang positif. Interaksi antara peserta didik dan guru yang resiprokal dan tulus. Proses pembelajaran yang mendorong terjadinya proses interaksi dalam kelompok dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi pengalaman, kebutuhan, perasaannya sendiri sekaligus belajar memahami orang lain. Pengembangan metode pembelajaran yang mampu menggerakkan setiap siswa untuk menyadari diri, mengubah perilaku, dan belajar dalam aktivitas kelompok melalui permainan, bermain peran dan metode belajar aktif lainnya. Guru yang peduli, penuh perhatian, dan menerima peserta didik sesuai dengan tertinggi setiap insan. Berkenaan dengan hal tersebut, pendidikan humanis merupakan pendidikan yang mempertimbangkan anak sebagai subjek yang sesungguhnya. Lebih lanjut. Borton di dalam Roberts . di dalam Susetyo menjelaskan bahwa beberapa karakteristik peran pendidik humanistik di samping perhatian terhadap perasaan anak, yaitu : Guru memfasilitasi siswa mempelajari dirinya sendiri, memahami perasaan dan tindakan yang dilakukannya. Guru mengenali harapan dan imajinasi siswa sebagai bagian penting dari kehidupan siswa dan memfasilitas proses saling bertukar perasaan. Guru memperhatikan bahasa ekspresi non verbal, seperti gesture dan suara. Melalui ekspresi non verbal ini beberapa keadaan perasaan dan sikap dikomunikasikan oleh siswa. Pendekatan humanistik berdampak pada sikap dan tingkat motivasi peserta didik. Pendekatan humanistik dapat meningkatkan motivasi siswa dan kemampuan bersosialisasi di kelas. Chaudhury . Aupendekatan humanistik mempunyai implikasi penting bagi pendidikan karena mengalihkan fokus dari pengajaran ke pembelajaran. belajar humanistik mampu mengakomodasi proses pembelajaran yang dapat memberikan keleluasaan pada siswa dalam mengembangkan potensinya tanpa intervensi, namun penuh motivasi untuk menumbuhkan mental dan semangat belajar. Dapat dikatakan bahwa pendidikan humanistik membantu pendidik memahami arah pembelajaran dan harus memperhatikan bagaimana peserta didik berkembang dalam aktualisasi diri. Adanya teori belajar humanistik akan membuat pembelajaran yang berlangsung di lingkungan sekolah menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa, serta mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa dan motivasi belajar tentunya harus didukung oleh siapapun yang memberikan pengajaran kepada siswa terutama oleh guru sebagai fasilitator pembelajaran, melalui pendekatan humanistik guru akan mengetahui dan memahami ciri-ciri siswa yang mengalami penurunan minat belajar. Penggunaan permainan, improvisasi, dan bermain peran sebagai cara untuk menstimulasi perilaku yang dapat dipelajari dan diubah. Memfasilitas belajar dengan menunjukkan secara eksplisit tentang bagaimana prinsipprinsip dasar dinamika kelompok sehingga siswa dapat lebih bertanggung jawab untuk mendukung belajar mereka. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Pembahasan Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, dapat dinyatakan bahwa menghargai nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan adalah aspek penting dalam pengajaran yang beraliran Nuansa belajar beraliran humanistik dalam pembelajaran bahasa di sekolah akan berakibat pada pembelajaran yang dapat memberikan dorongan hati . kepada siswa sehingga dapat menyentuh dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan mereka. Dalam konsep belajar humanistik, belajar adalah pengembangan kualitas kognitif, afektif dan psikomotorik. Baharuddin dan Wahyuni . 8:142-. Ay Aliran humanistik memandang bahwa belajar bukan sekadar pengembangan kualitas kognitif saja. Pendekatan humanistik dalam pembelajaran menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi yang terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki setiap siswa. Pendidikan humanistik memandang proses belajar bukan hanya sebagai sarana transformasi pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu, proses belajar merupakan bagian dari mengembangkan nilai-nilai Au Tujuan dari pendidikan beraliran humanistik akan tercapai jika pembelajaran berusaha mengaitkan topik dengan konteks yang ada dalam kehidupan nyata siswa sehari-hari. Aliran humanistik akan sangat membantu pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang luas, sehingga pencapaian tujuan pembelajaran akan diarahkan dan dilakukan dengan pembelajaran kontekstual (Budingsih 2005:. Konsep pengajaran komunikasi yang humanistik di sekolah, tidak hanya berkaitan dengan berbagai pandangan pengajaran yang mungkin dari komunikasi dan hubungannya dengan logika semata tetapi juga berkaitan dengan dorongan mengaitkan pengajaran komunikasi dengan pengalaman dan emosi terdalam dari diri Menurut aliran humanistik, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikukum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan juga belajar. Jadi sekoah harus berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga punya keinginan. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai konselor seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada behaviorisme. Secara singkatnya, pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Keterampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang Para pendidik hanya membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Teori ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator keberhasilan dari teori ini adalah : siswa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir siswa, serta meningkatnya kemauan sendiri. Menurut teori ini ciri-ciri guru yang baik adalah yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Mampu mengatur ruang kelas lebih terbuka dan mampu menyesuaikannya pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada. KESIMPULAN Pendidikan humanis berbasis psikososio literasi merupakan konsep belajar yang membantu para guru untuk mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa, keadaan psikis sosiologis dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan Pembelajaran bahasa, merupakan wahana strategis bagi upaya pembinaan dan pengembangan bahasa. Di samping itu, pembelajaran bahasa akan mendorong penciptaan kondisi atau kualifikasi pengguna dan penggunaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia juga dapat dijadikan sebagai barometer dan sekaligus simbol pencitraan bagi upaya pembinaan dan pengembangan Bahasa, serta karakter Pengembangan pembelajaran bahasa perlu dilaksanakan secara komprehensif, terprogram, dan berkelanjutan. Upaya ini harus dilakukan karena pembelajaran bahasa Indonesia bersifat dinamis dan selalu berkembang. Oleh karena itu, pembelajaran komprehensif yang humanis berbasis psikososio literasi akan banyak melibatkan siswa dalam proses belajar secara aktif, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Pembelajaran yang memanusiakan manusia menjadi menarik dan hidup untuk menghidupi. DAFTAR PUSTAKA