Jurnal JAPS Volume 5. Nomor 3 Desember 2024 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN: 2722-1601 DOI: 10. 46730/japs. Hubungan Pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolani. Terhadap Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa Kabupaten Enrekang Rosdiana1. Pratiwi Ramlan2. Khaeriyah Adri3 1,2,3 Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang Email: anharsdna041002@gmail. Kata kunci Abstrak Program prolanis. Kepuasan peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolani. menangani permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit tidak Puskesmas Maiwa menunjukkan adanya peningkatan baik sasaran maupun bantuan pasca penerapan prolanis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan pelaksanaan program penatalaksanaan penyakit kronis . dengan kepuasan peserta di Puskesmas Maiwa. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini terdiri dari seluruh peserta Prolanis yang terdiagnosis hipertensi dan diabetes melitus yang berjumlah 166 orang. Penelitian ini menggunakan pendekatan pengumpulan data seperti observasi, wawancara, survei, dan kuesioner. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang meliputi uji validasi, uji reliabilitas, dan uji chisquare. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan konsultasi kesehatan, kunjungan rumah, dan pengingat SMS gateway menghasilkan nilai p sebesar 0,001 . <0,. , aktivitas fisik memberikan nilai p sebesar 0,004 . <0,. , sedangkan pendidikan kelompok dan pemantauan status kesehatan menunjukkan nilai p sebesar 0,002 . <0,. Abstract The Chronic Disease Management Program (Prolani. addresses health problems related to non-communicable diseases. Maiwa Health Center showed an increase in both targets and assistance after the implementation of Prolanis. This study aims to examine the relationship between the implementation of a chronic disease management program . and participant satisfaction at the Maiwa Community Health Center. This research uses quantitative methodology with a cross-sectional design. The population of this study consisted of all Prolanis participants diagnosed with hypertension and diabetes mellitus, totaling 166 people. This research uses a data collection approach such as observation, interviews, surveys and questionnaires. This research uses data analysis techniques which include validation tests, reliability tests, and chisquare tests. The findings of this research show that health consultation activities, home visits, and SMS gateway reminders produce a p value of 0. < 0. , physical activity provides a p value of 0. < 0. , while group education and health status monitoring show a p value of 0. < 0. Keywords Prolanis program. Participant Pendahuluan Untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, setiap individu memikul tanggung jawab dalam mengatasi permasalahan kesehatan. Oleh karena itu, setiap negara harus mengambil langkah-langkah yang lebih ketat untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang ada, baik penyakit menular maupun tidak menular. Penyakit tidak menular, yang biasa disebut penyakit degeneratif, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting, ditandai dengan meningkatnya angka kesakitan dan kematian secara global. Penyakit ini berkembang secara bertahap, bertahan dalam jangka waktu lama, dan tidak menular dari orang yang terkena penyakit ke orang lain (Pebriyani et al. , 2. Pada 2022. World Health Organization (WHO) mendefinisikan penyakit tidak menular sebagai kelompok penyakit yang tidak disebabkan oleh infeksi atau mikroorganisme menular. Penyakit kronis seperti diabetes, penyakit pernapasan kronis, kanker, dan jantung termasuk dalam kategori ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan betapa pentingnya pencegahan, diagnosis dini, dan manajemen penyakit ini melalui pendekatan holistik yang melibatkan aspek gaya hidup, lingkungan, dan genetika. Menurut Prof. Dr. Tjandra Yoga kesehatan masyarakat Indonesia mengatakan bahwa penyakit tidak menular (PTM) adalah kondisi kesehatan yang berlangsung lama yang tidak disebabkan oleh infeksi mikroba dan biasanya dikaitkan dengan faktor gaya hidup, seperti pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok. Para ahli sering menekankan pendekatan holistik dalam pencegahan dan pengelolaan PTM, termasuk mengajarkan masyarakat tentang gaya hidup sehat. Hipertensi dan diabetes melitus tipe II merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang paling banyak ditemui secara global. Penyakit ini disebut sebagai silent killer karena sifatnya yang tidak menunjukkan gejala, sehingga banyak pasien yang terlambat menerima pengobatan (Wedyarti et al. , 2. Hipertensi dan Diabetes Melitus merupakan penyakit tidak menular. Hingga Juni 2023, cakupan deteksi dini hipertensi di Indonesia sebanyak 17. 344 jiwa . ,04%). Statistik Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan cakupan deteksi dini hipertensi di Indonesia sebesar 12,04% yang mencakup 25. 499 jiwa dari 208. jiwa berusia 15 tahun ke atas. Provinsi yang memiliki termasuk kedalam deteksi dini tertinggi adalah NTB . ,9%), diikuti Gorontalo . ,9%) dan Banten . ,8%). 3 Provinsi dengan cakupan terendah adalah Papua Barat . ,78%). DI Yogyakarta . ,65%) dan Bali . ,25%). Sementara Diabetes Melitus di Indonesia berdasarkan data KEMENKES RI tahun 2023 sebesar 14,05% . 556 dari 95. 441 sasara. Provinsi NTB memiliki cakupan deteksi dini tertinggi . ,86%), diikuti Gorontalo . ,42%) dan Kalimantan Timur . ,37%). Terdapat 3 Provinsi dengan cakupan terendah adalah DIY . ,59%). Bali . ,37%) dan Papua . ,43%). Kepuasan pasien adalah sejauh mana individu memandang kualitas layanan kesehatan yang diterima, relatif terhadap harapan mereka. Kepuasan pasien bergantung pada kinerja layanan kesehatan yang memenuhi atau melampaui harapan mereka. Sebaliknya, pasien akan mengalami ketidakpuasan jika kualitas pelayanan kesehatan tidak sesuai dengan harapannya. Model afektif dan emosional berpendapat bahwa kebahagiaan pasien bergantung pada kualitas dan tujuan layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien. Kepuasan pasien bergantung pada layanan kesehatan yang memenuhi atau melampaui harapan mereka. Jika tidak, pasien akan mengalami ketidakpuasan (Fauziah & Indrawati, 2. Oleh karena itu. BPJS Kesehatan membentuk Program Penanggulangan Penyakit Kronis . untuk mengatasi permasalahan kesehatan tersebut. Sistem layanan kesehatan yang menerapkan strategi proaktif terintegrasi, dirancang untuk mempertahankan kesehatan individu yang menderita kondisi kronis, khususnya diabetes melitus tipe II dan hipertensi (Seciola, 2. Prolanis atau program penanganan penyakit kronis merupakan sistem pelayanan kesehatan proaktif yang melibatkan individu, puskesmas, dan BPJS Kesehatan secara berintegritas. Program ini mencakup penyakit diabetes melitus dan hipertensi (Pebriyani et al. , 2. Puskesmas Maiwa merupakan fasilitas tingkat pertama di Kecamatan Maiwa . Kab. Enrekang yang sudah melaksanakan program pengolalaan penyakit kronis . sejak tahun 2010. Untuk mengontrol tingkat kasus Hipertensi dan Diabetes Melitus di Puskesmas Maiwa maka dari itu dilakukan kegiatan prolanis sekali dalam sebulan , yang dipimpin oleh penanggung jawab prolanis itu sendiri, yang teridiri dari 166 peserta Hipertensi dan Diabetes Mellitus. Adapun beberapa aktivitas dalam prolanis yaitu : konsultasi medis, kunjungan ke rumah, latihan fisik . enam prolani. , dan perawatan Berdasarkan data yang diperolah pada observasi awal di Puskesmas Maiwa. Kab. Enrekang didapatkan dari data penanggung jawab prolanis bahwa jumlah sasaran penderita hipertensi pada tahun 2023 yaitu 22. 904 jiwa dan target yang dicapai hanya 61% , sedangkan jumlah sasaran penderita diabetes mellitus tipe II yaitu 4. 472 jiwa dan target yang dicapai hanya mencapai 33. 93% , hal ini dipengaruhi dari pelaksanaan program pengelolaan penyakit kronis dipuskesmas tersebut tidak berjalan dengan cukup baik dikarenakan beberapa faktor seperti pelaksanaan kegiatan program prolanis yang ditunda dalam kurun waktu 3 bulan beserta peserta yang aktif tidak hadir kembali apabila program dilaksanakan, dan peserta tidak mendapatkan home visit dan reminder sms gateway, dan adanya ketidakpuasan peserta terhadap beberapa kegiatan pada program prolanis tersebut . Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penting dilakukannya penelitian terkait pelaksanaan program prolanis. Kegiatan prolanis ini tentunya sangat bermanfaat bagi kesehatan para pengguna peserta BPJS. Sesuai dengan standar profesional terkait. Prolanis mendukung individu dengan penyakit kronis untuk mendapatkan kualitas hidup terbaik, khususnya penilaian diabetes melitus tipe II dan hipertensi untuk menghindari komplikasi dari kondisi mereka. Metode Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Maiwa pada bulan Maret sampai bulan April 2024. Metode penelitian ini menggunakan desain cross sectional, populasi pada penelitian ini sebanyak 166 peserta, penelitian ini menggunakan random sampling. Teknik analisis data menggunakan uji statistik uji chi-square. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan dilakukan pada 18 Maret 2024 sampai dengan 18 Mei 2024, yang dilaksanakan di Puskesmas Maiwa. Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang. Sulawesi Selatan. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Sebagai unit pelaksana pelayanan kesehatan tingkat pertama. Puskesmas Maiwa bertugas melakukan pembinaan, pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan Distrik Maiwa. Puskesmas Maiwa merupakan unit pelaksana teknis pelayanan (UPTD) Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang. Puskesmas Maiwa Kabupaten Enrekang dibangun pada tahun 1976. Bt. Malangka. Kecamatan. Maiwa. Kab. Enrekang. Sulawesi Selatan merupakan rumah bagi Puskesmas Maiwa. Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik Masyarakat KARAKTERISTIK Jenis Kelamin Laki Ae laki Perempuan Umur (Tahu. Pendidikan SLTP SLTA Penyakit Hipertensi Diabetes Mellitus Sumber: Hasil wawancara penelitian Jenis kelamin Data menunjukkan bahwa dari 62 responden, mayoritas adalah perempuan dengan jumlah 39 orang atau 54,9%, sementara laki-laki berjumlah 23 orang atau 32,4. Perbedaan ini mungkin mencerminkan kecenderungan perempuan lebih aktif dalam partisipasi survei atau memiliki prevalensi penyakit yang lebih tinggi yang menjadi fokus survei (Putri, 2. Usia Responden tersebar di berbagai rentang usia, dengan kelompok usia terbanyak adalah 71-80 tahun sebanyak 20 orang . ,2%) ini diikuti oleh kelompok usia 51-60 tahun dan 61-70 tahun masing-masing 15 orang . ,1%). Jumlah responden paling sedikit ada pada kelompok usia 81-90 tahun dengan 5 orang . ,0%). Distribusi usia ini menunjukkan bahwa survei mungkin fokus pada populasi lanjut usia yang cenderung memiliki lebih banyak masalah Dibandingkan dengan orang dewasa, pasien lanjut usia lebih banyak membutuhkan pelayanan atau pengobatan untuk meningkatkan kualitas kesehatan mereka (Putri, 2. Pendidikan Terakhir Sebagian besar responden memiliki pendidikan SD, yaitu 30 . ,4%). Selanjutnya, 17 orang . ,1%) SLTP dan 14 orang . ,0%) SLTA, dan yang memiliki pendidikan terakhir S1 hanya 2 orang . ,4%). Rendahnya tingkat pendidikan responden bisa berpengaruh pada pengetahuan kesehatan mereka, serta akses dan pemanfaatan layanan kesehatan. Ketika pencapaian pendidikan seseorang meningkat, kapasitas intelektual mereka untuk menilai kesenangan mereka sendiri dengan pengetahuan mereka juga meningkat. (Putri, 2. Penyakit Penyakit yang paling umum di antara responden adalah hipertensi, yang diderita oleh 44 orang . ,0%). Diabetes mellitus juga cukup umum dengan 18 orang . ,4%). Tingginya prevalensi hipertensi di antara responden dapat menunjukkan pola gaya hidup atau faktor risiko yang umum dalam populasi Diabetes mellitus yang juga signifikan menunjukkan bahwa survei mencakup penyakit kronis yang umum di kalangan usia lanjut (Putri, 2. Gambaran Umum Pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolani. Di Puskesmas Maiwa Kabupaten Enrekang Puskesmas Maiwa menjadi salah satu Puskesmas di Kecamatan Maiwa, yang melayani masyrakat dengan berbagai pelyananan seperti promotive, prefentif Puskesmas Maiwa saat ini sedang menjalankan program dari BPJS yakni program pengelolaan penyakit kronis . yang sudah berjalan sejak tahun 2010, program prolanis tersebut melaksanakan berbagai kegiatan seperti berikut . Konsultasi Medis Tabel 1. Pelaksanaan Konsultasi Medis Variabel Konsultasi Medis Kategori Baik Kurang Frekuensi Presentase 80,6 % 19,4 % Total Sumber : Data Primer, 2024 Dari tabel. 1 menunjukkan bahwa dari 62 responden sebanyak 80,6 % yang melakukan konsultasi medis dengan baik dan sebanyak 19,4 % yang masih kurang. Kegiatan konsultasi medis pada pelaksanaan program prolanis mayoritas peserta nya menerima konsultasi medis dengan baik karena konsultasi medis yang dilakukan oleh dokter dan peserta untuk meningkatkan kepuasan peserta saat bertanya tentang masalah mereka. Lansia dalam Prolanis akan berkonsultasi secara rutin dengan dokter atau tenaga medis yang terlatih. Konsultasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan yang mungkin memerlukan perhatian khusus atau penanganan lebih lanjut. Konsultasi dengan dokter sangat penting karena melalui konsultasi, pasien akan memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang penyakit dan pengobatannya. Komunikasi yang baik antara pasien dan dokter diharapkan dapat membuat konsultasi berjalan dengan lancar. Konsultasi yang efektif memungkinkan informasi dari dokter disampaikan dengan jelas sehingga pasien dapat lebih mudah Konsultasi yang baik juga akan berdampak positif pada kepuasan dan ketaatan pasien (Tyas Purnamasari & Dwi Ningrum, 2. Home Visit Tabel 2. Kegiatan Home Visit Pada Pelaksanaan Program Prolanis Variabel Home Visit Kategori Baik Kurang Frekuensi Presentase 27,4 % 72,6 % Total Sumber : Data Primer, 2024 Dari tabel. 2 menunjukkan bahwa dari 62 responden sebanyak 27,4 % yang dinyatakan menerima home visit dengan baik dan sebanyka 72,6 % yang kurang. Kegiatan Home Visit pada Puskesmas Maiwa. Kabupaten Enrekang sangat jarang dilakukan karena petugas tidak bisa membagi waktunya , dan peserta Prolanis juga mengatakan bahwa kegiatan home visit tidak dilakukan oleh petugas program Kunjungan rumah belum dilakukan karena kehadiran peserta di puskesmas setiap minggunya lebih tinggi. Kegiatan tersebut tidak terlaksana karena kurangnya waktu petugas dan kurangnya petugas lapangan untuk melakukan kunjungan Penghapusan kunjungan ke rumah, yang merupakan komponen utama program Prolanis, dianggap sebagai prioritas rendah oleh puskesmas (Febriawati et , 2. Aktivitas Fisik Tabel 3. Pelaksanaan Aktifitas Fisik Variabel Aktifitas Fisik Kategori Baik Kurang Frekuensi Total Sumber : Data Primer, 2024 Presentase 87,1 % 12,9 % Dari tabel 3 menunjukkan bahwa dari 62 responden sebanyak 87,1 % yang mengikuti aktifitas fisik dengan baik dan sebanyak 12,9 % yang masih kurang. Berdasrkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa aktivitas fisik dalam program ini adalah kegiatan senam. Senam prolanis dilakukan setelah kegitan edukasi kelompok dilaksanakan, yang dipandu oleh penanggung jawab program Senam Prolanis adalah senam jantung sehat yang dapat membantu orang tua tetap sehat dan melakukan aktivitas. Olahraga atau aktivitas fisik dapat melebarkan pembuluh darah, atau vasodilatasi, dan membuka pembuluh darah yang belum terbuka. Akibatnya, aliran darah ke sel dan jaringan meningkat. Tubuh mengalami berbagai perubahan metabolik sebagai tanggapan terhadap aktivitas fisik selama senam prolanis. Senam prolanis melibatkan gerakan yang membutuhkan energi tambahan untuk memenuhi berbagai fungsi metabolisme Senam Pronalis mungkin meningkatkan efisiensi kerja jantung (Hasibuan et , 2. Reminder SMS Gateway Tabel 4. Pelaksanaan Reminder SMS Gateway Variabel Kategori Frekuensi Presentase Reminder SMS Gateway Baik Kurang 45,2 % 54,8 % Total Sumber : Data Primer, 2024 Dari table 4 menunjukkan bahwa dari 62 responden sebanyak 45,2 % yang menerima reminder sms gateway dengan baik dan sebanyak 54,8 % yang masih Berdasrkan hasil penelitian bahwa reminder sms gateway atau pemberitahuan jadwal untuk kegiatan pelaksanaan prolanis tidak berjalan dengan baik dikarenakan beberapa peserta prolanis sudah telah berusia lanjut alhasil sebagian orang saja yang memiliki gawai untuk penganti pengingat sms ,pemberitahuan hanya secara lisan yakni selalu mengingatkan peserta kembali setiap pelaksanaan program dilaksanakan. Tindakan pengingat kurang optimal dan tidak efektif karena petugas tidak mampu memberikan pengingat kepada peserta di tengah banyaknya program yang Para eksekutif Prolanis mengelola banyak program, sehingga implementasinya kurang optimal (Wedyarti et al. , 2. Edukasi Kelompok Tabel 5. Pelaksanaan Edukasi Kelompok Variabel Kategori Frekuensi Presentase Edukasi Kelompok Baik Kurang 91,9 % 8,1 % Total Sumber : Data Primer, 2024 Tabel 5 menunjukkan bahwa di antara 62 responden, 91,9% memperoleh pendidikan kelompok cukup, sedangkan 8,1% tidak memperoleh pendidikan Berdasarkan hasil penelitian, kegiatan edukasi kelompok dilakukan dalam bentuk konseling oleh dokter pelaksana Prolanis, yang dilakukan setiap bulan setelah selesainya pemeriksaan kesehatan. Pada kegiatan ini, peserta mendapatkan penyuluhan dan melakukan sesi tanya jawab dengan petugas sebelum penilaian Pendidikan kesehatan merupakan instrumen yang ampuh untuk meningkatkan pemahaman, pengaturan diri, dan mengelola gaya hidup yang berbahaya bagi pasien. Oleh karena itu, kegiatan edukasi dilakukan secara rutin untuk meningkatkan pemahaman peserta. Pendidikan kelompok secara signifikan meningkatkan kepatuhan individu dengan diabetes mellitus dan hipertensi terhadap program pengobatan, sehingga memfasilitasi pencapaian tujuan terapeutik yang diinginkan. Meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong gaya hidup sehat merupakan inisiatif yang bertujuan untuk mencegah dan mengelola diabetes melitus (Ningrum & Purnamasari, 2. Pemantauan Status Kesehatan Tabel 6. Pelaksanaan Pemantauan Status Kesehatan Variabel Kategori Frekuensi Presentase Pemantauan Status Kesehatan Baik Kurang 90, 3 % 9,7 % Total Sumber : Data Primer, 2024 Tabel 6 menunjukkan bahwa dari 62 responden, 90,3% memantau status kesehatannya secara efektif, sedangkan 9,7% tidak. Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan, pemantauan status diterapkan pada setiap program prolanis untuk menilai kemajuan peserta prolanis. Penilaian tekanan darah, kadar glukosa darah, tinggi badan, dan lingkar perut merupakan evaluasi yang dilakukan untuk memastikan adanya masalah. Penanggung jawab program Prolanis menyimpan buku status kesehatan yang mencatat hasil pemeriksaan. Ini memudahkan penanggung jawab untuk mengetahui perkembangan peserta. Kegiatan prolanis yang disebut Aupemantauan status kesehatanAy digunakan untuk mengetahui perkembangan kesehatan peserta agar dapat mengelola riwayat pemeriksaan kesehatannya dan menghindari masalah atau penyakit tambahan. Salah satu cara untuk memantau status kesehatan seseorang adalah dengan memeriksa tekanan darah, gula darah, dan berat badan. (Wedyarti et al. , 2. Gambaran Umum Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa Kabupaten Enrekang Tabel 7. Kepuasan Peserta Terhadap Pelaksanaan Program Prolanis Variabel Kepuasan Peserta Kategori Frekuensi Presentase Puas 79, 0 % Tidak Puas 21,0 % Total Sumber : Data Primer, 2024 Dari tabel 7 menunjukkan bahwa dari 62 responden sebanyak 79,0 % merasa puas dan 19,4 % yang tidak puas terhadap pelaksanaan program prolanis di Puskesmas Maiwa. Kabupaten Enrekang. Kepuasan peserta terhadap proses layanan kesehataan di Puskesmas Maiwa dapat dilihat dari peserta yang merasa puas terhadap proses setiap kegiatan program prolanis seperti prosedur pendaftaran yang mudah dan cepat, peserta menjalani pemeriksaan awal untuk mengevaluasi kondisi kesehatan mereka, proses pemberian edukasi tentang penyakit hipertensi dan diabetess melittus tipe ll, peserta yang merasa puas dalam melakukan pendaftaran pada kegiatan prolanis. Berbagai macam orang memainkan peran berbeda dalam pelayanan kesehatan, seperti dokter, perawat, manajer staf kesehatan, legislator, dan pasien yang bekerja sama untuk menyediakan dan menerima layanan kesehatan. (Fladyan Grace Wulur et al. , 2. Hubungan Pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolani. Terhadap Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa. Kabupaten Enrekang Tabel 8. Hubungan Konsultasi Medis Terhadap Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa Konsultasi Kepuasan Peserta Medis Puas Total Tidak Puas P value Baik Kurang Total Sumber : Data Primer, 2024 0,001 Pada kategori baik, 88,2% dari 62 responden menyatakan puas terhadap konsultasi kesehatan, sedangkan 11,8% menyatakan tidak puas. Sebaliknya, 72,7% responden merasa tidak puas dengan kelompok yang kurang memadai, sementara hanya 27,3% yang merasa puas. Ho ditolak karena berdasarkan hasil uji statistik dengan uji chi-square, derajat signifikansi a<0,05 menghasilkan derajat signifikansi p=0,001. Fakta bahwa Ha disetujui menunjukkan bahwa kesenangan peserta dan konsultasi medis memiliki hubungan yang substansial. Pada kegiatan ini mayoritas peserta merasa puas terhadpap proses pelayanan kesehatan karena konsultasi medis yang mereka terima sangat baik. Konsultasi medis yang dilakukan oleh dokter dan peserta dalam bertanya tentang keluhan yang dirasakan peserta merpukan salah satu alasan untuk menunjang kepuasan. Hal ini sesuai dengan penelitian (Wedyarti et al. , 2. yang menemukan bahwa kepuasan pasien terhadap pelayanan berkorelasi positif dengan komunikasi dokter-pasien. Tabel 9. Hubungan Home Visit Terhadap Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa Kepuasan Peserta Home visit Puas Total Tidak Puas P value Baik Kurang Total 0,001 Dari 62 responden hanya 15,6% peserta yang merasa puas dan 84,4% tidak puas dengan kategori baik. Sedangkan sebanyak 80% peserta merasa puas, dan 20% tidak puas dengan kategori kurang. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh derajat signifikansi sebesar p= 0,001 dengan menetapkan derajat signifikansi a<0. 05 maka Ho ditolak Ha diterima yang berarti ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel yaitu home visit dengan kepuasan peserta. Mayoritas peserta tidak puas terhadap home visit atau kunjungan rumah yang Hal ini disebabkan karena kegiatan Home Visit pada Puskesmas Maiwa. Kabupaten Enrekang sangat jarang dilakukan karena petugas tidak bisa membagi waktunya, dan peserta prolanis juga mengatakan bahwa kegiatan home visit tidak dilakukan oleh petugas program tersebut. Meningkatnya jumlah peserta yang hadir ke puskesmas setiap minggu adalah salah satu alasan mengapa home visit tidak dilakukan. Kekurangan waktu petugas dan kekurangan petugas lapangan juga merupakan alasan lain mengapa home visit tidak dilakukan. Pihak puskesmas tidak menganggap home visit sebagai program utama Prolanis sebagai prioritas (Febriawati et al. , 2. Tabel 10. Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa Kepuasan peserta Aktivitas Fisik ( Senam Puas Total Tidak Puas P value Prolanis ) Baik Kurang Total 0,001 Sumber : Data Primer, 2024 Dari 62 responden sebanyak 81,6 % peserta merasa puas dan 18,4% tidak puas dengan kategori baik. Sedangkan sebanyak 37,5 % merasa puas dan 62,5% tidak puas dengan kategori kurang. Uji statistik dengan menggunakan uji chi-square menghasilkan tingkat signifikansi p = 0,001, melampaui ambang batas signifikansi < 0,05 sehingga terjadi penolakan Ho. Penerimaan Ha menunjukkan adanya korelasi substansial antara dua variabel: aktivitas fisik dan kebahagiaan partisipan. Secara keseluruhan, mayoritas peserta merasa puas dengan aktivitas fisik, namun terdapat proporsi signifikan yang tidak puas, menunjukkan adanya ruang untuk perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Peserta merasa puas karena pada kegiatan aktifitas fisik (Senam prolani. adalah senam jantung sehat yang dapat membantu orang tua tetap sehat dan melakukan aktivitas. Kegiatan Prolanis dalam meningkatkan aktifitas fisik Lansia melalui senam Lansia membantu meningkatkan kerja jantung dan memperlancar peredaran darah sehingga peserta merasa puas dalam mengikuti kegiatan senam prolanis tersebut (Hasibuan et al. , 2. Tabel 11. Hubungan Reminder Sms Gateway Terhadap Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa Kepuasan Peserta Reminder Sms Puas Total Tidak Puas P value Gateway Baik Kurang Total 0,001 Sumber : Data Primer, 2024 Dari 62 responden, sebanyak 16,2% merasa puas, dan 83,8% tidak puas dengan kategori baik. Sedangkan sebanyak 72,0% yang merasa puas dan sebanyak 28,0% tidak puas dengan kategori kurang. Hasil uji chi-square mengungkapkan nilai p sebesar 0,001, hal ini memiliki arti yaitu terdapat kaitan yang signifikan secara statistik antara reminder sms gateway dan kepuasan peserta. Mayoritas peserta merasa tidak puas terhadap pelayanan reminder sms gateway, hal ini disebabkan karena pemberitahuan jadwal untuk kegiatan pelaksanaan Prolanis tidak berjalan dengan baik karena beberapa peserta sudah berusia lanjut dan hanya memiliki ponsel sebagai pengganti pengingat SMS, pemberitahuan hanya secara lisan yakni selalu mengingatkan peserta kembali setiap pelaksanaan program dilaksanakan. Reminder kurang optimal dan tidak efektif karena petugas tidak dapat memberikannya kepada peserta karena banyaknya program yang dilaksanakan. Para eksekutif Prolanis mengelola banyak program, sehingga implementasinya kurang optimal (Yakin et al. , 2. Tabel 12. Hubungan Edukasi Kelompok Terhadap Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa Kepuasan peserta Edukasi Kelompok Puas Total Tidak Puas P value Baik Kurang Total 0,002 Sumber : Data Primer, 2024 Dari 62 responden sebanyak 93,2% peserta merasa puas dan hanya 6,8% tidak puas dengan kategori baik. Sedangkan sebanyak 61,1% yang merasa puas dan 38,9% tidak puas dengan kategori kurang. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0,002 yang berarti ada hubungan yang signifikan secara statistik antara edukasi kelompok dan kepuasan peserta. Tabel 13. Hubungan Pemantauan Kesehatan Terhadap Kepuasan Peserta Di Puskesmas Maiwa Kepuasan Peserta Pemantaun Status Puas Total Tidak Puas P value Kesehatan Baik Kurang Total Sumber : Data Primer, 2024 0,002 Dari 62 responden sebanyak 84,0% merasa puas dan 16,0% tidak puas dengan kategori baik. Sedangkan sebanyak 41,7% merasa puas, dan 58,3%) tidak puas dengan kategori kurang. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0,002, yang berarti ada hubungan yang signifikan secara statistik antara pemantauan status kesehatan dan kepuasan peserta . Mayoritas peserta menyatakan kepuasannya terhadap kegiatan ini, karena terapi kelompok dilakukan oleh dokter pelaksana dari Prolanis dan dilakukan setiap bulan setelah pemeriksaan kesehatan. Peserta mendapat konseling dan melakukan sesi tanya jawab dengan petugas sebelum pemeriksaan. Pendidikan kesehatan sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman, manajemen diri, dan mengatur kebiasaan-kebiasaan yang merugikan pasien. Oleh karena itu, kegiatan edukasi dilakukan secara rutin untuk meningkatkan pemahaman peserta. Pendidikan kelompok bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anggota terhadap perbaikan gaya hidup mereka. Edukasi harus diberikan mengenai berbagai hal termasuk bahaya penyakit kronis, jenis diet rendah garam dan rendah gula yang cocok untuk peserta prolanos, pentingnya asupan serat dari buah-buahan dan sayursayuran, tidak mengonsumsi alkohol, dan tidak merokok. Selain aspek fisik, unsur mental juga berdampak pada kesehatan. Individu berusia 60 tahun ke atas rentan terhadap stres emosional, termasuk kesepian. Stres kronis dapat meningkatkan tekanan darah dan memperburuk diabetes melitus tipe 2 (Ningrum & Purnamasari. Simpulan Program pengelolaann penyakit kronis (Prolani. di Puskesmas Maiwa Kabupaten Enrekang menekankan pada kegiatan-kegiatan utama antara lain konsultasi dokter, kunjungan rumah, latihan fisik. SMS gateway pengingat, edukasi kelompok, dan pemantauan kesehatan. Dari 6 kegiatan yang dilaksanakan pada pelaksanaan program prolanis kegiatan dukasi kelompok memiliki persentase tertinggi responden yang menerima edukasi kelompok dengan baik, dengan 91,9% responden merasa puas. Sedangkan home visit memiliki persentase terendah responden yang menerima home visit dengan baik, hanya sebesar 27,4%. Kepuasan peserta terhadap layanan kesehatan di Puskesmas Maiwa umumnya tinggi. Dari 62 responden terdapat 49 responden . ,0 %) yang dinyatakan puas terhadap medis terhadap pelaksanaan program prolanis di Puskesmas Maiwa. Kabupaten Enrekang sedangkan terdapat 13 responden . ,4 %) yang tidak puas terhadap pelaksanaan program prolanis di Puskesmas Maiwa. Kabupaten Enrekang c. Beberapa kegiatan dalam program Prolanis memiliki hubungan signifikan dengan kepuasan peserta. Kegiatan konsultasi medis, home visit, dan aktivitas fisik semuanya menunjukkan hubungan signifikan terhadap kepuasan peserta dengan nilai p sebesar 0,001 . < 0,. Selain itu, kegiatan edukasi kelompok dan pemantauan status kesehatan juga memiliki hubungan signifikan dengan kepuasan peserta, masing-masing dengan nilai p sebesar 0,002 . < 0,. Namun, kegiatan reminder SMS gateway tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap kepuasan peserta, dengan nilai p sebesar 0,001 . > 0,. Referensi