E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif Gaya Kepemimpinan Terhadap Perilaku Inovatif Karyawan di PT. Dhefi Dwicahyani FikriA. Endah Andriani PratiwiA Fakultas Psikologi. Universitas Jenderal Achmad Yani. CimahiAA E-mail: dhefidwi3@gmail. comA, endah. andriani@lecture. ABSTRAK Cara organisasi dapat bersaing dan berusaha menjadi unggul adalah melalui inovasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran empat gaya kepemimpinan, yaitu gaya kepemimpinan otentik, gaya kepemimpinan etis, gaya kepemimpinan pemberdayaan, dan gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku inovatif karyawan. Penelitian ini dilakukan pada karyawan grade satu di PT. X yang merupakan perusahaan farmasi. Pengukuran menggunakan Authentic Leadership Questionnaire dari Walumbwa et al. Ethical Leadership Questionnaire yang dikembangkan oleh Yukl et al. , gaya kepemimpinan pemberdayaan diukur menggunakan alat ukur baku oleh Amundsen dan Martinsen . , dan Multifactor Leadership Questionnaire dari Bass & Riggio . Variabel perilaku inovatif diukur dengan alat ukur baku oleh Janssen . Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 58 orang karyawan PT. Didapatkan hasil ketika keempat gaya kepemimpinan digabungkan diperoleh R2 sebesar 0. 181 yang artinya bahwa gaya kepemimpinan secara simultan memiliki peran sebesar 18,1% terhadap perilaku inovatif. Selain itu empat gaya kepemimpinan tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku inovatif. Gaya kepemimpinan otentik berkontribusi 1,4%, gaya kepemimpinan etis berkontribusi 4,1%, gaya kepemimpinan pemberdayaan berkontribusi 12,1%, dan gaya kepemimpinan transformasional berkontribusi 13,4% terhadap perilaku inovatif. Hal ini mengindikasikan bahwa gaya kepemimpinan transformasional memberikan kontribusi paling besar dibandingkan tiga gaya kepemimpinan lainnya. Kata kunci : Perilaku inovatif, gaya kepemimpinan otentik, gaya kepemimpinan etis, gaya kepemimpinan pemberdayaan, gaya kepemimpinan transformasional ABSTRACT The way organizations can compete and strive to be outstanding is through innovation. This study aims to determine the role of four leadership styles, namely authentic leadership style, ethical leadership style, empowerment leadership style, and transformational leadership style on employee innovative behavior. This research was conducted on grade one employees at PT X which is a pharmaceutical company. Measurement uses the Authentic Leadership Questionnaire from Walumbwa et al. , the Ethical Leadership Questionnaire developed by Yukl et al. , empowerment leadership style was measured using standard measuring instruments by Amundsen and Martinsen . and the Multifactor Leadership Questionnaire from Bass & Riggio . The innovative behavior variable is measured using standard measuring instruments by Janssen . Participants in this research were 58 employees of PT. Obtained results when the four leadership styles were combined obtained by R2 of 0. 181 which means that the leadership Vol. 4 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 3 November 2024 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif style simultaneously has a role of 18. 1% of innovative behavior. Apart from that, these four leadership styles have a significant influence on innovative behavior. Authentic leadership style contributed 1. 4%, ethical leadership style contributed 4. 1%, empowerment leadership style contributed 12. 1% and transformational leadership style contributed 13. 4% to innovative behavior. This indicates that the transformational leadership style makes the greatest contribution compared to the other three leadership styles. Keyword : Innovative behavior, authentic leadership style, ethical leadership style, empowerment leadership style, and transformational leadership style PENDAHULUAN Di dunia sekarang ini, perubahan terjadi dengan cepat dan dalam jumlah besar sehingga memerlukan kemampuan adaptasi bisnis. Cara organisasi dapat bersaing dan berusaha menjadi unggul adalah melalui inovasi (Suliman & AlShaikh, 2. Agar dapat beroperasi, perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu mencapai tujuan perusahaan (Pratiwi et al. , 2. Oleh karena itu, inovasi dapat terwujud dalam perilaku inovatif karyawan. Menurut pendapat Getz dan Robinsson . , lebih banyak ide baru yang muncul dari karyawan, yaitu sebanyak 80% dibandingkan dengan inisiatif organisasinya sendiri yang hanya Perilaku merupakan perilaku yang memasukkan ide-ide baru tentang proses, produk atau metode ke dalam kelompok kerja atau organisasi agar efektif (De Jong & Den Hartog, 2. Tidak hanya organisasi yang akan merasakan dampak positif ketika karyawan berinovasi, tetapi karyawan itu sendiri juga akan Kinerja karyawan juga dinilai berdasarkan efektivitas dan efisiensi mereka dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaan dan sejauh mana mereka memberikan kontribusi yang berkualitas dan selaras dengan tujuan organisasi (Pratiwi & Davina, 2. Sama halnya dengan PT. X, agar tetap unggul di antara organisasi farmasi lainnya. PT. X menuntut karyawannya untuk memberikan kinerja yang bagus salah satunya melalui perilaku inovatif. Hanya saja belum semua karyawan memunculkan perilaku inovatif. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat faktor yang bisa meningkatkan perilaku inovatif karyawan di PT. Seperti yang dapat kita lihat, banyak faktor yang berkontribusi pada perilaku inovatif. Penelitian ini akan membahas tentang peranan faktor Amabile . alam Ancok, kepemimpinan adalah salah satu faktor Faktor kepemimpinan ini dipilih karena secara definisi pun suatu organisasi tidak akan luput dari atasan dan bawahan, di mana atasan adalah salah satu sumber pengaruh utama terhadap perilaku karyawan, termasuk perilaku inovatif karyawan di tempat kerja. Hal ini karena perilaku kerja karyawan bergantung pada interaksi antar mereka (De Jong & Den Hartog, 2. Berdasarkan hasil survei awal pada karyawan di PT. X yang merupakan perusahaan farmasi, pemimpin dapat mendukung dan mendorong karyawan untuk berinovasi. Pemimpin-pemimpin di PT. X memiliki perilaku yang mirip dengan beberapa gaya kepemimpinan, seperti gaya kepemimpinan otentik, gaya kepemimpinan etis, gaya kepemimpinan pemberdayaan, dan gaya kepemimpinan Hal ini telah diperkuat oleh penelitian-penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh positif terhadap perilaku inovatif, salah satunya adalah penelitian oleh Fanani et al. Khan. Aslam, dan Riaz . , meneliti mengenai Vol. 4 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 3 November 2024 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 kepemimpinan transformasional lalu kepemimpinan transformasional dan terhadap perilaku kerja inovatif, tetapi laissez-faire berpengaruh negatif terhadap perilaku kerja inovatif karyawan. Sama halnya dengan penelitian dari Myceldili et al. , gaya kepemimpinan otentik dan perilaku inovatif ditemukan berhubungan Namun, terdapat pula penelitian transformasional yang hasilnya berupa tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap readiness to change pada penelitian oleh Guntoro & Pratiwi . LANDASAN TEORI Gaya Kepemimpinan Otentik Gaya kepemimpinan otentik adalah contoh perilaku kepemimpinan yang menggunakan keterampilan mental dan moral yang baik untuk meningkatkan kepercayaan, pemerataan informasi, dan komunikasi terbuka antara pemimpin dan para pengikutnya, sehingga setiap terdorong untuk meningkatkan dirinya (Walumbwa et al. Menurut Luthans & Avolio . , pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan otentik akan menunjukkan perilaku, seperti percaya diri, positif, beretika, optimisme, sabar, berpikiran maju, transparan dan beretika untuk mendorong rekan kerja menjadi seorang Walumbwa et al. juga menyatakan bahwa terdapat empat dimensi yang dapat membentuk gaya kepemimpinan otentik. Dimensi selfawareness merupakan cara seorang pemimpin menerima umpan balik dan dapat memahami cara pandang orang lain terhadap dirinya, relational transparency adalah pemimpin yang dapat mengatakan maksudnya dengan tepat dan bersedia mengakui kesalahan, selanjutnya dimensi https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif mengambil keputusan dengan objektif dan tindakannya konsisten, serta yang dimaksud dengan internalized moral perspective merupakan pemimpin yang mampu mendengarkan sudut pandang yang berbeda dengan dirinya. Gaya Kepemimpinan Etis AuDemonstrasi perilaku normatif berupa tindakan pribadi dan hubungan interpersonal, serta perilaku pemimpin bawahannya melalui komunikasi dua arah, penguatan dan pengambilan keputusanAy merupakan definisi gaya kepemimpinan etis menurut Brown et al. Gaya kepemimpinan etis dapat diukur melalui perilaku pemimpin, seperti dapat dipercaya memegang janji dan komitmen, menunjukkan kepeduliannya terhadap nilai-nilai etika dan moral, mengikuti kode etik dan menetapkan menunjukkan prinsip, dan nilai-nilai etika di dalam maupun di luar organisasi. Gaya Kepemimpinan Pemberdayaan Menurut Amundsen & Martinsen pemberdayaan adalah kepemimpinan yang mempengaruhi bawahan melalui pemberdayaan, dukungan motivasi dan motivasi dan kemampuan bekerja secara mandiri dalam bidang operasional dan Berdasarkan definisi tersebut, kita juga dapat melihat dua aspek dari sifat kepemimpinan yang memberdayakan. Dukungan otonom merupakan cara menginspirasi, dan mendorong karyawan untuk bekerja keras dan mencapai tujuan. Selain itu, yang dimaksud dukungan pengembangan adalah metode yang digunakan oleh atasan untuk membentuk Vol. 4 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 3 November 2024 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif perilaku karyawan, menjadi panutan bagi mereka, serta membimbing secara aktif. Gaya Kepemimpinan Transformasional Menurut Bass & Riggio . , atasan yang membimbing bawahannya untuk sampai ke tingkat kinerja tertinggi dengan mendorong dan menyelaraskan tujuan pribadi, tim, dan organisasi adalah seorang atasan yang memiliki gaya kepemimpinan transformasional. Bass & Riggio . juga berpendapat bahwa gaya kepemimpinan transformasional dapat diukur dengan empat dimensi, di antaranya terdapat dimensi idealized influence, yaitu pemimpin yang dapat menjadi teladan serta dihormati oleh bawahannya. Lalu, dimensi inspirational motivation, yaitu pemimpin yang memotivasi agar dapat mencapai tujuan bersama. Selanjutnya, merupakan seorang pemimpin yang mendorong dan memfasilitasi bawahan untuk berpikir inovatif dan kritis. Selain consideration, yaitu pemimpin yang Perilaku Inovatif Perilaku inovatif, sebagaimana didefinisikan oleh Jansen . , melibatkan penciptaan, integrasi, dan penerapan ide atau konsep baru dalam pekerjaan, kelompok, atau organisasi untuk meningkatkan kinerja seseorang, kelompok, atau perusahaan. Sama halnya seperti yang dikatakan oleh West dan Farr pengenalan dan penerapan ide, proses, produk, atau metode baru dengan tujuan memberikan manfaat yang signifikan bagi pekerjaan individu, kelompok, organisasi, maupun lingkungan masyarakat. Perilaku inovatif memiliki tiga dimensi sesuai dengan yang dikemukakan Janssen . Pertama, idea generation, yaitu kemampuan menciptakan ide dan menemukan solusi terhadap suatu Kedua, idea promotion, yaitu mempromosikan ide dan mencari dukungan dari orang lain, seperti rekan kerja atau atasan. Terakhir, idea realization, yaitu mengubah ide tersebut menjadi suatu bentuk yang dapat diaplikasikan secara nyata dalam METODOLOGI Penelitian ini memakai metode penelitian kuantitatif dan rancangan non Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis peran variabel independen terhadap variabel Sehingga memakai jenis Sedangkan pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan induktif. Variabel gaya kepemimpinan otentik diukur dengan alat ukur Authentic Leadership Questionnaire (ALQ) dari Walumbwa et al. yang diterjemahkan oleh Putri . terdiri dari 16 item. Alat ukur ALQ memiliki nilai validitas < 0. 001 Ae 0. 004 dan hasil uji Variabel kepemimpinan Etis diukur dengan alat ukur yang dikembangkan oleh Yukl et al. , yaitu Ethical Leadership Questionnaire (ELQ) bahasakan oleh peneliti dengan nilai validitas < 0. 001 Ae 0. 05 dan hasil Alat ukur ELQ ini terdiri dari 15 item pertanyaan. Variabel diukur menggunakan alat ukur baku Amundsen dan Martinsen . yang dialih bahasakan serta memiliki nilai validitas < 0. 001 Ae 0. 005 dan hasil 949 terdiri dari 18 item Variabel gaya kepemimpinan transformasional diukur melalui alat ukur Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) dari Bass & Riggio . dengan transformasional sebanyak 20 item dan diterjemahkan dengan nilai validitas < Vol. 4 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 3 November 2024 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif 001 Ae 0. 006 serta reliabilitasnya 0. Sementara itu, penelitian ini mengukur perilaku inovatif dengan alat ukur baku perilaku kerja inovatif oleh Janssen . yang terdiri dari sembilan item dan dialih bahasakan dengan nilai validitas < 001 Ae 0. 005 serta hasil reliabilitas 0. Teknik menyebarkan kuesioner berbentuk google form secara daring kepada karyawan grade satu di PT. Partisipan yang mengisi sebanyak 58 karyawan yang memiliki hubungan dengan atasan langsung selama minimal enam bulan. Dalam melakukan pengolahan data, penelitian ini menggunakan bantuan program JASP versi 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 58 orang karyawan grade satu di PT. Terdapat sebanyak 65,5% berjenis kelamin pria dan 34,5% sisanya adalah wanita. Selain itu, pendidikan terakhir semua partisipan minimal SMA sederajat dengan rentang usia 20 Ae 50 tahun serta lama kerjanya lebih dari enam bulan di perusahaan tersebut. Menurut data yang disajikan dalam Tabel 1, gaya kepemimpinan dan perilaku Tabel 1. Korelasi Antar Variabel Variabel Perilaku Inovatif Kepemimpinan Otentik Kepemimpinan Etis Kepemimpinan Pemberdayaan Kepemimpinan Transformasional inovatif memiliki hubungan yang Hal ini terlihat dari p-value yang kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,029. Dengan demikian, atasan di PT. X yang memahami dan menggunakan pendekatan gaya kepemimpinan yang tepat dapat menciptakan lingkungan yang tepat dan kondusif untuk berinovasi. Penting bagi organisasi untuk mempertimbangkan faktor gaya kepemimpinan ini dalam strategi pengembangan sumber daya manusia mereka untuk meningkatkan daya saing dan kemampuan beradaptasi di pasar yang terus berubah. Berdasarkan analisis multiple regression dapat diketahui bahwa transformasional adalah kontribusi paling besar, dibuktikan dengan nilai R2 = 0. yang artinya sebesar 13,4% varians dari perilaku inovatif dapat dijelaskan oleh gaya kepemimpinan transformasional. Temuan ini menunjukkan bahwa pemimpin PT. X yang menggunakan prinsip-prinsip mendorong pengembangan individu, dan menciptakan visi yang jelas, memiliki peran yang besar terhadap tingkat perilaku inovatif karyawan. Dengan kata lain, pemimpin yang fokus pada perubahan dan pengembangan potensi karyawan akan mendorong mereka untuk lebih inovatif. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Pradana, et al. yang menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang paling penting dilakukan oleh para atasan di perusahaan swasta adalah gaya kepemimpinan Penelitian menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan yang efektif adalah gaya kepemimpinan menumbuhkan sikap positif di tempat kepemimpinan, dan rangsangan mental. Dengan memberikan kebebasan berpikir di luar kebiasaan kepada karyawannya, pemimpin transformasional mendorong inovasi dan kreativitas, yang sangat penting dalam organisasi farmasi, yang terus berkembang dan membutuhkan solusi baru. Gaya kepemimpinan transformasional yang berfokus pada pengembangan individu dan memberikan dukungan serta pelatihan yang diperlukan untuk membantu karyawan mencapai Vol. 4 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 3 November 2024 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://doi. org/10. 37817/PsikologiKreatifInovatif potensi penuh mereka akan meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Selain itu, dengan mendorong fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi dalam tim mereka, pemimpin transformasional akan lebih mampu menghadapi perubahan cepat dan tantangan baru. Meskipun gaya masing-masing, gaya kepemimpinan transformasional diduga lebih efektif dalam menciptakan perubahan yang signifikan dan bertahan lama dalam organisasi farmasi. Sementara itu, hasil penelitian juga menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan otentik hanya berperan sekitar 1,4% untuk memunculkan perilaku inovatif karyawan di tempat kerja. Pemimpin yang otentik memimpin bawahannya dengan cara dan menanamkan kepercayaan diri. Namun, pada penelitian di PT. X yang merupakan organisasi dibidang farmasi, gaya kepemimpinan otentik memiliki kontribusi paling sedikit kepemimpinan lainnya. Menurut Zhou, et al. pemimpin dengan gaya kepemimpinan otentik lebih mungkin mencapai perilaku inovatif karyawannya dalam pekerjaan Faktanya, jika seorang pemimpin dianggap oleh bawahannya sebagai merasakan emosi positif dalam bekerja, seperti kepercayaan diri dan motivasi, meningkatkan produktivitas perusahaan. Hanya saja pemimpin di PT. X belum banyak yang mengaplikasikan gaya kepemimpinan otentik sehingga hanya berperan 1,4% untuk meningkatkan perilaku inovatif karyawan. Selanjutnya, menerapkan gaya kepemimpinan etis dapat meningkatkan motivasi intrinsik karyawan dengan cara membantu karyawan dalam mencari ketertarikan terhadap tugas kerjanya (Yidong & Xinxin, 2. Pendekatan ini tidak hanya menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik, tetapi juga membantu meningkatkan perilaku inovatif karyawan PT. X sebesar 4,1%, memberikan dukungan yang diperlukan dan mendorong karyawan untuk menemukan minat dan bakatnya, pemimpin yang etis dapat menciptakan rasa keterlibatan di tempat kerja lebih Karyawan memandang pemimpin di PT. X yang etis sebagai teladan perilaku di tempat kerja, begitu pula dengan perilaku kerja inovatif, karena hal ini dianggap sebagai perilaku etis yang bisa diadopsi di perusahaan farmasi. Dalam hal ini, karyawan bersedia mengadopsi caracara inovatif dalam melakukan sesuatu sehingga perilaku mereka di tempat kerja sesuai dengan perspektif moral yang dapat diterima yang dianggap tepat oleh perusahaan (Mayer, et al. , 2. Selain itu, gaya kepemimpinan pemberdayaan memiliki peran sebanyak 12,1% dalam meningkatkan perilaku Hal ini berarti semakin seorang pemimpin dapat dijadikan panutan dan karyawannya, maka semakin meningkat pula kemunculan perilaku inovatif pada Temuan ini serupa dengan penelitian De Jong & Den Hartog . yang menunjukkan bahwa pemimpin adalah teladan atau role model bagi karyawan, karena perilaku inovatif dalam diri pemimpin mengarah pada perilaku inovatif dalam diri karyawan. Contohnya mengomunikasikan ide-idenya kepada karyawannya, maka akan timbul juga ideide pada karyawan tersebut (Jaussi & Dionne, 2. Selain itu. De Jong & Den Hartog . juga menemukan bahwa pemimpin yang terlibat dalam memberikan umpan balik dan bimbingan kepada bawahannya berhubungan dengan perilaku inovatif. Hubungan ini muncul karena pemimpin yang mampu memberikan saran dan Vol. 4 No. : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 4 No 3 November 2024 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 masukan kepada bawahannya lebih cenderung memahami sifat ide-ide yang sejalan dengan tujuan perusahaan, sehingga dapat mengimplementasikan ide-ide secara efisien dan tepat dengan Kemudian ketika keempat gaya kepemimpinan digabungkan diperoleh R2 181 yang artinya bahwa gaya kepemimpinan secara simultan memiliki peran sebesar 18,1% terhadap perilaku Dengan keempat gaya kepemimpinan ini, pemimpin dapat menciptakan lingkungan kerja yang mendukung di mana aspekaspek berbeda dari setiap gaya kepemimpinan saling melengkapi dan memperkuat serta mendorong perilaku inovatif karyawan. Dalam istilah lain, 18,1% dari variasi dalam perilaku inovatif dapat dijelaskan oleh kombinasi keempat gaya kepemimpinan ini, selebihnya sebesar 81,9% dipengaruhi variabel lainnya yang tidak diteliti pada penelitian Penelitian ini memberikan hasil yang selaras dengan penelitian Fanani et al. mengenai gaya kepemimpinan terhadap perilaku inovatif dan terbukti terdapat hubungan yang signifikan dan KESIMPULAN Menurut temuan penelitian, jelas terlihat bahwa gaya kepemimpinan pemberdayaan, gaya kepemimpinan etis, dan gaya kepemimpinan tranformasional mempunyai peranan yang signifikan terhadap perilaku inovatif karyawan di PT. Selain itu, dapat diketahui juga pada PT. X yang merupakan organisasi di bidang farmasi bahwa peran gaya kepemimpinan transformasional lebih besar dalam terciptanya perilaku inovatif karyawan dibandingkan dengan ketiga gaya kepemimpinan yang lain. DAFTAR PUSTAKA