PERAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL REMAJA LAKI-LAKI DAN REMAJA PEREMPUAN : STUDI KOMPARATIF ROLES OF PEERS TOWARD SEXUAL BEHAVIOR OF MALE AND FEMALE ADOLESCENTS: COMPARATIVE STUDY Made Ririn Sri Wulandari*1. Ngurah Nara Kusuma*2 Dosen Keperawatan Maternitas*1. Dosen S1 KeperawatanSTIKES Bina Usada Bali*2 Koresponding Author: Made Ririn Sri Wulandari Departemen Keperawatan Maternitas STIKES Bina Usada Bali Kompleks Kampus MAPINDO. Jl. Padang Luwih. Tegal Jaya Dalung-Badung No Hp. ( . 822-3682-0430 e-mail: maderirinsw@gmail. ABSTRAK Masa remaja yang merupakan masa peralihan ke masa pendewasaan diri sering terjadi proses krisis identitas atau pencarian jati diri. Selama proses tersebut akan terjadi perubahan dalam bersikap, berperilaku, serta perubahan sosial. Saat ini perilaku menyimpang seperti seksual pranikah pada remaja meningkat dari tahun ke tahun dan sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya yang dapat menurunkan kualitas remaja serta meningkatkan risiko negatif pada kesehatan reproduksinya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk membandingkan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja lakilaki dan remaja perempuan. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Denpasar dengan responden kelas X. XI, dan XII dengan rentang umur 16-18 tahun. Sampel diambil terpisah dengan teknik purposive sampling dan diperoleh sampel sebanyak 64 responden remaja laki-laki dan 64 responden remaja perempuan. Hasil yang didapatkan adalah responden laki-laki dan perempuan cenderung memiliki peran teman sebaya yang kuat dengan jumlah 42 responden pada laki-laki dan 37 responden pada perempuan dan nilai p>0,05 secara statistik tidak terdapat hubungan antara peran teman sebaya dengan jenis Perilaku seksual pada responden laki-laki maupun perempuan sebagian besar adalah perilaku seksual yang buruk yaitu pada laki-laki sebanyak 70,3% dan pada perempuan 54,7% dan nilai p=0,05 maka secara statistik terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku seksual. Hal ini disebabkan karena remaja laki-laki dalam pola perilaku cenderung berani melakukan perilaku yang beresiko seperti terlibat dalam kekerasan dan kriminalitas. Remaja laki-laki memiliki titik kritis yang berbeda akibat adanya tekanan mandiri lebih awal, adanya tekanan lebih kuat untuk memenuhi peran gender dan adanya pengaruh kuat dari peran teman sebaya. Kata kunci: Remaja. Perilaku seksual. Teman sebaya ABSTRACT Adolescence is a period of transition to maturity, there is often a process of identity crisis or identity search. During the process there will be changes in attitude, behavior, and social change. This time deviant behaviors such as premarital sex in adolescents increase from year to year and very influenced by their peers, which can reduce the quality of adolescents, and increase the negative risk of reproductive health. The purpose of this study was to compare the role of peers to sexual behavior of male and female adolescent. The research was conducted in SMA Negeri 1 Denpasar, respondents in class X. XI, and XII with ages ranging from 16-18 years. Samples were taken separately by purposive sampling technique, sample of 64 64 young male respondents and 64 young female respondents were obtained. The results obtained were male and female respondents tending to have strong peer roles with a total of 42 respondents in men and 37 respondents in women and the value of p>0. 05 statistically there is no relationship between the role of peers and gender. Most sexual behavior among male and female respondents is bad sexual behavior, namely in men as much as 70,3% and in women 54,7% and the value of p=0. 05, then there is a statistically relationship between sex and sexual behavior. This happens because male adolescent in behavioral patterns tend to be brave in carrying out risky behaviors such as being involved in violence and crime. Male adolescent have different critical points due to early self-pressure. There is more pressure to fulfill gender roles and the strong influence of peer roles. Keywords : Adolescent. Sexual Behavior. Peers PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa peralihan ke masa pendewasaan diri, dan juga masa terjadinya krisis identitas atau pencarian jati diri. Selama masa proses perkembangan diri, masa remaja ini akan terjadi perubahanperubahan dalam bersikap, berperilaku, perubahan fisik dan juga sosial. Di Indonesia, remaja sangat memiliki potensi sebagai sumber daya manusia kelompok produktif, namun juga memiliki kerentanan terhadap perilaku menyimpang dan berisiko (Suparmi & Isfandari, 2. Pada tahun 2010 di Indonesia sebanyak 23,7 juta jiwa adalah penduduk remaja . ,6%). Dewasa ini, perilaku menyimpang seperti seksual pranikah pada remaja laki-laki cenderung meningkat yang dijabarkan pada laporan Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) yaitu remaja laki-laki usia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan mengalami peningkatan pada tahun 2007 dari 6,4% dan tahun 2012 menjadi 8,3%, mengalami penurunan dari 1,3% tahun 2007 menjadi 0,9% pada tahun 2012 (SDKI, 2. Selama ini perilaku seksual yang menyimpang atau sebelum menikah dapat meningkatkan risiko negatif pada kesehatan reproduksinya, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, pernikahan dini, melakukan aborsi, dan yang lebih mengancam nyawa adalah rentan terkena penyakit menular Hal seperti ini akan semakin buruk apabila remaja tidak dibekali dengan pengetahuan kesehatan reproduksi sejak dini. Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada tahun 2012 menjelaskan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi masih tergolong rendah, dengan ditunjukkan masih rendahnya pengetahuan tentang masa subur pada perempuan sebesar 31% dan laki-laki sebesar Hal lainnya yaitu pengetahuan terkait risiko kehamilan jika melakukan hubungan seksual mencapai 52% pada perempuan dan 51,3% pada laki-laki (Lestari H, & Sugiharti. Remaja yang berperilaku menyimpang dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan terkait seksual, yang berarti niat remaja untuk menyimpang atau beresiko disesuaikan dengan sikap dan perubahan remaja tersebut. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Rusmiati dan Hastono . yang menyatakan bahwa pengaruh teman sebaya memiliki kontribusi yang besar dalam membentuk perilaku seksual Penelitian lainnya oleh Setitit . terkait hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku seksual didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya yaitu semakin positif arah hubungan interaksi teman sebaya maka semakin tinggi pula tingkat perilaku seksual Berdasarkan hasil studi pendahuluan dengan melakukan wawancara terhadap 20 remaja di SMA Negeri 1 Denpasar dari berbagai kelas secara acak, didapatkan data 18 remaja mengatakan sudah pernah berciuman ketika pacaran, beberapa remaja sudah pernah berpelukan dengan pacar, dan 3 remaja mengaku pernah memegang bagian sensitif pacarnya. Siswa mendapatkan pengetahuan terkait sistem reproduksi manusia hanyalah dari pelajaran biologi dan belum pernah ada kerjasama dengan dinas Dari permasalahan tersebut, peneliti akan meneliti terkait studi komparatif peran teman sebaya terhadap perilaku seksual antara remaja lakilaki dan remaja perempuan, yang nantinya diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran terkait seberapa besar pengaruhnya peran teman sebaya dalam pergaulan antara remaja laki-laki dan remaja perempuan yang mendorong perilaku seksual yang berisiko maupun tidak berisiko. Pemilihan sekolah tersebut dilatarbelakangi juga dengan kondisi sosial ekonomi menengah atas dengan pergaulan sebaya yang tidak terbatas memiliki kecenderungan mengarah pada perilaku seksual beresiko dan selanjutnya menjadi instrumen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Kuisioner Peran Teman Sebaya, terdiri dari 23 item pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh teman sebaya dan modeling teman sebaya terhadap perilaku seksual menurut persepsi remaja, . Kuisioner perilaku seksual remaja, yang terdiri dari 12 pertanyaan berkaitan dengan perilaku seksual remaja, . Skala Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory ( Skala L-MMPI), instrumen ini untuk menguji kejujuran responden dalam menjawab pertanyaan yang ada dalam semua kuesioner penelitian. Skala L-MMPI berisi 15 butir pertanyaan untuk dijawab responden dengan jawaban AuYaAy bila butir pertanyaan dalam L-MMPI sesuai dengan perasaan dan keadaan responden, dan AytidakAy bila tidak sesuai dengan perasaan dan Responden dapatdipertanggungjawabkan kejujurannya bila jawaban AytidakAy berjumlah 10 atau Jika hasil pengukuran menunjukkan skor lebih dari 10 maka responden dinyatakan gugur dan tidak dijadikan subjek penelitian (Semiun Y, 2. Prosedur menentukan remaja yang akan dijadikan sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Meminta calon responden yang telah terpilih untuk bersedia menjadi responden setelah diberikan penjelasan terkait penelitian yang akan dilakukan dan menandatangani informed consent sebagai kesediaan menjadi responden. Responden yang bersedia diberikan penjelasan mengisi kuisoner sesuai petunjuk pengisian dengan waktu pengisian selama 30 menit. Selama pengisian kuisioner dilakukan pendampingan dan setelah semua dipastikan terisi, maka kuisioner akan dikumpulkan dan dilakukan pengecekan kembali. Kuisioner yang telah terkumpul lengkap dilakukan pengolahan BAHAN DAN METODE Penelitian yang akan dilakukan ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan rancangan cross sectional. Dalam penelitian, peneliti akan melihat gambaran peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja laki-laki dan remaja perempuan, serta menganalisis perbedaan dari kedua kelompok tersebut. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Denpasar mulai bulan April hingga bulan Juli 2018. Populasi penelitian ini adalah semua siswa dan siswi kelas X. XI, dan XII yang masih aktif mengikuti pembelajaran di sekolah, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling jenis purposive Semua siswa dan siswi yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria inklusi: . bersedia menjadi responden penelitian, . Siswa siswi kelas X dan XI, . Siswa dan siswi yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran disekolah. Kriteria Eksklusi dalam penelitian ini adalah: Siswa dan siswi yang tidak sekolah/ ijin/ sakit, . Hasil Skala Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory skornya berjumlah lebih dari 10. Penelitian ini akan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok dengan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja laki-laki dan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja Penghitungan menggunakan estimasi besar sampel yang bertujuan menguji hipotesis beda 2 proporsi kelompok independen, maka sampel yang akan digunakan untuk tiap kelompok masingmasing sebanyak 34 orang, sehingga total sampel yang digunakan adalah 68 orang. Pada penelitian ini diperoleh data primer langsung dari responden dengan cara mengisi Langkah-langkah pembuatan instrumen dalam penelitian ini meliputi pembuatan kisikisi instrumen dan pembuatan instrumen. Kisi -kisi instrumen dikembangkan oleh peneliti HASIL Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Denpasar pada kelas X. XI, dan XII yang pengambilan kelasnya secara acak. Selama pengambilan data penelitian, jumlah sampel penelitian yang didapatkan adalah sebanyak 93 responden laki-laki dan 91 responden perempuan. Setelah jawaban kuisioner dilakukan skrinning menggunakan Skala Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory ( Skala L-MMPI) untuk mendapatkan jawaban dari sampel penelitian yang dipertanggungjawabkan kejujurannya dari 93 responden laki-laki, sebanyak 29 orang siswa memiliki skor skala L-MMPI >10 dan dari 91responden perempuan, sebanyak 27 orang responden memiliki skor skala L-MMPI >10, sehingga jumlah responden yang digunakan adalah sebanyak 64 responden pada masingmasing kelompok. Dalam penelitian ini, karakteristik responden SMA Negeri 1 Denpasar mencakup usia, jenis kelamin, pendidikan ayah dan ibu. Berikut adalah tabel dari data Tabel. Karakteristik Responden Remaja Laki-laki dan Remaja Perempuan Laki-Laki Perempuan N=64 N=64 Karakteristik Responden Mean A SD n(%) Usia 14-15 th 16-17 th Pendidikan Ayah in-ma. Mean A SD n(%) . in-ma. %) 16,31 A 0,94 20 . %) 16,23 A 1,00 41 . %) . %) . Pendidikan Tinggi 50 . %) Pendidikan Rendah Pendidikan Tinggi 44 . %) Pendidikan Rendah Pendidikan Ibu usia termuda adalah 14 tahun dan usia tertua Pada karakteristik responden diatas adalah 17 tahun. Dari data tersebut juga dapat dapat dilihat bahwa pada responden laki-laki dilihat sebagian besar jenjang pendidikan usia termuda adalah 15 tahun dan tertua orang tua responden adalah berpendidikan adalah 17 tahun, pada responden perempuan tinggi yaitu jenjang pendidikan sarjana maupun diploma. Tabel 2. Peran Teman Sebaya Pada Remaja Laki-laki dan Remaja Perempuan Sumber: data primer . Laki-Laki N=64 Perempuan N=64 n(%) n(%) 22 . ,4%) 27 . ,2%) Kuat ,6%) ,8%) TOTAL Responden Peran Teman Sebaya Lemah Nilai p TOTAL 0,234 ,3%) ,7%) Sumber: data primer . Pada tabel 2 terdapat data bahwa laki-laki cenderung memiliki peran teman sebaya yang kuat dengan jumlah 42 responden pada lakilaki dan 37 responden pada perempuan. Pada tabel nilai p>0,05 secara statistik tidak terdapat hubungan antara peran teman sebaya dengan jenis kelamin. Karena selisih proporsi juga tidak lebih dari 20% maka disimpulkan secara klinis tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan peran teman sebaya. Tabel 3. Perilaku Seksual Pada Remaja Laki-laki dan Remaja Perempuan Responden Perilaku Seksual Baik Buruk TOTAL Sumber: data primer . Laki-Laki Perempuan N=64 N=64 n(%) n(%) 19 . ,7%) 29 . ,3%) 45 . ,3%) 64 . %) 35 . ,7%) 64 . %) Berdasarkan data diatas perilaku seksual pada responden laki-laki maupun perempuan sebagian besar adalah perilaku seksual yang buruk yaitu pada laki-laki sebanyak 45 orang . ,3%) dan pada Nilai p TOTAL 0,050 ,5%) ,5%) perempuan sebanyak 35 orang . ,7%). Pada tabel juga dapat dilihat bahwa nilai p=0,05 maka secara statistik terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku seksual. Tabel 4. Hasil analisa Peran Teman Sebaya Terhadap Perilaku Seksual Perilaku Seksual Responden Baik Buruk Lemah ,3%) ,7%) Kuat TOTAL Sumber: data primer . ,5%) 48 . ,5%) 62 . ,5%) 80 . ,5%) Peran Teman Sebaya Berdasarkan data diatas perilaku seksual pada responden laki-laki maupun perempuan sebagian besar adalah perilaku seksual yang buruk yaitu pada laki-laki sebanyak 45 orang . ,3%) dan pada perempuan sebanyak 35 orang . ,7%). Pada tabel juga dapat dilihat bahwa nilai p=0,05 maka secara statistik terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku seksual. Berdasarkan hasil analisa data dapat dilihat bahwa nilai p<0,05 yang berarti secara statistik terdapat hubungan antara peran teman sebaya terhadap perilaku seksual dari Selain itu, selisih proporsi yang didapat adalah >20% yang berarti secara klinis terdapat hubungan antara peran teman sebaya terhadap perilaku seksual. Nilai p TOTAL 0,001 dorongan seksual ini adalah secara normatif mereka yang belum menikah tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual (Rusmiati & Hastono, 2. Sementara itu dengan adanya peningkatan status gizi, usia kematangan seksual semakin cepat, sedangkan remaja menunda usia pendidikan serta ingin berkarir. Suatu keadaan saat remaja menghadapi kebutuhan seksual yang belum dapat terpenuhi ini mendorong remaja melakukan hubungan seksual pranikah (Sarwono, 2. Minat remaja terhadap lawan jenis dipengaruhi oleh perkembangan organ Terjadinya peningkatan minat remaja terhadap lawan jenis dipengaruhi oleh faktor perubahan fisik selama masa pubertas (Pratiwi & Basuki, 2. Semakin dini usia pubertas, maka semakin cepat remaja mengalami krisis identitas dan segala kebingungan yang terjadi karena perubahan fisik yang terjadi semakin membuat remaja ingin mencari tahu dan ingin mencoba apa yang belum diketahuinya termasuk masalah seksual (Sarwono, 2. Selain itu, mulai aktifnya hormon seksual pada menyebabkan timbulnya dorongan seksual di dalam diri remaja dan remaja seringkali merasa bahwa sudah saatnya untuk melakukan aktivitas PEMBAHASAN Pada masa remaja, seorang individu mulai memasuki masa pubertas, dimana masa pubertas terjadi peningkatan dorongan Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada masa remaja ini dipengaruhi oleh berfungsinya hormon-hormon seksual, yaitu testosteron pada laki-laki dan progesteron pada perempuan (Pardede N, 2. Hormonhormon inilah yang mempengaruhi dorongan seksual manusia. Permasalahan yang kemudian timbul akibat meningkatnya seksual karena mereka merasa sudah matang secara fisik. Beberapa mendukung hasil penelitian ini, adalah penelitian Saputri . yang menunjukkan hasil bahwa ada hubungan antara teman sebaya terhadap perilaku seks pranikah, yaitu sikap teman sebaya yang mendukung perilaku seks pranikah berisiko 9,387 lebih besar untuk melakukan perilaku seksual Dalam penelitian ini membahas bahwa teman sebaya merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap perilaku seksual karena hampir seluruh kegiatan yang dilakukan di sekolah dilakukan bersama dengan teman sebayanya. Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian Nurhayati, et al . yang menyatakan bahwa adanya pengaruh yang signifikan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pranikah dan variabel pengaruh teman sebaya juga merupakan variabel yang paling berpengaruh. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, pengaruh teman sebaya yang menyimpang dan berisiko menjadikan remaja untuk mengikuti aktivitas dan perilaku menyimpang seperti yang dilakukan oleh teman-temannya. Dalam pengambilan keputusan untuk berperilaku berisiko akan lambat laun menurun dengan bertambahnya usia dan kematangan dalam berpikir, selain itu remaja berperilaku berisiko akan lebih tinggi ketika bersama dengan teman kelompoknya dibandingkan ketika remaja sendirian. Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa peran teman sebaya pada remaja lakilaki lebih tinggi nilainya dibandingkan Secara perbedaan struktur anatomi dan fisiologi pada laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual lebih lambat dialami laki-laki dibandingkan dengan perempuan yang ditandai dengan mimpi basah, membesarnya penis, testis, dan skrotum, tumbuhnya rambut di dada, kaki dan kumis, suara menjadi lebih berat dan dalam serta tubuh yang mulai Hal dorongan seksual yang muncul dan menguat pada alat genital remaja laki-laki. Pada masa laki-laki masturbasi untuk memuaskan diri sendiri untuk melepas dorongan seksualnya. Selain perbedaan secara biologis, terdapat perbedaan kognitif dan emosional pada remaja laki-laki disebabkan oleh peran gender yang ditanam sejak kecil. Remaja laki-laki cenderung tidak mengekspresikan emosinya, lebih tertutup dan membuat jarak terhadap orang lain. Remaja laki-laki dalam pola perilaku cenderung berani melakukan perilaku yang beresiko seperti terlibat dalam kekerasan dan Remaja laki-laki memiliki titik kritis yang berbeda akibat adanya tekanan mandiri lebih awal, adanya tekanan lebih kuat untuk memenuhi peran gender dan adanya pengaruh kuat dari peran teman sebaya (Soetjiningsih, 2. Hal ini didukung penelitian oleh Nurhayati, et al . bahwa perilaku seksual pada remaja laki-laki berisiko lebih Ada norma yang lebih longgar laki-laki akibatnya laki-laki berpeluang lebih besar melakukan berbagai hal dibandingkan Laki-laki cenderung lebih bebas dibandingkan perempuan. Orang tua lebih dibandingkan laki-laki. Sehingga dapat dipahami jika laki-laki memiliki peluang lebih besar untuk berperilaku seksual berisiko dibanding perempuan. Selain hal tersebut pendidikan orang tua juga ikut berperan dalam perilaku seksual anak. Komunikasi antara orangtua-remaja yang baik membantu remaja untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghindari perilaku seksual berisiko (Gustina, 2. Rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan seksual dapat terjadi karena masih rendahnya komunikasi yang terjalin antara orangtua-remaja. Budaya tabu, rasa komunikasi menghambat komunikasi antara orangtua-remaja tentang perilaku seksual (Maesaroh & Fauziah, 2. Remaja yang memiliki keyakinan positif dan terbuka dengan orangtua tentang seksualitas dapat mempengaruhi keputusan dalam berperilaku seksual (Gustina, 2. Pendidikan orangtua memiliki hubungan dengan perilaku seksual Melalui komunikasi, orangtua seharusnya menjadi sumber informasi dan pendidik utama tentang seksualitas bagi Namun demikian, orangtua sering menghadapi kesulitan untuk membicarakan masalah seksual kepada anak remajanya. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki kesulitan berkomunikasi dengan orangtuanya cenderung memiliki sikap permisif terhadap hubungan seksual. Diskusi terbuka tentang seksualitas menjadi sulit bagi orangtua maupun remaja oleh karena pantangan sosial budaya di sekitarnya. Pada Remaja Sma Negeri 1 Indralaya Utara. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. Vol. , 83-90. Maesaroh & Fauziah. Pengetahuan Remaja Putri tentang Resiko Tindakan Aborsi terhadap Kesehatan dan Hukum. Jurnal Kebidanan Indonesia. Vol. No. 1: 81-90 Pardede. Nancy. Masa Remaja. Narendra. Sularyo. Soetjiningsih. Suyitno. Ranuh. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: Sagung Seto, 138-170 Pratiwi. NL. , & Basuki. Analisis Hubungan Perilaku Seks Pertamakali Tidak Aman Pada Remaja Usia 15Ae24 Tahun Dan Kesehatan Reproduksi. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Vol. , 309-320 Rusmiati. & Hastono. Teenage Attitudes To Virginity And Sexual Behavior In Dating. Kesmas-National Public Health Journal. Vol. , 2936. Sarwono. SW. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Saputri. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seks Pranikah Pada Siswa Kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Bantul Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Yogyakarta. Semiun. , 2010. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius. Setitit. Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di Kabupaten Merauke. Skripsi thesis. Sanata Dharma University. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: CV Sagung Seto Suparmi & Isfandari. Peran Teman Sebaya terhadap Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja Laki-Laki dan Perempuan di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan. Vol. , 139146. Survei Demografi Kesehatan Indonesia. Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: BPS SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh peran teman sebaya terhadap perilaku seksual remaja yang dinyatakan dengan nilai p<0,05. Memiliki teman sebaya yang berperan kuat dalam pergaulan remaja dapat mempengaruhi perilaku seksual remaja yang buruk. Saran dari penelitian ini diperuntukkan kepada dinas kesehatan terutama di daerah Bali untuk perlu mengembangkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja melalui Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang diaplikasikan melalui pembentukan kelompok . eer grou. remaja untuk membahas masalah kesehatan reproduksi dan seksual remaja. Saran bagi tenaga kesehatan, terutama tenaga perawat untuk lebih maksimal melakukan promosi kesehatan reproduksi remaja melalui kunjungan rumah, pembinaan sekolah melalui program UKS dan melakukan kerjasama dengan puskesmas dalam penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja, dan bagi para remaja tentang kesehatan reproduksi dengan menggunakan media informasi untuk mengakses informasi yang positif serta lebih selektif dalam pergaulan disekitarnya. DAFTAR PUSTAKA