Jurnal Ilmiah Manajemen. Ekonomi dan Bisnis VOL 4. No. Januari 2025, pp. 76 - 85 p-ISSN: 2809-1655 . edia ceta. e-ISSN: 2809-1981 . edia onlin. Link Publikasi: https://ejurnal. id/index. php/JIMEB/issue/view/144 DOI: https://doi. org/10. 51903/tzbpbj78 n page 76 Analysis of Digital Emotional Branding Strategies and Their Influence on Enhancing Consumer Loyalty in the Online Culinary Industry Tiago Mourinho*1. Kenzo Alvaro2 1, 2 Universitas Hasanudin Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, 90245. Kota Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia Email: mourinho@gmai. ARTICLE INFO Article history: Received Revised Accepted Published : Oct 2024 : Nov 2024 : Nov 2024 : Jan 2025 ABSTRACT The digital transformation of the online culinary industry has significantly reshaped how brands build emotional connections with their consumers. This study aims to analyze the influence of digital emotional branding on enhancing consumer loyalty within IndonesiaAos online culinary industry. Employing a mixed-methods sequential explanatory design, this research integrates quantitative data from 100 survey respondents and qualitative insights from 10 key informants, obtained through in-depth interviews. Quantitative data were analyzed using SPSS 26 to assess the relationship between emotional branding and loyalty. In contrast, qualitative data were analyzed using NVivo 12 Plus to identify emotional themes, including digital intimacy, brand narrative authenticity, and consumer The findings reveal that digital emotional branding has a positive and significant effect on consumer loyalty. Consumers tend to remain loyal to brands that create authentic emotional experiences through engaging and interactive digital This study contributes to the development of emotionbased digital marketing theory and offers practical implications for online culinary businesses to strengthen personalized, meaningful digital communication strategies. Overall, the study underscores that the success of digital culinary brands depends not only on product quality but also on their ability to foster deep emotional bonds with consumers in the digital space. Keywords: Digital Emotional Branding. Consumer Loyalty. Online Culinary Industry. Digital Marketing Strategy. Brand Emotional Engagement. This journal is an open-access publication. All articles are freely and permanently accessible to everyone. Copyright A 2025 by the Author. This article is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. ABSTRAK Transformasi digital dalam industri kuliner online telah mendorong perubahan signifikan dalam cara merek membangun hubungan emosional dengan konsumennya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh emotional branding digital terhadap peningkatan loyalitas konsumen pada industri kuliner online di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan mixed methods sequential explanatory, penelitian ini Received Oct 2024. Revised Nov 2024. Accepted Nov 2024. Published Jan 2025 p-ISSN: 2809-1655 e-ISSN: 2809-1981 menggabungkan data kuantitatif dari 100 responden survei dan data kualitatif dari 10 informan kunci melalui wawancara mendalam. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan SPSS 26 untuk menguji hubungan antara variabel emotional branding dan loyalitas, sedangkan analisis kualitatif dengan NVivo 12 Plus digunakan untuk mengidentifikasi tema-tema emosional seperti kedekatan digital, keaslian narasi merek, dan keterikatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa emotional branding digital memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen. Konsumen cenderung lebih setia pada merek yang mampu menghadirkan pengalaman emosional autentik melalui konten digital yang menarik dan interaktif. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan teori pemasaran digital berbasis emosi dan menawarkan implikasi praktis bagi pelaku industri kuliner online untuk memperkuat strategi komunikasi digital yang lebih personal dan bermakna. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan merek kuliner digital tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan membangun ikatan emosional yang mendalam dengan konsumen di ruang digital. Kata Kunci: Emotional Branding Digital. Loyalitas Konsumen. Industri Kuliner Online. Strategi Pemasaran Digital. Keterikatan Emosional Merek. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara konsumen berinteraksi dengan merek, termasuk dalam industri kuliner online yang tumbuh pesat di Indonesia (Miftahurrohman & Muthohir. Priyanto et al. , 2025. Subroto et al. , 2. Munculnya platform pemesanan makanan seperti GoFood. GrabFood, dan ShopeeFood menjadikan pengalaman konsumsi kuliner tidak lagi sekadar aktivitas transaksional (Yulistiyono et al. , 2. Kini, konsumen berinteraksi dengan merek melalui nilai, narasi, dan pengalaman emosional yang dihadirkan secara daring (Aborisade et al. , 2. dan (Tao & Gao, 2. Oleh sebab itu, emotional branding digital muncul sebagai strategi penting untuk membangun keterikatan yang lebih dalam antara merek dan konsumen. Pendekatan ini menekankan hubungan emosional yang mampu menciptakan loyalitas dan pengalaman merek yang bermakna (Awasthi et al. , 2. Fenomena terkini menunjukkan bahwa tingkat persaingan di industri kuliner online semakin tinggi seiring bertambahnya jumlah pelaku usaha (Nivornusit et al. , 2. dan (Hole et al. , 2. Data dari Statista . Diperkirakan, nilai pasar layanan pesan-antar makanan digital di Indonesia telah mencapai sekitar Rp114115 triliun, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 10,5%. Namun demikian, peningkatan pengguna tidak selalu berbanding lurus dengan loyalitas konsumen karena sebagian besar pelanggan masih berpindah merek akibat faktor promosi dan harga (Sudirjo et al. , 2. dan (Chauhan, 2. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keterikatan emosional antara merek kuliner online dan konsumennya belum terbentuk secara kuat. Dengan demikian, strategi branding berbasis emosi menjadi semakin mendesak dalam mempertahankan loyalitas di tengah pasar yang kompetitif (Damayanti et al. , 2. Kajian literatur terdahulu menegaskan bahwa emotional branding memiliki peran penting dalam membentuk loyalitas pelanggan (Sardesai et al. , 2. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian masih berfokus pada industri seperti fashion, otomotif, dan produk teknologi, bukan pada kuliner digital. Dalam ranah digital, emotional branding kerap dikaitkan dengan storytelling, identitas visual, dan interaktivitas untuk menciptakan resonansi emosional (Wang & Ismail, 2. Akan tetapi, penerapan strategi tersebut pada konteks kuliner daring di Indonesia masih jarang dikaji secara mendalam. Padahal, sektor kuliner memiliki karakteristik emosional tersendiri seperti pengalaman sensorik, nostalgia, dan nilai kebersamaan yang khas dalam budaya lokal (Gocer et al. , 2. dan (Ramineni et al. , 2. Penelitian oleh (Nadeem, 2. menunjukkan bahwa strategi emotional branding, ketika dipadukan dengan kepercayaan merek . rand trus. , terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen dalam layanan berbasis pengalaman. Temuan tersebut menekankan bahwa bukan hanya pesan emosional yang penting, tetapi juga bagaimana merek mampu menghadirkan konsistensi dan keandalan dalam pengalaman Hal ini sangat relevan bagi industri kuliner online, di mana pengalaman pengguna seringkali berbasis aplikasi dan sangat dipengaruhi persepsi keaslian merek. Dengan demikian, kombinasi antara emotional branding dan kualitas pengalaman digital menjadi aspek kritis yang layak dieksplorasi lebih lanjut (Zhijun et al. , 2. dan (Kumar et al. , 2. Studi lain oleh (Abbas et al. , 2. dan (Nuralam et al. , 2. menegaskan bahwa emotional branding tidak hanya berdampak langsung terhadap loyalitas konsumen, tetapi juga secara tidak langsung melalui kepuasan Jurnal Ilmiah Manajemen. Ekonomi dan Bisnis (JIMEB) VOL 4. No. Januari 2025, pp. 76 - 85 p-ISSN: 2803-1507 e-ISSN: 2803-1531 konsumen sebagai variabel mediasi. Artinya, ketika konsumen merasakan keterikatan emosional dengan merek dan sekaligus puas terhadap pengalaman layanan atau produk, maka loyalitas jangka panjang semakin mungkin terbentuk. Dalam konteks bisnis kuliner online, hal ini menunjukkan bahwa strategi branding emosional saja belum cukup, aspek pengalaman layanan digital, interaksi dengan merek, dan kepuasan terhadap keseluruhan perjalanan konsumen juga harus diperhatikan. Oleh karena itu, penelitian ini perlu menyoroti bagaimana aspek digital dari interaksi merek kuliner turut memengaruhi keterikatan emosional dan loyalitas konsumen (Muhammad Dairobi & Anisah, 2. Analisis terhadap penelitian terdahulu memperlihatkan adanya dua bentuk kesenjangan penelitian . esearch Pertama, gap yang minim ditemukan adalah kurangnya kajian yang menggali pengalaman emosional konsumen secara kualitatif pada konteks kuliner digital di Indonesia. sebagian besar studi hanya meneliti hubungan antarvariabel tanpa mengeksplorasi makna emosional yang dirasakan konsumen terhadap merek kuliner online. Kedua, gap yang sering ditemukan ialah dominasi penelitian yang berfokus pada aspek rasional seperti harga dan kualitas produk, sementara nilai emosional dan naratif dalam menciptakan loyalitas jangka panjang masih sering diabaikan. Karena itu, dibutuhkan pendekatan penelitian yang lebih holistik dan kontekstual dalam memahami keterikatan emosional konsumen (Purnami et al. , 2. Berdasarkan identifikasi kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan strategi emotional branding digital yang digunakan oleh pelaku industri kuliner online. Selain itu, penelitian ini menganalisis persepsi konsumen terhadap efektivitas strategi tersebut dalam membangun keterikatan emosional dan loyalitas terhadap merek. Tujuan lainnya adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung atau menghambat keberhasilan emotional branding digital di ranah kuliner daring Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman menyeluruh mengenai praktik emotional branding dalam konteks digital yang terus berkembang. Kebaruan . penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan kualitatif deskriptif yang menyoroti pengalaman emosional konsumen terhadap strategi branding digital dalam industri kuliner lokal. Penelitian ini tidak hanya berfokus pada efektivitas promosi, tetapi juga menggali makna emosional yang terbentuk melalui interaksi digital antara merek dan konsumen (Liu et al. , 2. Selain itu, penelitian ini mengaitkan emotional branding dengan konteks budaya konsumsi kuliner Indonesia yang menekankan nilai kebersamaan dan pengalaman sensorik yang unik (Lestari et al. , 2. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi yang lebih dalam terhadap cara merek membangun hubungan emosional yang autentik dengan konsumen. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan konsep digital emotional branding dengan menempatkannya dalam konteks industri kuliner online yang dinamis dan berbasis Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi pelaku usaha kuliner digital dalam merancang strategi branding yang lebih emosional, autentik, dan berorientasi jangka panjang. Penelitian ini juga memberikan gambaran strategis tentang bagaimana merek kuliner online dapat memperkuat loyalitas konsumen melalui keterlibatan emosional. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjawab kesenjangan akademik tetapi juga memberikan manfaat praktis bagi pengembangan strategi branding digital di Indonesia. METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods explanatory sequential, yaitu menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif secara berurutan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai pengaruh strategi emotional branding digital terhadap loyalitas konsumen di industri kuliner Tahap pertama dilakukan melalui survei kuantitatif untuk mengidentifikasi kecenderungan umum terkait persepsi konsumen terhadap elemen-elemen branding digital. Selanjutnya, hasil survei dianalisis dan dijadikan dasar untuk tahap kualitatif berupa wawancara mendalam yang bertujuan menggali makna emosional di balik respon konsumen. Desain ini dipilih agar penelitian tidak hanya menggambarkan hubungan statistik, tetapi juga menjelaskan bagaimana dan mengapa strategi branding digital mampu menumbuhkan keterikatan emosional yang berujung pada loyalitas pelanggan. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada berbagai merek kuliner online yang beroperasi di Indonesia dan aktif memanfaatkan media digital dalam kegiatan branding, seperti Kopi Kenangan. Haus!. Janji Jiwa, dan Analysis of Digital Emotional Branding StrategiesA (T. Mourinho et al. p-ISSN: 2809-1655 e-ISSN: 2809-1981 Chatime Indonesia. Lokasi penelitian dipilih karena merek-merek ini memiliki kehadiran digital yang kuat serta keterlibatan tinggi dengan pelanggan di platform seperti Instagram. TikTok, dan aplikasi pesan antar Subjek penelitian terdiri atas dua kelompok utama, yaitu konsumen aktif yang sering melakukan pembelian melalui platform kuliner digital, serta pengelola atau manajer pemasaran dari merek kuliner online Pemilihan lokasi dan subjek dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat relevansi terhadap dinamika emotional branding digital yang berkembang pesat di industri ini. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini mencakup pengguna aktif platform kuliner digital di Indonesia yang berusia antara 18 hingga 35 tahun, karena kelompok ini merupakan segmen konsumen yang paling responsif terhadap strategi pemasaran digital berbasis emosi. Dari populasi tersebut, diambil 100 responden untuk tahap kuantitatif dengan teknik purposive sampling, yang kemudian disaring menjadi 10 informan kunci untuk tahap kualitatif. Informan kunci dipilih berdasarkan kriteria tertentu, seperti frekuensi pembelian minimal dua kali per minggu dan pengalaman interaksi langsung dengan konten promosi digital dari merek kuliner Jumlah ini dinilai memadai untuk memberikan variasi perspektif sekaligus menjaga kedalaman eksplorasi data selama proses wawancara. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui dua tahap utama: survei kuantitatif dan wawancara mendalam. Pada tahap pertama, survei dilakukan menggunakan kuesioner berbasis Google Form yang disebarkan secara daring melalui media sosial. Instrumen ini memuat pertanyaan mengenai persepsi responden terhadap elemen emotional branding seperti visual storytelling, narasi merek, dan keterlibatan interaktif. Setelah hasil survei dianalisis, tahap kedua dilakukan melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. dengan 10 informan terpilih untuk memahami lebih dalam aspek emosional yang memengaruhi loyalitas mereka. Salah satu informan. Rani . , menyampaikan bahwa Aukonten video singkat dengan narasi hangat dan ekspresi emosional membuat saya merasa lebih dekat dengan merek, seolah-olah mereka memahami selera dan suasana hati saya. Ay Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana strategi konten digital dapat membangun ikatan emosional yang kuat antara merek dan konsumen. Software dan Alat Analisis yang Digunakan Dalam proses pengolahan data, penelitian ini menggunakan kombinasi perangkat lunak SPSS 26 untuk tahap kuantitatif dan NVivo 12 Plus untuk tahap kualitatif. SPSS digunakan untuk menganalisis data survei, termasuk uji validitas, reliabilitas, serta analisis regresi sederhana guna melihat hubungan antara variabel emotional branding digital dan loyalitas konsumen. Sementara itu. NVivo 12 digunakan dalam proses pengkodean dan analisis tematik terhadap transkrip wawancara untuk mengidentifikasi pola emosional yang muncul dari interaksi digital konsumen. Selain kedua perangkat utama tersebut, peneliti juga memanfaatkan Microsoft Excel untuk manajemen data dan visualisasi hasil analisis secara sistematis agar mudah dipahami dalam tahap interpretasi akhir. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dengan dua pendekatan yang saling melengkapi. Pada tahap kuantitatif, data survei dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dan regresi untuk mengetahui tingkat pengaruh strategi emotional branding terhadap loyalitas konsumen. Hasil analisis ini kemudian menjadi dasar untuk tahap kualitatif, di mana wawancara mendalam dianalisis menggunakan analisis tematik . hematic analysi. Melalui tahapan pengkodean terbuka, aksial, dan selektif, peneliti mengidentifikasi tema-tema utama seperti Aukedekatan emosional digital,Ay Aukeaslian narasi merek,Ay dan Aurasa keterikatan terhadap pengalaman kuliner Ay Pendekatan ini membantu menghubungkan data kuantitatif yang bersifat numerik dengan makna emosional yang muncul dari narasi konsumen. Keabsahan Data Untuk menjamin keabsahan hasil penelitian, digunakan strategi triangulasi metode dan sumber data. Data dari hasil survei dibandingkan dengan temuan wawancara dan observasi digital terhadap aktivitas merek di media sosial. Proses member checking juga dilakukan dengan mengirimkan ringkasan hasil wawancara kepada informan guna memastikan interpretasi peneliti sesuai dengan maksud responden. Selain itu, audit trail disusun untuk mendokumentasikan setiap tahapan analisis, mulai dari pengumpulan data hingga interpretasi akhir, agar transparansi penelitian tetap terjaga. Langkah ini memastikan bahwa hasil penelitian Jurnal Ilmiah Manajemen. Ekonomi dan Bisnis (JIMEB) VOL 4. No. Januari 2025, pp. 76 - 85 p-ISSN: 2803-1507 e-ISSN: 2803-1531 memiliki tingkat kredibilitas dan keandalan yang tinggi, serta dapat menjadi rujukan bagi penelitian sejenis di masa mendatang. Untuk memperjelas alur penerapan strategi validitas dalam penelitian ini. Gambar 1 berikut menyajikan kerangka pemikiran yang menggambarkan keterkaitan antara triangulasi metode dan sumber data, member checking, serta audit trail dalam memastikan kredibilitas dan keandalan hasil Melalui visualisasi ini, pembaca dapat memahami bagaimana setiap strategi saling mendukung dalam menjaga integritas proses analisis, mulai dari pengumpulan data hingga interpretasi akhir. Kerangka ini juga menegaskan bahwa keabsahan bukan hanya hasil akhir, melainkan bagian integral dari keseluruhan proses penelitian yang berorientasi pada transparansi dan konsistensi ilmiah. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Keabsahan Data dalam Penelitian Emotional Branding Digital HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sebagai bagian dari penjelasan metodologis. Tabel 1 menggambarkan secara sistematis tahapan penelitian yang menggunakan desain mixed methods explanatory sequential, di mana pendekatan kuantitatif dan kualitatif diterapkan secara berurutan dan saling melengkapi. Melalui struktur ini, tahap pertama berfokus pada identifikasi pola umum persepsi konsumen terhadap strategi emotional branding digital melalui survei kuantitatif, sedangkan tahap kedua berupaya memahami makna emosional dan naratif di balik data tersebut melalui wawancara mendalam. Integrasi hasil dari kedua tahap ini menghasilkan pemahaman konseptual yang komprehensif mengenai bagaimana strategi branding berbasis emosi berkontribusi terhadap pembentukan loyalitas konsumen di industri kuliner online. Dengan demikian, desain ini tidak hanya menekankan pada kekuatan analisis statistik, tetapi juga menyoroti aspek emosional dan kontekstual yang menjadi dasar dari perilaku konsumen digital. Penjelasan pada Tabel 1 membantu memperlihatkan kesinambungan logis antara metode, tujuan, dan hasil yang diharapkan dari setiap tahap penelitian. Penyusunan tabel ini bertujuan untuk memudahkan pembaca memahami alur riset dari proses pengumpulan hingga integrasi data, serta menunjukkan bahwa setiap langkah dalam penelitian dirancang secara terstruktur untuk mencapai temuan yang valid dan mendalam mengenai fenomena emotional branding digital di industri kuliner daring. Desain penelitian yang ditampilkan pada Tabel 1 juga mencerminkan pendekatan ilmiah yang berorientasi pada pemahaman menyeluruh terhadap perilaku konsumen digital di era pemasaran berbasis emosi. Pendekatan kuantitatif memberikan dasar empiris melalui pengukuran yang objektif, sementara tahap kualitatif memperkaya hasil dengan narasi yang lebih manusiawi dan kontekstual. Kombinasi keduanya memungkinkan peneliti untuk tidak hanya menjelaskan apa dan seberapa besar pengaruh emotional branding digital terhadap loyalitas, tetapi juga mengapa dan bagaimana proses tersebut terbentuk dalam interaksi digital konsumen. Pendekatan berlapis ini memperkuat validitas penelitian sekaligus memberikan pandangan yang lebih mendalam mengenai strategi yang efektif dalam membangun hubungan emosional antara merek dan konsumen di ranah kuliner online. Tabel 1. Desain Penelitian Mixed Methods Explanatory Sequential Tahap Penelitian Pendekatan / Metode Tujuan Utama Prosedur / Kegiatan Hasil yang Diharapkan Analysis of Digital Emotional Branding StrategiesA (T. Mourinho et al. p-ISSN: 2809-1655 Survei Mengidentifikasi kecenderungan umum persepsi konsumen terhadap elemen-elemen emotional branding digital dalam industri kuliner Tahap 2: Kualitatif Wawancara mendalam . ndepth intervie. Menggali makna emosional, pengalaman, dan persepsi mendalam konsumen terhadap interaksi dengan merek kuliner digital. Integrasi Hasil Analisis (Integration & Interpretation Phas. Tahap 1: Kuantitatif Menjelaskan hubungan antara temuan kuantitatif dan kualitatif secara - Penyusunan instrumen survei berbasis indikator branding digital dan loyalitas konsumen. - Pengumpulan data melalui platform daring (Google For. - Analisis statistik deskriptif dan korelasi - Pemilihan informan berdasarkan hasil survei tahap pertama. - Wawancara semiterstruktur dengan 1015 informan. - Analisis tematik menggunakan NVivo 12 Plus. - Menghubungkan hasil statistik dengan narasi wawancara. - Menarik kesimpulan konseptual mengenai strategi emotional branding digital. e-ISSN: 2809-1981 Diperoleh pola umum dan hubungan statistik antara strategi emotional branding digital dan loyalitas Pemahaman mendalam tentang faktor emosional dan naratif yang membentuk loyalitas konsumen terhadap merek kuliner digital. Model konseptual tentang pengaruh emotional branding digital terhadap loyalitas konsumen pada industri kuliner Penentuan populasi dan sampel menjadi tahapan penting dalam penelitian ini karena berperan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan karakteristik konsumen di industri kuliner digital. Fokus penelitian diarahkan pada kelompok usia produktif yang paling aktif berinteraksi dengan merek melalui media digital dan platform pesan-antar makanan. Pemilihan teknik purposive sampling dilakukan agar sampel yang diambil relevan dengan tujuan penelitian dan memiliki pengalaman nyata terhadap strategi emotional branding. Oleh karena itu. Tabel 2 disusun untuk memperlihatkan secara sistematis rincian populasi, jumlah sampel, serta dasar pertimbangan yang digunakan dalam penentuan informan penelitian. Tabel 2. Populasi dan Sampel Penelitian Aspek Populasi Penelitian Jumlah Populasi Teknik Penentuan Sampel Jumlah Sampel Kuantitatif Jumlah Informan Kualitatif Kriteria Pemilihan Informan Deskripsi Pengguna aktif platform kuliner digital di Indonesia berusia 18-35 tahun, karena kelompok ini merupakan segmen konsumen yang paling responsif terhadap strategi pemasaran digital berbasis emosi dan memiliki intensitas tinggi dalam menggunakan layanan kuliner daring. Tidak terbatas secara pasti, mengingat populasi mencakup seluruh pengguna aktif aplikasi pesan-antar makanan seperti GoFood. GrabFood, dan ShopeeFood di wilayah Indonesia. Purposive Sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian, khususnya tingkat keterlibatan konsumen terhadap merek kuliner digital. 100 responden, digunakan untuk tahap survei kuantitatif guna mengidentifikasi kecenderungan umum mengenai persepsi terhadap emotional branding digital. 10 informan kunci, dipilih dari hasil penyaringan responden tahap pertama untuk diwawancarai secara mendalam guna menggali makna emosional yang mendasari loyalitas mereka terhadap merek. Melakukan pembelian minimal dua kali per minggu melalui A platform kuliner digital. Pernah berinteraksi langsung dengan konten promosi digital dari A merek kuliner online. Bersedia berpartisipasi dalam wawancara mendalam. Jurnal Ilmiah Manajemen. Ekonomi dan Bisnis (JIMEB) VOL 4. No. Januari 2025, pp. 76 - 85 p-ISSN: 2803-1507 Pertimbangan Jumlah Sampel e-ISSN: 2803-1531 Jumlah tersebut dianggap memadai untuk memberikan variasi perspektif yang representatif pada tahap kuantitatif, sekaligus menjaga kedalaman eksplorasi data pada tahap kualitatif. Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa strategi penentuan sampel mengedepankan keseimbangan antara keluasan data kuantitatif dan kedalaman data kualitatif. Penggunaan 100 responden pada tahap survei memungkinkan peneliti memperoleh gambaran umum mengenai persepsi konsumen terhadap strategi emotional branding digital. Sementara itu, 10 informan kunci yang diwawancarai secara mendalam memberikan konteks emosional yang lebih kaya untuk menafsirkan hasil temuan statistik. Pendekatan kombinatif ini memastikan bahwa penelitian tidak hanya menggambarkan hubungan numerik, tetapi juga menangkap dinamika emosional yang memengaruhi loyalitas konsumen di ranah kuliner online. Gambar 2 memperlihatkan distribusi sampel penelitian yang terdiri dari tiga elemen utama, yaitu kelompok usia 18-35 tahun, jumlah responden survei sebanyak 100 orang, dan 10 informan kunci yang diwawancarai secara Diagram ini membantu menggambarkan proporsi dan fokus utama penelitian dalam mengkaji pengalaman serta persepsi konsumen terhadap strategi emotional branding digital di industri kuliner online. Visualisasi ini juga memperkuat pemahaman mengenai struktur partisipan yang terlibat, baik dalam tahap kuantitatif maupun kualitatif, sebagai dasar analisis yang lebih komprehensif. Gambar 2. Distribusi Populasi dan Sampel Penelitian Emotional Branding Digital Pendekatan analisis dalam penelitian ini dirancang secara integratif untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai pengaruh emotional branding digital terhadap loyalitas konsumen. Kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif memungkinkan peneliti tidak hanya mengidentifikasi arah dan kekuatan hubungan secara empiris, tetapi juga menjelaskan mekanisme emosional yang mendasari terbentuknya Analisis kuantitatif digunakan untuk menegaskan bahwa emotional branding digital memiliki pengaruh positif dan kuat terhadap loyalitas konsumen, sedangkan analisis kualitatif berperan mengungkap makna keaslian narasi, interaksi personal, dan kedekatan emosional yang dirasakan konsumen. Dengan pendekatan ini, hasil penelitian tidak berhenti pada signifikansi statistik, tetapi diperluas pada pemahaman proses psikologis yang membentuk komitmen konsumen terhadap merek. Untuk memperjelas alur integrasi tersebut. Tabel 3 disusun guna menampilkan secara ringkas tahapan analisis, ringkasan hasil inti, mekanisme kunci, serta implikasi manajerial yang dihasilkan dari masing-masing pendekatan. Berdasarkan Tabel 3, setiap tahapan analisis berkontribusi secara spesifik dalam membangun kesimpulan yang saling melengkapi dan terintegrasi. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa peningkatan kualitas emotional branding digital secara konsisten diikuti oleh peningkatan loyalitas konsumen dengan kekuatan pengaruh yang substansial. Temuan ini kemudian diperdalam melalui analisis kualitatif yang mengungkap bahwa keaslian narasi merek dan interaksi personal yang responsif menjadi faktor utama pembentuk kedekatan emosional dan rasa percaya konsumen. Tahap integrasi menghubungkan kedua temuan tersebut dengan menjelaskan bahwa loyalitas tidak hanya dipicu oleh intensitas paparan digital, tetapi oleh internalisasi emosi yang dibangun melalui komunikasi autentik. Dengan model integrasi ini, penelitian mampu menjelaskan secara lebih jelas mengapa emotional branding digital efektif dalam membangun loyalitas, sekaligus menghadirkan kerangka pemahaman yang seimbang antara dimensi rasional dan emosional dalam evaluasi strategi branding digital di industri kuliner online. Analysis of Digital Emotional Branding StrategiesA (T. Mourinho et al. p-ISSN: 2809-1655 e-ISSN: 2809-1981 Tabel 3. Integrasi Pendekatan Analisis Kuantitatif dan Kualitatif dalam Penelitian Emotional Branding Digital Tahap Analisis Pendekatan & Teknik Tahap Kuantitatif Positivistik. Statistik deskriptif dan (SPSS . Tahap Kualitatif Integrasi Hasil Ringkasan Hasil Inti (Arah & Kekuatan Pengaru. Emotional branding digital berpengaruh positif dan kuat terhadap loyalitas konsumen ( tinggi, p < 0,05. RA menunjukkan kontribusi substanti. Peningkatan kualitas narasi dan interaksi digital diikuti peningkatan signifikan Mekanisme Kunci (Integrasi KuantitatifKualitati. Implikasi Utama Menegaskan bahwa strategi emotional branding merupakan prediktor utama loyalitas pada kuliner Merek perlu menekankan autentisitas konten, storytelling berbasis pengalaman nyata, dan komunikasi dua arah. Strategi digital storytelling autentik dan personalisasi interaksi untuk mempertahankan loyalitas jangka panjang. Interpretatif. Analisis tematik (NVivo 12 Plu. Loyalitas terbentuk melalui keaslian narasi merek, interaksi personal yang responsif, dan kedekatan emosional digital yang menumbuhkan rasa percaya dan keterikatan Mixed Method Sequential Explanatory. Sintesis temuan Pengaruh kuat emotional branding terhadap loyalitas dijelaskan oleh temuan kualitatif yang menunjukkan bahwa konsumen merespons paling tinggi pada narasi autentik dan interaksi Mekanisme utama: keaslian narasi Ie kedekatan emosional Ie rasa percaya Ie loyalitas. Interaksi personal memperkuat internalisasi emosi menjadi komitmen merek. Diskusi Hasil penelitian ini menegaskan bahwa emotional branding digital merupakan determinan penting dalam pembentukan loyalitas konsumen pada industri kuliner online di Indonesia. Temuan utama tidak hanya menunjukkan adanya hubungan positif antara strategi emosional dan loyalitas, tetapi juga memperlihatkan bahwa interaksi digital yang berbasis narasi autentik dan visual storytelling menjadi mekanisme utama dalam membangun kedekatan psikologis antara merek dan konsumen. Dengan demikian, loyalitas tidak semata terbentuk dari kepuasan fungsional, melainkan dari pengalaman emosional yang terinternalisasi melalui interaksi digital yang berulang. Kontribusi teoretis utama penelitian ini terletak pada pengembangan konsep digital emotional branding dalam konteks kuliner online Indonesia, yang selama ini relatif kurang mendapat perhatian dalam literatur. Berbeda dengan studi sebelumnya yang umumnya berfokus pada sektor ritel atau e-commerce umum, penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik konsumsi kuliner, yang sarat dengan pengalaman sensorik, nostalgia, dan nilai kebersamaan, memperkuat peran dimensi emosional dalam membentuk loyalitas digital. Temuan ini memperluas teori emotional branding dengan menegaskan bahwa efektivitas strategi emosional sangat dipengaruhi oleh konteks industri dan budaya konsumsi lokal, khususnya dalam ekosistem platform pesan-antar makanan. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi bahwa keaslian pesan emosional . erceived authenticit. menjadi faktor kunci dalam keberhasilan emotional branding digital. Ketika pesan emosional dipersepsikan artifisial atau berlebihan, dampaknya terhadap loyalitas menjadi lemah, terutama pada konsumen dengan tingkat kejenuhan digital yang tinggi. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual baru dengan menempatkan keaslian sebagai prasyarat penting dalam hubungan antara emotional branding digital dan loyalitas, sehingga memperkaya model teoritis yang sebelumnya lebih menekankan intensitas pesan emosional semata. Dari sisi implikasi manajerial, hasil penelitian ini memberikan arahan strategis yang konkret bagi pelaku industri kuliner online. Pertama, merek perlu memprioritaskan pengembangan konten emosional yang autentik dan berbasis pengalaman nyata konsumen, bukan sekadar narasi promosi simbolik. Kedua, integrasi storytelling Jurnal Ilmiah Manajemen. Ekonomi dan Bisnis (JIMEB) VOL 4. No. Januari 2025, pp. 76 - 85 p-ISSN: 2803-1507 e-ISSN: 2803-1531 dengan interaksi dua arah di media sosial dan aplikasi pemesanan menjadi krusial untuk menciptakan rasa kedekatan yang berkelanjutan. Ketiga, pengelola merek disarankan untuk mengelola frekuensi dan gaya komunikasi emosional secara selektif guna menghindari kejenuhan digital dan menjaga persepsi keaslian Strategi ini tidak hanya berfungsi meningkatkan retensi pelanggan, tetapi juga membangun ekuitas merek jangka panjang dalam pasar yang sangat kompetitif. Meskipun demikian, temuan penelitian ini perlu ditafsirkan dengan mempertimbangkan keterbatasan metodologis, terutama terkait ukuran sampel dan ruang lingkup wilayah penelitian. Dinamika cepat dalam ekosistem media sosial juga berpotensi memengaruhi stabilitas persepsi emosional konsumen. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan mengadopsi desain longitudinal dan lintas platform untuk menguji konsistensi peran emotional branding digital dalam membentuk loyalitas dari waktu ke waktu serta menguji peran variabel moderasi seperti kepercayaan digital dan kualitas pengalaman pengguna. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa emotional branding digital berperan penting dalam membangun loyalitas konsumen pada industri kuliner online di Indonesia. Temuan menunjukkan bahwa pengalaman emosional yang dibentuk melalui narasi merek dan interaksi digital mampu meningkatkan keterikatan konsumen terhadap merek. Loyalitas tidak hanya muncul dari kepuasan fungsional, tetapi juga dari hubungan emosional yang dirasakan konsumen. Secara teoretis, penelitian ini memperluas kajian emotional branding dengan menempatkannya dalam konteks kuliner online dan budaya digital lokal. Hasil ini menegaskan bahwa keaslian pesan emosional menjadi faktor penting dalam keberhasilan strategi branding digital. Dengan demikian, studi ini memberikan pemahaman baru tentang peran emosi dalam membangun hubungan jangka panjang antara merek dan konsumen. Dari sisi praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pelaku industri kuliner online. Merek perlu mengembangkan komunikasi digital yang autentik, konsisten, dan relevan dengan pengalaman nyata Penggunaan storytelling yang sederhana dan interaksi yang responsif dapat meningkatkan kedekatan emosional dengan pelanggan. Strategi ini membantu memperkuat kepercayaan serta mendorong pembelian ulang secara berkelanjutan. Selain itu, pengelola merek perlu mengelola intensitas pesan emosional agar tidak menimbulkan kejenuhan digital. Dengan pendekatan tersebut, emotional branding digital dapat menjadi alat strategis untuk mempertahankan loyalitas di tengah persaingan yang semakin ketat. REFERENSI