El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada Madrasah Ibtidaiyah di Kota Palembang: Sebuah Studi Literatur Lukman Nugraha1 Amanda Maharani2 Ahmad Zainuri3 Amir Hamzah4 Institut Miftahul Huda Subang. Indonesia Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan. Indonesia Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Indonesia iainusumsel@gmail. com , ahmadzainuri_uin@radenfatah. lukmannugraha82aklap@gmail. com , amirhamzah_uin@radenfatah. Abstract: This study aims to examine the implementation of the Love-Based Curriculum in Madrasah Ibtidaiyah in Palembang City through a literature review The Love-Based Curriculum is an educational innovation that places compassion as the main foundation of learning, focusing on five pillars of love, namely love for God, knowledge, the environment, fellow human beings, and the homeland. This study collects and analyzes ten relevant articles that discuss the concept, implementation strategies, challenges, and impacts of applying the curriculum. The analysis shows that the Love-Based Curriculum can enhance learning motivation, discipline, a conducive classroom atmosphere, and strengthen studentsAo character However, the implementation of this curriculum faces challenges such as limited resources and teacher training. Therefore, this study recommends strengthening teacher training support and providing learning resources to optimize the implementation of the Love-Based Curriculum. This research makes an important contribution to the development of compassion-based character education in Keywords: Love-Based Curriculum. Madrasah Ibtidaiyah. Literature Review. Curriculum Implementation. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada Madrasah Ibtidaiyah di Kota Palembang melalui metode literature review. Kurikulum Berbasis Cinta merupakan inovasi pendidikan yang menempatkan nilai kasih sayang sebagai landasan utama dalam pembelajaran, dengan fokus pada lima pilar cinta yaitu cinta kepada Tuhan, ilmu pengetahuan, lingkungan, sesama, dan tanah air. Studi ini mengumpulkan dan menganalisis sepuluh artikel relevan yang membahas konsep, strategi implementasi, tantangan, serta dampak penerapan kurikulum tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta mampu meningkatkan motivasi belajar, kedisiplinan, dan suasana kelas yang kondusif serta menguatkan pengembangan karakter siswa. Namun, implementasi kurikulum ini menghadapi kendala seperti keterbatasan sumber daya dan pelatihan guru. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan peningkatan dukungan pelatihan dan penyediaan sumber belajar untuk mengoptimalkan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis kasih sayang di madrasah. Kata kunci: Kurikulum Berbasis Cinta. Madrasah Ibtidaiyah. Literature Review. Implementasi Kurikulum. 100 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 PENDAHULUAN Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah di Kota Palembang menunjukkan kebutuhan mendesak terhadap pendekatan pembelajaran yang menekankan kasih sayang serta penghargaan terhadap individu anak. Kurikulum berbasis cinta muncul sebagai alternatif penting untuk memperkuat iklim afektif melalui penghormatan terhadap martabat siswa (Kementerian Agama Rebuplik Indonesia, 2025. Kebutuhan ini semakin relevan mengingat tantangan afektif di madrasah ibtidaiyah yang kerap tidak tertangani secara Oleh karena itu, kajian pustaka mendalam diperlukan guna mendukung implementasi kurikulum tersebut di ranah Madrasah Ibtidaiyah. Panduan resmi Kemenag menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta bertujuan menciptakan hubungan empatik antara guru dan siswa (Direktorat KSKK Madrasah et al. Pada praktik pembelajaran di kelas yang padat, hal ini sangat dibutuhkan karena prestasi akademik sering menjadi fokus utama, sementara aspek afektif kurang Pendekatan ini sejalan dengan nilai pendidikan karakter yang mengedepankan kasih sayang, sehingga memerlukan pemahaman konseptual yang kuat dari para guru. Literatur konseptual menegaskan bahwa kurikulum cinta bersumber dari teori pedagogi humanistik yang menempatkan siswa sebagai individu holistik (Qamariah & Anwar, 2. Fokus pendidikan tidak lagi terbatas pada pencapaian kognitif, melainkan juga pengembangan afektif yang sangat penting untuk memperluas perspektif guru Madrasah Ibtidaiyah. Pendekatan serupa juga berkembang di tingkat internasional. Konsep AuCurriculum of LoveAy telah diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa (Cantika et al. , 2023. Istianingrum & Hidayat, 2023. Kuswanto, 2. Adaptasi lintas budaya ini menunjukkan fleksibilitas model, yang relevan untuk konteks lokal di Palembang. Pada beberapa penelitian pendidikan karakter di madrasah, fokus sering ditempatkan pada penguatan moral siswa melalui keteladanan guru (Aisyah & Ali, 2018. Karim, 2. Namun, belum banyak penelitian yang secara khusus menggali pendekatan berbasis cinta secara holistik. Hal ini menandakan adanya celah yang dapat diisi melalui penelitian ini. Meski potensial. Kemenag menyoroti adanya tantangan dalam penerapan kurikulum berbasis cinta, terutama terkait keterbatasan pelatihan guru dan kesiapan institusi (Kementerian Agama Rebuplik Indonesia, 2025b. Qathrun Nada & Listiana, 2. Kondisi ini sangat relevan dengan situasi Madrasah Ibtidaiyah yang masih terbatas sumber daya. Penelitian menunjukkan bahwa penumbuhan pendidikan karakter di MI membutuhkan strategi kolaboratif antara guru, orang tua, dan lembaga (Mochammad Ramdan Samadi & dkk, 2. Pada konteks tersebut, pendekatan berbasis cinta berpotensi menjadi salah satu strategi efektif, walau hingga kini belum didefinisikan secara sistematis dalam kerangka kurikulum nasional. Oleh karena itu, kajian literatur sangat dibutuhkan untuk memperjelas model dan praktik implementasi. Pada konteks pendidikan dasar, kurikulum cinta dipandang sebagai respons atas kebutuhan pendidikan holistik, khususnya pasca-pandemi ketika kesejahteraan afektif siswa menurun (Supendi, 2. Studi kesiapan guru di IAIN Madura menemukan bahwa sebagian guru memahami konsep kurikulum cinta, tetapi implementasinya terbatas karena minimnya pelatihan (Hapsari, 2022. Qathrun Nada & Listiana, 2. Temuan ini menegaskan adanya jurang antara konsep dan praktik. Pendekatan literatur dapat 101 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 membantu mengidentifikasi model pelatihan yang efektif, sehingga memberikan wawasan penting dalam pengembangan kapasitas SDM pendidikan. Secara global, pendekatan "Love Curriculum" terbukti efektif mengatasi learning loss pasca-pandemi (Ifendi, 2025. Laili, 2024. Sari, 2. Relevansi ini semakin jelas jika diterjemahkan ke dalam konteks lokal Palembang. Penelitian dalam pembelajaran Bahasa Arab, misalnya, memperlihatkan implementasi kurikulum cinta melalui metode penguatan empati dan komunikasi personal (Laili, 2. Hal ini membuktikan bahwa kurikulum cinta dapat diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran. Artikel UIN menambahkan bahwa cinta merupakan semangat utama yang perlu dimasukkan dalam sistem pendidikan nasional (Maggalatung, 2. Namun, sedikit sekali kajian empiris yang menelaah implementasi langsung kurikulum cinta, sehingga penelitian berbasis literatur ini penting untuk memperkuat landasan akademisnya. Literatur lain, seperti dari Jurnal OJS Sulthan, menekankan bahwa kurikulum cinta mampu menumbuhkan kepedulian sosial dan toleransi antar siswa (Ifendi, 2. Hal ini menjadi sangat penting di Indonesia yang majemuk. Artikel dari UIN Sunan Gunung Djati juga menekankan pentingnya kurikulum cinta dalam membangun kepedulian dan toleransi (Supendi, 2. Nilai tersebut sangat relevan jika diintegrasikan dalam pendidikan dasar, terutama Madrasah Ibtidaiyah, karena dapat memperkuat harmoni sejak dini. Di sisi lain, laporan Kemenag mengenai pendidikan karakter pada MI swasta menunjukkan bahwa kurikulum karakter terbukti efektif dalam membentuk perilaku positif Namun, unsur cinta sebagai bagian dari kurikulum karakter masih jarang diteliti. Dengan demikian, kajian ini dapat mengisi celah tersebut dengan menghadirkan kerangka integratif berbasis bukti. Panduan sekolah memberikan instruksi praktis mengenai implementasi kurikulum cinta di madrasah, mulai dari kegiatan harian hingga penilaian afektif (Direktorat KSKK Madrasah et al. , 2. Walaupun instruksi ini konkret, belum sepenuhnya didukung oleh teori pendidikan maupun evaluasi empiris. Kajian literatur dapat menjembatani kekosongan ini dengan menghubungkan praktik di lapangan dengan landasan teori. Carl Rogers melalui teori pendidikan humanistik menekankan pentingnya penyediaan lingkungan belajar yang penuh cinta sebagai fondasi perkembangan individu (Qamariah & Anwar, 2. Integrasi pemikiran Rogers dengan teori pendidikan Islami akan memperkaya kerangka konseptual penelitian ini. Teori Paulo Freire tentang pendidikan dialogis juga mendukung prinsip kurikulum berbasis cinta karena menolak model banking yang cenderung menekan afektif siswa (Freire, 1970 dalam Qamariah & Anwar, 2. Perspektif ini memberikan kedalaman teoritis dalam merancang kurikulum yang lebih membebaskan. Sementara itu, teori pendidikan Islami menekankan nilai rahmatan lil 'alamin atau kasih sayang universal sebagai pondasi pembelajaran (Karim, 2. Dengan demikian, pondasi teoretis penelitian ini memadukan teori Barat dengan nilai Islami yang relevan dengan konteks Madrasah Ibtidaiyah di Palembang. Berbagai penelitian internasional dan lokal menunjukkan bahwa kurikulum cinta meningkatkan kualitas hubungan interpersonal antara guru dan siswa serta menciptakan iklim kelas yang positif (Laili, 2024. Sari, 2025. Syaripudin et al. , 2. Hal ini sangat penting bagi pendidikan dasar, yang merupakan fase pembentukan keterampilan sosial siswa. 102 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Berdasarkan tinjauan pustaka, terdapat kesenjangan signifikan antara konsep kurikulum cinta dan praktik implementasinya di Madrasah Ibtidaiyah, khususnya di Palembang. Banyak literatur masih bersifat konseptual, sementara penelitian empiris terkait praktik nyata di lapangan masih minim. Selain itu, isu pelatihan guru sebagai faktor utama implementasi juga belum banyak diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menghadirkan sintesis teori, konsep, dan praktik guna menyusun model implementasi yang kohesif. Kajian ini juga diarahkan pada pengembangan kapasitas guru berbasis bukti literatur, sehingga dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang relevan. Penelitian ini menggunakan metode literature review, dengan seluruh temuan dan analisis bersumber dari penelitian sekunder, bukan data lapangan. Metode ini sesuai dengan tujuan eksploratif dan sintetik penelitian, karena dapat merangkai model konseptual yang komprehensif. Tujuan utama penelitian adalah menyusun model implementasi kurikulum berbasis cinta di Madrasah Ibtidaiyah Kota Palembang dengan mengintegrasikan teori, konsep, dan praktik yang ada. Dengan cara ini, penelitian diharapkan memberi kontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan berbasis kasih sayang dalam konteks Islam, sekaligus menjadi acuan bagi guru, kepala madrasah, dan pembuat kebijakan. Manfaat penelitian mencakup kontribusi teoritis, praktis, dan Secara teoritis, penelitian memperluas kajian kurikulum berbasis cinta dengan mengintegrasikan perspektif humanistik dan Islami. Secara praktis, hasil penelitian memberi panduan implementasi di MI serta pengembangan kapasitas guru. Dari sisi kebijakan, penelitian diharapkan membantu Kemenag dan lembaga pendidikan memperkuat aspek afektif dan karakter dalam kurikulum di masa mendatang. METODE Penelitian ini menggunakan metode literature review untuk mengkaji implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada Madrasah Ibtidaiyah di Kota Palembang. Metode ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk mengumpulkan, mengevaluasi, dan menganalisis berbagai sumber pustaka yang relevan berupa jurnal, artikel ilmiah, dan dokumen kebijakan terbaru, khususnya yang berkaitan dengan Kurikulum Berbasis Cinta, pendidikan karakter, dan pembelajaran berbasis kasih sayang. Proses pengumpulan data dilakukan dengan mencari literatur melalui database akademik dan perpustakaan digital menggunakan kata kunci yang relevan seperti AuKurikulum Berbasis Cinta,Ay Aupendidikan karakter,Ay dan Aupembelajaran berbasis kasih sayang. Ay Data yang terkumpul kemudian diseleksi berdasarkan relevansi, kredibilitas, dan tahun terbit, sehingga diperoleh sumbersumber yang paling valid dan mutakhir untuk dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Analisis dilakukan dengan cara mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan konsep, implementasi, tantangan, dan dampak Kurikulum Berbasis Cinta, kemudian disintesiskan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai perkembangan dan penerapan kurikulum tersebut di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Kota Palembang. Metode literature review ini sangat tepat untuk penelitian ini karena memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman mendalam tanpa harus melakukan pengumpulan data primer langsung di lapangan, serta dapat menjadi dasar yang kuat bagi penelitian empiris lanjutan. 103 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada tahap awal pengumpulan data, peneliti melakukan seleksi artikel berdasarkan variabel terkait. Peneliti memilih sebanyak sepuluh artikel yang relevan dengan topik Selanjutnya, peneliti menyusun tabel atau ringkasan singkat untuk memaparkan artikel-artikel yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini. Berikut adalah tabel yang memuat daftar artikel terkait implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang digunakan sebagai bahan analisis dalam penelitian ini. Tabel 1. Daftar Artikel Kurikulum Berbasis Cinta Tahun Penulis Judul Artikel Ringkasan Hasil Ahmad Syaripudin. Sukiman & Raudhatul Hasna Kurikulum 2013 dan Kurikulum Cinta Kemenag: Strategi Integratif dalam Pendidikan Karakter dan Spiritual M Isroul Laili Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Zaitun Qamariah. Khairil Anwar Analisis Konseptual Kurikulum Cinta: Pendekatan Humanistik dan Implikasinya Pendidikan Islam Qathrun Nada & Listiana H. Analisis kesiapan guru madrasah dalam Kurikulum Cinta Mahfud Ifendi Kurikulum Cinta: Membangun Paradigma Pendidikan Penelitian ini mengkaji potensi kurikulum berbasis cinta (KBC) sebagai integrasi dalam pendidikan karakter dan spiritual di Madrasah Ibtidaiyah. Dengan pendekatan campuran . ixed-metho. , ditemukan bahwa 92 % guru menyetujui pentingnya KBC, tetapi hanya 41 % yang memahami konsepnya secara Nilai kasih sayang terhadap Tuhan, sesama, lingkungan, dan tanah air sudah diajarkan secara implisit. Tantangan utama meliputi kurangnya modul resmi dan pelatihan guru. Studi kualitatif menjelaskan strategi guru: memilih teks religius bertema kasih sayang, menggunakan dialog dan narasi untuk menciptakan lingkungan emosional aman. Hasil: motivasi intrinsik siswa meningkat, interaksi kelas lebih empatik, serta karakter seperti kerja sama dan kesabaran terbangun. Pendekatan ini tak hanya menguatkan kompetensi bahasa tetapi juga karakter reflektif siswa. Artikel ini membahas kajian konseptual kurikulum berbasis cinta dalam pendidikan Islam di Indonesia melalui literature review. Kajian ini menyoroti landasan filosofis pada konsep rahmatan lil Aoalamin, fokus pedagogis pada pengembangan kecerdasan emosional, serta tantangan implementasi di lembaga Hasilnya, kurikulum ini dinilai mampu memperkuat pembentukan karakter dan menjawab tantangan pendidikan modern, sekaligus menawarkan kerangka teoretis baru yang memadukan nilai Islam dan pedagogi humanistik. Penelitian ini menunjukkan variasi kesiapan guru dalam mengimplementasikan KBC, dengan banyak yang membutuhkan pelatihan intensif dan dukungan institusional. Hambatan utama berupa ketidaksiapan berupa modul praktis dan panduan teknis. Rekomendasi mencakup pelatihan kontekstual dan mentorship dari guru Artikel ini membahas filosofi Kurikulum Cinta sebagai respons terhadap kekerasan dalam pendidikan dan kebutuhan etika kelembutan. Menekankan pembangunan karakter melalui 104 | E l B a n a r Nama Jurnal Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Al Yasini: Jurnal Keislaman. Sosial. Hukum dan Pendidikan Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia Entita: Jurnal Profesi Keguruan (IAIN Madur. As-Sulthan Journal of Education El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 Berbasis Kasih Sayang Hikmah Romalina . / Nyayu Khadijah . arasumb Kurikulum Berbasis Cinta Madrasah Jadi Fondasi Karakter dan Kompetensi Global Gleiberma nn. Integrating the AuCurriculum of LoveAy into Sari. The Love Curriculum Approach in learning loss: A literature review Idris & Adawiah. Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia Sekarinasi h, 2023 Kesiapan Madrasah Ibtidaiyah dalam Mengimplement Kurikulum Merdeka ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 pendidikan yang menyentuh hati serta membentuk budaya saling menghargai. Paradigma ini dibangun sebagai alternatif terhadap model disiplin keras. Artikel berita yang menyampaikan gagasan dari Kemenag tentang Kurikulum Cinta: mengintegrasikannya ke dalam regulasi nasional sebagai pondasi pendidikan karakter, literasi digital, moderasi beragama, dan keberlanjutan lingkungan. Menekankan pentingnya afektif dan spiritual dalam pendidikan madrasah. Pendidikan dengan cinta dijadikan roh pendidikan Islam. Makalah internasional ini menggambarkan praktik nyata: guru menanamkan empati, dialog, dan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Menekankan penciptaan kelas yang ramah emosional serta mendukung pertumbuhan holistik siswa. Dirangkum sebagai model inovatif yang bisa diadaptasi secara global maupun lokal. Review literatur menemukan bahwa pendekatan berbasis cinta berguna untuk memulihkan motivasi dan capaian belajar siswa pasca-pandemi. Pendekatan ini juga memperkuat hubungan sosial dan mendukung keberlanjutan pembelajaran Implikasinya penting untuk Madrasah Ibtidaiyah yang menghadapi efek Meskipun topiknya Kurikulum Merdeka, pendekatan metodologinya sistematis (SLR) bisa menjadi model untuk review literatur KBC. Memetakan penelitian implementasi kurikulum di MI dan mengidentifikasi fokus metode, kelas, dan kompetensi siswa. Memberi gambaran kebutuhan penelitian lebih lanjut di ranah MI. Artikel ini meski fokus pada Kurikulum Merdeka, menyoroti kesiapan institusi dalam adaptasi kurikulum baru, mencakup SDM, sarana, dan kesiapan teknis. Insight ini relevan untuk memahami tantangan serupa dalam implementasi Kurikulum Cinta. rtikel Pendis Kemena. Makalah (Research Gat. At-Tadzkir: Islamic Education Journal Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman Pendidikan Islam J-PGMI: Jurnal Pendidikan Guru MI Penelitian ini mengkaji implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Madrasah Ibtidaiyah Kota Palembang dengan menggunakan metode literature review. Kurikulum Berbasis Cinta secara resmi diperkenalkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada pertengahan tahun 2025 sebagai upaya strategis untuk mengintegrasikan nilai kasih sayang dan kemanusiaan dalam sistem pendidikan nasional (Kementerian Agama Rebuplik Indonesia, 2025. Sebelum dirumuskan secara formal, konsep pendidikan berbasis nilai cinta sebenarnya sudah menjadi perhatian banyak kalangan akademik dan praktisi pendidikan, terutama dalam bidang pendidikan karakter dan humanistik (Ifendi. Qamariah & Anwar, 2. Hal ini menandakan adanya kesinambungan ide yang bertransformasi dari gagasan umum pendidikan karakter menuju kerangka kurikulum yang lebih spesifik dan holistik. 105 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Nilai-nilai cinta dalam KBC didasarkan pada lima pilar utama: cinta kepada Tuhan dan Rasul, cinta ilmu pengetahuan, cinta lingkungan, cinta sesama manusia, dan cinta tanah air. Pilar-pilar ini menggambarkan dimensi multidimensional yang tidak hanya memfokuskan pada aspek kognitif dan afektif, tetapi juga aspek spiritual dan sosial yang bertujuan membentuk individu yang seimbang dan berkarakter luhur (Elhefni et al. , 2024. Kementerian Agama Rebuplik Indonesia, 2025b. Syaripudin et al. , 2. Pendekatan ini menggeser paradigma pendidikan yang selama ini cenderung menitikberatkan pada pencapaian akademik semata, menjadi pendidikan yang mengedepankan pembentukan watak, empati, dan tanggung jawab sosial. Melalui telaah literatur, ditemukan bahwa penerapan KBC berpotensi meningkatkan motivasi belajar dan interaksi sosial positif di kalangan siswa Madrasah Ibtidaiyah. (Laili, 2. dalam studinya tentang pembelajaran Bahasa Arab dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta mengungkapkan bahwa penggunaan materi pembelajaran yang sarat nilai kasih sayang serta metode dialogis mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif dan penuh empati. Hal ini secara tidak langsung membantu siswa menginternalisasi nilainilai moral yang mendalam serta mengembangkan karakter reflektif. Studi serupa menegaskan bahwa integrasi nilai cinta secara konsisten dalam pembelajaran memperkuat keterikatan emosional siswa dengan materi dan lingkungan belajar, sehingga memudahkan pencapaian tujuan pendidikan (Gleibermann, 2016. Sari, 2. Namun, implementasi KBC juga menghadapi sejumlah tantangan nyata di Penelitian oleh (Qathrun Nada & Listiana, 2. menunjukkan bahwa kesiapan guru menjadi faktor kritis dalam proses adopsi kurikulum ini. Banyak guru yang masih kurang memahami konsep KBC secara menyeluruh, sehingga kesulitan dalam menyusun strategi pembelajaran yang efektif berbasis nilai cinta. Selain itu, ketersediaan modul pembelajaran dan media yang mendukung pendekatan ini juga masih sangat terbatas. Hal tersebut menuntut adanya program pelatihan intensif dan pendampingan yang sistematis agar guru dapat mengimplementasikan KBC dengan baik di kelas (Romalina. Di sisi lain, hambatan struktural seperti beban kurikulum yang padat dan kurangnya dukungan manajemen sekolah juga menjadi kendala yang tidak bisa Konteks sosial budaya Kota Palembang yang sangat religius dan memiliki nilai kekeluargaan yang kuat menjadi modal sosial yang dapat memperkuat implementasi KBC. Madrasah sebagai institusi pendidikan Islam memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter siswa sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai luhur masyarakat setempat (Laili, 2. Adaptasi KBC dengan kearifan lokal sangat penting agar kurikulum ini tidak hanya menjadi dokumen kebijakan formal tetapi benar-benar hidup dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Integrasi nilai cinta dalam pendidikan harus memperhatikan budaya dan kebutuhan sosial agar menghasilkan pendidikan yang bermakna dan berkelanjutan (Ifendi, 2. Secara teori. KBC dapat dikaitkan dengan teori pembelajaran humanistik Carl Rogers dan Paulo Freire yang menekankan pada penghargaan terhadap martabat dan pengalaman unik setiap individu dalam proses pembelajaran. Rogers menekankan pentingnya lingkungan belajar yang kondusif secara emosional agar siswa dapat berkembang secara optimal, sementara Freire mengajak pendidik untuk menjadi fasilitator dialog yang membebaskan dan memberdayakan (Qamariah & Anwar, 2. Kedua teori 106 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 ini mendukung landasan filosofis KBC yang ingin menciptakan ruang pendidikan penuh cinta, empati, dan dialog, bukan sekadar transfer ilmu. Strategi implementasi yang efektif harus mencakup integrasi nilai cinta secara menyeluruh dalam kurikulum, penguatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan, serta pemanfaatan media pembelajaran yang kreatif dan kontekstual. (Gleibermann. Syaripudin et al. , 2. menekankan pentingnya pengembangan modul ajar dan pendekatan pembelajaran aktif yang melibatkan siswa secara emosional dan kognitif. Selain itu, peran pemerintah daerah, kepala madrasah, dan pemangku kepentingan lainnya sangat penting dalam menyediakan fasilitas, dukungan kebijakan, dan pengawasan pelaksanaan kurikulum agar berjalan konsisten dan berkesinambungan. Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai solusi untuk menjawab berbagai tantangan pendidikan di era modern, seperti disrupsi teknologi, krisis sosial, dan meningkatnya intoleransi (Kementerian Agama Rebuplik Indonesia, 2025a. Sari, 2. Pendidikan yang tidak hanya mengejar kecerdasan akademik tetapi juga nilai kemanusiaan menjadi kebutuhan mendesak agar siswa dapat tumbuh menjadi manusia seutuhnya yang memiliki kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual yang seimbang. Dengan demikian, keberhasilan implementasi KBC di Madrasah Ibtidaiyah Kota Palembang sangat bergantung pada sinergi antara kesiapan guru, adaptasi kurikulum dengan budaya lokal, serta dukungan kebijakan yang konkret. Penelitian ini sekaligus membuka peluang kajian empiris untuk mengukur dampak langsung KBC terhadap karakter dan prestasi belajar siswa di lapangan. KBC berpotensi menjadi model pendidikan unggulan yang dapat diadaptasi oleh berbagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Konsep Kurikulum Berbasis Cinta Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan inovasi kurikulum yang mengedepankan nilai kasih sayang sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran. Secara konseptual. KBC berlandaskan pada paradigma pendidikan humanistik yang menempatkan individu siswa sebagai subjek yang utuh, memiliki dimensi kognitif, afektif, dan spiritual yang saling berkaitan ((Qamariah & Anwar, 2025. Rogers, 1. Landasan ini sejalan dengan prinsip pendidikan karakter yang menekankan pembentukan nilai-nilai moral dan etika sebagai inti pendidikan, bukan sekadar penguasaan materi akademik (Lickona, 1. Dalam konteks pendidikan Islam. KBC mengadopsi prinsip rahmah . asih sayan. yang merupakan nilai fundamental dalam Al-QurAoan dan Hadis. Nilai ini tidak hanya membentuk karakter siswa tetapi juga memperkuat hubungan sosial yang harmonis di lingkungan sekolah (Kementerian Agama Rebuplik Indonesia, 2025. Prinsip utama KBC mengintegrasikan lima dimensi nilai cinta yaitu cinta kepada Tuhan dan Rasul, cinta ilmu pengetahuan, cinta lingkungan, cinta sesama manusia, dan cinta tanah air. Kelima pilar ini membentuk kerangka multidimensional yang menyatukan aspek spiritual, sosial, dan intelektual dalam pembelajaran (Syaripudin et al. , 2. Oleh karena itu. KBC menawarkan paradigma pendidikan yang holistik, menyentuh semua aspek perkembangan anak agar mampu menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan berkontribusi positif dalam masyarakat. 107 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Implementasi di Madrasah Ibtidaiyah Implementasi KBC di Madrasah Ibtidaiyah membutuhkan strategi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam seluruh proses pembelajaran. Guru menjadi aktor sentral dalam menerjemahkan nilai kasih sayang ke dalam kegiatan belajar yang kongkret dan bermakna. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan metode pembelajaran yang dialogis, reflektif, dan partisipatif untuk menanamkan nilai cinta kasih, misalnya melalui diskusi kelompok, storytelling, dan kegiatan pengembangan empati (Gleibermann, 2016. Laili, 2. Pembelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama Islam menjadi wahana efektif untuk menanamkan nilai tersebut karena kedua mata pelajaran ini berhubungan erat dengan ekspresi diri, etika berbahasa, dan pemahaman Contoh nyata kegiatan pembelajaran berbasis cinta adalah pengorganisasian proyek lingkungan, seperti menjaga kebersihan sekolah yang tidak hanya membangun rasa cinta lingkungan tetapi juga memupuk rasa tanggung jawab sosial dan kerja sama (Sari, 2. Selain itu, refleksi harian yang mengajak siswa mengungkapkan rasa syukur dan kasih sayang terhadap sesama juga menjadi metode yang ampuh membangun kesadaran afektif dan spiritual. Penerapan KBC secara konsisten di madrasah memungkinkan terciptanya suasana belajar yang harmonis dan mendukung perkembangan holistik siswa. Hal ini sejalan dengan panduan Kementerian Agama yang menegaskan pentingnya integrasi nilai cinta dalam setiap aspek pembelajaran untuk membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berbudi pekerti luhur (Direktorat KSKK Madrasah et al. Tantangan dan Kendala Implementasi Meskipun KBC menawarkan banyak manfaat, penerapannya menghadapi berbagai kendala yang bersifat konseptual, struktural, dan kultural. Keterbatasan sumber daya pembelajaran yang secara khusus dirancang untuk mendukung nilai-nilai cinta masih menjadi persoalan utama (Qathrun Nada & Listiana, 2. Guru memerlukan pelatihan intensif agar dapat menginternalisasi konsep KBC dan mengaplikasikannya secara efektif di kelas. Tanpa pelatihan dan pendampingan yang memadai, implementasi KBC dapat menjadi formalitas tanpa makna nyata (Romalina, 2. Selain itu, hambatan budaya muncul ketika nilai-nilai kasih sayang berhadapan dengan pola pengajaran yang masih berorientasi pada kedisiplinan ketat dan hierarkis, sehingga memerlukan perubahan mindset yang mendalam di kalangan guru dan orang tua (Ifendi, 2. Beban kurikulum yang padat dan keterbatasan waktu pembelajaran juga membatasi kesempatan guru untuk melakukan pendekatan yang lebih mendalam dan afektif (Syaripudin et al. , 2. Dukungan manajemen sekolah dan kebijakan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk memberikan ruang dan fasilitas pendukung, seperti pelatihan berkelanjutan dan penyediaan media pembelajaran yang relevan. Sinergi antara semua pemangku kepentingan pendidikan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan KBC secara Hasil Positif dan Dampak Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Berbasis Cinta memberikan dampak positif yang signifikan terhadap motivasi belajar, kedisiplinan, dan 108 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 suasana kelas di Madrasah Ibtidaiyah. Siswa yang belajar dalam suasana yang penuh kasih sayang cenderung memiliki motivasi intrinsik yang lebih tinggi karena merasa dihargai dan didukung secara emosional (Laili, 2. KBC membantu menciptakan lingkungan belajar yang aman secara psikologis, di mana siswa berani mengekspresikan diri dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Selain itu, suasana kelas menjadi lebih kondusif dan harmonis, yang berkontribusi pada peningkatan kedisiplinan dan pengurangan konflik antar siswa (Gleibermann, 2. Nilai-nilai cinta yang diinternalisasi dalam proses pembelajaran menumbuhkan sikap empati, toleransi, dan rasa tanggung jawab sosial yang menjadi pondasi karakter siswa (Direktorat KSKK Madrasah et al. , 2. Oleh karena itu. KBC tidak hanya memberikan dampak positif pada aspek akademik tetapi juga memperkuat fondasi moral dan sosial yang sangat diperlukan dalam membentuk generasi yang beradab, berbudaya, dan siap menghadapi tantangan global. PENUTUP Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan inovasi penting dalam pendidikan madrasah yang menempatkan nilai kasih sayang sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran. Implementasi kurikulum ini berfokus pada pengembangan karakter siswa melalui lima pilar cinta yang meliputi cinta kepada Tuhan, ilmu pengetahuan, lingkungan, sesama, dan tanah air. Studi literatur menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Berbasis Cinta mampu menciptakan suasana belajar yang harmonis dan meningkatkan motivasi serta kedisiplinan siswa. Namun, implementasi kurikulum ini masih menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan guru, dan hambatan budaya. Oleh karena itu, diperlukan dukungan sistematis dari semua pihak terkait untuk mengoptimalkan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta agar dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyah. REFERENSI