P-ISSN 2559 Ae 2163 E-ISSN 2599 Ae 2155 Vol. No. Januari 2025 http://cjp. Cendekia Journal of Pharmacy ITEKES Cendekia Utama Kudus HUBUNGAN PENGETAHUAN TERHADAP KEPATUHAN PASIEN BPJS DIABETES MELLITUS TIPE 2 DALAM PENGGUNAAN INSULIN DI RSUD DR. LOEKMONO HADI KUDUS Aprillia Puspitasari Tunggadewi1*. Yulia Pratiwi2. Wildayanti3 Mera Putri Pratitis4. Kopipah Ari Nur Maisyaroh5 Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus Email: farilli4n@gmail. ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) atau yang biasa disebut dengan kencing manis merupakan penyakit penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah dan disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Selain itu DM juga memiliki risiko komplikasi ke penyakit lain seperti jantung, gagal ginjal, kecacatan luka gangren yang diamputasi, kebutaan, serta gangguan organ lainnya. Pengetahuan berkaitan dengan penatalaksanaan DM meliputi keterlibatan dalam kegiatan penyuluhan, melakukan latihan fisik atau olahraga, dan pengobatan. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi penderita DM sehingga penderita DM dapat mengatasi bila ada gejala dan keluhan, mempertahankan rasa nyaman, pengendalian gula darah dan mencegah komplikasi. Kepatuhan sangat penting dalam melakukan pengobatan karena berpengaruh terhadap hasil terapi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan terhadap kepatuhan penggunaan insulin pada pasien diabetes mellitus Tipe 2 di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. Metode penelitian kuantitatif yang termasuk dalam penelitian prospektif dengan rancangan penelitian non eksperimental dengan metode crossectional. Hasil Jumlah responden pada penelitian ini berjumlah 79 responden. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi square untuk mengetahui hubungan dua variabel. Hasil Tingkat Pengetahuan penggunaan insulin pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang menjalani rawat jalan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus masuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 68 responden . ,3%), sedangkan tingkat Kepatuhan penggunaan insulin pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang menjalani rawat jalan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus masuk dalam kategori rendah sebanyak 67 pasien . 8%). Pada uji chi square mendapat nilai sig 0. >0. 05 yang artinya pengetahuan tidak memiliki hubungan terhadap kepatuhan pasien BPJS diabetes mellitus tipe 2 dalam penggunaan insulin di RSUD dr Loekmono hadi kudus. Kata Kunci: Diabetes mellitus, pengetahuan, kepatuhan ABSTRACT Diabetes Mellitus (DM) or what is commonly called diabetes is a chronic metabolic disease or disorder with multiple etiologies which is characterized by high blood glucose levels and is accompanied by disorders of carbohydrate, lipid and protein metabolism as a result of insulin function insufficiency. Apart from that. DM also has a risk of complications from other diseases such as heart disease, kidney failure, disability, gangrene, amputations, blindness, and other organ disorders. Knowledge related to DM management includes involvement in counseling activities, doing physical exercise or sports, and It is hoped that this knowledge can be implemented in the daily life of DM sufferers so that DM sufferers can deal with symptoms and complaints, maintain a sense of comfort, control blood sugar and prevent complications. Compliance is very important in carrying out treatment because it affects the results of therapy. The aim of this study was to determine the relationship between knowledge and compliance with insulin use in Type 2 diabetes mellitus patients at Dr Loekmono Hadi Kudus Regional Hospital. Quantitative research methods are included in prospective research with a non-experimental research design with cross-sectional methods. Results The number of respondents in this study was 79 The test used in this research is the chi square test to determine the relationship between two variables. Results: The level of knowledge of insulin use in type 2 diabetes mellitus patients undergoing outpatient care at Dr Loekmono Hadi Kudus Regional Hospital is in the good category, namely 68 respondents . 3%), while the level of compliance with insulin use in type 2 diabetes mellitus patients undergoing treatment. Roads at Dr. Loekmono Hadi Kudus Hospital are in the low category with 67 patients . 8%). In the chi square test, the sig value was 0. 354 > 0. 05, which means that knowledge has no relationship to the compliance of BPJS patients with type 2 diabetes mellitus in using insulin at Dr. Loekmono Hadi Kudus Regional Hospital. Keywords: Diabetes mellitus, knowledge, compliance LATAR BELAKANG Sekitar kurang lebih 422 juta orang dewasa menderita diabetes pada tahun 2014, dibandingkan dengan 108 juta pada tahun 1980. Prevalensi diabetes global . esuai usi. meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 1980, meningkat dari 4,7% menjadi 8,5% pada populasi orang dewasa (WHO, 2. Prevelensi Diabetes mellitus di indonesia berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk dengan umur >15 tahun sebanyak 1. 290 kasus dengan proporsi kasus tertinggi ada di DKI Jakarta . ,4% ) dan yang terendah di Maluku sebesar . ,7%) (Riskesdas, 2. Diabetes Melitus (DM) atau yang biasa disebut dengan kencing manis merupakan penyakit penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah dan disertai dengan gangguan metabolism karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Selain itu DM juga memiliki risiko komplikasi ke penyakit lain seperti jantung, gagal ginjal, kecacatan luka gangren yang diamputasi, kebutaan, serta gangguan organ lainnya. Diabetes Mellitus mempunyai gejala khas yaitu banyak makan . , banyak minum . , dan sering kencing . Sebagian besar pasien tidak menyadari gejala ini, dan baru menyadari bahwa mereka mengidap DM setelah muncul komplikasi. Penderita DM yang menjalani gaya hidup sehat dapat membantu penderita dalam mengendalikan kadar gula dalam darah. Banyak penderita DM yang juga harus menggunakan obat-obatan untuk mengendalikan kadar glukosa darah, baik obat oral maupun obat suntik atau insulin (Soelistijo, 2. Pengetahuan merupakan hasil "tahu" dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan pasien DM mengenai terapi insulin dapat diperoleh melalui konsultasi maupun edukasi di pelayanan kesehatan. Tingkat pengetahuan yang rendah akan menyebabakan ketidakpatuhan dalam menjalani terapi. Kepatuhan adalah bentuk aplikasi seseorang terhadap pengobatan yang harus dijalani dalam kehidupannya. Terdapat beberapa terminologi yang menyangkut kepatuhan minum obat yaitu konsep compliance dan konsep adherence. Konsep compliance merupakan tingkatan yang menunjukkan perilaku pasien dalam mentaati sarana ahli medis. Konsep adherence merupakan perilaku mengkonsumsi obat sesuai kesepakatan antara pasien dengan pemberi METODE PENELITIAN Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan non-eksperimental dengan metode cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan pada waktu satu kali. Instrumen pada penelitian ini adalah wawancara berupa kuisioner yang diberikan kepada responden secara. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus dan dilakukan pada bulan Maret-Juni 2024. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes mellitus tipe 2 yang berobat di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus berjumlah sebanyak 100 responden. Pengambilan sampel menggunakan Teknik pengambilan sampel menggunakan Non Probability yang bersifat purposive sampling. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 79 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Berikut kriteria inklusi dan kriteria eksklusinya: Kriteria Inklusi: Pasien dengan usia Ou13 tahun dengan diagnosa DM tipe 2. Pasien rawat jalan yang menjalani pengobatan DM di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Pasien rawat jalan yang mendapatkan terapi insulin bersedia menjadi responden. Pasien rawat jalan yang menjalani pengobatan DM mendapatkan terapi insulin minimal 6 bulan sebelumnya. Pasien yang memiliki tes kadar gula darah minimal pada pemeriksaan sebelumnya. Pasien rawat jalan yang terdiagnosa DM dengan kadar gula sehingga, diberikan insulin. Kriteria Eksklusi: Pasien rawat jalan yang tidak terdiagnosa DM. Pasien rawat jalan yang terdiagnosis DM tetapi tidak mendapatkan terapi insulin. Pasien yang tidak dapat diajak berkomunikasi. Pasien yang menolak dijadikan responden. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Microsoft excel program statistikal product and service solutions (SPSS). Pada penelitina ini dilakukan uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-smirnov karena lebih dari 50 sampel. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang pertanyaan pengetahuan diambil dari priambodo . , dan pertanyaan tentang kepatuhan menggunakan metode kuesioner ARMS (Adherence medication Scal. Pertama dilakukan uji normalitas didapatkan hasil tidak normal yaitu 0. 000>0. Setelah diketahui datanya tidak normal kemudian dilakukan : Uji univariat menggunakan uji frequency untuk mengetahui karakteristik responden meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin. Kemudian untuk mengetahui pengetahuan dan kepatuhan penggunaan insulin Pengetahuan Cara mengukur pengetahuan jika Jika responden menjawab pertanyaan no 1-6, dan 9-10 dijawab AuYaAy maka diberi skor 1 dan dijawab AuTidakAy maka diberi skor 0. Jika responden menjawab pertanyaan no 7-8 dijawab AuYaAy maka diberi skor 0 dan dijawab AuTidakAy maka diberi skor 1 maka perlu dicari presentase dari jawaban yang didapat dari kuesioner menggunakan rumus: yaycycoycoycaEa ycycaycycaycaycaycu ycayceycuycayc ycycycoycoycaEa ycycuycycayco ycycuycayco ycu100% setelah didapatkan hasil presentasenya dilanjutkan dengan pengkategorian. Pengetahuan dianggap baik . -100%), cukup . -75%), kurang <55%. Kepatuhan Cara mengukur kuesioner kepatuhan setiap item pertanyaan menggunakan skala likert dengan pilihan Autidak pernah = 1Ay. Aukadang= 2Ay. Ausering= 3Ay, atau Auselalu= 4Ay. Hasil lebih rendah menunjukkan kepatuhan lebih tinggi kemudian dikategorikan menjadi dua yaitu tinggi 12-15 poin, rendah 16-48 poin. Uji bivariate menggunakan uji chi square karena data berdistribusi tidak normal dan skalanya ordinal. Pada uji Chi square jika nilai sign >0,05 maka tidak terdapat hubungan signifikan, sebaliknya dikatakan terdapat hubungan signifikan jika nilai sign <0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik pasien Tabel 1. Karakteristik Responden Frekuensi Presentase(%) Karakteristik Umur Remaja . -25 tahu. Dewasa . -45 tahu. Lansia . -65tahu. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan SMP SMA Sarjana Pekerjaan PNS Wiraswasta Petani Buruh Sumber : Data primer yang diolah . Hasil karakteristik responden menunjukan bahwa karaketristik umur responden yang terkena DM paling banyak pada usia lansia . -65 t. sebanyak 45 responden Hal tersebut dikarenakan pada kelompok usia tersebut telah memasuki perubahan atau terjadinya penurunan pada semua sistem tubuh dan seiring dengan bertambahnya usia maka akan terus terjadinya perubahan yang dapat berisiki lebih tinggi. Karakteristik jenis kelamin, responden yang paling banyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 42 responden . 2%) dan perempuan sebanyak 37 responden . 8%). Hal tersebut dikarenakan laki laki lebih berisiko tinggi terkena diabetes mellitus tipe 2 karena kenaikan berat badan relativ lebih sedikit dibanding wanita. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Leslie . menjelaskan bahwa laki-laki lebih rentan terkena penyakit DM tipe 2 dibandingkan dengan perempuan karena tahap pertumbuhan lemak yang lebih dapat diprediksi dan ambang lemak yang lebih rendah. Responden paling banyak berpendidikan SMA yaitu sebanyak 55 responden . 9%). Hal tersebut karena pendidikan dapat mempengaruhi seseorang terhindar dari berbagai penyakit seperti diabetes mellitus karena kesadaran untuk hidup sehat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Semakin rendah pendidikan seseorang semakin buruk juga pencegahanya terhadap komplikasi diabetes mellitus. Karakteristik responden paling banyak bekerja sebagai petani yaitu sebanyak 34 responden . %). Hal tersebut dikarenakan bahwa terjadinya diabetes di kalangan petani dikaitkan dengan paparan pestisida. Hal ini seringkali dikaitkan dengan pekerjaan warga sekitar yang kebanyakan adalah petani yang menggunakan pestisida dan atau obat-obat kimia dalam bercocok tanam. Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Penggunaan Insulin Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Berdasarkan tabel 2 didapatkan hasil bahwa pengetahuan pasien BPJS diabetes mellitus Tipe 2 dalam penggunaan insulin di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus masuk dalam kategori baik . -100%) sebanyak 68 responden . ,3%). Hal tersebut dikarenakan, pengetahuan berkaitan dengan penatalaksanaan DM meliputi keterlibatan dalam kegiatan penyuluhan, melakukan latihan fisik atau olahraga, dan pengobatan, yang terdiri dari jenis makanan, jumlah dan jadwal makan serta komplikasi DM. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan seharihari bagi penderita DM sehingga penderita DM dapat mengatasi bila ada gejala dan keluhan, mempertahankan rasa nyaman, penegndalian gula darah dan mencegah komplikasi (Prasida, 2. Tingkat Kepatuhan Pasien Tentang Penggunaan Insulin Tabel 3. Distribusi frekuensi kepatuhan Kepatuhan Tinggi Rendah Jumlah Berdasarkan tabel 3 didapatkan hasil bahwa kepatuhan terapi pengobatan pasien diabetes mellitus di wilayah kerja RSUD Loekmono Hadi Kudus kepatuhannya rendah yaitu sebanyak 67 responden . ,8%). Hal tersebut dikarenakan kebanyakan responden dalam penelitian ini masuk kategori usia lansia, sehingga dikeluhkan mereka lupa minum obat, saat melakukan aktivitas diluar rumah kadang lupa membawa obat, pengobatan yang bersifat jangka panjang membuat pasien lansia pikun, bosan dan melamun sehingga merekan kurang memperhatikan kondisi badan. Mengingat pasien yang sudah lansia kemungkinan tidak hanya menderita penyakit dm saja tetapi juga mempunyai penyakit lain yang diderita sehingga mereka kesulitan minum obat karena kebanyakan obat, serta sulit membedakan obat apakah sudah meminum obat atau Mengingat pengobatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit baik kebutuhan pemeriksaan maupun pembelian obat, kesulitan saat menjalani pengobatan (Dewi et al. Tingkat Hubungan Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Variabel Pengetahuan dengan Kepatuhan Penggunaan Insulin pada Pasien DM Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Sign P value standart >0. Keterangan Tidak ada hubungan Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai p . >0,05 yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap kepatuhan pasien BPJS Diabetes Mellitus tipe 2 dalam penggunaan insulin rawat jalan RSUD Loekmono Hadi Kudus. Hal tersebut dikarenakan tidak selalu orang yang memiliki pengetahuan yang baik akan patuh terhadap pengobatan, kadang patuh dan kadang tidak, tidak selalu orang yang memiliki kepatuhan tinggi memiliki motivasi yang tinggi pula dan tidak selalu orang yang memiliki pengetahuan tinggi memiliki motivasi yang tinggi, tidak selalu orang yang memiliki pengetahuan yang baik akan memiliki motivasi yang baik dan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dilapangan. Hal ini dapat disebabkan oleh pada saat responden mengisi kuisioner, jawaban berbeda dengan implementasi yang sebenarnya terjadi, dimungkinkan responden menjawab kuisioner tidak berdasarkan pengetahuan dan kepatuhan yang dimiliki. Menurut penelitian Dewi . yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan insulin. Hal ini dapat disebabkan oleh pengendalian perilaku makan dalam pemilihan makanan tidak datang dari konsep pengetahuan yang dimiliki responden. Namun, pada implementasi sehari-hari untuk kesehatan belum sepenuhnya mampu dilakukan pasien artinya pasien yang memiliki pengetahuan baik belum tentu mampu menerapkan dalam bentuk kepatuhan yang sesungguhnya (Trisnawati & Setyorogo 2. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Bertalina & Purnama . menyatakan bahwa penderita dengan pengetahuan yang baik serta mendapatan motivasi/dorongan dari luar seperti keluarga dan petugas kesehatan untuk mematuhi pengobatan mengalami kondisi tubuh terus membaik karena gula darah mereka terkontrol selama menjalani diet, dan sebaliknya responden dengan dorongan yang kurang menyatakan bahwa mereka bosan menjalani pengobatan yang dianjurkan karena selain sudah terlalu lama terkena menderita diabetes, mereka merasa tidak ada perubahan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat Pengetahuan penggunaan insulin pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang menjalani rawat jalan di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus berpengetahuan baik yaitu sebanyak 68 responden . ,3%). Tingkat Kepatuhan penggunaan insulin pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang menjalani rawat jalan di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus mempunyai kepatuhan baik yaitu sebanyak 67 responden . ,8%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan terhadap kepatuhan penggunaan insulin di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus karena nilai p value 0. 354 >0. Saran Diharapkan lansia DM di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus dapat meningkatkan kembali pengetahuannya terkait persepsi bahwa penyakit DM bisa disembuhkan atau tidak dan bisa diwariskan untuk menunjang kewajiban untuk terapi pengobatan yang dijalani agar terapi pengobataan ini dilakukan tepat waktu sesuai instruksi dari dokter Diharapkan agar pasien mematuhi setiap prosedur yang ditentukan agar tercapainya terapi insulin yang maksimal di dalam tubuh dan mencegah terjadinya hipoglikemia DAFTAR PUSTAKA