Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 GAMBARAN KESIAPSIAGAAN RIVER GUIDE DALAM MEMBERI PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEGAWATDARURATAN WISATA AIR Kadek Puspa Kerti*1. I Gusti Ngurah Juniartha1. Meril Valentine Manangkot1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: puspakerti2@gmail. ABSTRAK Perkembangan sektor pariwisata di Bali semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini berkaitan juga dengan peningkatan risiko terjadinya kegawatdaruratan wisata di Bali, tak terkecuali pada wisata perairan. Angka kecelakaan water sport di Bali pada tahun 2019 terdapat sebanyak 265 wisatawan yang mengalami cedera seperti luka, dislokasi, fraktur, strain, dan sesak napas. Kehadiran kader siap siaga yang kompeten sangat diperlukan untuk melakukan pertolongan pra-hospital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesiapsiagaan river guide dalam memberi pertolongan pertama kegawatdaruratan wisata air di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain crosectional study. Penelitian ini menggunakan metode total sampling dengan 51 responden river guide di 3 company rafting di Telaga Waja Karangasem Bali. Nilai mean usia responden berada pada 34,37 tahun. Seluruh responden berjenis kelamin laki-laki . %), mayoritas . %) tamat SMA/SMK. Durasi bekerja responden memperoleh nilai median sebesar 120,00 bulan atau sekitar 10 tahun. Mayoritas memiliki pengalaman menolong wisatawan dan mengikuti pelatihan sebanyak 50 responden . %). Nilai median pada skor total pengetahuan yakni 7,00. Nilai median skor total sikap adalah 31,00. Nilai median total skor rencana tanggap darurat yakni 3,00. Alat-alat P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaa. di ketiga company banyak yang belum lengkap Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan para river guide memiliki kesadaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Peneliti juga mengharapkan keterlibatan pihak lainnya dalam mendukung segala upaya guna meningkatkan kesiapsiagaan unsur masyarakat dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan. Kata kunci: kesiapsiagaan, pertolongan pertama, river guide, sungai telaga waja, wisata air ABSTRACT The development of the tourism sector in Bali has increased from year to year, this is also related to the increasing risk of tourism emergencies in Bali, including water tourism. The number of water sport accidents in Bali in 2019 was 265 tourists who suffered injuries such as wounds, dislocations, fractures, strains and shortness of breath. The presence of competent standby cadres is essential for providing pre-hospital assistance. This study aims to determine the preparedness of river guides in providing first aid for water tourism emergencies at Telaga Waja Rafting Karangasem Bali. This research is a descriptive quantitative study with a cross-sectional study This study used a total sampling method with 51 river guide respondents at 3 rafting companies in Telaga Waja Karangasem Bali. The mean age of respondents was 34. 37 years. All respondents were male . %), the majority . %) graduated from high school/vocational school. The duration of work of respondents obtained a median value of 120. 00 months or approximately 10 years. The majority of respondents . had experience assisting tourists and had attended training. The median total knowledge score was 7. The median total attitude score was 31. The median total emergency response plan score was 3. Many of the first aid kits in the three companies were incomplete. This research is expected to raise awareness among river guides to improve their preparedness. Researchers also hope that other parties will be involved in supporting all efforts to improve community preparedness in dealing with emergencies. Keywords: first aid, preparedness, river guide, telaga waja river, water tourism Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Perkembangan sektor pariwisata di Bali semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal ini terlihat dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawannya. Angka kunjungan wisatawan ke Bali pada bulan Juli 2023 mengalami kenaikan sebesar 13,2% dengan total 541. 353 kunjungan (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan berkaitan juga dengan peningkatan risiko terjadinya kegawatdaruratan wisata di Bali salah satunya wisata perairan. Kegawatdaruratan ditemui pada daerah perairan adalah World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa pada tahun meninggal akibat tenggelam. Cedera menyumbang hampir 8% dari total kematian global dan 7% disebabkan karena tenggelam (World Health Organization. Angka kecelakaan water sport di Bali pada tahun 2019 terdapat sebanyak 265 wisatawan yang mengalami cedera seperti luka, dislokasi, fraktur, strain, dan sesak (Sriwandayani Peningkatan angka ini tentunya harus diperhatikan khususnya bagi penyedia layanan wisata water sport. Bali memiliki beberapa pilihan water sport yang bisa dikunjungi, salah satunya Telaga Waja rafting water sport. Telaga Waja rafting berlokasi di Desa Menanga Kabupaten Karangasem Bali. Rafting Telaga Waja dikatakan cocok untuk pemula dan aman untuk anak-anak bahkan lansia (Bali River Rafting, 2. Walaupun begitu, tidak dapat kita pungkiri bahwa kegawatdaruratan bisa saja terjadi. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan November 2023, beberapa pengelola obyek wisata rafting di Telaga Waja menyebutkan bahwa beberapa kejadian yang dialami wisatawan adalah tenggelam karena arus sungai dan cedera berupa patah tulang. Peneliti juga menemukan artikel yang membahas mengenai kejadian gawat darurat di Telaga Waja. Karangasem Bali tepatnya pada bulan Juni 2023. Kejadian tersebut menewaskan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 seorang wisatawan asing asal Arab Saudi. Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit terdekat setelah terseret arus tersebut, namun sangat disayangkan korban tidak selamat (Detik Bali, 2. Pertolongan pertama dapat dilakukan atau diberikan oleh siapa saja. Pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama tidak hanya dimiliki oleh petugas pelayanan kesehatan saja, tetapi orang awam juga diharapkan memiliki pengetahuan tentang pertolongan pertama (Pratiwi dkk. , 2. Oleh karena itu, diharapkan unsur-unsur dilibatkan dalam penanganan kegawatdaruratan salah satunya adalah para river guide. River guide merupakan orang yang paham dengan kondisi dan karakteristik sungai dan bertugas dalam memimpin dan memandu boat wisatawan. River guide adalah orang yang berada paling dekat dengan wisatawan ketika melakukan kegiatan arung jeram atau rafting. Hal ini memungkinkan menjadikan river guide sebagai kader siap siaga dalam penanganan Kesiapan atau kesiagaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti kesiapan untuk memberikan respon yang segera terhadap sesuatu. Kesiapsiagaan merupakan keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang siap siaga dalam menghadapi bencana maupun keadaan darurat (Ristanto, 2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kesiapsiagaan tanggap darurat adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, masa kerja, pengalaman menolong wisatawan, pelatihan kegawatdaruratan, pengetahuan, sikap, dan sarana prasarana (Kinanti, 2023. Hidayat & Muhafilah, 2. Tujuan dari kesiapsiagaan adalah mengurangi dampak buruk dari bahaya yang dapat timbul melalui tindakan waspada yang efektif, serta memastikan bahwa pemberian respon darurat dilakukan secara tepat waktu, akurat, dan efisien. Oleh karena itu, penulis tertarik melakukan penelitian ini untuk menggali informasi sebagai gambaran awal mengenai kesiapsiagaan river guide dalam Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 memberi pertolongan pertama wisatawan di Telaga Waja Rafting METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah river guide yang bekerja di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali. Penelitian ini menggunakan metode total Sampel dalam penelitian ini adalah river guide dengan sebanyak 51 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2024 di Telaga Waja Rafting Karangasem. Penelitian menyebar kuesioner yang mengkaji data demografi dan kesiapsiagaan responden dengan melihat 3 aspek yakni pengetahuan, sikap, dan rencana tanggap darurat. Penelitian ini menggunakan kuesioner terbuka, kuesioner skala dikotomi, dan kuesioner skala likert. Kuesioner terbuka karakteristik dari responden seperti usia, pendidikan terakhir, lama bekerja sebagai river guide, jenis pelatihan yang didapatkan, dan pertanyaan terbuka pada aspek rencana tanggap darurat. Kuesioner skala dikotomi digunakan untuk mengukur pengetahuan dan rencana tanggap darurat dengan memberikan dua pilihan jawaban yakni AubenarAy dan AusalahAy pada aspek pengetahuan. AuyaAy dan AutidakAy pada aspek rencana tanggap darurat. Kuesioner skala likert digunakan untuk memperoleh data pada aspek sikap yang menyediakan 4 pilihan jawaban . idak setuju = 1. ragu-ragu = 2. setuju = 3. sangat setuju = . dan pernyataan negatif . idak setuju = 4. raguragu = 3. setuju = 2. sangat setuju = . Uji validitas dan reliabilitas pada kuesioner tersebut menggunakan metode uji terpakai yang melibatkan 52 responden dalam penelitian ini. Pada aspek pengetahuan dan sikap memperoleh nilai r Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Karangasem. hitung > r tabel yang ditentukan yakni > 0,281 sehingga seluruh poin pada aspek tersebut dinyatakan valid. Nilai cronbach alpha pada aspek pengetahuan dan juga sikap memperoleh hasil < 0,70 sehingga dinyatakan tidak reliabel. Aspek rencana tanggap darurat memperoleh hasil yang konstan sehingga tidak dapat dilakukan uji Peneliti memutuskan untuk tetap menggunakan seluruh item pernyataan karena penting untuk memperoleh data gambaran pada penelitian ini. Peneliti memberikan penjelasan sebelum penelitian . nformed consen. terlebih Setelah responden setuju dan menandatangani lembar informed consent, memerlukan waktu sekitar 20-30 menit untuk proses pengisian kuesioner. Peneliti melakukan uji normalitas terlebih dahulu pada data-data numerik, setelah itu penentuan nilai cut off point untuk membantu menarik kesimpulan pada penelitian ini. Penentuan cut off point akan menggunakan median, hal ini dikarenakan ketiga data aspek kesiapsiagaan tidak berdistribusi normal (Hilmi dkk. , 2. Pengetahuan . aik: Ou7, buruk: <. , sikap . ositif: Ou31, negatif: <. , rencana tanggap darurat . aik: Ou3, buruk: <. Data kategorik seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman, pelatihan serta data uraian pada rencana tanggap darurat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Data numerik seperti usia, durasi bekerja, pengetahuan, sikap dan rencana tanggap darurat ditampilkan dalam bentuk tendensi Penelitian ini sudah lolos uji kelayakan etik oleh Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan nomor 0941/UN14. VII. 14/LT/2024. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 HASIL PENELITIAN Tabel 1. Gambaran Karakteristik Responden Variabel Frekuensi . Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Pendidikan Terakhir Tidak Sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA/SMK Tamat Diploma/S1/S2 Total Pengalaman Tidak Total Keikutsertaan Pelatihan Tidak Total Terakhir Pelatihan Total Tabel 1 menunjukkan gambaran karakteristik responden di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali berdasarkan jenis kelamin, pendidikan terakhir, pengalaman, dan keikutsertaan pelatihan. Seluruh responden berjenis kelamin laki-laki . %). Pada menunjukkan bahwa sebagian besar responden yakni 45 . %) tamat Persentase (%) SMA/SMK. Sebagian besar responden memiliki pengalaman menolong wisatawan sebanyak 50 responden . %). Sebagian besar responden pernah mengikuti pelatihan yakni sebanyak 50 responden . %). Mayoritas responden mengikuti pelatihan terakhir pada tahun 2018 yakni sebanyak 19 responden . ,3%). Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Data Numerik Variabel Usia Lama bekerja Pengetahuan Sikap Kolmogorov-Smirnov Statistic Sig. 0,111 0,165 0,156 0,003 0,155 0,004 0,130 0,032 Tabel 2 menunjukkan hasil uji normalitas data numerik pada penelitian ini. Nilai uji normalitas pada variabel usia adalah 0,165 > 0,05 dan dinyatakan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Distribusi data Normal Tidak Normal Tidak Normal Tidak Normal berdistribusi normal. Lama bekerja berada pada angka 0,003, pada variabel pengetahuan menunjukkan hasil 0,004 dan variabel sikap menunjukan hasil 0,032. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 3. Gambaran Karakteristik Responden berdasarkan Usia dan Durasi Bekerja sebagai River Guide di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali Variabel Mean A SD 95%CI Usia (Tahu. 34,37 A 6,856 32,44 . 36,30 Variabel Median Min-Max 95%CI Durasi bekerja (Bula. 120,00 86,23 . 124,00 Tabel 3 menunjukkan gambaran karakteristik usia responden dengan nilai mean 34,37 tahun. Responden termuda berusia 24 tahun dan paling tua berusia 48 Durasi responden bekerja sebagai river guide memperoleh nilai median sebesar 120,00 bulan atau sekitar 10 tahun, minimal bekerja selama 1 bulan dan paling lama bekerja selama 300 bulan atau sekitar 25 tahun. Tabel 4. Gambaran Kesiapsiagaan River Guide di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali Kesiapsiagaan Median Min-Max Pengetahuan 7,00 Sikap 31,00 Rencana tanggap darurat 3,00 Tabel 4 menunjukkan kesiapsiagaan responden dari segi pengetahuan, sikap, dan rencana tanggap darurat. Nilai median pada skor total pengetahuan yakni 7,00, nilai minimal skor total 5 dan nilai maksimalnya Nilai median skor total sikap adalah 95% CI 6,63 . 7,45 29,99 . 32,05 31,00, nilai minimal pada total skor sikap yakni 23 dan nilai maksimalnya 38. Nilai median total skor rencana tanggap darurat yakni 3,00, nilai minimal skor totalnya adalah 3 dan nilai maksimalnya adalah 3. Tabel 5. Kategori Cut Off Point Kesiapsiagaan River Guide di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali Variabel Frekuensi . Persentase (%) Pengetahuan Baik Buruk Total Sikap Positif Negatif Total Rencana Tanggap Darurat Baik Buruk Total Tabel pengkategorisasian berdasarkan nilai cut off Sebanyak 32 responden . ,7%) memiliki pengetahuan baik, 29 responden Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 . ,9%) memiliki sikap positif dan 51 responden . %) memiliki rencana tanggap darurat yang baik. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 6. Gambaran Rencana Tanggap Darurat River Guide di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali Variabel Frekuensi . Persentase (%) Petugas kesehatan khusus Tidak Total Fasilitas kesehatan yang dituju Tidak Total Puskesmas Rendang RS Kasih Ibu Saba Total Pengecekan obat-obatan Tidak Total 1 bulan sekali 3 bulan sekali Total Alur evakuasi korban Tidak Total Tabel 6 menunjukkan data pada aspek rencana tanggap darurat. Pengecekan obatobatan mayoritas dilakukan sebulan sekali . ,7%) dan sisanya menjawab dilakukan tiga bulan sekali . ,3%). Sebagian besar responden . %) menjawab akan membawa kegawatdaruratan ke Rumah Sakit Kasih Ibu Saba dan sisanya . %) menjawab akan membawa ke Puskesmas Rendang. Tabel 7. Gambaran Ketersediaan Sarana Prasarana di Telaga Waja Rafting Karangasem Bali Nama Barang Lengkap Tidak Lengkap Tidak Lengkap Kasa steril terbungkus ue ue ue Perban . ebar 5 c. ue ue ue Perban . ebar 10 c. ue ue Perban . 25 c. ue ue Plester ue ue ue Kapas . ue ue ue Kain segitiga/mitela ue ue Gunting ue ue ue Peniti ue ue Sarung tangan sekali pakai ue ue Masker ue ue ue Pinset ue ue Lampu senter ue ue Gelas untuk cuci mata ue ue Kantong plastik bersih ue ue ue Aquades ue ue Povidion iodine ue ue ue Alkohol 70% ue ue ue Alat kompres ue ue Buku panduan P3K ue ue ue Buku catatan ue ue ue Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Tidak ue ue ue ue ue ue ue ue ue ue Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 7 menunjukkan ketersediaan alat-alat P3K di masing-masing company. Alat-alat P3K di ketiga company banyak yang belum lengkap jumlahnya, seperti PEMBAHASAN Uji normalitas data merupakan jenis uji yang digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov pada aspek usia memperoleh hasil > 0,05 sehingga data dinyatakan berdistribusi normal dan akan menggunakan nilai mean dalam penyajian data. Durasi bekerja, pengetahuan dan sikap memperoleh hasil < 0,05 maka dapat dikatakan data tersebut tidak berdistribusi normal. Data rencana tanggap darurat tidak dapat dilakukan uji normalitas karena hasilnya yang konstan. Berdasarkan memutuskan untuk menggunakan nilai median dalam menyajikan data tersebut. Nilai median pada skor total pengetahuan yakni 7,00. Berdasarkan cut off point yang telah ditentukan maka pengetahuan responden dapat dikategorikan baik sebanyak 32 responden. Rahman dkk . dalam penelitiannya menyebutkan bahwa mayoritas responden yakni sebanyak 129 . ,2%) memiliki pengetahuan yang baik mengenai pemberian pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas (Rahman dkk. , 2. Nilai mean usia responden berada pada angka 34,37 tahun. Apabila diklasifikasikan usia responden berada pada rentang usia produktif . -64 tahu. Seseorang dengan usia 34 tahun dapat diklasifikasikan pada kelompok usia dewasa awal (Depkes, 2. Rinaldy, dkk . dalam penelitiannya menyebutkan bahwa rata-rata usia responden pada penelitian tersebut berada pada usia 33,28 tahun dan tergolong kelompok usia dewasa Tugas perkembangan seseorang pada usia dewasa awal salah satunya adalah mendapatkan suatu pekerjaan (Hurlock, 2009 dalam Putri, 2. Semakin bertambahnya usia seseorang, maka perilaku dan kemampuan pengambilan keputusan seseorang cenderung meningkat. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 perban, mitela, peniti, sarung tangan sekali pakai, pinset, lampu senter, gelas untuk cuci mata, alkohol 70%, dan alat kompres. Seluruh responden dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki. Penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriana dan Husain . yang menyatakan bahwa responden laki-laki mayoritas memiliki kesiapsiagaan baik (Fitriana & Husain, 2. Hal ini memengaruhi cara seseorang berpikir, bekerja, dan bertindak. Laki-laki dianggap memiliki respon yang lebih baik dan dapat mengerahkan tenaga yang lebih besar secara fisik untuk menolong korban (Asdiwinata dkk. , 2. Ketiga menyebutkan bahwa memang mayoritas yang melamar menjadi seorang river guide adalah laki-laki. Pihak company juga menilai bahwa kegiatan memandu rafting merupakan kegiatan yang memerlukan tenaga fisik yang besar. Hal ini dikarenakan kegiatan rafting merupakan salah satu kegiatan water sport yang memacu Peneliti berpendapat bahwa dibandingkan dengan perempuan, laki-laki cenderung memiliki kekuatan fisik yang lebih besar. Sebagian besar merupakan lulusan SMA/SMK sebanyak 45 . %) responden. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Asdiwinata . yang responden berpendidikan terakhir SMA yakni sebanyak 133 . ,2%) responden. Hal ini sesuai dengan program pendidikan Indonesia yakni AuProgram Indonesia PintarAy oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. Tahun 2016 mengenai wajib belajar 12 Durasi kerja merupakan waktu seseorang menyumbangkan kemampuan dan tenaganya pada suatu organisasi atau perusahaan tertentu. Durasi responden bekerja sebagai river guide memperoleh Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 nilai median sebesar 120,00 bulan atau sekitar 10 tahun, dengan durasi tersingkat bekerja sebagai river guide selama 1 bulan dan terlama bekerja selama 300 bulan atau sekitar 25 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian Sriwandayani dkk . yang menyatakan bahwa semakin lama pemandu wisata air bekerja pada bidangnya maka semakin meningkat juga pengetahuan dan keterampilannya, hal ini dikarenakan seringnya terpapar dengan kecelakaan dan menjadi lebih waspada terhadap kecelakaan dengan mencari sumber informasi. Sebesar 98% atau sebanyak 50 orang pertolongan pertama pada kegawatdaruratan wisata air. Penelitian yang dilakukan oleh Rinaldy, dkk . yang menyatakan pengalaman menolong korban kecelakaan mayoritas memiliki sikap yang positif yakni . ,5%) Pengetahuan dan sikap dapat dipengaruhi oleh pengalaman. Pengalaman merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengulang kembali pemecahan masalah yang pernah dihadapi oleh individu di masa lalu (Rahmawati & Fatmawati, 2. Pelatihan merupakan bagian penting yang memengaruhi pengetahuan dan sikap Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 98% atau sebanyak 50 orang telah mengikuti pelatihan dan hanya 1 orang responden yang belum mengikuti pelatihan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rinaldy, dkk . yang menyatakan bahwa sebagian besar responden yakni sebanyak 8 . ,7%) yang sudah mengikuti pelatihan memiliki sikap positif ketika menolong korban kecelakaan (Rinaldy dkk. Pelatihan merupakan proses mengajarkan keterampilan tertentu yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mahir dan dapat melaksanakan tugas lebih baik sesuai dengan standar (Kurniawan & Susanto, 2. Pelatihan yang diikuti responden diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan organisasi Gabungan Pengusaha Wisata Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Bahari dan Tirta Indonesia (GAHAWISRI) yang salah satu topiknya mengenai pertolongan pertama kecelakaan. Tahun pelatihan terakhir juga dapat memengaruhi kesiapsiagaan seseorang. Pada penelitian ini, responden yang mengikuti pelatihan terakhir pada tahun 2018 ada sebanyak 19 responden . ,3%) dan hanya 6 responden . ,7%) yang mengikuti pelatihan terakhir pada tahun 2024. Pengadaan suatu pelatihan lebih baik selalu diulang setiap kurun waktu Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan akan selalu mengalami Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan atau sikap seseorang. Semakin tinggi pengetahuan seseorang, maka akan semakin tinggi pula kesiapsiagaannya (Huriani dkk. River guide dengan pengetahuan pertolongan pertama yang cepat dan tepat pada wisatawan. Pengetahuan penelitian ini berada pada kategori baik. Peneliti berpendapat bahwa hal ini dikarenakan mayoritas responden sudah memiliki pengalaman dan mengikuti pelatihan penanganan pertolongan pertama. Masa kerja juga memengaruhi pengetahuan Semakin sering seseorang melakukan suatu kegiatan yang sama, maka lambat laun seseorang akan semakin tahu dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Nilai median skor total sikap adalah 31,00. Berdasarkan cut off point yang telah ditentukan maka sikap responden dapat Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hal ini juga sejalan dengan penelitian oleh Afni dkk . yang menyebutkan bahwa sebagian besar responden dengan persentase 58,1% memiliki sikap yang positif dalam memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan (Afni, 2. Sikap merupakan perasan dan pikiran seseorang mengenai aspek-aspek yang akan menghasilkan perilaku yang Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 positif ataupun sebaliknya. Sikap memiliki peranan pentinng dalam menentukan prilaku seseorang karena sikap berkaitan dengan sudut pandang, karakter, dan dorongan hidup mereka. Sikap juga mencerminkan kesiapsiagaan mental yang terbentuk melalui pengalaman hidup (Sudarman, 2. Responden pada penelitian ini memiliki sikap yang positif. Peneliti berpendapat hal ini dipengaruhi oleh adanya pengalaman, pelatihan dan durasi bekerja yang cukup lama. Peneliti menyatakan bahwa semakin dalam pengetahuan seseorang, maka semakin positif sikap mereka dalam mengambil tindakan. Penelitian yang dilakukan oleh Huriani, dkk menyebutkan pengetahuan dan juga sikap dengan kesiapsiagaan individu dalam menghadapi risiko bencana (Huriani dkk. , 2. Berdasarkan hal tersebut seseorang dengan pengetahuan yang baik akan menumbuhkan sikap yang positif kemudian akan memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik dalam memberi pertolongan pertama. Rencana tanggap darurat merupakan beberapa upaya kegiatan dipersiapkan dalam menghadapi suatu kejadian gawat Nilai median total skor rencana tanggap darurat yakni 3,00. Hal ini berarti responden memiliki rencana tanggap darurat yang baik. Pada penelitian ini terdapat 4 poin pertanyaan mengenai rencana tanggap darurat pemberian pertolongan pertama, yakni: Petugas khusus pemberi pertolongan Penelitian ini menyebutkan bahwa ketiga company tidak memiliki petugas khusus dalam memberikan pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan atau kegawatdaruratan. Para river guide yang langsung memberikan pertolongan pertama kepada korban. Fasilitas kesehatan yang dituju ketika hendak mengantar korban Seluruh . %) mengetahui kemana akan mengantar korban kecelakaan mencari pelayanan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Fasilitas kesehatan yang akan dituju pada saat mengantar korban adalah Rumah Sakit Kasih Ibu Saba dan Puskesmas Kabupaten Rendang. Pengecekan obat-obatan P3K Seluruh responden . %) menjawab ada kegiatan pengecekan obat-obatan P3K. Mayoritas mengatakan pengecekan obat-obatan ini dilakukan dalam kurun waktu sebulan sekali. Alur evakuasi korban Seluruh . %) Responden melakukannya sesuai dengan SOP yang berlaku di company yakni dengan menetapkan beberapa titik point sebagai jalur evakuasi. Secara umum, responden berpendapat bahwa mereka akan mengevakuasi korban ke daratan terlebih dahulu, kemudian mengambil kotak P3K yang terletak di beberapa titik point, dan memberi pertolongan pertama. Para river guide juga akan melapor kepada manager dan apabila perlu dirujuk, mereka akan mengantar atau menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih banyak alat-alat P3K yang belum lengkap di ketiga company. Alat-alat yang tersedia pada ketiga company layak digunakan, artinya alat-alat dalam keadaan baik, tidak rusak dan jauh dari tanggal Ketua pengelola mengatakan bahwa pengecekan ketersediaan dan kelayakan alat-alat P3K dilakukan oleh ketua pengelola sendiri. Penempatan kotak P3K tersebar di lobby dan beberapa titik point jalur lintasan arung jeram. Sarana dan prasarana yang memadai dapat mendukung kesiapsiagaan tanggap darurat. Alat-alat P3K yang lengkap akan membantu river guide memberikan pertolongan pertama yang tepat pada wisawatan yang mengalami Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Kesiapsiagaan yang diteliti pada penelitian ini hanya meliputi tiga aspek, yakni pengetahuan, sikap, dan rencana tanggap darurat. Peneliti hanya menemukan 10 poin yang memengaruhi kesiapsiagaan yakni usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pengalaman, pelatihan, lama pengetahuan, sikap, rencana tanggap darurat dan sarana prasarana. Peneliti berpendapat bahwa masih banyak aspek yang belum diteliti, salah satunya adalah komunikasi yang meliputi keterampilan bahasa asing. Peneliti keterampilan bahasa asing yang dikuasai merupakan salah satu keahlian penting dalam bidang pariwisata. River guide yang memiliki keterampilan bahasa asing akan lebih mudah memberikan informasiinformasi pertolongan pertama kegawatdaruratan. SIMPULAN Nilai mean usia responden berada pada 34,37 tahun. Seluruh responden laki-laki . %), mayoritas . %) tamat SMA/SMK. Durasi bekerja responden memperoleh nilai median sebesar 120,00 bulan atau sekitar 10 Mayoritas memiliki pengalaman menolong wisatawan dan mengikuti pelatihan sebanyak 50 responden . %). Nilai median pada skor total pengetahuan yakni 7,00. Nilai median skor total sikap adalah 31,00. Nilai median total skor rencana tanggap darurat yakni 3,00. Alatalat P3K di ketiga company banyak yang belum lengkap jumlahnya, seperti perban, mitela, peniti, sarung tangan sekali pakai, pinset, lampu senter, gelas untuk cuci mata, alkohol 70%, dan alat kompres. Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan para river guide memiliki Peneliti juga mengharapkan masyarakat dalam menghadapi kasus DAFTAR PUSTAKA