KESKOM. 2019;5(1):7-12 J JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal.htp.ac.id Analsis Pembentukan Wadah Upaya Kesehatan Kerja Kelompok Tani Sawit Desa Suka Maju, Wilayah Kerja Puskesmas Tapung Hilir I, Kabupaten kampar tahun 2018. The Analysis of Establishment of The Organization of Occupational Health Efforts of Palm Oil Farmers Group in Suka Maju Village, Tapung Hilir I Primary Health Center, Kampar District in 2018 Fatimah Sudarmo1, M Kamali Zaman2, Muhamadiah3 1,2,3 Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, STIKes Hang Tuah Pekanbaru ABSTRACT ABSTRAK Occupa onal health and safety (OHS) efforts are s ll a difficult problem to solve, especially in the informal sector. On the other hand, occupa on in the informal sector is risk to cause nega ve impacts due to work, such us accidents and occupa onal diseases that can endanger the health status of workers. The aim of this study was to measured and analyzed the resources analyze of establishment planning of The Organiza on of Ocupa onal Health Efforts of Palm Oil Farmers Group in Suka Maju Village, Tapung Hilir I. This was a qualita ve study with evalua on study design. The informants were come from of health centers, villages, and farmer groups. The data collected were through in-depth interviews, brainstorming, observa on and document tracking. The results showed that the public health center was severely constrained by the human resources component, beside the fund resources and facili es component has been fulfilled. In the responsible elements (Village) all resources have been affected, only need cross-sector coopera on. In the implemen ng element (Farmers) the resources were sufficient, only need guidance for the implementa on of the Work Health Efforts program. it is sugges ons to the primary health care, to filled the human resource needs of primary health care, for villages to be able to u lize 7% of village funds to allocate health sector, for farmers to do horizontal communica on as cadres for the establishment of Occupa onal Health Efforts. Upaya Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) masih menjadi permasalahan yang sulit diselesaikan, khususnya pada sektor informal. Disisi lain, pekerjaan di sektor informal berisiko menimbulkan dampak nega f akibat pekerjaan seper kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat membahayakan status kesehatan dari pekerja yang bekerja. Peneli an ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis sumber daya analisis rencana pembentukan Pos UKK kelompok tani sawit wilayah kerja puskesmas Tapung Hilir I. Peneli an ini menggunakan metode kualita f disain studi evaluasi, dengan informan dari unsur puskesmas (2 Orang), desa (2 Orang), dan kelompok tani (3 Orang). Perolehan informasi melalui wawancara mendalam, brainstorming, observasi dan penelusuran dokumen melalui triangulasi sumber, Metode dan data. Hasil penei an menunjukan bahwa puskesmas massih terkendala komponen sumber daya manusia, sedangkan komponen sumber daya dana dan fasilitas telah terpenuhi. Pada unsur penanggung jawab (Desa) semua sumber daya telah terpebuhi, hanya butuh kerjasama lintas sektor. Pada unsur pelaksana (Petani) sumber daya telah cukup, hanya perlu pembinaan untuk proses penyelenggaraan program Pos UKK. di sarankan bagi puskesmas, memenuhi kebutuhan SDM puskesmas, bagi desa agar dapat memanfaatkan 7% dana desa untul alokasi disektor kesehatan, bagi petani agar melakukan komunkasi horizontal sebagai kader guna pembentukan pos UKK. Keywords : Occupa onal Health Efforts, primary health care, Farmer Group. Kata Kunci : UKK, Puskesmas, Petani Sawit Correspondence : Fa mah Sudarmo, Jl.Alam Raya, Perum. Kota Pekanbaru. Email : fa mahsudarmo@gmail.com, 0813 6536 8488 • Received 19 Oktober 2018 • Accepted 21 Januari 2019 • p - ISSN : 2088-7612 • e - ISSN : 2548-8538 • DOI: h ps://doi.org/10.25311/keskom.Vol5.Iss1.281 Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4.0 Interna onal License (h p://crea vecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/) which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium 8 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 PENDAHULUAN Dalam rangka melindungi hak kesehatan pada pekerja sektor formal maupun informal, maka dicanangkan program Pos Upaya Kesehatan Kerja. Hak yang dimaksud tercantum dalam UU No 1 tahun 1970 tentang kesehatan kerja, dimana se ap pekerja berhak atas kesehatanya selama melakukan pekerjaan. Pos Upaya Kesehatan kerja merupakan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat dalam menjalankan kegiatannya melipu upaya promo f, preven f dan pengobatan sederhana yang bersifat pertolongan pertama pada kecelakaan dan pertolongan pertama pada penyakit (Rosan , 2017). Pos Upaya Kesehatan kerja merupakan unit kesehatan yang terdiri dari kader kesehatan kerja dibawah pembinaan puskesmas. Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas, puskesmas bertanggung jawab langsung kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten sesuai dengan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK). Puskesmas harus menyelenggarakan ga fungsi yaitu: (1) sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, (2) sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, dan (3) sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama (Depkes, 2004). Data dasar Puskesmas di Kabupaten Kampar tahun 2018 menunjukkan bahwa di daerah puskesmas Tapung Hilir I belum terdapat Pos UKK yang terintegrasi dan juga dak ada pelayanan kesehatan kerja yang dilaksanakan.Setelah melakukan hasil studi pendahuluan di puskesmas Tapung Hilir I pada 25 Mei 2018 mengetahui bahwa puskesmas Tapung Hilir I memang belum melaksanakan program UKBM Pos UKK yang terintegrasi.Menyikapi kondisi diatas maka perlu adanya pengelolaan dan pembinaan khususnya tentang program upaya kesehatan kerja melalui puskesmas secara terpadu khususnya pada sektor informal guna tercapainya tujuan dari pelayanan kesehatan kerja. Survei awal yang dilakukan dalam rangka pelihat permasalahan K3 sektor informal, ada beberapa permasalahan yang dihadapi.Upaya pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas telah dilaksanakan tetapi belum ada pencatatan data penyakit akibat kerja, penyakit akibat hubungan kerja dan kecelakaan akibat kerja.Selain itu, pelayanan kesehatan kerja terhadap sektor informal dilaksanakan namun sebatas pengobatan penyakit serta peralatan kerja dan sarana kurang mendukung pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas.Dari paparan hasil survei, peneli melihat bahwa permasalahan yang terjadi berakar pada satu k dimana pekerja informal harus mendapatkan wadah yang dijadikan sarana peningkatan derajat kesehatan dalam bentuk Pos UKK. METODE Peneli an ini bersifat kualita f dengan desain studi evaluasi, yang mana peneli an dilaksanakan guna menggali informasi h p://jurnal.htp.ac.id tentang rencana pembentukan Pos UKK beserta sumber daya dan kendala yang dihadapi dan dilakukan analisa dengan analisis SWOT. Peneli an ini dilakukan paka kelompok Tani Sawit Desa Suka Maju, Wilayah Kerja Puskesmas Tapung Hilir I. Peneli an dilaksanakan pada bulan September 2018.Informan peneli an dalam peneli an kualita f ini dipilih sesuai dengan prinsip kesesuaian (apprpriateness) dan kecukupan (adequacy). Dalam peneli an ini informan bisa saja berkurang atau bertambah sesuai kebutuhan pada saat peneli an di lapangan. Informan dalam peneli an ini terdiri dari: 1.Puskesmas tapung Hilir 1 (Kepala Puskesmas dan penanggung jawab K3 Puskemas). 2.Pembina Kelembagaan Pos UKK (Kepala Desa dan Sekretaris desa) 3.Kader UKK Kelompok Tani Sawit. Proses penghimpunan informasi dari Informan dianggap representa f dan selesai saat informasi yang didapatkan sudah sampai di k jenuh (Informasi Homogen). Selanjutnya informasi peneli an diperoleh dengan memper mbangkan kecukupan informasi serta ketepatan sasaran informan atas kebutuhan informasi peneli an. Informasi berkembang pada saat peneli an, namun masih dalam ranah topik peneli an terkait dengan upaya pembentukan Pos UKK. Pengembangan informasi bertujuan untuk memperoleh informasi yang utuh dalam rangka pengembangan topik peneli an. HASIL Komponen pembina, kelembagaan dan penyelenggara. Sumber daya pembina puskesmas dalam upaya pembinaan pos upaya kesehatan kerja melipu sumber daya manusia, sumber daya dana dan sumber daya fasilitas. Hasil peneli an yang dilakukan, diperoleh informasi bahwa sumber daya tenaga masih menjadi kendala dari aspek kualitas (kesesuaian latar belakang pendidikan) serta dari aspek kuan tas. “yang menjadi masalah pen ng adalah di ketanagaan, wewenang kita hanya sebatas mengusulkan, namun soal pemenuhan kebutuhan tenaga itu dak kuasa puskesmas”. Sumber daya dana telah memenuhi kebutuhan pembiayaan upaya pembinaan pos upaya kesehatan kerja melalui sumber dana BOK. “Sumber dana dak menjadi masalah, kami bisa menyeimbangkan kebutuhan puskesmas sesuai dengan anggaran, bahkan ada sebagian dana puskesmas yang dak habis terserap. Kita punya banyak sumber dana yang bisa dimanfaatkan” Sumber daya fasilitas telah terpenuhi, dimana penanggung jawab program K3 puskesmas dapat memanfaatkan fasilitas puskesmas berupa kendaraan bermotor untuk kepen ngan kunjungan pengawasan. Fa mah, et al Analisis Pembentukan Wadah Container Forma on Analysis “Kita mengfasilitasi se ap petugas dalam menjalankan tugasnya. Fasilitas bisa berasal dari puskesmas (kendaraan), maupun fasilitas alterna f dan dilakukan pergan an penggunaan fasilitas (Sewa)”. Komponen sumber daya kelembagaan (desa) berperan sebagai katalisator penyelenggaraan program pos upaya kesehatan kerja. Komponen kelembagaan memiliki fungsi melakukan pengawasan terhadap penyelenggaran (tenaga kerja) dalam menjalankan upaya kesehatan kerja. Hasil wawancara yang dilakukan terhadap penanggung jawab kelembagaan menggambarkan kesiapan sumber daya yang ada melipu kesiapan sumber daya manusia (pengawas) yakni sekrearis desa, serta sumber daya dana yang cukup bersumber dari pengalokassian dana desa. “Kita dukung se ap kegiatan yang posi f bagi masyarakat. Masyarakat bebas memanfaatkan fasilitas desa, asal koordinasi. Pembiayaan ada, nan kita ambil dari dana desa bisa tu.. yang pen ng dana itu bisa dipertanggungjawabkan. Kelompok tani sebagai sasaran utama program Pos UKK menjadi kunci kesuksesan program Pos UKK. Kelompok tani sebagai target program mendukung pelaksanaan program Pos UKK melalui hasil wawancara sebagai berikut: “Kami dukung sekali program K3 untuk kami pekerja, supaya kalau ada masalah kami ada wadahnya.” “Sebenarnya inilah yang kami butuhkan, kami kalau sakit ada yang menjamin kami.” “Saya sangat senang, saya siap jadi pengurus, asalkan kami di bina harus berbuat apa.” Dari hasil peneli an terhadap komponen input (pembinaan, kelembagaan dan penyelenggara) diperoleh informasi bahwa sumber daya telah cukup untuk menyelenggarakan program pos upaya kesehatan kerja, dipandang dari sumber daya manusia, sumber daya dana serta sumber daya fasilitas. Dalam rencana penyelenggaraan program pos upaya kesehatan kerja, kesiapan seluruh komponen dinilia sangat baik dan dapat dilakukan dengan mengintegrasikan ke ga komponen yang ada (pembinaan, kelembagaan dan penyelenggara) Hasil peneli an yang dilakukan terangkum dalam tabel triangulasi peneli an sebagai berikut: Tabel 1. Rangkuman analisis data peneli an SDM Puskesmas 9 Komponen pembinaan, pemantauan dan evaluasi program Pos Upaya Kesehatan Kerja merupakan unit yang berada dibawah pembinaan puskesmas dan perangkat desa sebagai bentuk kelembagaan. Pembinaan puskesmas belum dilakukan disebabkan Pos Upaya Kesehatan Kerja belum terbentuk. Dari hasil wawancara yang dilakukan diperoleh informasi bahwa, bagi puskesmas maupun perangkat desa menyatakan siap menjadi unsur pembina unit Pos Upaya Kesehatan Kerja. “prinsipnya, pembinaan merupakan tugas kami dari puskesmas. Kami sangat siap jika harus menjadi bagian dari proses berjalanya pogram Pos Upaya Kesehatan Kerja” Pos Upaya Kesehatan Kerja dapat dilakukan oleh puskesmas dan perangkat desa. Keduanya telah menyatakan siap untuk terlibat pada proses pemantauan program Pos Upaya Kesehatan Kerja. “Pemantauan ru n kami siap, kami akan menunjut peugas K3 puskesmas untuk melakukan pemantuan secara ri n dan kami masukan kedalam anggaran” Evaluasi program Pos Upaya Kesehatan Kerja dimungkinkan dilakukan oleh Puskesmas dan Perangkat desa. Untuk melakukan evaluasi, perangkat desa dan puskesmas sepakat untuk melakukan evaluasi secara bersama sama. Informasi ini diperoleh pada saat pelaksanaan Brainstorming. “Evaluasi bersama dengan perangkat desa juga bagus, agar saling berkoordinasi dengan kuar dan bersinergi”. Evaluasi dapat dilakukan secara regular se an enam bulan atau setahun pun boleh.. tapi ada monitoring, agar program terkendali..” Hasil peneli an yang dilakukan terangkum dalam tabel triangulasi peneli an sebagai berikut: J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 10 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 Tabel 2. Rangkuman Analisis Data unsur Pembiaan Program Komponen output Output dari program adalah rencana pembentukan Pos UKK secara sistema s dan dilakukan monitoring secara berkelanjutan serta dilakukan evaluasi secara berkala. Output Program Pos UKK belum dapat dievaluasi disebabkan program belum berjalan. “puskesmas secara umum siap melakukan perananya, kami juga siap melakukan koordinasi dan bersinergi dengan pihak desa (kelembagaan) dan penyelenggaraan pos upaya kesehatan kerja”. Analisis SWOT Rencana Program Pembentukan Pos UKK Analisis SWOT dilakukan guna mengiden fikasi Kekuatan (Strengths), Kelemahan (Weaknesess), Peluang (Opportuni es) dan Ancaman (Threats), selanjutnya dirmuskan strategi SO (Strengths- Opportuni es), Strategi WO (Weaknesess –Opportuni es), strategi ST (Strengths- Threats) dan strategi WT (Weaknesess - Threats). Hasil wawancara dan observasi menggambarkan situasi yang akan dilakukan analisis secara menyeluruh sebagai berikut: Tabel 3. Matrix SWOT Pembentukan Pos UKK h p://jurnal.htp.ac.id Dari analisis matrix, diperoleh strategi Pembentukan Pos UKK melalui berbagai sumber daya sebagai berikut: a.Strategi SO (Strengths- Opportuni es) 1) Integrasi regulasi kedalam praktek terkait penyelenggaraan Program Pos UKK. Regulasi 2) Koordinasi, termasuk pelaporan antar unsur (puskesmas, desa dan kelompok tani) melalui sistem informasi. b.Strategi WO (Weaknesess –Opportuni es) 1) Advokasi regulasi Pos UKK terintegritas kepada camat dan pengambil kebijakan (BKD). 2) Sistem informasi penggunaan anggaran puskesmas (UKK) / desa untuk Sektor kesehatan c. Strategi ST (Strengths- Threats) 1 ) M e l a ku ka n ko o rd i n a s i d a n p e r te m u a n u nt u k mengsosialissasikan regulasi Pos UKK terintegritas 2) Advokasi kebutuhan pokok SDM di ngkat puskemas dan desa. d. Strategi WT (Weaknesess – Threats) 1) Melakukan analisis kebutuhan SDM pada masing masing ngkatan (puskesmas dan desa) 2) Update data kelompok tani beserta masalah kesehatan yang dihadapi sebagai bahan advokasi PEMBAHASAN Komponen pembina, kelembagaan dan penyelenggara. Sumber daya puskesmas Sumber daya manusia (SDM) Puskesmas Tapung Hilir I masih menjadi kedala dalam upaya Penyelenggaran Pos UKK. Oleh sebab itu, perlu upaya pemenuhan kebutuhan tenaga K3 puskesmas dalam upaya penyelenggaraan Pos UKK diwilayah kerja puskesmas. Peneli an ini selaras dengan peneli an Pujia (2016) bahwa Sumber Daya manusia di Tingkat puskesmas masih menjadi kendala dalam penyelenggaraan berbaga program puskesmas. Dalam Permenkes No 100 tahun 2015 tentang Pos UKK dijelaskan bahwa penetapan m kesehatan kerja dilakukan oleh kepala puskesmas. Tim kesehatan kerja puskesmas bertugas menyusun program penyelenggaraan Pos UKK, serta melakukan advokasi dan koordinasi lintas sektor pada pihak pihak terkait. Puskesmas memiliki sumber anggaran dalam menjalankan ke g i ata n p e l aya n a n ke s e h ata n . H a s i l wawa n ca ra menggambarkan, puskesmas dak memiliki masalah dengan alokasi anggaran dana program K3. Bahkan anggaran dana K3 dialihkan keanggaran lain disebabkan penyerapan dana anggaran yang kecil. Pada prinsipnya, pembiayaan Pos UKK dapat diperoleh dari sumber anggaran kepemerintahan (APBD) / BOK, atau sumber lain yang dak mengikat seper par sipasi pekerja (sarikat pekerja) pengusaha atau yang lainya sesuai dengan aturan yang berlaku. Permenkes (2015) sumber pembiayaan di ngkat pekerja dapat berupa dana koperasi, dana bergulir, arisan dan lainya yang bersumber dari petani. Fa mah, et al Analisis Pembentukan Wadah Container Forma on Analysis Puskesmas menjadi unsur pembina dalam program Pos UKK mengharuskan melakukan pembinaan masalah kesehatan pekerja. Oleh sebab itu, puskesmas berkewajiban memenuhi unsur sarana dan prasarana untuk menunjang keberlangsungan pembinaan. Sarana yang ada dipuskesmas Tapung Hilir I berupa kendaraan operasional (Kendaraan bermotor) untuk kegiatan yang bersifat eksternal puskesmas dalam bentuk kunjungan atau pemantauan di lapangan. Kelembagaan (desa) Kepala desa sebagai unsur penanggung jawab Pos UKK memiliki peranan pen ng dalam penyelenggaraan Pos UKK. Unsur penanggung jawab didalamnya terdapat SDM untuk melakukan kegiatan pembinaan, pemantauan dan evaluasi (bersama Puskesmas). Hal berdasarkan hasil wawancara diperoleh bahwa desa memiliki sumberdaya yang cukup dalam melakukan fungsi penanggung jawab pos UKK (bagian Kesejahteraan Rakyat). Dari aspek pendanaan, diperoleh informasi bahwa pendanaan dapat dialokasikan melalui pembiayaan kesehatan dana desa. Kepala Desa sebagai unsur kelembagaan memiliki peranan yang pen ng dalam keberlangsungan program Pos UKK. Peneli an yang dilakukan oleh Denny (2016) menyatakan bahwa desa memiliki peranan sentral, menjadi penghubung kebutuhan masyarakat dengan petugas kesehatan di ngkat puskesmas. Dalam situasi nyata, desa memiliki peranan kelembagaan dalam bentuk advokasi dan pemantauan sekaligus. Penyelenggara / Pelaksana (Kelompok Tani) Kelompok tani sebagai target pelaksana Pos UKK memiliki peranan strategis dalam upaya pelaksanaan program. Kelompok tani merupakan sumber daya yang dak tergan kan dalam rencana pengembangan program Pos UKK. Selain itu, kelompok tani juga memiliki sumber daya lain yang menunjang kelancaran program Pos UKK, diantaranya sumber daya dana dan fasilitas. Kelompok tani Desa Suka Maju merupakan sumber daya yang dapat diberdayakan pada aspek pembiayaan maupun pelaksanaan program. Pembinaan Program (Puskesmas dan desa) Unsur pembinaan merupakan proses penyelenggaraan Pos UK yang dilakukan secara terus menerus. Denny (2016), menyatakan petugas puskesmas melakukan pembinaan dan mendapatkan pembinaan. Petugas kesehatan puskesmas mendapatkan pembinaan dari dinas kesehatan dan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pos UKK oleh kelompok tani. Pemantauan Program (Puskesmas dan desa) Rencana Pemantauan program Pos UKK dilakukan oleh unsur 11 pembina (Puskesmas Tapung Hilir I) dan unsur penanggung jawab (Kepala Desa Suka Maju).Rencana Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berjenjang minimal se ap 3 bulan sekali dengan menggunakan cek list sebagaimana terlampir.Hasil monitoring dan evaluasi dapat dipergunakan pemangku kepen ngan sebagai bahan per mbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Dalam monitoring dan evaluasi dilakukan penilaian terhadap pembinaan dan penyelenggaraan Pos UKK Terintegrasi. Penilaian keberhasilan pembinaan ditujukan untuk petugas kesehatan Puskesmas, sedangkan keberhasilan penyelenggaraan Pos UKK Terintegrasi ditujukan kepada kader dan petugas kesehatan dengan rincian kriteria Evaluasi Program (Puskesmas dan desa) Evaluasi progra Pos UKK direncakan dilakukan pada se ap akhir program. Penilaian programdirencanakan melipu : 1) Jumlah kader ak f yang berasal dari pekerja atau masyarakat; 2) Frekuensi pelaksanaan kegiatan promo f, preven f dan kura f; 3) Adanya pembinaan yang terintegrasi dari lintas program dan sektor; 4) Adanya pela han/peningkatan kapasitas pada kader; dan 5) Frekuensi pembinaan paling sedikit 1 (satu) bulan sekali per Pos UKK Terintegrasi. Komponen Output (rencana Penyelenggaraan) Rencana penyelenggaraan pos UKK puskesmas akan dapat berjalan dengan lancar apabila wadah telah terbentuk melalui berbagai mancam unsur. KESIMPULAN Hasil peneli an mengerucut pada simpulan akhir bahwa komponen sumber daya pada pembentukan pos upaya kesehatan kerja pada unsur pembina (puskesmas) telah cukup, pada ngkat lembaga (desa) telah cukup, serta pada unsur pelaksana (petani sawit) telah cukup. Hasil analisis SWOT yang dilakukan menggambarkan, faktor internal sangat kuat dan hanya perlu penguatan pada faktor eksternal. Solusi yang dapat dilakukan adalah melakukan kerjasama atau bersinergi ddengan pihak yang mengambil keputusan pada ngkat pemerintahan (camat) dan Dinas Kesehatan. Dengan demikian, dukungan pengambil keputusan akan memberikan dampak sinergi yang semakin mendorong program dapat berjalan dengan baik Konflik Kepen ngan Peneli an ini dak mengandung konflik kepen ngan disebabkan karena peneli an ini memenuhi kriteria dan tahapan ilmiah dalam peneli an. J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 12 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 Ucapan Terima Kasih Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam peneli an ini. Kepada Bapak Prof. Dr. Tjipto Suwandi, MOH. Sp.OK, Bapak M Kamali Zaman, SKM. M.KL, Kepala Puskesmas Tapung Hilir I dan Informan peneli an. DAFTAR PUSTAKA Denny, dkk. 2016. Pembentukan Pos Upaya Kesehatan Kerja pada Industri Kecil Pembuat Alat Rumah Tangga Di Kelurahan Bugangan Kota Semaran. KESMAS, Vol.10, No.1, Maret 2016, pp. 45~ 48 ISSN: 1978 – 0575. Hanifa, dkk. 2016. Pembentukan Pos Upaya Kesehatan Kerja pada Industri Kecil Pembuat Alat Rumah Tangga Di Kelurahan Bugangan Kota Semarang. KESMAS Vol. 10, No. 1, Maret 2016: 45 – 48. Kresno, Boedina Si . (2001). Imunologi: Diagnosis dan Proses Laboratorium. Edisi Keempat. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 5, 10-12, 112-128. Profil Puskesmas Tapung Hilir 1. Kabupaten Kampar. Tahun 2017. Rosan , E. 2017. Program Pendampingan Pembentukan Pos Upaya Kesehatan Kerja (Ukk) Pada Petani Di Desa Demangan Ponorogo. JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat) ISSN: 25411977 E- ISSN: 25411977 Vol. 2 No. 2 2017. Permenkes, 2015.Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 100 Tahun 2015 Tentang Pos Upaya Kesehatan Kerja Terintegrasi. Kemenkes RI. Pujia , 2016.Ketersediaan Sumber Daya Manusia Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dalam Era Jaminan Kesehatan Nasional di Delapan Kabupaten-Kota di Indonesia. Media Litbangkes, Vol. 26 No. 4, Desember 2016, 201–210 Media Litbangkes, Vol. 26 No. 4, Desember 2016, 201–210 Sucipto, C.D. 2014. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Seleman. Gosyen Publishing. Triana, dkk.2016. Manajemen Perubahan Organisasi Dinas Kesehatan dalam Revitalisasi Puskesmas di Kabupaten Sumedang. JSK, Volume 1 Nomor 3 Tahun 2016 Tarwaka, 2016.Dasar Dasar Keselamatan kerja Serta Pencegahan Kecelakaan di tempat Kerja.Suakarta. Harapan Press. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan. h p://jurnal.htp.ac.id