Jurnal Ilmiah Pamenang - JIP E-ISSN : 2715-6036 P-ISSN : 2716-0483 DOI : 10. Vol. 6 No. Juni 2024, 1 - 7 HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BENDO KECAMATAN PARE KABUPATEN KEDIRI RELATIONSHIP LEVELS OF DEPRESSION WITH QUALITY OF LIFE IN PULMONARY TB PATIENTS IN WORK AREABENDO HEALTH CENTER. PARE DISTRICT KEDIRI REGENCY Hengky Irawan1*. Alise Kogoya2. Hakim Tobroni HR3 Department of Nursing IIK STRADA Indonesia Kediri 2,3 Department of Nursing STIKes Bhakti Mulia Kediri *Korespondensi Penulis : habibstrada@gmail. Abstrak Pendahuluan :Infeksi menular yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis, suatu bakteri aerobik tahan asam, yang ditularkan melalui . Pengobatan penyakit TB membutuhkan waktu yang lama menyebabkan sering terjadinya kondisi stress atau depresi, sehingga tidak jarang pasien dengan penyakit TB mempunyai nilai kualitas hidup yang rendah dikarenakan depresi yang dialami pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat depresi dengan kualitas hidup pada pasien TB paru. Methode : Penelitian analitik korelasional yang digunakan pendekatan cross sectional dengan Spearman Rank. teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh Pasien TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas Bendo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri sebanyak 30 responden. Instrument penelitian berupa kuesioner yang baku adalah. Zung Self-rating Depression Scale (ZSDS) dan World Health Organization Quality Of Life-BREF (WHOQOL-BREF). Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa p=0. <0. 05 artinya ada hubungan tingkat depresi dengan kualitas hidup pada pasien TB paru yang cukup kuat dengan nilai korelasi positive. Sebagian besar responden tidak mengalami depresi yaitu sebanyak 18 responden . ,0%) dan sebagian besar responden memiliki kualitas hidup sedang yaitu sebanyak 18 responden . ,0%). Kesimpulan : Depresi dapat ditimbulkan karena rasa takut akan kesehatan yang semakin memburuk dari hari ke hari, serta pengobatan yang dijalani terlalu lama maka hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien TB Paru Kata kunci : Depresi. Kualitas hidup. Pasien TB Paru Abstract Introduction : Pulmonary TB was a contagious infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis, an acid-fast aerobic bacteria, which was transmitted through . Treatment for TB disease takes a long time, caused stress or depression to often occur, so it was not uncommon for patients with tuberculosis disease to have a low quality of life due to the depression experienced by the patient. The aim of this study was to determine the relationship between levels of depression and quality of life in pulmonary TB patients. Methode : . Correlational analytical research used a cross sectional approach with Spearman Rank. The sampling technique used was total sampling. The sample in this study was all pulmonary TB patients in the Bendo Community Health Center Working Area. Pare District. Kediri Regency, totaling 30 respondents. The research instrument is a standard questionnaire. Zung Self-rating Depression Scale (ZSDS) and World Health Organization Quality Of Life-BREF (WHOQOL-BREF). Results: The results of this study show that p=0. <0. 05 means there is a fairly strong relationship between the level of depression and the quality of life in pulmonary TB patients with a positive correlation value. The majority of respondents did not experience depression, namely 18 respondents . 0%) and some Most of the respondents had a moderate quality of life, namely 18 respondents . 0%). Conclusion : Depression can be caused by fear of health which gets worse day by day, and if treatment is taken for too long, this can affect the quality of life of Submitted Accepted Website : 20 Maret 2024 : 21 Mei 2024 : jurnal. di | Email : jurnal. pamenang@gmail. Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kwalitas Hidup . (Alise Kogoya, dk. Keywords: Depression. Quality of Life. Pulmonary TB Patients Pendahuluan Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang menempati urutan kedua di dunia sebagai penyakit infeksi dan jumlah individu yang sakit akibat terinfeksi bakteri ini meningkat setiap tahunnya. Pengobatan menyebabkan sering terjadi nya kondisi stress atau depresi pada penderita penyakit (WHO. Kondisi depresi akibat proses penyakit tuberkulosis paru dan pengobatannya, serta tuberkulosis paru ini akan semakin memperberat kondisi pasien, baik fisik dan Kondisi fisikdan psikis ini akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien, karena keduanya merupakan dominan dari kualitas hidup, sehingga tidak jarang pasien dengan penyakit tuberkulosis mempunyai nilai kualitas hidup yang rendah dikarenakan depresi yang dialami pasien, serta diperberat dengan persepsi negatif terhadap penyakit tuberkulosis paru. Kualitas hidup yang rendah akibat adanya depresi dan stigma tentunya akan mempengaruhi bagaimana pasien penyakitnya serta proses pengobatannya yang secara keseluruhan akan berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya pengobatan (Endria, 2. Kasus tuberkulosis paru secara global diperkirakan 10 juta . isaran 8,9-11 jut. pada tahun 2019. Penderita penyakit TB secara geografis pada tahun 2019 berada di wilayah Asia Tenggara . %). Tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian Laporan World Health Organizatiton (WHO) tahun 2016 angka kasus tuberkulosis paru yang ditemukan hanya 356. 000 kasus . %) 000 kasus tuberkulosis paru. Penelitian yang dilakukan di Wolaita Sodo University Hospital And Sodo Health Center dalam Hendrik . dihasilkan data bahwa keseluruhan pasien TB paru yang diteliti, sebanyak 41,5% mengalami kecemasan dan 43,4% mengalami depresi. Penelitian lain yang dilakukan oleh School Of Medical Sciene And Research India tahun 2016 didapatkan hasil penelitian bahwa dari 100% tuberkulosis paru yang diteliti sebanyak 78% memiliki masalah mental, dimana sebanyak 35 kasus menderita depresi dan 39 kasus menderitakecemasan berat. Hasil survei prevalensi Tuberkulosis Kemenkes tahun 2016 angka insiden tuberkulosis paru adalah 399 per 100. penduduk dan angka prevalensi tuberculosis paru sebesar 647 per 100. 000 penduduk (Kemenkes RI, 2. Jika jumlah penduduk Indonesia berkisar 250 juta orang, maka ada sekitar 1 juta pasien tuberkulosis paru baru dan ada sekitar 1. 6 juta pasien tuberkulosis paru setiap tahunnya. Jumlah kematian karena tuberkulosis paru 100. 000 orang pertahun atau 273 orang perhari. Situasi tersebut menyebabkan Indonesia menempati peringkat ke 2 . Negara yang memiliki beban tuberkulosis paru tinggi di dunia setelah India (Kemenkes RI, 2. Penderita Tuberkkolosis teridentifikasi kasus tuberkulosis paru ratarata berusia lebih dari 45 tahun. Selain itu, masyarakat yang memiliki pendidikan rendah dan tidak bekerja berpotensi terkena risiko tuberkulosis paru lebih tinggi. Hasil Hadifah tuberkulosis paru dengan jenis kelamin lakilaki, memiliki usia yang masih produktif, telah menikah dan bekerja serta memiliki pendidikan tertinggi yaitu SMA atau Selain itu, mayoritas dari mereka berpenghasilan kurang dari Rp. 1,500. 000 dan memiliki anggota keluarga lebih dari 4 orang. Selain itu, memiliki kelembapan dalam ruangan yang cukup baik namun . /%) lingkungan di sekitar rumahnya dapat dikatakan kumuh. Dinas kesehatan yang di bantu oleh puskesmas dapat meningkatkan promosi tentang penyakit tuberkulosis untuk masyarakat bisa dengan mengunakan sosialisasi, pembagian poster di tempat umum terutama untuk pasien tuberkulosis paru yang memiliki kecendurungan tinggi terhadap penyakit tuberkulosis paru (Adewole, 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di UPTD Puskesmas Bendo terdapat 30 pasien tuberkulosis paru. Berdasarkan wawancara terhadap 3 orang penderita saat pengambilan data awal, diketahui 1 pasien yang merasa cemas apabila mengalami putus obat karena mereka harus menjalani pengobatan dari awal, 1 pasien merasa takut jika penyakitnya menular ke Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kwalitas Hidup . (Alise Kogoya, dk. Selain itu 1 pasien yang merasa putus asa karena keterbatasan ekonomi dan transpotasi saat berobat, karena perlu menjalani pengobatan dalam jangka lama hingga sembuh harus mengkonsumsi banyak Penderita tuberkulosis paru sepanjang Gejala utama tuberkulosis paru yaitu batuk dalam jangka waktu yang Selain itu, penderita tuberkulosis paru juga mengalami demam yang tidak terlalu tinggi, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, lemah, rasa tidak nyaman . (WHO, 2. Berbagai gejala klinis tersebut akan sangat mengganggu penderita Tuberkulosis Paru sehingga mengganggu kualitas hidupnya. Menurut Hendrik . , kualitas hidup mengalami peningkatan sejalan dengan penurunan gejala fisik pasien Tuberkulosis Paru. Penelitian Arifah . mengenai kualitas hidup pada pasien Tuberkulosis Paru menemukan bahwa terdapat 76% pasien Tuberkulosis Paru yang mengalami penurunan kualitas hidup. Ketika didiagnosis turberkulosis timbul ketakutan dalam dirinya,berupa ketakutan akan pengobatan, kematian, efek samping obat, menularkan penyakit orang lain, diskriminasi masyarakat, perasaan rendah diri, serta selalu mengisolasi diri karena malu keadaan penyakitnya. Pasien tuberkulosis paru sering mendapatkan pengalaman penolakan dan isolasi sosial dari masyarakat, yang menyebabkan pasien merasa tertekan dan dikucilkan sehingga menarik diri dari lingkungan sosial dan menjadi depresi (Putri, 2. Kualitas hidup menyangkut dimensi yang lebih luas termasuk kesehatan fisik, psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, keyakinan tentang penyakit yang diderita dan lingkungan. Kualitas hidup dapat diartikan sebagai derajat dimana seseorang menikmati kepuasan dalam hidupnya. Untuk mencapai kualitas hidupmaka seseorang harus dapat menjaga kesehatan tubuh, pikiran dan Sehingga seseorang dapat melakukan segala aktivitas tanpa ada gangguan (Rarani. Solusi permasalahan kualitas hidup penderita tuberkulosis paru yaitu dengan peran keluarga terhadap anggota keluarganya yang menderita tuberkulosis (Friedman 2. Pada penderita dibutuhkan khususnya dalam memberikan perawatan, tidak hanya perawatan secara fisik akan tetapi juga perawatan secara psikososial, oleh karena itu, perawatan yang baik akan Namun, apabila perawatan kurang baik akan beresiko menularkan kepada anggota keluarga lain. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain peran dan pengetahuan keluarga dalam memberikan perawatan pada penderita tuberkulosis. Penderita tuberkulosis wajib dilakukan pengontrolan pengobatan yang dilakukan 6-8 bulan secara ketat. Penderita dapat sembuh jika memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup dalam melakukan perawatan diri. Peran memberikan informasi terkait penyakit dan pengobatan tuberkulosis paru sangat penting untuk memotivasi pasien dalam menjalani Hal ini menunjukan bahwa interaksi melalui peran dukungan tenaga kesehatan akan menstimulasi pasien untuk memiliki keinginan sembuh. Oleh karena itu dukungan motivasi bagi pasien merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh tenaga kesehatan selama pasien dirawat di rumah sakit dalam upaya memotivasi pasien untuk Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuHubungan Tingkat Depresi dengan Kualitas Hidup pada Pasien TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Bendo Kecamatan Pare Kabupaten KediriAy. Metode Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain analitik (Correlational Stud. Pendekatan yang digunakan adalah rancangan cross sectional. Variabel independent pada penelitian ini yaitu tingkat depresi sedangkan variabel dependentnya adalah kualitas hidup pasien TB paru. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien TB di Wilayah Kerja Puskesmas Bendo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden menggunakan teknik Instrumen menggunaan kuesioner. Zung Self-rating Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kwalitas Hidup . (Alise Kogoya, dk. Depression Scale (ZSDS) dan World Health Organization Quality Life-BREF (WHOQOL-BREF) Hasil Penelitian Data Umum Tabel 1 Data Umum Responden (Umur. Pendidikan. Pekerjaan. Lama Menderita TB Paru. Riwayat Pengobatan. Informasi dan Sumber Informas. di Wilayah Kerja Puskesmas Bendo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Tahun 2023 Data Umum Frekuensi Prosentsae Responden (%) Umur 1 <= 25 Tahun 2 26-35 Tahun 3 36-45 Tahun 4 46-55 Tahun 5 56-65 Tahun 6 > 65 Tahun Jumlah Pendidikan 1 SD 2 SMP 3 SMA 4 Perguruan Tinggi 3 Jumlah Pekerjaan 1 Petani 2 Swasta 3 Wiraswasta 4 PNS 5 IRT Jumlah Lama Menderita TB 1 < 1 Tahun 2 1-2 Tahun 3 3-4 Tahun 4 > 4 Tahun Jumlah Riwayat Pengobatan 1 < 1 Bulan 2 1-2 Bulan 3 3-4 Bulan 4 > 4 Bulan Jumlah Pengalaman Informasi 1 Tidak Pernah 2 Pernah Jumlah Sumber Informasi 1 Media Elektronik 5 2 Petugas Kesehatan 25 Jumlah Berdasarkan data umum responden diketahui bahwa dari 30 responden paling banyak responden berumur 36-45 tahun yaitu 10 responden . ,3%), 14 responden . ,7%) berpendidikan SMA, 15 responden . ,0%) merupakan pekerja swasta, 21 responden ,0%) menderita TB paru < 1 tahun, 9 ,0%) pengobatan 1-2 bulan dan > 4 bulan, seluruh responden pernah mendapatkan informasi tentang TB Paru yaitu . %) 25 responden . ,3%) mendapatkaninformasi dari petugas kesehatan Data Khusus Tabel 2 Identifikasi Tingkat DepresiPenderita TB Paru Variabel Frekuensi Prosentase . (%) Tingkat Depresi 1 Tidak Depresi 2 Depresi Ringan 3 Depresi Sedang 4 Depresi Berat Jumlah Kualitas Hidup 1 Sangat Buruk 0 2 Buruk 3 Sedang Baik 5 Sangat Baik Jumlah Berdasarkan menunjukkan bahwa dari 30 responden sebagian besar responden tidak mengalami depresi yaitu sebanyak 18 responden . ,0%). ebagian besar responden memiliki kualitas hidup sedang yaitu sebanyak 18 responden ,0%) Tabel 3 Analisis Hubungan Tingkat Depresi dengan Kualitas Hidup pada Pasien TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas Bendo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Tahun Hubungan Tingkat Depresi Dengan Kwalitas Hidup . (Alise Kogoya, dk. Kualitas Hidup Total Tingkat Sedang Baik Depresi % f % Tidak Depresi 7 38,9 11 61, 18 100 Depresi 1 50,0 1 50, 2 100 Ringan Depresi 0 0,0 10 100 Sedang Total 18 60,0 12 40, 30 100 Pvalue = 0,001 A = 0,05 Nilai Coefisien Correlational : -0,564 Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa dari 18 responden yang memiliki tidak mengalami depresi sebagain besar responden memiliki kualitas hidup yang baik yaitu sebanyak 11 responden . ,1%) dan dari seluruh responden yang mengalami depresi sedang seluruhnya memiliki kualitas hidup yang sedang yaitu sebanyak 10 responden . %). Berdasarkan hasil analisa data Spearman Rank didapatkan hasil nilai sig . -taile. 0,001 dan taraf kesalahan ( A ) : 0,05, jadi p