Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Minat Belajar Anak Usia Dini di RA Al-Mubarok Mayang Inayatin1 Ratri Kurnia Pratiwi2 Universitas KH Achmad Muzakky Syah e-mail: 1inayatin30091987@gmail. com, 2ratrikurnia500@gmail. Abstrak Minat belajar merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan proses pembelajaran, terutama pada anak usia dini. Namun, pembelajaran yang bersifat monoton dan kurang melibatkan anak secara aktif seringkali menyebabkan rendahnya minat belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learnin. serta dampaknya terhadap minat belajar anak usia 5Ae6 tahun di RA AlMubarok Mayang. Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 1 guru dan 20 anak kelompok B. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan melalui kegiatan kolaboratif, eksploratif, dan berbasis pengalaman nyata mampu meningkatkan minat belajar anak. Anak-anak terlihat lebih aktif, antusias, dan termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan minat belajar anak usia dini di lembaga PAUD. Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Proyek. Minat Belajar. Anak Usia Dini Abstract Learning interest is a crucial factor that influences the success of the educational process, especially in early childhood education. However, monotonous learning methods that do not actively engage children often lead to low learning This study aims to describe the implementation of project-based learning and its impact on the learning interest of 5Ae6-year-old children at RA Al-Mubarok Mayang. Jember Regency. This research employed a descriptive qualitative The subjects were one teacher and 20 children from Group B. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results indicate that project-based learning, implemented through collaborative, explorative, and JOECES Journal of Early Childhood Education Studies Volume 2. Nomor 2 . experience-based activities, effectively increased children's learning interest. The children showed greater enthusiasm, participation, and motivation during the learning process. It can be concluded that project-based learning is an effective strategy to enhance early childhood learning interest in PAUD institutions. Keywords: Project-Based Learning. Learning Interest. Early Childhood PENDAHULUAN Minat belajar anak usia dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan keberhasilan pembelajaran jangka panjang. Anak usia 5Ae6 tahun berada pada fase perkembangan pesat, baik secara kognitif, afektif, maupun (Devianti et al. , 2. RA Al-Mubarok Mayang, sebagai salah satu lembaga pendidikan anak usia dini di Kabupaten Jember, memiliki komitmen untuk terus mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan sesuai perkembangan Salah satu pendekatan yang mulai banyak diterapkan adalah pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning/PjBL). Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif anak dalam proses pembelajaran melalui proyek yang relevan, kontekstual, dan menantang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan pembelajaran berbasis proyek terhadap minat belajar anak usia 5Ae6 tahun di RA Al-Mubarok Mayang pada tahun ajaran 2024Ae2025. Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan tahap awal yang sangat penting dalam perkembangan manusia. Pada masa ini, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, baik secara fisik, kognitif, sosial, maupun emosional. (Aisyah & Novita, 2. Oleh karena itu, pembelajaran pada usia dini harus dirancang secara menyenangkan dan bermakna agar mampu menumbuhkan minat belajar anak sejak dini. Minat belajar yang tumbuh pada usia ini akan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan pendidikan anak di masa depan. Minat belajar merupakan dorongan dari dalam diri anak untuk mengikuti kegiatan belajar dengan penuh perhatian dan antusias. Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap suatu kegiatan dan disertai dengan rasa senang. Anak-anak yang memiliki minat belajar tinggi cenderung lebih aktif, bersemangat, dan terlibat secara penuh dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, rendahnya minat belajar dapat menghambat proses pencapaian kompetensi anak. (Aminingtyas & Dwi Wardhani. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua anak usia dini memiliki minat belajar yang tinggi. Beberapa anak terlihat kurang antusias, cepat bosan, dan cenderung pasif saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat disebabkan oleh pendekatan pembelajaran yang kurang variatif, tidak melibatkan anak secara aktif, serta tidak sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang mampu memfasilitasi anak untuk belajar melalui pengalaman nyata dan kegiatan yang menyenangkan. Salah satu model pembelajaran yang relevan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL). Model ini memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar, bekerja sama dalam kelompok kecil, dan menghasilkan karya nyata yang bermakna. PjBL menekankan proses belajar yang aktif, kreatif, dan kolaboratif melalui JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah penyelesaian proyek tertentu yang terhubung dengan tema pembelajaran. (Palapessy et al. , 2. Pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi sarana untuk membangun minat belajar anak karena proses pembelajarannya menyenangkan, menantang, dan sesuai dengan gaya belajar anak. Anak-anak diberi kesempatan untuk memilih proyek yang diminatinya, mencari solusi dari masalah nyata, dan mengekspresikan gagasan mereka dalam bentuk karya nyata. Dengan demikian, mereka merasa memiliki kontrol atas proses belajar dan lebih termotivasi untuk berpartisipasi. (Jannah et al. RA Al-Mubarok Mayang. Kabupaten Jember sebagai salah satu lembaga PAUD yang aktif melakukan inovasi dalam pembelajaran, mulai menerapkan pendekatan berbasis proyek dalam kegiatan belajar anak usia 5Ae6 tahun. Penerapan ini didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam pembelajaran serta meningkatkan minat belajar yang mulai menunjukkan penurunan akibat rutinitas kegiatan yang monoton. Berdasarkan hasil observasi awal, guru menemukan bahwa anak-anak lebih antusias saat kegiatan pembelajaran dilakukan secara kontekstual dan melibatkan mereka secara aktif. Penerapan PjBL di RA Al-Mubarok Mayang melibatkan berbagai tema kontekstual, seperti AuLingkunganku BersihAy. AuBinatang KesayangankuAy, atau AuTanaman di SekitarkuAy, yang kemudian dikembangkan menjadi proyek-proyek sederhana yang dikerjakan secara berkelompok. Kegiatan seperti membuat maket taman bermain, poster hewan peliharaan, hingga eksperimen sederhana tentang tumbuhan menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran sehari-hari. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari pengalaman dan interaksi antar teman sebaya. Pentingnya pengembangan minat belajar pada anak usia dini juga didukung oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan pentingnya pengembangan potensi anak sejak dini secara holistik, baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Minat belajar yang tinggi akan mendorong anak untuk terus belajar, menggali pengetahuan, dan mengembangkan keterampilannya secara mandiri. (Nikmah et al. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa model PjBL efektif dalam meningkatkan motivasi dan minat belajar peserta didik. Misalnya, penelitian oleh Astuti . menemukan bahwa penerapan PjBL pada anak TK mampu meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan belajar dan menumbuhkan rasa ingin tahu mereka. Selain itu, hasil penelitian Yuliana . menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar melalui proyek menunjukkan perkembangan lebih baik dalam aspek sosial-emosional dan keterampilan berpikir kritis dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam penerapan pembelajaran berbasis proyek terhadap minat belajar anak usia 5Ae6 tahun di RA Al-Mubarok Mayang. Kabupaten Jember Tahun 2024Ae2025. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pembelajaran PAUD yang inovatif dan efektif dalam menumbuhkan minat belajar anak usia dini. JOECES Vol. No. KAJIAN PUSTAKA Teori Minat Belajar Anak Usia Dini Teori konstruktivisme memandang bahwa proses belajar terjadi ketika individu secara aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam konteks pembelajaran anak usia dini, konstruktivisme menekankan pentingnya aktivitas eksploratif, bermain, dan pengalaman langsung sebagai media utama untuk membentuk pemahaman anak terhadap dunia. Dua tokoh sentral dari teori ini adalah Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Jean Piaget menyatakan bahwa anak-anak berkembang secara bertahap melalui empat tahap perkembangan kognitif, dan pada usia 5Ae6 tahun, mereka berada pada tahap praoperasional. Dalam tahap ini, anakanak mulai mengembangkan kemampuan untuk menggunakan simbol, bermain peran, dan berkomunikasi menggunakan bahasa, meskipun pemikiran mereka masih bersifat egosentris dan intuitif. Anak usia dini belum dapat berpikir logis secara sistematis, tetapi sangat responsif terhadap pengalaman konkret dan visual. Oleh karena itu, pembelajaran yang mengedepankan kegiatan nyata seperti proyek, manipulasi benda, serta eksplorasi lingkungan sangat relevan bagi mereka. (Ginting, 2. Sementara itu. Lev Vygotsky memperkenalkan konsep Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu jarak antara apa yang dapat dilakukan anak secara mandiri dan apa yang dapat dicapai dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Dalam proses pembelajaran, guru atau pendidik memainkan peran penting sebagai scaffolding memberikan dukungan dan bimbingan yang sesuai sampai anak mampu menyelesaikan tugas secara mandiri. Pembelajaran berbasis proyek sangat sesuai dengan pendekatan ini karena memberikan ruang bagi guru untuk membimbing anak dalam menyelesaikan proyek sambil tetap memberikan kebebasan eksplorasi yang menantang dan bermakna. (Siregar et al. , 2. Dengan demikian, penerapan pembelajaran berbasis proyek pada anak usia dini secara teoritis selaras dengan prinsip-prinsip konstruktivisme. Anak-anak diberi kebebasan untuk merancang, mengeksplorasi, dan memecahkan masalah dalam proyek yang mereka pilih, yang semuanya menciptakan lingkungan belajar yang aktif, kolaboratif, dan sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif mereka. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan dan minat belajar anak, tetapi juga memperkuat pemahaman konsep melalui pengalaman nyata dan refleksi sosial. Pengertian Pembelajaran Berbasis Proyek Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan salah satu model pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar. PjBL menuntut keterlibatan langsung peserta didik dalam merancang, merencanakan, hingga mengeksekusi sebuah proyek nyata yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Proyek yang dikerjakan bukan sekadar tugas, tetapi menjadi sarana untuk JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah menyelesaikan masalah, menciptakan solusi, dan menghasilkan produk yang nyata serta bermakna. Pendekatan ini memberi ruang bagi peserta didik untuk menggali pengalaman belajar yang lebih mendalam melalui proses inkuiri, kolaborasi, refleksi, dan penerapan pengetahuan dalam konteks nyata. Kegiatan tersebut mendorong peserta didik untuk belajar secara aktif, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan (Anggara, 2. Oleh karena itu. PjBL sangat sejalan dengan perkembangan pendidikan abad ke-21 yang menuntut keterampilan 4C (Critical Thinking. Creativity. Communication, dan Collaboratio. Menurut Markham. Larmer, dan Ravitz . PjBL didefinisikan AuA systematic teaching method that engages students in learning knowledge and skills through an extended inquiry process structured around complex, authentic questions and carefully designed tasks and Ay Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek tidak hanya menekankan pada hasil akhir berupa produk, tetapi lebih menekankan pada proses pembelajaran yang menantang dan menstimulasi peserta didik untuk terus belajar. (Eviota & Liangco, 2. PjBL menjadi model pembelajaran yang relevan karena sesuai dengan karakteristik perkembangan mereka. Anak usia 5Ae6 tahun berada pada masa emas perkembangan . olden ag. , di mana rasa ingin tahu sangat tinggi, dan mereka belajar melalui pengalaman konkret. PjBL memberikan kesempatan bagi anak untuk menjelajah, bereksperimen, dan menciptakan sesuatu berdasarkan minat dan kebutuhannya sendiri. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar pendidikan anak usia dini yang menekankan pada pembelajaran yang menyenangkan, bermain sambil belajar, serta memperhatikan keberagaman dan keunikan setiap anak. (Palapessy et al. Guru bertindak sebagai fasilitator dan pendamping. Anak diberi kesempatan untuk menentukan ide proyek bersama, berdiskusi, mengumpulkan bahan, menciptakan produk, serta mempresentasikan hasil kerjanya kepada teman atau orang tua. Proses ini tidak hanya melatih kognisi dan motorik, tetapi juga memperkuat kemampuan sosial, komunikasi, serta menumbuhkan kepercayaan diri. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek juga membuka ruang bagi terjadinya diferensiasi pembelajaran, di mana anak dengan berbagai gaya belajar . isual, auditori, kinesteti. dapat terakomodasi dalam satu kegiatan yang holistik. Anak yang lebih suka menggambar, bercerita, atau membangun sesuatu, semuanya dapat terlibat dalam proyek yang sesuai dengan keunikan masing-masing. (Emeraldien et al. , 2. Dengan demikian, pembelajaran berbasis proyek bukan hanya meningkatkan hasil belajar dalam arti akademik, tetapi juga minat belajar, karena anak merasa memiliki kontrol, merasa dihargai pendapatnya, dan melihat hasil nyata dari apa yang telah mereka pelajari. JOECES Vol. No. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam tentang penerapan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learnin. dan dampaknya terhadap minat belajar anak usia 5Ae6 tahun. Pendekatan ini digunakan karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi pengalaman belajar anak secara alami dan holistik. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami fenomena sosial dari perspektif partisipan secara mendalam, dengan latar yang alamiah dan data yang bersifat deskriptif. Subjek Dan Lokasi Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah anak usia 5Ae6 tahun yang terdaftar di RA Al-Mubarok, yang berlokasi di Desa Mayang. Kecamatan Mayang. Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2024Ae2025. Selain anak sebagai subjek utama, guru kelas dan kepala sekolah juga dijadikan informan pendukung untuk mendapatkan informasi Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi: Observasi: Untuk mengamati proses penerapan pembelajaran berbasis proyek dan perilaku anak selama kegiatan berlangsung. Wawancara: Dilakukan kepada guru kelas dan kepala RA untuk mengetahui tujuan, strategi, serta dampak dari pembelajaran berbasis proyek terhadap minat belajar anak. Dokumentasi: Mengumpulkan data berupa foto kegiatan, hasil karya proyek anak, serta catatan harian guru selama proses belajar. HASIL & PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis proyek di RA Al-Mubarok Mayang mampu meningkatkan minat belajar anak usia 5Ae6 tahun secara signifikan. Hal ini tercermin dari keterlibatan aktif anak dalam kegiatan belajar, peningkatan motivasi internal, serta rasa antusiasme yang tinggi selama proses penyelesaian proyek. Anak-anak menjadi lebih inisiatif, bertanya secara aktif, dan terlibat dalam diskusi kelompok secara alami. Selain itu, kepercayaan diri mereka meningkat secara nyata, terutama ketika diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil proyek mereka kepada teman-teman sekelas dan guru. PjBL mampu meningkatkan minat dan partisipasi aktif anak usia dini dalam pembelajaran tematik di PAUD. Demikian pula PjBL mendorong anak untuk lebih kreatif, eksploratif, dan mandiri dalam menghadapi tantangan belajar yang kontekstual. Model pembelajaran berbasis proyek secara efektif mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermakna, sehingga anak tidak hanya memahami materi, tetapi juga mengembangkan karakter dan keterampilan sosial. Guru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan stimulus belajar dan dukungan sesuai JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah kebutuhan anak berdasarkan Zona Perkembangan Proksimal (ZPD). (Nurhalisa et al. Selama kegiatan proyek, anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengeksplorasi bahan-bahan yang tersedia, mengamati perubahan, serta mencoba berbagai teknik dan pendekatan yang sesuai dengan imajinasi mereka. Mereka tampak tidak hanya mengikuti instruksi guru, tetapi juga berinisiatif untuk mengembangkan ide sendiri dan mengarahkan jalannya proyek. Interaksi yang terjadi tidak terbatas pada guru dan anak, tetapi juga antaranak, di mana mereka secara spontan berdiskusi, membantu teman, dan memberi saran terhadap hasil karya teman sekelompok. Keterlibatan aktif ini juga tampak dari perilaku mereka yang terus bertanya, menghubungkan pengalaman baru dengan yang telah mereka miliki, serta mampu bertahan dalam satu kegiatan lebih lama dari biasanya. Bahkan ketika jam utama pembelajaran telah selesai, banyak anak yang masih ingin melanjutkan proyek mereka, menunjukkan ketertarikan yang tinggi dan keterlibatan emosional yang kuat dalam proses belajar. Guru mencatat bahwa dalam situasi ini, anak-anak tampak sangat menikmati kegiatan dan tidak merasa sedang "belajar" dalam pengertian tradisional, melainkan bermain dan bereksperimen dengan penuh Anak-anak yang terlibat dalam PjBL cenderung lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat, bertanya kepada guru, dan mempresentasikan hasil Ini terlihat dalam sesi presentasi proyek, di mana anak-anak mampu menjelaskan hasil karya mereka secara lisan dan menunjukkan ekspresi bangga atas pencapaian mereka. Proyek-proyek yang mereka hasilkan menjadi sumber rasa kepemilikan dan prestasi pribadi, yang berdampak langsung pada peningkatan harga diri dan kepercayaan diri. (Nazla & Fitria, 2. Guru mencatat bahwa beberapa anak yang sebelumnya pasif dan enggan berbicara di depan umum mulai menunjukkan perubahan sikap yang positif. Mereka tampak lebih terbuka dalam menyampaikan gagasan, tersenyum ketika berbicara, dan menunjukkan gestur tubuh yang lebih rileks selama sesi presentasi. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang menempatkan anak sebagai subjek aktif dalam lingkungan yang mendukung dapat menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengembangkan kepercayaan dirinya secara bertahap dan berkelanjutan. Selain itu, guru juga memberikan penguatan positif berupa pujian dan apresiasi atas usaha anak, bukan hanya hasil akhir. Bentuk penghargaan sederhana seperti "stiker bintang", "aplaus kelas", atau "cerita di depan orang tua" terbukti efektif dalam memotivasi anak untuk terus berani mencoba dan berbicara di depan umum. Lingkungan kelas yang mendukung, tanpa tekanan dan kompetisi, menjadi faktor penting dalam membentuk anak yang percaya diri dan siap belajar lebih lanjut. Melalui proyek kelompok, anak-anak belajar bekerja sama, berbagi tugas, menyampaikan pendapat, serta menyelesaikan konflik kecil dengan bimbingan guru. Proses ini menciptakan pengalaman belajar sosial yang kaya, di mana anak-anak tidak hanya memahami konsep kerja tim, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai empati, saling menghargai, dan tanggung jawab bersama. Aktivitas proyek sering kali memunculkan dinamika sosial yang kompleks, seperti perbedaan pendapat atau pembagian tugas yang tidak merata. Dalam situasi ini, anak-anak dilatih untuk JOECES Vol. No. mendengarkan satu sama lain, bernegosiasi secara sederhana, dan mengambil keputusan bersama. Guru berperan penting dalam memediasi konflik yang muncul dan menanamkan cara-cara penyelesaian yang konstruktif sesuai dengan tahap perkembangan anak. Kerja kelompok memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dari satu sama lain melalui model peran . eer modelin. , di mana anak yang lebih percaya diri dapat menjadi panutan bagi teman lainnya. Pengalaman ini membangun rasa saling ketergantungan positif dan memperkuat identitas anak sebagai bagian dari komunitas pembelajar yang saling mendukung dan menghargai kontribusi masing-masing individu. Guru memberikan dukungan melalui pertanyaan pemantik, umpan balik reflektif, dan bantuan saat anak mengalami kesulitan dalam zona perkembangan proksimal (ZPD). Intervensi guru yang tepat waktu dan tidak mendominasi memberikan ruang bagi anak untuk belajar secara mandiri dan merasa dihargai proses belajarnya. Pendekatan ini memungkinkan anak menemukan solusi sendiri terlebih dahulu sebelum guru turun tangan, sehingga mendorong tumbuhnya rasa percaya diri dan kemandirian dalam belajar. Guru juga menciptakan lingkungan belajar yang terbuka dan aman secara emosional, di mana anak-anak merasa nyaman untuk bereksplorasi, melakukan kesalahan, dan mencoba kembali. Guru memposisikan diri sebagai fasilitator yang hadir tidak untuk memberikan jawaban, tetapi untuk memandu proses berpikir anak melalui pertanyaan strategis dan dialog Selain itu, guru melakukan observasi berkelanjutan untuk menilai kapan waktu yang tepat memberikan bantuan tanpa mengganggu proses belajar anak. Peran guru dalam konteks ini selaras dengan pendekatan scaffolding yang dikembangkan oleh Vygotsky, yaitu memberikan dukungan yang cukup hingga anak mampu menyelesaikan tugas secara mandiri. Bentuk dukungan ini bersifat dinamis dan kontekstual, disesuaikan dengan tingkat kesulitan tugas serta karakteristik individu (Namaskara et al. , 2. Dengan demikian, peran guru menjadi kunci dalam mengoptimalkan pengalaman belajar berbasis proyek yang menyenangkan, menantang, dan bermakna bagi anak usia dini. Beberapa tantangan yang ditemukan dalam implementasi pembelajaran berbasis proyek di RA Al-Mubarok Mayang antara lain keterbatasan waktu dalam menyelesaikan proyek, kebutuhan bahan ajar yang lebih variatif dan sesuai dengan minat anak, serta kesulitan sebagian guru dalam merancang aktivitas proyek yang benar-benar kontekstual dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia Selain itu, faktor lain seperti kurangnya pelatihan guru terkait desain dan pelaksanaan PjBL, serta keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi kendala yang dihadapi. Jadwal pembelajaran yang padat menyebabkan guru merasa terburuburu dalam menyelesaikan proyek, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang Guru juga melaporkan kesulitan dalam menyeimbangkan antara kebutuhan kurikulum dengan fleksibilitas yang dibutuhkan dalam pendekatan proyek. Tantangan ini semakin kompleks ketika minat dan kemampuan anak dalam kelompok sangat beragam, sehingga memerlukan strategi diferensiasi yang tepat dari guru. Tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi melalui perencanaan yang lebih fleksibel dan adaptif, peningkatan kolaborasi antar guru, serta dukungan dari kepala sekolah dan orang tua. Pelatihan berkelanjutan tentang PjBL dan forum diskusi internal antarguru dapat menjadi solusi untuk memperkuat kapasitas guru JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah dalam mengimplementasikan model ini secara konsisten dan bermakna. Dengan demikian, hambatan-hambatan yang ada justru menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesionalisme guru di PAUD. PjBL mendorong partisipasi aktif dan minat anak dalam kegiatan belajar di PAUD. Selain itu, teori Vygotsky tentang ZPD mendukung pentingnya interaksi sosial dan bimbingan dalam meningkatkan motivasi belajar anak. (Al & Pekanbaru, 2. Dengan melibatkan anak dalam proses nyata yang bermakna. PjBL memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan rasa memiliki terhadap proses belajar. Pembelajaran berbasis proyek memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan minat belajar dan kemampuan problem solving anak usia dini. Anak yang terlibat dalam proyek merasa lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya dan lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Peningkatan minat belajar yang ditunjukkan oleh anak juga menunjukkan bahwa pendekatan konstruktivistik sangat relevan diterapkan pada anak usia dini. Ketika anak diberi kebebasan untuk memilih, bereksplorasi, dan merefleksi pengalaman belajarnya, maka motivasi intrinsik mereka akan lebih (Loka & Robiah, 2. Hal ini sesuai dengan pandangan Piaget dan Vygotsky yang menekankan pentingnya peran aktif anak dalam membangun pemahamannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungan. Pembelajaran berbasis proyek menstimulasi keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan Proyek-proyek yang dirancang secara kontekstual memungkinkan anak belajar secara integratif dan holistik, sehingga tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan sosial anak. Pembelajaran berbasis proyek tidak hanya menjadi pendekatan yang inovatif, tetapi juga komprehensif, yang selaras dengan karakteristik belajar anak usia dini. Penerapan PjBL memberikan dasar yang kuat dalam membangun kebiasaan belajar yang positif, meningkatkan rasa percaya diri, dan memperkuat motivasi belajar sepanjang hayat. KESIMPULAN Penerapan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PjBL) di RA Al-Mubarok Mayang terbukti mampu meningkatkan minat belajar anak usia 5Ae6 tahun secara signifikan. Anak-anak menunjukkan peningkatan dalam berbagai aspek, termasuk keterlibatan aktif dalam kegiatan, rasa percaya diri, kemampuan sosial, serta antusiasme yang tinggi terhadap proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis proyek memberikan ruang bagi anak untuk belajar secara aktif, mandiri, dan kontekstual melalui proyek nyata yang bermakna. Model ini juga sejalan dengan prinsip pendidikan anak usia dini yang menekankan pada belajar melalui bermain, eksplorasi, dan interaksi sosial. Anak-anak tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga afektif dan sosial, yang menjadi dasar penting dalam pembentukan karakter dan motivasi belajar jangka panjang. Peran guru sebagai fasilitator sangat penting dalam memastikan keberhasilan PjBL, terutama dalam memberikan bimbingan sesuai dengan Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) Lingkungan belajar yang aman, suportif, dan mendorong kolaborasi antaranak JOECES Vol. No. terbukti dapat menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan dan produktif. Guru disarankan secara berkelanjutan menerapkan PjBL dalam kegiatan pembelajaran di RA. Pelatihan dan pendampingan bagi guru perlu ditingkatkan agar mereka dapat merancang proyek yang relevan, fleksibel, dan sesuai dengan minat serta kebutuhan perkembangan anak. Keterlibatan orang tua juga penting dalam memperkuat minat belajar anak di rumah melalui dukungan terhadap proyek yang sedang dijalankan anak di sekolah. PjBL layak menjadi salah satu strategi utama dalam pendidikan anak usia dini yang tidak hanya inovatif, tetapi juga holistik dan berpusat pada anak. BIBLIOGRAFI Aisyah. , & Novita. TeachersAo perception of the implementation of project-based learning in early childhood education in Indonesia: ProjectBased Learning: a perspective from Indonesian early childhood educators. Cogent Education, 12. https://doi. org/10. 1080/2331186X. Al. , & Pekanbaru. Penerapan Metode Proyek dalam Meningkatkan Minat Belajar Anak Usia Dini : Studi Kualitatif di PAUD. 14, 119Ae124. Al Umairi. Pengembangan Interaksi dan Perilaku Sosial Terhadap Pendidikan Anak Usia Dini di Abad 21. Kiddo: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 4. , 1-12. Al Umairi. Mushab. "Development of social interaction and behavior for early childhood education in the era society . " JOYCED: Journal of Early Childhood Education 3. : 167-176. Al Umairi. Reinforcement of social emotional early childhood in the era of Society 5. Al Hikmah Indonesian Journal of Early Childhood Islamic Education, 8. , 51-62. Aminingtyas. , & Dwi Wardhani. Hubungan Minat dan Motivasi Belajar Berbasis Portal Rumah Belajar terhadap Hasil Belajar Kognitif Anak. Murhum : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4. , 590Ae601. https://doi. org/10. 37985/murhum. Anggara. Penerapan Model Project Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa. Arabi : Journal of Arabic Studies, 2. , 186. https://doi. org/10. 24865/ajas. Bercerita. Method. , & Sriwijaya. VOX EDUKASI : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN MORAL ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI METODE 16(Apri. , 234Ae241. Devianti. Sari. , & Bangsawan. Pendidikan Karakter untuk Anak Usia Dini. MITRA ASH-SHIBYAN: Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 3. , 67Ae78. https://doi. org/10. 46963/mash. Dewi. Stimulasi Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Kegiatan finger painting. Jurnal Pendidikan Anak, 7. , 5. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Education. , & Program. Islamic Early Childhood Education. Emeraldien. Sayidina. Setiawan. , & Rahmawati. Implementasi kurikulum merdeka pada pendidikan anak usia dini ( studi kasus Pos Paud Terpadu Melati kecamatan Bulak ). 8(Septembe. , 2435Ae2444. JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah Eviota. , & Liangco. Jurnal Pendidikan MIPA. Jurnal Pendidikan, 14(Septembe. , 723Ae731. Fitriyah. Implementasi Pengembangan Nilai Moral Dan Agama Pada Anak Usia Dini Melalui Metode Keteladanan Di Tk Al-Muhsin. Islamic EduKids, 1. , 1Ae7. https://doi. org/10. 20414/iek. Gil-ruiz. Martinez-verez. Toro. , & Marulanda. Children Ao s Drawing and Graphic Development : An Empirical Study of the Developmental Stages According to Lowenfeld. 1Ae18. Ginting. Membangun Pengetahuan Anak Usia Dini Melalui Permainan Konstruktif Berdasarkan Perspektif Teori Piaget. Jurnal Caksana : Pendidikan Anak Usia Dini, 1. , 159Ae171. https://doi. org/10. 31326/jcpaud. Handayani. , & Rakhmawati. Meningkatkan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Bermain Peran. Didaktik: Jurnal Ilmiah A, 09. Hasna. , & Kamtini. Analisis Kemampuan Motorik Halus pada Anak Usia 5-6 Tahun melalui Kegiatan Kolase. Jurnal Pelita PAUD, 5. , 171Ae177. https://doi. org/10. 33222/pelitapaud. Hendraningrat. , & Fauziah. Media Pembelajaran Digital untuk Stimulasi Motorik Halus Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6. , 58Ae72. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Hikmatuzzohrah. Syamsudin. , & Maryatun. Factors Influencing Receptive Language Skills in Preschoolers : The Role of Intelligence . Social Environment , and Family Background. 12, 223Ae234. Indriasih. Mengembangkan Moral Dan Nilai Agama Anak Usia Dini Melalui Media Berbasis Karakter. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6, 8961Ae Jannah. Agust. , & Zainur. Pembelajaran Berbasis Project Based Learning Untuk Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar Negeri 188 Kota Pekanbaru Pada Mata Pelajaran PJOK. Jurnal Dunia Pendidikan, 3(Apri. , 67Ae78. Khoerunissa. Faisti. , & Dina. Peran Pengasuhan Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 5-6 Tahun di TKQ Al Banin. MURANGKALIH: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3. , 45Ae55. https://doi. org/10. 35706/murangkalih. Kurniawati. , & Bachri. The Effect of Project-Based Flipped Learning Model on Early Childhood Learning Motivation. , 512Ae524. Loka. , & Robiah. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) dalam Meningkatkan Kemampuan Kerja Sama Anak Usia Dini. Al-Muhadzab: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 01. , 45Ae55. March. Multidisciplinary Journal of Systemic and Innovative Research (MJSIS). , 21Ae25. Namaskara. Arbarini. , & Loretha. Project-based Learning untuk Menstimulasi Kemandirian Anak di Kelompok Bermain. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7. , 5155Ae5170. JOECES Vol. No. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Nazla. , & Fitria. Pengembangan Kepercayaan Diri Melalui Metode Show and Tell Pada Anak. Jurnal Anak Usia Dini Holistik Integratif (AUDHI), 3. , 31. https://doi. org/10. 36722/jaudhi. Nikmah. Shofwan. , & Loretha. Implementasi Metode Project Based Learning untuk Kreativitas pada Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7. , 4857Ae4870. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Nurhalisa. Hidayat. , & Purbayani. Pengaruh Model Project-Based Learning Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini di Paud Dahlia. , 66Ae76. Palapessy. Ningrum. Adhe. , & Widayanti. Analisis Project Based Learning (PjBL) Untuk Kemampuan Berpikir Kreatif Anak Usia 5-6 Tahun. PENDIPA Journal of Science Education, 7. , 431Ae https://doi. org/10. 33369/pendipa. Paud. Jurnal Anak Bangsa. Penebangan. Secara. Di. Distrik. , & Kabupaten. Jurnal Lingkar Pembelajaran Inovatif. 5, 105Ae117. Penelitian. Agus. Ip. Si. Ip. Kom. , & Ap. METODE PENELITIAN KUALITATIF Dr. Agus Subagyo. IP. Si. Dr. Indra Kristian. IP. Kom. AP. CIQaR (Issue Jul. Sari. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini 5-6 Tahun Ditinjau dari Aspek Sintaksis dan Pragmatik. Jurnal Kualita Pendidikan, 2. , 102Ae106. https://doi. org/10. 51651/jkp. Siregar. Luali. Vinalistyosari. Hanurawan. , & Anggraini. Implementation of VygotskyAos Constructivism Learning Theory through Project-Based Learning (PjBL) in Elementary Science Education. Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan, 18. , 2586. https://doi. org/10. 35931/aq. Ubaidillah. Pengembangan Minat Belajar Kognitif Pada Anak Usia Dini. JCE (Journal Childhood Educatio. , 3. , https://doi. org/10. 30736/jce. Wahyuni. , & Munawaroh. Hubungan Metode Bercerita dengan Minat Belajar Anak Usia Dini. Mitra Ash-Shibyan: Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 4. , 117Ae124. https://doi. org/10. 46963/mash. Wilanda. , & Zulminiati. Pengaruh Pendekatan Eksplorasi Terhadap Kemampuan Kognitif Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak-Kanak. JCE (Journal Childhood Educatio. , 6. , https://doi. org/10. 30736/jce. Yasmin. , & Mayar. Meningkatkan Kemampuan Seni pada Anak Usia 5-6 Tahun melalui Kegiatan Mewarnai. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7. , 7691Ae7696. https://doi. org/10. 31004/obsesi. JOECES Vol. No.