Jurnal Manajemen Bisnis Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang ISSN: 2302-3449 I e-ISSN: 2580-9490 Vol. 10 I No. 2, hal 298-308 Variabel Moderasi dalam Preferensi Konsumen Film Indonesia Nur Hadiyazid Rachman1. Nuryadi Wijiharjono2. Dicky Chandra3 1,2,3 Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA nur_hadiyazid@uhamka. id, 2nuryadiwijiharjono@uhamka. id, 3dickychandra@uhamka. Keyword Moderating marketing, consumer preferences, watch a movie decisions. Indonesian Movies Abstract On various international film festival, it is not uncommon indonesian movie prestigious receives the award. But. Indonesian movies have not been able to be a master in their own homes to lack of appreciation. The indonesian movie number of spectators not comparable with the audience foreign film. As the product of industrial, film need marketing, in an unconventional manner the film industry of the need a network of a movie theater. The purpose of this research are: the first, to analyzing the factors that influence preference of consumers the indonesian movie viewing of the decision in a movie theater. Second, to know variable moderation is that influence preference of consumers the indonesian movie viewing of the decision in a movie theater. Third, to know the interaction of factors variable moderation and an explanatory variable that influence preference of consumers the indonesian movies viewing of the decision in a movie theater. Based on the analysis of SEM-PLS be concluded that: the first, variable that influence the indonesian movie viewing decision are the product, promotion, and the age of the audience. Second, the gender variable only can be used as it puremoderation. Third, variable the age of the audience can be used as an explanatory variable and variable moderation simultaneously in analysis . uasi-moderatio. A 2021 JMB. All right reserved PENDAHULUAN Sebelum pandemi Covid-19, terutama sejak pemerintah mengeluarkan industri film dari Daftar Negatif Investasi (DNI) bagi investasi asing, di mana investor asing dapat memiliki sampai 100% saham perusahaan film, pertumbuhan industri perfilman nasional . semakin Jumlah film Indonesia dan jumlah penonton, meskipun belum sebanding dengan jumlah penduduk, telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Struktur pasar film pada jaringan bioskop perlahan mulai bergeser dari monopoli ke pasar oligopoli. Jumlah bioskop dan jumlah layar semakin berkembang dan beragam. Proporsi film Indonesia dari total film yang diputar di jaringan bioskop nasional, persentasenya semakin meningkat yaitu antara 35 % sampai 40 %. Di samping itu, jumlah bioskop dan layar juga bertambah. Menurut Badan Ekonomi Kreatif, pada tahun 2012 di seluruh wilayah Indonesia hanya ada 145 bioskop dengan 609 layar. Namun sampai pertengahan tahun 2019, jumlah tersebut telah meningkat menjadi 353 bioskop atau meningkat sebanyak 136,5% Sedangkan jumlah layar menjadi 1. layar atau terjadi peningkatan sebanyak 188,3 persen (Bekraf, 2. Meskipun peningkatan jumlah bioskop, jumlah penonton, dan penghargaan pada berbagai festival di luar negeri terhadap Film Indonesia, namun sampai saat ini. Film Indonesia belum mampu menjadi tuan di rumahnya sendiri, kurang mendapatkan Jumlah penonton film Indonesia tidak sebanding dengan jumlah penonton film asing. Sebagai membutuhkan marketing. Pada tahapan eksibisi, agar produk tersebut sampai kepada konsumen, secara konvensional industri film membutuhkan jaringan bioskop. Tujuan penelitian ini adalah: Pertama, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi preferensi konsumen terhadap keputusan menonton Film Indonesia di bioskop. Kedua, mengetahui variabel moderasi apakah yang memengaruhi preferensi konsumen terhadap keputusan menonton Film Indonesia di bioskop. Ketiga, mengetahui faktor interaksi variabel moderasi dan variabel penjelas yang memengaruhi preferensi konsumen terhadap keputusan menonton Film Indonesia di bioskop. Penelitian Dyna Helina tentang faktorfaktor yang memengaruhi pilihan konsumen dalam menonton Film Indonesia di bioskop, dan yang dianggap signifikan secara Statistik adalah: synopsis dan ulasan film, sutradara dan aktor, genre, film adaptasi, cerita, sumber informasi netral, jadwal pemutaran, efek fisual, dan objectionable content (Dyna Herlina, 2. Namun dalam penelitian tersebut, belum menjelaskan variabel yang memoderasi maupun yang memediasi keputusan konsumen dalam menonton film di bioskop. Padahal gender dan usia, menurut Saad dan Gill . , seringkali menujukkan sebagai variabel moderator di dalam kajian pemasaran, khususnya dalam perilaku konsumen. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud menguji apakah variabel gender dan usia dapat dikategorikan sebagai variabel penjelas atau sebagai variabel moderating/mediating dalam keputusan pembelian . enonton Film Indonesi. Pada riset bauran pemasaran seperti pada penelitian Dyna Herlina . , masih mengabaikan segmentasi pasar, khususnya gender dan usia. Padahal keputusan untuk menonton Film Indonesia sangat dipengaruhi oleh segmen pasar Berdasarkan variabel bauran pemasaran, penelitian ini diharapkan akan memberikan kontribusi pada variabel segmentasi pasar yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap keputusan menonton Film Indonesia. Jika variabel segmentasi pasar berpengaruh secara langsung terhadap keputusan menonton Film Indonesia, maka variabel ini dapat berubah menjadi variabel penjelas. Sedangkan jika segmentasi pasar berpengaruh secara tidak langsung terhadap keputusan menonton Film Indonesia, maka variabel ini menjadi variabel moderating/mediating. Dengan kata lain, secara teoretis penelitian ini akan memberikan kontribusi pada pentingnya segmentasi pasar . ender dan usi. dalam bauran pemasaran. Sedangkan secara praktis, penelitian ini akan memberikan kontribusi pada proses pra-produksi dan promosi pada industri perfilman nasional. II. TINJAUAN PUSTAKA Menonton film di bioskop membutuhkan biaya yang lebih mahal dibandingkan dengan menonton film di rumah melalui streaming film maupun media lainnya. Untuk memuaskan konsumen dan menciptakan loyalitas pelanggan, perusahaan film seperti NETFLIX, mengandalkan konsumen dari Bigdata yang dimiliki (Maddodi. Di samping perlu biaya, dibutuhkan pula waktu perjalanan dan jadwal tayang yang sesuai dengan waktu senggang yang dimiliki oleh Namun, dengan menonton film di bioskop konsumen dapat menonton secara legal dan terhindar dari produk bajakan (Schaaf, 2. Beberapa penelitian tentang pemasaran film membuahkan hasil yang beragam dan cenderung kurang konsisten. Pemasaran film terkait langsung dengan konten maupun proses (Schindebutte et al, 2. Tindakan konsumen dalam menentukan pilihan konsumsi film, bergantung pada bauran pemasaran film . he film marketing mi. , yang menjadi kunci strategi pemasaran film. Yaitu, aktor, jenis/genre, klasifikasi usia, dan strategi rilis (Kerrigan, 2. Namun hasil penelitian lain menujukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara jenis film . , kekuatan aktor bintang film . tar powe. , kritik film . ritical revie. terhadap kinerja pasar industri film (Desai dan Basuroy. Kritik film memang memiliki pengaruh, tetapi tidak signifikan pada konsumsi film (Terry dan Armond, 2. Film tidak hanya menciptakan kesadaran akan sebuah produk yang disajikan (Corniani. Dalam konteks ini, eksibisi film melalui jaringan bioskop, penyampaian pesan dan transfer spesifik atas karakteristik bioskop itu sendiri sebagai cara terakhir yang dirasakan oleh Janji bioskop adalah untuk memberikan pengalaman mendalam yang dapat membawa penonton ke dunia yang berbeda, memberi mereka kesempatan untuk menjalani pengalaman yang lebih besar dari kehidupan tanpa gangguan kehidupan nyata. Penerapan teknologi Screen X memungkinkan adegan sebuah film di layar bioskop menawarkan pemandangan Dengan teknologi tersebut, bioskop dapat menawarkan pengalaman yang mendalam bagi penonton. Inovasi ini tidak hanya akan memperkuat aspek emosional, tetapi juga meningkatkan nilai hiburan (Mehta, 2. Sedangkan penelitian Krisnanto pada bioskop (Cinema CGV) di Jakarta, menunjukkan bahwa di kalangan kaum Milenial, keputusan mereka untuk menonton film di bioskop dipengaruhi oleh tingkat kepuasan konsumen (Krisnanto. Preferensi Mohammadian dan Habibi, dipengaruhi oleh atribut fisik bioskop dan lokasi di mana bioskop Lokasi bioskop berpengaruh signifikan terhadap preferensi konsumen (Mohammadian dan Habibi, 2. Kelas bioskop yang sama, tetapi berlokasi terdekat dibanding dengan pesaingnya, akan dijadikan pilihan utama konsumen (Chisholm dan Norman, 2. Fasilitas dan harga tiket juga turut memengaruhi preferensi konsumen (Davis, 2. Namun peneliti lain menemukan bahwa harga tiket tidak signifikan memengaruhi pilihan konsumen untuk menonton film di bioskop (Ulker-Demirel et al, 2. Jadwal pemutaran film dan durasi film justru menjadi pertimbangan konsumen untuk datang menonton film di bioskop (Eliashberg et al, 2. Bagi pengelola bioskop, timing konsumsi saat film diputar dan harga tiket yang fleksibel dapat meningkatkan pendapatan bioskop (Roosy dan McKenziez, 2. Sebuah peningkatan pendapatan film dalam kategori box office lebih dipengaruhi oleh intensitas kegiatan marketing terhadap film tersebut (Sun et al, 2. Menikmati sebuah karya film adalah sebuah pengalaman hidup individu. Secara alamiah keterlibatan konsumen film bergantung pada usia, gender, tetapi juga pada motivasi dan kepentingan pribadi (Batat dan Wohlfeil, 2. Kemungkinan pilihan konsumen dalam mengonsumsi sebuah produk bukan hanya bergantung pada representasi utilitas individual, tetapi juga pada atribut alternatif produk tersebut. Pandangan ini berguna untuk memahami bagaimana konsumen merespons marketing mix, terutama ketika konsumen menghadapi pilihan-pilihan atribut produk yang relatif sama atau identik di pasar (Steenburgh, 2. Berdasarkan penelitian terdahulu, sebagaimana telah diuraikan di muka, pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan pada Gambar 1 sebagai berikut: Gambar 1 Kerangka Konseptual i. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dan yang dijadikan unit sampel, unit analisis, dan responden adalah penonton film di Penelitian dilakukan sebelum terjadi pandemi Covid-19 pada bioskop-bioskop kelas menengah yang sedang memutar Film Indonesia, di wilayah Jakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara langsung dengan menggunakan metode penarikan contoh acak berlapis . tratified random samplin. Variabel yang digunakan terdiri atas latent variable dan manifest variable. sebagaimana telah disebutkan di muka. Adapun yang dijadikan manifest variable adalah Usia. Jenis Kelamin, dan keputusan menonton Film Indonesia di bioskop. Jumlah responden yang digunakan sebagai contoh adalah sebanyak 150 orang. Teknik analisis data menggunakan software SPSS versi 23. 0 untuk menganalisis statistika deskriptif, dan WarpPLS versi 7. 0 untuk menganalisis model persamaan struktural atau SEM-PLS (Structural Equation Model-Partial Least Squar. Untuk latent variables mencakup konsep 4P, yaitu Harga (Pric. Produk (Produc. Promosi (Promotio. , dan Tempat (Plac. , di mana masing-masing indikator komponen marketing mix . tersebut diturunkan dari konsep pemasaran film. IV. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN diskriminan, dan reliable, baik komposit maupun konsistensi internal, dengan variabel harga sebagai Penjelasan yang lebih detail dan terperinci mengenai validitas dan reliabilitas kuesioner sebagai berikut: Pengukuran validitas kuesioner pada penelitian ini menggunakan dua pengukuran validitas, yaitu: . Validitas Konvergen, dan . Validitas Diskriminan. Pertama. Validitas Konvergen. Hasil yang diperoleh pada Tabel 1 di bawah ini dapat disimpulkan bahwa semua indikator memenuhi validitas konvergen. Hal ini disebabkan karena nilai dari loadings factors > 0. 30 dengan tingkat signifikansi p < 0. DAN Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Berdasarkan pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1 dan Tabel 2, bahwa validitas dan reliabiltas dari kuesioner yang digunakan pada penelitian ini sudah valid, baik konvergen maupun Tabel 1 Combined Loadings and Cross Loadings Preferensi Konsumen Film Indonesia Indi-kator Harga Produk Promosi Tempat P value X1. 16 <0. X1. 099 <0. X1. 069 <0. X2. 349 <0. X2. 12 <0. X2. 213 <0. X2. 156 <0. X2. 289 <0. X2. 235 <0. X3. 096 <0. X3. 103 <0. X3. 305 <0. X3. 133 <0. X4. 742 <0. X4. 718 <0. X4. 589 <0. X4. 724 <0. Kedua. Validitas Diskriminan. Hasil yang diperoleh pada Tabel 2 di bawah ini menunjukkan bahwa semua indikator memenuhi validitas Hal ini disebabkan karena nilai akar dari AVE (Average Variance Extracte. lebih besar dari nilai korelasi antar variabel. Tabel 2 Akar AVE dan Koefisien Korelasi Preferensi Konsumen Film Indonesia Variabel Harga Produk Promosi Tempat Harga Produk Reliabilitas Kuesioner Kriteria yang digunakan untuk menentukan reliabel atau tidaknya suatu kuesioner ditunjukkan dengan nilai composite reliability coefficient dan cronbach alpha coefficients. Penelitian ini menggunakan dua . ukuran sekaligus untuk mengukur reliabilitas kuesoiner yaitu reliabilitas komposit dan reliabilitas internal. Hasil pengukuran reliabilitas kuesioner disajikan pada Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3 Composite Reliability Coefficient dan Cronbach Alpha Coefficient Preferensi Konsumen Film Indonesia Composite CronbachAos Reliability Alpha Coefficients Coefficients Harga Produk Promosi Tempat Sumber : Data diolah, 2020 Pertama. Reliabilitas komposit. Hasil yang (Produk. Promosi, dan Tempa. memenuhi diperoleh pada Tabel 3 di atas menunjukkan reliabilitas konsistensi internal. Sedangkan variabel bahwa semua variabel memenuhi reliabilitas Harga tidak memenuhi reliabilitas konsistensi Hal ini disebabkan karena nilai dari Hal ini disebabkan karena nilai dari Composite Reliability Coefficients untuk masing CronbachAos Alpha Coefficients bernilai 0. masing variabel lebih besar dari 0. kurang dari 0. Kedua. Reliabilitas konsistensi Internal. Profil Responden Hasil yang diperoleh pada Tabel 3 di atas Profil responden pada penelitian ini dapat menunjukkan bahwa bahwa tiga . variabel dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5 berikut ini, yaitu: Variabel Tabel 4 Sebaran Usia dan Keputusan Menonton Film Indonesia Usia * Menonton Film Indonesia Crosstabulation Usia Remaja Dewasa Total Count % within Usia % of Total Count % within Usia % of Total Count % within Usia % of Total Menonton Film Indonesia Tidak Total Tabel 5 Sebaran Jenis Kelamin dan Keputusan Jenis Kelamin * Menonton Film Indonesia Crosstabulation Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Count % within Jenis Kelamin % of Total Count % within Jenis Kelamin % of Total Count % within Jenis Kelamin % of Total Berdasarkan Tabel 4 dan Tabel 5 tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa: Pertama, konsumen . yang menonton Film Indonesia berdasarkan Usia, didominasi oleh usia remaja yaitu sebanyak 84 orang . ,0%) dari total responden sebanyak 150 orang. Kedua, konsumen . yang menonton Film Indonesia berdasarkan Jenis Kelamin, didominasi oleh Jenis Kelamin Perempuan, yaitu sebanyak 59 orang . ,3%) dari total responden sebanyak 150 orang. Kelayakan Model dan Indikator Kualitas Pemodelan Persamaan Model Struktural (SEM-PLS) menggunakan 10 kriteria pengukuran terhadap Menonton Film Indonesia Tidak Total Model Fit dan Quality Indices dari suatu Hasil dari pengujian terhadap 10 kriteria, sebagaimana disajikan pada Tabel 6 di bawah ini, menunjukkan bahwa pengukuran kelayakan model dan indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan hasil yang baik dan ideal. Hanya satu kriteria saja yang menunjukkan ketidak-idealan penelitian ini, yaitu kriteria Tenenhaus GoF (GoF). Selebihnya 9 (Sembila. kriteria yang lain menunjukkan bahwa model dan indikator-indikator yang dianalisis dalam penelitian ini sudah baik dan ideal untuk Tabel 6 Model Fit and Quality Indices Preferensi Konsumen Film Indonesia Model Fit and Quality Indices Average path coefficient (APC) Average R-squared (ARS) Average adjusted R-squared (AARS) Average block VIF (AVIF) Average full collinearity VIF (AFVIF) Tenenhaus GoF (GoF) Sympson's paradox ratio (SPR) Kriteria Layak Hasil Analisis Keterangan p<0. Baik . =0. p<0. Baik . <0. p<0. Baik . <0. diterima <=5 Ideal ideal <=3. diterima <=5 Ideal ideal <=3. kecil>=0. Kurang sedang >=0. Ideal besar >=0. diterima >=0. Ideal R-squared contribution ratio (RSCR) Statistical suppression ratio (SSR) ideal =1 diterima >=0. ideal =1 diterima >=7 10 Nonlinear bivariate causality direction ratio (NLBCDR) diterima >=7 Model Persamaan dan Hasil Pengujian Hipotesis Ideal Ideal Ideal Hasil digambarkan dalam model persamaan sebagai Gambar 2 Model Persamaan Struktural Preferensi Konsumen Film Indonesia dengan Usia dan Jenis Kelamin sebagai Variabel Moderasi Model persamaan dan hasil pengujian hipotesis, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2 di atas, dapat dijelaskan dan diintepretasikan melalui 2 . Yang pertama, melalui Pengaruh Langsung dan Pengaruh Total. Yang kedua, melalui Pengaruh Variabel Moderasi. Berdasarkan dari Gambar 2 di atas dapat diperoleh hasil sebagaimana terlihat pada Tabel 7, dan Tabel 8 berikut ini: Tabel 7 Hasil Pengujian Hipotesis Pengaruh Variabel (Langsun. dan Koefisien Jalur Pengaruh Total Berdasarkan Tabel 7 tersebut di atas, variabel yang memengaruhi keputusan menonton Film Indonesia adalah: Pertama, yaitu produk film . ang berupa Aktor. Sutradara. Genre Film. Sinopsis Film. Musik, dan perolehan Piala Citr. Kedua, promosi film . ang berupa trailer iklan, resensi film, baliho dan pamflet serta pengaruh orang terdeka. Ketiga, usia responden. Sedangkan variabel yang tidak memengaruhi keputusan menonton Film Indonesia yaitu harga tiket, tempat pemutaran film . , dan jenis kelamin penonton Film Indonesia. Interpretasi terhadap hasil persamaan koefisien jalur di atas sebagai adalah: Pertama, koefisien jalur dari Produk (X. terhadap Keputusan Menonton Film Indonesia (Y) sebesar 391 dengan nilai p<0. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam memutuskan Film Indonesia, memperhatikan atribut-atribut produk sebuah Semakin baik atribut sebuah produk film, menonton Film Indonesia. Kedua. Koefisien jalur dari Promosi (X. terhadap Keputusan Menonton Film Indonesia (Y) sebesar 0. 42 dengan nilai p<0. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam Film Indonesia, atribut-atribut promosi sebuah film. Semakin baik promosi sebuah film, memperbesar peluang responden untuk menonton Film Indonesia. Ketiga, koefisien jalur dari Usia (X. terhadap Keputusan Menonton Film Indonesia (Y) sebesar -0. dengan nilai p=0. Hal ini mengindikasikan bahwa Usia Responden berpengaruh dalam memutuskan menonton Film Indonesia. Jika Usia Responden . semakin dewasa, maka semakin memperkecil peluang konsumen untuk menonton Film Indonesia. Tabel 8 Hasil Pengujian Hipotesis Pengaruh Variabel (Moderas. Dari Tabel 8 tersebut di atas, variabel moderasi dan variabel penjelas yang memengaruhi keputusan menonton Film Indonesia adalah: Variabel Moderasi Usia dan Variabel Penjelas Promosi Persamaan Garis Regresi Moderasi yang terbentuk adalah: Koefisien jalur b3 (Promos. memiliki nilai sangat signifikan, koefisien jalur b5 (Usi. memiliki nilai sangat signifikan dan koefisien jalur b 9 . nteraksi antara Usia dengan Promos. memiliki nilai yang signifikan. Hal ini mengindikasikan variabel Usia sebagai Variabel Moderasi bersifat Quasi Moderation. Artinya. Variabel Usia bisa dianggap sebagai Variabel Moderasi atau bisa pula dianggap sebagai Variabel Penjelas. Variabel Moderasi Jenis Kelamin dan Variabel Penjelas Produk Persamaan Garis Regresi Moderasi yang terbentuk adalah: Koefisien jalur b2 (Produ. memiliki nilai sangat signifikan, koefisien jalur b6 (Jenis Kelami. memiliki nilai tidak signifikan dan koefisien jalur b12 . nteraksi antara Produk dengan Jenis Kelami. memiliki nilai yang signifikan. Hal ini mengindikasikan Variabel Jenis Kelamin sebagai Variabel Moderasi bersifat Pure Moderation yang berarti Variabel Jenis Kelamin murni hanya bisa sebagai Variabel Moderasi. Variabel Moderasi Jenis Kelamin dan Variabel Penjelas Promosi Persamaan Garis Regresi Moderasi yang terbentuk adalah: Koefisien jalur b3 (Promos. memiliki nilai sangat signifikan, koefisien jalur b6 (Jenis Kelami. memiliki nilai tidak signifikan dan koefisien jalur b13 . nteraksi antara Produk dengan Jenis Kelami. memiliki nilai yang signifikan. Hal ini mengindikasikan Variabel Jenis Kelamin sebagai Variabel Moderasi bersifat Pure Moderation yang berarti Variabel Jenis Kelamin murni hanya bisa sebagai Variabel Moderasi. PENUTUP Pertama, berpengaruh terhadap keputusan menonton Film Indonesia adalah Produk dan Promosi dalam semua indikator atau atribut pemasaran film. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sinopsis merupakan atribut terpenting dalam variabel produk suatu film . oading factor=0. dan atribut terpenting lainnya dalam promosi suatu film adalah Baliho dan Pamflet . oading factor = Kedua, variabel moderasi yang paling berpengaruh terhadap keputusan menonton Film Indonesia di bioskop adalah Usia Konsumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa koefisien jalur dari Usia (X. terhadap Keputusan Menonton Film Indonesia (Y) sebesar -0. dengan nilai p=0. Artinya, usia penonton berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam menonton Film Indonesia di bioskop. Temuan ini sejalan dengan kesimpulan Saad dan Gill . dalam riset perilaku konsumen. Ketiga, faktor interaksi variabel moderasi dan variabel penjelas yang memengaruhi preferensi konsumen terhadap keputusan menonton Film Indonesia di bioskop masingmasing adalah Usia dan Promosi. Jenis Kelamin dan Produk. Jenis Kelamin dan Promosi. Usia dan Promosi, ditunjukkan oleh koefisien jalur b9 . nteraksi antara Usia dengan Promos. memiliki nilai yang signifikan. Interaksi variabel Jenis Kelamin dan Produk diperlihatkan oleh koefisien jalur b12 . nteraksi antara Produk dengan Jenis Kelami. dimana menunjukkan nilai yang Jenis Kelamin dan Promosi, sebagaimana diperlihatkan oleh koefisien jalur b13 . nteraksi antara Promosi dengan Jenis Kelami. , memiliki nilai yang signifikan. Dari penelitian ini ditemukan bahwa Usia Konsumen dapat digunakan sebagai Variabel Penjelas dan Variabel Moderasi secara bersamaan (Quasi-Moderatio. Sedangkan variabel Jenis Kelamin hanya dapat digunakan sebagai Variabel Moderasi (Pure-Moderatio. Temuan ini sejalan dengan kesimpulan Saad dan Gill . dalam riset perilaku konsumen. DAFTAR PUSTAKA