Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin PENGUATAN SIKAP EMPATI SISWA MELALUI PROGRAM PEMBIASAAN BERINFAQ DI SMPN 2 TELUKJAMBE TIMUR Kanaya Amalya1. Iwan Hermawan2. Nur Aini Farida3 email: 1910631110085@student. id, iwan. hermawan@fai. nfarida@fai. (Universitas Singaperbangsa Karawan. Abstract Empathy is part of the low character of students, therefore, education needs to strengthen empathy for each student through a habituation program that can be used as the most appropriate solution to prevent a decrease in empathy in students. This research aims to find out how to strengthen empathy through the habituation program, to find out the supporting factors and inhibiting factors for strengthening empathy through the habituation program, to determine the impact of strengthening empathy through the habituation program, this research is located at SMPN 2 Telukjambe Timur. This study uses a descriptive qualitative research method. The data collection procedures used are observation, interviews and documentation. Data analysis was carried out by means of data reduction, data presentation and drawing conclusions. Based on the results of this study, it shows that the infaq habituation program has been implemented for approximately 8 years at SMPN 2 Telukjambe Timur. In the implementation of the infaq habituation program, it has been carried out to date due to supporting factors including: . Motivation . Understanding and the basics of religion become a guideline . The inhibiting factors are the lack of awareness in students and the non-participation of parents in giving extra pocket money to spend. Keywords: Empathy. Infaq. Habituation. Attitude. Reinforcement Abstrak Sikap empati merupakan bagian dari rendahnya karakter siswa, oleh karena itu, pendidikan perlu memberikan penguatan sikap empati pada setiap siswa melalui program pembiasaan berinfak yang dapat dijadikan sebagai solusi yang paling tepat untuk mencegah terjadinya penurunan sikap empati yang ada pada siswa. Peneliatan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penguatan sikap empati melalui program pembiasaan berinfaq, untuk mengetahui faktor penunjang dan faktor penghambat penguatan sikap empati melalui program pembiasaan berinfaq, untuk mengetahui dampak penguatan sikap empati melalui program pembiasaan berinfaq, penelitian ini berlokasi di SMPN 2 Telukjambe Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Adapun prosedur pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dengan cara reduksi data,penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa program pembiasaan berinfaq telah dilaksanakan selama kurang lebih 8 tahun di SMPN 2 Telukjambe Timur. Dalam pelaksanaan program pembiasaan berinfaq terlaksana sampai saat ini karena adanya faktor pendukung meliputi:. Motivasi . Pemahaman dan dasar-dasar agama menjadi pedoman . terus-menerus . kerjasama tim. Adapun faktor penghambat kurangnya kesadaran dalam diri siswa dan ketidak ikut andilan orang tua dalam pemberian uang jajan lebih untuk berinfaq. Kata Kunci: Empati. Infaq. Pembiasaan. Sikap. Penguatan 62 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Pendahuluan Pendidikan yang seharusnya melahirkan kepribadian yang memiliki pengendalian diri, bertanggung jawab, serta berakhlak mulia mulai terkikis dikarenakan dampak globalisasi. Globalisasi membawa pengaruh yang baik dan buruk bagi pelajar, salah satu pengaruh buruk yang sering muncul yaitu kemorosotan moral adalah topik yang sering diperbincangkan. Dampak dari kemorosotan moral adalah perilaku yang menunjukkan rendahnya nilai pendidikan karakter siswa, penerapan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dirasa masih kurang dan belum memberikan dampak yang signifikan1. Mengenai hal tersebut, seharusnya pendidikan mencerminkan sesuai pada (Undang-Undang RI, 2. tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sindikna. pada BAB II pasal 3 menegaskan AoAoPendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawabAoAo. Sikap empati merupakan bagian dari rendahnya karakter siswa, oleh karena itu, pendidikan perlu memberikan penguatan sikap empati pada setiap siswa melalui program pembiasaan berinfak yang dapat dijadikan sebagai solusi yang paling tepat untuk mencegah terjadinya penurunan sikap empati yang ada pada siswa. Zainal Asril 2 Memberikan pemahaman mengenai penguatan merupakan respon terhadap tingkah laku positif yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Sehingga, penguatan dapat diartikan pada sebagai bentuk penghargaan yang tidak selalu berwujud materi melainkan bentuk kata-kata, senyuman, anggukan maupun sentuhan. Berbeda dengan focus Udin. Winataputra 3 mengenai penguatan sebagai suatu respon yang diberikan kepada siswa terhadap perilaku atau meningkatnya perbuatan atau perilaku yang dianggap baik tersebut. Dapat disimpulkan bahwa penguatan merupakan sebuah respon yang baik, dari pengertian yang diberikan oleh para ahli dapat disimpilkan bahwa penguatan sikap empati siswa adalah respon terhadap tingkah laku positif tindakan orang lain yang dapat membuat terulang tindakan sikap empati tersebut karena dianggap baik. 1 Dewi. Peran Tri Pusat Pendidikan Dalam Program Penguatan Pendidikan Karakter (Pp. At Sd Unggulan Aisyiyah Bantul. Jurnal Kebijakan Pendidikan, 9. , 10Ae23. 2 Asril. Micro Teaching. PT Raja Grafindo Persada. 3 Winataputra. Udin S. , dkk. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Empati merupakan istilah yang digunakan Goleman untuk menjelaskan tentang kemampuan seseorang untuk memahami pengalaman subjektif orang lain 4. Empati merupakan akar kepedulian dan rasa cinta pada setiap hubungan emosional seseorang dalam menyesuaikan emosional orang lain 5 . Yang terpenting untuk membaca pesan non verbal seperti ekpresi wajah, nada bicara dan gerak-gerik yang ditunjukkan. Selanjutnya Goleman menjelaskan bahwa seorang anak sejak dilahirkan telah memiliki potensi untuk memiliki sikap empati. Hal tersebut terbukti ketika kita menemui dua orang bayi, apabila salah satu bayi menangis maka bayi yang lainnya cenderung untuk ikut menangis juga, seolah-olah dia memahami mengapa bayi tersebut Sifat dasar empati yang dimiliki anak sejak lahir akan mulai lenyap ketika anak berusia dua hingga tiga tahun. Maka keluarga dan lembaga pendidikan perlu untuk memberikan stimulasi untuk mempertahankan dan mengembangkan sifat dasar anak tersebut. Lembaga pendidikan dapat melaksanakan program yang fokus pada penguatan empati Menurut Jones dalam Rohman6 menyatakan bahwa program merupakan salah satu komponen dalam suatu kebijakan. Program merupakan upaya yang berwenang untuk mencapai Sedangkan Muhaimin dkk7 mengemukakan bahwa program merupakan pernyataan yang berisi kesimpulan dari beberapa harapan atau tujuan yang saling bergantung dan saling terkait, untuk mencapai suatu sasaran yang sama. Biasanya suatu program mencakup seluruh kegiatan yang berada dibawah unit administrasi yang sama atau sasaran-sasaran yang saling bergantung dan saling melengkapi, yang semuanya harus dilaksanakan secara bersamaan atau berurutan. Pelaksanaan program supaya berhasil harus dilakukan dengan pembiasaan. Menurut Robber, yang di kutip oleh Tohirin dalam buku Pembelajaran Psikologi PAI, pembiasaan adalah sejumlah perilaku atau tanggapan yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang Menurut Muhamad Rasyid Dimas9, pembiasaan adalah membiasakan anak untuk melakukan hal tertentu sehingga menjadi kebiasaan yang mendarah daging, sehingga dalam melakukan kebiasaanya tanpa berpikir panjang, karena sudah menjadi kebiasaannya. Dari semua uraian dapat disimpulkan bahwa pembiasaan merupakan perilaku yang direncanakan untuk mempengaruhi seseorang yang dilakukan secara sengaja dengan berulang-ulang sehingga menjadi suatu kebiasaan bagi orang yang dipengaruhi. Dengan kata lain pembiasaan adalah tindakan yang 4 Riyadi. Integrasi Nilai-Nilai Kecerdasan Emosional Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sma: Perspektif Daniel Goleman. Jurnal Studia Islamika. 5 Hamdan. Kecerdasan Emosional Dalam Al-QurAoan. Journal of Psychology Research. 6 Rohman. Politik Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Laksbang Mediatama. 7 Muhaimin, et al. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana. 8 Tohirin. Psikologi Pembelajaran PAI. Raja Grafindo Persada. 9 Dimas. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa Dan Akal Anak (Bandung: Syamil Cipta Media (Ed. )). Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin dilakukan secara teratur. Dengan kebiasaan yang dilakukan seseorang, maka orang tersebut dalam melakukan kebiasaanya tanpa berpikir panjang, karena sudah menjadi kebiasaanya. Pengeluaran infaq disesuaikan dengan kadar dan kemampuan hsrta yang siswa miliki serta semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT, karena setiap yang siswa infaqkan dengan ridha dan ikhlas baik itu infaq pikiran, tenaga maupun harta itu akan dibalaskan oleh Allah SWT dengan kebaikan yang Dalam pembiasaan berinfaq ditanamkan aspek sikap empati terhadap orang lain sehingga sikap empati siswa menjadi melekat karena sikap empati siswa sering dilatih. Pihak sekolah dalam mengadakan program pembiasaan berinfaq harus disertai dengan penuh pemaknaan, supaya tidak hanya sekedar pembiasaan yang pada akhirnya berhenti dalam simbol simbol rutinitas formal. Seperti senantiasa menanamkan pada diri siswa bahwa pahala dari setiap harta yang kita infaqan akan berlipat ganda, sehingga siswa tidak merasa sayang dalam memberikan sebagian hartanya untuk infaq, selain itu tanamkan pada diri siswa agar rutin memberikan infaq bagi orang yang membutuhkan meski dengan jumlah sedikit, karena yang dilihat bukanlah jumlahnya akan tetapi keikhlasannya. Selain itu, siswa juga harus mengetahui bahwa infaq merupakan salah satu kunci untuk membuka pintu rezeki selebar lebarnya dan yang paling utama adalah infaq merupakan amalan yang tidak akan pernah terputus aliran pahalanya meski kita sudah meninggal. Berdasarkan hasil pengamatan sebelumnya pada tanggal 24 januari 2023, di SMPN 2 Telukjambe Timur banyak siswa yang menunjukkan lemahnya sikap empati seperti pada saat kegiatan pembelajaran siswa tidak mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru, acuh pada saat bertemu dengan guru, tidak memperdulikan teman pada saat kesulitan dan saling ejek satu sama lain. untuk itu sikap empati harus di perkuat, penguatan sikap empati yang sekolah lakukan melalui beberepa kegiatan rutin non formal salah satunya berupa pembiasaan infaq. Dimana kegiatan pembiasaan infaq ini dilakukan pada hari selasa pembiasaan infaq untuk dana sosial dan hari kamis. Kegiatan ini dikumpulkan oleh setiap bendahara kelas masing-masing kemudian diserahkan ke bagian guru yang bertugas yaitu guru mata pelajaran PAI. Melalui pembiasaan berinfaq ini berharap siswa memiliki kesadaran pada dirinya tanpa ada paksaan untuk dapat berbagi antar sesama. dan sikap empati siswa pun berubah. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPenguatan Sikap Empati Siswa Melalui Program Pembiasaan Berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur Au. Metode Penelitian 65 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. memberikan batasan bahwa kegiatan-kegiatan mengidentifikasikan, mendokumentasi, dan mengetahui dengan interpretasi secara mendalam gejala-gejala nilai, mana, keyakinan, pildran, dan karekteristik umum seseorang atau kelompok masyarakat tentang peristiwa-peristiwa kehidupannya. Sedangkan para ahli siologi menyebutnya dengan nama observasi partisipasi, dan pada bidang psikologi disebut dengan pendekatan Jenis data yang di pakai penulis dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data ini diperoleh dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh penulis guna memperoleh data mendalam mengenai penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur. sumber data primer adalah data yang di dapatkan dari sumbernya Maka sumber data primer dalam penelitian ini adalah program pembiasaan infaq, dengan anggapan penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur. Maka oleh karena itu data yang terlibat dalam penelitian ini adalah Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan Guru Pendidikan Agama Islam Pengelola Kegiataan Sedekah Siswa Data sekunder secara tidak langsung bisa di kumpulkan oleh orang yang berkepentingan dengan data tersebut. Dalam penelitian ini sumber data sekunder adalah dokumen dan bahan kepustakaan yang terkait dengan skripsi ini. Penelitian ini menggunakan instrument penelitian wawancara, observasi, dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Tempat waktu penelitian Tempat yang dijadikan penelitian ini dilakukan di SMPN 2 Telukjambe Timur yang bertempatan di jln. Bharata Raya Blok J Perumnas Bumi Telukjambe. Sukaluyu. Kec. Teluk Jambe Timur Kab. Karawang. Jawa Barat, dengan kode pos 41361. penelitian ini dilaksanakan mulai sejak bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2023, waktu ini pun dapat berubah menyesuaikan dengan situasi kondisi penelitian. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti di SMPN 2 Telukjambe Timur dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Peneliti akan menguraikan hasil penelitian mengenai penguatan sikap empati siswa melalui pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur, sebagai berikut : 10 Connole. Issues And Methods in research. Geelong: Dealdn University. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Penguatan Sikap Empati Siswa Melalui Pembiasaan Berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur Sekolah merupakan tempat dimana siswa saling berinetraksi sosial. Ketika sedang berinteraksi sosial sikap empati ini akan dibutuhkan oleh siswa, sehingga pentingnya para siswa untuk memiliki sikap empati. Mengenai sikap empati yang dimiliki semua siswa SMPN 2 Telukjambe Timur tentu berbeda-beda tingkatanya. Ada siswa yang mudah untuk bersikap empati dengan yang lainnya, dan ada pula yang merasa kesulitan untuk dapat memposisikan diri dengan yang lainnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang diberikan oleh Raisa Anindya putri siswa kelas Vi G pada saat diwawancara: Auketika melihat guru saya kesulitan membawa barang-barang terkadang saya menawarkan bantuan untuk dibawakan supaya tidak kesulitan dan juga ketika melihat teman saya sedang berduka saya ikut bersedih dan memberikan semangatAy Disambung oleh pernyataan yang sama yang diberikan Rifdah Dwi Ramadhani siswa kelas Vi G pada saat diwawancara: AuKetika guru saya kesusahan dalam membawa buku atau barang bawaan, sayapun selalu membantu membawakannya dan tidak hanya kepada guru ketika teman saya tidak paham materi yang diberikan guru apabila saya sudah paham sayapun mengajarkan kepada teman sayaAy. Terakhir pernyataan yang diberikan oleh Carissa Adila siswa kelas Vi G pada saat diwawancara: AuKetika guru saya terlihat kesusahan dalam segala yang dibawa, saya selalu menanyakan terlebih dulu apakah perlu bantuan apabila dibutuhkan saya pasti membantu, waktu itu saya mempunyai teman yang sedang berduka karena ditinggalkan salah satu orang tuanya saat itu,sikap saya ikut merasakan kesedihan dan turut hadir kerumahnya untuk ucapan bela sungkawa dan jika teman kelas saya kesusahan dalam mengerjakan saya membantu memberi tau caranya Pendapat di atas dibenarkan oleh ibu Habibah guru PAI pada saat diwawancara: AuPada saat saya dalam keadaan kesulitan membawa barang-barang. Alhamdulillah ada dari beberapa siswa yang melihat saya kesulitan mengajukan bantuan untuk membawakan barang-barang yang saya bawa sehingga saya terbantu. Namun ada pula siswa yang masih diam saja:Ay Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sikap empati pada siswa dengan penguatan. Oleh karena itu. SMPN 2 Telukjambe Timur melakukakan Penguatan sikap empati siswa melalui Pembiasaan berinfaq yang telah lama dilaksanakan ke semua siswa oleh para guru di sekolah. Pelaksanaan pembiasaan berinfaq termasuk ke dalam misi sekolah yaitu Terwujudnya prilaku yang mulia, bernuansa religius, melaksanakan 5AySAy (Senyum. Salam, 67 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Sapa. Sopan. Santu. Pembiasaan berinfaq ini memberikan efek yang baik terhadap siswa untuk menguatkan sikap empati yang ada pada dirinya. Hal ini disampaikan oleh ibu Eva restiani selaku wakasek kesiswaan pada saat diwawancara: AuPembiasaan berinfaq ini sudah berjalan selama kurang lebih 8 tahun, di adakannya kegiatan pembiasaan berinfaq merupakan bentuk perilaku yang mulia yang sesuai dengan misi yang ada disekolah ini. Dengan pembiasaan berinfaq dapat menjadikan Sikap empati yang dimiliki siswa menjadi tinggiAy. Melalui observasi. Setiap hari kamis biasanya guru pai mengkoordinir kesetiap bendahara kelas untuk melaksanakan pembiasaan berinfaq di kelasnya. Berinfaq bisa dilaksanakan dihari apapun tidak ada ketentuanya apalagi untuk melakukan kebaikan dalam mensyukuri nikmat rezeki yang Allah SWT kasih ke hambanya, akan tetapi pada hari-hari tertentu yang telah allah tetapkan memiliki keistimewaanya yakni dihari kamis. Hari kamis diyakini hari dimana Allah SWT menurunkan keberkehan kepada hambanya di kamis pula semua amal perbuatan manusia diperiksa maka dari itu sebaiknya memperbanyak amal Pembiasaan berinfaq di kelas dilaksanaakan pada pagi hari setelah pembelajaran pertama selesai bendahara akan berkeliling kesetiap masing-masing meja untuk penarikan uang infaq yang tidak tentukan nominalnya. Selanjutnya setelah uang infaq terkumpul perkelas bendahara akan menyetorkan uangnya ke guru yang mengelola uang infaq yaitu guru pai. Selanjutnya menurut ibu Habibah. Pd selaku guru PAI saat diwawancarai: AuPagi hari merupakan waktu yang paling tepat untuk pelaksanaan pembiasaan berinfaq karena pada saat penarikan uang infaq, uang jajan yang dimiliki siswa masih utuh belum terpakai dan nominal yang dikeluarkanpun tidak membebani siswa. biasanya siswa memberi infaq mulai dari 200010000 seikhlas yang mereka bisaAy. Semua uang infaq yang telah dikumpulkan oleh masing-masing bendahara kelas akan di kelola oleh guru PAI dimana uang infaq ini akan di alokasikan untuk kebutuhan sarana keagamaan yang ada di sekolah. Sarana keagamaan yang dibutuhkan antara lain sajadah/karpet yang luas, speaker, sarung dan peci untuk laki-laki, mukena untuk perempuan, al-qurAoan dan ada biaya untuk setiap minggunya alat sholat akan dibersihkan oleh jasa cuci dan setrika supaya ketika melaksanakan ibadah menjadi nyaman. tidak hanya itu, kegiatan keagamaan yang dilakukan setiap bulannya yang membutuhkan dana dan juga ketika ada orang tua/wali murid meninggal dunia. Dengan adanya uang infaq ini sangat membantu sekolah untuk memenuhi kebutuhan sarana keagamaan. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Selanjunya menurut Carissa Adilla siswa kelas Vi G pada saat diwawancara: AuSaya tidak merasa terbebani sama sekali uang jajan saya di sisihkan untuk infaq di sekolah karena tidak ada paksaan nominal yang harus diberikan untuk berinfaq cukup seikhlasnya sajaAy Sebelum melaksananakan pembiasaan berinfaq guru PAI memberikan pemahaman terlebih dahulu mengenai pelaksanaan berinfaq karena memberikan pemahaman terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan merupakan sebuah proses yang sangat penting dimiliki oleh siswa dengan diberikannya pemahaman terlebih dahulu siswa mengetahui bahwa dengan berinfaq banyak manfaat yang akan didapatkan salah satunya pahala yang berlipat ganda, uang infaq yang diberikan oleh siswa di sekolah akan dirasakan oleh semua siswa juga melalui sarana keagamaan yang telah terpenuhi sehingga tidak akan merasa bingung dan bertanyatanya uang infaq yang telah diberikan untuk di alokasikan kemana. Selanjutnya menurut ibu Habibah S. Pd pada saat diwawancarai: AuPemberian pemahaman tentang berinfaq terlebih dahulu kepada siswa menjadikan Program pembiasaan berinfaq mendapatkan respon yang baik oleh siswa karena program pembiasaan berinfaq merupakan program yang bagus untuk dilaksanakan oleh siswa dan juga pembiasaan berinfaq ini sekaligus mengajarkan siswa untuk melatih sikap empati yang ada pada diri siswaAy Pembiasan berinfaq dengan sikap empati tentu saling berhubungan karena dengan dilakukannya pembiasaan berinfaq secara terus-menerus melatih kebiasaan yang baik terutama untuk keagamaan dan juga memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain bisa menguatkan sikap empati siswa kepada orang lain. Tanpa adanya sikap empati tidak mungkin siswa mau menyisihkan atau memberikan uang jajan siswa untuk infaq. Dari beberapa hasil wawancara di atas dan juga peneliti sudah amati, dapat dilihat bahwa gambaran pembiasaan berinfaq pada SMPN 2 Telukjambe Timur sudah berjalan secara struktur dan terprogram. Pembiasaan berinfaq ini guru mengharapkan siswa supaya siswa secara tersendirinya menyadari pentingnya bersikap empati untuk membangun hubungan sosial yang baik dengan orang lain dan manfaat dari berinfaq. Faktor penunjang dan penghambat penguatan sikap empati siswa melalui pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur program yang dilakukan guru SMPN 2 Telukjambe Timur dalam penguatan sikap empati siswa melalui pembiasaan berinfaq tentu meiliki faktor penunjang dan penghambat dalam pelaksanaan tersebut. Menurut ibu Habibah S. Pd faktor penunjang dan penghambat bisa melalui motivasi, pemahaman, dasar-dasar agama, dilaksanakan terus-menerus, kerjasama 69 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin dengan tim pengurus dan kesadaran siswa. Oleh karena itu, penulis akan memberikan penjelasan mengenai faktor pendukung dan faktor penghambat sebagai berikut: Faktor Penunjang Dalam pelaksanaan program kegiatan akan berjalan dengan lancar untuk mencapai tujuan tentu ada faktor pendukungnya. Peneliti mewawancarai ibu habibah berpendapat bahwa: AuFaktor pendukung yang pertama yaitu motivasi yang diberikan oleh para guru yang ada di sekolahAy Ibu habibah guru PAI sebagai salah satu koordinator program pembiasaan berinfaq Pembiasaan berinfaq ini membutuhkan faktor pendukung dari para guru yang memberikan motivasi kepada siswa. Peran guru sebagai pendidik harus dapat memberikan motivasi secara langsung kepada siswa baik itu sebelum dilaksanakan kegiatan berinfaq maupun pada saat pembiasaan berinfaq ini berlangsung. Hal ini diperkuat oleh pernyataan ibu Eva Restiani selaku wakasek kesiswaan: AuMotivasi yang diberikan oleh guru sebelum kegiatan infaq seperti mengajak untuk tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah maupun berlangsungnya kegiatan infaq dengan cara menanyakan siapa saja yang sudah berinfak dan mengapa masih ada yang belum melaksanakan infaqAy Motivasi merupakan dorongan yang diberikan kepada siswa untuk terbiasa berinfaq dan tidak hanya sekedar memberikan motivasi tetapi mencontohkan terlebih dahulu secara langsung kepada siswa. Motivasi sangat penting dilakukan dalam kegiatan infaq ini dengan diberikan motivasi siswa akan menanamkan didalam hatinya rasa empati sehingga siswa menjadi tergerak secara dalam keadaan sadar maupun tidak sadar untuk berlomba-lomba dalam kebaikan melalui pelaksanaan infaq di sekolah. Motivasi infaq di sekolah ini yang diberikan oleh guru-guru biasanya ketika kegiatan amanat pembina upacara dan jumat rohani pemberian kultum atau ceramah. Selanjutnya pernyataan ibu habibah pada saat diwawancarai: AuFaktor pendukung yang kedua pemahaman dan dasar-dasar agama sebagai pedomanAy Pemahaman yang diberikan guru kepada siswa mengenai sikap empati yang harus dimiliki oleh siswa kepada orang lain karena siswa setiap harinya di sekolah tentu berinteraksi sosial baik itu dengan temannya ataupun para guru dan staf yang ada di sekolah. Dengan diberikan pemahaman kepada Siswa menjadikan siswa antusias ikut melaksanakan infaq. Dalam pelaksanaan pembiasaan berinfaq tentunya memakai pedoman dasar-dasar agama islam yang empat yaitu: Al-quran. Hadist. Ijma, dan Qiyas. Dengan berpedoman 70 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin kepada dasar-dasar agama islam yang empat itu, pelaksanaan pembiasaan berinfaq memberikan pemahaman dengan ilmu pengetahuan agama tentang berinfaq merupakan suatu ibadah dengan mengeluarkan sebagian uang yang dimiliki kepada orang lain. Ibadah itu juga dapat menghasilkan rasa empati dan selalu ingin mengerjakan perbuatan yang baik. Selanjutnya pernyataan yang diberikan ibu Habibah pada saat diwawancarai: Aufaktor pendukung yang ketiga dari program pembiasaan berinfaq dengan dilakukannya secara terus-menerus AuMembiasakan siswa untuk berinfaq tentunya tidak semudah yang Pembiasaan berinfaq ini tidak cukup dengan memberikan motivasi kepada siswa saja, ibu Habibah mengkoordinir Pelaksanaan kegiatan berinfaq dengan dilakukan secara terus-menerus. Guru membiasakan siswa untuk berinfaq sekecil apapun nominalnya dengan ketentuan dilakukanya secara terus-menerus supaya kegiatan pembiasan infaq ini tidak ditinggalkan. Menurut ibu habibah dengan dilakukan pembiasaan secara terus-menerus akan cepat mendapatkan peningkatan sikap empati pada siswa karena dengan dilakukannya secara terus-menerus sikap empati yang dimiliki siswa menjadi sering terlatih dengan begitu siswa menjadi terbiasa untuk melakukan kebaikan terutama dalam berinfaq yang akan terbawa hingga dewasa. Selanjutnya pernyataan ibu habibah pada saat diwawancarai: AuFaktor pendukung yang keempat yaitu kerjasama dengan tim pengurusAy Dalam pelaksanaan program pembiasaan berinfaq tentunya tidak dilakukan dengan sendiri ada yang harus di koordinasi antar pihak. Melalui kerjasama dengan tim pengurus sangat perlu dilakukan karena dengan adanya kerjasama tim pengurus bisa saling bertukar pikiran dan mempermudah mendapatkan solusi untuk lebih cepat mencapai keberhasilan dalam pelaksanaan program pembiasaan berinfaq ini. Pernyataan yang disampaikan ibu Habibah pada saat diwawancara: AuTim yang menjadi pengurus antara lain guru-guru PAI, bendahara kelas yang menarik uang infaq di kelas, dan ketua kelas yang bertugas mengingatkan untuk melaksanakan infaqAy Adanya kerjasama dengan siswa sebagai tim pengurus untuk dapat memberikan nasehat akan infaq kepada temannya. Selain itu, siswa agar mengetahui bahwa uang ini digunakan untuk berinfaq seperti memenuhi kebutuhan sarana keagamaan, santunan anak yatim piatu sehingga memotivasi orang tua juga untuk ikut memberikan uang infaq kepada anaknya sehingga apa yang sekolah lakukan orang tua pun menjadi tau kemana uang infaq dialokasikan dan ikut andil dan mendapatkan pahala. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Dengan begitu kerjasama tim pengurus sangat mendukung terhadap pelaksanaan pembiasaan berinfaq karena jika tidak adanya kerjasama tim pelaksanaan infaq ini tidak akan berjalan dengan baik bahkan tidak akan terlaksana. Kerjasama yang dapat dikembangkan dalam pembiasaan infaq antara lain: Tanggung jawab untuk menjalankan tugas dengan mampu bekerja secara efektif dan fleksibel dalam tim yang beragam. Dari hasil wawancara di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor pendukung dari penguatan sikap empati siswa yaitu motivasi yang selalu diberikan oleh guru untuk siswa agar terdorong untuk melaksanakan infaq, bekal pemahaman dengan berpedoman pada dasar-dasar agama, dilakukannya secara terus-menerus agar terbiasa, dan kerjasama tim pengerus yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap penguatan sikap empati melalui pembiasaan berinfaq. Faktor Penghambat Selain faktor pendukung. Penguatan sikap empati melalui pembiasaan berinfaq juga memiliki faktor penghambat kurangnya kesadaran dari dalam diri beberapa siswa, inilah salah satu hal yang menjadi penghambat bagi guru dalam melaksanakan pembiasaan Sebagaimana yang diungkapkan oleh ibu Habibah selaku guru PAI bahwa: AuDalam kegiatan pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur ini amat menegaskan kepada siswa, namun kenyataannya kesadaran pada diri siswa masih saja kurang tumbuh pada diri siswa pada saat kegiatan infaq, mengingat orang tua juga kurang ikut andil sehingga siswa kurang menyadari pentingnya untuk berinfaqAy Kurangnya kesadaran dari dalam diri beberapa siswa tentu berpengaruhi dalam pelaksanaan pembiasaan berinfaq ini karena kegiatan infaq ini dijalankan oleh siswa sehingga perlu adanya dukungan dari siswa itu sendiri. Adapun ungkapan yang diberikan oleh Carissa Adila selaku bendahara kelas VII G bahwa: AuKetika saya melakukan penarikan uang infaq di kelas masih ada teman saya yang susah untuk memberikan uang infaqnya biasanya yang susah untuk ditagih itu anak lakilaki, anak laki-laki sering beralasan uangnya hanya cukup untuk jajanAy Uang jajan lebih yang dimiliki oleh siswa juga menjadi pengaruh untuk kesadaran dari dalam diri siswa, karena apabila uang yang dimiliki siswa sedikit tentunya siswa akan memilih uangnya untuk membeli makanan pada saat jam istirahat. Namun biasanya harus ada paksaan terlebih dahulu untuk siswa yang sulit membayar uang infaq dengan begitu melalui paksaan ini siswa akan mau membayar uang infaq, apabila siswa dibiarkan begitu saja tidak ada paksaan tentunya tidak akan ada perubahan. Di perkuat oleh Ibu Eva Restiani selaku wakasek Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin kesiswaan mengungkapkan bahwa: Aufaktor penghambat program ini yaitu latar belakang pekerjaan orang tua yang penghasilannya rendah sehingga uang jajan yang diberikan tidak banyak dan enggan memberikan infaqAy Orang tua yang memberikan uang jajan yang lebih pada anaknya untuk infaq termasuk sudah ikut andil dalam program kegiatan infaq di sekolah namun ada orang tua yang enggan mengeluarkan uang lebih untuk infaq sehingga anaknya menjadi mencontohkan orang tuanya memiliki sifat kikir. Peneliti menarik kesimpulan bahwa faktor penghambat pembiasaan berinfaq ini yaitu kurangnya kesadaran dari dalam diri siswa, dan kesadaran orang tua dalam memberikan uang jajan yang lebih untuk infaq. Namun peneliti beranggapan bahwa hambatan tersebut masih bias teratasi. Dampak Penguatan Sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq Setiap kegiatan sehari-hari yang dilakukan ada dampak yang dihasilkan baik itu dampak positif maupun dampak negative. Penguatan sikap empati melalui program pembiasaan infaq memiliki dampak yang dihasilkan dari para siswa. Dampak positif yang dirasakan oleh guru di sampaikan oleh wakasek kesiswaan ibu eva restiani pada saat diwawancarai: AuDampak yang dihasilkan siswa yaitu dapat beribadah kepada Allah SWT, siswa menjadi lebih terbiasa melakukan kebaikan terutam berinfaq baik itu di sekolah maupun diluar sekolah, lebih bertanggung jawab, tolong-menolog, memiliki rasa ikhlas,dan syukurAy Selanjutnya pernyataan yang diperkuat oleh ibu habibah yaitu: Autentunya dapat terlihat lebih peka terhadap lingkungannya dengan berinfaq untuk memenuhi kebutuhan sarana keagamaan jadi menimbulkan rasa empati terhadap sesama dan menghilangkan sifat rakus, kikir dan membiasakan untuk tidak menjadi pelitAy Dengan melaksanakan infaq dapat menghapuskan dosa, selain itu menjadikan hati lebih tenang. Inti dari program pembiasaan infaq ini yang pertama dapat menguatkan sikap empati siswa terhadap orang yang membutuhkan. Melihat perkembangan zaman sekarang ini kegiatan infaq menjadi bekal siswa untuk dimasa depan. Kedua, menghilang sifat kikir atau pelit dalam pemberian harta. Dari kegiatan infaq ini, siswa menjadi sadar bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah dan diakhirat akan mendapatkan hisab. Pembiasaan infaq merupakan salah satu pembelajaran bagi siswa dalam hal keagamaan di SMPN 2 Telukjambe Timur dalam menguatkan sikap empati. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Selain dari para guru yang merasakan dampak positif dari kegiatan infaq, siswapun merasakan hal yang sama. Dampak yang dirasakan siswa bermacam-macam,seperti yang telah disampaikan Raisa Anindya Putri: AuDampak yang dirasakan pada saat berinfaq awalnya merasa keberatan untuk mengeluarkan infaq namun karena dilaksankan terusmenerus dan manfaat yang dirasakan menjadi lebih merasa senang sudah berinfaq,rezeki menjadi bertambah, dan menghilangkan sifat pelit kepada orang lainAy Disambung oleh pernyataan yang diberikan oleh Carissa Adila: AuDampak yang dirasakan merasa tenang telah melaksanakan kewajiban infaq, hati menjadi lebih bahagia karena infaq itu akan digunakan untuk orang-orang yang membutuhkan dan juga akan dirasakan oleh kita sendiri terpenuhinya sarana keagamaanAy Terakhir pernyataan yang berikan oleh Rifdah Dwi Ramadhani: AuDampak yang dirasakan pada saat melaksanakan kegiatan infaq merasa senang dapat membantu antar sesama terutama membantu dalam memenuhi kebutuhan sarana yang ada disekolah yang nantinya akan dipakai oleh siswa jugaAy Pelaksanaan pembiasaan berinfaq merupakan program yang diterapkan untuk siswa sebagai amal jariyah mereka. Pentingnya istiqomah dalam kegiatan pembiasaan infaq karena istiqomah merupakan sikap tidak tergoyahkan dalam melaksanakan suatu kebaikan, meskipun menghadapi macam cobaan. Seseorang yang memiliki sifat istiqomah diibaratkan batu karang yang berada di tengah-tengah lautan yang tidak tergeser sedikitpun, walaupun dihantam ombak yang sangat besar. Penguatan sikap empati diperlukan waktu yang lama sehingga dilakukan secara terus-menerus secara istiqomah. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur?. Apa faktor penunjang dan faktor penghambat penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur? dan Apa dampak penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur? Bagaimana penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur? Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti dengan wakasek kesiswaan ibu Dra Eva Restiani, ibu Habibah S. Pd selaku guru PAI dan siswa SMPN 2 Telukjambe Timur yang telah mengikuti program pembiasaan berinfaq, 74 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembiasaan berinfaq dapat dilakukan untuk penguatan sikap empati siswa berjalan dengan baik dan terprogram. Program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur sudah berjalan selama 8 tahun lamanya yang dilaksanakan setiap hari kamis yang dimana salah satu koordinatornya oleh Ibu Habibah S. Pd selaku guru PAI dan dibantu oleh siswa mendapatkan respon yang baik dari siswa karena pembiasan berinfaq ini tidak ada paksaan nominalnya dan pembiasan berinfaq dengan penguatan sikap empati ini tentunya saling berhubungan. Apa faktor penunjang dan faktor penghambat penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur? Dalam penguatan sikap sikap empati melalui program pembiasaan berinfaq memiiki faktor penunjang dan penghambat yaitu: Faktor Penunjang . Motivasmi,diberikan motivasi siswa akan menanamkan didalam hatinya rasa empati sehingga siswa menjadi tergerak secara dalam keadaan sadar maupun tidak sadar untuk berlomba-lomba dalam kebaikan melalui pelaksanaan infaq di sekolah. Pemahaman dan dasar-dasar agama menjadi pedoman, pelaksanaan pembiasaan berinfaq memberikan pemahaman dengan ilmu pengetahuan agama tentang berinfaq sehingga anak menjadi antusias. Terus-menerus, dilakukannya secara terus-menerus sikap empati yang dimiliki siswa menjadi sering terlatih dengan begitu siswa menjadi terbiasa melakukan kebaikan. Kerjasama dengan tim pengurus, kerjasama tim pengurus sangat mendukung terhadap pelaksanaan pembiasaan berinfaq karena jika tidak adanya kerjasama tim pelaksanaan infaq ini tidak akan berjalan dengan baik Faktor Penghambat Kurangnya kesadaran dari dalam diri beberapa siswa tentu berpengaruhi dalam pelaksanaan pembiasaan berinfaq dan kurangnya kesadaran orang tua untuk ikut andil dengan memberikan uang lebih kepada anaknya untuk infaq. Apa dampak penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur? Dalam penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq tentunya memiliki beberapa dampak positif yang dirasakan oleh guru dan siswa yaitu dapat terlihat lebih peka terhadap lingkungannya, menjadikan siswa beribadah kepada allah, menghilangkan sifat rakus dan pelit dalam berbagi harta, dan perasaan siswa menjadi tenang dan senang Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Kebaruan dan Orisinalitas Banyaknya peneliti yang membahas mengenai pembiasaan infaq, namun dari masingmasing penelitian memiliki kekhasannya tersendiri. Yang pertama tahapan penelitian yang dilakukan oleh(Nurhayati. Harianto Ali, 2. dengan judul AuMeningkatkan Kepedulian Sosial Siswa Melalui Pembiasaan BerinfaqAy Pembiasaan infaq yang dilakukan SDIT Mukhsin ini untuk meningkatkan kepedulian sosial. upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kepedulian Sosial siswa melalui pembiasaan berinfaq di SDIT Mukhlisin Kec. Pallangga Kab. Gowa antara lain:1. Memberikan nasehat dan manfaat bagi semua peserta didik mulai dari kelas I-V tentang pentingnya berinfaq 2. Melakukan pertemuan FKK (Forum Komunikasi Kela. dan salah satu anggendanya adalah program berinfaq 3. Menanamkan karakter nilai disiplin dengan berinfaq setiap hari. Dari penjabaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan penulis Dengan penelitian terdahulu memiliki perbedaan. Penelitian yang penulis lakukan lebih memfokuskan pada penguatan sikap empati siswa. Bahwa di SMPN 2 Telukjambe Timur melaksanakan pembiasaan infaq. untuk penguatan sikap empati. Selanjutnya penulis meneliti faktor penunjang dan penghambat penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq memiliki faktor penunjang yaitu: pemberian motivasi, pemahaman yang berpedoman pada dasar-dasar agama, pelaksanaan yang. terus-menerus, dan adanya kerjasama tim pengurus dan untuk faktor penghambat yaitu kurangnya kesadaran pada diri dari beberapa siswa pada kegiatan pembiasaan beeinfaq yang dijadwalkan rutin dilaksanakan dan kurangnya keikut andilan pada orang tua dalam pemberian uang jajan yang lebih untuk berinfaq. Selanjutnya penelitian terdahulu yang dilakukan oleh(Priasmanasari, 2. dengan judul AuPembiasaan Infaq dan Shadaqah dalam Menanamkan Sikap Kedermawanan Peserta didik di SMK Muhammadiyah Bobotsari Kabupaten PurbalinggaAy pembiasaan infaq yang disertai dengan shadaqah sudah terlaksana secara rutin dan konsisten sehingga dapat menanamkan sikap kedermawanan pada saat memberikan sebagian harta dengan ikhlas karena Allah SWT, dan memberikan suatu barang yang layak kepada orang lain yang lebih mmbutuhkan. Begitupun setelah melihat penelitian terdahulu yang dilakukan oleh(Munawaroh, 2. dengan judul Au Peran Pembiasaan Infaq untuk Membentuk Sikap Kepedulian Sosial Peserta Didik Kelas i DI MIN YogyakartaAy dari hasil pembiasaan infaq sikap kepedulian peserta didik kelas i sudah terlihat pada saat peserta didik memberikan sebagian uangnya untuk infaq , mau menolong orang yang kesulitan, tidak membedakan si miskin dan si kaya, rasa persaudaraan semakin erat. Dengan itu pembiasaan berinfaq dapat membentuk sikap kepedulian sosial. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Setelah menelaah ketiga penelitian terdahulu maka penulis menyimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh penulis berbeda,memiliki unsur kebaruan dan orisinalitas dari penelitian terdahulu. Sehingga hasil yang nantinya didapat dari penelitian yang akan dilakukan penulis ini akan dapat digunakan sebagai penambah wawasan keilmuan bagi kita semua. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Penguatan Sikap Empati Siswa Melalui Program Pembiasaan Berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur, maka penelitian ini disimpulkan sebagai berikut: Penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur yaitu: Program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur dilaksanakan setiap hari kamis yang dimana salah satu koordinatornya oleh guru PAI dan dibantu oleh siswa Program pembiasaan berinfaq dapat dilakukan untuk penguatan sikap empati siswa berjalan dengan baik dan terprogram dengan mendapatkan respon yang baik dari siswa karena pembiasan berinfaq ini tidak ada paksaan nominalnya dan pembiasan berinfaq dengan penguatan sikap empati ini tentunya saling berhubungan. faktor penunjang dan faktor penghambat penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur faktor penunjang: Pertama diberikan motivasi siswa akan menanamkan didalam hatinya rasa empati sehingga siswa menjadi berinfaq di sekolah. Kedua pemahaman dan dasardasar agama menjadi pedoman kegiatan berinfaq menjadi terarah. Ketiga dilaksankan secara terus-menerus sehingga terbiasa. Keempat kerjasama dengan tim berjalan dengan faktor penghambat Kurangnya kesadaran dari dalam diri beberapa siswa tentu berpengaruhi dalam pelaksanaan pembiasaan berinfaq dan kurangnya kesadaran orang tua untuk ikut andil dengan memberikan uang lebih kepada anaknya untuk infaq. dampak penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq di SMPN 2 Telukjambe Timur Dalam penguatan sikap empati siswa melalui program pembiasaan berinfaq tentunya memiliki beberapa dampak positif yang dirasakan oleh guru dan siswa yaitu dapat terlihat lebih peka terhadap lingkungannya, menjadikan siswa beribadah kepada allah, menghilangkan sifat rakus dan pelit dalam berbagi harta, dan perasaan siswa menjadi tenang dan senang Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Daftar Pustaka