SESAWI Article Histori: JURNAL TEOLOGI DAN PENDIDIKAN KRISTEN VOLUME 1, NO 1 DESEMBER 2019 Availble at: http://sttsabdaagung.ac.id Submited Reviewed Acepted Published :3/09/2019 :5/10/2019 :23/11/2019 :9/12/2019 TELAAH KRITIS TEOLOGI INJIL MARKUS 16:15-18 TENTANG MEMINUM RACUN SEBAGAI BUKTI KEIMANAN ORANG PERCAYA Danny Gandahanindija Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung Dnyg3m@yahoo.com Abstract And he said unto them, Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature. And these signs shall follow them that believe; In my name shall they cast out devils; they shall speak with new tongues; They shall take up serpents; and if they drink any deadly thing, it shall not hurt them; they shall lay hands on the sick, and they shall recover. Mark 16:17-18. These verses are often used by those who enjoy polemics to test believers in practicing their faith. Even if the verses’ claim is true, especially the one about believers drinking poison and will not die, they say they would be Christians. These verses are believed to have received some alterations so they can not be regarded as the Word of God anymore. This paper is intended to give a critical theological analysis on these verses. It uses inductive method to bring out the truth of the text by considering the context, the teaching of christian theology and the accepted rules of interpretation. Through this procedure it is expected that readers can arrive at the appropriate understanding and prevent themselves from incorrect and misleading teaching. After an expository analysis, it is proved that there are no altered verses and thus these verses are believed to be the Word of God. God gave those miracles to convince unbelievers to believe what His disciples had done. God also performed the miracles to give signs that the disciples would experience life-threatening dangers while spreading the Gospel. It can be concluded that Mark 16:1518 was meant not to test the believers’ faith but to accompany and protect the disciples from dangers in their evangelism ministry. Keywords: Believers, Evangelism, To All Beings, Signs Abstrak Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru. Mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Markus 16:15-18. Ayat ini sering dipakai oleh para polemikus untuk dijadikan ujian iman bagi orang percaya dalam mempraktekkan kemurnian imannya. Bahkan jika klaim ayat ini benar, khususnya orang percaya minum racun dan tidak meninggal, mereka bersedia menjadi Kristen. Dan yang lebih fatal lagi dalam perikop ini dianggap sudah mengalami perubahan sehingga tidak bisa disebut sebagai Firman Tuhan. Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 15 Tulisan ini bermaksud untuk memberikan telaah teologis kritis terhadap ayat-ayat diatas. Metode yang dipakai dalam telaah kristis ini dikenal sebagai induktif metode, yaitu dengan mengeluarkan kebenaran dari Teks. Dengan memperhatikan konteks, ajaran teologi kristen dan kaidah penafsiran yang benar didapatkan pemahaman yang tepat. Dengan demikian menghindarkan orang dari ajaran yang salah dan menyesatkan. Setelah dilakukan eksposisi pada perikop tersebut terbukti tidak ada ayat-ayat yang dirubah sehingga ayat tersebut dapat dipercayai sebagai Firman Allah. Mengenai maksud Allah memberikan tanda-tanda mujizat tersebut untuk meyakinkan orang yang belum percaya atas pekerjaan Allah yang di lakukan para murid. Juga Allah memberikan tanda mujizat, bila para murid mengalami bahaya yang mengancam nyawa mereka saat memberitakan injil. Sehingga penerapan ayat Markus 16:15-18 tersebut tidak dimaksudkan untuk menguji kemurnian iman orang percaya. Tetapi dimaksudkan untuk menyertai dan melindungi para murid dari bahaya maut dalam konteks penginjilan. Kata Kunci: Orang Percaya, Beritakan Injil, Kepada Segala Mahluk, Tanda-tanda. PENDAHULUAN Bermula dari tayangan youtube yang mencoba membahas ayat Alkitab dalam Markus 16:15-18 oleh seorang “kristolog X” sebagai berikut Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setansetan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Markus 16:15-18. Tafsiran Markus 16:15-18 menurut “kristolog X” Seorang “kristolog X” menyampaikan ceramahnya dalam video youtube1, diceritakan saat ia berdebat dengan empat orang kristen tamunya, ia mengatakan jika tuantuan mengikuti Alkitab ini maka tuan-tuan mati. Lalu dia memakai ayat dari Markus 16:1518 serta menafsirkan seperti berikut: Menurutnya ayat 15, Pergilah ke seluruh dunia..adalah ayat yang telah dirubah karena pada mulanya Yesus melarang murid-murid-Nya masuk ke negeri orang kafir juga ke negeri orang Samaria tetapi masuklah kamu kepada domba-domba yang tersesat dari bani Israel. Tetapi dalam ayat 15 murid-murid diperintahkan untuk pergi keseluruh dunia, inilah perubahan dan bukan ucapan Yesus. Kemudian frasa berikutnya, beritakanlah Injil kepada segala makhluk, menurut pemahaman “kristolog X” kata “mahluk” itu termasuk binatang. Di ayat 16, Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, yang menurutnya percaya pada Yesus adalah Tuhan, yang mati dikayu salib untuk menebus dosa manusia 1 https://www.youtube.com/watch?v=NsjukezPpBc&lc=UgynmId7JkFNUTkFfaF4AaABAg, di akses tgl 16 Nopember 2019, pukul 19:44 Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 16 lalu manusia masuk ke surga. Frasa selanjutnya semua orang yang tidak percaya akan dihukum. Ayat 17, Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya, hal ini langsung dibandingkan dengan tanda-tanda orang beriman menurut Al Quran, menurutnya tanda-tanda itu bisa diterapkan dan harus dikerjakan. Dan menurut Alkitab tanda-tanda orang percaya, mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, lalu mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka dalam hal bahasa-bahasa ini ditafsirkan sebagai penerjemah bahasa asing. Tanda selanjutnya ayat 18, mereka akan memegang ular, hal ini diartikan seperti seorang pawang ular. Dan frasa berikutnya disebutkan dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka, menurut “kristolog X” kata “sekalipun” diartikan sebagai sebuah tantangan. Maka dia menantang keempat tamunya untuk minum racun untuk membuktikan imannya benar. Menurutnya tamunya menjawab secara alegoris bahwa yang dimaksud racun adalah iblis, sehingga jika orang percaya digoda oleh iblis tidak akan kalah. Tetapi jawaban itu ditolak karena ayat itu berarti literal dan bukan kiasan. Dan dalam frasa berikutnya, mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh, hal ini disangkal oleh yang bersangkutan dan dikatakan tidak masuk akal. Dan sebagai kesimpulan akhirnya “kristolog X”tersebut berkata, inilah kemustahilan Alkitab dan ini bukan Firman Allah. METODE Banyak kesalahan tafsir yang menghasilkan kesalahan ajaran disebabkan karena orang melepaskan ayat keluar dari konteks dan diartikan secara bebas sehingga menghasilkan kesimpulan yang sama sekali keluar dari maksud penulis Alkitab. Metode ini yang dikenal sebagai metode eisegesa yaitu penafsir mengabaikan maksud penulis Alkitab dan memasukkan idenya sendiri kedalam tafsirannya. Sebaliknya metode penafsiran yang benar dikenal sebagai metode Eksegesa2 atau induktif yaitu penafsir berusaha mengeluarkan ide dan kebenaran dari penulis Alkitab sehingga mendapatkan maksud penulis Alkitab bagi para pembacanya. Jadi dari sisi rohani penafsiran Alkitab membutuhkan pimpinan Roh Kudus untuk menerangi pikiran penafsir. Dan disisi Hermeneutika harus dipakai metode Eksegesa sehingga penafsir terhindar dari kesalahan tafsir yang berakibat fatal. Dalam menelaah Markus 16:15-18, digunakan metode Induktif. Yaitu adalah proses mempelajari Alkitab dengan meneliti data, latar belakang dan fakta-fakta yang ada dalam teks untuk menjawab tiga pertanyaan yaitu, apa yang teks katakan?, apa yang teks maksudkan? sesuai dengan maksud penulis pada pembaca pertamanya, dan apa yang dapat diterapkan dari teks itu? untuk masa kini. Dengan metode induktif dihasilkan kesimpulan yang utuh dari Firman Tuhan. 2 Gordon D. Fee, New Testament Exegesis, Eksegisis Perjanjian Baru (Malang, Literatur SAAT, Cet I, 2008) hal 1 Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pembahasan karya ilmyah ini diuraikan sebagai berikut: Penulis Tradisi tentang kepenulisan Markus dapat ditelusuri balik hingga Papias yang hidup pada akhir abad pertama atau awal kedua dan diperkuat oleh tulisan-tulisan para tokoh seperti Irenius, Klemen dari Alexanderia Origenes dan Yerom dan dari pengantar anti Marsiones dari abad kedua. Bahwa Markus adalah pendamping Petrus adalah Yohanes Markus dalam Kisah Para Rasul 12:12, 25; 15:37-39 tidak disebutkan secara khusus, tetapi merupakan pendapat yang telah disetujui semua penafsir kecuali para kritikus yang lebih radikal.3 Meski Yohanes Markus bukan seorang rasul, Hieron. Catal. Script. Eccles: Markus, murid dan penerjemah Petrus, yang diutus dari Roma oleh saudara-saudara seiman, menulis sebuah Injil yang ringkas. Tertullian berkata menurut Marcion (vol. 4, bab 5) demikian: “Markus, penerjemah Petrus, menyampaikan secara tertulis hal-hal yang telah dikhotbahkan Petrus. Ia Terhitung sebagai tujuh puluh murid bersama dengan Lukas (Kisah Para Rasul 1:21) dan memiliki jabatan yang sama dengan para rasul ( Kisah Para Rasul 1:15, 2:1-4)4, dari data-data yang ada maka Yohanes Markus adalah penulisnya. Penerima Bukti menunjuk ke gereja di Roma, atau setidaknya untuk pembaca bukan Yahudi. Markus menjelaskan kebiasaan Yahudi (MRK 7: 2–4 ;15:42 ), menerjemahkan kata-kata bahasa Aram (MRK 3:17 ;5:41 ;7:11 ,34 ;15:22 ,34) dan tampaknya memiliki minat khusus dalam penganiayaan dan kemartiran (MRK 8:34–38 ;13: 9–13 ) Subjek perhatian khusus kepada orang-orang percaya Roma.5 Tempat dan Tujuan Karena Injil Markus secara tradisional dikaitkan dengan Roma, itu mungkin disebabkan oleh penganiayaan gereja Roma pada periode 64-67 Masehi. Api Roma yang terkenal pada tahun 64 mungkin ditimbulkan oleh Nero sendiri tetapi disalahkan pada orang Kristen mengakibatkan penganiayaan yang meluas. Bahkan kemartiran tidak dikenal di antara orang-orang percaya Romawi. Markus mungkin menulis untuk mempersiapkan para pembacanya menghadapi penderitaan seperti itu dengan menempatkan di hadapan mereka kehidupan Tuhan kita. Ada banyak referensi, baik eksplisit maupun terselubung, tentang penderitaan dan pemuridan di seluruh Injilnya (lihat 1: 12–13; 3:22, 30).6 Telaah Kritis Teologis Markus 16:15-18 Penulis menelaah kritis Markus 16:15-18 dari sudut pandang teologi kristen sebagai berikut: Ayat 15, 3 Donald W Burdick, ed, Charles F. Pfeiffer, Everett F. Harison, Tafsir Alkitab Wycliffe PB Vol 3 (Malang, Gandum Mas , Cet 1, 2001) hal 135 4 Tafsiran Matthew Henry versi 1.6 , Pengantar Injil Markus 5 Kenneth Barker, NIV Bible Study (Grand Rapid, Zondervan Publishing House, 1995) hal 1489 6 Kenneth Barker, NIV Study Bible…, hal 1489 Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 18 Menurut “Kristolog X”, pada ayat 15 terjadi perubahan dari perintah Yesus untuk memberitakan injil kepada domba-domba Israel sekarang menjadi pemberitaan Injil keseluruh dunia. Matius 10:5-6, Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Gill7, mengatakan ayat itu tidak berbicara tentang larangan untuk memberitakan injil kepada seluruh bangsa, tetapi tentang prioritas pada Israel sebagai bangsa pilihan Allah. Agar mereka menerima terlebih dahulu kabar baik dan setelah itu mereka diberikan untuk menjadi saksiNya sampai keujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8). Matius juga mencatat perintah yang sama agar murid-murid menjadikan semua bangsa muridNya, Matius 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dari sudut Teologi Perjanjian Lama, Allah memanggil Abraham untuk diberkati dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain, Kejadian 12:3, Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Ini yang dikenal sebagai Kovenan Abrahamik8, yaitu janji Allah kepada Abraham untuk memberkati dengan tanah (Ulangan 30:1-10), benih keturunan yang merujuk pada Mesias (2 Sam 7:12-16) dan berkat bagi seluruh bangsa (Yer 31:31-34). Dan mandat menjadi berkat bagi seluruh bangsa diteruskan sesaat sebelum kenaikan Yesus ke Surga,….dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Dari data-data Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terlihat tidak ada perubahan rencana Allah bahwa Injil itu akan di beritakan sampai keujung bumi. Jadi menyimpulkan bahwa berita injil hanya untuk kaum Israel saja adalah tidak benar menurut ajaran teologi Kristen. Kata “segala mahluk”, diartikan oleh “kristolog X” semua mahluk hidup termasuk binatang. Secara literal memang dapat diartikan seperti itu. Namun penafsir harus melihat konteks ayat tersebut sehingga dapat mengartikan lebih tepat. Dalam hal ini ada dua pertimbangan yaitu: Pertama, dari data-data Alkitab tidak pernah ditemukan penginjilan bagi binatang, maka sudah semestinya kata “mahluk” ditafsirkan sebagai manusia. Dalam hal ini terjemahan Alkitab BIS sudah tepat menterjemahkan Markus 16:15, Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Pergilah ke seluruh dunia dan siarkanlah Kabar Baik dari Allah itu kepada seluruh umat manusia.. Kedua, segala makhluk, orang Yahudi menganggap bangsanya sendiri sebagai bangsa pilihan9, dan mereka mengartikannya "sesama manusia", secara sempit yaitu terbatas kepada "sesama orang Yahudi" saja. Bagi orang Yahudi, bangsa non-Yahudi itu "bukan sesama manusia", tetapi menyebutnya "golongan anjing" atau "golongan kafir" . 7 Disadur dari e-Sword version 11.0.6. copyright 2000-2016, John Gill’s, Exposition Of the Bible Paul Enn, The Moody Handbook of Theology jilid 1 ( Malang, Literatur SAAT, 2003) hal 39 9 Konsep bangsa pilihan sama sekali bukan karena kualifikasi bangsa Israel yang mampu memenuhi standart Allah, namun semuanya itu hanya karena anugerah Allah ( Ulangan 7:6-9) 8 Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 19 Maka Markus secara spesifik menggunakan istilah "segala makhluk" karena Tuhan Yesus Kristus telah memberikan suatu amanat untuk mendirikan kerajaan-Nya diantara semua manusia, baik Yahudi maupun non Yahudi dengan jalan memberitakan Injil-Nya yakni kabar baik tentang perdamaian dengan Allah melalui Seorang Pengantara, Yaitu Tuhan Yesus Kristus.10 Dengan dua pertimbangan tersebut, yang dimaksud segala mahluk bukan termasuk binatang, tetapi semua manusia, dari golongan Yahudi dan non-Yahudi, bangsa pilihan ataupun kafir. Ayat 16, Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, ayat tidak dimaksudkan bahwa baptisan diperlukan untuk keselamatan11. Dari sudut soteriologi, pemahaman seperti itu tentu berkontradiksi dengan ajaran Alkitab yang lain misalnya dalam Efesus 2:8-9, Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Dalam bagian lain, Yohanes pembabtis juga menyatakan bahwa pertobatan mendahului baptisan, (Mar 1:4). Demikian juga dalam injil Yohanes 3:15, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, jadi percaya mendahului hidup kekal. Sedang makna Baptisan sebagai sakramen memiliki arti, Sakramen adalah tanda dan meterai yang kudus serta kasatmata, yang telah ditetapkan oleh Allah. Melalui penerimaan sakramen, diterangkan-Nya dan dimeteraikanNya kepada kita secara lebih jelas lagi janji Injil, yaitu bahwa Dia menganugerahkan kepada kita pengampunan semua dosa dan hidup yang kekal, hanya berdasarkan rahmat, karena kurban Kristus yang satu- satunya, yang telah terjadi di kayu salib.12 Baptisan memang bukan syarat keselamatan tetapi suatu proklamasi iman yang memeteraikan bahwa kita sudah terhisap dalam tubuh kristus dengan pola hidup manusia baru (II Kor 5:17, Roma 12:2). Tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum, Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia telah berdosa dan layak menerima hukuman maut (Roma 3:23 6:23). Sehingga konsekuensi logisnya barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman (Yoh 3:18). Kejatuhan manusia kedalam dosa berdampak pada seluruh dunia berada dalam kuasa sijahat (I Yoh 5:19). Dari beberapa ayat ini memang jelas keberadaan orang berdosa karena ketidak percayaan kepada Yesus sebagai juruselamat akan membawa mereka kepada hukuman kekal. Keadilan dan kasih Allah bertemu dalam karya penebusan Yesus sehingga manusia berdosa mendapatkan kasih karunia diampuni dosanya dan beroleh hidup yang kekal. (Maz 85:11). Jadi dalam ayat ini terkandung ajaran soteriologi yang kokoh dan lugas. Ayat 17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya. Untuk memahami frasa ini pembaca harus kembali pada konteks dari perikop ini yaitu pada ayat 15, Yesus memerintahkan murid-murid untuk memberitakan injil keseluruh dunia. Sehingga pembaca 10 http://www.sarapanpagi.org/markus-16-15-semua-makhluk-vt3984.html di akses tgl 19 Nop 2019, pukul 15:30 11 Donald W. Burdick, ed Charles F. Pfeiffer, Everett F. Harrison, The Wycliffe Bible Commentary, Vol 3 (Malang, Gandum Mas, Cet I, 2001) hal 210 12 Katekismus Heidelberg, minggu ke 26 pertanyaan no 66 Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 20 tidak terjebak untuk menyama-ratakan menjadikan tanda-tanda tersebut berlaku bagi semua orang percaya. Namun sesuai konteksnya hal itu hanya berlaku khusus bagi para murid ataupun orang percaya yang sedang memberitakan injil keseluruh dunia. Semua tanda mujizat yang diberikan dengan tujuan, pertama agar meyakinkan orang-orang yang belum percaya atas pemberitaan injil yang dilakukan para murid. Kedua, dikarenakan amanat untuk memberitakan injil kepada seluruh mahluk bukan hal yang mudah, sangat penuh tantangan dan bahaya. Rasul Paulus menuliskan berbagai risiko dalam perjalanan misinya, (Kisah Para Rasul 28:3-5, II Korintus 11:23-27) tentu sangat logis jika Allah memberikan perlindungan khusus pada murid-murid-Nya dari ancaman bahaya maut. Murid-murid melakukan mujizat itu dengan kuasa Allah dengan berdoa 13. Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, tanda-tanda ini sangat mungkin mengacu pada kehidupan Yesus dalam pelayananNya dan kehidupan jemaat mula-mula (Mat 17:18, Kis 2:6).14 Sekali lagi tanda-tanda ini bukan bertujuan untuk pamer kehebatan, tetapi agar kuasa Allah dinyatakan sehingga orang banyak itu percaya dan bertobat. Ayat 18, Mereka akan memegang ular, rasul Paulus pernah mengalaminya dan tidak celaka karena ular berbisa itu, (KPR 28:5-6). Dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; sekali lagi ini bukan ayat yang dapat diterapkan dengan sembarangan namun harus sesuai dengan konteksnya. Bila seorang pemberita injil harus mengalami hal-hal yang membahayakan jiwanya, Tuhan akan melindunginya dari bahaya maut. Tidak ada indikasi bahwa ayat ini untuk menguji iman, justru jika dicoba dengan sembarangan hal itu sama artinya dengan mencobai Tuhan. Yesus sendiri menolak ketika iblis memintaNya untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah, meski ada ayat yang menjaminnya (Luk 4:12). Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh, murid-murid diberikan kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, artinya melalui mujizat ini orang banyak itu bisa percaya dan menjadi murid Kristus. Mujizat harus dipahami bukan semata-mata unjuk kuasa Allah tanpa tujuan yang jelas tetapi sedikitnya ada lima tujuan mujizat: 1) Menyatakan kehendak, kedaulatan, kekuasaan dan kemuliaan Allah; 2) Menuntun manusia agar berpaling dari berhala kepada Allah; 3) Menguatkan keyakinan dan kepercayaan orang percaya kepada Allah; 4) Memberkati, menyatakan belas kasih, dan kepeduliaan Allah kepada manusia; 5) Menyatakan tindakan pemeliharaan yang terus menerus (kontinuitas) dilakukan oleh Tuhan yang mengendalikan, melindungi, memelihara dan mengatur segala sesuatu.15 Adanya mujizat kesembuhan tidak bermaksud untuk meniadakan tenaga dokter dan menghapuskan pendidikan kedokteran, pemahaman seperti itu terlalu dangkal. Terbukti Lukas salah satu murid Yesus dikenal sebagai seorang tabib (Kol 4:14). Tanggapan terhadap penafsiran “kristolog X” atas injil Markus 16:15-18 13 Disadur dari e-Sword version 11.0.6. copy right 2000-2016, Matthew Henry Commentary Donald W. Burdick, The Wycliffe Bible, hal 210 15 https://artikel.sabda.org/apakah_mujizat_masih_terjadi, di akses 21 Nop 2019, pukul 21:37 14 Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 21 Dari penggalian ayat-ayat diatas, maka semua argumen “kristolog X” sudah terpatahkan sebagai berikut:  Tuduhan adanya perubahan ayat dalam Markus 16:15 sehingga tidak dapat disebut sebagai Firman Allah merupakan kegagalan memahami teologi Kristen. Bangsa Yahudi menerima hak istimewa sebagai bangsa pilihan, bukan karena kesempurnaannya tetapi Allah mau memakai bangsa Yahudi menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Karenanya mereka mendapat prioritas untuk menerima berita injil, sesudah itu tugasnya untuk mengabarkan injil sampai keujung bumi. Pemberitaan Injil kepada seluruh mahluk merupakan tindak lanjut dari kovenan Abraham yang dicanangkan oleh Yesus sesaat sebelum kenaikanNya kesurga.  Karena perintah pemberitaan Injil ditujukan kepada seluruh bangsa bukan hanya bangsa Yahudi sebagai umat pilihan, maka Markus memakai istilah “semua mahluk”. Karena bagi orang Yahudi diluar bangsanya disebut “golongan kafir” atau “golongan anjing”. Jelas yang dimaksud “semua mahluk” tidak termasuk binatang karena tidak ada data dalam Alkitab yang berbicara tentang penginjilan kepada binatang, tetapi yang dimaksud adalah “seluruh umat manusia”.  Tanda-tanda yang menyertai orang percaya harus dilihat dalam konteks pemberitaan injil keseluruh dunia, tidak berlaku bagi semua orang. Karena tujuan diberikan tanda-tanda ini untuk meyakinkan orang-orang yang belum percaya agar menerima berita Injil. Karena tugas penginjilan ini tidak mudah bahkan bisa mengancam nyawa, untuk itu Tuhan memberikan perlindungan melalui tanda-tanda khusus.  Mujizat kesembuhan diberikan dalam kondisi tertentu sesuai dengan maksud Allah, bukan terjadi setiap waktu. Mujizat kesembuhan tidak pernah dimaksudkan untuk meniadakan tenaga dokter ataupun meniadakan sekolah kedokteran, karena salah satu murid Yesus yang bernama Lukas yang berperan sebagai tabib.  “Kristolog X”, terbukti mengeluarkan ayat-ayat tersebut dari konteksnya lalu memasukkan ide pribadinya kedalam tafsirannya yang dikenal sebagai metode eisegesis. Akibatnya bukan kebenaran Firman Tuhan yang dihasilkan, justru subyektifitas manusia yang muncul. Sehingga hasil kesimpulanya salah dan menyesatkan. Rekomendasi Alkitab adalah Firman Allah yang memiliki dua sisi yang bersifat ilahi dan kandungan tulisan tentang rencana Allah atas umat manusia. Maka untuk memahami isi Alkitab dibutuhkan penerangan dari Roh Kudus. Namun disisi lain dengan menggunakan metode penafsiran yang memadai yang dikenal dengan metode eksegesa yang secara sederhana diartikan sebagai menarik keluar kebenaran yang terkandung dalam teks. Hal tersebut didapatkan dengan memperhatikan konteks, latar belakang, juga ajaran Alkitab secara menyeluruh dari Kejadian sampai Wahyu. Dengan metode ini dapat dihasilkan tafsiran yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Pentingnya diperbanyak edukasi dan dialog teologi sehingga menimbulkan kesadaran adanya saling keberbedaan diantara ajaran satu agama dengan yang lain tanpa harus menimbulkan konflik dan permusuhan. Menumbuhkan sikap untuk melakukan perbandingan agama guna mendapatkan kedalaman iman masing-masing. Menghindarkan Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 22 sikap mempertandingkan agama yang justru membawa orang kedalam kesempitan berpikir dan fanatisme agama yang membabi buta. KESIMPULAN Pertama, Memahami Markus 16:15-18 diluar konteks pemberitaan Injil, menimbulkan kesalahan yang fatal. Mendapatkan arti yang keluar dari maksud penulis injil Markus dan membuat kesimpulan yang salah total. Hal tersebut harus didukung dengan pemahaman teologi konvenan, bahwa melalui Abraham bangsa-bangsa diberkati. Injil adalah berkat yang tidak ternilai tentu tidak berhenti sampai pada umat Yahudi saja, Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Dan secara komprehensip dilandasi dengan pengajaran tentang keselamatan dan pekabaran Injil. Dengan demikian didapatkan hasil penafsiran yang benar sesuai dengan maksud penulis injil serta tidak berkontradiksi dengan ajaran Alkitab secara menyeluruh. Kedua, tidak terbukti terjadi “ayat perubahan” seperti yang dituduhkan oleh “kristolog X”, hal tersebut justru muncul karena kegagalannya memahami ajaran Alkitab secara menyeluruh dan menarik kesimpulan dengan ceroboh tanpa pemahaman yang tuntas. Dengan demikian tuduhan ayat ini bukan Firman Tuhan telah gugur dan tidak berlaku lagi. Sebaliknya Markus 16:15-18 dapat dipercaya sebagai Firman Tuhan. Ketiga, Markus 16:15-18, memerintahkan orang percaya untuk memberitakan Injil kesegala mahluk, dan Allah akan menyertai lewat tanda-tanda mujizat. Dan ayat tersebut sama sekali tidak diperuntukkan untuk menguji kemurnian iman orang percaya dengan meminum racun namun tidak meninggal. Memakai ayat tersebut untuk maksud menguji iman adalah perbuatan mencobai Tuhan dan itu adalah dosa. Segala Kemuliaan hanya bagi Allah. Keempat, Kesalahan tafsir yang dilakukan oleh “kristolog X” tersebut tidak memiliki kapabilitas dalam ajaran teologi Kristen dan memakai kacamata teologi Islam untuk menafsir ayat-ayat Alkitab. Tentu saja hal ini tidak dapat dipertanggung jawabkan secara akademis karena antara Teologi Kristen dan Teologi Islam dasarnya memang berbeda. Kesalahan berikutnya adalah melepas ayat dari konteksnya mengabaikan seluruh kaidah penafsiran yang benar. Dan menarik kesimpulan yang sama sekali salah dan jauh dari maksud penulis injil Lukas. DAFTAR PUSTAKA Barker Kenneth, NIV Bible Study (Grand Rapid, Zondervan Publishing House, 1995) hal 1489 Burdick, Donald W. ed Charles F. Pfeiffer, Everett F. Harrison, The Wycliffe Bible Commentary, Vol 3 (Malang, Gandum Mas, Cet I, 2001) Fee, Gordon D & Stuart, Douglas , HERMENEUTIK: Bagaimana mennafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat (Malang, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Cet IV, 1996) Fee, Gordon D New Testament Exegesis, Eksegisis Perjanjian Baru (Malang, Literatur SAAT, Cet I, 2008) Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 23 Hayes, John H.& Holladay Carl R., Pedoman Penafsiran Alkitab ( Jakarta, BPK Gunung Mulia, Cet II, 1996) Katekismus Heidelberg, minggu ke 26 pertanyaan no 66 Long, Jimmy, Buku Pegangan Pemimpin Kelompok Kecil ( Jakarta, Perkantas,1986) Sutanto, Hasan, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang, Literatur Seminari Alkitab Asia Tenggara, Cet. VI, 1995) Sumber dari internet https://artikhttp://www.sarapanpagi.org/markus-16-15-semua-makhluk-vt3984.html el.sabda.org/apakah_mujizat_masih_terjadi https://www.youtube.com/watch?v=NsjukezPpBc&lc=UgynmId7JkFNUTkFfaF4AaABAg e-Sword Disadur dari e-Sword version 11.0.6. copy right 2000-2016, Matthew Henry Commentary Copyright© 2019; SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen| 24